Light On My Darkness

Chapter 3

.

.

Author : Clou3elf

Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others

Pairing : KookV slight!YoonV, NamV

Genre : Drama, Hurt & Comfort

Rate : T-M (sesuai kebutuhan)

Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll

A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD

.

.

Hope U Like

.

.

Happy Reading

.

.

~Previous Chapter~~

"Mereka…menyakiti..ingin membunuh" gumam Jungkook. "Aku jahat. Mereka, ingin aku jahat"

Taehyung melingkarkan kedua tangannya memeluk kepala Jungkook. Mengelus surai hitam yang sedikit tak terawat itu. Dia tak tau apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan Jungkook.

"Tidak ada yang jahat Jungkook-sshi" hanya itu yang bisa Taehyung ucapkan.

"Mereka jahat. Taehyung tidak"

.

.

"Skizofrenia itu suatu penyakit mental yang cukup kronis yang mengakibatkan gangguan proses berfikir. Dia kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan baik. Dia tak bisa membedakan mana kenyataan dan khayalan. Jalan pikirannya menjadi disfungsional. Sejauh yang kulihat, Jungkook bisa cepat berpikir dan mengambil keputusan. Seberbahaya apapun keputusannya. Skizofrenia ini-" Taehyung menghela nafas.

"-pasien dengan Skizofrenia cenderung cepat marah, berperilaku aneh, paranoid. Jungkook sering mengalami delusi dan halusinasi. Tindakan tadi sebagai bentuk halusinasinya. Dia selalu merasa mendengar suara yang menyebut orang-orang disekitarnya akan menyakitinya. Kadang suatu waktu dia akan terlihat seperti namja pada umumnya, tapi saat penyakitnya kambuh, maka dia akan menjelma seperti monster yang siap menyakiti siapapun. Bahkan dirinya sendiri"

"Bagaimana dia bisa menderita penyakit yang cukup berbahaya itu?" gumam Namjoon yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Banyak penyebabnya. Factor genetic dan stress juga diantaranya. Tapi untuk Jungkook, aku tak tau penyebabnya. Dan aku pun tak tau skizofrenia jenis apa yang dideritanya. Perlu pemeriksaan lebih lanjut, tapi dia bahkan sulit untuk didekati" Taehyung tanpa sadar menggembungkan pipinya.

Namjoon yang melihatnya hanya tersenyum simpul, "Tapi kalau kau yang melakukannya pasti bisa terlaksana. Kulihat kau bisa menenangkannya"

Taehyung tertawa kecil, "Mungkin hari ini aku bisa menenangkannya. Tapi aku tak tau untuk selanjutnya. Penderita skizofrenia sangat sulit ditebak kalau kau ingin tau"

.

.

~Chapter Three~~

.

.

Taehyung meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku. Seharian ini dia sibuk dari satu pasien ke pasien yang lain. Ternyata disini bisa dibilang kekurangan perawat. Wajar saja. Memang siapa yang mau merawat orang-orang dengan gangguan jiwa itu.

Sejujurnya Taehyung sendiri bingung kenapa dia malah memilih menjadi perawat orang-orang dengan gangguan jiwa seperti itu. Tanpa ragu Taehyung memutuskan untuk sekolah perawat setelah lulus junior high school. Jika kalian bertanya kenapa Taehyung memilih menjadi perawat di rumah sakit jiwa, maka Taehyung akan menjawab, 'Ini seperti sudah panggilan jiwa'

"Bagaimana? Apa kau lelah?" suara seniornya sedikit mengagetkan Taehyung.

"Sedikit sunbae. Mungkin karena ini hari pertamaku disini dan rasanya sedikit berbeda dari pekerjaanku di Daegu"

"Memangnya bagaimana pekerjaanmu di Daegu?"

"Di Daegu aku hanya focus merawat satu orang. Bisa dibilang aku adalah perawat pribadi orang itu. Well, wajar saja. Dia adalah seorang psikopat yang entah kenapa malah berada di rumah sakit jiwa"

Tampaknya sunbae-nya tertarik, "Memangnya orang itu seperti apa?"

"Dia itu sangat terkenal di Daegu karena pernah membantai keluarga besarnya di sana. Dia pernah dipenjara dan orang-orang yang satu sel dengannya itu dibantai juga. Dia tak membawa senjata apapun tapi bisa membantai dengan begitu sadisnya" cerita Taehyung santai. Seakan itu seperti menceritakan dongeng beauty and the beast.

Sang sunbae bergidik, "Tak membawa apapun tapi bisa membantai dengan begitu sadisnya. Rasanya aku pernah membaca berita semacam itu"

Taehyung mengangguk kemudian menyandarkan tubuhnya, "Dia sempat ditempatkan di sel isolasi tapi seminggu kemudian dia keluar dari situ karena sering mengamuk"

"Bagaimana ceritanya dia bisa ada di rumah sakit jiwa"

"Pihak kepolisian yang membawanya. Anehnya dia diam saja dibawa kesana. Tapi setelahnya dia juga sering mengamuk. Tak jauh beda dengan Jungkook, semua perawat hampir dibantainya"

"Tapi kulihat kau baik-baik saja"

Taehyung tertawa, "Kalau kau mau tau awalnya aku sangat ketakutan saat kepala rumah sakit membawaku ke ruangan orang itu. Tatapannya saja mengerikan. Tapi dia diam saja saat kami mendekat bahkan saat aku merawatnya dia juga diam. Hanya dua bulan pertama dia sering mengamuk padaku. Aku hampir tewas ditangannya kalau reflekku tidak bagus"

"Bagaimana bisa?"

"Dia itu…selalu diam saat aku merawatnya. Tapi dia bisa tiba-tiba saja menyerangku. Melemparku ataupun memukulku. Kalau reflekku tidak bagus untuk menghindarinya maka aku hanya akan tinggal nama" kekeh Taehyung.

