Light On My Darkness
Chapter 4
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
/"Kim. Taehyung"/
"Ne. Ini aku, Kim Taehyung"
/"Taehyung! Taehyung! Kim Taehyung!"/
"Apa kau menyakiti perawat lain? Apa kau kembali seperti dulu?"
/"Tidak. Tidak jika ada kau"/
"Aku akan membencimu jika kau menyakiti perawat-perawat disana" Taehyung tak punya cara lain selain mengancam Yoongi.
/"Tidak! Jangan. Jangan membenciku"/
"Jangan menyakiti mereka kumohon. Aku tak mau kau dianggap monster jika kau menyakiti mereka" Taehyung rasanya ingin menangis karena khawatir dengan perawat-perawat disana. Yoongi itu sangat berbahaya, sungguh.
/"Kembalilah kemari. Kau. Kau tak perlu kesana"/
Taehyung memucat saat mendengar suara Yoongi menggelap. Hampir dua tahun lebih mengenal dan menangani Yoongi membuat Taehyung tau saat sisi gelap Yoongi mulai menguasai. Seperti hari ini.
"Tidak. Jangan berbuat macam-macam Min Yoongi-sshi"
/"Datang kemari. Kalau tidak maka kau akan menerima paket berisi kepala salah satu perawat disini"/
"ANDWAE!" Taehyung menjerit tanpa sadar. "Jangan. Jangan lakukan apapun kumohon" suaranya mulai bergetar.
Taehyung menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan sesuatu. Sesuatu yang entah akan disesalinya atau tidak. "Baiklah. Akhir minggu ini aku akan datang. Aku akan kesana jadi jangan melakukan apapun yang membahayakan. Kumohon"
/"Akhir minggu. Baiklah"/
Taehyung langsung merosot begitu Yoongi memutus sambungan teleponnya. Tanpa sadar air matanya menetes saking ketakutannya dia dengan Min Yoongi. Taehyung akhirnya menyadari satu hal. Dia tak akan bisa lepas dari Min Yoongi dengan mudah. Lebih tepatnya namja itu tidak akan melepaskannya.
.
.
~Chapter Four~~
.
.
Pagi harinya Taehyung terbangun dengan kepala yang pusing luar biasa. Semalam dia tak dapat tidur. Setelah mandi Taehyung hanya berbaring sambil berguling-guling gelisah. Untung saja dia tinggal sendirian di kamar asrama. Jika tidak mungkin namja itu akan mengganggu roommate-nya.
Tepat pukul 6 pagi Taehyung bangkit dari ranjangnya. Berjalan menuju kamar mandi. Dia berniat membasuh wajahnya di wastafel. Taehyung menghela nafas begitu melihat penampilannya.
"Bisa kupastikan kau akan menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa itu Kim Taehyung" gumamnya.
Penampilan Taehyung pagi ini sangat mengerikan, setidaknya itu menurutnya. Lingkaran hitam di bawah matanya. Rambut yang acak-acakan dan wajah yang luar biasa kusut. Benar-benar jauh dari penampilan Kim Taehyung biasanya.
"Baiklah. Saatnya bekerja. Lupakan Min Yoongi, Kim Taehyung. Kau harus melupakannya" Taehyung memejamkan matanya dan berulang kali menarik nafas panjang.
Setelah beberapa menit melakukan itu, Taehyung langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mandi dan kemudian segera bersiap. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi perawat Jeon Jungkook, tentu jika namja itu menyetujuinya.
Tepat pukul 6.30 Taehyung berangkat ke rumah sakit. Kali ini dia benar-benar kehilangan sebagian semangatnya. Setengah hati Taehyung datang ke tempatnya bekerja.
Namja manis itu berjalan sambil menendang batu-batuan kecil. Wajahnya kusut. Sesekali Taehyung mengerucutkan bibirnya sebal. Kedua namja itu benar-benar membuatnya nyaris frustrasi. Siapa lagi jika bukan Min Yoongi dan Jeon Jungkook.
"Jika kejadian seperti ini terjadi lagi, aku akan berhenti" gumamnya.
"Kejadian apa?" Taehyung terperanjat saat mendengar sebuah suara berat di sebelahnya. Sontak Taehyung menoleh.
Orang itu tertawa melihat wajah menggemaskan Taehyung saat terkejut. Begitu tau bahwa orang itu adalah orang yang dikenalnya, Taehyung langsung memukul orang di depannya.
