Ujian telah dimulai.
Para murid Kunugigaoka mengerjakan soal mereka dengan khidmat dan mulai memasuki arena pertempuran imajinasi.
Arena pertempuran yang penuh akan sorak sorai penonton dan debu yang membuat semakin dramatis, segalanya terjadi di tengah kolosium imajiner.
Suara ledakan dan senapan, juga teriak-teriakan ketakutan membuat hati para murid berdebar, merasakan ketegangan.
Anehnya dalam lingkup pertempuran, Ace kelas A sama sekali tak terlihat.
Rupanya Asano Gakushu berada di pingir arena dengan bersedakap di depan dada. Dengan santai menempelkan punggungnya ke dinding, dengan senapan berada di punggungnya. Jika dalam arena imajiner ini dia tidak melakukan apapun, lalu di dunia nyata...Apa dia juga tidak melakukan apapun?.
Seekor monster, jelmaan butiran soal yang berada di kertas, mendatangi dirinya. Mulutnya bergerak, mengatakan sesuatu tentang merepotkan dan sebagainya, lalu benar-benar mengabaikan monster tersebut.
Monster-monster kecil dia habisi dengan sekali tembak, atau setidaknya ada beberapa monster raksasa yang dihabisinya dengan granat.
...
Usai ujian...
Nagisa membaca lembaran hasil ujiannya. Dia tersenyum puas dengan angka yang di dapatkannya, setelah itu dia mengadahkan kepalanya melihat tulisan Koro-sensei di papan tulis.
Dengan cepat gurita tersebut menulis nama-nama murid dengan rangkingnya.
Sebuah kerutan muncul di dahi Nagisa, tiba-tiba saja dia berdiri dari kursinya. Kedua bola matanya melebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya di papan.
Tidak lama kemudian anak-anak lain juga bereaksi sama dengan lelaki bersurai biru tersebut. Sementara Koro-sensei yang mulanya hanya menulis dengan kecepatan tinggi, dan tidak memperhatikan apa yang dia tulis, sekarang dia memekik heboh dengan kulit kuning yang berubah menjadi pucat.
Anggota Virtuosos kembali ke posisi mereka masing-masing, ke tempat sebelum kelas E belum menantang kelas A.
Reaksi kelas E bukan menunjukan rasa tidak senang, melainkan keheranan—Anak kelas A pantas kembali mendapatkan posisi mereka, karena memang setelah semua yang terjadi sistem pelajaran mereka berubah drastis, dan mereka bekerja keras selama sebulan ini.
Tapi..Kenapa?
Kenapa Akabane Karma masih berada di atas? Berada di peringkat pertama?
"Sebenarnya...Apa yang terjadi?," tanya Terasaka seraya menoleh pada remaja bersurai merah yang duduk di sebelahnya. Karma masih saja terlihat santai dengan badan menyandar ke kursi dan kedua kaki diatas meja. Sungguh gestur tersebut menyedot habis kesabaran Terasaka "Oi, bagaimana bisa kau masih tenang seperti itu!?" bentaknya
Kedua manik emas Karma melirik sebelah kanannya lalu tersenyum tipis "Mana kutahu~," ujarnya malas-malasan "Selama aku adalah peringkat pertama apalagi yang kupusingkan?" Menurunkan kedua kakinya, dia beralih melihat Koro-sensei yang masih benggong dengan pengumuman ujian kali ini "Setidaknya itu yang dikatakan anak kelas A padaku. Sebagai orang yang diatas, aku tidak perlu tahu apapun"
Berkat si rangking satu, suasana kelas mulai mengkeruh. Pandangan seisi kelas terpaku pada sosok Karma yang berdiri dari tempatnya, lalu dengan tenang berjalan mendekati pintu keluar "Tapi bukan berarti aku tidak kesal dengan ini" katanya sebelum keluar dan menutup pintu kembali.
Isogai yang duduk paling depan, berdiri dan mendekati papan. Meneliti satu persatu nama anak yang berada di papan. Koro-sensei hanya menuliskan nama yang berada dalam rangking 50-an, karena anak kelas mereka yang terburuk tidak dibawah 50. "Serius, sebenarnya dimana namanya?"
"Isogai-kun," nada Koro-sensei lemah sekali, kelihatannya kenyataan 'tidak mungkin' ini membuatnya terlalu syok "Dia tidak berada di lima besar"
Dengan lambat tentakel gurita tersebut menjulur, menempel pada suatu tempat di papan. Benda mengeliat tersebut menempel di sebelah angka 6— angka yang bersanding dengan nama ; Asano Gakushu.
