Light On My Darkness
Chapter 5
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
Yoongi sudah memiliki rencana khusus yang dia siapkan untuk Taehyung. Lihatlah betapa spesialnya Taehyung baginya hingga membuat Min Yoongi mau bersusah payah memikirkan cara untuk membuat Taehyung tetap disisinya.
Yoongi tersenyum miring memikirkan rencananya. Dia yakin rencana itu akan berhasil. Min Yoongi tak pernah gagal. Lolos dari kepolisian dan menjadi penghuni rumah sakit jiwa saja dia berhasil, mana mungkin dia gagal mendapatkan Kim Taehyung.
"Kim Taehyung. Kau milikku"
.
.
"Taehyung"
"Eum?"
"Kalau aku benar-benar sembuh. Kalau orang-orang berjubah hitam itu tak lagi menggangguku. Apa kau mau tetap jadi temanku?" Tanya Jungkook penuh arti.
Taehyung tersenyum mendengarnya, "Tentu saja. Aku akan tetap menjadi teman Jeon Jungkook. Seberapa lamanya pun kau sembuh, aku tetap akan menjadi temanmu" Taehyung menyandarkan dagunya di pundak Jungkook.
Jungkook menoleh dan mengecup pipi Taehyung. Membuat perawat itu membatu.
"Aku senang mendengarnya"
Jungkook berjalan santai menuju kamar rawatnya. Tak tau jika mati-matian Taehyung merutuk dalam hati.
.
.
~Chapter Five~
.
.
Malam harinya Taehyung tak bisa tenang sama sekali. Kejadian sore tadi benar-benar membekas di benaknya. Taehyung belum terbiasa dengan perlakuan lembut Jungkook. Dia sama sekali tidak siap dengan perubahan Jungkook yang cenderung tiba-tiba itu.
Bisa dibilang Taehyung cukup waswas dengan perlakuan manis Jungkook padanya. Entah mengapa dia sedikit berdebar karenanya.
"Ah! Matta! Ponselku" Taehyung langsung merogoh sakunya dan menggigit bibir bawahnya begitu mengetahui ponselnya tak menyala. Dia panik sekali.
'Eottokhae~' batin Taehyung merana.
Taehyung mengotak-atik ponselnya. Berharap dengan begitu ponselnya bisa berfungsi lagi. Namja manis itu memerlukan ponselnya sekedar untuk memantau Min Yoongi agar tidak berbuat sesuatu yang membahayakan. Tanpa benda kecil ini, Taehyung akan selalu diselimui kekhawatiran akan nasib teman-temannya di Daegu.
"Kumohon hiduplah" pinta Taehyung.
Namun Taehyung harus menelan kekecewaan karena ponselnya hanya menampilkan layar hitam. Mati total. Ponsel pintarnya tidak mau nyala. Tanpa sadar Taehyung mengerang. Ayolah, ini menyangkut hidup dan matinya.
Akhir minggu tinggal dua hari lagi dan Taehyung harus tetap memastikan Min Yoongi tak melakukan hal yang macam-macam pada teman-temannya. Atau Taehyung tak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Aish! Menyesal tak ada gunanya Kim Taehyung" rutuknya saat pikiran menyesal itu melintas begitu saja.
Yeah, Taehyung sempat berpikir dia menyesal menjadi perawat Min Yoongi, lebih tepatnya menyesal memilih menjadi perawat rumah sakit jiwa. Tapi segera saja pemikiran itu dibuangnya jauh-jauh. Kim Taehyung takkan pernah menyesali apapun konsekuensi dari pilihannya.
Menjadi perawat rumah sakit jiwa adalah pilihannya. Taehyung ingin menolong orang-orang yang mengalami gangguan jiwa itu. Menurutnya, orang-orang seperti itu hanya perlu dirawat dengan sabar dan penuh kasih sayang. Sayangnya profesi perawat untuk rumah sakit jiwa sangat kurang. Kalaupun mencukupi, mereka hanya bekerja dengan setengah hati.
Ah, sudahlah. Sekarang kembali ke ponsel Taehyung. Dia takkan bisa mengetahui kabar teman-temannya jika ponselnya mati. Dan parahnya Taehyung tak tau dimana service center untuk ponselnya. Salahkan dia yang tak pernah pergi jalan-jalan sepulang bekerja.
"Aku harus mencari telepon umum"
Disambarnya jaket dan dompetnya. Di dalam dompetnya ada buku kecil berisi nomor ponsel teman-teman perawatnya. Sekedar jaga-jaga jika hal seperti ini terjadi. Dan terbukti berguna juga.
Namja manis itu berjalan menyusuri jalanan hanya untuk mencari telepon umum. Udara malam ini cukup dingin karena sudah hampir memasuki musim gugur. Taehyung merasa tubuhnya hampir membeku. Apa dia sudah bilang jika Taehyung tidak menyukai udara dingin?
"Astaga kenapa jauh sekali" gerutunya.
Taehyung lelah dan lapar. Dia belum sempat makan malam saat di kamar tadi. Min Yoongi memang mengacaukan hidupnya. Well, benar-benar mengacaukan, bukan hanya kiasan.
Entah karena tak memperhatikan jalanan atau apa, langkah kaki Taehyung membawa namja manis itu menuju rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Ini berarti Taehyung sudah berjalan selama kurang lebih 20 menit.
Taehyung menghela nafas, "Baiklah sudah terlanjur disini. Pinjam telepon rumah sakit apa salahnya" monolognya.
Saat berjalan memasuki halaman rumah sakit, Taehyung sempat melirik ke jendela kamar Jungkook. Samar-samar Taehyung melihat bayangan Jungkook yang sedang berolahraga. Namja manis itu hanya tersenyum simpul. Sambil berlari kecil, Taehyung berlari menuju kantor perawat.