"Ya! Kau mengejutkanku, Namjoon-sshi" yeah, orang itu adalah Kim Namjoon. "Sedang apa kau berkeliaran disini?" Tanya Taehyung setelah berhasil menetralkan degup jantungnya.
"Aku? Aku hendak pergi ke kedai kopi sambil menunggu jam besuk" Namjoon menjawab setelah meredakan tawanya.
"Ah~ kenapa tidak langsung datang saja? Kurasa perawat disana tidak akan keberatan kau menjenguk Nami lebih awal"
Namjoon terkekeh kemudian mengacak rambut halus Taehyung, "Tidak apa. Aku ini orang yang menaati peraturan tau"
Taehyung mencibir, "Baiklah. Sepertinya kau melewati kedai kopi tujuanmu dan berakhir mengantarku sampai gerbang rumah sakit" candanya.
"Aigo! Kau benar, kedai kopinya terlewat" mereka berdua tertawa.
"Kau jadi seperti mengantarku bekerja" gurau Taehyung. "Baiklah aku masuk dulu"
"Aku tak keberatan mengantar malaikat manis sepertimu" gumam Namjoon.
"Apa?"
Namjoon menggeleng, "Tidak. Selamat bekerja dan..aku titip Nami"
Taehyung mengacungkan jempolnya kemudian melangkah masuk. Tidak melihat ekspresi dan tatapan lembut Namjoon padanya. Taehyung melangkah dengan santai memasuki halaman rumah sakit.
Melihat Taehyung sudah masuk, Namjoon langsung berbalik menuju penginapannya. Bohong saat namja berdimple itu berkata hendak pergi ke kedai kopi. Namja Kim itu sengaja menyusul Taehyung saat melihat Taehyung melintasi tempat penginapannya.
Namjoon bahkan masih memakai piyama di balik coat panjangnya. Namjoon masih sempat menyambar celana dan sepatunya sebelum menyusul Taehyung. Beruntung penampilannya tidak buruk jadi Taehyung percaya saat dia mengatakan hendak ke kedai kopi.
Jangan bertanya pada Kim Namjoon kenapa dia bisa langsung bergerak menyambar celana, coat, dan sepatunya demi menyusul Taehyung. Namjoon tak tau kenapa tubuhnya bergerak reflek seperti itu saat melihat wajah kusut malaikat manis-nya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung yang sedang berjalan itu sontak menoleh ke kiri saat merasakan sepasang mata yang mengawasinya. Itu Jungkook. Taehyung ingat jika kamar Jungkook memiliki jendela yang menghadap halaman rumah sakit.
Perawat berusia 21 tahun itu melambaikan tangannya ke arah Jungkook. Dibalas lambaian juga oleh namja yang bersangkutan. Jungkook tersenyum manis. Memamerkan gigi kelinci yang menurut Taehyung sangat menggemaskan itu.
Taehyung melesat menuju ruangannya. Dia harus segera siap-siap. Dia yakin Jungkook belum membersihkan diri dan belum makan.
"Taehyung-ah…pasien Jeon belum sarapan"
Nah kan. Taehyung tersenyum.
"Baiklah akan kuurus dia"
Taehyung langsung mengambil makanan dan juga obat-obatan milik Jungkook. Mengantongi ponsel dan meletakkan tasnya.
Perawat manis itu berjalan menuju ruangan Jungkook. Jungkook langsung menoleh waspada begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Sikap waspadanya melunak begitu melihat ternyata Taehyung yang masuk.
"A-apa..apa aku mengejutkanmu?"
"Sedikit" Jungkook menjawab datar. "Kenapa baru datang?"
"Jadwalku memang dimulai jam 7 pagi Jungkookie. Lagipula bukankah banyak perawat yang sudah stay disini?" Tanya Taehyung.
Jungkook menggeleng, "Aku hanya mau Taehyung. Selain itu aku tak mau"
"Eh? Wae? Bukankah mereka juga baik?"
"Tidak. Mereka semua jahat. Hanya kau yang baik"
Taehyung diam. Sepertinya tanpa ditanya pun Jungkook sudah menjawab bahwa dia hanya ingin Taehyung. Lalu, apa yang bisa dilakukan namja ini.
