Beberapa hari setelah kejadian dengan ranking Gakushu sekolah sudah kembali normal, seolah kejadian yang 'aneh' tersebut tidak pernah terjadi.

Karma diam. Tubuhnya bersandar pada batang kayu sementara lehernya mendongak melihat langit biru di tengah rindangnya daun hijau di tengah hutan gunung sekolah.

Jika ada keadaan yang berubah mungkin yang berubah adalah dirinya, begitu pikirnya. Kebiasaan membolosnya memang kembali, melainkan yang berubah adalah selera 'humor'nya. Biasanya ketika dia melihat Nagisa atau Teresaka niat isengnya timbul untuk mengerjai mereka. Semenjak dia memutuskan untuk berhenti berharap pada Gakushu, melihat Nagisa ataupun Teresaka yang biasa dia jahili membuatnya menghela nafas. Rasanya terkesan seperti menghindari—dengan kata lain 'kalau tidak mengerjai mereka rasanya ada yang aneh pada diri Akabane Karma'.

Galau, rasanya sama sekali tak ada semangat. Tak pernah di sangkanya kalau dia akan mengalami hal seperti ini.

Entah bagaimana bisa dia jatuh cinta pada anak monster sedangkan dia sendiri di juluki; setan merah?

Baiklah...Itu sama sekali tidak lucu. Daripada tertawa, pernyataan tersebut lebih membuatnya ingin menangis.

Untuk sesaat matanya terasa panas...

Aneh sekali, padahal Gakushu masih belum—bukan—dia masih belum harus meninggalkan Gakushu, karena pemuda itu masih belum mendapatkan Gakuho.

Dia masih bisa bertemu dengan Gakushu meskipun sudah tak ada harapan, atau lebih tepatnya...Memang tak ada harapan dari awalnya.

Sungguh...Ini tidak seperti dirinya.

"Haaah..." menghela nafas panjang Karma menunduk melihat kedua kakinya sendiri "Si gurita itu akan mengomeliku lagi setelah ini..."

"Dan berkat kau aku juga yang repot..."

Dari balik semak seseorang mendatanginya. Karma hanya melirik sedikit, nampak tak begitu tertarik untuk mengetahui siapa yang mendatanginya, toh dia sudah tahu dari suaranya. Tersenyum tipis dia bertanya "Bukannya kau ada kelas Isogai-kun?"

"Yang benar kita berdua ada kelas kan?," koreksi si ketua kelas "Sebentar lagi ujian Nasional. Mungkin tidak masalah untukmu tapi kita butuh penjelasan Koro-sensei bukan omelannya."

"Aaah...Si Gurita itu memintamu kemari?" Karma menelengkan kepalanya ke arah yang berlawanan dari tempat Isogai.

"...Sebenarnya ada apa denganmu?" Isogai mendekat lalu menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang terletak di depan Karma "Kau memang selalu aneh tapi kali ini benar-benar aneh."

Hening, tidak ada respon.

"...Oi," Isogai melangkah, sekarang berdiri di depan Karma "Lihat aku Karma-kun."

"Heh," Karma mendengus, masih tidak mengubah posisi lehernya "Apa itu perintah dari ketua kelas?"

Mendengarnya membuat Isogai berwajah datar "Kau ini," katanya kesal "Aku hanya ingin melihatnya..."

Kali ini tanpa mengatakan apapun, dengan mengunakan kedua tangannya pemuda yang bersurai hitam itu memaksa Karma menoleh padanya. Sejenak matanya melebar lalu setelahnya dia tersenyum hangat. "Sebenarnya apa yang kulihat ini?" komennya ketika melihat sebutir dua butir tetes mata yang jatuh dari manik emas teman sekelasnya yang di juluki setan merah "Semoga aku tidak di pecat dari kerja sambilan ku lagi hahaha..."

Wajah Karma memerah padam dia berusaha menyembunyikannya namun Isogai mencegahnya dengan memegangi kedua tangannya "Sialan! Isogai, hentikan!" serunya berusaha menarik tangannya, tapi tak di sangkanya kalau pemuda di depannya ini cukup kuat untuk menahannya.

