Setahun Kemudian
Musim semi, tahun ajaran baru. Udara masih lumayan dingin. Angin sepoi-sepoi mengibarkan ranting-ranting pohon Sakura dan merontokan daunnya. Langit biru dihiasi oleh warna pink. Sakura-sakura itu rontok bagaikan hujan berwarna merah muda.
Para pelajar mengenakan seragam mereka, berjalan sambil menenteng tas. Salah satu yang berjalan diantaranya adalah seorang Asano Gakushu. Pemuda bersurai jingga itu berjalan sendirian sampai ke gerbang sekolahnya. Murid-murid sudah berkerumunan di depan papan pengumuman, sedang heboh memeriksa kelas baru mereka.
Waktu berlalu dengan cepat. Tahun ini Gakushu naik ke kelas dua SMA. Sesuai dengan rencananya saat ia masih di SMP ia memilih untuk masuk ke SMA Kunugigaoka, satu-satunya orang yang mengikuti jejaknya adalah Akabane Karma.
Padahal mantan Ace kelas E itu bisa mendapatkan sekolah yang jauh lebih baik daripada Kunugigaoka. Jangan salah paham, Gakushuu yakin jika pemuda bersurai merah itu tidak mengikutinya hanya karena perasaan semata.
Gakushuu bergumam permisi sambil menyela masuk untuk mencari namanya di salah satu tabel kelas. Ia menemukan namanya. Namanya berada di dalam tabel kelompok 2-A. Setelah memastikan jika memang ia tidak salah kelas ia berencana untuk keluar dari gerombolan. Namun sebelum membalikan badannya, matanya menangkap warna merah yang familiar.
Manik Violetnya memantulkan bayangan sosok pemuda yang ia kenal bernama Akabane Karma. Gakushuuu mengurungkan niatnya untuk cepat-cepat keluar dari rombongan dan memilih untuk memeriksa papan pengumuman kembali.
Kenapa ia yakin jika Karma masuk ke Kunugigaoka hanya karena sebatas perasaan?
Itu karena semenjak acara kelulusan SMP mereka tidak pernah saling tegur sapa. Karma tidak pernah mendatanginya lagi dan Gakushu tidak berani untuk menyapanya, setelah semua yang terjadi.
Mungkin saja Karma punya alasan Akademik(lain) untuk memilih Kunigigaoka sebagai sekolah lanjutannya.
Mata Gakushuu meneliti seluruh papan pengumuman, mencari nama Akabane Karma. Kedua pupilnya melebar ketika mendapati nama yang di carinya ada di kelasnya.
Pemuda itu benggong beberapa saat, memasang wajah bodoh di tempat. Ia terasadarkan kerika salah satu temannya memanggil namanya dan merangkul pundaknya. "Oh kita satu kelas lagi," ujar temannya itu dengan nada senang dan hanya ditanggapi anggukan kecil dari Gakushuu.
Bersama dengan temannya itu mereka menuju ke kelas. Seperti di tahun-tahun sebelumnya Gakushuu mengambil bangku paling depan, tempat yang paling nyaman untuknya karena dapat menyimak pelajaran dengan mudah.
"Aku ambil bangku yang ada di dekat jendela." Suara Karma membuat Gakushuu menoleh ke belakang, di sudut ruangan. Kebiasaan mereka tidak pernah berubah. Jika Gakushuu suka berada di depan, Karma selalu berada di belakang ruangan dan bertingkah seenaknya di sana—Entahlah, mereka sudah lama tidak bertemu. Mungkin si setan merah itu sudah tidak senakal saat ia masih berada di SMP.
"..." Gakushuu terus memperhatikan pemuda bersurai merah itu. Karma yang tadinya sedang tertawa dengan teman-temannya mendapati pandangan polos Gakushuu. Pandangan mereka bertemu, membuat Karma salah tingkah. Pemuda yang dulunya selalu dikatai setan merah itu sengaja membuang wajahnya demi memutuskan kontak pandang mereka.