"Baiklah, kajja kau harus mandi sekarang" ujar Taehyung.
Jungkook hanya mengangguk. Tangannya langsung meraih tangan Taehyung lalu menariknya menuju kamar mandi. Taehyung hanya menurut. Toh, percuma saja jika dia memaksakan diri untuk melepaskan pegangan Jungkook padanya.
Namja yang lebih muda mulai membuka pakaiannya kemudian terduduk di bawah shower. Jungkook tak melakukan apapun selain duduk sambil memeluk lututnya. Matanya kembali kosong. Taehyung jadi was-was.
"Jungkookie…biar kuambilkan handuk untukmu" ucap Taehyung seraya menyentuh puncak kepala Jungkook.
Taehyung segera keluar dari kamar mandi. Dia tak tau jika Jungkook memandangnya tajam. Ada kilat ketakutan dalam pancaran binar hitam Jungkook.
"Tae" lirih Jungkook. Namja itu semakin merapatkan dirinya.
Matanya mengedar ke seluruh ruangan. Jungkook mulai merasa khawatir.
'Kau sendiri?'
Mendengar suara itu, sontak Jungkook berdiri. Tak sengaja lengannya menyentuh tombol shower.
Srash!
"Hyaa! AAA! Menjauh! Tidak! Jangan tenggelamkan!" Jungkook bergerak seakan menepis air. Tentu saja itu tak akan berhasil.
Jungkook terus berteriak sambil menghalau air yang mengenai tubuhnya. Tak berapa lama kemudian Taehyung akhirnya datang.
"Jungkookie! Jeon Jungkook!" Taehyung berusaha menyadarkan Jungkook.
Mau tak mau Taehyung ikut terkena guyuran shower. Sekuat tenaga Taehyung memegang Jungkook. Bahkan namja itu mengabaikan tangannya yang beberapa kali terbentur dinding karena tepisan Jungkook yang kuat. Taehyung sepenuhnya lupa jika dia harus mematikan shower yang masih mengalirkan air itu.
"Jungkook! Hey, tenang"
Hap!
Taehyung akhirnya berhasil memegangi kedua pergelangan tangan Jungkook. Atensi Jungkook kini sudah terpusat padanya. Mata hitam Jungkook masih bergerak-gerak tak focus.
"Jungkook" Taehyung berucap lembut. Akhirnya mata Jungkook sudah kembali pada fokusannya.
"Taehyung..mereka datang..mereka"
"Ssshh, tidak ada yang datang. Kajja, aku akan memandikanmu"
Jungkook menurut.
.
.
Setelah mengganti pakaian Jungkook, Taehyung mendudukkan namja itu di tepi ranjang. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut hitam Jungkook dengan handuk yang diambilnya tadi. Mata Jungkook terfokus pada wajah Taehyung yang sedikit lebih tinggi karena posisi mereka.
"Taehyung-sshi, kenapa bajumu basah?" sebuah suara membuat Jungkook terkejut dan reflek memeluk pinggang Taehyung.
"Ah, Dokter Jung" Taehyung berusaha membalikkan tubuhnya menghadap sang kepala rumah sakit. Sayangnya Jungkook terlalu takut untuk melepas pelukannya.
"Apa aku mengejutkannya?" Tanya Dokter Jung,
"Sejujurnya, ya dokter. Kau mengejutkan kami. Jungkook tak biasa dengan suara yang tiba-tiba datang"
Sang dokter tersenyum simpul, "Baiklah maafkan aku Jungkook-sshi". Dokter Jung berjalan mendekati mereka berdua. Menyentuh kepala Jungkook dan mengelusnya pelan.
Jungkook menepis tangan dokter senior itu kemudian merapatkan dirinya pada Taehyung. Pemimpin rumah sakit itu tersenyum maklum. Perhatiannya terarah pada Taehyung yang tampak berusaha bergerak untuk menenangkan Jungkook.
"Apa dia baru saja berhalusinasi?" Tanya sang dokter.
"Eum, pagi ini dia kembali berhalusinasi tentang orang-orang berjubah hitam yang akan menyakitinya" Taehyung tanpa sadar mengelus puncak kepala Jungkook.
"Tanpa bertanya pun aku sudah menemukan jawabannya. Jeon Jungkook membutuhkanmu Kim Taehyung" dokter Jung menepuk pundak Taehyung.