"Omo! Astaga kau mengejutkanku" omel perawat shift malam yang bernama Jihyun.
"Mianhae noona. Ah, aku boleh pinjam telepon kantor? Aku harus menghubungi seseorang dan ponselku mati terkena air" ucap Taehyung.
"Pakai saja" ucap Jihyun. "Ah berhubung kau disini, bisa tolong jaga sebentar? Aku mau ke ruangan kepala rumah sakit"
"Baiklah. Tak lama kan?"
"Hanya 15 menit"
Begitu Jihyun pergi, Taehyung langsung menggunakan telepon rumah sakit. Dengan cekatan dia memencet nomor milik Minjae. Dadanya bergemuruh menunggu telepon itu diangkat.
"/Yoboseyo/"
"Kim Minjae"
"/Taehyung hyung?/"
"Ne, ini aku. Ponselku rusak jadi aku menggunakan telepon rumah sakit"
"/Ah, begitu. Ada apa hyung?/"
"Kalian..baik-baik saja? Min Yoongi tak melakukan apapun yang berbahaya kan? Tak ada yang terluka kan?"
"/Whoaa~ hyung, tenanglah. Min Yoongi tak melakukan apa-apa pada kami. Percaya atau tidak seharian ini dia berubah. Dia menurut pada kami. Kami bergantian mengurusnya dan dia diam saja. Hanya sekali bertanya nama kami setelah itu dia diam/"
Taehyung diam, "Begitu kah? Jadi dia tak membuat masalah hari ini?"
"/Aniya. Kau tenang saja/" Minjae berusaha menenangkan. "/Ah hyung. Apa kau benar-benar akan kemari akhir minggu ini?/"
Taehyung menggigit bibir bawahnya, "Sepertinya. Aku sudah berjanji pada Min Yoongi untuk mengunjunginya akhir minggu ini. Aku akan menemuinya hari Minggu nanti"
Hening selama beberapa menit. Hanya terdengar suara helaan nafas. Sebelum akhirnya Minjae bersuara, "/Kenapa kau baik sekali?/"
"Eh? Apa maksudmu?"
"/Kau masih mau mengurusi Min Yoongi padahal kau sudah memiliki tanggung jawab Jeon Jungkook disana/"
Taehyung tanpa sadar tersenyum kecil, "Aku hanya merasa tidak bisa meninggalkan mereka berdua. Aku harus mengurus mereka berdua secara bersamaan"
"/Apa aku perlu meminta kepala rumah sakit untuk memindahkan Min Yoongi ke Busan?/"
"Kau gila? Itu tidak perlu. Aku punya firasat akan terjadi hal yang buruk jika mereka ditempatkan dalam satu tempat. Aku sudah menceritakanmu tentang Jeon Jungkook kan?"
"/Ah benar. Penderita Skizofrenia seperti Jungkook dan psikopat seperti Yoongi memang berbahaya jika disatukan. Lalu, apa tidak apa-apa jika kau harus bolak balik Busan-Daegu?/"
"Tak masalah. Busan-Daegu tak terlalu jauh"
Di seberang sana Minjae tertawa. Mau tak mau Taehyung ikut tertawa. Namja ini adalah salah satu hal yang membuat Taehyung rindu pekerjaannya di Daegu. Minjae selalu bisa membuatnya tertawa sesulit apapun masalah yang dihadapinya.
"Baiklah. Kurasa aku harus menutup teleponnya. Shift-ku sudah habis kalau kau mau tau"
"/Ah hyung~ padahal aku masih merindukanmu/"
"Jangan berlebihan tuan Kim"
"/Kau juga tuan Kim omong-omong. Ah atau kau mau jadi nyonya Kim?/" goda Minjae.
"Kau mau kuhajar?"
"/Aniya/" Minjae tertawa. "/Baiklah selamat malam dan selamat beristirahat/"
Taehyung tersenyum lembut mendengar ucapan Minjae. Belum sempat dia membalas ucapan itu, Minjae sudah memutus sambungan teleponnya. Taehyung sedikit menggerutu sebelum akhirnya meletakkan gagang telepon itu di tempatnya.
Namja manis itu memutuskan untuk sedikit mengecek keadaan Jungkook begitu Jihyun datang. Hanya mengintip, tidak lebih. Karena Taehyung tak mau mengambil resiko Jungkook melihatnya. Shift-nya sudah selesai dan Taehyung belum ingin menambah jam kerjanya.
Taehyung hanya mengintip di pintu Jungkook. Sepertinya namja tampan itu baru saja selesai berolahraga melihat banyaknya keringat yang mengalir. Dan sekarang namja Jeon itu terduduk di lantai dengan pandangan yang kosong. Taehyung jadi khawatir.
Jungkook sesekali memejamkan mata. Wajahnya terlihat lelah. Piring bekas makan malamnya masih tergeletak di atas meja. Taehyung tak bisa masuk kesana. Firasatnya mengatakan lebih baik dia tak usah masuk untuk malam ini.
Namja tampan itu mulai bangkit. Matanya menatap piring kotor di atas meja. Matanya berkilat. Dan di luar Taehyung mulai cemas menunggu apa yang akan Jungkook lakukan.
PRANG!
Taehyung memekik tertahan saat melihat Jungkook membanting piring itu dengan keras. Namja tampan itu malah menginjakkan kakinya di atas pecahan piring paling besar. Secepat kilat Taehyung berlari menuju ruang perawat dan mengambil kotak p3k.
Begitu namja manis itu sampai, dia malah melihat Jungkook menggenggam erat-erat pecahan itu. Tentu saja darah mengalir dengan deras dari kaki dan tangan Jungkook.