Sebenarnya...Apa yang akan terjadi sekolah ini?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 06:
Kedua Asano berada di ruangan yang sama, ruangan kepala dewan. Gakuho menyudutkan anaknya ke dinding, saling bertatapan. Kedua iris violet milik yang lebih tua mendominasi yang muda. Gakushu hanya bisa menatap dengan maksud bertahan dari tatapan gelap milik ayahnya.
"Gakushu," ini pertama kalinya setelah sekian lama, nama tersebut terlontarkan dari mulut ayahnya "Apa maksudnya semua ini?"
Bahkan Gakushu juga bisa takut mendengar ayahnya yang berbicara dengan nada serak dan dalam seperti itu. mencoba untuk tenang dan menjaga wibawanya, dia menjawab "Aku gagal," semoga saja suaranya tak bergetar.
"Apa yang kau sebut gagal?," Gakuho bertanya lagi "Ada yang salah dengan ujianmu kali ini. Aku tahu itu. Seseorang yang mengajari teman-temannya dengan baik, bahkan sampai membawa teman-temannya kembali ke posisinya, tapi dia sendiri malah terpuruk? Apakah ada lelucon yang lebih baik dari ini?"
Gakushu menunduk, lalu dengan salah satu tangannya dia mendorong pelan ayahnya, walaupun sama sekali tidak membuat mundur pria tersebut.
Sesuai dugaannya. Gakuho yang memperdulikan nilainya, hanya akan marah jika dia mendapatkan kegagalan sebesar ini, dan disaat itulah ayahnya memperhatikannya.
Kurasa dia memang melihatku sebagai anak, pikir Gakushu diam-diam tersenyum masam. "Aku akan pergi dari rumah, seperti yang kita janjikan," kata Gakushu.
*Braak *Bruk
Itu terjadi lagi. Gakushu menerima pukulan dari ayahnya sampai terlempar ke samping dan menabrak meja. Si remaja itu sama sekali tak melakukan apapun untuk melawan, kalau pun mereka harus berkelahi tetap saja dia tidak akan pernah menang melawan ayahnya.
"Asano-kun sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Pria tersebut berdiri di hadapannya, melihatnya dari atas dengan tatapan dingin. Gakushu mengusap pipinya yang memerah dan mulai membengkak, sialan tubuhnya sakit semua. "Aku akan berjuang dalam UN nanti, jadi bisa kita sudahi ini pak kepala dewan?"
Sedari tadi mata Gakushu selalu menghindari Gakuho. Memang tidak biasanya anak tersebut melakukan hal pengecut seperti itu, tapi Gakuho terlalu marah untuk bertanya dan memperdulikan hal-hal seperti itu. Akhirnya pria tersebut menjauh dari anak tunggalnya, membiarkan remaja tersebut berdiri dengan kedua kakinya.
"Aku berubah pikiran," katanya "Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau pantas kulepaskan"
Segara Gakushu mengadahkan wajahnya, melihat ayahnya yang lebih tinggi darinya "A-apa?," tanyanya tak percaya "Tapi aku..."
"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan sebenarnya," kali ini Gakuho terlihat lebih santai, memasukkan kedua tangannya ke saku "Ancaman yang sebelumnya bukan berarti aku akan segera membuangmu jika kau tidak berhasil, Asano-kun"
Bukan berarti aku akan membuangmu. Gakushu tidak percaya apa yang telah di dengarnya. Dia tidak perlu meninggalkan rumah? Tidak perlu berpisah dengan orang yang disukainya?— Itu membuatnya senang sekali. Tanpa sadar air matanya menetes, meleleh dan meluncur jatuh ke lantai. Kedua belah pihak terkejut dengan datangnya cairan bening tersebut.
"Ma-maaf," merasa sangat malu. Gakushu segera berlari dan meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Karma berdiri di lorong kelas. remaja tersebut menyandar ke jendela yang terbuka, menikmati hilir-hilir angin yang menyejukan. Dia berada di bangunan utama. Sedari tadi dia mendengar pembicaraan mengenai Gakushu yang kehilangan rangkingnya, dan semua tanggapan mereka negatif. Karma tidak segera menghajar orang-orang yang berbicara sembarangan tersebut karena anak anak kelas A, begitu juga Virtusos.
