Light On My Darkness
Chapter 7
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
.
.
.
Jungkook kemudian bangkit dan berniat kembali meneruskan langkahnya mencari Taehyung. Tapi niat itu sejenak terlupakan begitu melihat sesosok namja yang berdiri sekitar sepuluh meter darinya. Jungkook tak mengenalnya tapi dia yakin sekali namja itu memandangnya.
Jungkook memandang namja itu datar. Sedangkan namja itu memandangnya sinis. Entah sadar atau tidak, masing-masing dari mereka mengeluarkan aura yang tidak biasa. Aura kelam yang mencekam.
"Siapa kau?" tanya Jungkook tanpa rasa takut sama sekali.
"Sampai jumpa lagi Jeon Jungkook" suara itu begitu dingin dan berbahaya.
.
.
Taehyung melihat Jeon Jungkook sedang berjalan terseok. Dan tanpa mengenakan alas kaki!
Taehyung memilih berlari menyusul Jungkook. Saat jaraknya tinggal satu meter barulah Taehyung memanggil Jungkook.
"Jungkookie astaga" Taehyung segera menghampiri Jungkook dan membungkus tubuh kekar itu dengan mantel yang dibawanya.
"Taehyung"
"Ya?"
"Dingin"
Taehyung menyelimuti tubuh Jungkook yang sedikit menggigil dengan tiga lapis selimut tebal. Tak lupa menyalakan penghangat ruangan. Taehyung juga sempat mengganti baju yang dikenakan Jungkook dengan pakaian yang dibelinya beberapa hari lalu.
"Tae..dingin"
Taehyung mondar mandir seraya memikirkan cara untuk menghangatkan Jungkook. Tapi hanya satu cara yang terpikirkan. Dengan menggigit bibir bawahnya ragu, Taehyung masuk ke dalam selimut. Berbaring di sebelah Jungkook dan memeluk namja itu.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Taehyung menyadari jika Jungkook sudah tertidur dengan lelap. Juga tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyadari jika wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
'Astaga aku bisa gila karena Jungkook'
Dan sekitar lima meter dari gedung asrama Taehyung. Di sudut gelap yang tersembunyi. Seorang namja tampan memperhatikan gedung tempat tinggal Taehyung itu dengan seringai tersungging dan mata yang menyipit tajam.
.
.
Chapter Seven
.
.
Pagi harinya begitu Taehyung membuka matanya, dia melihat Jungkook yang masih tertidur dengan damai. Perawat manis itu hanya memandangi Jungkook dengan pandangan yang sulit diartikan.
Semenit kemudian Taehyung menghela nafas. Dia harus segera bangkit dan memasak sesuatu untuk Jungkook. Sekarang sudah jam 6 omong-omong. Taehyung harus segera bersiap dan membawa Jungkook kembali ke rumah sakit.
Selama berada di dalam kamar mandi, Taehyung merenung. Dia memikirkan keadaan Jungkook untuk yang kesekian kalinya. Dia berpikir kemungkinan Jungkook yang merasa jenuh dan tertekan berada di rumah sakit selama hampir tiga tahun ini.
"Apa yang harus kulakukan? Apa Jungkook akan baik-baik saja kalau dia berada di luar rumah sakit berhari-hari?" Taehyung sibuk dengan pikirannya sampai tak sadar sudah menghabiskan waktu selama 40 menit di dalam kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Taehyung melihat Jungkook sudah terduduk gelisah di tepi ranjangnya. Tangannya saling bertaut dan Taehyung berani bertaruh tubuh Jungkook bergetar. Taehyung bisa melihat bibir Jungkook seperti menggumamkan sesuatu.
"Jungkookie? Ada apa?" Taehyung berjalan menghampiri Jungkook.
Mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya, Jungkook langsung mendongak. Mata hitamnya menghujam langsung ke bola mata cokelat milik Taehyung. Taehyung mengerutkan keningnya saat melihat Jungkook memandangnya telak. Dia tak paham kenapa Jungkook harus memandangnya begitu.
Sret!
Dan Taehyung tak sempat menghindar saat Jungkook langsung bangkit dan memeluknya sangat erat. Jungkook memeluknya sangat erat seolah jika dia melepas pelukannya maka Taehyung akan hilang.
"Ada apa?"
"Kukira kau pergi. Kukira kau meninggalkanku"
Taehyung diam. Jungkook sudah mengatakan hal-hal semacam itu tapi tetap saja Taehyung belum terbiasa. Rasanya ada yang aneh dengan jantungnya tiap kali Jungkook berkata begitu manis padanya.
