Ponselnya bergetar, tanda waktu belajar yang ditentukannya telah habis. Karma mengambil alat elektronik tersebut, lalu melihat jam digital di dalamnya.
Jam 10 malam. Tanpa mereka sadari mereka bergelut dengan Matematika sampai semalam itu. "Hei," Karma mencari sosok lelaki lainnya—yang seharusnya duduk bersebrangan dengannya. tapi tidak menemukannya.
"Dasar," keluhnya ketika melihat kearah sofa. Gakushu duduk diatas sana, bersandar dengan nyaman. Kedua iris unggu milik remaja itu sama sekali tidak melihat buku, melainkan terpejam rapat. "Aku senang kalau kau mempercayaiku. Tapi ini sangat menggoda iman tahu," Karma bangkit berdiri lalu merapikan semua buku diatas meja.
Untuk sesaat otak cerdas miliknya tidak berfungsi. Dia tidak tahu bagaimana enaknya; membiarkan Gakushu tidur di tempatnya atau memintanya pulang. Pilihan keduanya terdengar kejam sekali, tapi pilihan pertama cukup kejam untuk dirinya sendiri.
Menyerah untuk memikirkan apapun akhirnya Karma memutuskan untuk mengambil pilihan membiarkan Gakushu tidur di rumahnya. Seenaknya saja dia mengambil ponsel Gakushu, mencari-cari nomor di kontak.
Setelah menemukannya dia segera menekannya, tanpa memikirkan konsekuensinya. Cukup lama Karma menunggu sampai yang di seberang sana mengangkat.
'Asano-kun?'
"Akabane pak kepala dewan," jawab Karma tersenyum tipis meskipun tahu yang di seberang sana tak akan bisa melihatnya. "Dia ada dirumahku dan ketiduran. Boleh dia menginap disini untuk malam ini?"
'Begitu, pantas saja rumah kosong. Tidak masalah Akabane-kun, maaf merepotkanmu'
"Tidak masalah. Apalagi dia sama sekali tidak merepotkanku pak"
Setelah mematikan ponsel milik Gakushu. Karma mengendong remaja yang ketiduran. Akan sangat merepotkan kalau anak itu masuk angin, sementara dia sendiri sudah terbiasa tidur di sofa.
Karma mengangkat tubuh Gakushu dengan gaya pengantin. Rupanya rivalnya itu lebih ringan dari dugaannya, dengan mudah dia membawanya ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Dengan pelan diletakannya tubuh Gakushu ke atas ranjang berukuran King. Cukup lama kedua mata emasnya tak bisa beralih dari wajah tidur Gakushu yang manis sekali menurutnya.
Setelah sadar telah terlalu lama melihat wajah rivalnya dia mengalihkan pandangan ke kamarnya yang seperti kapal pecah. Dia akan mengomel nantinya, pikir Karma lalu keluar dari kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 05:
Aku menyukai ayahku.
Dia tidak percaya kalau dia akan mengatakan rahasia terbesarnya pada Karma semudah itu. Setalah usaha kerasnya untuk menyembunyikan kenyataan tersebut, bahkan sampai dia hampir di perkosa (hanya untuk memenuhi permainan Truth or Dare). Lalu kenapa pada akhirnya dia memberitahu Akabane Karma ?
Gakushu gak bodoh-bodoh amat kok, tawaran untuk berpacaran dengan Karma tempo hari masih diingatnya. Hanya saja dia ingin melupakannya. Dia tidak sebodoh itu untuk benar-benar menyangka kalau remaja bersurai merah tersebut melakukan berbagai hal untuk menggodanya hanya karena lelucon.
Karma menyukainya...
Itu kenyataan terburuk yang sama sekali tidak ingin diketahuinya.
Kehidupan cinta itu sangat rumit sekaligus menyakitkan. Ada apa dengan kehidupannya itu? dia mencintai ayahnya dan secara bersamaan seseorang mencoba mengambil hatinya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Memilih seseorang yang lebih baik dari dirinya?
Mungkin ayahnya itu adalah orang yang disukainya, tapi ayah adalah ayah. Tidak ada yang bisa merubah hubungan darah mereka. Tapi Karma...Dia lebih baik.