Sunbae itu tertawa, "Kurasa kau sangat berbakat menundukkan singa Taehyung-ah. Pertama orang itu lalu sekarang Jeon Jungkook. Dan aku juga merasa kau juga mengalami gangguan jiwa. Kau bisa tenang begitu menceritakan orang itu tanpa merasa takut sedikitpun"

"Aku sudah terbiasa sunbae. Dua tahun berhadapan dengannya membuatku terbiasa"

Sang sunbae mengangguk maklum. Taehyung beranjak berdiri. Dia akan melakukan patroli terakhir sebelum pulang. Shift-nya sampai pukul 7 malam. Patroli yang dimaksud adalah melakukan pemeriksaan pada setiap pasien. Memastikan kondisi mereka baik-baik saja. Mencatat tiap perkembangan hasil pemeriksaan.

"Apa setelah patroli aku bisa pulang sunbae?" Tanya Taehyung sebelum keluar ruangan.

"Pulanglah. Istirahat. Kau tampaknya kelelahan"

Taehyung mengeluarkan cengiran kotak andalannya kemudian melesat keluar. Melakukan patroli sebelum pergantian shift.

Satu persatu kamar didatangi oleh Taehyung. Mengecek tiap pasien yang ada disana. Pasien yang tadi pagi bersikap brutal kini tidak lagi. Sepertinya mereka mulai menghafal wajah Taehyung.

Taehyung dengan santai mencatat tiap perkembangan yang disampaikan perawat masing-masing kamar. Sesekali dia akan melakukan interaksi kecil dengan pasien-pasien itu. Entah mengajak bicara atau hanya sekedar meladeni ucapan mereka.

"Annyeong" sapa namja manis itu saat memasuki kamar Nami. Dia sedikit terkejut melihat Namjoon masih disitu. "Kau belum pulang rupanya" gumamnya.

Nami langsung menatap Taehyung begitu mendengar suara namja itu. Gadis kecil itu tak melakukan apa-apa. Dia hanya memandangi sang perawat lekat. Taehyung yang merasa dipandangi pun hanya tersenyum lebar.

"Bagaimana perkembangan Nami, sunbae?" Tanya Taehyung pada perawat yang menjaga Nami.

"Dia baik. Kurasa dia perlahan bisa tenang saat seseorang mendekatinya. Tidak lagi ketakutan seperti sebelum-sebelumnya"

"Whoa~ perkembangan yang bagus. Namjoon-sshi, sering-seringlah ajak Nami bermain" ucap Taehyung sambil mencatat beberapa hal di berkas yang dibawanya.

Namjoon tertawa kecil. Menurutnya Taehyung itu baik dan menggemaskan. Namja berlesung pipi itu bahkan berpikir Taehyung lebih cocok menjadi guru taman kanak-kanak ataupun perawat anak kecil. Sikapnya benar-benar lembut dan penuh perhatian.

"Baiklah kalau begitu aku harus pergi" pamit Taehyung. "Nami-yah, kau harus makan yang banyak dan sering bermain bersama yang lain, ne" tangannya mengelus rambut kusut Nami dengan lembut.

Taehyung segera berbalik menuju pintu dan keluar dari ruangan Nami. Hampir semua sudah dikunjunginya. Tersisa satu ruangan lagi. Ruangan Jeon Jungkook. Taehyung sengaja menempatkan ruangan Jungkook di urutan terakhir. Karena menurutnya akan memakan waktu sedikit lebih lama di ruangan namja itu.

Jeon Jungkook tidak dijaga oleh perawat manapun, ingat. Perawat itu hanya melihat dari luar ruangan.

Namja asal Daegu itu sedikit ragu untuk memasuki ruangan Jungkook. Dia hanya takut Jungkook tak nyaman dengan kehadirannya. Sebisa mungkin Taehyung membuat agar namja itu merasa nyaman dan aman terlebih dahulu.

"Jungkook-sshi" panggil Taehyung.

Jungkook berbaring menghadap ke arah pintu. Matanya langsung memaku Taehyung di tempat. Langkah perawat itu jadi sedikit berat sebenarnya.

Taehyung tersenyum manis memandang Jungkook yang tampaknya tidak keberatan sejauh ini. Dia melangkah mendekati Jungkook dengan tenang. Tangannya bergerak menepuk lengan Jungkook dengan perlahan. Gesture yang sedikit basa-basi sebenarnya.

"Bagaimana istirahatmu? Apa kau tidur dengan nyenyak?"

"Taehyung pergi tadi?" suara rendah Jungkook sedikit menggelitik Taehyung.

Taehyung tersenyum lagi, "Taehyung harus bekerja Jungkook-sshi. Taehyung tak bisa terus menemani Jungkook-sshi" jelasnya lembut.

Jungkook diam. Taehyung mengambil stetoskop yang dibawanya. Dia sudah siap untuk memeriksa Jungkook.

"Taehyung boleh memeriksa Jungkook?"

"Jarum?"

"Tidak tidak. Tidak ada jarum. Hanya ini" Taehyung menunjukkan stetoskop yang sudah dipakainya.

Jungkook mengangguk lalu mengubah posisi menjadi terlentang. Taehyung mulai memeriksa detakan jantung Jungkook dan juga nadinya. Normal. Semuanya normal karena memang Jungkook namja yang normal jika penyakitnya tidak kambuh.

"Nah! Jungkook baik-baik saja" ucap Taehyung sambil mencatat perkembangan Jungkook. Setelahnya dia bersiap untuk keluar.

Sret~

Langkah Taehyung terhenti karena Jungkook menahan lengannya. Namja kelahiran 30 Desember ini memandang Jungkook bingung.

"Taehyung disini"

Taehyung menganggukkan kepalanya setelah terdiam selama lima menit. Sudah dibilang kan? Berada di ruangan Jungkook akan sedikit lebih lama dari yang lain.

Perawat manis itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Jungkook sedikit menggeser tubuhnya. Tangannya dengan mudah merengkuh pinggang Taehyung dan menariknya mendekat. Taehyung hanya diam saja. Dia membiarkan Jungkook melakukan apapun yang ingin dia lakukan.

"Kenapa Jungkook tidak memarahi Taehyung?" Tanya Taehyung. Ah, dia merasa sedang berbincang dengan anak kecil.

"Karena Taehyung tidak jahat" lirih Jungkook.

"Bagaimana kalau Taehyung jahat?"