"Sekarang mandilah. Setelah itu kita sarapan dan ke rumah sakit" Taehyung menangkupkan wajah Jungkook.
Namja Kim itu baru sadar jika Jungkook lebih tinggi beberapa senti darinya. Jungkook sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Dia masih memandangi Taehyung.
"Aku tidak mau ke rumah sakit"
"Eh?"
"Aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin disini"
Taehyung diam. Tangannya memegang lengan kekar Jungkook kemudian tersenyum tipis. "Kau harus ke rumah sakit. Kau harus minum obatmu. Bukankah kau ingin sembuh?"
Jungkook diam. Matanya memandang sendu ke dalam mata Taehyung. Taehyung tau arti tatapan itu dan dia hanya menggeleng.
"Tidak Jungkookie. Kau tidak boleh berada di luar rumah sakit. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan" ucap Taehyung sabar.
"Kenapa?"
"Kau masih harus menjalani pemeriksaan" 'dan aku harus memastikan kau aman'
"Apa karena orang-orang berjubah hitam dan orang aneh yang kutemui semalam?"
Deg!
Taehyung melebarkan matanya, "O-orang aneh? Bagaimana orangnya?"
"Dia…lebih pendek dariku. Matanya sipit tapi tajam. Kulitnya putih. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas"
Taehyung merasa kakinya lemas. Dengan tubuh gemetar namja manis itu berjalan menuju tempat tidur. Meraih ponsel pintar di meja nakasnya kemudian mengetik beberapa nomor yang dia hafal. Menunggu sambungan telepon dengan tak sabar.
Jungkook yang melihat Taehyung ketakutan pun berjalan menghampiri perawatnya. Memeluk tubuh kurus itu dari samping setelah sebelumnya mendudukkan diri di samping Taehyung. Dagunya ditumpukan pada pundak sempit Taehyung.
"Yo-yoboseyo..Minjae-yah"
Jungkook mengerutkan keningnya terganggu saat mendengar nama Minjae dan disusul suara lelaki dari ponsel Taehyung.
"Ne hyung. A-ada apa? Kenapa suaramu bergetar begitu?" tanya Minjae dari seberang telepon.
"Lihat di kamar Min Yoongi. Pastikan dia ada di kamarnya sekarang" pinta Taehyung dalam satu tarikan nafas.
"Ada apa hyung? Kenapa?"
"Lakukan saja Jae-yah. Kumohon"
"Tunggu sebentar"
Selanjutnya Taehyung bisa mendengar suara derap langkah kaki yang terkesan terburu-buru. Disusul suara rantai dibuka dan pintu yang terbuka. Taehyung bahkan bisa mendengar suara jantungnya yang berdegup tak karuan.
"Min Yoongi sedang tertidur hyung"
Taehyung menghela nafas lega. Tangannya menyentuh lengan Jungkook yang memeluknya. Tanpa sadar tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Jungkook. Rasanya lega sekali.
"Terima kasih Jae-yah" setelah itu Taehyung memutus sambungan teleponnya.
Jungkook tidak melakukan apapun. Dia hanya memeluk Taehyung erat. Sebisa mungkin ingin membuat Taehyung tenang.
.
.
.
Di Daegu…
.
.
"Min Yoongi sedang tertidur hyung"
"Terima kasih Jae-yah"
Yoongi mendengar suara itu. Dia mendengar suara berat yang dia rindukan. Suara Kim Taehyung. Namun Yoongi memilih untuk tetap memejamkan matanya. Menunggu hal apa yang akan dibicarakan Taehyung dan Minjae selanjutnya.
Tapi Yoongi tak mendengar apapun. Begitu matanya sedikit terbuka, Minjae sudah berada di luar ruangan. Namja itu menyeringai. Sepertinya dia bisa menebak apa yang dibicarakan mereka berdua. Tidak mungkin Kim Minjae mau repot-repot ke kamarnya jika pembicaraan mereka tidak menyangkut dirinya bukan?
"Kim Taehyung. Kau menggemaskan sekali" Yoongi menyeringai kemudian melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kedatangan Minjae tadi.
Entah karena terlalu memikirkan Taehyung atau apa, Yoongi tidak menyadari jika Minjae masih disitu. Perawat itu belum benar-benar pergi dari kamar Yoongi. Dan ada untungnya juga dia masih disini. Dia jadi tau Min Yoongi tertarik kepada Kim Taehyung. Hyung tersayangnya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Taehyung mengijinkan Jungkook tinggal di kamar asramanya selama 3 hari. Hanya tiga hari. Taehyung tak mau mengambil resiko membiarkan Jungkook disini terlalu lama.
