Light On My Darkness
Chapter 2
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
Taehyung melebarkan matanya. Dengan segera Taehyung menggenggam tangan kanan Jungkook. Melarang namja itu semakin menyakiti dirinya sendiri dengan lembut. Namja manis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Kau tak boleh melakukan itu lagi tuan. Jangan menyakiti dirimu lagi" ucap Taehyung lembut.
Jungkook memandang Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Percayalah. Tatapan Jungkook yang ini entah mengapa membuat Taehyung gugup. Dia segera melepas genggamannya pada Jungkook.
"Kajja Taehyung-sshi" suara dokter muda itu mengejutkan Taehyung.
"Ah! Ne!" Taehyung langsung mengikuti dokter muda itu.
Begitu Taehyung dan dokter muda itu pergi, Jungkook menyeringai. Matanya yang sedari tadi menatap Taehyung.
"Taehyung" gumamnya. Jungkook menatap tangan kanannya yang baru saja digenggam Taehyung. Merasakan kehangatan dari getaran tangan yang memiliki jari lentik itu.
Begitu Taehyung menghilang dari pandangannya, Jungkook kembali menatap ke arah halaman rumah sakit. Segaris senyum tipis akhirnya muncul di wajah tampan Jungkook.
"Taehyung"
.
.
~Chapter Two~~
.
.
Sinar matahari pagi mulai menunjukkan kekuasaannya atas bumi. Dengan gagahnya penguasa siang itu bersinar di kota tepi pantai ini. Memaksa para penghuni bumi untuk segera membuka mata mereka dan memulai aktivitas di hari yang cerah ini.
Tapi tidak untuk namja asal Daegu ini.
Kim Taehyung tak pernah merasa keberatan untuk bangun di tempat baru. Dia selalu memiliki semangat berlebih. Dan pagi ini dia bangun dengan senyum lebar kotak ciri khas-nya. Manis.
Taehyung tinggal di asrama perawat yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Hanya sekitar 2 blok dari tempat kerjanya. Perawat-perawat yang berasal dari luar kota memang disediakan penginapan asrama. Yah, sedikit menghemat biaya pengeluaran.
"Hari pertama di Busan. Assa!" Taehyung langsung meloncat dari atas tempat tidurnya dan melesat ke kamar mandi.
Sekitar dua puluh menit kemudian Taehyung sudah siap dengan pakaian kerjanya. Taehyung tak perlu repot-repot sarapan karena dia tak terlalu suka melakukan hal itu di pagi hari. Jadi setelah siap dia langsung pergi ke rumah sakit.
"Tenang Tae~ Ini tak ada bedanya dengan pekerjaanmu di Daegu. Semua akan baik-baik saja" gumam Taehyung menyemangati dirinya sendiri.
Sejujurnya Taehyung gugup, juga terselip rasa takut di hatinya. Gugup karena ini hari pertamanya bekerja di tempat lain, dan takut karena ini pertama kalinya dia tak berada di samping Min Yoongi. Taehyung hanya takut namja itu akan mengamuk. Taehyung tau seperti apa namja berkulit pucat itu. Dia hanya takut Min Yoongi melukai seseorang.
"Aih sudahlah. Perawat lain pasti bisa mengatasinya" gumamnya lagi.
Taehyung menyiapkan segelas latte untuk dirinya sebelum berangkat. Setelah memastikan semua siap, barulah dia melangkah pergi dari kamar asramanya. Di lorong dia bertemu rekan barunya.
"Taehyung-sshi"
"Oh? Jiyeon sunbaenim. Annyeong" Taehyung langsung membungkukkan badannya begitu senior yang kemarin membantu semua berkasnya itu menyapa. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol.
Karena jarak yang dekat, Taehyung dan Jiyeon memilih berjalan. Mereka berjalan santai karena waktu masuk kerja yang masih cukup panjang. Banyak hal yang diperbincangkan.
"Sunbaenim, apa kau pernah menangani pasien bernama Jeon Jungkook?" Tanya Taehyung tiba-tiba. Sungguh, dia sangat penasaran dengan namja bernama Jeon Jungkook itu. Sejak awal melihat Jungkook, Taehyung tau ada yang sesuatu dari namja itu selain penyakitnya tentu saja.
"Aku hanya sekali menanganinya saat akan memberikan makan siang untuknya. Lalu dia langsung melemparku dengan vas bunga sambil berteriak kalau aku tak boleh mendekatinya. Dia bilang semua orang disini berteman dengan orang itu dan akan menyakitinya. Ah~ aku tak tau maksudnya"
Taehyung tersenyum maklum mendengar ucapan yeoja di sampingnya ini. Dia menebak Jiyeon belum pernah menemui kasus seperti Jungkook ini makanya dia tak tau jika penderita Skizofrenia cenderung sering berhalusinasi. "Apa sebelumnya tak ada kasus seperti ini, sunbae?"