"Jungkook" Taehyung berusaha menahan suaranya agar tidak menjerit begitu melihat pemandangan itu.
Jungkook menoleh. Bukan. Taehyung merasa itu bukan Jungkook. Raut wajah, sorot mata dan senyuman itu seperti bukan Jungkook. Jeon Jungkook terasa asing bagi Taehyung.
"Jungkook, kumohon letakkan pecahan itu sekarang, ne. Kau melukai tubuhmu. Kumohon Jungkook" Taehyung maju secara perlahan-lahan ke arah Jungkook.
Jungkook hanya menatapnya dalam. Taehyung membasahi bibir bawahnya yang mendadak mengering. Secara tiba-tiba Jungkook melempar pecahan yang digenggamnya ke lantai.
"Sekarang menjauhlah dari situ"
Jungkook menuruti semua yang dikatakan Taehyung dengan mata yang tak lepas memandangi perawat manisnya. Taehyung sedikit mempercepat langkahnya hingga berada di depan Jungkook.
Diraihnya tangan besar namja Jeon itu. Dibawanya Jungkook menuju kamar mandi dengan terlebih dahulu menyingkirkan serpihan-serpihan pecahan piring di lantai. Tanpa banyak bicara Taehyung mendudukkan Jungkook di kloset.
"Ini mungkin sedikit perih tapi kau harus menahannya, ne. Kau bisa memegang tanganku jika kau tak bisa menahannya" ucap Taehyung memperingatkan.
Pertama-tama Taehyung menyiram tangan Jungkook yang penuh darah dengan air. Kemudian dibersihkannya sisa-sisa darah yang masih menempel dan mengeringkan tangan Jungkook. Selanjutnya Taehyung memberi cairan antiseptic untuk mensterilkan luka Jungkook. Dan terakhir Taehyung menutup luka itu dengan perban yang lembut.
Hal itu dia lakukan juga pada kaki Jungkook yang terluka. Sebisa mungkin Taehyung melakukannya dengan hati-hati. Jungkook hanya memperhatikan bagaimana Taehyung melakukannya. Tak ada sedikit pun raut kesakitan di wajahnya.
"Taehyung"
"Ne?"
"Apa kau kemari untukku?" pertanyaan Jungkook membuat gerakan Taehyung terhenti.
Taehyung menoleh menatap Jungkook yang masih menatapnya. Sepertinya Jungkook sudah kembali ke dirinya sendiri, kecuali sorot matanya. Tanpa sadar Taehyung menelan salivanya.
"Sebenarnya tidak. Tapi kau boleh menganggapnya seperti itu" ucap Taehyung akhirnya.
Grep!
Jungkook langsung memeluk pinggang Taehyung begitu namja itu berdiri. Taehyung sendiri hanya bisa diam. Tak ada yang bisa dilakukannya selain membiarkan Jungkook berbuat semaunya.
"Kau tak boleh pergi kemanapun" lirih Jungkook.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Hari ini adalah hari Sabtu. Dan besok adalah hari dimana Taehyung akan kembali bertemu dengan Min Yoongi. Malam ini, sepulang bekerja Taehyung akan langsung pergi ke Daegu dengan menggunakan bus. Dia akan sedikit bermalam di bus dan meminta tolong kepada Minjae untuk menjemput.
Seharusnya Taehyung libur hari ini. Jadwalnya hanya sampai hari Jumat. Tapi Jungkook memintanya datang. Namja itu ingin jalan-jalan. Taehyung tak bisa menolak dan tanpa pikir panjang langsung menyanggupi.
"Eum..tunggu disini ne? aku akan mengembalikan piring ini sebentar" ucap Taehyung.
Grep~
Jungkook menggenggam tangannya. Taehyung tersenyum kemudian balas menggenggam tangan Jungkook. Kemudian tangannya mengelus rambut hitam namja tampan itu.
"Hanya sebentar. Setelah itu kita akan jalan-jalan" ucap Taehyung.
Jungkook diam. Matanya menatap Taehyung lekat. Kemudian secara perlahan, Jungkook melepas genggaman tangannya.
"Hanya sebentar setelah itu kita jalan-jalan" ucapnya mengulang apa yang disampaikan Taehyung.
"Kalau kau takut orang berjubah hitam itu datang, tutup saja matamu dan bayangkan hal-hal yang menyenangkan" Taehyung tersenyum.
"Hal yang menyenangkan?" tanya Jungkook.
Taehyung mengangguk semangat begitu mengetahui Jungkook mulai penasaran. "Kau bisa membayangkan masa kecilmu atau hal-hal menyenangkan yang pernah kau alami"
Jungkook menggeleng, "Aku tak punya hal-hal menyenangkan seperti itu" lirihnya. "Tapi aku punya Taehyung"
"Hah?" Taehyung mendadak blank. Jawaban Jungkook benar-benar diluar dugaannya.
Jungkook tertawa kecil melihat wajah blank Taehyung yang menggemaskan. Tangannya terulur untuk mencubit pipi namja yang sudah menjadi perawatnya selama beberapa hari ini. Membuat namja manis berwajah sempurna mengerang protes.
"Jungkook, peraturan pertama, jangan sembarangan mencubit pipiku"
Namun namja bermarga Jeon itu hanya tertawa melihat ekspresi kesal Taehyung. Perlu kuberitahu jika namja asal Daegu ini sedikit tidak suka jika ada yang mencubit pipinya. Itu membuatnya merasa seperti anak kecil.