Gakushuu tidak tersinggung. Toh memang hubungan mereka sedikit rumit dan hanya akan semakin buruk jika mereka berusaha untuk terus berinteraksi. Ia tidak tahu kenapa Karma memilih sekolah yang sama dengannya, ia tidak pernah bisa memahami jalan pikiran seorang Akabane Karma. Tapi keadaan yang sekarang jauh lebih baik. Dengan begini mereka tidak akan membuka luka satu sama lain.
Gakushuu yang tidak akan pernah bisa membalas perasaan Karma karena cinta bertepuk sebelah tangannya, dan Karma yang masih tidak bisa melupakan perasaannya terhadap Gakushuu.
"Oh kau ada di kelas A rupanya." Seorang perempuan berdiri di mulut pintu melambaikan tangan pada Gakushuu. Perempuan itu adalah kakak kelasnya sekaligus ketua OSIS saat ini. Seperti di SMP Gakushuu masih mengikuti kegiatan OSIS, meskipun tidak se-luar biasa saat di SMP. Untuk setahun ia menjadi wakil ketua dan untuk tahun ini ia akan mencalonkan diri di pemilihan umum.
"Senpai...Ada perlu apa?" Gakushuu keluar dari kelas dan mendatangi seniornya. Perempuan itu tersenyum canggung. "Err...Tiba-tiba saja kepala sekolah minta rincian biaya pengeluaran OSIS festival kebudayaan tahun lalu," jawabnya. "Nana-san tidak bisa masuk hari ini karena elergi dan aku punya pekerjaan lain jadii..."
"Aku mengerti." Gakushuu mengangguk mantap. "Siang ini aku akan mengantarkannya ke ruangan kepala sekolah," balasnya diikuti senyuman tipis.
" Kau menyelamatkanku! Terima kasih Asano-kun!"
OXO
Karma duduk di bangkunya, melihat Gakushuu dengan seorang wanita asing yang tidak di kenalnya dari pojokan. Wajahnya bersemu tipis ketika mengingat saat-saat mereka bertukar pandang tadi. Teman-temannya yang lain sedang asyik mengobrol sementara dirinya terlihat sibuk bertingkah kikuk.
Karma mengacak belakang rambutnya, matanya diam-diam melirik ke arah pintu masuk dimana Gakushuu masih sibuk berbicara dengan ketua OSIS. Sudah lama mereka tidak bertemu. Di kelas satu mereka beda kelas dan jadwal mereka sama sekali tidak cocok. Meskipun satu sekolah dan berada di satu bangunan kedua tidak pernah bertemu.
Setelah setahun lamanya tidak bertemu dengan orang yang disukainya membuat Karma senang setengah mati. Jantungnya berdegup kencang dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyembunyikan senyumnya.
"Akabane-kun?" salah seorang temannya memperhatikan tingkahnya dari tadi. Pemuda itu mendekati mejanya, memandangnya dengan heran. "Dari tadi kau melihat apa?"tanyanya lalu menoleh pada arah pintu masuk.
"Ada apa? ada apa?" berkat orang itu teman-temannya yang lain juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka semua melihat ke arah Gakushuu dan si Ketua OSIS. "Asano-kun huh...Bukannya kalian dari SMP yang sama?" tanya salah satu dari mereka tanpa melepaskan pandangannya pada arah pimtu.
"Ooh Asano yang itu?" timpal teman yang lain. "Orang yang namanya selalu di peringkat teratas rangking paralel dengan kata lain sainganmu!"
Karma menaikan salah satu alisnya, memandang teman-temannya satu persatu. "Ukh...Yaah." Karma mengalihkan pandangannya, terlihat enggan untuk menanggapi teman-teman sekelasnya. "Tahun lalu dia juga menjadi lulusan terbaik di SMP Kunugigaoka," katanya.
"Berapa rangkingnya?"
"Kenapa kalian mau tahu?" tanya Karma balik dengan ketus, dia tidak suka orang lain ikut campur dengan urusannya terutama urusan yang berhubungan dengan Gakushuu. "Lagipula kalian tidak akan pernah menyainginya," tambahnya bermaksud sedikit mengejek.
"Tenang saja kami sadar diri kok hahaha..." seru mereka bersamaan. Karma ikut tersenyum. Tidak lama kemudian Gakushuu sudah masuk ke dalam kelas dan kembali duduk di tempatnya. Pemuda bersurai jingga itu sibuk menulis sesuatu di notebooknya, membuat Karma yang semakin memperhatikan semakin penasaran.
