Chapter 9
.
.
Bahkan jika saja otaknya terus memikirkan jika dan andai saja, tetap saja tak akan merubah apapun.. Semua hal sudah terjadi, tidak lagi bisa diulang atau di hapuskan meski setengah mati Naruto terus mencari tombol undo ataupun refresh. Segala hal telah terjadi, Airi tidak akan kembali, kakek Danzo mungkin juga telah mati, dan nyonya itu telah pergi.
Pergi, hanya itu yang terus terfikirkan olehnya. Untuk apa bertahan ditempat dimana kau tidak diinginkan, melarikan dari adalah keinginan terbesarnya saat itu.
Dan begitu menyadari rasa kebebasan setelah memutuskan pergi, lalu apa?
Tanpa ambisi untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya, tanpa impian atapun tujuan. Beginikah rasanya menjadi burung yang di besarkan dalam sangkar begitu dibebaskan? Mungkinkah ini juga yang dirassakan ikarus hiingga memuatnya mendatangi matahari hingga terbakar.
Kembali? Tak ada keinginan sedikitpun untuk kembali.
Orang tua atapun asal usulnya? Untuk apa mencari sesuatu yang tidak ingin ditemukan, nyatanya memang dirinya tidak begitu berharga hingga terbuang. Melakukan suatu hal besar untuk belas dendam? Terlalu patetis.. untuk apa memikirkan sesuatu yang tidak ingin dipikirkan, nyatanya otaknya terlalu berharga untuk memikirkan hal tidak berguna selain balas dendam pada orang yang tidak menginginkanya.
Dia pernah diperingatkan, jangan main api jika tidak ingin terbakar. Bukankah terdengar seperti jangan main air jika tidak ingin hanyut tenggalam, tidak kah itu berarti jangan lakukan apapun jika tidak ingin menanggung akibat keputusanmu. Namun pilihanya untuk menjadi udang yang hanya mengikuti kemanapun arus membawa, tidak juga membuatnya menemukan suatu hal yang begitu ingin dilakukannya. Sampai pada titik dimana dirinya terfikir jika semua hal tak bertujuan yang dilakukanya harus disudahi.
Kejenuhannya telah mengubur semangat hidup, tidak ada lagi rebound yang harus ditangkapnya karena permainan telah usai. Peluit telah dibunyikan-
Suara klakson kendaraan membuatnya sadar dan kembali menurunkan kakinya dari pagar besi, namun tetap saja ego mencegahanya untuk putus asa dan membuatnya kembali melangkah maju menuju kamar sewanya. Meredakan rasa lapar di perutnya, dia ingat punya tabungan yang sengaja di sembunyikan di bawah tatami. Mungkin menghamburkannya di saat terakhir akan membuatnya tenang untuk meninggalkan dunia yang membuatnya semakin hari semakin merasa bosan.
Namun nyatanya, mobil hitam dan gadis asing rambut merah memutus rencana jangka pendeknya. Membawanya pada gadis lain dengan rambut merah sewarna darah yang mengikat lehernya begitu saja, membuatnya tidak bisa mengakhiri kejenuhan hidupnya dengan segera.
.
.
Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku
Naruto milik Masasi Kishimoto.
Garis Darah
Written by Itzhuma Hikkio
.
.
Hawa hangat dan dingin bergantian menerpa kulit punggungnya untuk beberapa lama membuatnya merasa merinding lalu perlahan membuka mata saat kesadaranya terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan hanya mampu menggerakan kelopak matanya yang terasa berat dan sepat saat mengedip meski perlahan, namun Naruto sadar akan kehadiran telapak tangan yang menempeli permukaan dadanya. Dan begitulah, kesadarannya diseret paksa saat logikanya menyadari kemustahilan kehadiran orang lain selain dirinya di kamar ini.
