Semenjak hari ujian semain mendekat. Sesuai dengan rencana ketua OSIS, anak kelas A akan belajar bersama dengan Five Virtousos, yang saat ini bisa dikatakan hanya Four Virtuosos— Sang ketua tidak berada di tempat, meninggalkan kelas dan belum terlihat batang hidungnya sampai saat ini. Mau tidak, para anggota lain mempersiapkan sendiri dengan arahan sang seketaris, Sakakibara Ren dan mempersiapkan segala hal sampai detik ini.

Bangku kelas disusun sedemikian sampai membuat melingkar, mengikuti bentuk ruangan. Para murid andalan kelas A berada di dalam cirkum dan mengajari satu persatu teman sekelas mereka dengan berkeliling.

Asano Gakushu, kenapa dari semua orang hanya dia yang tidak berada di tempat? Itu sungguh membuat anggota lainnya penasaran. Sementara Koyama menunggu teman sekelasnya mengerjakan soal atas arahannya, dia berbicara pada Seo di sebelahnya yang juga senasib dengannya "Dimana sebenarnya si Asano-kun?" tanyanya untu memuaskan rasa penasarannya.

"Entahlah, mungkin kencan dengan Akabane?" jawab Seo ringan tanpa mengalihkan pandangannya pada pekerjaan teman sekelas yang dibantunya.

"Ha!?," Koya bergidik ngeri "Asano-kun dan Akabane?"

"Maa...Hanya mereka yang tidak berada di kelas sekarang. Apalagi kelihatannya mereka menjadi akrab setelah kejadian ruang kesehatan tempo lalu huh"

Ren yang tengah berkeliling dan mendapati kedua temannya membicarakan sang ketua, tidak bisa menahan diri untuk bergabung "Hari setelahnya aku melihat mereka pulang bersama." tambahnya.

Araki yang masih membantu teman-teman sekelasnya merasa kesal dengan anggota lainnya. Meminta teman yang dibantunya untuk menunggu, dia mendatangi kelompok penggosip "Apa yang kalian lakukan?," tegurnya "Fokus pada pelajaran kalau kalian masih ingin mengalahkan kelas E!"

Jujur saja, kembali ke pelajaran itu agak susah bagi mereka. Membicarakan ketua mereka yang tiba-tiba akur dengan rivalnya itu lebih menarik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 03:

Pelajaran masih berlangsung tapi sang ketua OSIS tidak berada di kelas. Gakushu berada di belakang sekolah, tanpa sengaja bertemu dengan Karma yang membeli sekotak jus dari mesin minuman. Padahal maksud hati ingin kembali ke kelas setelah membeli Olong Tea, tapi malah bertemu dengan rivalnya.

Pasti dia tidak akan kembali di jam pelajaran ini.

"Yo." Sapa Karma lalu mundur untuk mempersilahkan yang lain untuk memakai mesin.

"...Apa kau berencana membolos seharian?," tanya Gakushu lalu memasukan beberapa koin ke mesin. Setelah mendapatkan minuman yang diinginkannya, dia memutar tubuhnya berhadapan dengan Karma.

"He eh...Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Bukannya sekarang harusnya kau berada di kelas dan belajar bersama-sama dengan teman-temanmu?," balas Karma sambil menusukan sedotan ke kotak jus.

"Maa Ne, Pasti yang lainnya sedang membicarakanku," Gakushu berujar dengan malas "Kalau begitu, aku kembali du—"

"Tunggu," Karma memotong kalimat remaja tersebut sekaligus mencegahnya untuk pergi "Daripada kau belajar bersama orang yang memiliki peringkat lebih rendah darimu, bukannya lebih baik belajar bersama yang diatasmu"

"Ha?," entah hanya pura-pura atau memastikan, tapi Gakushu menatap mantan berandal dengan penasaran "Maksudmu?"

"Belajarlah bersamaku," jawaban Karma begitu singkat tapi cukup unuk menjelaskan keseluruhan maksudnya "Ah. Ini bukan ajakan tapi perintah Shuu-kun~" tambahnya dengan senyum manis di wajahnya.