Karma tidak berhubungan darah dengannya, peduli padanya meski terkadang seenaknya sendiri. Namun, apa daya? Dia sangat mencintai Gakuho. Cintanya sudah dalam tahap; siap untuk tak menoleh pada siapapun.
Aku sangat mencintai Asano Gakuho. Apakah itu salah, apakah itu tidak boleh?.
Maka karna itu. Gakushu bersiap untuk tinggal seorang diri saja, tanpa ada yang menemaninya seumur hidup.
Dan. Tiba-tiba saja Karma muncul dalam hidupnya, mengganggu kehidupan cintanya yang sangat kesepian ini. semenjak ada Karma yang selalu menjahilinya, dia semakin ingat siapa yang dicintainya.
Aku mencintai ayahku. Mungkin karena itulah dia mengungkapkan rahasianya terhadap Karma. ingin meyakinkan dirinya, juga ingin membuat Karma mundur selangkah.
Yang kucintai itu Gakuho. Ya,pria itu!
Semakin Karma mendekatinya, dia malah semakin ingin segera di dalam pelukan ayahnya. Berada dalam dekapan orang yang dicintainya dan mengklaim kalau dia adalah milik pria itu.
Itu sungguh menyakitkan...
Lebih baik tidak mencintai siapapun daripada merasakan sakit seperti ini...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam weker berbunyi. Aneh, dia tidak pernah menyetel jam weker sebelumnya. Gakushu bangun, membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit asing, lalu tempat tidur berukuran King yang asing juga.
Bunyi jam weker selalu membuatnya sakit kepala, maka karna itu dia tidak pernah menyetelnya. Sambil mengerutu tentang betapa berisiknya benda itu, dia menekan tombol mematikan.
Gakushu bangun setengah jam lebih cepat dari jadwalnya. Tapi berkat dering berisik yang sebelumnya dia sama sekali tidak ada mood untuk melanjutkan tidurnya. Diamatinya baik-baik kamar tersebut, sungguh berantakan.
Buku-buku yang telah dibaca dibiarkan terbuka diatas meja belajar, ada juga yang tersusun berantakan di sebelah kaki meja. Lemari kaca yang berisi CD kaset dan film terbuka, isinya juga berantakan hampir jatuh semua, kelihatannya pemiliknya mengambil terburu-buru tanpa peduli dengan kaset yang lain. Mana baju bersih, mana baju kotor sama sekali tidak bisa dibedakan. Semua pakaian tersebut bertebaran kemana-mana, membuat Gakushu sakit kepala.
Seingatnya kemarin dia berada di rumah Karma, pasti kamar ini milik berandalan tersebut. Jika orang tuanya jarang berada di rumah, memang masuk akal kalau kamarnya seperti kapal pecah.
"Kalau kamarmu seperti ini jangan biarkan tamumu masuk dong," keluhnya seraya turun dari ranjang. Dengan cekatan dia merapikan kasur besar yang baru saja ditidurinya, lalu membuka jendela membiarkan udara dalam kamar berganti.
Setelah itu dia turun, mencari-cari sosok si pemilik rumah. Mengingat kembali jalan ke ruang tengah, dia malah menemukan pintu untuk ke teras. Untuk beberapa menit Gakushu menikmati pemandangan penuh bunga tersebut, sampai akhirnya tersadar kalau dia harus mencari si pemilik rumah.
Karma masih tidur diatas sofa, dengan sehelai selimut menutupi tubuhnya. Gakushu mendekati lelaki tersebut, memanggil-manggil namanya. Sama sekali tidak ada respon. Gakushu kehilangan kesabarannya, dengan kasar dia menarik selimut tersebut dari Karma.
"Jangan menggangguku!"
"Kita harus sekolah!"
Acara tarik menarik selimut berlangsung cukup lama. Namun pada akhirnya pertandingan tersebut dimenangkan Gakushu yang menarik kain tebal tersebut sekuat tenaga, sampai Karma terjatuh dari bebaringnya.