Dan dikarenakan untuk beberapa hari ke depan Jungkook tinggal di rumahnya, otomatis Taehyung harus menyediakan persediaan bahan makanan. Dia harus memastikan Jungkook memakan makanannya dan meminum obat.
"Kau mau ikut aku?"
"Kemana?"
"Berbelanja. Aku harus belanja agar bisa memasak untukmu. Dan juga aku harus pergi ke rumah sakit mengambil obatmu. Walau pun kau kuijinkan tinggal disini, tapi kau tetap harus meminum obatmu" Taehyung berusaha menjelaskan dengan sabar.
Jungkook diam. Matanya menerawang ke arah langit-langit kamar Taehyung. Kemudian matanya menatap Taehyung dengan seksama. Tangannya melingkari pinggang Taehyung posesif. Taehyung sedikit menegang karena terkejut.
"Kau..kenapa?"
"Kau tidak keberatan aku berada disini? Kau tidak takut padaku?"
Taehyung mengerutkan keningnya, "Kenapa aku harus takut? Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu. Apa kau tidak takut tinggal di tempat yang termasuk asing bagimu?"
Jungkook menyusupkan wajahnya di perpotongan leher Taehyung. Jungkook suka aroma yang menguar dari tubuh Taehyung. Aromanya lembut dan menenangkan. Jungkook juga suka semua sikap Taehyung padanya, tidak ada kebohongan dari cara Taehyung memperlakukannya.
Intinya Jungkook suka semua yang ada pada diri Taehyung.
"Jungkook?"
"Aku bosan di rumah sakit. Aku bosan berada di dalam ruangan"
Gumaman Jungkook membuat Taehyung terdiam. Sepertinya Jungkook memang bosan berada di tempat yang sama selama hampir tiga tahun.
'Baiklah sesekali ajak Jungkook ke luar rumah sakit tidak akan jadi masalah' pikirnya.
"Jungkook"
"Ya?"
"Kau mau jalan-jalan? Setelah mengambil obatmu di rumah sakit, kita jalan-jalan"
Jungkook diam. Memandang Taehyung dengan seksama. Sejujurnya Taehyung jadi gugup saat Jungkook menatapnya begitu. Tatapan itu begitu mengintimidasi namun lembut disaat yang bersamaan. Taehyung hampir melupakan pijakannya.
"Apa kau boleh jalan-jalan denganmu?"
Taehyung tertawa kemudian mencubit pipi kanan Jungkook pelan secara refleks, "Tentu saja. Siapa yang melarangmu pergi jalan-jalan" Taehyung tertawa.
Jungkook tak tau bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas perasaannya ringan saat melihat tawa yang ditunjukkan Taehyung padanya. Dia senang Taehyung bahagia. Perasaannya meletup-letup saat Taehyung mencubit pipinya tadi.
"Ah kurasa kau juga harus membeli beberapa potong pakaian lagi. Kajja kita bersiap. Ah, kau mau makan di luar atau aku perlu memasak sesuatu untukmu?"
"Memasak"
Taehyung mengangguk paham kemudian berjalan menuju dapur mini di kamarnya. Kamar asramanya termasuk lengkap. Hanya saja Taehyung sedikit jarang menggunakan semua fasilitas di kamarnya.
"Tunggu dan duduk disini. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu"
Jungkook mengangguk. Dia hanya diam sambil memperhatikan Taehyung yang mulai mondar mandir mengambil bahan makanan dan mulai memotong-motong. Sesekali terdengar perawat manis itu bersenandung dan menyanyi.
Tanpa sadar Jungkook tersenyum geli. Dia membayangkan Taehyung melakukan ini setiap hari. Membangunkannya. Menyiapkan keperluannya. Memasakkannya. Jungkook ingin selalu begini.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung dan Jungkook akhirnya tiba di rumah sakit. Sang perawat meminta Jungkook untuk menunggu di kursi di halaman belakang. Jungkook sekali lagi menurut. Dia selalu menuruti apapun yang dikatakan Taehyung.
Dan saat Jungkook sedang duduk di kursi taman, seseorang mendekatinya. Orang itu juga mengenakan pakaian putih yang biasanya digunakan Taehyung. Jungkook jadi tau jika orang itu juga bekerja sebagai perawat. Namun rasanya dia bukan dari rumah sakit ini karena Jungkook tidak pernah melihat namja itu di sekitar sini.