"Mungkin Jungkook akan mati karena tidak ada orang baik"

Taehyung tertawa kecil mendengar ucapan dari pemuda 19 tahun itu, "Jungkook tidak boleh begitu. Kau harus jadi orang baik"

Jungkook memeluk pinggang Taehyung. Merapatkan tubuhnya pada namja manis itu. Taehyung jadi bingung dibuatnya. Tangan kurusnya terulur mengelus rambut Jungkook.

Menurut Taehyung, Jungkook itu tampan. Sangat malah. Hanya saja namja itu sedikit tidak terawat. Mungkin karena factor dia sering mengamuk yang membuat perawat-perawat itu kesulitan merawatnya.

"Kau lelah? Istirahatlah"

"Tidak. Kalau aku tidur, mereka akan datang"

Taehyung berniat mengambil obat-obatan di meja nakas Jungkook saat namja itu memegang lengannya kuat. Taehyung hanya tersenyum menenangkan. Dia berusaha mengambil obat-obatan itu.

"Kau harus segera minum obat"

Jungkook menurut saat Taehyung mengulurkan tiga butir kapsul berukuran sedang padanya. Meminumnya sekaligus kemudian kembali berbaring sembari memegang tangan Taehyung. Secara perlahan obat itu mulai bereaksi.

Namja bergigi kelinci itu akhirnya tertidur. Taehyung menunggu beberapa saat sebelum akhirnya dia melepaskan pegangan Jungkook padanya dan keluar. Ini sudah pukul 7.30. 30 menit dari jam pulangnya. Dan tubuhnya sudah mulai protes karena lelah.

"Kau selesai?" Tanya salah satu perawat yang bekerja shift malam.

"Eum, ne,,,,"

"Jihyo. Kwon Jihyo" ucapnya.

Taehyung tersenyum, "Kim Taehyung imnida"

"Kau pasti perawat yang datang dari Daegu yaa?"

Namja itu mengangguk semangat, "Ne sunbae"

"Tak usah terlalu formal. Panggil saja Jihyo noona"

"Ne" Taehyung meletakkan semua berkas-berkas yang sedari tadi dibawanya. Tak lupa menyambar tasnya. "Sunbae, ah noona, aku pulang dulu"

"Hati-hati di jalan"

Taehyung sedikit berlari saat menuju gerbang rumah sakit. Akhirnya dia tak berada di dalam rumah sakit jiwa lagi. Percayalah, berada terus menerus di dalam sana akan membuatmu menjadi gila juga. Taehyung terkekeh sendiri dengan pemikirannya.

"Yosh! Ini masih hari pertama. Masih ada hari-hari menyenangkan selanjutnya"

.

.

At Daegu

.

.

"Yoongi-sshi kau tidak mau makan?"

Min Yoongi tak menjawab. Tetap bergeming di posisinya. Mata sipitnya memandang ke luar jendela. Seakan-akan dia sedang menunggu seseorang. Ah, Min Yoongi memang menunggu seseorang. Perawat itu. Kim Taehyung.

"Kemana Taehyung?" tanyanya dengan suara yang kelewat dingin. Pertanda buruk.

"Ta-Taehyung..dia sedang ada urusan"

Perhatian Yoongi teralihkan. Matanya langsung memandang tajam perawat itu. Sang perawat mulai bergidik ngeri. Tatapan Min Yoongi itu datar tapi tajam. Tatapannya mengandung racun tak kasat mata yang siap membunuh. Hanya dengan tatapannya.

"Mau berbohong padaku?!" sentak namja berkulit pucat itu.

Sejak dulu aura yang dikeluarkan Min Yoongi memang membuat suasana mendadak mencekam. Seperti hari ini. Yoongi merasa kesal karena Taehyung beberapa hari ini namja manis itu tak menampakkan dirinya. Perawat-perawat disini juga seolah menyembunyikan namja favoritnya itu.

Min Yoongi tak suka ada orang lain yang mengusik Taehyung-nya. Iya, Taehyung miliknya.

"Yo-Yoongi-sshi"perawat itu meneguk salivanya kasar. "Ka-kau harus..makan Yoongi-sshi"

"Apa jika aku makan maka Taehyung akan kemari?"

"Ne! Taehyungie pasti kemari jika kau menghabiskan makananmu" perawat itu kembali bersemangat begitu mendengar ucapan dan nada Yoongi yang terdengar bersahabat.

Yoongi menatap sang perawat yang menurutnya memuakkan itu dengan tatapan datar. "Bawa kemari"

Tanpa merasa curiga atau apapun, perawat ber-name tag Jung Hyuwoon itu memberikan makanan yang sedari tadi dipegangnya itu kepada Yoongi. Yoongi menerimanya dengan tenang.

PRANK!

Dengan sekuat tenaga Yoongi melempar piring yang berisi makanan itu ke arah Hyuwoon. Tentu saja melukai kepala perawat berusia 25 tahun itu dengan telak. Piring itu pecah dengan isi yang berhamburan. Sang perawat jatuh terduduk dengan darah yang mulai mengucur.

Sedangkan Yoongi hanya tersenyum tipis melihat hasil perbuatannya itu.

Drap drap drap

"OMO! Hyuwoon hyung!" Minjae langsung memekik begitu melihat seniornya terduduk lemah di lantai.

Tak lama kemudian beberapa perawat menyusul. Dua orang membawa Hyuwoon keluar dari ruangan Yoongi sedangkan yang lainnya bersiap menghadapi kemarahan Min Yoongi. Yoongi menyeringai tipis.

"Kapan Taehyung kemari?!" Tanya, ah tidak, itu lebih tepat disebut bentakan.

"Tae-Taehyungie..maksudku Taehyung-sshi" seorang perawat wanita langsung meralat ucapannya saat melihat Yoongi memandangnya sengit. "Di-dia..dia.."

"Taehyung ada urusan sebentar Yoongi-sshi. Dia akan segera kembali" ucap sang kepala rumah sakit.

Yoongi tak melakukan apa-apa. Dia langsung berbaring kemudian tidur. Tak memperdulikan perawat-perawat bodoh, menurutnya, itu. Mendadak dia sangat takut tak akan bisa bertemu dengan Taehyung lagi.