"Memangnya siapa kau? Memerintahku seenaknya!" Gakushu mulai sewot dan pergi meninggalkan tempatnya, dia bersumpah tidak akan menoleh lagi pada Karma "Dah, aku tidak mau berurusan denganmu kecuali saat ujian"

Meski sudah di tolak, wajah Karma masih tetap santai, terlihat bosan malah. Kotak jus dibuang ke tempatnya, si pemilik rambut merah membelakangi lawan bicaranya "Kau yakin tidak ingin belajar bersamaku Shuu-kun?" kali ini nadanya tidak terdengar ceria ataupun jahil lagi, hanya berbicara tanpa nada seperti yang dilakukan pak kepala dewan.

Sesuai sumpahnya Gakushu tidak menoleh lagi ke teman sekelas sementaranya, jadi dia hanya mulai memperkecil langkahnya dan mulai memikirkan ajakan sebelumnya. "Akan kupikirkan," jawabnya

"Aku akan menunggu di depan gerbang~"

Sudah kubilang masih akan kupikirkan!, teriak Gakushu kesal dalam hati. Tapi, percuma saja berdebat dengan orang itu, hanya akan menghabiskan tenaga. Dengan itu, si pemilik rambut jingga berangkat kembali ke kelas.

...

Gakushu sudah berada di lantai atas, lantai dimana kelasnya berada. Dari balik jendela koridor, dia bisa melihat Karma bersama dengan anak kelas E yang memiliki surai perak. Horibe Itona, kalau tidak salah ingat namanya. Itona yang memakai seragam olahraga mendatangi Karma lalu bersama mereka pergi ke gunung dimana kelas E berada.

Kalau diingat kembali. Si Karma itu pernah bilang jika sekelas dengannya itu menyenangkan. Gombal saja, si berandalan itu hanya bertahan selama 3 hari untuk diam di kelas A lalu seenaknya saja membolos dan bermain bersama anak-anak buangan.

Yah...Anak kelas A tidak akan pernah tahu kalau Karma akan menjadi pion penting dalam rencana apik untuk membunuh Koro-sensei.

Kedua sosok diluar menghilang di telan rimbunnya tanaman. Merasa tidak perlu melihat lagi, Gakushu kembali melihat jalan.

Baru saja dia akan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kelasnya, dia menoleh untuk melihat kedua sosok familiar yang berada tak jauh darinya. Dan itu sungguh menarik perhatiannya.

Disana ada Gakuho bersama dengan seorang wanita.

Wanita tersebut memiliki rambut hitam bergelombang, panjang sampai sepunggung. Kedua matanya yang lebar sungguh menawan dan bibir merahnya yang seksi juga memikat. Perempuan tersebut memakai blazer hitam dengan dalaman kaos putih, sementara untuk bawahannya adalah rok span yang juga berwarna hitam.

Wanita yang baru saja dilihatnya adalah wali kelas di kelas C. Banyak gosip mengatakan jika primadona diantara guru tersebut sangat tertarik dengan pak kepala dewan.

Baru saja dia melihat ayahnya mengobrol santai dengan salah satu karyawannya. Apa dia patut kesal?

Untuk apa kau dianugarahi otak cerdas jika tidak bisa membedakan mana hubungan kerja dan hubungan intim?. Tapi, tetap saja gosip wanita itu membuat Gakushu was-was.

Cukup lama Gakushu berdiam di tempatnya, lalu pura-pura acuh dan segera masuk ke kelasnya.

Dia mendapati empat anggota Virtuosos berkumpul dan mengobrol tanpa peduli dengan anak-anak kelas lain.

"Yang menjadi pertanyaanku sekarang, dimana sebenarnya si Asano-kun..itu"

"Di sini"

Gakushu menjawab pertanyaan Koyama yang dengan nimbrung bersama anggota yang lain. Baru saja dia mendapati orang yang disukainya bersama dengan orang lain, dan sekarang dia harus berurusan dengan 'anak buahnya' yang tidak bertanggung jawab.

"Bukannya membantu teman-teman kalian, kalian malah berbicara sendiri. Pantas saja anak kelas E mengambil posisi kalian." Nadanya terdengar santai, tapi kedia matanya yang menatap tajam, seperti menusuk mereka.

"Ma..Maaf!"

Melihat 'anak buahnya' sudah mulai kembali bekerja. Gakushu juga, meletakan minumannya di atas mejanya lalu mulai menanggapi pertanyaan-pertanyaan matematika yang membingungkan.