Mustahil
Naruto ingat benar sudah mengunci pintu dan jendela,
Karena terbiasa tidur bertelanjang dada Naruto sangat yakin jika sensasi nempel di dadanya adalah cetakan telapak tangan, membuatnya melotot seketika karena rasa ketakutan yang tiba- tiba mendera. Sugesti terburuk yang dipikirkannya saat ini membuatnya menggigil dengan tempo pernafasan cepat. Sesuatu tengah memeluknya dari belakang, membuatnya membatu degan posisi miring ke kanan menghadap tembok. Membuatnya merasa terisolasi karena rute melarikan diri telah diblokade oleh sesuatu di balik punggungnya.
Kamar ini bukan kamar yang biasa ditempati olehnya dan Karin, Naruto yakin jika baru sekali ini kamar tidur ini ditempati. Atau kamar yang selama ini dianggapnya kosong sebenarnya tidak benar- benar kosong, dengan kata lain-
"Huaaaaaaaa!"
Persetan dengan setan yang mengganggunya pagi- pagi begini, refleks geraknya yang cukup memukau membuatnya segera bangung, melompat, lari dan menendang pintu kamar hingga terbuka. Terus berlari hingga menuju lounge di depan unitnya, tempat dimana cahaya matahari menerobos dinding kaca yang lebar, setidaknya dirinya tidak lagi satu ruangan dengan si ayakashi yang menggannya meski tidak menampik fakta jika mereka masih dalam satu bangunan yang sama.
Begitu kembali mengingat rasa lembab, lengket, licin, dan dingin yang membuatnya lari kalang kabut karena terbayang sosok tak berkulit dengan mata melotot dan berdarah- darah sedang menempeli punggungnya. Seketika membuatnya menggaruk kulit punggunggnya ke dinding terdekat, berusaha keras menghilangkan sensasi aneh itu dari permukaan kulitnya.
"Naruto- sama? Apa yang anda lakukan?"
Mendengar namanya terpanggil baru membuat Naruto tersadar akan keberadaan Tayuya yang tetap menahan tombol open pada lift sambil memandang ngeri padanya, kresek belanjaan jatuh tepat disamping kanannya.
"Ayakashi," Rasa ketakutan membuat tenggorokannya terasa di sumpal, terasa sulit meski hanya menggumamkan sepatah kata.
Meski agak ragu Tayuya perlahan mendekat membiarkan lift kembali menutup lalu meletakan belanjaannya di sofa di dekat Naruto,
"Aku hampir mengira ada orang mesum yang sedang berfantasi dengan dinding,"
Naruto tidak bisa menanggapi Tayuya dengan kesinisannya seperti biasa, karena masih liputi kekhawatiran tidak mendasar pada makhluk yang belum tentu keberadaanya. Perlahan menceritakan kejadian pada Tayuya, meski punggungnya merasa mulai terbakar, Naruto tetap bersembunyi di balik sofa tanpa menjauhi jendela yang membuatnya bermandikan cahaya matahari. Spontan membuat Tayuya bertanya,
"Soalnya, hantu takut dengan cahaya matahari kan?!"Naruto segera menjawabnya tanpa pikir panjang.
Membuat Tayuya mati- matian menahan tawa dengan membekap mulutnya sekuat yang dia bisa, namun tetap saja gagal. Satu poin menemukan kechildrisan Naruto yang biasanya terlihat tenang dan sinis membuatnya benar- benar kesulitan menghentikan tawanya- jika saja tidak ada tatapan dingin dari iris merah yang serasa memotong nyalinya.
Melihat Tayuya yang seketika terdiam membuat Naruto penasaran dan menengok arah pintu yang beberapa saat lalu dilaluinya, dan di ambang pintu sana.. Jika saja Naruto tidak mengenalnya sudah pasti matanya akan betah memandangi paha mulus yang tidak tertutup keseluruhan, atau mungkin mencari celah menguntungkan dari dua kancing teratas yang terbuka. Ah.. sayang sekali.
"Apa yang kalian lakukan di luar sana, Tayuya? Naruto?"