PUK! PUK! PUK!
Jungkook sedikit melirik ke sumber suara. Matanya memicing tajam. Menurut penglihatannya, dokter Jung seakan memukuli pundak Taehyung.
SRET~
"A-AKH!"
Pergerakan Jungkook sangat cepat. Tiba-tiba saja dia sudah meraih tangan dokter Jung dan meremasnya kuat. Seakan-akan namja itu berniat untuk meremukkan tangan sang dokter.
"Ju-Jungkook..hentikan" Taehyung segera meraih tangan Jungkook. Menjauhkan tangan Jungkook agar tidak bisa lagi meraih tangan dokter Jung.
"Dia memukuli Taetae" Jungkook berdesis berbahaya. Matanya menatap sang dokter dengan tajam.
"Hey, tidak ada yang memukuliku. Dokter Jung hanya memberi semangat" Taehyung berusaha memberi pengertian pada Jungkook.
Jungkook tidak bergerak pada posisinya. Dia hanya menatap dokter Jung yang memegangi tangannya.
"Jungkookie dengarkan, ne. Dokter Jung kemari untuk memintaku mengurusi Jungkook" Taehyung masih mempertahankan suaranya walaupun dia sebenarnya sudah panic dengan reaksi Jungkook. Dia hanya takut Jungkook tiba-tiba menyerang dokter Jung.
Secara perlahan Jungkook menatap Taehyung. Aura hitamnya pun perlahan memudar. "Benarkah? Taehyung akan mengurusku?"
Taehyung tersenyum lalu mengangguk, "Ne! Makanya kau harus bersikap baik pada Dokter Jung. Kalau tidak, Jungkook tidak akan bertemu denganku lagi"
Niat awal Taehyung mengatakan hal itu adalah hanya untuk membuat Jungkook bersikap baik pada Dokter Jung. Tapi Jungkook mungkin berpikir itu sama saja dengan ancaman untuk menjauhkan Taehyung darinya.
Grep~
Taehyung sedikit terhuyung saat mendadak Jungkook menariknya hingga berakhir sang perawat itu terduduk di pangkuan Jungkook. Mata hitam Jungkook kembali menyorot tajam ke arah sang dokter.
"Tidak seorangpun yang bisa membuat Taehyung jauh dariku" desisnya.
"Jadi, apa Jungkook benar-benar ingin Taehyung yang mengurusmu?"
"Tentu saja" ucap Jungkook cepat. Bahkan saat sang dokter baru saja menutup mulutnya.
Taehyung menunduk. Ini bahkan lebih parah, menurutnya. Jungkook tak bisa jika bukan dengannya. Tapi setidaknya Jungkook tidak semenakutkan Yoongi.
DEG!
Taehyung menegang saat mengingat nama Min Yoongi. Seketika namja manis itu jadi teringat ponselnya yang berada di dalam saku dan…basah. Sebisa mungkin Taehyung berusaha mengambil ponselnya tanpa membuat Jungkook terkejut dengan pergerakannya.
'Omo! Ponselku basah' pekik Taehyung dalam hati. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya, kalut.
"Taehyung"
Suara Jungkook membuat Taehyung tersadar dari umpatan-umpatan dalam hatinya. "Y-ya?"
"Aku lapar"
Taehyung mengerjapkan matanya. Memproses segala ucapan Jungkook. Saat itulah dia ingat jika Jungkook belum sempat memakan makanannya. Dan sekarang sudah pukul 8.30. Baiklah, Taehyung bersalah disini.
"Omo! Maafkan aku Jungkookie" Taehyung akhirnya bangkit dari posisinya. Dia tadi masih berada di pangkuan Jungkook, ingat?
Taehyung meringis saat menyadari bahwa dokter Jung sudah pergi entah kemana. Sebenarnya se-khidmat apa Taehyung tadi saat melamun. Jungkook hanya memandangi namja di depannya.
Sang perawat dari Daegu itu segera mengambil makanan yang sudah disiapkannya di meja nakas. Untunglah makanan itu masih hangat. Setidaknya masih layak dimakan.
"Nah, kau lapar kan? Kajja makan" Taehyung sedikit ragu saat menyodorkan piring itu pada Jungkook. "Kau..mau disuapi atau.."
"Suapi saja" ucap Jungkook langsung.