*BUK

Tak lama kemudian, sesuai yang di harapkan Karma menyerangnya dengan sikutnya. Isogai mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya "Uhuk-uhuk..." terbatuk-batuk dia menatap tajam "...Kejam sekali!" protesnya.

"Salahmu bukan?" Karma membuang mukanya lagi. Sialan, kenapa di saat seperti ini harus ada orang yang melihatnya?, begitu umpatnya dalam hati lalu mulai melangkahkan kakinya "Lu-lupakan yang tadi. Ayo kembali ke kelas!," begitu serunya, memperlihatkan sekali dia ingin menyudahinya.

"He...Hei!," Isogai mengulurkan tangannya yang jelas tak akan sampai "Oi Karma," panggilnya pada Karma yang mulai melangkah cepat.

Jujur saja Isogai sedang tidak ingin kembali ke kelas, dia masih ingin membahas permasalahan ini. Entah kenapa dia jadi semakin penasaran dengan kisah 'cinta' Ace kelasnya. Karma yang keras kepala—dan sangat malu pada dirinya sendiri saat ini—jelas akan menghindarinya. Karena tidak bisa memikirkan cara untuk menghentikan Karma lagi, dia berteriak "Yang kau sukai itu Asano-kun bukan!?"

Jelas saja pernyataan tersebut sangat menarik perhatian pemuda berambut merah tersebut. Karma berhenti, memutar seluruh tubuhnya ke arah Isogai "K-kau!" nadanya ingin mengancam namun wajahnya bertolak belakang. Wajah sang Ace yang selalu seperti setan cilik yang nakal tersebut, sekarang berubah warna semerah rambutnya.

"Kalau sudah tahu apa kau harus mengatakannya terang-terangan begitu!?," hardik Karma lalu meraih kerah seragam si ketua kelas "Kau membuatku kesal sekali Isogai..." untuk sesaat mata mereka bertemu, membuat si pihak merah sadar dan melonggarkan cengkramannya.

Isogai diam karena terkejut. Padahal dia sudah siap kalau matanya lebam karena pukulan Karma nantinya, namun rupanya dia di lepaskan. "Kurasa itu topik yang sensitif huh," sekali lagi dia menyuarakan pikirannya secara spontan "Kau begitu kesal...Barusan."

"...Kalau kau sudah tahu jangan membahasnya dong."

"Jadi apa kau di tolak?" Isogai masih mengabaikannya dan kembali bertanya dengan senyuman 'Ikemen'nya.

"Oi...Isogai!" Karma menghardik kembali. Melihat senyuman dewasa yang menyebalkan tersebut membuatnya menghela nafas dan berpikir dua kali untuk kembali tersulut. Rupanya Isogai juga bisa keras kepala huh...

"Percuma saja...Ini bukan urusanmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 07:

Gakushu sedang menonton TV di ruang tengah di temani dengan secangkir teh dan acara berita malam. Kediamannya yang lumayan besar tersebut sepi senyap seperti biasanya, namun di ruangan di dalam hatinya lebih kosong lagi karena Gakuho yang belum pulang juga.

Jam 08:00 malam lewat, Omulet-rice yang di buatnya masih tersisa satu porsi yang di tutup dengan plastik pembungkus. Mengingat satu porsi yang tersisa tersebut membuat pemuda tersebut menghela nafas panjang "Kemana dia? biasanya dia akan menelponku..." keluhnya.

Perhatian Gakushu masih pada Televisi, pemuda itu meghabiskan waktunya melihat setiap berita malam tersebut seraya menuntaskan tehnya. Dia tidak terlalu memikirkannya ayahnya kembali dan berniat mencuci semua peralatan makan setelah acara terakhir yang di lihatnya selesai, toh percuma saja dia menunggu Gakuho yang kemungkinan besar akan pulang larut malam menurutnya.