OXO

Tidak ada sosok Karma di depan gerbang sekolah. Remaja tersebut menelpon Gakushu. Entah sejak kapan Karma punya nomor telponnya, tapi mendengar si berandalan berbicara tepat di telinganya—dan ini pertama kalinya melalui telpon— rasanya agak gugup.

Apalagi setelah yang dilakukannya tempo hari (A/N: ingat ch 1?)

"Entah kau dapat nomorku darimana, tapi ada apa?"

'Kau bilang kau akan memikirkannya, jadi ada kemungkinan kau tidak akan datang. Maa...sebenarnya aku ingin menyeretmu ketika kita bertemu di gerbang sekolah tapi untuk saat ini, aku sedang sibuk dengan misi—Eh tidak!, maksudku dengan anak kelas E'

Mendengar kata misi, Gakushu menaikkan salah satu alisnya "Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" tanyanya sama sekali tak menyembunyikan rasa penasarannya.

Dia selalu penasaran dengan rahasia anak kelas E.

Memang nada bicara Karma terdengar seperti berbisik-bisik, tidak ingin terdengar oleh orang lain. Lalu disaat bersamaan bisa terdengar samar-samar bunyi tembakan. Misterius sekali bukan?

'Yah...Mereka suka bermain-main,' Karma tertawa garing 'Akan kuberi alamatku, tapi telpon aku juga jika kalau mau datang. Maa...aku sangat ingin kau datang, jadi aku menunggumu Shuu-kun~'

Setelah itu terjadi keributan di seberang sana yang jelas memaksa Karma untuk mematikan ponselnya. Gakushu hanya mengeleng pelan, sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Merasa memang bukan urusannya dan lebih baik tidak ikut campur, dia membuka pesan yang baru sampai.

Alamat rumah Akabane.

...

Setibanya dirumah. Dia melihat mobil ayahnya terparkir di depan rumah, bukan di dalam garasi. Baru saja akan masuk, dia berpapasan dengan sang ayah yang masih dengan setelan jas kantornya.

"Kau mau kemana?"

Gakushu bertanya, dengan nada dan tatapan curiga. Gakuho sudah terbiasa dengan tatapan dingin dari anaknya, dengan santai dia menjawab "Makan malam"

Jawaban singkat tersebut jelas membuat sang anak tidak senang. Menyilangkan kedua lengannya di depan dada dia mengulagi lagi jawaban ayahnya dengan dingin "Makan malam huh"

"Seseorang mengajakku"

Sayangnya penjelasan singkat tersebut malah membuat Gakushu semakin kesal. Menghela nafas seolah dia lelah, dia berkata dengan dingin "Baiklah, hati-hati dijalan" dari nadanya sama sekali tidak ada ke-ikhlasan.

Jangan begitu Gakushu, itu sama saja mendoakan ayahmu agar dia kena kecelakaan.

Wajah dingin pak kepala dewan agak luluh karena penasaran. Tidak biasanya anaknya peduli dia mau kemana.— Itu karena biasanya Gakushu pura-pura cuek. Emosi remaja itu membludak karena pemandangan yang dilihatnya tadi siang.

Sebelum sang anak membuka pintu, Gakuho mengejarnya dan menangkap tangan Gakushu.

Gakushu terpaksa memutar tubuhnya kembali, menghadapi sang ayah. "A..Ada apa?," tanya remaja tersebut, seolah sebelumnya dia sama sekali tidak marah "Kau melupakan sesuatu?"

Kedua belah pihak melihat tangan Gakuho yang mencengkram erat tangan Gakushu. Pria itu melakukannya tanpa sadar sama sekali, berlahan tangannya dilepaskan. "Tidak," Gakuho mengeleng pelan "Hanya saja...Kau ingin, tidak, kupikir kau...Bagaimana mengatakannya? Kelihatannya kau keberatan jika aku pergi malam ini"

"O..Oh," Gakushu menutup mulutnya lalu memiringkan badannya, mencoba menghilangkan sosok ayahnya yang berdiri di hadapannya "Aku hanya terbawa emosi dari sekolah. Akabane membolos hari ini dan aku sama sekali tidak bisa menghentikannya"

"Cuma itu? Seingatku jika setiap kali emosimu membludak, berarti masalah besar sedang menimpa kelas A"