"Kurasa tidak ada. Kasus Jungkook ini adalah kasus yang pertama"
"Benarkah? Jadi ini benar-benar kasus pertama di Busan?" Taehyung melebarkan matanya karena terkejut. Walau dia sudah menduga hal ini tapi tetap saja dia terkejut setengah mati. Okey itu berlebihan.
"Apa di Daegu kasus seperti ini sering terjadi?" Tanya Jiyeon.
"Tidak sering tapi setidaknya rumah sakit jiwa Daegu pernah menangani pasien dengan penyakit psikologis yang parah. Maksudku parah adalah yang membahayakan. Skizofrenia salah satunya. Ada juga pasien dengan Obsesif Compulsif Disorder, Multiple Identity Disorder, bahkan…psikopat" ujar Taehyung. Seakan teringat sesuatu, Taehyung segera mengambil ponselnya dan meminta ijin untuk pergi duluan.
Taehyung mencari spot yang cukup tersembunyi dan segera memencet nomor yang cukup dikenalnya. Dengan sangat tidak sabar dia menunggu seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya. Saat tak ada jawaban, Taehyung mencoba berulang kali.
"Yoboseyo? Minjae-ah" ucap Taehyung.
/"Taehyungie hyung? Whoa~ akhirnya kau menelepon. Wae wae wae? Ada apa?"/
Taehyung menelan ludahnya gugup. "A-aku hanya ingin bertanya, apa..apa Min Yoongi baik-baik saja?"
/"Tumben sekali. Tak biasanya kau menanyakan Min Yoongi"/
"Sudah jawab saja"
/"Dia baik-baik saja"/
"Apa dia tak melakukan Sesuatu pada kalian? Mengamuk lalu menyakiti kalian mungkin?"
/"Astaga hyung~ kukira ada apa. Apa kau mengkhawatirkannya?"/
"Aku hanya takut dia kembali mengamuk dan menyakiti kalian"
/"Tidak ada yang mengamuk dan disakiti hyung. Kau tenang saja. Urusan Min Yoongi biar kami yang tangani"/
Taehyung menggigit bibir bawahnya ragu. Tidak, dia sama sekali tak meragukan teman-temannya, sungguh. Sebaliknya yang dia ragukan adalah Min Yoongi. Namja itu memang sudah jarang bahkan nyaris tak pernah mengamuk dan melakukan sesuatu yang membahayakan selama beberapa tahun ini. Tapi siapa yang bisa menjamin, huh.
"Kalau begitu berjanji padaku jika terjadi sesuatu yang menyangkut Min Yoongi segera hubungi aku, oke" suara Taehyung sarat akan permohonan.
/"Kau aneh hyung. Bukankah kau seharusnya menikmati pekerjaanmu di Busan? Kenapa masih mengkhawatirkan namja itu"/
'Seharusnya! Tapi namja itu benar-benar menakutiku' jerit Taehyung dalam hati. "Yeah, kau tau, aku rasanya belum bisa benar-benar melepas tanggung jawabku disana" jawabnya ragu.
/"Nikmati saja pekerjaanmu disana. Kami akan membantu mengurus Min Yoongi untukmu"/
Taehyung menghela nafas, "Baiklah. Aku mempercayaimu Minjae-ah" lirihnya. "Ah, aku harus segera bekerja. Gomawo Kim Minjae. Annyeong" sambungan diputus Taehyung tanpa mendengar ucapan Minjae. Tapi biarlah, itu lebih baik daripada nanti dia harus berdebat lagi dengan perawat itu.
Taehyung termenung untuk beberapa saat. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. "Mungkin aku terlalu khawatir. Huuuhh~ Tenang Kim Taehyung, semua akan baik-baik saja. Fighting" ucap Taehyung kemudian melanjutkan langkahnya yang sudah dekat dengan rumah sakit itu.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Senyum Taehyung langsung merekah begitu memasuki halaman rumah sakit jiwa Busan. Dengan semangat dia berjalan melalui halaman depan rumah sakit. Menyapa para perawat dan dokter yang ditemuinya. Tak lupa menyapa pasien-pasien yang dibawa perawat itu.
"Annyeong~ Selamat pagi" sapa Taehyung pada salah seorang pasien berusia sekitar 10 tahun yang dititipkan disini karena gangguan mental.
Anak itu hanya tersenyum aneh lalu mengangkat tangannya. Taehyung langsung melakukan high five dengan anak itu. Perawat Kim itu memberikan senyum kotak khas-nya pada si anak sebelum melanjutkan langkahnya memasuki gedung.
Taehyung sebenarnya merasa ada sepasang mata yang mengawasinya tapi dia mengabaikan hal itu. Mungkin memang ada yang memperhatikannya karena penasaran sebab dia orang baru disini
Namja Kim itu tak sepenuhnya salah. Karena memang ada yang memperhatikannya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Tapi Taehyung tak pernah tau rasa penasaran seperti apa yang menghantui si pemilik mata itu. Dia Jeon Jungkook. Orang yang sedari tadi melihatnya adalah Jeon Jungkook. Mata hitam itu berbinar cerah tiap kali memandang Taehyung.