Namun tak lama kemudian pintu depan terbuka lalu di susul suara Gakuho yang menyampaikan kedatangannya. Lelaki tersebut tidak mendapatkan balasan dari anaknya meskipun dia bisa mendengarkan suara wanita pembawa berita televisi dari ruang tengah. Senyuman tipis mekar dari bibirnya ketika mendapati yang Gakushu sedang asyik menikmati acaranya, sama sekali tak menyadari kedatangannya.

Dengan kedua tangannya pria tersebut membawa sesuatu, berjalan pelan di belakang anaknya lalu meletakan sesuatu di pangkuannya.

"Wa-Wah!?"

Seketika itu juga seluruh tubuh Gakushu terjengit kaget bahkan sempat membuatnya berteriak pelan. Dia tidak sempat melihat sang pelaku karena yang berada di pangkuannya lebih menarik perhatiannya.

"H...Husky?"

Tiba-tiba saja seekor anak anjing berada di pangkuannya. Manik bulat berwarna biru langit hewan tersebut melihatnya dengan polos, sementara nafasnya terengah-engah dengan lidah semerah semangka yang terjulur.

Gakushu terdiam untuk sesaat saling bertukar pandang dengan anjing tersebut sampai suara Gakuho menyadarkannya "Bantu ayah memandikannya Asano-kun."

"Ha?..." dia benar-benar binggung. Kalau di perhatikan memang bulu anak anjing di pangkuannya ini penuh dengan lumpur masih basah pula, kalau di biarkan baju dan sofa yang di pakainya bisa bernasib sama. "Tapi...Kenapa?—"

"Kenapa kau membawanya kemari?" tanyanya lalu menoleh ke belakang.

"Tadi aku ke rumah temanku. Anjing itu sempat kabur dari rumah dan itu bukan pertama kalinya karena dia yang paling nakal dari keenam saudaranya," jawab Gakuho santai seraya melucuti dasinya lalu melepaskan dua kancing paling atas dari kemejanya "Setelah setengah jam berlarian mencarinya aku yang menemukannya dan karena kelihatannya dia menyukaiku, temanku memintaku untuk mengadopsinya," tuturnya santai lalu berjalan memutar ke depan Gakushu.

Tiba-tiba saja Gakuho membungkukkan badannya. Wajahnya begitu dengan Gakushu sementara tangannya berada di belakang, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada sandaran sofa "Anggap saja pengganti hukumanmu..." bisik Gakuho.

"Apa-apaan sih.." keluhnya seraya menunduk menutupi wajahnya yang mulai memanas.

*Guk

Anjing itu mengogong. Sekali lagi pandangan keduanya bertemu, tiba-tiba saja Gakushu mendengus menahan tawanya. Apa yang di maksud hukuman? Anak anjing itu manis sekali dengan senang hati dia akan merawatnya "Siapa namanya?"

"Namanya Gilbert..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

...

Sementara Gakushu memandikan Gilbert, Gakuho duduk di meja makan memakan makan malamnya yang sangat terlambat tersebut.

Anaknya dan anjing barunya, mereka berdua berada di kamar mandi yang terletak di belakang ruangan. Dari tempat duduknya Gakuho bisa mendengar omelan Gakushu yang diikuti dengan suara barang-barang jatuh dan air. "Gilbert hentikan! Tunggu...Oi!" kedengarannya anak tunggalnya itu sedang panik karena Gilbert berlarian di kamar mandi.

Setengah jam kemudian Gakushu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah hampir tak kering lagi. Gakuho tidak tahu apa yang di lakukan Gilbert di dalam tapi tentu anak anjing itu membuat anaknya kewalahan.

Gilbert di balut dengan handuk berwarna putih lalu di gendong Gakushu, di ruang tengah Gakuho sudah siap dengan pengering rambut bahkan sudah di pasangkan ke saklar listrik. "Hei...Katamu temanmu itu punya yang beginian sampai enam huh? bagaimana dia mengatasinya?..." omelnya seraya berusaha menahan tangannya agar tak menjatuhkan Gilbert dan segera berlari ke arah pengering "Berkatnya aku terpaksa mandi lagi!"