"Kim Taehyung" geramnya pelan.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Hari-hari selanjutnya berlalu seperti biasa. Dalam waktu 2 hari Taehyung sudah bisa menyesuaikan diri. Dengan pasien-pasien disini, bahkan dengan Jungkook. Walau tetap merasa khawatir setiap memasuki ruangan Jungkook, tapi sejauh ini namja tampan itu masih menerimanya.

Ngomong-ngomong soal Jungkook, namja tampan itu sepertinya hanya bergantung padanya. Setiap perawat lain yang memasuki ruangannya langsung diteriaki bahkan dilukai. Tapi Taehyung tidak. Hanya beberapa kali Taehyung diteriaki tapi selanjutnya tidak lagi.

Dan ini sudah satu minggu berlalu sejak kepindahan Taehyung. Selama seminggu ini Taehyung berhasil sedikit memperbaiki penampilan Jungkook. Namja itu sudah lebih terlihat manusiawi daripada saat pertama kali Taehyung melihatnya.

"Jungkook-sshi…kau harus melakukan pemeriksaan, ne?" selama seminggu ini juga Taehyung selalu membujuk Jungkook untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui jenis Skizofrenia yang dialami Jungkook.

"Tidak" dan selama seminggu ini pula hanya satu kata itu yang diterima Taehyung.

Taehyung tersenyum kecil, "Baiklah kalau begitu" Taehyung bersiap untuk pergi dari ruangan Jungkook saat namja itu menggenggam tangannya.

"Taehyung marah?"

"Tidak Jungkook-sshi. Aku hanya ingin mengambil obatmu"

Jungkook hanya memandang Taehyung tanpa mau melepas tangannya. Taehyung balas memandang Jungkook dengan ekspresi yang mengatakan agar Jungkook mau melepas tangannya. Secara perlahan akhirnya tangannya bisa terlepas.

"Tunggu disini. Aku hanya sebentar aku janji"

Setelah Jungkook mengangguk, barulah Taehyung melangkahkan kakinya menuju ruangan perawat dimana obat-obat itu tersimpan. Di ruangan dia bertemu dengan beberapa perawat yang memang sedang beristirahat sebagian.

"Jeon Jungkook lagi?" Tanya salah seorang perawat yang melihat Taehyung berdiri di rak obat milik Jungkook.

"Eum. Aku lupa membawa obatnya saat membawakannya makan siang tadi"

"Setelah ini istirahatlah Taehyung-ah. Kita bergantian" ucap perawat lain.

Taehyung mengeluarkan senyum kotaknya, "Ne hyung. Setelah memastikan Jungkook tidur aku akan istirahat"

Mereka masih berbincang saat tiba-tiba seorang perawat berlari dengan tergesa-gesa. Taehyung kenal dengannya. Dia adalah perawat di ruangan Nami.

"Ada apa noona?" Tanya Taehyung.

"Nami menangis Taehyung-ah? Entah kenapa kali ini sangat sulit dibujuk. Dia terus menangis histeris"

Taehyung membulatkan matanya. Segera saja dia berikan obat milik Jungkook pada perawat yang tadi berbincang dengannya. "Hyung. Tolong berikan obat ini pada Jungkook. Pastikan kau perlakukan dia dengan lembut, arra?"

Taehyung kemudian berlari mengikuti perawat Nami itu. Sejujurnya Taehyung sangat menyayangi Nami. Gadis kecil itu harus mengalami trauma yang hebat seperti ini.

Dan Taehyung melupakan satu hal. Saat dia berlari menuju kamar Nami, Taehyung melewati kamar Jungkook. Namja itu Taehyung tidak kembali ke kamarnya. Dan Jungkook mulai merasa…aneh.

"Taehyung"

Jungkook maju sampai ke pintu. Dia ingin keluar menyusul Taehyung, tapi pintunya terkunci. Tangannya tanpa sadar mencengkeram jeruji besi yang menghiasi pintu ruangannya. Dan Jungkook mendadak mundur saat tiga orang perawat mendatangi kamarnya. Dan di tangan perawat itu Jungkook bisa melihat baki berisi jarum.

Sontak saja namja itu memundurkan langkahnya antisipatif. Seketika matanya kembali menggelap. Ketiga perawat itu juga mulai melangkah ragu-ragu. Mereka sudah dimintai tolong oleh Taehyung untuk memberi Jungkook obat. Tapi sepertinya mereka salah metode.

"Kenapa disini?" Tanya Jungkook datar.

"Tenanglah Jungkook-sshi. Taehyung hanya meminta kami untuk memberimu obat" ucap salah seorang perawat.

Mendengar nama Taehyung mendadak Jungkook diam. Seketika dia mulai diliputi kecemasan yang dalam. Melihat Taehyung berlari tergesa-gesa dengan wajah panic tadi semakin menambah ketakutan Jungkook. Dia curiga terjadi sesuatu pada Taehyung.

'Taehyung terluka'

Mendadak gambaran Taehyung yang terluka parah dan penuh darah menghantui Jungkook. Taehyung-nya yang baik dipukuli dan dilukai oleh jarum suntik. Taehyung-nya yang baik berteriak kesakitan dan tidak ada yang berniat menolong Taehyung. Taehyung memandangnya sendu sebelum akhirnya menutup mata.

"ANDWAE!" teriak Jungkook marah. Matanya langsung menatap tajam ke arah mereka bertiga.

"Jungkook-sshi, kajja minum obat setelah itu istirahat" ucap perawat itu lagi. Mereka maju mendekati Jungkook.

Jungkook kembali memberontak. Sontak saja kedua perawat yang lain memegangi lengan kanan dan kirinya. Jungkook berusaha melepaskan pegangan mereka. Kedua perawat itu terlihat sedikit kewalahan.

Perawat bernama Sungyeol itu langsung mengambil obat penenang dosis tinggi yang sudah dipersiapkannya. Melihat jarum suntik yang sepertinya akan menembus kulit putihnya, Jungkook makin marah. Dia berpikir pastilah mereka bertiga yang melukai Taehyung dan sekarang mereka berniat melukainya.