"Untuk apa sekolah!?," omel Karma segara berdiri lalu membentak si pelaku yang menjatuhkannya dari sofa "Kau juga tidak membawa seragammu!". Kelihatannya Akabane Karma adalah tipe yang memiliki kepribadian buruk di pagi hari.
"Oi tenang," Gakushu menghela nafas panjang, baru kali ini dia berurusan dengan hal merepotkan di pagi hari. "Kau tidak pernah memakai seragam dengan benar. Maka karna itu pinjamkan aku seragam Kunugigaoka, kau punya kan?"
"Ha?" Karma mengacak surai merahnya "Seragam Kunugigaoka? Aku lupa menaruhnya dimana"
"Tsk, sudah kuduga setelah melihat kamarmu yang seperti gudang itu"
"Hei! Setelah aku menggendongmu ke kamar agar kau tidak kedinginan disini!"
"He eh. Jangan banyak bicara dan siapkan sarapan Akabane, aku akan mencari seragammu"
"O-oi!" Karma mengulurkan tangannya untuk mencegah tapi terlambat. Si Gakushu sudah pergi lagi menuju ke kamarnya. Tamunya itu pergi seenaknya seolah sudah mengetahui keseluruhan denah rumahnya. "Memangnya dia tipe evil waifu ya?" keluhnya lalu menuju ke dapur.
Karma sudah menyiapkan dua piring Pancake, setelah itu pergi untuk mandi.
Karma memakai kamar mandi keluarga sementara Gakushu yang sibuk mencari seragam, memakai kamar mandi di lantai atas.
Pagi ini mereka sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri, tak bertemu sampai mereka duduk berhadapan di meja makan.
Karma sudah siap dengan pakaian yang biasa dia pakai ke sekolah, yang pasti si ketua OSIS yakin kalau itu bukan seragam resmi Kunugigaoka. Yah sudahlah, toh si ketua OSIS ini akhirnya memanfaatkan pelanggaran tersebut.
Gakushu sudah siap dengan seragam resmi Kunugigaoka yang seharusnya milik Karma.
"Aku tidak percaya kalau yang kau pakai itu seragam punyaku," celoteh Karma sebelum memotong pancakenya "Ukuran badan kita benar-benar sama huh"
"...Begitulah" jawab Gakushu pendek "Aku juga tidak percaya sebenarnya"
OXO
Gakuho melihat anaknya yang berjalan bersandingan dengan teman sekelas sementaranya. Gakushu dan Karma memasuki halaman depan sekolah bersamaan, kelihatannya sedang berdebat menganai sesuatu.
Wajah anak tunggalnya itu memerah padam lalu membentak rivalnya, setelah itu pergi dengan langkah cepat meninggalkan remaja bersurai merah tersebut.
Senyum tipis tergambar di wajah pria tersebut, tapi matanya terlihat dingin seperti biasa.
Setelah ancaman yang diberikannya pada Gakushu, dan setelah dia percaya kalau anaknya itu mencemaskan ancaman tersebut. Rupanya perkiraannya salah kalau anaknya itu takut keluar dari rumah. Terbukti bagaimana akrabnya anaknya tersebut dengan Karma si rival.
Tiga hari telah berlalu, dan ketika hari ini berakhir maka akan menjadi empat hari. Tiga hari kedepan Karma akan kembali ke kelas E, begitulah perjanjiannya.
Gakuho memang memaksa anak itu untuk masuk ke kelas A. Namun Karma menolaknya dengan sangat keras, sampai pada akhirnya Karasuma datang dengan membawa ide brilian.
Karma yang tidak ada di kelas E untuk sementara waktu memiliki kesempatan untuk menyerang Koro-sensei diam-diam. Butuh beberapa hari untuk meyakinkan anak itu, tapi pada akhirnya Karma bersedia.
Tapi menurutnya saat ini. Daripada memikirkan ujian maupun misinya, kelihatannya Karma sangat suka berada di sisi anaknya.
Tidak lama kemudian Bel masuk berbunyi. Sebentar lagi Five Virtuosos akan datang. Ren, sang seketaris kemarin meminta waktunya untuk mendiskusikan soal-soal yang cocok untuk anak kelas A untuk persiapan ujian akhir semester. Mereka akan mengambil jam pertama, jam disaat wali kelas masuk ke kelas mereka dan memberi mereka ceramah.