Taehyung tersenyum kemudian mendudukkan dirinya di samping Jungkook. Jungkook menggeser posisinya agar Taehyung lebih mudah untuk menyuapinya. Dengan penuh kelembutan, Taehyung menyuapi namja Jeon itu.
Jungkook memakan makanannya dengan tenang. Tanpa melepas pandangannya pada Taehyung. Entah mengapa namja itu merasa tenang saat Taehyung berada di dekatnya. Tak ada lagi makhluk berjubah hitam yang terus mengusiknya selama beberapa tahun ini.
"AH! Aku lupa membawakanmu minum. Tunggu sebentar disini, ne" baru saja Taehyung bangkit tapi Jungkook sudah mencekal tangannya.
Taehyung kembali menutup mulutnya saat melihat raut ketakutan di wajah Jungkook. Padahal Taehyung hanya bilang untuk menunggu sebentar tapi Jungkook sudah setakut ini. Namja itu jadi bingung bagaimana menghadapi Jungkook.
"Kau..mau ikut?" Taehyung mencoba menawarkan sesuatu.
Jungkook mengangguk kuat. Kemanapun asal itu dengan Taehyung. Taehyung kembali duduk lalu melanjutkan kegiatannya menyuapi Jungkook.
"Habiskan makananmu setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan di sekitar rumah sakit" ucap Taehyung.
Lima menit kemudian Jungkook sudah menyelesaikan makannya. Taehyung segera membereskan kamar Jungkook dan merapikan penampilan namja itu. Setelah itu mereka pergi keluar. Tentu saja setelah Jungkook minum obat di ruangan perawat.
.
.
Taehyung mengajak Jungkook jalan-jalan di halaman belakang rumah sakit. Halaman rumah sakit sedikit sepi, karena itulah Taehyung membawa namja itu kemari. Namja Kim itu tak yakin Jungkook akan baik-baik saja saat berada di keramaian. Suatu saat Taehyung akan membawa Jungkook ke keramaian, tentu saja bertahap.
"Kau suka?" Tanya Taehyung.
Jungkook tersenyum lebar kemudian mengangguk. Taehyung bisa melihat betapa namja itu sangat menikmati waktu di halaman belakang. Sang perawat berpikir mungkin Jungkook bosan berada di dalam kamarnya terus menerus.
Ah, ngomong-ngomong, sedari tadi tangan Jungkook menggenggam erat tangan Taehyung. Seakan-akan tidak mengijinkan Taehyung jauh darinya.
Taehyung juga sesekali menceritakan sesuatu pada Jungkook. Cerita apapun. Cerita yang menarik yang sekiranya bisa membuat Jungkook senang.
"Taehyung" seseorang memanggilnya. Reflek Jungkook dan Taehyung menoleh.
"Namjoon-sshi" Taehyung tersenyum gugup. Tangan Jungkook sedikit bergetar. Boleh Taehyung waspada sekarang?
Namjoon berjalan mendekati kedua namja itu. Jungkook langsung memandang namja itu dengan tajam. Taehyung beberapa kali mencoba untuk menyuruh Namjoon pergi, tentu saja dengan bahasa isyarat. Tapi entah Namjoon tidak mengetahuinya atau memang tidak perduli, namja itu berjalan dengan tenang ke arah mereka berdua.
"Kau. Siapa?" Tanya Jungkook dingin.
"Jungkook.."
"Kim Namjoon. Teman Taehyung" Mata Jungkook menggelap.
Teman. Kata itu pernah sangat akrab di telinga Jungkook. Tapi beberapa tahun ini Jungkook membenci nama itu. 'Temannya' mengkhianatinya. Menyuruhnya membunuh ayahnya dan menyakiti ibunya lalu mengganggunya.
"Namjoon-sshi..jangan mendekat, kumohon" Taehyung sudah memohon dengan sangat.
"Dia Jeon Jungkook kan? Monster yang kau ceritakan"
BUGH!
Baru saja Namjoon menyelesaikan ucapannya, secepat itu juga Jungkook menerjang namja berlesung pipi itu. Memukul dengan kekuatan yang tidak main-main. Membuat Taehyung harus berusaha sendirian menenangkan Jungkook.
'Dia menyebutmu monster. Dan kau akan jadi monster sekarang juga. Taehyung akan meninggalkanmu. Dia tak ingin dekat dengan monster' Jungkook mendengar ucapan itu. Itu membuatnya semakin beringas memukul Namjoon.