"Hai, kau pasti Jungkook"
"Kau siapa?" tanya Jungkook waspada.
Namja itu tersenyum. Memamerkan eye smile yang sebenarnya mempesona namun Jungkook sudah terlanjur curiga terhadap namja ini. Mata hitamnya menyorot tajam.
Orang itu hanya tersenyum. Dan itu membuat Jungkook semakin meningkatkan kewaspadaannya. Pikirannya mulai berpikir macam-macam. Jungkook merasakan aura yang tidak bersahabat dari namja ini.
"Apa kau takut padaku?"
Jungkook diam. Matanya masih memindai penuh kewaspadaan. Jungkook sama sekali tidak percaya dengan orang lain, kalau kalian ingin tau. Dengan Taehyung sekalipun, terkadang ada setitik rasa ketidak percayaannya pada perawatnya. Walau pada akhirnya Jungkook sekarang sudah mempercayai Taehyung sepenuhnya.
"Kau siapa?!" sentak Jungkook.
Bukannya menjawab, namja itu hanya tersenyum sambil memandang Jungkook lekat. Jungkook sedikit merinding dengan cara orang itu menatapnya. Tatapan itu sulit diartikan dan sejujurnya itu membuat Jungkook risih.
Melihat orang itu masih terus mengganggunya, Jungkook bangkit untuk menyusul Taehyung. Namun orang itu malah mencekal lengannya. Jungkook tersentak kemudian langsung berbalik memukul orang itu cukup keras.
BUGH!
Jungkook balik menatap orang itu dengan beringas. Urat-urat di sekitar lehernya menegang. Wajahnya memerah karena marah dengan gigi gemeletuk. Namja itu sangat terganggu dengan kehadiran orang ini.
Jungkook melihat orang itu menertawainya. Menatapnya dengan pandangan yang sangat meremehkan dan merendahkannya. Seringai orang itu nyaris membuatnya kalap. Jungkook benci ditatap seperti itu.
"Astaga!" Taehyung langsung menarik lengan Jungkook untuk menatapnya sebelum namja Jeon itu membuat namja ini babak belur.
Tatapan Jungkook masih belum fokus sepenuhnya. Matanya masih bergerak-gerak penuh amarah. Nafasnya masih memburu. Taehyung segera menyimpan obat-obatan milik Jungkook dan menangkupkan kedua pipi namja itu.
"Hey hey Jungkookie" panggil Taehyung.
Jungkook akhirnya menatapnya. Mata hitam itu terpaku padanya. Dan segera saja Jungkook memeluknya erat. Taehyung menghela nafas lega.
Mata kucingnya melirik ke arah namja yang masih terduduk di tanah sambil memandangnya. Taehyung tak tau apa arti tatapan orang itu padanya, yang jelas itu membuat perasaannya tidak nyaman. Namun sebisa mungkin Taehyung bersikap ramah padanya. Apalagi saat melihat lebam di sudut bibirnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Taehyung. Dia kesulitan melepas pelukan Jungkook padanya.
Taehyung mengulurkan tangannya ke arah namja itu untuk membantunya berdiri. Jungkook disampingnya hanya memandang paras Taehyung. Enggan menatap orang berpakaian putih di depannya. Namja itu menerima uluran tangan Taehyung.
Perawat manis itu mengernyit kesakitan saat namja yang ditolongnya malah meremas tangannya begitu kuat. Remasan itu seolah bisa meremukkan telapak tangan kurus Taehyung. Dan Jungkook yang melihat ekspresi Taehyung pun langsung sigap menyentak tangan pemuda itu dan membawa Taehyung ke belakangnya.
"Uh maafkan aku" pemuda itu mengangkat tangannya memberi gesture menyerah. "Omong-omong salam kenal. Aku psikiater yang akan bertugas disini selama 3 bulan. Aku Kim Mingyu"
Taehyung tersenyum paham. Dia hendak menghampiri Mingyu namun Jungkook menahan tangannya. Mata hitam namja Jeon itu menatap Mingyu tajam. Rasanya Mingyu akan mati karena ditatap seperti itu oleh Jungkook jika tatapan bisa membunuh. Namun Mingyu hanya diam memandang Jungkook dan tersenyum tipis.
"Aku Kim Taehyung dan dia Jeon Jungkook. Ah Mingyu-sshi, maafkan Jungkook karena memukulmu" ucap Taehyung.
Mingyu tersenyum miring, "Tidak apa, kurasa karena aku juga sedikit membuatnya takut"
"Sekali lagi maafkan Jungkook"
"Skizofrenia?"
"Apa?"