.
.
"Annyeong" sapa Taehyung pada semua yang ada di ruangan perawat.
"Oh? Kau sudah datang? Mau membantuku memberi mereka sarapan? Sekarang harusnya mereka sudah sarapan. Mungkin kau bisa sekalian lebih dekat dengan mereka"
"Ah benar. Baiklah tunggu sebentar sunbae" Taehyung melesat meletakkan tas miliknya dan segera bersiap-siap. "Kajja~~"
Dia dan salah satu perawat senior disana mulai mendatangi satu persatu kamar pasien yang ada disini. Di dalam kamar itu sudah ada perawat masing-masing yang bertugas di tiap kamar. Mereka hanya mengantar makanan sembari berbincang sebentar. Lebih tepatnya hanya Taehyung yang berbincang dengan pasien-pasien itu.
"Hey, siapa namamu?" Tanya Taehyung pada pasien di kamar nomor 6. Seorang remaja yang tampaknya mengalami gangguan jiwa karena trauma. Terbukti dari tingkahnya yang beringsut menjauhi Taehyung.
"Ng"
"Aku Kim Taehyung. Teman barumu" Taehyung memberikan senyum hangat yang sangat manis. Tapi orang itu makin merapatkan diri ke dinding.
"Dia memang sulit didekati Taehyung-sshi" ucap perawat remaja itu.
"Gwaenchana, nanti aku akan menemuimu. Call?" Taehyung masih berusaha untuk mendekati remaja laki-laki itu. Tapi si remaja masih memandangnya dengan sorot mata yang penuh ketakutan. "Annyeong"
Taehyung keluar dari kamar 6 lalu melanjutkan perjalanannya membagikan makanan untuk pasien-pasien disana. Banyak hal tak terduga yang dialaminya. Ada seorang ahjumma yang langsung memeluknya erat sambil berteriak 'anakku'. Mungkin ahjumma itu mengira Taehyung adalah anaknya.
Bahkan ada seorang yeoja berusia sekitar 27 tahunan yang langsung memaki dan memukulinya begitu dia masuk. Alasannya karena yeoja itu depresi. Perawat yang menjaganya adalah seorang yeoja. Dan dia bercerita jika yeoja itu menjadi gila karena hamil terlebih dahulu kemudian kekasihnya langsung meninggalkannya. Karena itu tiap ada seorang namja yang memasuki ruangannya dia akan memaki dan memukuli namja itu.
"Tadi itu hampir saja" gumam Taehyung.
Sunbae yang bersamanya tertawa mendengar gumaman Taehyung. "Lihatlah. Ini hari pertamamu disini tapi kau jadi sangat berantakan begini. Sepertinya yeoja itu benar-benar gila karena kekasihnya"
"Aku tak tau apa yang dia pikirkan sampai seperti ini. Mungkin dia tertekan" gumam Taehyung sambil merapikan rambutnya. "Sunbae ingatkan aku untuk memberi pelajaran pada kekasih yeoja itu jika sudah ketemu. Dia harus membayar perbuatannya. Karena perbuatannya itu namja yang tak bersalah bahkan tak tau apa-apa sepertiku jadi korban keganasan kekasihnya" gerutunya sebal.
"Baiklah akan kuingatkan jika aku mengetahuinya dan jika aku ingat"
Mereka tertawa kecil. Tawa itu berhenti begitu berhenti di kamar nomor 13. Ruangan milik Jeon Jungkook. Sang sunbae melirik Taehyung yang mendadak terdiam.
"Kenapa kamar ini tak ada perawat seperti kamar lain, sunbae?" Tanya Taehyung setelah memperhatikan punggung Jungkook cukup lama.
"Pasien kamar ini tak suka ada orang lain yang berada di kamarnya. Dia akan langsung menyakiti orang itu untuk membuatnya pergi. Nah, Taehyung-sshi, bisakah kau sendiri yang memberikan makanan itu pada Jeon Jungkook? Kau pasti bisa mengatasinya. Kudengar kau pernah menangani seorang psikopat di Daegu"
Taehyung tersenyum paksa, "Kenapa tidak kita bersama saja sunbae? Aku…aku belum tahu karakter Jeon Jungkook ini. Lagipula, aku belum pernah menangani pasien Skizofrenia. Skizofrenia dan psikopat itu berbeda walau terlihat sama, sunbae"
"Kau bisa melakukannya Taehyung-sshi. Lagipula dia sedang tidur. Cukup berjalan perlahan dan letakkan itu di meja nakasnya. Dia akan memakannya sendiri saat dia ingin"
Taehyung tak bisa menolak saat sang sunbae memberikan tatapan memohon yang luar biasa hebat. Hanya anggukan yang dia berikan lalu mengambil jatah makan Jungkook. Membuka kunci pintu Jungkook dengan perlahan sebelum membuka pintu itu dengan suara yang teramat pelan.