"Kau lucu, Taehyung"
Taehyung memutar bola matanya malas, "Baiklah terserah. Yang jelas tunggu disini sebentar. Aku akan mengembalikan piring ini dan mengambil mantel untukmu. Diluar dingin asal kau tau"
Jungkook mengangguk. Setelah memastikan Jungkook benar-benar baik-baik saja, barulah Taehyung keluar. Taehyung segera mengembalikan piring itu di ruang perawat kemudian menyambar beberapa barang yang sudah dipersiapkannya.
Sejujurnya Taehyung sangat terkejut saat Jihyun mengunjunginya di kamar dan mengatakan jika Jungkook ingin jalan-jalan keluar rumah sakit. Yang membuat Taehyung terkejut adalah, Jungkook bisa meminta bantuan orang lain seperti biasa. Tak terlihat takut atau marah. Itu yang membuat Taehyung langsung menyanggupi.
"Jungkook? Apa kau di kamar mandi?" tanya Taehyung begitu tak menemukan Jungkook di atas tempat tidurnya.
"Ne"
"Apa yang kau lakukan?"
"Mandi"
Satu kata itu membuat Taehyung langsung mengurungkan niatnya menyusul Jungkook ke kamar mandi. Namja manis itu kemudian mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang Jungkook. Menunggu pasiennya selesai.
Terkadang Taehyung bingung. Dia tak sampai hati menyebut Jungkook pasien rumah sakit jiwa. Tapi kenyataannya seperti itu. Walau terlihat biasa saja, tapi Jungkook bisa menjadi sangat berbahaya. Taehyung sedikit ragu mengajak Jungkook jalan-jalan terlalu jauh.
Cklek~
"Kau sudah se-" Taehyung terdiam. "-lesai" lirihnya. "Kenapa tidak pakai baju?"
"Bajuku basah" jawaban polos Jungkook membuat Taehyung menghela nafas.
"Beruntunglah aku tadi sempat membelikanmu pakaian" Taehyung mengaduk-aduk tas kertas yang dibawanya. Mencari pakaian untuk Jeon Jungkook.
Taehyung menjulurkan kaos berwarna putih untuk Jungkook. Jungkook menerimanya dan langsung memakainya untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Jungkook tadi telanjang dada omong-omong.
"Aku membelikanmu satu paket. Baju, celana, underwear, hoodie dan kaos kaki. Aku juga membawakanmu sepatuku. Kurasa ukuran sepatu kita sama. Dan aku juga membawakanmu mantel milikku, well kurasa itu muat"
Jungkook hanya memperhatikan Taehyung yang sedang berbicara. Taehyung yang cerewet adalah salah satu hal yang membuatnya gemas terhadap namja ini. Pasalnya Taehyung cukup jarang bicara secerewet itu padanya.
"Nah, cepat pakai"
"Kenapa kau cerewet sekali hari ini?" satu kalimat Jungkook membuat Taehyung memandangnya datar.
.
.
Sekitar pukul 11 siang, mereka baru keluar rumah sakit. Taehyung harus mati-matian memohon ijin pada kepala rumah sakit untuk membawa Jungkook keluar rumah sakit. Kepala rumah sakit sangat mengkhawatirkan keadaan Jungkook. Namja tampan itu tidak pernah lagi keluar area rumah sakit semenjak masuk kemari, dua tahun lalu. Bahkan keluar kamar saja tidak.
Tapi Kim Taehyung berani melakukannya. Awalnya hanya keluar kamar, tapi sekarang Taehyung dengan berani membawa Jungkook jalan-jalan. Bahkan perawat asal Daegu itu mengatakan dia yang bertanggung jawab penuh.
"Kau tidak boleh jauh-jauh dariku" ucap Taehyung seraya menggandeng tangan Jungkook.
Jungkook tersenyum kemudian mengangguk. Matanya berbinar cerah karena akhirnya dia melihat dunia luar setelah dua tahun berlalu. Taehyung yang melihatnya pun hanya tersenyum.
Taehyung membawa Jungkook jalan-jalan di sekitar taman yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Walau dia berani membawa Jungkook keluar rumah sakit, tapi tetap saja Taehyung tak berani membawa namja itu terlalu jauh.
"Kalau kondisimu stabil, dalam artian orang-orang itu tak lagi muncul dalam imajinasimu, aku akan membawamu jalan-jalan di pantai" ucap Taehyung saat mereka duduk di taman.
Jungkook memandang Taehyung lekat, "Selama kau bersamaku, orang-orang berjubah hitam itu tak akan muncul"
"Kau harus bisa mengatasinya sendiri Jungkook. Kau harus sembuh dan melanjutkan hidupmu. Kembali bersekolah kemudian kuliah, lalu bekerja dan menikah. Kau tentu tak ingin terus berada di dalam rumah sakit kan?" Taehyung balas memandang Jungkook.
Jungkook mengeratkan genggaman tangan Taehyung padanya. "Apa aku bisa sembuh?"
Taehyung tersenyum, "Kau pasti bisa sembuh dan memang harus sembuh. Aku akan membantumu"
Namja bergigi kelinci itu balas tersenyum, "Kau harus membantuku. Aku…aku ingin sembuh dan keluar dari rumah sakit. Aku ingin kembali sekolah dan kuliah kemudian bekerja"
Taehyung mengacak surai sehitam arang milik Jungkook kemudian berdiri. "Kajja waktu kita hanya sedikit"
Jungkook bangkit kemudian mengikuti Taehyung yang sudah berjalan di depannya. Jungkook semakin mempererat genggamannya. Tak ingin genggaman hangat dan menguatkan itu terlepas.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Daegu,
"Apa Taehyung akan kemari?" tanya Yoongi begitu Minjae masuk mengantar makan siangnya.
"Eum, dia bilang sore ini akan berangkat" Minjae membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Dia bilang akan menemuimu di hari Minggu"
Mata Yoongi menggelap, "Kenapa hari Minggu? Dan kapan dia mengatakannya?"