"Tsk, kali ini bukan menimpa kelas A tapi diriku!" bisik Gakushu, memastikan apa yang baru saja dikatakannya tidak terdengar. Kali ini remaja tersebut mendongak untuk melihat mata ayahnya "Abaikan saja, kau bisa pergi Ayah"

Senyuman tipis muncul dari bibir ayahnya. Gakuho membungkuk sedikit untuk mencium dahi anaknya sambil tangannya mengusap puncak kepala jingga remaja tersebut "Kalau begitu ayah berangkat." pamitnya lalu meninggalkan Gakushu membeku di tempat.

Kedua mata unggu Gakushu membulat tak percaya. Wajahnya memerah tak karuan, sialan dia telah lenggah. Segera dia menepuk kedua pipinya, kalau bisa tampar saja dirinya itu!. Ciuman itu sama sekali tidak membuatnya senang! (gak sih, padahal dalam hati seneng banget nih)

"Lebih baik aku mandi." Gerutunya lalu masuk kedalam dan menuju ke kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Membayangkan orang yang disukainya pergi makan malam dengan orang lain, terlebih lagi wanita cantik. Itu sangat menyikitkan, dan harus diakui dia sangat cemburu.

Seandainya dia perempuan, seandainya dia adalah orang lain. Harapan-harapan yang sama sekali tidak ada hubungannya untuk menjadi penguasa telah ada dalam hatinya semenjak dia menyukai ayahnya sendiri.

Kecemburuan yang tadi sedikit keterlaluan. Karena tekanan yang telah di berikan Karma— Peringkatnya telah diambil, dan dia harus merubutnya kembali jika masih ingin di rumah ini. Setelah itu dia melihat seorang wanita yang memiliki gosip ingin—ehem—merayu ayahnya. Bagaimana bisa dia tenang, coba?.

Dan akhirnya dia malah menunjukan emosinya, yang biasanya sangat mudah dia kendalikan dan sembunyikan.

Ciuman di dahi lagi...Apa maksudnya juga.

"Kurasa aku tidak pantas mendapat perlakuan 'baik' darinya setelah aku kalah bukan?"

Atau jangan-jangan dia melakukannya untuk 'menjinakan'ku?

Menyiram wajahnya lebih dahulu, berlahan rona merah menghilang dari kulitnya. Air hangat yang terjun deras dari shower membuat syaraf-syarafnya melonggar sejenak. Bau shampo dan sabun favoritnya juga memanjakan dirinya, seolah berbisik untuk melupakan apa saja yang membuatnya susah.

Ah...apakah dekapan ayahnya itu bisa sehangat dan senyaman ini?.

Untuk beberapa detik sebelumnya dia bisa berada di tengah-tengah pria itu, merasakan suhu tubuhnya, dan begitu dekat dengannya.

Kuakui...Aku sangat menginginkan pelukannya..

...

Seusai mandi dia baru menyadari jika rumah tersebut begitu hening. Hanya dia seorang yang berada di rumah besar tersebut, sangat membosankan.

Gakushu yang masih tidak berpakaian lengkap, malah tidak sama sekali. Menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral. Dia hanya mengenakan handuk di bagian bawahnya dan satu lagi melingkar di lehernya untuk mengeringkan rambut.

Kebiasaan tersebut hanya dilakukan ketika dia sendirian di rumah.

Dia meminumnya sambil berjalan ke ruang tengah. Ponselnya masih berada diatas meja, mengingatkannya dengan Karma.

Ayahnya makan malam bersama dengan orang lain, tidak ada kerjaan, dan karena dia sering melamun dia melewatkan satu bab pelajaran bahasa Jepang.

Jujur saja, Asano Gakushu memiliki kelemahan dalam Mapel tersebut.

"Si pak tua itu pergi, siapa yang akan membantu?" dia pura-pura bertanya demikian. Tapi sebenarnya pertanyaannya adalah "Apa Akabane bisa membantuku?"

Tidak! Seharusnya aku ke tempat Sakakibara atau orang lain pokoknya!. Teriaknya dalam hati. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia penasaran dengan cara Karma belajar sampai bisa mengalahkannya.