Jeon Jungkook berbaring dengan menghadap tembok. Taehyung berdoa dalam hati supaya namja itu masih tetap berposisi seperti itu sampai dia keluar nanti. Dengan sangat perlahan dia melangkah menuju meja nakas samping ranjang Jungkook.
Taehyung bisa melihat betapa tegap sekaligus rapuhnya punggung itu. Sebenarnya Taehyung tak habis piker. Bagaimana bisa namja berusia 19 tahun itu memiliki punggung sekekar ini. Rasanya Taehyung yang berusia 21 tahun saja kalah telak.
Taehyung meletakkan nampan berisi makanan Jungkook di meja dengan menggigit bibirnya gugup. Setengah bernafas lega Taehyung menyempatkan diri menatap Jungkook sebentar. Tapi baru saja dia hendak berbalik saat tiba-tiba sebuah tangan besar menarik lengannya.
Mata kucing itu melebar dengan ekspresi terkejut saat melihat Jeon Jungkook yang memegang lengannya. Bukan hanya memegang, tapi juga mencengkeram lengannya erat. Jungkook menatapnya dengan tatapan yang luar biasa tajam.
Lutut Taehyung rasanya melemas melihat tatapan dan ekspresi Jungkook. Tanpa sadar dia kembali menggigit bibir bawahnya. Tatapan Jungkook benar-benar menembus seluruh tubuh sampai ke tulangnya. Tajam. Hitam. Dan mengandung banyak arti.
"Ju-Jungkook-sshi, mi-mianhae. Aku hanya mengantar makananmu" suara Taehyung bergetar.
Srak~
Jika tadi Jungkook menatapnya sambil berbaring, kini namja itu mengubah posisinya menjadi duduk. Tanpa melepas kontak mata mereka dan melepas cengkerama tangannya pada Taehyung. Taehyung berusaha untuk melepas cengkeraman Jungkook padanya. Tapi semakin Taehyung berusaha melepaskan diri, semakin kuat Jungkook mencengkeramnya.
"A-akh!" reflek Taehyung mengerang saat cengkeraman Jungkook dirasa menyakitinya. Taehyung mengernyitkan keningnya dalam. Ini sakit, sungguh.
Seakan tahu jika Taehyung kesakitan, Jungkook melonggarkan cengkeramannnya tanpa memutus pandangan. Ibu jari Jungkook mengelus lengan Taehyung perlahan. Taehyung hanya bisa berharap-harap cemas saat melihat raut datar Jungkook beserta sorot mata yang tajam nan dingin. Namja manis itu memiliki banyak pengalaman yang tidak menyenangkan jika berhadapan dengan ekspresi dan sorot mata seperti itu.
"Aku akan pergi Jungkook-sshi. Aku akan pergi, sungguh. Maka dari itu lepaskan tanganku" Taehyung memohon dengan bersungguh-sungguh.
Diluar dugaan, Jungkook menggeleng. Menolak melepaskan Taehyung. Taehyung melebarkan matanya sekali lagi sebelum menghela nafas keras. Matanya menatap memohon pada Jungkook agar segera melepaskannya.
"Aku…aku ada pekerjaan lain Jungkook-sshi. Jadi bisa lepaskan aku? Aku janji setelah pekerjaanku selesai aku akan menemanimu. Itu pun kalau kau mengijinkan" ucapnya lembut. Taehyung tak bisa berbicara kasar pada pasien. Bagaimana pun tingkahnya.
Jungkook masih memandangnya datar. Perlahan-lahan Taehyung melepaskan pegangan Jungkook padanya. Pegangan itu terlepas pada akhirnya. Taehyung tersenyum simpul kemudian melangkah mundur dengan perlahan.
'Mereka akan menyakitinya kalau kau membiarkannya pergi'
Jungkook kembali mendengar suara-suara itu. Kali ini Jungkook juga bisa melihat banyak orang berjubah hitam yang mengelilingi Taehyung yang berdiri memandangnya. Aura mereka menyelubungi perawat itu seolah ingin menghilangkan eksistensi namja itu di sekitarnya.
Taehyung bisa melihat Jungkook mulai berhalusinasi. Tangan kekar namja itu mulai terulur seolah ingin menjangkaunya. Reflek Taehyung memundurkan langkahnya menjauh. Taehyung tak ingin berurusan dengan seseorang yang sedang berhalusinasi.
"Jangan, jangan pergi dengan mereka. Mereka, mereka akan menyakitimu" ucap Jungkook lirih. Raut wajahnya sangat ketakutan. Namja itu bahkan bangkit dari posisinya.