Setelah membiarkan Gakushu mengunakan pengering, Gakuho duduk di sofa dengan nyaman sambil tertawa renyah "Yang harus kau urus sekarang bertambah huh..."

"Hmm?" menaikan salah satu alisnya Gakushu menoleh melihat ayahnya, pandangannya seolah bertanya sebenarnya apa yang di maksudkan pria tersebut?

Yang lebih tua tersenyum lalu menunjuk dirinya dan juga anjing yang berada di pangkuannya "Aku dan dia, kau harus mengurus kami dengan baik.."

Wajahnya memerah, entahlah dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi dengan pernyataan tersebut. "Apa-apaan sih?..."bisiknya lalu kembali fokus pada Gilbert sebagai alasan "Sekarang aku mengerti apa hukuman yang kau maksud."

OXO

Lima tahun yang lalu, lebih tepatnya ketika Gakushu masih menduduki kelas 4 SD. Di saat ujian Gakushu terkena demam, namun karena sifat keras kepalanya dia menyembunyikannya dan tetap menjalani ujian. Saat itu ibunya masih bersama keluarga Asano, ketika mengetahui nilai ujian yang di dapatkannya pas-pasan dia hanya tersenyum seraya menepuk pelan puncak kepalanya "Lihat? Tidak ada gunanya memaksakan diri..."

Ternyata ibunya tahu kalau dia demam dan masih saja mengikuti ujian, namun tidak dengan ayahnya. Waktu itu Gakushu benar-benar takut, di pandangannya saat itu Gakuho hanyalah orang tua yang mementingkan nilai di atas segalanya.

Benar saja, dia langsung mendapatkan tatapan yang luar biasa dingin dan mencekik dari pria tersebut. Ibunya menjelaskannya berkali-kali pada sang kepala keluarga namun respon lelaki itu tetap sama; dingin.

"...Apa dia akan membenciku?"

"Dia?...Maksudmu ayahmu?"

Gakushu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca ingin menangis. Melihatnya ibunya mengelengkan kepalanya pelan lalu mengangkat tubuh kecil tersebut ke atas ranjang "Meski begitu dia tetap ayahmu, panggil dia dengan benar." tegur wanita tersebut lalu duduk di sebelahnya

"Tidak...Tidak sudi..." jawab anak tersebut sambil bergeleng cepat

"Kenapa semua laki-laki di keluarga ini sama-sama keras kepalanya," keluh wanita itu lalu menghela nafas pelan "Kalau dari sisi ibu. Menurutku Gakuho tidak marah karena nilaimu, dia marah karena kesembronoanmu." tuturnya lembut.

Mendengarnya Gakushu malah semakin ingin menangis, melihatnya ibunya tertawa kecil lalu memangku anak tunggalnya dan mengosok punggung anak yang kecil berlahan "Dasar...Kau juga merasa bersalah bukan? Minta maaflah."

"Dia seperti monster yang mengerikan!" seru Gakushu

"Hahaha..." kali ini ibunya tertawa keras. Cukup lama dia tertawa seperti itu sampai beberapa saat kemudian dia sadar kalau tindakannya tidak sopan, istri mana yang akan menertawakan suaminya yang sedang di ejek anaknya. "Ehem," memperbaiki gesturnya dia berusaha menahan tawanya "Memang banyak yang bilang seperti itu hahaha..."

"Tapi ibu selalu tahu kalau pria itu tak bermaksud jahat." Tambahnya lalu memeluk Gakushu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mimpi huh?"

Gakushu terbangun setelah mendengarkan bel istirahat makan siang berbunyi. Kedua alisnya tertaut tidak senang, ketika melihat sekelilingnya dia menemukan Karma berada di mulut pintu sedang berjalan ke arahnya dengan senyum menjengkelkannya "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa yang kau lakukan di ruangan OSIS, seharusnya kau pensiun bukan?"

Benar juga...ketika merapikan dokumennya dia ketiduran dan memimpikan masa lalunya, sudah berapa lama dia tidak mengenang ibunya?

Waktu itu aku tidak pernah berpikir kalau wanita itu akan meninggalkan Gakuho,

Padahal...dia adalah satu-satunya wanita yang paling mengerti monster itu...

