"Seleramu seperti anak kecil." Gakushuu duduk bersebrangan dengan Gakuho. Mereka berdua sedang makan di sebuah restoran keluarga sederhana yang terletak tidak jauh dari stasiun. "Omurice dan parfait? Setidaknya tanya aku dong." Asano muda terlihat tidak puas dengan pesanan ayahnya. Begitu mereka sampai si Gakuho itu seenaknya saja memesan dua porsi Omurice dan Strawbery Parfait, membuat Gakushuu mengomel sepanjang acara makan malam di luar mereka yang langka ini.

"Hmm padahal kupikir kau akan selalu mengikuti kata-kataku," ujar Gakuho dengan nada jahil. Pria itu tersenyum tipis dengan tangan memegang sendoknya. Wajah Gakushuu memerah untuk menyembunyikannya ia memukul mejanya pelan. "Masalah ini berbeda tahu!" protesnya, berusaha sebaik mungkin agar suaranya tidak bergetar dan sekecil mungkin agar tidak mengganggu pelanggan lain. "Dan lagi, ini sudah malam. Kau yakin makan sebanyak ini?"

Gakuho menghela nafas. "Sebenarnya gaya hidup seperti apa yang kau jalani nak?" tanyanya sambil menggerakan sendoknya, mulai memotong omulet yang menyelimuti gundukan nasi.

"Tunggu. Kau yang mengajariku bukan? Kau yang mengajariku untuk tidak berbicara di saat makan bukan!?" Gakushuu masih sibuk protes. Ia memang merasa senang Gakuho mengundangnya makan tapi bukannya ayahnya itu jadi lebih santai—terlalu santai malah. Sebenarnya apa yang terjadi? Daripada condong ke senang pemuda itu jadi lebih merasa kebinggungan dan kesal di saat bersamaan. Sejak kapan ayahnya itu jadi suka menjahilinya seperti seseorang yang dikenalnya.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Gakushuu blak-blakan. Pemuda itu tidak memperdulikan ayahnya lagi dan mulai menyendok Parfaitnya. "Tiba-tiba mengundangku makan malam dan mengatakan sesuatu yang tidak biasanya. Bukan berarti aku tidak suka tapi hentikan, rasanya menjijikan." Ia mengoceh tanpa henti. Entah memang sengaja atau spontan tapi Gakushuu merasa lebih enteng sekarang.

"Hahaha," Gakuho tertawa renyah. Suara Bass yang terdengar seksi itu kembali menarik perhatian Gakushuu. Asano muda menaikan salah satu alisnya seolah bertanya "Apa yang kau tertawakan?"

"Asano-kun sendiri jadi lebih banyak berbicara bukan?" Pria itu tidak terlihat seperti lelaki kaku yang selalu dijuluki monster lipan oleh orang-orang itu. Ia sekarang terlihat lebih seperti seorang ayah yang sedang menikmati waktu senggangnya bersama dengan anak laki-laki remajanya. Andai saja pria itu bisa mengubah kebiasaanya yang selalu memanggil anaknya sendiri dengan nama keluarga.

Gakushuu tersenyum tipis. Ia tidak terlalu suka ketika Gakuho memanggilnya seperti orang asing tapi jika ayahnya itu memanggilnya dengan nama kecilnya dan bertingkah ke bapak-bapak an juga membuatnya sakit hati karena mengingatkannya akan status mereka. Sebenarnya mana yang lebih baik?

"Ne...Ayah," panggil Gakushuu pada Gakuho. "Bisa kau memanggilku dengan namaku? Rasanya...Kita seperti orang asing," lanjutnya seraya menunduk melihat kedua tangannya sedang mengepal di pangkuannya sendiri. Ia tidak berani untuk melihat Gakuho. Dilihat dari situasinya Ayahnya itu kelihatannya ingin memperbaiki hubungan mereka sebagai ayah-anak yang selama ini hancur karena ambisi dan obsesi sang ayah, dan jika Gakushuu mau bekerja sama untuk memperbaiki hubungan ini...

Mau dikemana kan perasaanku? Pikir Gakushuu sambil menahan air matanya.

"Dulu kupikir lebih baik memanggilmu Asano-kun karena aku tidak ingin terlihat seperti menganak emaskanmu di SMP tapi sekarang kau sudah SMA ya..." Gakuho mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Gakushuu. Tangannya yang besar membelai setiap surai berwarna jingga itu dengan sayang.

Air mata Gakushuu terbendung di kelopak matanya, ia berusaha mati-matian untuk tidak menjatuhkan setetes pun airmatanya. "Kau terlambat mengatakannya. Aku sudah kelas 2 SMA..." ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Maaf Shuu maafkan ayah..." Gakuho bergumam lirih dan berlahan menarik kembali tangannya. Kehangatan itu menghilang dan Gakushuu masih tidak bisa menaikan wajahnya.