"Kurasa dia ingin istirahat dulu sebelum menemuimu. Dan..dan dia mengatakannya kemarin"
"Kenapa aku tak bisa menghubunginya?!" suara Yoongi semakin datar.
"I-itu..ponsel Taehyung rusak. Wa-waktu itu…dia menghubungiku menggunakan telepon rumah sakit"
Raut mengancam yang beberapa menit lalu membuat Minjae takut itu kini berubah. Min Yoongi kembali dengan raut datar miliknya. Tapi suasana dingin itu masih menyelimuti kamar Min Yoongi.
"Ini..ma-makanlah Yoongi-sshi"
Yoongi diam saja. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, Minjae langsung memutuskan meletakkan makanan itu di atas meja nakas. Namja tampan itu kemudian keluar dari ruangan Yoongi. Jika Yoongi sudah seperti itu, maka jalan satu-satunya adalah membiarkan namja berkulit pucat itu sendirian.
Diam-diam Minjae salut dengan Taehyung. Namja manis itu bisa bertahan merawat Min Yoongi selama ini. Kim Taehyung benar-benar membuatnya kagum. Taehyung sangat tahu bagaimana menghadapi Min Yoongi yang terkenal berbahaya.
Sejujurnya Minjae jadi tak sabar untuk bertemu Taehyung. Dia merindukan namja yang berumur satu tahun di atasnya itu. Namja ceria yang penuh dengan tingkah absurd menggemaskan. Namja yang bisa menempatkan dirinya dalam berbagai suasana. Namja dengan mood swing yang ekstrim. Satu-satunya orang yang bisa membuat Kim Minjae menyukai pekerjaannya di rumah sakit jiwa ini.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung dan Jungkook baru kembali setelah pukul 7 malam. Salahkan Jungkook yang ingin merasakan baso ikan di pinggir jalan saat mereka berjalan kembali ke rumah sakit. Taehyung tentu saja tak bisa menolak.
"Jungkook-ah"
"Ne?"
"Apa kau tidak lelah? Setelah kita seharian berjalan dan sekarang kau malah menggendongku" ucap Taehyung.
Well, saat ini posisi mereka terlihat sangat manis. Jungkook tadi memaksa Taehyung untuk naik di punggungnya. Sejak kejadian di taman rumah sakit beberapa hari lalu, Jungkook jadi sangat suka menggendong Taehyung di belakang seperti ini.
"Tidak. Kau ringan"
Taehyung sedikit mencibir. Dia ringan? Yang benar saja. Terakhir kali dia melakukan cek berat badan, berat badannya sudah 55 kilogram. Taehyung memutuskan tidak membuka percakapan lagi. Dia takut Jungkook akan kelelahan jika menggendongnya sambil berbincang-bincang.
Kalau boleh jujur, Taehyung juga suka Jungkook menggendongnya. Punggung Jungkook cukup lebar dan hangat. Taehyung bisa merasakan kenyamanan dan perasaan aman saat Jungkook menggendongnya. Taehyung jadi tersenyum geli saat mendadak dia berpikiran untuk terus merasakan gendongan Jeon Jungkook.
"A-ah! Jungkook-ah, sebaiknya aku berjalan kaki saja. Kepala rumah sakit akan mema-menegurku jika melihat kau menggendongku" ucap Taehyung hati-hati. Hampir saja dia menyebut kata 'memarahi'. Taehyung hanya khawatir Jungkook akan berpikiran yang tidak-tidak jika Taehyung menggunakan kata itu.
"Baiklah" ini sedikit aneh. Jungkook langsung menurutinya tanpa bertanya.
Benar dugaan Taehyung. Kepala rumah sakit sudah menunggu mereka di kamar Jungkook. Kepala rumah sakit hanya tersenyum maklum saat Jungkook langsung menyembunyikan Taehyung dibalik badan kekarnya.
"Jungkook-sshi istirahatlah" kepala rumah sakit hanya mengatakan itu kemudian kembali ke ruangannya.
Taehyung tertegun saat kepala rumah sakit memberikan senyuman padanya. Perawat itu tak sempat memikirkan apapun karena Jungkook sudah menarik tangannya. Berusaha menarik kembali atensi Taehyung padanya.
"Tidak apa-apa kan?"
Taehyung tersenyum kemudian mengajak Jungkook untuk segera membersihkan diri dan tidur.
.
.
Pukul 9 malam Taehyung baru bisa keluar dari ruangan Jungkook. Secara kebetulan dia bertemu kepala rumah sakit yang juga hendak pulang.
"Dokter Jung" seru Taehyung.
Pria setengah baya itu berhenti lalu menghadap Taehyung. Senyumnya berkembang melihat Taehyung yang berjalan menghampirinya.
"Apa dokter sudah mau pulang?" pertanyaan basa-basi sebenarnya.
"Eum. Ah, Taehyung-sshi..gomawo"
"Untuk?"
"Membawa Jungkook jalan-jalan dan membawanya kemari dengan selamat" dokter Jung melanjutkan langkahnya. "Kurasa aku bisa mempercayaimu"
Taehyung diam. Dia masih belum mengerti mengapa kepala rumah sakit mengatakan itu padanya.
"Tadinya aku khawatir akan terjadi masalah di luar sana. Tapi melihat kau dan Jungkook-sshi datang dengan kondisi baik-baik saja, kurasa aku bisa mempercayakan Jungkook padamu sepenuhnya mulai saat ini"
Taehyung gelagapan, bingung. "Bu-bukankah dari awal..Jungkook adalah tanggung jawab saya?"