"GGRRRR! ARRRGG!" Jungkook berteriak marah.

Sungyeol ragu mendekati Jungkook. Tapi melihat kedua perawat yang memegangi Jungkook tampak kesulitan menangani namja tampan itu, Sungyeol pun maju. Semakin Sungyeol maju maka semakin marah Jungkook.

.

.

Other's side

.

.

"Jangan takut lagi ne? Tidak ada yang akan menyakiti Nami lagi. Arrachi?" Taehyung tersenyum lebar.

Gadis itu mengangguk pelan, sangat pelan. Taehyung baru saja selesai membujuk Nami. Gadis itu menangis histeris karena kembali mengingat perlakuan buruk keluarganya padanya. Tubuh kecilnya bergetar hebat. Taehyung saja sampai harus menelepon Namjoon untuk membantu menenangkan Nami. Beruntung namja berlesung pipi itu mampu membuat Nami tenang.

Sepertinya Namjoon berhasil membuat Nami percaya padanya. Baru mendengar suara Namjoon saja Nami sudah meredakan tangisannya. Selanjutnya Namjoon membujuk Nami untuk berhenti nangis dengan iming-iming namja itu akan datang menjenguknya sebentar lagi.

"Nami menunggu Namjoon oppa disini bersama Jihoo eonnie ne?"

"Oppa.."

"Ne, Nami tunggu Namjoon oppa disini bersama Jihoo eonnie"

Begitu Nami mengangguk, Taehyung segera bangkit kemudian keluar dari kamar gadis itu. Beruntung dia sempat bertukar nomor ponsel dengan Namjoon. Taehyung melangkah menuju kamar Jungkook. Dia sedikit memiliki firasat buruk.

Namja berwajah sempurna itu langsung mempercepat langkahnya begitu melihat beberapa perawat keluar dari kamar pasien yang didampinginya. Ditambah dengan suara teriakan yang berasal dari kamar Jungkook.

"Ada apa ini?" Tanya Taehyung. Matanya menangkap baki kecil yang tergeletak di lantai. Diambilnya sebuah botol yang diketahuinya sebagai obat penenang.

"Taehyung-ah!" seru sang perawat yang memegangi lengan kanan Jungkook.

Taehyung melotot begitu melihat dosis yang tertera di botol kecil itu, "Kenapa menggunakan obat penenang dengan dosis setinggi itu ?!" Taehyung bertanya dengan suara yang nyaris menjerit.

Bukan apa-apa hanya saja perawat yang berada di depannya ini benar-benar membuatnya shock. Bagaimana bisa seorang perawat mengambil keputusan se-ekstrim itu. Menggunakan obat penenang dengan dosis yang cukup tinggi hanya untuk menenangkan seorang Jeon Jungkook. Padahal Jungkook bukan psikopat berbahaya yang mengamuk dan membawa senjata api di tangannya.

"Kalau tidak begini, dia tak akan bisa tenang Taehyung-ah" perawat itu susah payah memegang suntikan di tangannya ditengah upaya pemberontakan Jungkook. "Kau jangan ikut campur Kim Taehyung!"

"Dia tetap bisa ditenangkan tanpa obat penenang dengan dosis setinggi itu" Taehyung menatap was-was pada jarum suntik yang bergerak random di udara karena pergerakan Sungyeol dan pemberontakan Jungkook itu.

"Bagaimana car-AKH"

Taehyung tak sempat bergerak saat dengan cepat tangan kiri Jungkook bergerak merampas suntikan obat penenang itu dan menusukkannya pada perawat yang sedari tadi berdebat dengan Taehyung. Wajah tampan itu hanya berekspresi datar saat tangannya semakin menekan jarum suntik itu semakin dalam. Mengabaikan teriakan kesakitan sang perawat.

"Ju-Jungkook-sshi. Jungkook-sshi! Hentikan" Taehyung segera merampas jarum suntik yang dipegang Jungkook dan membuangnya menjauh.

Taehyung membantu perawat yang terluka itu untuk berdiri dan memapahnya perlahan. "Eum..kalian berdua bisa tolong awasi Jungkook-sshi sebentar? Aku akan membawa Sungyeol hyung ke ruangan sebentar"

"Cepatlah Taehyung-ah. Kami tak bisa menahan Jeon Jungkook dalam waktu yang lama"

"Hanya lima menit. Aku janji" Taehyung segera membawa sang perawat yang mulai kehilangan kesadarannya itu keluar.

Jungkook sama sekali tak bergerak sejak Taehyung merampas jarum suntik itu. Matanya tak pernah lepas dari Taehyung. Kelereng hitam itu seolah terpaku pada sosok perawat itu.

"ARRGGHH!" Jungkook baru memberontak setelah sekitar dua menit Taehyung keluar.

'Awas. Mereka akan menyuntikmu. Membuatmu tak bisa bergerak kemudian membuangmu ke jurang'

Jungkook mendengarnya lagi. Kedua perawat itu semakin erat memegangnya. Semakin erat mereka memegang maka Jeon Jungkook juga akan semakin kuat memberontak tanpa ampun. Jungkook menyentak keduanya hingga mereka terhuyung nyaris terjatuh.

Jeon Jungkook mengamuk. Untuk pertama kalinya Jungkook mengamuk lagi dalam kurun waktu 6 bulan ini.

Kedua perawat itu tak menyerah. Mereka kembali memegangi Jungkook. Tapi seperti tadi, Jungkook memberontak. Bahkan melempari mereka dengan berbagai macam barang yang ada di meja nakasnya.

"Jeon Jungkook-sshi!" Taehyung berlari kemudian memegangi Jungkook.

Sekuat tenaga Taehyung memegangi Jungkook. Mengambil barang yang berada di tangan Jungkook. Mencegah namja itu untuk melempar barang lagi. Sedikit mengabaikan luka kecil di pipinya karena terkena kuku panjang namja itu.

Taehyung memegang kedua tangan Jungkook. Mencengkeram tanpa menyakiti namja yang ternyata lebih muda dua tahun darinya itu. Nafasnya terengah. Sedangkan Jungkook sama sekali tak terlihat kelelahan. Hanya saja nafasnya yang memburu seolah menahan amarah.