Padahal dulu kalau Karma penasaran dengan setiap kelakuan Gakushuu ia tinggal mendatangi pemuda itu dan bertanya. Jika dia bosan ia akan menjahili pemuda itu. Sekarang...Jangankan mendekati seharusnya dia tidak boleh terus-terusan memelototi Gakushuu.
Baru beberapa saat Gakushuu sibuk sendiri di kursinya dua orang siswi mendekati pemuda tersebut. Dari tempatnya Karma tidak dapat mendengarkan apapun, namun kelihatannya ketiga orang itu nampak bersenang-senang. Gakushuu tersenyum ramah pada kedua gadis itu yang membuat Karma frustasi.
Cemburu? Iya-iyalah Karma sangat iri pada perempuan-perempuan itu. Semenjak di SMA Asano Gakushuu menjadi sangat terkenal. Sudah tidak perlu dipertanyakan dengan penampilan tuan muda Asano itu. Selain tampan Gakushuu juga jadi lebih ramah daripada saat SMP, ia jadi lebih sering tersenyum dan lebih lunak. Kelebihan yang lainnya juga banyak; dia pintar dan juga atlentis—Ingat keluarga Asano juga memperlajari seni bela diri dan pastinya jago olahraga lainnya; khusus untuk Gakushuu, ia sangat menyukai sepak bola. Dan yang paling penting dia berasal dari keluarga kaya.
Perempuan mana yang tidak jatuh cinta pada lelaki macam itu!? Gakushuu sama sekali tidak memiliki kekurangan, kalaupun ada kekurangannya adalah mental pemuda tersebut. Karma tahu betul kalau cemburu pada perempuan-perempuan yang mendekati Gakushu itu adalah salah satu hal paling sia-sia di dalam hidupnya, hanya menghabiskan energinya saja.
Gakushuu itu Gay—dia tidak tertarik dengan perempuan dan yang paling parahnya dia jatuh cinta pada ayah kandungnya sendiri. Perempuan-perempuan itu bukan seleranya.
Namun setidaknya perempuan-perempuan itu bisa mendekati Gakushu, hal itu yang membuat Karma sangat iri pada mereka. Biarlah disebut pengecut tapi Karma sudah tidak mau mengalami patah hati berkali-kali. Meskipun kenyataannya Gakushuu belum pernah sekalipun menolaknya secara langsung.
Kenapa seorang seperti Akabane Karma telah menyerah duluan tanpa mendengar jawaban langsungnya?
Itu karena aku bisa merasakannya. Bukan karena perasaan pesimis semata namun Gakushuu itu...
Gakushuu itu tidak pernah memperdulikan orang lain. Di depan mata pemuda itu hanya ada sosok Asano Gakuho, ayahnya. Tidak ada orang selain pria itu di dalam hatinya. Apapun yang dilakukan Karma, semuanya bukanlah hal besar bagi Gakushuu.
Gakushuu tidak menyepelekannya, melainkan menganggap semua tindakan Karma itu bukanlah hal yang aneh. Seperti: Oh dia kan memang suka padaku pantas saja dia seperti itu...Atau Hmm rupanya begitu, pantas saja dia repot-repot melakukannya... Respon Gakushuu sangatlah datar, Karma tidak bisa meninggalkan jejak yang berarti di ingatan pemuda itu.
Jangan bercanda! Apapun yang terjadi pokoknya aku harus bisa Move-on!
Karma mengembungkan pipinya terlihat sangat sebal. Teman-temannya yang lain saling bertukar pandang, sama sekali tidak paham apa yang membuat teman mereka yang bersurai merah itu kesal.
"Apa mereka saling tidak suka?" terka mereka semua.
OXO
Sekolah berakhir lebih cepat. Sebelum langit berubah warna menjadi keemasan bel usainya pelajaran terakhir telah berbunyi.
Hari ini Gakushuu tidak ada keperluan untuk menetap di ruangan OSIS. Pemuda itu langsung meninggalkan sekolah dan pergi ke supermarket yang dekat dengan rumahnya, belanja bahan-bahan untuk makan malam.