"Tidak, Taehyung-sshi. Kau diminta kemari untuk menangani orang lain, bukan menanggung jawabi Jungkook. Dan saat aku memintamu waktu itu sebenarnya hanya uji coba terhadap reaksi Jungkook. Tapi selama seminggu ini aku mengamati kalian, Jungkook hanya bisa dikendalikan olehmu. Jadi Taehyung-sshi, tetaplah disini apapun yang terjadi dan tetap bersama Jungkook"
"Tunggu, kenapa dokter tiba-tiba mengatakan hal ini?"
"Dokter Kang dari Daegu ingin mengambilmu kembali. Dia ingin kau kembali menjadi perawat di Daegu"
.
.
Light On My Darkness
.
.
Selama perjalanan menuju Daegu, Taehyung memikirkan semua ucapan dokter Jung. Dipikirkan berapa kali pun Taehyung tetap pada satu kesimpulan. Perawat di Daegu tak bisa menangani Yoongi, sama seperti perawat di Busan yang tak bisa menangani Jungkook.
Taehyung sebenarnya mampu mengurus keduanya dalam satu ruangan. Tapi saat memikirkan hal itu, mendadak perasaan takut menyelimutinya. Bagaimana kalau salah satunya terluka? Atau, bagaimana kalau mereka saling melukai?
"Astaga kenapa ini memusingkan sekali" gerutu Taehyung sebal.
Sepertinya Taehyung tak akan bisa bekerja dengan tenang. Karena kelelahan, dia jatuh tertidur. Perjalanan menuju Daegu masih jauh. Biarlah dia beristirahat sebentar tanpa memikirkan apapun.
Tepat pukul dua malam, Taehyung sampai di terminal bus Daegu. Disana Kim Minjae sudah menunggu dengan senyum lebarnya yang sangat dirindukan Taehyung. Perawat manis itu langsung menghambur ke pelukan Minjae.
Mereka berdua berpelukan seraya tertawa bersama. Taehyung terlalu senang bisa bertemu namja yang berusia satu tahun dibawahnya itu sehingga mengabaikan rasa lelah yang menderanya setelah menempuh perjalanan jauh.
"Aku merindukanmu hyung" ucap Minjae setelah pelukan mereka terlepas.
"Hey, aku baru pergi satu minggu tau" ucap Taehyung.
Minjae tertawa kemudian memberikan helm yang dibawanya pada Taehyung. Namja kelahiran 1996 itu menyampirkan jaket yang dibawanya di tubuh Taehyung. Membuat yang lebih tua tersenyum manis.
"Daegu sangat dingin pada jam segini. Kau ingat kan?"
"Ya! Tentu saja aku masih ingat. Kau kira aku orang tua yang pelupa" protes Taehyung seraya mengeratkan jaketnya.
"Kau memang bukan orang tua, tapi kau lebih pelupa dari orang-orang yang sudah tua. Pelupa dan ceroboh" Minjae tertawa dengan kata-katanya sendiri.
Bukannya marah, Taehyung malah ikut tertawa. "Baiklah, aku menganggap itu karena kau sangat merindukanku" narsisnya.
"Nah, hyung. Kau mau kuantar ke rumah atau menginap di apartemenku?"
"Ke rumah saja. Aku merindukan rumahku"
"Jadi kau tidak merindukanku?"
"Ya! Hentikan"
Dan perjalanan malam itu diiringi percakapan dan candaan keduanya.
.
.
Esoknya, Minjae kembali menjemputnya di rumah pada pukul 9 pagi. Setelah saling melepas rindu dengan keluarganya, Taehyung berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk ke rumah sakit. Keluarganya tau jika Taehyung harus merawat dua orang yang berbahaya. Dan dia kemari karena orang itu menginginkannya.
"Kau siap hyung?" tanya Minjae begitu Taehyung sudah duduk di belakangnya.
"Siap atau tidak, aku tetap harus menemui Min Yoongi"
Setelah itu tak ada percakapan lagi. Taehyung sibuk dengan pikirannya dan Minjae tak ingin mengganggunya. Dan Taehyung tak pernah ingat jika perjalanan dari rumahnya menuju rumah sakit jiwa Daegu bisa secepat ini.
Sejujurnya jantungnya berdebar sangat kencang begitu memasuki halaman rumah sakit. Langkahnya sedikit ragu. Tapi Taehyung tak punya pilihan lain selain segera menemui Min Yoongi.
Dan disinilah Taehyung. Berdiri di depan pintu ruangan Min Yoongi yang berada di pojok. Berbeda dengan Jungkook yang ditempatkan di ruangan depan, Yoongi ditempatkan di bagian paling ujung.
Dari sini Taehyung bisa melihat Yoongi yang masih tertidur. Dengan sedikit ragu, Taehyung memasuki ruangan namja berkulit pucat itu. Seakan bisa merasakan kehadirannya, Yoongi langsung membuka matanya.
"Se-selamat pagi Yoongi-sshi" sapa Taehyung seperti biasa.
Taehyung mendekati meja nakas di samping ranjang Yoongi. Mengganti pengharum aroma terapi itu dengan yang baru. Berusaha mengabaikan tatapan tajam Yoongi yang seolah menelanjanginya. Taehyung berdoa dalam hati agar Yoongi tak memperlakukannya seperti pertama kali.
"B-bagaimana kabarmu?" tanya Taehyung basa-basi.
Sret!
Grep
Tanpa aba-aba lagi, Yoongi langsung bangkit dan menarik tangannya. Membuatnya limbung dan makin mendekati Yoongi. Kemudian namja berkulit pucat itu memeluk pinggangnya. Menempelkan kepalanya di perut Taehyung.