Ada bekas memerah di pelipis kiri Karin, membuat Naruto merasa konyol karena ketakutan pada ayakashi yang hanya ada di pikirannya. Meski ketakutan membuatnya lari namun pridenya yang tinggi di waktu tertentu membuatnya tidak kabur dan menyerah begitu saja, sepenuhnya sadar akan lengan kirinya yang bergerak sekuat tenaga untuk menyikut si pengganggu sebelum bangkit dan berlari dari kasur
"Saya hanya kebetulan lewat dan kebutulan saja bertemu dengan Naruto- sama, kalau begitu.. saya permisi."
Tayuya segera pergi menyelamatkan diri dari tatapan dingin nona besar yang begitu sulit dimengerti jalan pikiranya. Naruto yang merasa dikambing hitamkan hanya helaan nafas menyadari Karin mendekat, mengambil single sofa yang ditinggal Tayuya sambil berpangku tangan menatap Naruto yang tetap duduk di lantai bersandar dinding.
"Nah darling, apa yang kau lakukan disini?"
Mendengar panggilan sayang yang benar- benar tidak ingin didengarnya membuat dadanya terasa dipelintir dan matanya memicing tanpa disadarinya.
Dari nada bicara dan ekspresi yang ditunjukan Karin membuat insting pencari aman Naruto memperingatkan untuk tidak mengatakan lelucon seperti, 'ngecengin Tayuya' karena rasanya bakal ada badai lain yang lebih hebat akan datang setelah badai Shion berlalu. Dan jawaban paling aman saat ini adalah tidak terjebak di area lawan.
"Aku yakin sudah mengunci pintu kamar kemarin, bagaimana caramu masuk?"
Karin malah berganti menunjukan wajah bingung,"Tentu saja dengan kunci cadangan, tunggu. Naruto.. kau tiba- tiba saja pindah kamar dan mengunciku diluar!"
Meski sedetik menyadari kebodohanya akan kunci cadangan, begitu mendapatkan konfirmasi jika pengganggu paginya benar- benar bukan ayakashi membuatnya segera bangkit dari lantai dan berjalan pergi setelah meluruskan kaki, Mengabaikan Karin dan pernyataanya yang dirasanya tidak perlu ditanggapi, namun sekali lagi jangan menyebutnya Karin jika menyerah begitu saja meski diabaikan.
"Hah?" Merasa tarikan di saku celana yang digunakannya, membuatnya menoleh kebelakang dengan wajah keberatan dan menghentikan langkah kakinya.
"Aku tau kau sedang marah jadi aku tidak menyentuhmu, tapi jangan pergi begitu saja-"
Membuat mengernyit,"Aku bukan indukan ayam yang perlu kau ikuti, lagi pula kau bisa buka pintu sendiri,"
"Maksudku, jika kau pergi begitu saja. Rasanya seperti ditinggalkan."
Membuat Naruto menghela nafas kasar lalu melanjutkan langkah kakinya mencoba mengabaikan keradaan Karin yang terus mengekorinya, sampai memasuki rumah, melewati dapur. Hingga tinggal beberapa meter lagi sampai di kamar tempatnya ingin menyendiri, namun tingkah Karin benar- benar membuat kesabarannya menipis drastis.
"Bisa kau berhenti mengikutiku?"
"Tidak,"
Membuat cetakan urat di dahi Naruto menonjol seketika. Sambil berusaha menyetabilkan emosi dengan mengatur pernafasan, tanganya mengibaskan pegangan Karin dari sakunya. Naruto masih berusaha mengabaikan Karin begitu memasuki kamar lalu mengenakan T- shirt yang dipakainya kemarin, namun sekali lagi Karin adalah Karin.
"Kenapa kau begitu ngotot menggangguku?"
"Aku tidak bermaksud mengganggumu,"
Naruto segera mengubur mukanya dalam telapak tangannya begitu punggunggnya menyadar di sofa yang berhadapan dengan pintu, masa bodoh dengan keberadaan Karin yang duduk di sampingnya. Tapi sejak kemarin ujian kesabaran yang di hadapinya membuatnya sulit untuk berdiam diri. Rasanya sangat lelah, rasanya dia bisa tidur seharian jika saja kehidupannya setenang bekas kamarnya di kediaman Sarutobi.