Dia sama sekali tidak punya ide mau masak apa. Mulanya yang ingin lebih cepat bersantai di rumah setelah selesai mengerjakan semua tigas akhirnya malah tidak kesampaian karena terlalu lama berputar-putar di sekitar supermarket.
Akhirnya ia memutuskan untuk membeli bahan secara acak, masalah mau masak apa nanti saja dipikirkan. Gakushuu hanya membeli-bahan-bahan yang biasa ia gunakan, dan tidak lupa dengan sekotak makanan anjing. Persediaan makanan Gilbert hampir habis.
Dua tangannya masing-masing membawa kantong belanjaan. Sesampainya di depan rumahnya ia mendapati ayahnya yang berdiri di balik gerbang, menunggu kedatangannya, sesuatu yang sangatlah langka. Jangankan menyambut anaknya, pria itu jarang pulang cepat.
"Kenapa berdiri disitu?" tanya Gakushuu seraya memperhatikan ayahnya yang sedang membukakan gerbang untuknya. "Apa kau butuh sesuatu?" tanyanya terdengar seperti orang asing—orang lain bisa mengira mereka bukanlah bapak dan anak.
"Hari ini kita makan malam di luar," jawab Gakuho santai. "O-oh..." Gakushuu mengangguk, tidak masalah dengan keputusan mendadak tersebut.
"Kalau begitu tunggu saja di mobil dulu. Aku mau kasih makan Gilbert dulu lalu..."
"Hari ini kita tidak naik mobil." Tiba-tiba saja Gakuho menyela. Pria itu tersenyum ramah, bahkan sampai Gakushuu bisa melihat sinar berkilauan di belakang pria tersebut.
"Eh, kenapa?" tanya Gakushuu heran. "Kau punya janji dengan seseorang bukan? Apa tidak apa-apa membiarkannya menunggu?"
Biasanya Gakuho baru mengajaknya keluar kalau ada pertemuan penting dimana ia harus datang sebagai penerus keluarga Asano, Gakushuu kira malam ini juga akan seperti itu.
Gakuho bergeleng pelan. "Aku hanya ingin kecan berdua denganmu. Apa tidak boleh?" ujar pria itu masih memasang senyuman memukaunya.
Wajah Gakushuu seperti kepiting rebus. Pemuda itu antara senang dan sangat malu mendengarkannya. Kencan? Apa maksudnya!? Kenapa tiba-tiba sekali!?
Ia tidak tahu harus bagaimana. Untuk waktu lama ia terus memandangi wajah ayahnya itu sampai akhirnya ia sadar diri dan menyikut pria itu. "Be-berisik katakan itu pada salah satu wanita yang mengejarmu. A-apa gunanya mengatakan itu pada anakmu? Dasar..." omelnya lalu masuk ke dalam rumah.
Gakuho merasa sangat terhibur dengan reaksi lucu anaknya. Pria itu tertawa sendirian di depan rumah sambil menunggu anaknya itu bersiap-siap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue
A/N:
Hi terima kasih telah membaca sampai disini. Maaf atas pending yang lama hampir ada setahun ya gak update? Yaah kalau para readers mampir di profil saya pasti tahu kalau saya juga selenggengan di fandom lain haha, saya punya banyak hutang.
Akhir-akhir ini saya banyak nyampah di fandom Osomatsu-san dan sempat bermain di Wattpad. Jujur saja saya lebih nyaman di FFn. Mungkin karena saya lebih banyak ngerjain Fanfiction ya haha—Entah kenapa saya malah curhat.
Kalau merasa tidak nyaman dengan banyaknya SKIP TIME di sini mohon maklumi karena saya sendiri sudah galau dengan akhir dari Fic ini. Iya beneran Fic ini bentar lagi selesai...Mungkin 2-3 chapter lagi? Hmm...Mungkin di Chapter selanjutbya baru bisa di bahas lebih lanjut hehehe.
Biasanya saya pasang Reply Review di sini tapi sayang sekali saya kekurangan waktu untuk saat ini. Maaf yaa...
Tapi saya masih berharap kalau Readers sekalian kasih tanggapan buat Fic ini. Meskipun saya belum bisa balas saya baca kok dan saya sangat berterima kasih.