Anak-anak kelas A mendapatkan tempat mereka kembali karena kerja keras Gakushu yang mencarikan mereka latihan soal tercocok dan membuat sistem belajar yang memadai. Jelas saja, mana mungkin orang sehebat itu terpuruk sangat jauh dan terpental dari posisi tiga besar— Mereka ingin percaya jika rangking Gakushu itu ada kesalahan, dan mereka membela 'mantan' Ace mereka.
Maka karnanya Karma masih belum membuat kehebohan di sekolah. Gakushu tidak perlu dibelanya. Karena dia sendiri memiliki teman-teman yang membelanya. Seperti kelas E dan dirinya.
Sayangnya, rangking Gakushu tidak ada yang salah. Karma mengambil hasil ujian Gakushu dan memeriksa semuanya.
Setidaknya melihat hasil tersebut mambuat dirinya merasa lebih ringan, karena mengatahui apa yang terjadi sebenarnya. Gakushu tidak akan terpuruk, dia tidak kalah sepenuhnya.
Asano Gakushu hanya mengerjakan soal-soal tertantu, terlihat jelas sekali niatnya untuk tidak mendapatkan peringkat pertama ataupun tiga besar.
Suara langkah kaki menarik perhatian Karma. Sepasang iris emas dan Violet saling bertatapan, cukup lama sampai akhirnya yang violet memutuskan kontak dan kembali berjalan. "Apa yang kau lakukan disini?"
Itu pembicaraan pertama setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu. Tentu saja semenjak Karma kembali ke kelas E dan Gakushu yang tidak menemuinya secara langsung. Seragam yang dulu di pinjam juga dikembalikan lewat kiriman.
"Aku melihat hasil ujian mu," jawab Karma sambil menunjukan lembaran-lembaran yang seharusnya bukan miliknya "Karena ini kau mendapatkan itu bukan?," tanyanya sambil menunjuk pipinya sendiri sebagai ganti menunjuk pipi yang lain. "Apa yang dikatakan monster itu?"
Rona tipis muncul di kulit wajah Gakushu, antara malu mengingat dia kabur dan bahkan menangis, juga malu karena kelihatannya Karma bisa menebak jalan pikirannya. "Dia bilang..dia tidak akan melepaskanku atau apapun itu"
"Hmm...Kau diperlakukan seperti hewan peliharaan, apa kau Maso?"
"Apa katamu!?"
...
Dari jendela ruangannya yang menghadap ke arah lorong kelas, terlihat Gakushu bersama dengan Karma.
Hari ini juga Gakuho melihat anaknya bersama dengan Karma. Entah kenapa melihat keduanya begitu akrab membuatnya kesal sekali. Mungkin karena di saat bersamaan anaknya itu akrab dengan rivalnya, anak tersebut malah mendapatkan nilai jeblok.
Atau mungkin karena hal lain?
Selama ini dia berpikir jika Gakushu—Anaknya itu hanya melihat dirinya seorang, dan bukan orang lain. Dialah sosok yang ingin di taklukan Gakushu, sosok yang selalu membuat anak itu melakukan hal-hal hebat.
Dan itu membuatnya bahagia...
Sebenarnya kau melihatku sebagai apa?. Pertanyaan tersebut terngiang kembali di kepala Gakuho yang tengah duduk di tahtanya dan menyesap kopi pahitnya.
Dan jawabannya masih sama; Dia adalah anakku — Lalu apa? Kenapa sekarang dia sangat ingin mengekang anaknya tersebut, ingin menaruh Gakushu ke tempat yang bisa dilihatnya dan dijangkaunya.
Sebagai seorang ayah, sebagai sosok yang memberikan DNA kepadanya, anaknya. Apakah ada cara lain untuk melihat anaknya?
Bukan tidak mengetahuinya, malainkan tidak menyadarinya.
Sebenarnya, dia juga telah membayangkannya. Membayangkan jika Gakushu bukanlah anaknya, jika dia bukanlah seseorang yang mewarisi nama Asano.
Hampir saja Gakuho menjatuhkan cangkir yang di bawanya. Berlahan dia meletakan cangkir tersebut ke atas meja. Pandangannya terpaku pada cairan hitam pekat di dalam sana, tidak percaya apa yang barusan dia temukan.
Rupanya dia melihat Gakushu dari sisi yang berbeda juga, dan dia baru mengakuinya sekarang. Dengan begitu semuanya menjadi jelas.
Teringat lagi pembicaraannya bersama dengan gurita kuning. Mengenai ancaman yang sebelumnya. Dia ingat kalau saat itu dia berpikir; tidak ada alasan baginya untuk tidak melepaskan anaknya. Gakushu adalah anak yang Mandiri dan bla bla bla...