"Tapi yang kau lakukan hingga detik ini hanya menggangguku, katakan apa yang sebenarnya kau inginkan dari ku?" Sampai menggerakan bibir saja membuatnya merasa lelah.
"Kau-" Bukannya menyelesaikan kalimatnya, Karin malah memilih membuang muka kesamping. "Aku hanya ingin bicara,"
"Ha?! Kemarin kau mengatakan hal yang sama sebelum berakhir mentarik- tarikku untuk membaui aroma sabun!"
"Karena selalu menolak pergi denganku,"Namun kali ini Karin tidak kalah terlihat emosi seperti Naruto,"Tapi kau selalu saja pergi dengan para gadis pirang itu! Apa yang kalian lakukan? Detto?"
Demi tittle laki- laki paling tidak peka di dunia yang entah oleh siapa disematkan padanya, Naruto bukanya pria dingin yang tidak bisa membaca situasi ataupun perasaan. Karena, jika Shikamaru selalu mengatakan 'mendokusai' pada tiap hal yang merepotkannya, bahkan bagi Naruto.. Bicara saja merepotkan, karena itu dirinya lebih memilih bungkam tak mengatakan apaun, tak mengambil tindakan apapun. Tidak ingin ambil pusing.. bahkan meski dia melihat kesalah pahaman di depan matanya, lidahnya tetap tidak ingin bergerak dan bibirnya menolak membuka seperti abalone yang menyimpan mutiara.
Meski batinnya bisa merasakan tatapan tajam yang mengarah padanya meski saat ini tengah memejamkan mata, berbantal sandaran kursi sambil menengadahkan kepal. Tiba- tiba saja emosinya yang sempat meninggi hilang entah kemana, begitu ingin tidur jika bisa. Sementara lengan bajunya terus saja ditarik- tarik karena sejak tadi mengabaikan Karin yang terlihat kesal begitu ingin ditanggapi.
"Baiklah, anggap saja aku memang kencan dengan Shion kema-"
"Kemarin adalah terakhir kalinya kau pergi dengannya, ataupun dengan yang satunya lagi," Meski terlihat kesal, Karin masih mencoba mengingat sebuah nama,"Ino- san? Pokoknya jangan melakukannya lagi,"
Karin mendekatkan wajah mencoba menintimidasinya, namun parameter emosinya yang anjlok tiba- tiba tidak sedikitmu membuatnya merasa khawatir ataupun ancaman dari perkataan Karin. Setelah menghela nafas panjang dengan suara pasrah akhirnya beberapa kata tergelincir dari lidahnya begitu saja,
"Padahal jika kau bosan dan ingin pergi dengan seseorang, kurasa aku tidak akan berkomentar. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan jadi kaupun bisa melakuakan apapun yang kau ing-,"
Karin menyipitkan mata padanya, dengan alis mengkerut dan raut kekesalan yang belum memudar sama sekali, bergumam pelan tanpa membuka bibir sama sekali. Entah kenapa membuatnya merasa tertantang, membuatnya menaikan sebelah alisnya menatap balik Karin.
"Baiklah.. lain kali saat aku ingin bertemu Shion ataupun Ino aku mengajakmu-" Namun Karin malah terlihat semakin kesal, sesaat membuat perkataanya terpotong "Seperti kau yang menyeretku saat bertemu dengan Sasuke,"
Karin tersentak tiba- tiba, lalu membeku dengan mata membulat kaget. Dengan suara tergagap,"Naruto- aku.. Aku bisa jelaskan-"
Naruto hanya menatap bingung tangan Karin yang mencengkeram bahu kirinya tanpa berkata apapun. Karin semakin mengeratkan tangan dibahunya, berkali- kali membuka bibirnya ingin mengatakan sesuatu namun kembali bumkam seolah kata- kata hanya menyumpal di tenggegorokannya. Berlama- lama diam sambil melihat reaksi Karin membuatnya jengah, menghela nafas kasar berusaha melepaskan diri namun Karin tetap saja bersikeras.