Tangan yang dia ulurkan untuk mengambil ponselnya berkeringat. Sambil menekan tombol dia tertawa garing "Gawat aku jadi terobsesi" gumamnya hampir tak bersuara.

Terobsesi mengalahkan si setan merah.

Cukup cepat orang di seberang sana untuk mengangkat.

'Shuu-kun hmm?'

"...Apa kau ada dirumah?"

'Tentu saja aku sudah bilang kalau aku akan menunggumu'

"Baguslah...Aku akan kesana. Dan juga lebih baik kau memberiku sesuatu yang bisa dimakan"

'Heeh~ Makan malam bersamamu?, lebih dari senang hati'

Sambungan terputus. Gakushu segera naik keatas kamarnya dan memakai baju.

Tidak disangka dia akan benar-benar ke sarang musuh. Dan jika diingat lagi, Karma itu serigala licik. Entah apa yang terjadi dengan dirinya nanti, itu urusan belakangan.

Namun apa yang harus dilakukannya? Dia yakin kapasitas otaknya dan otak Karma paling tidak sama, apakah...dia memang berada di bawahnya?.

Ujian yang lalu dia tidak berhasil menyelesaikan semua soal, karena waktu habis. Mungkin...dia terlalu lama berpikir? Atau dia suka cara yang ribet. Sial! Bagaimana bisa lelaki itu mengalahkannya?.

"Ancaman kali ini sama sekali tidak bisa diterima!"

Gakushu mengambil pakaiannya. Dia memilih hem berwarna putih dengan bawahan jeans berwarna hitam. Malam akan semakin dingin. sudah lama dia tidak keluar rumah—dia tidak mau menyebutkan jika ini bermain ke rumah teman—, sampai lupa dimana dia menaruh jaket.

Windbreaker jacket berwarna coklat muda. Kondisinya masih seperti baru.

Dengan itu dia keluar dari kamarnya, sambil membawa tas sekolahnya yang hanya berisi buku bahasa Jepang. Bukan Matematika, dia berencana memaksa Karma untuk menunjukan catatannya. Meskipun...Sebenarnya dia ragu apakah Karma pernah mencatat.

Mengetahui cara belajar musuhnya, bagaimana pola pikir orang itu. Setidaknya itu usahanya untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa orang yang disebut-sebut sebagai rivalnya.

Tapi...Aku masih butuh orang yang bisa membantuku dengan sastra

"Kuharap dia tidak sebodoh aku" gumamnya lalu mengunci pintu rumahnya dan juga pagarnya.

...

Setelah setengah jam berjalan kaki, akhirnya Gakushu tiba dialamat yang ditujunya. Berbeda dengan rumah Asano yang mewah dan klasik, rumah keluarga Akabane mewah-modern. Jika rumah Asano mayoritas warnanya coklat kayu dan krim pucat. Milik Akabene lebih kaya warna biru langit dan putih.

Sudah yakin jika rumah besar di depannya adalah tempat tinggal keluarga Akabane—dengan melihat papan nama—, akhirnya Gakushu menekan bel.

Dalam penantiannya menunggu si tuan rumah membuka. Baru kali ini dia akan mengaku pada dirinya sendiri jika dia takut iblis atau setan dan apapun itu yang bisa mendeskripsikan Karma.

Jantungnya berdegup kencang karena gugup. Karena sadar dia telah datang ke rumah lelaki yang menyerangnya di koridor sekolah dengan agressive. (AN: masih ingat ch1?)

Semoga si Akabane itu tidak dalam mood untuk bercanda seperti itu

To Be Continue

A/N:

Saya jadi merasa bersalah karena sudah di chapter ini tapi masih belum ada perkembangan 'tidak aman' di fic ini.

Mungkin fic ini akan menjadi fic yang panjang dan gak seru.

Oh ya mengenai Gakushu yang gak pandai sastra atau apalah itu. itu Cuma dari pengalaman saya dengan teman saya yang jago MAT. Setahu saya teman2 yang pandai ngitung gak suka hafalan dan teori panjang. Apalagi Sosiologi yang banyak kemungkinannya. Jadi...Sebenarnya saya penasaran si Karma ama Gakushu gitu juga gak sih?