"Tidak Jungkook. Tidak akan ada yang menyakiti siapapun" ucap Taehyung dengan nada lembut yang menenangkan. Tapi Jungkook tak bisa tenang.
"Mereka…menyakitimu. Mengepungmu"
Taehyung tak sempat bereaksi saat tiba-tiba Jungkook melompat di depannya dan mendekapnya posesif. Jungkook membawa Taehyung menuju sudut ruangan. Mata hitam itu mengedar ke seluruh penjuru ruangannya. Tampak waspada dan berbahaya sekaligus.
"Ju-Jungkook-sshi"
"Ssstt! Mereka sedang bersembunyi"
"Biarkan aku pergi selagi mereka bersembunyi"
Jungkook memandang Taehyung tanpa melepaskan dekapannya. Mendadak Taehyung merasa dirinya harus segera pergi dari tempat ini.
"Tapi..mereka…kau"
"Aku jamin mereka takkan menyakitiku ataupun kau"
Jungkook memandang Taehyung datar. Suara-suara itu kembali memenuhi pikirannya. Membuatnya tak bisa berpikir jernih, sungguh. Suara-suara sialan itu membuatnya sedikit gemetar. Perlahan tapi pasti Taehyung bisa merasakan dekapan Jungkook melonggar.
Taehyung menggiring Jungkook untuk kembali ke ranjangnya. Membaringkan namja tampan itu kemudian menarik selimut sampai perut berotot Jungkook. Sang perawat itu memberikan senyuman yang menenangkan.
"Istirahatlah. Aku akan mengunjungimu lagi nanti" janji Taehyung. Jungkook mengangguk ragu. Saat itulah Taehyung merasa lega. Setidaknya dia bisa meninggalkan namja tampan tanpa pengawasan ini dengan tenang.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung kembali menjalankan kewajibannya. Selama seminggu ini dia hanya akan membantu perawat lain untuk menangani pasien. Satu minggu itu adalah waktu Taehyung untuk beradaptasi. Walau nyatanya keadaan disini tak beda jauh dengan di Daegu.
Namja asli Daegu itu benar-benar menjalani pekerjaannya dengan senang hati. Tanpa merasa lelah dia mondar mandir dari satu kamar ke kamar lain. Dia melakukan banyak hal. Mulai dari membereskan peralatan makan mereka, mengajak mengobrol, bahkan bermain bersama.
"Taehyung-sshi, bisa minta tolong sebentar?" Tanya seorang perawat senior bernama Hong Jihoo.
"Ne sunbae?"
"Tolong jaga Kim Nami sebentar. Aku harus pergi ke bandara menjemput adikku yang baru saja tiba" jelas sang senior.
Taehyung tersenyum lebar kemudian menggangguk semangat. Dia sangat suka bermain dengan anak kecil. Apalagi Kim Yura itu sangat menggemaskan, sungguh.
"Ajak dia jalan-jalan. Dia paling suka berkeliling rumah sakit. Kau tidak keberatan kan?"
"Aniya. Serahkan padaku. Aku akan membawanya jalan-jalan" ucap Taehyung dengan senyum khas-nya.
"Terima kasih. Dia ada di kamar. Dia sedikit sulit tapi kau pasti bisa mengatasi anak itu"
Taehyung hanya mengangguk kemudian berlari menuju kamar Kim Nami. Taehyung sangat suka dengan anak kecil. Baginya Kim Nami itu menggemaskan dibalik kejiwaannya yang terganggu itu. Taehyung tak mengerti mengapa anak kecil semanis itu harus mengalami hal seperti ini.
Kedua orang tuanya juga jarang sekali menjenguk. Bocah perempuan berusia 7 tahun itu seakan tertinggal sendiri. Dia seolah sebatang kara. Dan Taehyung jelas tidak akan pernah tega melihat anak manis itu sendirian.
Kim Taehyung kembali mempersiapkan dirinya sebelum akhirnya membuka pintu ruangan bocah itu. Kim Nami hanya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong yang memilukan.
"Nami-yah" panggil Taehyung pelan.
Bahu Nami menegang. Taehyung tau dia ketakutan. Dengan lembut dia menghampiri gadis itu kemudian duduk di depannya.
"Annyeong~" sapanya dengan suara ceria tapi tetap mengandung kelembutan.
"Andwae" lirih Nami sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ahh~ aku bukan orang jahat Nami-yah" Taehyung mengelus rambut kusut gadis itu.
Nami diam. Matanya masih memandang Taehyung lekat. Tapi gadis cilik itu sudah tak terlalu menunjukkan rasa ketakutan yang besar.
"Nami-ah!" tiba-tiba seseorang memanggil nama Nami dengan keras. Membuat gadis itu terperanjat dan langsung memeluk Taehyung erat.
Beruntung Taehyung memiliki reflek yang baik sehingga dia langsung memegangi Nami. Kedua lengan kurusnya memeluk Nami protektif.
"Anda siapa?" Taehyung bertanya menyelidik.