"Naruto- kumohon, aku hanya ingin bicara,"
"Kau bisa bicara dan mengatakan apapun yang kau inginkan, tapi Karin. Sebelum kau hanya membuang tenaga sia- sia, yang perlu kau tahu hanyalah.. Aku lebih mempercayai asumsiku dari pada realitasmu, tak peduli seberapa benar omonganmu. Jadi bisa kau melepaskanku sekarang? Atau aku mati karena dehidrasi."
Karin melepaskannya meski terlihat tidak rela, namun begitu Naruto melangkahkan kaki menjauh Karin segera mengikutinya tanpa melepaskan tangan kanannya dengan hawa suram yang menyelimutinya.
"Le- lepas,"
Naruto terus berusaha, tidak hanya dengan kata- kata namun juga tangan kanannya tengah mendorong kepala Karin agar melepaskan lengan kirinya. Namun Karin justru semakin menguatkan pegangannya dengan wajah memelas yang perlahan membuat hatinya jadi tidak ingat. Mendecih, Karin tidak melepaskannya dengan mudah.
Setelah mengembalikan botol kedalam kulkas, Naruto lebih memilih merosot dan bersandar di bawah islan sambil memeluk salah satu kakinya. Hawa suram mengitarinya dan Naruto tidak menyukai perasaan canggung karena Karin hanya bungkam dengan pandangan mata jauh menerawang, masih tetap tidak melepaskanya.
"Karin.. Jika kau hanya ingin membodohiku, sebaiknya kau melepaskan tanganku agar aku bisa pergi ke suatu tempat agar tidak membenturkan kepalamu ke dinding," Namun tetap saja, mulut kasarnya tidak pernah mengatakan isi kepalanya dengan benar.
"Naruto.. Aku- beritahu aku apa yang kau fikirtan tentang hubunganku dengan Sasuke?" Karin masih tetap memalingkan muka darinya.
"Beberapa kemungkin, tapi dikebanyakan cerita klise.. Sudah pasti jika Sasuke bukan mantanmu yang tetap ngotot, berarti dia sejenis pria malang yang di jodohkan denganmu-" Jengah dengan hawa suram yang terus saja mengitarinya membuatnya terfikir untuk sedikit melucu,"Tunggu karena pada akhirnya aku yang berakhir denganmu, berarti aku lebih sial dari pada Sasuke."
Tapi sayang, tidak banyak orang menyukai lelucon kasar seperti dirinya.
Karin semakin menguarkan hawa suram,"Hmm.. Sasuke adalah tunanganku."
.
.
To Be Continues,
Dan beginilah seharusnya chapter 9, jika saja gk ada yg nyinggung word. Dan percayalah, sebenarnya aku udah ngetik keluhan panjang kali lebar kali tinggi.
.
.
30/1/20
Itzhuma Hikkio
.
DallGod115: anjrit :v muji apa gimana sih, bingung gw hahahaha
N.S LOVER'S: Kaga Cuma males doang
Mei: ak gk peduli namamu, karena jika kamu gk merubah cara reviewmu ak akan menganggapmu maeno. Dan kusarankan kamu nonton gekkan shojou nozaki- kun agar tidak di benci oleh para author karena bertingkah seperti maeno. Review pertamamu memang nyenengin karena ak merasa di tunggu tapi berikutnya..
Muzzaqim22: Yo! Salam kenal balik
Crashing1909: akhir- akhir ini banyak author update cerita lagi kok gwa perhatiiin
Frwt: Pertama vruh, sankyu! Gw merasa akhirnya ditemukan, hahahaha.
Humor- tragedy? hm, tolong buka bab tenang faktor intrinsik dan ekstrisik cerpen/cerita, dan jika aku gk salah ingat ada istilah latar belakang penulis yg kenapa sebuah cerita bisa menjadi seperi sedemikian rupa.
Awalnya ak memang menggunakan chara Sara namun pas chapter 4 ak ganti dengan Tayuya. Jika masih ada nama Sara itu luput.
.
19/1/20
Itzhuma Hikkio,
Labil bener gwa sampe ngedit AN, :v