Pemikiran tersebut sama sekali tak berguna sekarang, dan itu akan ditampiknya jauh-jauh mulai sekarang.
Dia ingin Gakushu berada di dekatnya, berada dalam jangkauannya...
Hari itu juga, Gakuho menyadari rasa ingin memonopolis dalam dirinya.
Dalam diam dia menggumamkan sesuatu, tentang betapa gilanya dia memiliki perasaan seperti itu pada anaknya sendiri. Menghela nafas frustasi, harus diakuinya kalau dia tidak nyaman dengan 'penemuan' barunya ini.
Ia tidak sadar kalau dia telah berada dalam sirkum kisah cinta yang gila. Cinta segitiga dimana; seseorang cukup gila untuk mencintai ayahnya, seseorang yang cukup gila untuk mencintai orang yang menyukai orang lain, dan dia sendiri— Gakuho ingin memiliki anaknya untuk dirinya sendiri.
Entah sejak kapan dia memiliki perasaan tersebut, tapi kenapa dia baru menyadarinya sekarang. Oh, benar...
Itu semua karena selama ini Gakushu tidak pernah terbuka pada orang lain, juga tidak pada ayahnya ini. Setelah itu Karma muncul dan membuat anak tunggalnya melakukan segala hal yang tak pernah dilakukan anak itu.
Seperti; pulang malam, menginap di rumah teman, atau bahkan sekarang ini— tidak mendapatkan peringkat tiga besar.
Karma memunculkan sisi-sisi lain Gakushu yang tidak pernah di ketahuinya, dan itu membuatnya cemburu.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?," Gakuho melipat tangannya di atas meja, tersenyum tipis untuk dirinya sendiri. Ini lucu sekali, seseorang sepertinya akhirnya melakukan—Bukan, bukan begitu—Akhirnya orang 'sesempurna' dia ternyata memiliki perasaan tabu seperti itu.
...
"Sudahlah. Kembalilah ke tempatmu Akabane," Gakushu melambaikan tangannya lalu kembali berjalan. Dia sudah mendapatkan lembarannya kembali dan sebaiknya anak 'buangan' itu kembali ke tempatnya sebelum di tegur guru.
Karma diam, reaksinya yang tidak biasanya. Gakushu merenungkan niatnya untuk kembali ke kelas dan lebih memilih bertanya "Ada apa?"— Bodoh. Untuk apa dia bertanya?. Dari raut wajah remaja tersebut jelas terbaca kalau dia enggan pergi, enggan karena mengkhawatirkan Gakushu.
Bahkan Gakushu juga bisa luluh kalau berandalan seperti Karma bisa saja mengkhawatirkannya. "Hanya pecundang yang menyesali perbuatannya," ucapnya tiba-tiba, menarik perhatian Karma kembali "Saat kau tahu kalau orang yang kusukai ternyata adalah ayahku sendiri, dan kau masih tetap bersi keras berada di sisiku. Apa kau menyesalinya?"
"Apa maksudmu?," Karma tersenyum tipis "Mana mungkin aku menyesal bersama Shuu-kun~" lanjutnya dengan nada main-mainnya seperti biasa.
Untuk kali ini saja Gakuhsu tidak akan protes di panggil dengan panggilan tersebut. Orang bodoh mana yang masih bersamanya ini? Akabane Karma lebih bodoh daripada yang di duganya. "Aku juga tidak menyesalinya. Aku tidak menyesal karena membuat ayahku marah dan menjadi bahan bualan di sekolah, apalagi aku sengaja menjauhi rangking lima besar..." memang dia berbicara begitu, tapi dalam hatinya, sedih juga rasanya.
"Kau punya banyak teman Shuu-kun," Karma menjauhkan tubuhnya dari jendela dan berdiri dengan benar. Setelah mendengar 'aku tidak menyesal' dari Gakushu, setidaknya dia sedikit lebih lega. Untuk apa dia mencemaskan seorang Asano yang memiliki mental dan jiwa yang kuat, terlebih lagi dia adalah orang yang di sukainya.
Rasanya akan sangat menyinggung jika dia tetap berada di sana, dan mencemaskannya. "Setelah kupikir-pikir kau akan baik-baik saja. Memangnya siapa yang berani dengan anak pak kepala dewan?," katanya lalu mulai berjalan, berlawanan dengan Gakushu.
"Kekuasaanku bukan karena ayahku, asal kau tahu itu"
"Aku tahu," balas Karma cepat, menoleh untuk terakhir kalinya. Lalu terus berjalan meninggalkan tempat.