"Ayah yang bodoh..." olok Gakushuu hampir tidak bersuara.

OXO

Di tempat lain di saat yang sama. Karma sedang berada di warung ramen dekat apartemen tempat tinggalnya, semenjak masuk SMA ia telah tinggal sendirian, mau mandiri katanya. Padahal aslinya dia hanya ingin ganti lingkungan, tahap pertama untuk Move-on katanya!

Karma sudah lelah makan makanan minimarket dan akhirnya memutuskan untuk makan ramen. Beberapa saat yang lalu Nagisa menelponnya katanya mau kumpul bareng setelah sekian lama tidak bertemu. Dari seberang sana terdengar juga beberapa suara orang lain, kelihatannya pemuda bersurai biru itu tidak akan datang sendirian.

"Shoyu ramen kudasaii." Karma memesan setelah melihat-lihat menu yang berada di dinding. Tempat itu tidak terlalu ramai hanya ada dirinya dan tiga orang yang duduk di meja lainnya. Sang pemilik warung segera membuatkan pesanannya, tidak sampai 10 menit pesanannya telah tiba.

Karma membelah sumpitnya, matanya tidak bisa lepas dari semangkok mie panas di mejanya. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi dan dia tidak ada niat untuk menunggu Nagisa dan yang lainnya.

Slurp Dengan lahap Karma memakan Ramennya, tanpa sadar dia sudah menghabiskan setengah dari mangkoknya.

Tidak lama kemudian pelanggan baru datang. Sang pemilik warung menyabut mereka dan rupanya mereka adalah Nagisa dan kawan-kawan.

"Ehh curang padahal sudah kubilang untuk menunggu kita kan?" protes Nagisa yang muncul bersama dengan Teresaka dan Itona. Mereka bertiga duduk di sebelah Karma dan segera memesan makanan.

Karma mengunyah ramennya. Sepasang mata berwarna kuning keemasan memandang teman-teman lamanya dengan malas. "Aku tidak pernah meminta kalian datang," ujarnya lalu kembali melihat mangkoknya yang hampir kosong. "Bukannya seharusnya kalian sibuk dengan kegiatan masing-masing?"

"Iyaa…Kita ada sedikit urusan di sekitar sini," jawab Teresaka. Pemuda bertubuh besar itu duduk di paling ujung. Pesanan para pendatang baru masih belum siap jadi mereka masih bebas bergerak di kursi mereka. Teresaka menyondongkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Karma yang duduk di sebelah Nagisa. "Kita tidak ada janjian tapi karena kebetulan saling bertemu jadi kenapa tidak mengikutkan mu?" lanjutnya sambil menunjukan rentetan gigi rapinya.

Karma menekuk bibirnya. Pemuda bersurai merah itu sedang galau lantaran sudah menetapkan tekad untuk move on tapi malah sekelas dengan orang yang di sukainya, ia sedang tidak mood untuk berkumpul dengan kawan-kawan lamanya.

"Kenapa?" tanya Nagisa. Pemuda bersurai biru itu menelengkan kepalanya memandang sahabatnya heran. "Apa kau sibuk? Maaf tiba-tiba kupikir karena tahun ajaran baru jadi setiap sekolah masih santai," ujarnya sungkan seraya menggaruk pipinya.

Karma tersenyum tipis seraya menepuk sebelah pundak Nagisa, berusaha menenangkan sahabatnya tersebut. Ia tidak mengatakan apapun. Itona yang sedari tadi diam saja tiba-tiba saja membuka mulutnya. "Oh!" Remaja berambut putih itu tiba-tiba mengingat sesuatu.

"Karma bukannya kau satu sekolah dengan Asano?" tanya Itona blak-blakan, bertanya sambil memasang wajah paling polos. Wajah Karma pucat seketika namun warna nya berubah semerah rambutnya ketika mendapati cengiran dari Nagisa.

"Ooh iya ya," gumam Nagisa seraya manggut-mangut. "Hari ini Karma-kun terlihat galau. Apakah kegalauannya berhubungan dengan Asano-kun?"

"Eh? Memangnya ada apa? Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Terasaka merasa telah tertinggal.

"Kau tidak tahu?"Itona cengingisan. Remaja bersurai putih itu memukul pundak Terasaka yang di sebelahnya lalu tertawa lepas. "Itu lo ketika kita memainkan Truth dan Dare lalu Karma untuk pertama kalinya memilih Dare."