"Aku juga ingin tahu," aku Gakushu dengan nada sebal "Sekolah ini benar-benar Komunis. Karena selama ini aku yang mengatur semuanya tidak gampang bagi anggota baru untuk mengatur apa yang sudah kuatur, jadi aku punya waktu dua hari untuk menata ulang dan menjelaskannya pada mereka," jelasnya lalu mulai menumpuk kertas-kertas yang baru saja dia bongkar "Bukannya biasanya langsung di serahkan saja? Itu salah mereka kalau mereka tidak mengerti..."

"Hari ini kau banyak mengeluh Shuu-kun," komen Karma. Seenaknya saja dia masuk dan duduk di sofa "Kupikir kau ingin selamanya menjadi ketua OSIS SMP Kunugigaoka hahaha..."

"Mana mungkin, bahkan aku juga butuh fokus dalam ujian nanti..."

"Maa ne..." Karma bersandar, menyamankan dirinya pada sofa mewah di ruangan tersebut "Tapi sayang juga huh..."

"Huh?"

Pandangan mereka bertemu, mereka saling menatap untuk waktu yang lama. Tatapan Karma membuat Gakushu sempat bersemu merah karena begitu intim. Tidak tahan dengan Sikon aneh yang terjadi di antara mereka, Gakushu membuka mulutnya "Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya cepat berusaha menutupi kepanikannya, dia bahkan tak berani melihat wajah Karma yang sedang tersenyum padanya.

"Habisnya..." si pihak merah juga melihat ke arah lain "Aku jatuh cinta pada ketua OSIS sekolah ini sih." mendengarnya wajah Gakushu panas seketika, berani jamin kalau warna merah di kulitnya sudah sampai ke telinga dan leher. Dia memang tahu kalau Karma menyukainya, tapi ini pertama kalinya dia mendengarkannya langsung dari mulut si setan merah. Memberanikan diri, Gakushu melirik Karma. Entah kebetulan atau apa pandangan mereka bertabrakan kembali.

Pemuda yang duduk di sofa tersebut tersenyum riang sambil mengatakan "Aku menyukaimu Shuu-kun!" dengan santainya.

Rasanya dia ingin melemparkan buku tebal di atas mejanya ini ke arah si kepala merah itu, bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu yang memalukan tersebut dengan mudah!?

Seandainya saja dia bisa mengatakannya pada pria yang di sukainya...

Pemikiran tersebut membawanya kembali ke akal sehatnya. Lebih baik aku mengabaikan pernyataan tiba-tiba tersebut, begitu pikirnya lalu memperbaiki gestur duduknya. "Terserah apa katamu..." ucapnya berusaha sekaku mungkin, jujur saja dadanya masih berdetak cepat "Mungkin aku akan lebih menghargainya kalau tidak ada pihat ketiga Akabane-kun."

"Hmm?...Oooh," Karma ber-sweatdrop mendengarnya. Dia melirik ke belakangnya, lokasi di mana manik violet Gakushu melihatnya sedari tadi "Perasaanku benar-benar tulus lho~"

Tidak lama kemudian rambut putih menyambul keluar dari balik sofa. Horibe Itona menunjukan sosoknya lalu tertawa "Hahaha...Aku kesini karena Dare." Akunya santai lalu duduk di sebelah Karma.

"Dare?...Kau?" tanya Gakushu, dia sama sekali tak mengerti. Apakah butuh keberanian besar untuk menyelinap ke gedung utama? Setahunya anak-anak kelas E semuanya seenaknya.

"Yaah...Aku cuma datang sebagai saksi. Sebenarnya yang dapat Dare itu Karma-kun"

Sekarang Gakushu melihat Karma penuh ancaman, membuat si pihak merah menghela nafas panjang "Kau tidak perlu mengatakannya Itona..."

"Setidaknya berarti aku bisa mengabaikan yang tadi huh," bersedekap dada Gakushu berdiri dari tempatnya "Kupikir kau tidak akan pernah menemuiku lagi, tapi ternyata Kau datang hanya untuk ini hmm. Apalagi bagaimana bisa orang sepertimu mendapatkan Dare?"