Mengabaikan nasehat wali kelasnya dan lebih memilih mengurus hal lain yang lebih menantang. Terkadang murid unggulan bisa saja meremehkan sesuatu.
Seperti anaknya saat ini.
Akabane Karma bisa mengalahkan anaknya, itu juga berkat didikan guru gurita yang menjadi buronan Internasional tersebut.
Cara mengajar yang simpel dan amatiran tersebut, bisa mengalahkannya karena gurita tersebut mendekati anak-anak didiknya. Berbaur dan mencoba mengerti apa masalah sang anak didik.
Dan metode andalan Koro-sensei adalah 'imbalan'
Mengkorbankan tentakel-tentakelnya agar para muridnya berjuang keras untuknya. Dan hasilnya adalah nyata.
Ace kelas E mengalahkan Ace kelas A. Sementara itu murid kelas A yang lain juga ikut tersingkir dari tempat mereka.
Maka karna itu. Sebagai guru, juga sebagai ayah, dia ingin mencoba metode yang sangat diandalkan gurita tersebut.
Selain ancaman dia juga akan menambahkan imbalan.
Tapi...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakakibara Ren, Araki Teppei, Seo Tomoya, dan Koyama Natsuhiko. Mereka berempat saat ini, merasa menyesal karena telah menduduki rangking lima besar selama ini— Meskipun pada akhirnya posisi mereka lengser, tapi tetap saja mereka Five Virtuosos. Dan itu sungguh...membuat mereka menyesal karena telah menjadi pintar. (lho kok...)
Masalahnya adalah...
Setiap kali mereka—Five Virtuosos akan berada di tengah-tengah pemimpin mereka dan kepala dewan, kedua monster yang mengusasai sekolah elit tersebut. Setiap kali ayah anak tersebut saling bertatapan dan berbicara dengan maksud terselebung, yang bahkan mereka berempat tidak mengerti!. Lalu, ruangan tersebut akan dipenuhi aura (lipan) yang menyesakkan, dan jujur saja hari ini mungkin yang paling parah.
Tiba-tiba saja pak kepala dewan menawarkan perjanjian baru pada anak tunggalnya. Mereka tidak tahu sisi ancamannya, tapi pria tersebut menawarkan imbalan jika Gakushu kembali ke posisinya.
Dan, disinilah mereka berempat sekarang. Berada di belakang Gakushu yang masuk ke mode Super Bad Mood—yang entah kenapa.
Yang dikatakan Gakuho itu imbalan lho, penghargaan lho. Kenapa ketua mereka malah marah dan tidak suka dengan tawaran tersebut?
*BRAAK!
Kedua tangan remaja tersebut memukul meja kepala dewan. Dengan suara berat Gakushu berkata "Apapun itu imbalannya, aku bahkan tidak mau tahu"
"Meskipun imbalannya adalah apapun itu?"
Seperti biasa Gakuho membalas tatapan amarahnya dengan tatapan dingin. Gakuhu mengalihkan pandangannya, melihat ke sisi kanan ruangan "...Aku mau tahu," mulainya masih dengan suara berat "Sebenarnya bagaimana kau melihatku? Dari sisi ayah atau dari sisi guru?"
Yang manapun itu, semuanya menyakitkan kalau dikatakan langsung.
"Katakan pak kepala dewan, Asano Gakuho," iris Violet miliknya kembali melihat pria yang duduk di tahtanya "Bagaimana kau melihatku?"
Bagaimana kau melihatku?. Pertanyaan tersebut jelas saja membuat tanda tanya besar dalam batin Gakuho. Memangnya dia bisa melihat Gakushu sebagai apa?
"Asano-kun sebagai anak—"
"Cukup!," Gakushu kehabisan kesabaran. Dia tidak ingin mendengarkan kelanjutannya—lebih tepatnya dia takut untuk mendengarkan lanjutannya "Kita hanya perlu mengalahkan kelas E. Masalah yang barusan kita lupakan saja, pak kepala dewan" ujarnya ketus tapi tersamar dengan nada tenang.