Tapi untuk kelangsungan cerita biarkan saja Gakushu agak bego di Mapel itu

Maa..Langsung saja ke Reply Time:

Wako P-san :

Salam kenal. Terima kasih karena telah membaca Crazy Enough to Love him, semoga masih membaca yang ini.

Kalau menurut saya Karma tidak mencuri start duluan, yang mencuri garis mulai malah si om lipan. Karena Gakushu kan sukanya ama dia dulu trus tiba-tiba si setan merah itu nongol entah dari mana.

Dan fic ini bakal fokus sama kebegoan Gakushu, jadi anggap aja para seme itu jalannya bareng (?) maksudnya bersaingnya bareng. Meskipun om lipan juga belum nimbrung 3some sampe chapter ini.

Anyway thx for reviewing! : )

Xhakira-san:

Senang sekali masih melihat Xhakira-san : ) thx for reviewing

Takanashi Ageha-san:

Hi!, Entah saya harus berterima kasih karena Ageha-san gregetan atau tidak /kokgitu?/ Gregetan ama ceritanya atau ama saya nih~ /apa seh/

Karma nyebelin. Jangan benci dia, dia hanya melakukan perannya dengan baik disini, kepribadian setannya Cuma saya manfaatin biar..ada twistnya gitu fic ini hahaha

Mengenai PM maa...mulanya sih pingin d reply aja pake PM, karena memang lebih nyaman. Tapi karena banyak author lain yang pake cara gini jd saya ikutin ajah. Maa...lain kali saya pake cara PM yah (mulai ch besok)

Saya ngakak baca review Ageha-san pas bagian "ih itu... kok gakushuu mau sih diajak karma... harusnya kan kamu bisa teges... apa jangan-jangan karma memancingnya pake trik bukan sulap bukan sihir "gue traktir deh" jadi gakushuu mau? #plisinibukanindonnak"

iya juga sih, dan sekarang si Shuu-kun malah kerumah Karma. entah apa nanti yang akan terjadi /evilsmile/

Gakushu gak bisa masak? Memang sih tampangnya itu gak meyakinkan untuk masak tp mengingak lipan family serba bisa, jadi saya buat gitu deh hahaha

Anyway thx for reviewing! : )

Takamiya Haruki-san:

Hi!, Karma melakukan perannya dengan baik (menjadi orang jahat)

Hahaha kalau Karma diusir saya lebih suka kalau dia larinya ke Isogai (jd ukenya isogai maksudnya) untuk beberapa alasan saya lebih suka Isogai jadi seme #nih org jd bicarakin chara lain

Iya nih mereka masih pake tradisi Okaeri dan tadaima sweet banget kan?

Anyway thx for reviewing! : )

Little Madara-san:

Salam kenal! Eh akhirnya ada juga yang nyebut nama Terasaka. Emang preman sangar gak punya otak satu itu /jahat banget nyebutinnya/ bisa disandingin ama Karma. tapi kok saya bayangin tuh org pantesnya di dominasi drpada mendominasi (Karma selalu mengendalikannya sih) Yaah...saya malah membicarakan chara di luar fic ini lagi

Anyway thx for reviewing! : )

Karushuucchi otp-san:

Hi! Terima kasih karena masih membaca. Oh ya, nantikan saja chapter selanjutnya. Anyway thx for reviewing! : )

Dita338-san :

Salam kenal! (atau enggak?) saya ingat username Dita338-san di fic saya yang satunya kill to kill. Terima kasih telah memfav yang satu itu, juga yang ini.

Maa...tapi ini pertama kalinya kita bertukar pesan (surat2an?)

Saya sangat mengerti perasaan Dita338-san, karena sbg author saya binggung dengan 3some kali ini. #plak/ gakkompetenbanget/

Anyway thx for reviewing! : )

Miss Taurus-san :

Hi! Eh iya, sayang sekali Asanocest ch ini juga imprit. Si om lipan masih belum berpartisipasi sih. Cuma dikit aja sekarang, nanti aja di belakang hahaha.

Anyway thx for reviewing! : )

Etsukoyikiai-san :

Salam kenal!

Cinta terlarang emang yang paling pas untuk genre hurtcomfort tapi emang sakit! Sebenernya secara pribadi gak terlalu suka yg sedih2 tp..fic ini gak sedih2 amat kan? KaruAsa scene udh tercium kok hahaha

Anyway thx for reviewing! : )