Namja itu tampak sedikit salah tingkah sebelum akhirnya melangkah masuk. "Maaf mengejutkan. Namaku Kim Namjoon. Aku pamannya Nami"
Taehyung masih memandang namja tinggi di depannya ini dengan penuh selidik. Tubuh ringkih Nami masih bergetar di dalam dekapannya.
"Kau mencurigaiku?" Tanya namja itu seraya menunjuk dirinya sendiri. Taehyung tentu saja mengangguk dengan polosnya.
Namja di depannya hanya terkekeh geli. Perawat di depannya ini sangat lucu. Tapi namja bernama Kim Namjoon itu tak ingin membuat sebuah kesalahpahaman pada namja manis ini.
"Baiklah baiklah. Aku benar-benar paman Nami. Jadi tak perlu mencurigaiku, okay"
Taehyung memandang Namjoon dari atas sampai bawah lalu kembali ke atas dengan tatapan mengintimidasi yang tak ada seramnya sama sekali. Namjoon hanya membiarkan sang perawat itu melakukan apapun yang dia inginkan untuk membuatnya percaya jika dia benar-benar paman dari gadis kecil itu.
"Baiklah, aku percaya"
Namjoon hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu yang menurutnya menarik. Namja itu tak tau kenapa dia harus repot-repot menjelaskan kepada perawat ini agar dia percaya.
"Jadi, boleh aku menemui keponakanku?" Tanya Namjoon akhirnya.
"Tentu saja. Bukankah dia adalah keponakanmu? Tapi sepertinya dia masih sangat ketakutan"
"Tak masalah, aku hanya ingin menemuinya saja. Melihat keadaannya" Taehyung bisa mendengar ketulusan dari nada Namjoon.
"Mau ikut kami jalan-jalan? Siapa tau dia tak merasa takut lagi denganmu" tawar Taehyung.
Namjoon tersenyum. Memamerkan dimple di pipinya. Membuat Taehyung ikut tersenyum. "Boleh"
Taehyung hendak menurunkan Nami untuk mengambil kursi roda gadis itu di sudut ruangan. Tapi si kecil malah mengeratkan pelukannya. Namjoon yang mengerti pun segera membantu mengambilkan kursi roda itu.
"Terima kasih" Taehyung tersenyum. "Kajja kita jalan-jalan" Nami masih tak mau turun dari gendongannya. "Hey, tidak apa-apa. Dia adalah pamanmu Nami-yah. Dia orang baik"
Cukup lama Taehyung membujuk Nami agar dia mau diturunkan dan duduk di kursi roda. Namjoon hanya memperhatikan bagaimana interaksi keduanya. Memperhatikan bagaimana cara Taehyung membujuk keponakannya hingga akhirnya berhasil.
"Kajja kita jalan-jalan"
.
.
Jeon Jungkook menggeram marah saat dokter Ahn mendatanginya bersama dua orang perawat laki-laki. Tatapannya tajam dengan aura dingin yang menguar. Selangkah dokter beserta perawat itu maju maka Jungkook langsung memberikan tendangannya. Membuat mereka kembali mundur.
"Jungkook-sshi, kau harus diperiksa. Aku janji ini tak akan lama" bujuk dokter Ahn.
"Pergi. Dan bawa orang-orang itu pergi" nada bicara Jungkook benar-benar dingin. Membahayakan.
"Jungkook-sshi"
PRANG!
Jungkook melempar piring sarapannya yang masih tergeletak di meja nakas. Piring itu mengenai tembok. Beruntung mereka bertiga bisa menghindar. Jungkook yang sedang marah adalah hal yang buruk.
Drap! Drap! Drap!
"Astaga! ada apa ini?" Tanya Taehyung dengan raut yang panic. Dia sedang berjalan bersama Namjoon dan Nami saat mendengar suara barang pecah.
Taehyung melihat Jungkook yang juga menatapnya. Namja manis itu mengerutkan keningnya tak mengerti. Taehyung memandang ke arah dokter Ahn dan rekannya. Barulah dia mengerti saat melihat suntikan berada di tangan sang dokter.
"Taehyung-sshi" dokter Ahn mencegah Taehyung saat namja itu mulai berjalan mendekati Jungkook.
"Serahkan padaku" gumam Taehyung.
Jungkook masih diam tak bergerak saat Taehyung mendekat. Tapi wajahnya tampak tak suka. Tatapan matanya pun masih tajam. Taehyung menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya dia ragu untuk melakukan hal ini.
"Ju-Jungkook-sshi" panggil Taehyung. "Tenanglah. Tenanglah. Kumohon" ucapnya segera begitu tangan Jungkook hendak meraih sesuatu di dekatnya.
"Kau sama seperti mereka" itu terdengar seperti pernyataan. Tapi Taehyung menganggapnya sebuah pertanyaan.