"Akan kuusahakan tidak mempermalukan nama Asano" itu kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"A-Asano!"
Entah cari kesempatan dalam kesempitan atau memang mencemaskan Gakushu. Ren langsung mengejar remaja tersebut sambil meneriakan namanya.
Demi apapun itu, bagaimana mereka menghadapi Asano senior sendirian sekarang.
"Memalukan sekali," Gakuho menyandarkan diri ke kursinya "Menirukan metode orang lain tapi malah di tolak keras"
Mungkin kalau Ren masih berada disana, remaja tersebut pasti tahu bagaimana menyahut hal tersebut. Dari semuanya memang Ren yang dekat dengan Gakushu, setidaknya dia lebih tahu mengenai hubungan keluarga parah Asano.
"Saya tidak bermaksud ikut campur pak kepala dewan," kedua orang yang lain tidak percaya kalau Araki akan angkat bicara "Tapi menurut saya hubunganmu dengan Asano-kun akhir-akhir ini membaik"
"Tapi setelah semua yang terjadi, dan bapak memberinya imbalan. Mungkin Asano-kun merasa kalau anda tidak menghargainya. Itu seperti mencoreng harga dirinya," lanjut Araki diakhiri senyuman tipis, seperti bersimpati "Asano-kun hanya merasa dia sedang di remehkan. Mungkin dia akan membaik cepat atau lambat pak"
Setelah itu, ketiga anggota Virtuosos undur diri dari ruangan.
Sementara itu. Gakushu masih menghindari Ren yang berusaha berbicara dengannya. Mereka berdua berjalan cepat di koridor sekolah yang sepi, dan Ren yang masih tahu diri menurunkan volume berbicaranya.
"Asano ada apa denganmu?," tanya Ren, masih bersaing dengan kecepatan langkah kaki Gakushu "Apa yang membuatmu begitu marah?"
"Aku juga mau tahu kenapa aku begitu marah," jawab Gakushu bohong, dia tidak ingin memberitahu Ren sebenarnya. "Kembalilah ke kelas Sakakibara. Aku ingin sendirian untuk saat ini" mintanya dengan nada memerintah seperti biasa.
Dengan kecewa Ren memperlambat langkahnya, membiarkan dirinya tertinggal. Mungkin benar Asano butuh waktu tenang, pikirnya sambil tersenyum pedih.
Selama hampir tiga tahun mereka bersama, Gakushu masih saja menutup rapat dirinya. Sebagai pemimpin remaja itu memang punya kemampuan dan karisma, tapi sebagai teman— Gakushu seolah menghindari mereka.
Ren berdiri tidak jauh dari kelasnya berada. Entah kebetulan atau memang suara pintu kelas yang terbuka menarik perhatiannya, dia melihat Karma keluar dari kelas A.
Mata emas berandalan tersebut melihat ke arahnya, menunjukan sinar yang bertanya-tanya. Mungkin Karma melihat kalau Gakushu melewati kelas dengan tampang bersungut-sungut maka karna itu, dia ijin keluar.
Mengetahui maksud tatapan tersebut, Ren hanya bisa menaikan kedua pundaknya sebagai jawaban.
Setelah itu Karma berlari menuju arah Gakushu berjalan.
OXO
Gakushu melihat langit diatas, dengan kedua tangannya bersedakap di depan dada. Apa yang telah dia lakukan? lari seperti pengecut—meskipun tidak terlihat seperti itu.
Mungkin memang benar kalau dia terbawa suasana dan terlalu banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Karma. Tapi bukan berarti dia kurang memiliki napsu untuk bertempur di ujian mendatang.
Gakuho tidak perlu memberi imbalan apapun. Memberinya iming-imingan untuk bekerja keras?, memikirkannya saja sudah membuatnya muak.
"Gakushu"
Suara familiar memanggil namanya dengan nada cemas yang di sembunyikan dengan baik. Si empunya nama berbalik sebantar lalu kembali ke posisi awalnya. "Nah Akabane," panggilnya lemah "Sampai kapan kau akan mengejarku?"