"Aku merindukanmu" ucap Yoongi dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Taehyung tersenyum kecil. Tak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini. Taehyung menganggap ini sebagai salah satu bentuk kemanjaan Yoongi. Walau rasanya sedikit aneh.
Tangan kurus Taehyung mengelus kepala Yoongi dengan lembut. Membuat namja Min itu memejamkan matanya. Menikmati sentuhan Taehyung padanya.
Entah mengapa Yoongi merasa dia sangat membutuhkan Taehyung. Bukan lagi untuk obsesinya atau apapun. Dia hanya membutuhkan eksistensi Taehyung di sekitarnya. Seperti sekarang. Yoongi merasa hidupnya lengkap saat Taehyung di sekitarnya.
"Mau sampai kapan begini Yoongi-sshi? Kajja. Kau harus mandi sementara aku menyiapkan sarapan untukmu" ucap Taehyung.
Yoongi melepas pelukannya kemudian memandang Taehyung. Namja itu berdiri. Posisi mereka sangat dekat. Tanpa diduga, Yoongi memegang kedua pipi Taehyung kemudian mencium bibir tipis Taehyung. Taehyung tentu saja terkejut. Dia membelalakkan matanya.
Bahkan setelah mencium bibirnya, Yoongi beralih mencium kedua pipi dan keningnya. Yoongi hampir turun ke lehernya jika Taehyung tidak segera menahannya. Dengan lembut Taehyung mendorong bahu Yoongi untuk masuk ke kamar mandi.
"Mandilah. Aku akan menyiapkan sarapanmu"
Yoongi hanya diam. Dia merasakan perubahan pada diri Taehyung. Jika Taehyung yang dulu, dia akan takut dan langsung berlari begitu Yoongi menciumnya. Tapi sekarang Taehyung tak bereaksi apa-apa.
Yoongi berharap Taehyung bisa bereaksi dengan ciumannya. Entah tersipu atau ketakutan. Bukan malah seolah tidak terjadi apa-apa seperti ini. Tapi tenang saja, bukan Min Yoongi namanya jika tidak bisa membuat Taehyung bereaksi terhadap tingkahnya.
.
.
Selama di ruangan perawat, Taehyung berpikir. Kenapa dia tak merasakan apapun lagi seperti dulu. Dia tak lagi merasakan perasaan takut saat Yoongi menciumnya. Bahkan tak lagi merasakan takut saat bertemu dengan Yoongi. Semua kekhawatirannya tadi menguap saat Yoongi memeluknya.
Sejujurnya Taehyung lelah terus menerus didera ketakutan saat memikirkan Yoongi. Dia lelah merasa cemas terus menerus. Dia hanya ingin semua cepat berakhir. Ketakutannya, keresahannya, kegelisahannya dan semua perasaan negatifnya. Dia ingin bisa terlepas dari itu semua.
Tapi..apa mungkin itu terjadi? Dengan Yoongi yang berada di kehidupannya? Dan ditambah kehadiran Jungkook?
.
.
Light On My Darkness
.
.
Sementara Min Yoongi sibuk dengan rencana-rencananya dan Kim Taehyung sibuk dengan pikirannya, di Busan Jeon Jungkook sibuk menanyakan keberadaan perawat manisnya. Taehyung tak mengantar sarapannya pagi ini. Tugasnya dilakukan oleh orang lain. Dan Jungkook tak bisa memberikan reaksi apapun.
Jungkook khawatir. Taehyung tak menemuinya. Bahkan saat waktu menunjukkan pukul 11 siang pun Taehyung tak terlihat dalam jarak pandangnya. Itu membuatnya gelisah dan takut.
Apa Taehyung sakit? Atau namja itu sedang ada urusan? Tapi…bagaimana kalau dia pergi meninggalkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikiran Jungkook. Membuatnya kembali mengalami halusinasi dimana dia melihat Taehyung pergi dengan orang lain. Jungkook melihat Taehyung di luar. Namja itu juga balas melihatnya. Tapi Taehyung tak memperdulikannya. Dia lebih memilih berjalan bersama dengan orang yang tak dikenal Jungkook.
Jungkook berteriak memanggil Taehyung. Tapi Taehyung tak mendengarnya, atau tak perduli. Yang jelas Taehyung tak menyahuti panggilannya sama sekali. Hati Jungkook sakit luar biasa. Taehyung mengabaikannya. Dan Taehyung meninggalkannya.
"Taehyung! Taehyung! KIM TAEHYUNG!" Jungkook terus berteriak memanggil Taehyung. Tangannya mencengkeram teralis besi yang terpasang di jendelanya.
Teriakan Jungkook membuat tiga orang perawat menghampirinya. Tapi Jungkook terlalu terfokus pada Taehyung-nya sehingga mengabaikan ketiga orang itu. Barulah saat dua dari tiga orang itu memegangnya, Jungkook berontak.
Dia berpikir dua orang itu hendak menghalanginya bertemu Taehyung. Menghalanginya merebut kembali Kim Taehyung. Jungkook marah.
Tapi tenaganya melemah karena salah seorang yang tidak memegangnya menyuntikkan obat penenang padanya. Dia tak bisa meraih Taehyung. Jungkook hanya bisa melihat Taehyung pergi darinya. Semakin menjauh dan akhirnya menghilang darinya. Semuanya gelap.
Dalam mimpinya Jungkook melihat Taehyung yang terikat di kursi. Dan disekeliling namja itu terdapat kobaran api yang cukup besar. Jungkook tak bisa melakukan apapun saat Taehyung meringis kesakitan.
Taehyung-nya tidak menangis. Dia hanya memandang Jungkook kosong. Tapi Jungkook sangat tahu bagaimana rasa sakit namja kesayangannya itu.