Saat ini kejadian di rumah setan merah itu yang membuatnya ingin mencekik pemuda tersebut. Apalagi bukannya Karma sendiri yang menceramahinya tentang memilih Dare dan Truth?

"Demi mengetahui siapa yang di sukai Karma-kun kami satu kelas memainkannya. Biasanya dia akan memilih Truth tapi tadi pagi dia memilih Dare." Jawab Itona juga ikut-ikutan bersedekap dada.

"Ha? Sebenarnya apa saja yang kalian lakukan di kelas?," Gakushu tidak berani membayangkannya, bagaimana bisa puluhan anak memainkan permainan bodoh tersebut. "Kalau kau tiba-tiba memilihnya...Berarti kau menyembunyikan sesuatu kan?" tanpa sadar dia bertanya. Entahlah tiba-tiba saja dia penasaran sebenarnya siapa yang membuat Karma kehilangan ketenangannya dan berakhir lari memilih Dare.

"Siapa yang mengalahkannya?" tanyanya pada Itona semenjak dia yakin kalau Karma tak akan menjawabnya.

"Itu—" sebelum Itona mengatakan apapun, Karma berjalan cepat mendatangi Gakushu. Kedua tangannya mencengram pundak pemuda berambut orange tersebut dengan kuat, sampai pada tahap Gakushu meringis kesakitan "Ada apa sih?" protesnya berusaha melepaskan diri.

"Aku...Aku bilang aku menyukaimu itu sungguhan!," seru pemuda tersebut "Aku masih ingin berharap padamu, mendapatkanmu, bertemu denganmu, kalau bisa aku ingin bilang kalau aku tidak ingin menyerahkanmu pada pria sialan itu..."

"...Apa?" Gakushu di buat sangat terkejut dengan semua kata-kata yang di lontarkan Karma barusan, yang lebih membuatnya terkejut adalah wajah Karma yang terlihat begitu tersakiti...Seperti ingin menangis.

Apa...itu yang selama ini di pendamnya?

Setelah itu sesuatu yang lembut menyentuh sebelah bibirnya. Karma sengaja tidak menciumnya di bibir, padahal biasanya remaja tersebut selalu mencuri ciuman.

Dia...Serius?.

"Hanya itu...Yang ingin ku katakan." Setelah itu dia menarik Itona keluar dari ruangan lalu menutup pintu dari luar sambil mengatakan sesuatu seperti; Ini gara-gara Isogai dan sejenisnya.

Sementara itu. Gakushu yang di tinggalkan mematung di tempat sama sekali tidak bisa mencernanya. Dia tahu benar kalau yang dikatakan Karma barusan bukan deklarasi untuk mengejarnya kembali atau sejenisnya, dia hanya ingin mengatakannya. Setahunya, kepribadian Karma itu lebih rumit dari miliknya—bisa dilihat bagaimana kelakuannya terhadap temannya atau padanya.

Bisa membuat Karma mengutarakan uneg-unegnya, sebenarnya orang macam apa ketua kelas E itu?

Banyak yang menyebutnya monster tapi ibu selalu tahu kalau pria itu tak bermaksud jahat.

Gakushu berdehem, mengangguk pelan seraya berbisik pada dirinya sendiri "Bukan kenangan yang buruk untuk diingat."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Hi~ HI~ Hi~ Akhirnya Chapter ini selesai juga!

Sebenarnya Chapter ini sudah saya tulis tiga kali dengan setting dan alur yang berbeda semuanya, yang sama Cuma bagian Gilbert menjadi anggota baru keluarga Asano. Maka karna itu di awal cerita saya mengunakan sudut pandang Karma, sebenarnya sih untuk kabur sejenak hahaha gomen.

Chapter kali ini terkesan ringan, tapi maaf kalau terkesan berantakan juga.

Saya minta maaf juga karena sudah mem-pending Fanfic ini cukup lama, dan saya ucapkan terima kasih banyak buat yang nge-review chapter sebelumnya karena review kalian membuat saya kembali bersemangat mengerjakannya hehehe...