"Jeon Jungkook-sshi, tenanglah. Kumohon tenanglah. Tak ada yang akan menyakitimu" ucap Taehyung putus-putus.

"Mereka…menyakitiku. Membunuhku" Jungkook menarik Taehyung ke dalam pelukannya.

Taehyung tertegun. Pelukan Jungkook erat sekali. Badan kekarnya pun bergetar. Taehyung berusaha melepas pelukan itu atau dia akan kehabisan nafas.

Jungkook melihat dua orang yang tak dikenalnya mulai berjalan mendekatinya. Tangan mereka berusaha menggapai-gapai dirinya.

"Pergi. Jauhi aku. ARGH! PERGI!" Jungkook berteriak histeris.

Taehyung terhuyung dalam pelukan namja itu karena Jungkook berontak sambil memeluknya. Otak Taehyung sibuk mencari cara untuk melepaskan diri dari Jungkook.

"Hey Jungkook-sshi tenanglah" Taehyung berusaha mendorong tubuh Jungkook.

Jungkook makin erat memeluk Taehyung. Meletakkan kepalanya di perpotongan pundak dan leher Taehyung. Jungkook seperti ketakutan. Taehyung harus melepaskan dirinya jika ingin menenangkan Jungkook.

"Ngh~" Taehyung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sungguh memalukan dia bisa mengeluarkan suara nista itu.

Salahkan Jungkook yang seenaknya bernafas di lehernya yang luar biasa sensitive itu. Taehyung tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengerang begitu hangat nafas Jungkook mengenaik titik sensitifnya itu.

"Ju-Jungkook-sshi, kumohon lepaskan aku" Taehyung mencicit penuh permohonan.

"Mereka akan menarikku, Taehyung. Mereka akan menarikku"

"Tidak. Mereka tak akan menarikmu. Tak ada yang akan menarikmu. Jadi lepaskan aku"

"Tidak tidak. Mereka akan menarikku"

"Tidak, aku janji. Aku tak akan biarkan mereka menarikmu atau membawamu kemanapun" entahlah tapi yang jelas Taehyung merasa dia harus mengatakan hal itu.

Jungkook melonggarkan pelukannya dan menatap Taehyung dalam. Taehyung yang ditatap seperti itu perlahan memundurkan kepalanya. "Kau benar. Mereka pergi"

Taehyung tersenyum kikuk. Kemudian perlahan melepaskan diri dari pelukan Jungkook. Terlepas. Tapi Jungkook malah memegang tangannya erat.

Taehyung kembali memundurkan kepalanya saat merasa Jungkook mendekatkan wajahnya. Mata kucing Taehyung melirik ke kedua perawat yang entah sejak kapan sudah pergi itu. Sedikit merutuki kedua sunbae-nya itu, Taehyung berusaha menjauhkan diri dari Jungkook.

"Mereka pergi karenamu"

"Be-benarkah? Kalau begitu baguslah" Taehyung memutuskan untuk menahan dada Jungkook.

"Kau janji padaku"

"Apa?"

"Janji akan datang jika mereka datang" Jungkook menatap Taehyung lekat.

"Le-lepaskan aku"

"Janji" paksa Jungkook.

"Baik baik. Aku janji akan datang jika mereka datang"

Jungkook tersenyum lebar kemudian memegang pipi Taehyung yang sedikit terluka karenanya. Tanpa sadar Taehyung meringis karena nyeri.

"Kau terluka? Karenaku?"

"Ya. Aku terluka karena kuku panjangmu itu" Taehyung berusaha bergurau. "Mau kupotongkan kukumu? Hanya agar kau tidak menyakiti seseorang lagi" tawarnya.

Jungkook diam kemudian menyodorkan tangan kanannya. Taehyung tersenyum kecil kemudian membaringkan tubuh Jungkook. Menaikkan kepala ranjang namja itu kemudian membuka laci meja nakas bungsu Jeon itu. Mengambil pemotong kuku lalu duduk di samping ranjang Jungkook.

"Aku akan memotongkan kukumu. Kau istirahatlah" ucap Taehyung sebelum memulai kegiatannya.

Jungkook memandang bagaimana seriusnya Taehyung memotongkan kukunya. Juga dengan penuh kelembutan Taehyung melakukannya. Tanpa sadar Jungkook terfokus pada bibir Taehyung. Melihat bagaimana bibir itu terkadang berkerut lucu kemudian tersenyum tipis.

"Tangan kirimu" Taehyung berucap tiba-tiba.

Jungkook menyodorkan tangan kirinya ke arah Taehyung. Taehyung dengan telaten memotong kembali kuku panjang Jungkook. Membuat Jungkook kembali memperhatikannya.

"Sebenarnya sudah berapa lama kau tidak memotong kukumu. Ini kotor sekali" Taehyung menggerutu.

Jungkook tersenyum miring. Namja itu kemudian menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Dia sedikit lelah hari ini. Tak butuh waktu lama untuk bisa tertidur dengan nyenyak. Untuk pertama kalinya semenjak Jungkook datang kesini, dia bisa tertidur dengan nyenyak tanpa perlu obat penenang.

Taehyung mendongak melihat Jungkook yang tak menunjukkan pergerakan. Senyumnya mengembang begitu melihat Jungkook bisa tertidur dengan tenang. Wajah tampannya yang terlihat damai membuat Taehyung semakin lega. Walau sedikit susah, tapi Taehyung berhasil membuat Jungkook tertidur dengan tenang tanpa perlu meminum obat terlebih dahulu.

Setelah menyelesaikan kegiatannya memotong kuku Jungkook, Taehyung menurunkan kepala ranjang namja tampan itu agar dia bisa tidur dengan nyaman. Taehyung tak lupa memasang aromaterapi yang selalu dibawanya kemana-mana. Diletakkannya itu di meja nakas Jungkook.

Taehyung selalu melakukan itu. Dia selalu meletakkan aromaterapi di meja nakas pasien yang ditanganinya. Saat di Daegu dulu juga begitu. Yoongi menyukai aromaterapi yang dibawanya. Namja pucat itu selalu tenang saat ada aromaterapi di dekatnya. Taehyung berharap Jungkook juga begitu.