Jungkook ingin menghampirinya. Menyelamatkan namja yang dia sayangi dan membawanya pergi. Tapi kakinya seolah terpaku. Tak mampu bergerak. Yang bisa dia lakukan hanya mengulurkan tangannya seolah-olah tangannya mampu memanjang dan meraih Taehyung dalam pelukannya.
Taehyung memandangnya kemudian tersenyum. Mata Jungkook terbelalak saat melihat siluet seorang namja berdiri di belakang Taehyung. Jungkook tak mampu melihat wajahnya. Juga tak sempat berpikir apapun saat namja itu tiba-tiba menciumi Taehyung dan menyayat pakaian namja manisnya.
"Ju-Jungkook" Taehyung memanggilnya. Bahkan suara beratnya terdengar begitu lirih dan putus asa.
"Dia Jungkook?" suara namja itu juga berat. Tapi seperti ada aura gelap yang menyertai suaranya.
"Taehyung! Taehyung!"
Crash!
Jungkook membuka matanya dengan keringat yang mengucur deras. Bahkan dia tak menyadari jika air matanya sudah menganak sungai di pipinya. Kepalanya terasa sangat pusing. Dia ingin Taehyung,
"Taehyung"
.
.
Light On My Darkness
.
.
"Kau akan langsung kembali ke Busan, hyung?" tanya Minjae saat beberapa perawat berkumpul, termasuk Taehyung.
"Eum. Besok aku harus kembali pada pekerjaanku"
"Apa…apa tidak bisa Min Yoongi dipindah ke Busan juga?" tanya salah seorang perawat.
Taehyung tertawa, "Tentu saja bisa. Tapi apa noona siap melihat media penuh dengan berita seorang pasien rumah sakit jiwa membunuh perawatnya sendiri"
"Ya! Ya! Jangan macam-macam"
Semuanya tertawa mendengar kelakar Taehyung. Taehyung sendiri hanya bisa tertawa. Dia rindu suasana seperti ini.
"Jadi..bagaimana rencanamu?"
"Rencana apa?"
"Rencana untuk Min Yoongi dan Jeon Jungkook"
Taehyung diam saat Minjae menanyakan hal itu. Dia sudah punya rencana, tapi dia juga tak yakin akan berhasil. "Aku akan mencoba membawa Jungkook ke terapis yang ada di Busan. Begitu juga untuk Min Yoongi. Dan untuk sementara…aku akan mengunjungi Yoongi seminggu sekali"
"Apa tidak apa-apa?"
Taehyung hanya tersenyum. Kemudian namja itu berdiri. "Kajja Minjae-ya. Aku akan mengecek kembali Min Yoongi sebelum pulang"
Teman-temannya hanya memandang Taehyung sendu. Namja itu tak pernah mengeluh pada mereka. Taehyung termasuk orang yang sulit mengatakan tidak. Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
.
.
Saat Taehyung sampai di ruangan Min Yoongi, namja itu sedang tidur. Dengan perlahan Taehyung menghampiri Yoongi. Sedikit memeriksa keadaan Yoongi secara perlahan, takut membangunkan singa putih itu. Sayangnya pergerakannya dihentikan Yoongi yang langsung memegang pergelangan tangannya.
"Kau pergi?"
"Eum! Aku harus bekerja dan pekerjaanku bukan disini" Taehyung berusaha tenang walau sebenarnya dia sangat penasaran. Penasaran kenapa Yoongi begitu tenang.
Yoongi bahkan tidak membuka mata dan melihatnya. Dengan perlahan Taehyung berusaha melepas pegangan tangan Yoongi padanya. Tapi namja itu bahkan tak ingin melepas tangannya.
"Kenapa?"
"Huh?" Taehyung mengerutkan keningnya saat Yoongi tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kenapa harus ke Busan kalau kau bisa disini?"
Taehyung membulatkan matanya saat mendengar Yoongi menyebut nama Busan. Belum sempat Taehyung bertanya, Yoongi sudah membuka matanya dan menatapnya langsung. Taehyung kenal tatapan itu. Itu pandangan saat Yoongi pertama kali kemari.
"Da-darimana kau tau?"
Yoongi menyeringai, "Pergilah" Yoongi melepas pegangannya pada pergelangan tangan Taehyung.
"Ka-kau.."
"Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu tertahan disini"
Tanpa diminta lagi, Taehyung bergegas keluar ruangan. Tak lupa mengunci pintu teralis besi ruangan Yoongi dengan rantai. Taehyung pergi tanpa menoleh lagi.
Itu membuat Taehyung melewatkan tatapan gelap Yoongi dan seringainya yang semakin terlihat menyeramkan.
"Lakukan pekerjaanmu selagi aku memberi kesempatan Kim Taehyung"
.
.
TBC
.
Huaaaaaa~~~
Maapkeun diriku~ Ini pasti udah lama banget semenjak aku terakhir update yaa T_T
UAS dan kawan-kawannya mengepungku, ditambah WB menyerangku u,u
Dan tenang aja, walaupun aku ngga bisa fast update, ff ini tetep bakal dilanjutkan sampai tamat.
Sejujurnya aku ngga tau mau ditamatin sampe chap berapa xD
Ini alurnya terlalu lambat ngga sih? Atau ceritanya terlalu muter"?
Ponselku rusak dan disana ada draft ff ini sampai beberapa chap ke depan.
Ah, kalau misalnya ini membosankan atau alurnyaa terlalu cepat atau ceritanya muter-muter, aku bakal langsung namatin ini dalam 2 atau 3 chapter lagi xD
Dan, terima kasih sekali buat yang udah review, follow, favorite serta yang nanyain ini terus
Aku terharu~~~
See you in next chap
Big love, clou3elf