Sebelum saya me-Reply, ini agak sedikit memalukan tapi saya mau mengiklankan fanfic saya yang di fandom sebelah (Hetalia) kalau ada yang tertarik dengan Harem Prussia, bisa tengok ke sana.

The Sand of Love tidak bisa saya lanjutkan, saya sedang membutuhkan Beta-reader hehe...

Sekian, terima kasih^^;

Baiklah mulai ke Reply yang sangat terlambat ini T_T

To Kiracchi:

Hi lagi~ eh ganti nama ya hahaha

Ehem, setelah gak muncul sekian lama kok saya agak malu ya hehe.

Terima kasih selalu mereview dan mendukung Fanfic ini semoga masih membaca~ apalagi alasan Gakushu jeblok rank juga belum di bahas nih hahaha /maafkan kemalasan hamba/

To Etsukoyukiai:

Heya~ Terima kasih masih setia membaca sampai di Chapter 6 semoga saja masih mampir ke sini lagi hahaha

Hmm...alasan rangking belum di bahas tapi perasaan Karma di utarakan lagi di sini. Trus klo si om membiarkan anaknya sama si Karma paling enggak aku juga pengen dapet bagian sama si om siih hahaha

Makasih sudah review^^

To Miss Taurus:

Hello~

Hmm...kayanya Fanfic ini harus puter dulu ke belakang bangunan sekolah SMP saya dulu baru bisa tamat hehehe #dikaplok

To Misacchin:

Halo halo ketemu lagi, udah lama gak nongol jadi saya harap Misacchin masih baca sampai sini.

Lega lah sih mas Gakushu dia gak di usir di kasih anak anjing mutmut lagi, dari dulu pengen pelihara tapi sekarang malah masuk asrama haha /malahcurhat/

Hehe saya sendiri yang mulis juga rada gak ngerti, tapi akhirnya Karma kali ini sungguhan mengutarakannnya. Jengjengjeng~~/puterlaguheboh/ apa yang terjadi nantinya~

Anyway thx for reviewing^^

To Fycha Hyuura:

Terima kasih sudah mereview bahkan sampai mengerti perasaaan Gakushu~ semoga masih baca Chapter 7~

To Fukuzatsuna Ai:

Terima kasih sudah mereview^^

Hmm...gmana ya~ soalnya Chapter-chapter sebelumnya isinya galau semuanya, jadi wajar kalau semuanya enggak pasti.

To Pilbelserion:

Terima kasih sudah mereview^^ Pilbelserion-san sebelumnya di Chapter satu sudah review saya balas di sini ya...

Hehe sebenarnya saya juga punya fetis dengan hubungan incest (Cuma klo di cerita doang lo ya) saya senang sekali kalau pilbelserion-san menikmati fanfic ini, semoga masih membaca peace~

To Omaebachan:

Hehe senang kalau Omaebachan menikmati Fanfic dan semoga masih trus membaca ^^ saya juga senang masih bisa melanjutkan fanfic ini

Anyway thx for reviewing

To Ichiruu:

Terima kasih sudah membaca sampai chapter6 saya senang kalau Fanfic ini bisa mengutarakan maksud dan amanatnya(?) hehehe Anyway thx for reviewing

To Rikasasa:

Hi! Terima kasih telah membaca semoga masih membaca Chapter 7 ini Anyway thx for reviewing

To Refu N:

Hi salam kenal terima kasih telah membaca ^^ Anyway thx for reviewing

To TamakiiNanano:

Hi, kelihatannya Tamaki-san sangat menikmati Fanfic ini terima kasih^^ semoga saja masih menantikan Chapter ini~

Saya juga masih Kouhai kok hehehe tapi saya merasa tersanjung di panggil senpai—Anyway thx for reviewing

To Dei Chan-chan:

Gakushu selalu imut kok! kelihatannya akhir-akhir ini banyak yang mendukung Asa-asa? Maa...Saya tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini #tolong jangan digebuk T_T Anyway thx for reviewing