Taehyung juga memastikan jendela kamar Jungkook terkunci. Setelah memastikan semuanya aman, barulah Taehyung bisa keluar dari kamar namja itu. Istirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Selanjutnya hari berlangsung begitu cepat hingga tak terasa jam kerjanya sudah hampir selesai.

"Taehyung-ah, biar aku yang melakukan patroli hari ini. Kau urus saja Jeon Jungkook. Dia belum makan malam.

"Mwo?! Aih, kalian ini selalu saja. Apa sulitnya hanya mengantarkan Jungkook makan malamnya?"

"Woaaa~ Kim Taehyung..kau bilang apa sulitnya? Itu sangat sulit Tae" ucap Sungyeol.

"Sulit jika kau membawa jarum suntik bersamamu hyung"

"Nah, kau yang paling tau jadi kau yang paling bisa untuk menanganinya. Cepatlah bawakan dia makanan sebelum dia kelaparan" ucap Sungyeol.

Taehyung hanya bisa menghela nafas pasrah. Jika sudah begini mau bagaimana lagi? Jungkook harus makan lalu meminum obatnya. Maka dengan sedikit menggerutu kepada perawat yang masih disana, Taehyung mengambil obat milik Jungkook lalu meminta makanan di bagian pantry.

Di perjalanan menuju ruangan Jungkook, Taehyung berpikir, bagaimana mereka merawat Jungkook selama ini? Bagaimana cara mereka memberikan makan dan obat pada namja itu? Dan…bagaimana sikap Jungkook pada mereka.

"Hah~ cepatlah sembuh total Jungkookie" gumam Taehyung sebelum memasuki ruangan Jungkook.

"Taehyung"

DEG!

Namja manis itu terperanjat kaget karena Jungkook tiba-tiba memanggilnya. Beruntung baki yang berisi makanan dan obat Jungkook tidak terjatuh. Walau sebenarnya tangannya sudah bergetar karena terkejut.

"Astaga Jungkookie, kau mengagetkanku" Taehyung tanpa sadar memanggil Jungkook dengan tambahan '-ie'. "A-ah, maafkan aku"

Jungkook tersenyum tulus, untuk yang pertama kali, "Tidak apa-apa. Hanya kau yang boleh memanggilku begitu"

Kening Taehyung berkedut kemudian namja itu tersenyum canggung. Sungguh, Taehyung masih belum bisa terbiasa dengan Jungkook yang dalam keadaan 'normal' seperti ini. Jangan tanyakan bagaimana Taehyung bisa tau kapan Jungkook mulai normal dan kapan penyakitnya kambuh.

"Kau…mimpi buruk? Kenapa berkeringat banyak begitu?" Tanya Taehyung kemudian meletakkan makanan Jungkook di meja nakas.

"Hanya sedikit olahraga" jawab namja berusia 19 tahun itu dengan enteng.

"Kau suka olahraga?" Taehyung terkejut dengan fakta yang baru saja diketahuinya.

Jungkook mengangguk kalem, "Sejak dulu aku rutin berolahraga. Begitu pun sampai saat ini. Hanya saja aku baru bisa berolahraga saat malam hari. Saat mereka tidak mendatangiku" terangnya.

Taehyung tau siapa 'mereka' yang dimaksud Jungkook. Jadi namja manis itu hanya mengangguk maklum. Mata kucingnya kembali memandang Jungkook. Akan sangat aneh jika namja tampan itu makan dengan keadaan berkeringat begini.

"Kau mau mandi dulu? Setelah itu makan malam dan istirahat" tawar Taehyung.

Jungkook sedari tadi memandangi Taehyung lekat. Hal itu membuat Taehyung sesak nafas. Ada sedikit perasaan takut akan tatapan Jungkook padanya. Hanya sedikit, karena Taehyung tau tatapan itu bukan tatapan seperti Yoongi biasa menatapnya. Entahlah.

"Hanya mandi, makan dan minum obat kan? Tidak ada hal lain"

Taehyung tertawa, "Tidak Jungkook. Hanya mandi, makan, minum obat lalu istirahat. Aku tidak akan menyuntikmu apapun yang terjadi"

"Kalau begitu ayo" Jungkook turun lalu menarik tangan Taehyung.

"Mw-mwo?! Kemana? Ya! Jungkook!" seru Taehyung panik.

"Mandi"

.

.

"Kim Taehyung-sshi" Taehyung baru saja bersiap untuk pulang saat Dokter Jung memanggilnya.

"Ah! Dokter Jung. Annyeong haseyo" Taehyung sontak membungkukkan badannya begitu melihat sang kepala rumah sakit.

"Bisa ke ruanganku sekarang?"

Taehyung mengangguk. Mengikuti sang dokter senior dengan kepala yang penuh tanda tanya. Taehyung tak tau kenapa tiba-tiba dokter berusia sekitar lima puluhan itu memanggilnya. Hingga tak terasa dia sampai di ruangan kepala rumah sakit.

"Duduklah. Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu"

"A-apa itu, dokter?"

"Maaf mengatakan ini, tapi..bisakah kau yang menangani Jeon Jungkook untuk seterusnya?"

Taehyung diam. Dia merasa dejavu. Ini seperti saat pertama kali dia ditugaskan di Daegu. Begitu dia lulus dan bekerja di rumah sakit jiwa Daegu, Dokter Kang juga meminta hal yang sama. Menangani Min Yoongi.

"Dokter tapi"

"Kumohon Taehyung-sshi. Aku melihat Jungkook bisa mudah tenang jika bersamamu. Kau bisa membuatnya tenang. Kau tau penanganan yang tepat untuk Jeon Jungkook"

Tiba-tiba Taehyung merasa takut. Dia takut jika nantinya hal itu terjadi lagi. Taehyung takut jika Jungkook juga jadi terobsesi padanya. Cukup Min Yoongi saja yang terobsesi padanya. Taehyung tak ingin jadi obyek obsesi orang lain lagi, sungguh.