"Jeon Jungkook ini..terkena skizofrenia" ucapan Mingyu lebih terdengar sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
"Dari mana kau tau?"
"Aku banyak mendapat informasi tentangnya" ucapnya misterius. "Lagipula kau pernah meminta psikiater untuk membantu penyembuhan Jungkook kan?"
Taehyung mengangguk pelan, "Ahh~ jadi kau psikiater yang akan membantuku menyembuhkan Jungkook. Kukira kau akan datang paling tidak beberapa hari lagi" ucapnya.
"Tidak. Lagipula aku sudah tidak sabar" Mingyu menyeringai. "..melihatnya sembuh"
Jungkook memandang Mingyu penuh amarah. Sementara Taehyung mulai kikuk. Atmosfer ini terlalu mencekam. Dia tak mengerti maksud perkataan Mingyu yang sebenarnya. Namun sekali lagi, perasaannya mengatakan akan ada hal yang buruk setelahnya.
.
.
Karena hari masih pagi dan pusat perbelanjaan masih tutup, Taehyung memutuskan untuk mengajak Jungkook sarapan di kedai bubur. Jungkook yang meminta sebenarnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Taehyung saat melihat Jungkook masih terdiam.
"Apa kau yang membawa orang itu?"
"Kim Mingyu?" tanya Taehyung memastikan dan Jungkook mengangguk. "Secara tidak langsung iya. Aku hanya meminta pada kepala rumah sakit untuk mendatangkan psikiater karena kurasa kau memerlukan itu untuk membantu proses penyembuhanmu"
Jungkook akhirnya menatap Taehyung, "Tidak bisakah hanya kau? Aku tidak ingin orang itu"
Taehyung tersenyum, "Itu bukan keahlianku. Mungkin aku bisa membantumu tapi akan lebih baik jika orang yang sangat ahli yang menanganinya. Lagipula tidak hanya kau yang ditanganinya. Hampir semua pasien di rumah sakit"
"Kau akan bersamaku?"
"Ne. Aku akan terus bersamamu. Janji"
Jungkook akhirnya tersenyum lega mendengar janji yang diucapkan Taehyung. Jungkook selalu percaya dengan janji dan ucapan Taehyung. Namja itu tidak pernah mengingkari janjinya selama ini.
"Ah kepala rumah sakit mengijinkan kau tinggal bersamaku dan aku hanya perlu fokus padamu. Aku juga hanya perlu datang sekali untuk melaporkan perkembanganmu" Taehyung tidak tau Jungkook memahami maksud perkataannya atau tidak. Yang terpenting perhatian Jungkook tentang sosok psikiater baru itu sedikit teralihkan.
"Apa aku juga harus ke sana?"
"Tidak perlu. Kau tunggu di kamarku saja"
"Tapi aku ingin menjagamu"
Taehyung mendadak blank saat mendengar ucapan Jungkook. Kalimat itu adalah satu dari sekian kalimat dari mulut Jungkook yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Sialnya lagi, kenapa dia jadi berdesir?
.
.
"Namja itu tidak ada di rumah sakit. Taehyung membawanya"
"Kemana Taehyung membawanya?"
"Aku tak tau kemana jalang itu membawa Jeon Jungkook"
"Jalang itu milikku"
"Aku tau"
.
.
Taehyung mengajak Jungkook ke perpustakaan kota. Setidaknya Taehyung juga harus merangsang otak Jungkook untuk bekerja kan? Dan membaca buku adalah salah satu caranya.
Menurut Taehyung, Jungkook memiliki semacam trauma dan depresi yang membuatnya selalu berpikir buruk terhadap orang lain. Entah itu dari keluarga, teman-teman, atau lingkungan. Jungkook tumbuh menjadi orang yang sangat pendiam. Ah, Taehyung perlu berbincang dengan ibu Jungkook terkait masa lalu namja yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Taehyung memperhatikan bagaimana akhirnya Jungkook tenggelam dalam tulisan-tulisan dalam buku itu. Jungkook tampak jauh lebih tampan saat sedang serius dengan sesuatu yang dikerjakannya. Mata itu begitu hidup dan Taehyung suka melihatnya. Tidak ada kilat ketakutan, amarah, dan penderitaan yang ditanggungnya seorang diri.