"Aniya. Aku tidak sama seperti mereka. Bu-bukankah aku sudah berjanji akan mengunjungimu lagi?" Taehyung masih berusaha mendekati Jungkook dan mengajaknya berbincang.
Sret~
Jungkook menarik tangan Taehyung kemudian membawa namja itu berdiri di belakangnya. Bersikap seolah melindungi sang perawat. Taehyung memberi isyarat kepada dokter Ahn dan mereka yang ada disana, termasuk Namjoon dan Nami, untuk segera menjauh dari kamar Jungkook.
Dokter Ahn dan kedua perawat itu tentu saja mengerti. Mereka langsung menuruti isyarat dari Taehyung. Tapi tidak dengan Namjoon dan Nami. Mereka berdua masih berdiri di ambang pintu ruangan Jungkook. Dan Jungkook sudah pasti melihat mereka.
"Jungkook-sshi. Jungkook-sshi" Taehyung langsung memegangi Jungkook begitu namja tampan itu mulai bergerak maju. "Biar aku yang menyuruh mereka pergi" bujuknya.
Jungkook tak melakukan apa-apa. Dan Taehyung juga tak membutuhkan jawaban Jungkook. Dia harus menyuruh mereka pergi sebelum Jungkook kembali mengamuk.
"Namjoon-sshi, bawa Nami keluar sekarang"
"Lalu kau?"
"Aku akan keluar setelah menyelesaikan urusanku dengan Jungkook"
"Jungkook? Sebenarnya kenapa dia?"
"Nanti saja. Kumohon kalian harus segera pergi dari sini" Taehyung terus mendorong tubuh Namjoon.
Begitu memastikan Namjoon dan Nami sudah aman dari pandangan Jungkook, barulah Taehyung berbalik. Jungkook masih memandangnya tajam. Entah kenapa Taehyung justru sedikit gugup.
"K-kau..sebaiknya istirahat" Taehyung mengajak Jungkook untuk kembali ke ranjangnya.
Tubuh namja tampan ini kaku. Taehyung bisa merasakan sedikit getaran ketakutan di pundak namja itu. Dengan lembut Taehyung mendudukkan Jungkook di ranjang.
Dan Taehyung menyesali perbuatannya.
Sret~
Jungkook melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Taehyung. Membuat tubuh namja manis itu menegang. Taehyung merasa dejavu. Tapi sebelum dia sempat memikirkan hal lain, Jungkook sudah memeluk tubuhnya erat. Menyandarkan kepalanya di dada Taehyung.
"Mereka…menyakiti..ingin membunuh" gumam Jungkook. "Aku jahat. Mereka, ingin aku jahat"
Taehyung melingkarkan kedua tangannya memeluk kepala Jungkook. Mengelus surai hitam yang sedikit tak terawat itu. Dia tak tau apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan Jungkook.
"Tidak ada yang jahat Jungkook-sshi" hanya itu yang bisa Taehyung ucapkan.
"Mereka jahat. Taehyung tidak"
Taehyung mengerjapkan matanya berulang kali begitu mendengar Jungkook menyebut namanya. Seingatnya dia tidak memakai name tag dan belum memperkenalkan dirinya pada Jungkook, belum lebih tepatnya. Dia bingung bagaimana Jungkook bisa mengetahui namanya. Oh, lupakan soal Jungkook adalah cenayang. Taehyung mengacuhkan pikirannya tentang hal itu.
"Sebaiknya kau tidur Jungkook-sshi"
Tak ada jawaban dari Jungkook. Taehyung hanya membiarkannya. Dia pikir Jungkook mungkin enggan membuka suaranya. Taehyung hanya diam dan mengelus rambut hitam Jungkook. Pikirannya mendadak berkelana.
Kalau dipikir-pikir, Taehyung terlalu sering berhadapan dengan orang-orang yang berbahaya. Dia pernah merawat seseorang dengan banyak kepribadian, trauma akut, bahkan psikopat seperti Min Yoongi. Dan sekarang dia dihadapkan dengan penderita Skizofrenia. Taehyung jadi berpikir apa dia memang cocok dengan pekerjaan ini.
Taehyung baru menyadari jika Jungkook sedari tadi diam setelah sepuluh menit berlalu. Kakinya terasa sedikit kram karena terlalu lama berdiri. Dia berusaha menjauhkan Jungkook darinya. Ternyata namja itu tertidur.
"Hahh~" Taehyung hanya bisa menghela nafas sambil membaringkan tubuh Jungkook. Menyelimuti namja itu dan membuat posisinya nyaman. "Istirahatlah dengan baik" lirihnya sebelum meninggalkan ruangan Jungkook. Tak lupa mengunci pintu luar ruangan yang menyerupai pintu penjara itu.
.
.
Taehyung berjalan menuju halaman rumah sakit dengan sedikit tertatih. Kakinya kram dan itu menyakitkan. Tapi memang dasar Kim Taehyung yang tak pernah bisa diam, dia malah memaksakan diri untuk berjalan.