"Ha?," Karma berjonggok melihat pondasi dengan bosan "Apakah aku mengejarmu?"
"Akabane—"
"Sudah kubilang aku sudah tidak berniat memilikimu," Karma memotong "Kuakui aku memang memiliki perasaan padamu. Tapi hanya itu...Aku sudah tidak punya kepercayaan diri lagi untuk mengambilmu," akunya lalu bersila diatas lantai yang dingin "Aku kesini hanya penasaran, apa yang membuatmu semarah itu"
"Apa maksudmu tidak memiliki kepercayaan?," akhirnya Gakushu memutar tubuhnya "Orang sepertimu?"
"Aku orang yang pintar. Aku tahu sampai mana batasku, meskipun agak kesal juga sih kalah dari monster itu"
"Kalau begitu jangan muncul di hadapanku"
Yang terakhir itu...Dingin sekali. Bahkan Karma pun juga bisa sakit hati jika seseorang yang disukainya mengatakan hal tersebut. Remaja bersurai merah tersebut malah tertawa garing, namun tidak menutupi raut wajahnya yang sedih "Aku hanya akan pergi darimu, jika kau mendapatkan orang yang kau sukai"
"Hei! Kalau seperti itu sama saja kalau kau—"
"Aku sudah menyerah, saat aku mengatakan itu aku tidak berbohong. Tapi, aku hanya ingin menemanimu, apa tidak boleh?," tanyanya lalu menyeringai "Bukannya saling menguntungkan?"
"Kau memang orang licik," Gakushu mengacak rambut belakangnya lalu menghala nafas panjang "Kalau kau bilang seperti itu. aku jadi tidak yakin kalau aku bisa mengalahkanmu"
"Benarkah? Meskipun kita sudah belajar bersama?"
"Yang kemarin itu sama sekali tidak berguna"
"Hahaha"
Karma tertawa kecil lalu bangkit berdiri. Mereka berdiri berhadap-hadapan, mata saling menatap. Gakushu memutuskan kontak duluan dengan membalikan badannya, sementara Karma sudah memutar untuk meninggalkan tempat. "Semoga beruntung dengan orang yang kau sukai" ujar si surai merah sebelum menghilang di balik pintu besi
"...Kurasa aku tidak akan pernah bebas darimu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah itu...
Seminggu waktu Akabane Karma di kelas A telah habis.
Anak-anak kelas E bisa merasakan perubahan pada diri berandalan—Ace kelas mereka. Karma menjadi lebih tenang dan memiliki aura dewasa, juga terlihat lebih sabar dari sebelumnya.
Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada anak itu selama seminggu di bangunan utama?.
Kebiasaannya tidak mendengarkan Koro-sensei dan lebih memilih bermain game mulai muncul lagi, jadwal membolosnya juga bertahap. Nagisa yang selalu menjadi bahan permainan Karma sama sekali belum mendapatkan olokan apapun darinya selama dia kembali ke kelas E.
Disaat bersamaan kebiasaan buruknya kembali tapi 'berbeda'
Membuat penasaran sekali bukan?
Hari itu saat istirahat siang. Maehara yang tidak bisa menahan rasa penasarannya akhirnya mendekati bangku si surai merah. "Neh Akabane apa terjadi sesuatu di kelas A?" tanyanya langsung ke intinya.
Nagisa juga segera bergabung bersama remaja bersurai coklat tersebut, diikuti Okuda dan Kaede.
"...Tidak ada." jawab Karma ringan lalu kembali menyedot minuman kotakannya "Mereka hanya belajar bersama untuk menghadapi ujian mendatang."
"Bukan!," seru Maehara tak sabaran "Ada sesuatu yang merubahmu. Pasti terjadi sesuatu"
"Jangan-jangan ada cewek kelas A yang kau taksir?" Okajima tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung. Kaede terhentak kaget "Eh benarkah, kupikir selama ini cewek favoritmu itu Okuda-san!?"
"Kaede!," Okuda menepuk keras pundak gadis berambut hijau tersebut "Jangan membuat berita palsu"
Nagisa mengabaikan segala keributan di sekitarnya. Dengan senyum manis dia menepuk pelan pundak sahabatnya lalu bertanya "Bagaimana caranya agar kau memberitahu kami?"