Setelah memastikan jika Jeon Jungkook akan baik-baik saja dengan buku-buku di tangannya, maka Taehyung pun bisa fokus dengan buku bacaannya. Taehyung rasanya senang sekali dengan suasana tenang seperti ini. Sepertinya memang dia perlu sesekali mengajak Jungkook jalan-jalan. Itu baik untuk Jungkook dan juga untuk dirinya sendiri.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Jungkook dan Taehyung baru keluar dari perpustakaan kota setelah waktu menunjukkan pukul 3 sore. Saking asyiknya mereka membaca buku sampai tak menyadari waktu berlalu begitu cepat. Dan berakhir Taehyung yang menarik tangan Jungkook untuk segera bergegas ke pusat perbelanjaan.
"Ayo cepat. Apa kau tidak lapar?" Taehyung terus mengoceh tentang betapa bodohnya dia sampai harus melewatkan jam makan siang. Ditambah langit mulai berwarna kelabu dan menunjukkan tanda-tanda akan terjadi hujan. Sekali lagi Taehyung mengomeli dirinya sendiri.
Jungkook sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan langkah Taehyung yang cepat namun tidak beraturan itu. Hell. Pusat perbelanjaan bahkan hanya berjarak sekitar 250 meter. Tidak perlu terburu-buru bukan?
Begitu memasuki pintu masuk pusat perbelanjaan, Jungkook ganti menggenggam tangan Taehyung saat namja itu hendak melepas pegangannya. Taehyung hanya membiarkannya. Dia berpikir mungkin Jungkook masih sedikit ragu berada di luar seperti ini.
Mereka berjalan berdampingan. Tampak seperti saudara yang sangat dekat bahkan seperti sepasang kekasih. Taehyung menguatkan tautan tangan mereka saat melihat ada beberapa orang yang sepertinya membicarakan mereka. Taehyung tau jika orang-orang itu mengagumi mereka, terlihat dari ekspresi mereka. Namun belum tentu Jungkook akan berpikir begitu.
Pandangan Jungkook mulai tak fokus. Beberapa kali dia sedikit oleng. Tangannya mulai berkeringat dingin, Taehyung menyadari itu. Perawat itu hanya menarik Jungkook untuk secepatnya pergi dari situ. Jangan sampai Jungkook kambuh disini, pikirnya.
"Lihatlah. Namja berambut cokelat itu manis sekali. Tapi siapa yang disampingnya?"
"Sepertinya itu kekasihnya. Tapi…"
"Buruk sekali penampilannya. Mereka tidak cocok"
"Namja itu blablablabla"
Jungkook mendengarnya dengan jelas. Orang-orang itu mulai mengusiknya. Mereka membicarakannya dan Taehyung. Menyebutnya buruk rupa dan tak pantas bersanding dengan Taehyung. Menyebutnya gila, tidak waras, aneh, kelainan, dan banyak lagi.
Jungkook muak. Matanya mulai menyorot tajam. Wajahnya pun mulai memerah karena marah. Langkahnya terhenti dan dia menoleh ke gerombolan orang-orang yang tertawa tak jauh darinya. Menertawainya.
Namja bermarga Jeon memperhatikan baik-baik wajah dari masing-masing mereka. Entah apa yang ada dipikiran Jungkook sekarang. Taehyung hanya bisa terus menarik lengan kokoh Jungkook.
"Sudahlah abaikan mereka Jungkookie. Mereka tidak mengatakan hal yang buruk. Kajja kita cari pakaian untukmu dulu" Ucap Taehyung. Memang sebenarnya mereka mengatakan hal yang baik.
Jungkook menurut. Perkataan orang-orang masih terdengar di telinganya sampai mereka tiba di salah satu butik yang cukup sepi. Taehyung sengaja memilih butik yang sepi agar lebih leluasa memilih pakaian tanpa khawatir Jungkook akan merasa tidak nyaman.
Taehyung melepas tautan tangan mereka dan memilih beberapa kemeja yang sekiranya cocok untuk Jungkook. Jungkook masih diam di tempatnya. Memperhatikan Taehyung yang mondar mandir memilih beberapa pakaian untuknya. namja itu memilih menunggu sambil duduk di kursi yang disediakan.
Matanya mengedar memperhatikan tiap sudut dari butik ini. Dan tanpa sengaja mata hitamnya melihat salah satu dari gerombolan orang yang mengejeknya tadi memasuki butik yang sama. Seketika Jungkook kembali dikuasai amarah yang ditimbulkan dari halusinasinya.
Jungkook mengikuti orang itu diam-diam. Orang itu mengenakan earphone berwarna hitam di kedua telinganya. Menguntungkan Jungkook sebenarnya. Tanpa sadar Jungkook menyeringai.
.
.