"Kau oke?" Tanya Namjoon. Namja itu bahkan berdiri untuk menyongsongnya. Membantunya agar bisa duduk di kursi taman rumah sakit. Nami langsung menggapai tangannya dengan cepat.
"Hey Nami-yah. Kau sudah tak takut dengan pamanmu?" Tanya Taehyung ceria.
Nami hanya memandangnya dengan mata bulat jernih yang menggemaskan. Taehyung tak tahan untuk tak mengecup singkat pipi bocah manis itu. Mengabaikan tatapan Namjoon yang masih menunggu jawabannya.
"Aku okey tuan. Hanya sedikit kram"
"Sebenarnya kenapa dengan orang tadi? Dia terlihat sehat tapi sebenarnya tidak" Namjoon tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Dia Jeon Jungkook. Yang kutau dia menderita Skizofrenia-"
"Apa itu?"
"Skizofrenia itu suatu penyakit mental yang cukup kronis yang mengakibatkan gangguan proses berfikir. Dia kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan baik. Dia tak bisa membedakan mana kenyataan dan khayalan. Jalan pikirannya menjadi disfungsional. Sejauh yang kulihat, Jungkook bisa cepat berpikir dan mengambil keputusan. Seberbahaya apapun keputusannya. Skizofrenia ini-" Taehyung menghela nafas.
"-pasien dengan Skizofrenia cenderung cepat marah, berperilaku aneh, paranoid. Jungkook sering mengalami delusi dan halusinasi. Tindakan tadi sebagai bentuk halusinasinya. Dia selalu merasa mendengar suara yang menyebut orang-orang disekitarnya akan menyakitinya. Kadang suatu waktu dia akan terlihat seperti namja pada umumnya, tapi saat penyakitnya kambuh, maka dia akan menjelma seperti monster yang siap menyakiti siapapun. Bahkan dirinya sendiri"
"Bagaimana dia bisa menderita penyakit yang cukup berbahaya itu?" gumam Namjoon yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Banyak penyebabnya. Factor genetic dan stress juga diantaranya. Tapi untuk Jungkook, aku tak tau penyebabnya. Dan aku pun tak tau skizofrenia jenis apa yang dideritanya. Perlu pemeriksaan lebih lanjut, tapi dia bahkan sulit untuk didekati" Taehyung tanpa sadar menggembungkan pipinya.
Namjoon yang melihatnya hanya tersenyum simpul, "Tapi kalau kau yang melakukannya pasti bisa terlaksana. Kulihat kau bisa menenangkannya"
Taehyung tertawa kecil, "Mungkin hari ini aku bisa menenangkannya. Tapi aku tak tau untuk selanjutnya. Penderita skizofrenia sangat sulit ditebak kalau kau ingin tau"
Setelah itu hening. Mereka terjebak keheningan yang cukup panjang. Bahan pembicaraan mereka habis begitu saja. Tapi Namjoon menikmati keheningan ini. Tangannya sibuk mengelus kepala Nami dengan sayang. Sementara Taehyung tengah menengadah. Meregangkan otot lehernya yang terasa kaku.
"Hey"
"Hm"
"Kau sadar tidak kau belum mengenalkan dirimu secara resmi denganku"
Ucapan Namjoon membuat Taehyung terperanjat, "Benarkah? Aku belum memperkenalkan diri?" Tanyanya polos.
Namjoon mengangguk dua kali. Taehyung mengernyit kemudian tertawa kecil. "Baiklah. Aku Kim Taehyung. Baru saja dipindah kemari kemarin"
Setelah mengatakan hal itu, Taehyung malah tertawa geli. Membuat Namjoon mengerutkan keningnya bingung. Taehyung sungguh tak tertebak.
"Rasanya lucu sekali saat kau mengobrol banyak hal dengan orang lain tapi kau tak mengetahui namanya" ucapan Taehyung sontak membuat Namjoon tertawa.
"Kau benar. Setidaknya aku sudah memperkenalkan diri tadi"
Taehyung hanya tertawa mendengar ucapan Namjoon kemudian kembali bermain dengan Nami. Mengabaikan tatapan Namjoon yang kini terarah padanya.
.
.
TBC
.
.
Huweeeeee~~~
Kenapa jadi gaje kayak gini u,u
Maafkan~ rasanya aku gagal di chapter ini xD
Ini aneh banget sumpah. Tapi aku gabisa apa-apa klo ide yang keluar cuman ini :3
Sekali lagi maapkeun #bow
Ah makasih banget buat semua yang udah review, fav, follow. Dan maapkeun gabisa bales satu-satu xD
Dan, kalau kalian masih berkenan, saya masih buka kok kotak review untuk chap ini.
Mau saran boleh, kritik yang membangun boleh, mau protes boleh. Terserahlah pokoknya xD
So, wanna give me some review?
Big love, clou3elf