Sahabatnya itu memang yang paling tahu bagaimana cara menarik perhatiannya. Dengan senyum kecil Karme menjawab "Paksa aku main Truth or Dare"
"Ha?" Maehara terlihat mau protes berat "Truth or Dare, bisa saja kau memilih Dare terus bukan?"
Si playboy itu benar...
"Tapi ada kemungkinan kalian bisa membuatku memilih Truth bukan?. Yang penting paksa aku main saja"
Mereka yang berada disana—termasuk Okajima berpikir untuk 'memaksa' orang jenius di kelas mereka bermain. Rasanya mustahil, trik licik seperti apa yang bisa mereka gunakan untuk orang licik macam Karma. "A-ano.." Okuda memberanikan dirinya.
Segala pihak melihat gadis berkacamata tersebut, dengan tatapan bertanya— kecuali Karma yang tersenyum dewasa, menunggu apa yang direncanakan perempuan sepolos Okuda.
"Ba-bagaimana dengan permainan gunting batu kertas? Kalau Karma-kun kalah kita akan bermain Truth or Dare"
Waw ide yang bagus, pikir mereka semua.
"Nah begitu saja!," seru Maehara "Dimulai dari aku ya"
"Oke" Karma menanggapinya santai.
Maehara kalah, Okuda kalah, Kaede kalah, Okajima kalah, bahkan Nagisa pun kalah.
Tidak ada yang bisa mengalahkan Karma bahkan sampai bel masuk berbunyi. Masih bersi kukuh, Nagisa menantang Karma sekali lagi. Terus begitu sampai guru gurita mereka datang.
Sebenarnya...bukan hanya Koro-sensei yang menjadi tertarik dengan adu permainan Janken tersebut. Tapi sekarang sudah menyebar, menarik perhatian seluruh anggota kelas.
Itona kalah, Terasaka kalah, Isogai kalah, Rio kalah, Sugino kalah, Kanzaki kalah.
"Hei kalau Cuma jenius tidak akan mungkin menang janken sebanyak ini!," seru Terasaka frustasi setiap kali Karma mengalahkan seseorang "Memangnya kau apa, Untung angsa?"
"Terasaka selain melihat Naruto kau juga melihat Disney huh" timpal Itona ber-Sweatdrop
"Hahaha masih ada yang mau mencoba?," Karma masih dengan santainya duduk menunggu penantang selanjutnya. Senyum di wajahnya menghilang ketika melihat sosok gurita di belakang teman-temannya "Bagaimana kalau Koro-sensei?"
Dengan cengiran menghiasi kepala bulatnya, dan juga garis hijau yang selalu membuat sang Ace kesal. Koro-sensei setuju "Nurufufufu...Kelihatannya menarik"
Tapi pada akhirnya...Masih tidak ada perubahan; Koro-sensei kalah.
Para murid mengabaikan guru mereka yang merajuk di pojokan dan kembali bermain gunting batu kertas dengan Karma. satu jam pelajaran hampir habis, sampai akhirnya seseorang meneriakan kemenangannya.
Yang kalah dan sudah menyerah, bahkan sampai dalam tahap pesimis untuk menarik rahasia Karma, kini kembali 'mekar'. Sedetik kemudian bangku Karma kembali dipenuhi orang.
Siapa sangka kalau yang menang Chiba.
"Truth or Dare!" teriakan Maehara membuat yang berada di dekat lelaki itu menutup telinga.
Tanpa banyak berpikir Karma menjawab "Truth". Jelas saja itu adalah pilihan yang tidak disangka-sangka siapapun. Kalau mau menyembunyikan rahasia ya tinggal mengelak ke Dare, tapi Karma malah menghindari Dare.
"Ke-kenapa?" tanya beberapa orang bersamaan. Seisi ruangan menyadari keanehan tersebut, tapi yang bisa bertanya saat ini hanya; Nagisa, Okuda, Isogai, dan Rio. Karena mereka lebih cepat tanggap dari yang lain.