Taehyung selesai memilih beberapa lembar kaos, kemeja dan celana serta dalaman untuk Jungkook. Matanya mengedar mencari keberadaan namja tampan itu. Taehyung ingin mencocokkan dengan postur dan selera Jungkook.
Chup!
"Omo!" Taehyung tersentak saat seseorang tiba-tiba mencium pipinya. Tapi akhirnya namja itu bernafas lega saat melihat orang itu ternyata Jungkook.
Jungkook tersenyum dengan manis. Membuat Taehyung mau tak mau jadi berdebar. Kenapa Jungkook jadi setampan ini?
"Kau dari mana saja?"
Jungkook mengangkat sebuah hoodie berwarna merah yang tadi sempat diambilnya. "Aku tertarik dengan ini"
Taehyung memperhatikan hoodie yang dipegang Jungkook dengan seksama. Hoodie ini tampaknya terlihat cocok dengan Jungkook.
"Itu bagus. Kalau kau mau ambil saja. Ah! Aku sudah memilihkan beberapa pakaian untukmu. Lihat dan cobalah lalu ambil yang manapun yang kau sukai" ucap Taehyung.
Selama sekitar lima menit Jungkook memilih pakaian yang sudah dipilihkan Taehyung. Dan berakhir pada 2 kemeja berwarna putih, 3 kaos putih polos, 1 hoodie merah, beberapa celana dan dalaman, serta mantel berwarna abu-abu dan jaket merah marun. Taehyung tak peduli dengan tagihannya yang akan membengkak setelah ini.
Sebenarnya Taehyung juga tak tau kenapa dia harus melakukan semua ini untuk Jungkook. Tugasnya hanya merawat Jungkook, otomatis hanya memastikan Jungkook menjalani pemeriksaan, memastikan Jungkook meminum obatnya dengan teratur, dan memastikan Jungkook hidup dengan nyaman. Tapi kenapa pada kenyataannya Taehyung justru masuk terlalu dalam ke kehidupan Jungkook?
Setelah proses pembayaran selesai, Taehyung dan Jungkook keluar. Beruntung mereka keluar saat beberapa orang mulai memasuki butik itu. Dan selang tujuh menit sejak Taehyung dan Jungkook keluar dari butik, terjadi kehebohan di dalam butik itu.
Seorang pemuda terkapar di dalam ruang ganti. Pingsan. Dan entah kebetulan atau apa, toko itu tidak memiliki cctv.
.
.
Light On My Darkness
.
.
"Sepertinya bekerja sama denganmu itu menarik"
"Aku tidak sedang bernegosiasi denganmu bastard"
"Keh! Tanpa bantuanku kau tak akan bisa mendapatkan jalangmu itu"
"Persetan! Aku akan mendapatkan Taehyung dengan atau tanpa bantuan bajingan sepertimu"
"Cih! Kau bahkan masih di dalam neraka itu"
"Kau cukup awasi Taehyung-ku dan setan itu"
"Orang yang kau sebut setan itu milikku"
"Terserah. Aku tak peduli. Bereskan orang itu sebelum aku yang bertindak"
"Dasar psiko"
"Kau perlu kaca, dude?. Kau bahkan lebih parah dariku"
"Tapi aku lebih pintar darimu"
Yoongi langsung memutus sambungan teleponnya saat mendengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Namja berkulit pucat itu menyembunyikan ponsel itu di bawah bantal. Kemudian berpura-pura tertidur memunggungi pintu.
Tiba-tiba seseorang membekapnya. Otomatis Yoongi berontak. Orang itu mengunci pergerakannya. Namun Yoongi masih memiliki banyak cara untuk lepas dari kuncian orang itu. Yoongi sudah sering mengalami ini, ingat? Tak sulit baginya untuk lepas.
Yoongi menyodok tulang rusuk orang di belakangnya menggunakan siku dengan sangat keras. Sekilas terdengar suara krak yang menyakitkan dan batuk-batuk.
Namja Min itu langsung meloncat menjauh dan menatap pelaku penyerangannya. Kim Minjae.
"Berani sekali kau melakukannya" desis Yoongi berbahaya. Kepalanya pusing karena dia sempat menghirup obat bius yang dibubuhkan Minjae di kain.
"Kau..ukh!" Minjae tak mampu berbicara apapun karena rusuk kirinya berdenyut menyakitkan. Yoongi tak main-main dengan sodokan sikunya tadi.
Dengan sisa kesadaran, Yoongi menghampiri Minjae. Menjambak rambut sahabat Taehyung itu dengan tidak berperikemanusiaan. Mengabaikan erangan lemah Minjae. Yoongi memandang perawat itu dengan tatapan menusuk.