"Jungkook. Hentikan"
Sret~
Taehyung berhasil menarik Jungkook saat hidung Namjoon sudah mengeluarkan banyak darah. Sang perawat itu hendak menolong Namjoon tapi Jungkook langsung menahannya.
"Siapapun tolong!" Taehyung akhirnya berteriak meminta tolong. Namjoon harus segera ditangani tapi Taehyung dalam kondisi yang terjepit.
Jungkook hendak memukul Namjoon lagi. Secepatnya Taehyung berbalik menghalangi. Taehyung memeluk Jungkook seraya menepuk punggung tegap namja itu.
"Kau harus melawan. Jangan biarkan mereka menguasaimu" bisik Taehyung.
"Mereka menggangguku. Menyebutku monster" Jungkook memeluk Taehyung dengan erat.
Taehyung melihat dua orang perawat yang memapah Namjoon menuju ruangan perawat. Seketika dia merasa bersalah. Walau bukan dia yang melakukan, tapi Jungkook adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Maafkan aku"
.
.
Jungkook duduk di bangku tangan sambil memeluk lututnya. Tubuhnya bergetar ketakutan. Taehyung pergi mengambilkan minuman sambil melihat keadaan Namjoon.
"Taehyung..Taehyung"
"Jungkookie"
Jungkook langsung berbalik begitu mendengar suara Taehyung. Tangannya langsung meraih tangan Taehyung dan menggenggamnya erat. Taehyung sendiri langsung mendudukkan dirinya di samping Jungkook.
"Aku takut" lirih Jungkook sambil memeluk Taehyung dari samping. Menumpukan dagunya pada pundak perawatnya.
Taehyung menepuk lengan Jungkook lembut, "Tidak ada yang perlu ditakutkan"
Jungkook memandang Taehyung dari samping. Memperhatikan garis rahang tegas milik Taehyung dan ketampanan yang cenderung cantik. Dalam hati Jungkook mengakui jika Taehyung itu cantik, sempurna.
"Taehyung…cantik" lirihnya.
"Apa?" Taehyung menoleh untuk memandang Jungkook.
Seketika perawat itu menyesali perbuatan tiba-tibanya itu. Pasalnya wajah mereka berdua jadi sangat dekat. Bahkan Taehyung bisa merasakan hembusan nafas Jungkook di wajahnya.
Pandangan Jungkook jatuh pada satu titik. Awalnya Taehyung tak tau kemana arah pandang kedua kelereng hitam itu. Setelah beberapa saat barulah namja itu tersadar. Jungkook terpaku pada bibirnya.
Dengan terpatah-patah, Taehyung memalingkan mukanya. Jungkook masih tak melakukan apapun. Pandangannya masih menyorot tajam pada rahang Taehyung.
Jantung sang perawat berdegup dengan kencang. Entah kenapa tatapan Jungkook membuatnya berdebar. Taehyung sedikit takut, rasanya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Daegu,
"Yoongi-sshi, ini makananmu. Kau..mau makan sendiri atau kusuapi?" Tanya seorang perawat bernama Kim Yoora
"Pergi"
Satu kata mematikan dari namja berkulit pucat itu membuat perawat cantik itu beringsut mundur. Setiap kata yang terucap dari mulut Yoongi itu mutlak. Karena jika ucapannya dibantah, maka orang yang membantahnya akan mendapat luka.
Pernah beberapa waktu lalu. Perawat yang bertugas merawat Min Yoongi hari itu membawa makan siang untuk namja itu. Yoongi juga memintanya untuk pergi, tapi perawat itu tetap memaksa untuk menyuapinya. Alhasil saat perawat itu mendekat, Yoongi menendangnya sekuat tenaga. Dua kali.
Efeknya cukup parah. Kaki dan wajahnya membiru. Yoongi menendang tulang kering sang perawat hingga terjatuh kemudian menendang wajahnya hingga terpental.
"Aku mau Kim Taehyung" selalu itu ucapan Yoongi.
Sebenarnya perawat-perawat disana sudah ingin memberitahu Taehyung. Tapi dokter Kang melarang. Karena Taehyung di Busan juga merawat seseorang yang cukup berbahaya, walau tak separah Yoongi.