...
Selama Gakushu berada di kelas A, tidak ada seorangpun yang berani menyinggung topik hangat sekolah ini. Seperti yang diketahui Karma, jika anak kelas A semuanya berada di sisi Gakushu. Sama sekali tidak ada maksud negatif dalam kebisuan yang mereka lakukan saat si tokoh utama berada di kelas.
Anggota Virtusos yang lain juga tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan Ren tutup mulut seharian penuh.
Di rumah juga, kelihatannya Gakuho menghindari Gakushu. Mereka melakukan aktivitas mereka sehari-hari, namun suasana diantaranya lebih buruk daripada hubungan target dan pembunuhnya. (Seperti yang kita tahu. Hubungan Koro-sensei dengan anak kelas E baik sekali)
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Kapan dia bisa lepas dari kisah menyedihkan ini?
Apakah tidak ada kisah dimana kisah mereka berakhir dengan baik?
Entah apa yang dipikirkan Gakushu. Mungkin setengah melamun, dia mengetakannya; "Seandainya saja dunia paralel adalah nyata. Aku ingin melihat dunia dimana kita bukanlah keluarga," katanya seraya mengeringkan piring yang tadi dicucinya.
Gakuho tak bisa membalas apapun. Yang dilakukan pria itu hanya berdehem, dalam hati bertanya-tanya kenapa dia merespon perkataan bodoh itu.
Gakushu tahu kalau deheman tersebut bukan berarti ayahnya setuju dengan pemikirannya, tapi juga tidak biasanya ayahnya tersebut menangapi hal konyol yang seharusnya tak pernah dikatakannya.
Setidaknya dia tidak mengabaikanku. Menjadi orang yang simpel, bahagia dengan hal-hal kecil seperti itu. Terkadang, rasanya hidup menjadi lebih mudah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue...
A/N:
Akhirnya saya muncul lagi dengan gombalan aneh. Maaf dengan alur yang ruet dan kelewat cepat ini, saya sendiri juga binggung kenapa gak ada ide untuk menjabarkannya lebih panjang. Maa...semoga saja masih nge-dong.
Disini Cuma mau cerita kalau Gakushu gagal (sengaja) alasannya? Ntar
Lalu si Om Gakuho dia sudah mulai menyadari kalau ternyata dia juga belok (berkelok2) kapan dia ikut nimbrung ngejar Shuu-kun? Ntar
Trus gimana nasib si Karma? Yah itu sih bukan cuma Ntar lagi, itu mah penentuan nasib fic gaje (amat) ini. Untuk Karma ini...Saya jadi kasihan ama dia, akhir-akhir ini dia baek sih hiks...
Maa..langsung ke reply!
To Misacchin:
Hi!
Terima kasih masih membaca. Gak apa-apa kok, kadang saya juga males log in. Yah makanya sekarang saya gak pernah log out pas bukan ff di laptop./gak ada yang tanya/
Disini menceritakan Crazy love tapi kalo dianggap maso juga gak apa-apa. Kadang nyesek juga baca cinta segitiga, tapi feels nya itu lhoo~ apalagi ditambah incest (tambah edan). Meskipun dalam hati bertanya entah saya ini nulis apa sih
Karma banting setir ke Uke? Sebenarnya saya punya plot yang cocok dan mungkin ntar dulu... /sok misterius
Anyway thx for reviewing : )
To Etsukoyukiai:
Hi!
Terima kasih masih membaca.
Hmm..Karena kita membicarakan Boys love, saya paling suka menyiksa mereka dengan feels seperti ini sih. Gak juga sih, kadang cerita 'normal' (macam shoujo manga gitu) juga ada yang kaya gini 'pingin tapi jangan tapi mau' /apaansih/
Maa...tapi pasangan 'normal' bagi saya udah gak normal dimata saya BL menjadi normal sekarang /perlucekmata/
Om enggak incest? setengah ngaku dia ceritanya disini hehehe...
Karma...tiba-tiba saja dia jadi baek udah gitu gentleman hiks, saya masih terharu ama dia.
Anyway thx for reviewing : )
To Xhakira :
Hi senang rupanya masih membaca : )
He eh dia bilangnya nyerah tapi gak tahu juga sih hahaha buktinya dia masih ketemu Gakushu.
Iyo pokoke tak lanjutne iki ^^ /orgjawadia/
Anyway thx for reviewing : )
To Karushucchi otp:
Hi senang masih membaca : )
Mereka masih ketemu kok Anyway thx for reviewing ^^