"A-aku…aku mau jika Jungkook sendiri yang memintanya" Taehyung menelan salivanya. Rasanya mengatakan hal itu saja kerongkongannya kering.

"Baiklah kalau begitu. Kurasa Jeon Jungkook akan setuju" Dokter Kang tersenyum. "Kau bisa pergi. Istirahatlah"

"Ne dokter. Aku pergi dulu" Taehyung berdiri kemudian membungkukkan badannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Taehyung keluar dari ruangannya. Salahkan Jungkook yang tidak ingin dia pergi sebelum namja itu bisa terlelap. Setelah menemani Jungkook mandi dan menyuapi namja yang ternyata lebih tinggi 2 senti darinya itu Taehyung sibuk bercerita pada Jungkook. Jungkook baru tertidur tenang sekitar pukul 10.40.

Banyak hal yang baru diketahui Taehyung tentang Jungkook hari ini. Saat mandi tadi Jungkook bicara banyak padanya, Taehyung menduga itu agar 'mereka' tidak datang. Taehyung melihat badan kekar Jungkook, perut kotak, dada bidang, punggung lebar, pundak kokoh dan semua tubuh bagian atas namja itu. Jungkook juga tertawa lepas saat dia menceritakan masa kecilnya.

Tanpa sadar Taehyung tersenyum mengingat hal itu. Namja dengan tinggi 177 cm itu merentangkan tangannya. Merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku dan lelah. Taehyung bersiap melangkah menuju apartemennya saat tiba-tiba ponselnya bergetar.

"Yoboseyo Minjae-ah" Taehyung tersenyum lebar begitu mendengar suara Minjae.

/"Hyung apa kau sibuk?"/

"Aniya. Waeyo?"

/"Baguslah. Dokter Kang ingin bicara denganmu"/

Taehyung mengerutkan keningnya. Dokter Kang? Ada apa? Dan..kenapa terdengar ramai sekali?

/"Taehyung-sshi. Kau sibuk?"/

"Aa-aniya dokter. Ada apa?"

/"Apa yang kau lakukan untuk menenangkan Min Yoongi?"/

"Hah? Me-menenangkan Min Yoongi? Ada masalah apa dokter?" mendadak Taehyung panic.

Terdengar suara teriakan di seberang telepon sebelum suara dokter Kang. /"Min Yoongi marah saat mengetahui kau tak ada. Kami bisa menanganinya selama satu minggu ini. Tapi malam ini dia mengamuk hebat saat tau kau pindah tugas. Aku…argh! Aku tak tau bagaimana lagi caranya menenangkannya"/

Taehyung tertegun. Firasatnya sebelum pergi membuahkan hasil. Min Yoongi mengamuk begitu tau dia pindah tugas. Dia takut namja itu akan menyakiti perawat yang lain.

"To-tolong loudspeaker telepon ini. Aku akan bicara padanya"

/"Hah? Baiklah"/

Taehyung bisa mendengar degupan jantungnya yang gugup. Dia takut Yoongi makin menjadi jika mendengar suaranya.

"Yo-yoboseyo Yoongi-sshi. Kau bisa mendengarku?"

Suara gaduh yang didengar Taehyung sedari tadi berangsur menghilang. Dia hanya mendengar suara gemeratak seperti ponsel yang dirampas. Selanjutnya namja Kim itu bisa mendengar suara berat Yoongi memanggilnya.

/"Kim. Taehyung"/

"Ne. Ini aku, Kim Taehyung"

/"Taehyung! Taehyung! Kim Taehyung!"/

"Apa kau menyakiti perawat lain? Apa kau kembali seperti dulu?"

/"Tidak. Tidak jika ada kau"/

"Aku akan membencimu jika kau menyakiti perawat-perawat disana" Taehyung tak punya cara lain selain mengancam Yoongi.

/"Tidak! Jangan. Jangan membenciku"/

"Jangan menyakiti mereka kumohon. Aku tak mau kau dianggap monster jika kau menyakiti mereka" Taehyung rasanya ingin menangis karena khawatir dengan perawat-perawat disana. Yoongi itu sangat berbahaya, sungguh.

/"Kembalilah kemari. Kau. Kau tak perlu kesana"/

Taehyung memucat saat mendengar suara Yoongi menggelap. Hampir dua tahun lebih mengenal dan menangani Yoongi membuat Taehyung tau saat sisi gelap Yoongi mulai menguasai. Seperti hari ini.

"Tidak. Jangan berbuat macam-macam Min Yoongi-sshi"

/"Datang kemari. Kalau tidak maka kau akan menerima paket berisi kepala salah satu perawat disini"/

"ANDWAE!" Taehyung menjerit tanpa sadar. "Jangan. Jangan lakukan apapun kumohon" suaranya mulai bergetar.

Taehyung menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan sesuatu. Sesuatu yang entah akan disesalinya atau tidak. "Baiklah. Akhir minggu ini aku akan datang. Aku akan kesana jadi jangan melakukan apapun yang membahayakan. Kumohon"

/"Akhir minggu. Baiklah"/

Taehyung langsung merosot begitu Yoongi memutus sambungan teleponnya. Tanpa sadar air matanya menetes saking ketakutannya dia dengan Min Yoongi. Taehyung akhirnya menyadari satu hal. Dia tak akan bisa lepas dari Min Yoongi dengan mudah. Lebih tepatnya namja itu tidak akan melepaskannya.

.

.

.

TBC

Kyaaaa~

Maafkan diriku~~~ baru sempet update dan hasilnya hancur banget kayak gini u,u … aku lagi persiapan sebuah acara besar jadinya waktunya kesita buat persiapan. Tapi setelah acaranya selesai aku usahakan bisa update cepet kalau dosenku ngga ngasih tugas ^^

Okey, terima kasih banget buat yang udah review, fav, dan follow cerita ini. Aku seneng banget kalian suka sama cerita absurd *uhuk* ini. Bahkan ada yang nanyain terus di wattpad huehehehe..

Sebisa mungkin dalam satu bulan sekali aku bakal update tapi kalau belum update juga, silahkan teror diriku xD

Okey, sekali lagi makasiiiiiiihhhh~

So, wanna give me some review?

Big love, clou3elf