Min Yoongi hanya memandang ke arah pintu kamarnya. Kemudian melirik pengharum aromatherapy yang dipasang Taehyung. Benda itu sudah tak berfungsi lagi. Dan Yoongi tak ingin siapapun menggantinya kecuali Taehyung.
Akhir minggu tinggal dua hari lagi. Yoongi akan menunggu Taehyung datang kemudian mengikat namja itu agar tidak bisa kembali ke Busan. Taehyung miliknya dan tak akan ada yang bisa memisahkannya dengan namja itu.
Yoongi sudah memiliki rencana khusus yang dia siapkan untuk Taehyung. Lihatlah betapa spesialnya Taehyung baginya hingga membuat Min Yoongi mau bersusah payah memikirkan cara untuk membuat Taehyung tetap disisinya.
Yoongi tersenyum miring memikirkan rencananya. Dia yakin rencana itu akan berhasil. Min Yoongi tak pernah gagal. Lolos dari kepolisian dan menjadi penghuni rumah sakit jiwa saja dia berhasil, mana mungkin dia gagal mendapatkan Kim Taehyung.
"Kim Taehyung. Kau milikku"
.
.
Light On My Darkness
.
.
Busan,
Taehyung merasa perutnya melilit. Perasaannya tak enak. Mata kucingnya melirik Jungkook yang sedang berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Jungkook terlihat semakin tampan saat terkena piasan matahari.
"Jungkookie tidak lelah?"
Jungkook memandang Taehyung dengan lembut, "Kau lelah?" tanyanya.
"Aku? Tidak. Aku hanya bertanya"
Tiba-tiba Jungkook berjongkok di depannya. Taehyung sedikit mengernyit kebingungan. Kepalanya menoleh kanan kiri demi memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
"Kenapa?"
"Taehyung naiklah. Aku ingin menggendongmu"
"Eh? Tapi-"
"Naik saja"
Taehyung bimbang. Haruskah dia naik di punggung namja tampan ini? Walau Jungkook baik-baik saja, tapi tetap saja Taehyung takut menyakitinya. Status Jungkook disini pasien.
Namja manis itu tak punya kuasa menolak saat Jungkook menarik tangannya hingga berakhir menubruk punggung lebar itu.
"Kau yakin?" Taehyung bertanya ragu.
"Aku yakin"
Taehyung tak punya pilihan lain selain menurutinya. Dengan sedikit ragu Taehyung melingkarkan tangannya pada leher Jungkook. Setelah dirasa siap, Jungkook berdiri.
"Kau bisa menurunkanku kalau aku berat"
"Kau ringan. Apa kau makan dengan baik? Kenapa ringan sekali?"
"Kau meledekku?" protes Taehyung tanpa sadar.
Jungkook tertawa kecil. Taehyung senang mendengar suara tawa itu. Itu pertanda namja tampan itu seperti remaja pada umumnya. Tanpa embel-embel 'pengidap Skizofrenia' di belakang namanya.
"Taehyung"
"Eum?"
"Kalau aku benar-benar sembuh. Kalau orang-orang berjubah hitam itu tak lagi menggangguku. Apa kau mau tetap jadi temanku?" Tanya Jungkook penuh arti.
Taehyung tersenyum mendengarnya, "Tentu saja. Aku akan tetap menjadi teman Jeon Jungkook. Seberapa lamanya pun kau sembuh, aku tetap akan menjadi temanmu" Taehyung menyandarkan dagunya di pundak Jungkook.
Jungkook menoleh dan mengecup pipi Taehyung. Membuat perawat itu membatu.
"Aku senang mendengarnya"
Jungkook berjalan santai menuju kamar rawatnya. Tak tau jika mati-matian Taehyung merutuk dalam hati.
.
.
TBC
.
.
Adakah yang menunggu ini? *enggak*
Maafkan~ sekali lagi maafkan keterlambatan ini. Saya sadar sekali ini sudah lama ngga apdet dan sekalinya apdet malah….*lirik chapter 4*
Okey ini ancur banget. Dan sebagai gantinya, saya post beberapa fic lagi sebagai permintaan maaf sekaligus pelunasan janji (?) apdet beruntun ditanggal 15~
Makasih buat yang sudah baca, review, vomment .el
Saya terharu syekali u,u
Sampai jumpa di chap berikutnya~
Big love, clou3elf