"O-oh," Terasaka mangut-mangut, ia memang mengingat ada kejadian seperti itu sebelumnya. "Isogai menyuruhnya untuk menembak Asano. Bukannya itu sedikit keterlaluan?"

"Hahaha Justru kebalikannya. Si Karma kelihatannya memang benar-benar suka pada Asano." lanjut Itona dengan suara yang cukup nyaring, di tambah lagi pemuda itu menunjuk-nunjuk Karma dengan jempolnya. Sementara Nagisa, pemuda rambut biru itu memang diam saja tapi pandangannya serta senyumnya yang seperti mengejek itu sangat menyebalkan.

"Oi jangan menjelek-jelekan orang di depannya," tegur Karma kesal. "Kalau aku bertemu dengan sialan Isogai aku akan langsung mencincangnya. Kesan terakhir ku ke kalian jadinya kejadian memalukan seperti itu, yang benar saja?" omelnya dengan tangan menopang kepalanya, sedang merajuk.

"Seperti yang dikatakan Nagisa. Apa kau punya masalah dengan tuan muda Asano itu?" tanya Itona.

"Tidak ada. Meskipun ada aku juga tidak mau curhat ke kalian!" jawab Karma ketus. Jawaban tersebut membuat ketiga temannya kecewa, tapi di saat bersamaan mereka semua mendapatkan jawabannya. Karma bohong. Pemuda itu memang ada masalah dengan Asano muda.

"Dasar," keluh Nagisa seraya menghela nafas panjang. "Kau memang menyukai Asano-kun kan? Sampai mau-maunya masuk ke Kunigugaoka lagi," ocehnya sambil mengabaikan pandangan sengit dari Karma. Tidak lama kemudian mereka mendapatkan pesanan mereka masing-masing dan mulai makan, membiarkan Karma mengambek di tempatnya.

"Hmph!" Karma berdiri dari kursinya sambil membanting meja, meletakan beberapa uang receh untuk membayar makanannya. Nagisa, Itona, dan Terasaka mendongak untuk melihatnya, bersamaan memandangnya dengan heran. "Aku memang suka dia memangnya kenapa? Toh sampai kapanpun dia tidak akan pernah mengubrisku," ujar Karma tanpa memandang teman-temannya. "Aku Cuma mau Move-on. Eh kalian malah datang dan mengungkit-ungkit namanya, menyebalkan sekali."

Ini bukan pertama kalinya Itona melihat Karma mengeluarkan Uneg-unegnya tapi tetap saja membuat pemuda bersurai putih itu bengong karena tidak habis pikir jika mereka bisa memaksa Karma untuk menceritakan keluhannya. Sedangkan Teresaka dan Nagisa. Kedua temannya yang lain itu malah sampai mematung di tempat. Padahal Nagisa adalah yang paling dekat dengan remaja yang dijuluki setan merah itu, melihatnya juga sangat terkejut seperti itu membuat Itona yakin kalau Karma itu benar-benar Introvert.

"Aku sedang tidak mood membicarakan masa lalu jadi aku pulang duluan," kata Karma lalu melangkah menuju pintu keluar. Sebelum meninggalkan tempat ia menoleh ke belakang, memasang wajah masam. "Aku tinggal di apertemen di seberang jalan. Lain kali aku akan menemani kalian sampai bosan. Daa..." begitu katanya lalu pergi.

"Hahaha siapa sangka dia bisa mengalami masalah umum seperti itu," ujar Nagisa di sela-sela tawa kecilnya. "Kupikir selama ini dia adalah tipe orang yang bisa menyelesaikan segalanya dengan mudah."

"Yaah..." Terasa menaikan kedua pundaknya acuh tak acuh. "Lawannya berasal dari keluatga lipan sih. Dia salah cari lawan," katanya setengah bercanda.

"Sebenarnya orang seperti apa yang disukai Asano ya sampai menolak Karma," tambah Itona datar. "Yaah dari awal laki-laki dan laki-laki saling menyukai itu sedikit mustahil."

"Dunia itu penuh dengan misteri hahaha..." sahut Nagisa lalu tertawa garing dan diikuti oleh dua yang lainnya.

To Be Continue

A/N:

Baru sore ini selesai. Kalau dilihat dari situasi Real Life saya kelihatannya awal bulan ini masih sedikit senggang dan masih ada ide untuk nulis. Saya usahakan update seminggu sekali sampai ini berakhir ya haha...

(Edited)

BTW, yang mengira Karma udah menyerah memang benar tapi bukan juga berarti Gakushuu mendapatkan Gakuho.

Chapter ini bermaksud menjelaskan garis besar hubungan mereka sekarang.

Seperti pada umumnya Author gak mungkin kasih Spoiler haha.

Thank You for Reading! _