"Bisa saja kalian—terutama Okajima atau Maehara, menyuruhku untuk menembak orang yang kusukai dengan cara berteriak di atas gedung utama "
Eh? Kok tahu?—Bu-bukan kami bahkan belum berpikir sampai sana kok
Itulah raut wajah Okajima dan Maehara saat ini.
"Kalau begitu apa yang terjadi di kelas A?" tanya Nagisa
"Kau yakin masih tanya itu? bukannya sudah kubilang kalau mereka belaja—"
"BUKAN!" Sementara yang lain bertariak menghentikan jawaban Karma. Nagisa segara mengganti pertanyaan "Apa yang terjadi dengan mu saat kau di kelas A?"
"...Ada orang yang kusukai" jawab Karma singkat. Wajahnya tak menunjukan apapun— dia sama sekali tidak merasakan apapun. Seolah dia sedang menjawab pertanyaan 'apa kau sudah makan?' dan menjawabnya 'sudah' atau 'belum'
Koro-sensei segara bersatu dengan para muridnya, dengan kulit berwarna merah muda. Sungguh, kelakuan gurita tersebut membuat yang lainnya jengkel (untuk beberapa alasan)
"Ha? Apa yang kalian nantikan? Jawabanku hanya sampai disana. Aku menyukai seseorang dan aku sangat 'sedih' meninggalkannya"
Sementara yang lainnya memasang wajah kecewa, Nagisa bertanya lagi "Bagaimana caranya agar kau mau melanjutkan?"
"Paksa aku bermain Truth or Dare~" jawab Karma dengan senyum manis. Tidak peduli dengan teman-temannya yang sedang melotot ke arahnya.
"KARMAAA!"
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Karma sudah menjahili mereka semua...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
A/N:
Fiuh~ akhirnya chapter ini selesai juga. Perkembangan yang drastis menurut saya, dan terlalu cepat. Ah biarlah~ /nianakmintaditampar/ :p
Maa.. saya berencana mengakhiri fic ini dengan— Sorry tunggu aja ya
Okeh langsung ke Reply ajah
To Misacchin:
Hi senang Misa-san masih membaca Fic ini.
Eh iya Gakushu itu Maso mungkin. Meskipun dia jadi semenya Karma dia masih bisa dibilang maso karena...mau jadi apapun, dia tersiksa.
Truth or Dare! Saya pernah main dan salah milih Dare (disuruh apa? Rahasia hehe) pemikiran Karma itu saya dapat dari pengalaman itu deh hahaha...
Thank you for reviewing
Xhakira-san:
Hi. Gpp yang penting Xhakira-san masih jadi reader setia dan saya sangat senang karenanya ^^ Thank you for reviewing
Karushuucchi otp-san:
Hi terima kasih masih membaca. Oh ya...seperti yang diatas. Karma sudah mendeklarasikan kalau dia punya perasaan plus dia ngelepas (gantung tapi) gak ikhlas tuh sebenarnya anak. Anyway thank you for reviewing
Takamiya Haruki-san:
Ehem mengenai keniatan belajar sama Karma itu patut di pertanyakan sebanarnya. Senang kalau Haruki-san masih membaca, dan semoga gak ketemu fic ini di tempat yang 'gakbisa baca tapi pingin baca' waktu saya di sekolah dulu saya sering seperti itu sih hahaha...
Anyway thank you for reviewing
Etsukoyukiai-san:
Hi. Saya balesnya Cuma satu ajah padahal Etsuko-san udh repot-repot reviewnya dua kali hahaha thanks a lot ^^
Si om kalah muda ama Karma, tapi cakep hahaha...emang ada benernya. Ehem, selama penulisan sebenarnya saya udah gatelen pingin diskripsikan si om pakai 'pria separuh baya' tapi lhoo itu itu! tampang gak pantes di omongin separuh baya. Dan akhirnya dia hanyalah seorang 'pria' disini.
Anyway thank you for reviewing
Miss Taurus-san:
Ah saya juga menantikan kapan saya bisa menuliskan mereka berdua—Asanocest saya juga menantikan kehadirannya. 'Mungkin' next Chapter~
Anyway thank you for reviewing