"Aku sudah berjanji pada Taehyung untuk tidak menyakiti siapapun disini asalkan Taehyung kemari tiap minggu. Tapi kau memancingku, jadi apa yang harus kulakukan. Memegang janjiku pada Taehyung atau-" Yoongi semakin menarik rambut Minjae dengan kuat. "-menghabisimu"
"Tae-hyung…tak akan..kemari. Ukh! Akan ku-pastikan..T-Taehyung tetap disana"
"Bangsat!" Yoongi menyentak kepala Minjae ke samping yang sialnya malah terbentur pinggiran meja. Perawat itu jatuh terkapar dengan darah yang mengalir dari pelipis.
"Tidak ada yang bisa…memisahkanku dari Taehyung. Jungkook sekalipun" itu ucapan Yoongi sebelum dia jatuh karena pengaruh obat bius.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung dan Jungkook tiba di asrama tepat pukul 7 malam. Mereka baru saja menyelesaikan acara belanja mereka. Taehyung menyuruh Jungkook untuk segera mandi sementara dia memasak. Lagi-lagi Jungkook menurut.
"Taehyung apa kau memiliki shampoo?"
"Ah tunggu sebentar, akan kusiapkan" Taehyung meletakkan bahan-bahan makanan yang tadi dipegangnya.
Taehyung menyiapkan semua keperluan Jungkook. Sabun, shampoo, sikat gigi baru, pasta gigi, handuk baru juga pakaian Jungkook. Nyaris seperti seorang istri yang menyiapkan suaminya. Dan sebenarnya jika diperhatikan lagi, mereka seperti sepasang pengantin baru.
"Terima kasih" Jungkook tersenyum seraya mengacak rambut Taehyung saat namja manis itu memberikan semua perlengkapan mandinya.
Taehyung menggerutu begitu Jungkook masuk ke dalam kamar mandi. Rasanya menyebalkan saat seseorang mengacak-acak rambutnya. Walau sebenarnya sama sekali tidak menimbulkan efek apapun bagi Taehyung karena rambutnya akan kembali seperti semula dengan sendirinya. Setelah memastikan Jungkook tidak akan mengusik kegiatannya lagi, Taehyung segera melanjutkan kegiatan memasakknya.
Lima belas menit kemudian Jungkook sudah keluar dari kamar mandi. Melihat Taehyung belum selesai memasak, Jungkook memilih menunggu di balkon kamar Taehyung. Dia rindu angin malam yang membungkus tubuhnya. Namja tampan itu memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam udara malam.
Entah Jungkook sadar atau tidak, seseorang tengah memperhatikannya dari kegelapan yang menyamarkan keberadaan orang asing itu. Jeon Jungkook tidak akan pernah tau orang itu tengah menyeringai sambil memandang Jungkook lapar.
"Jeon Jungkook" desis orang itu.
Mendadak bulu kuduk Jungkook meremang. Matanya seketika mengedar ke bawah. Seolah mencari sesuatu. Hingga tanpa sadar tubuhnya condong ke depan.
"Omo!" Taehyung yang hendak memanggil Jungkook pun langsung memegangi kedua lengan kekar itu. Nyaris saja Jungkook jatuh. Dan sepertinya Jungkook juga baru menyadarinya.
"Tae-" Jungkook berbalik menghadap Taehyung. Tangannya menangkup wajah sang perawat kemudian Jungkook menyandarkan dahinya ke pundak Taehyung.
Dari bawah sana seseorang tengah memandang penuh dendam ke arah Taehyung. Seringai itu kemudian kembali terpatri secara menyeramkan.
"Kim Taehyung. Mari kita lihat, aku atau Yoongi yang akan membereskanmu" gumamnya berbahaya.
.
.
Keesokan harinya Taehyung terbangun karena ponselnya terus bergetar. Dengan mata setengah terpejam dan nyawa yang belum terkumpul, Taehyung meraih ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas meja. Saat hendak menggeser ikon hijau di atas layar, Taehyung baru sadar dia berada dalam pelukan hangat Jungkook.
Seingatnya semalam Jungkook sempat mengalami mimpi buruk dan halusinasi kemudian dia memeluk Jungkook untuk menenangkannya. Selanjutnya Jungkook berakhir tidur sambil memeluknya erat dan posisi kepala namja Jeon itu ada di dadanya. Kenapa jadi terbalik?
Taehyung menggelengkan kepalanya. Getaran di ponselnya berhenti. Taehyung hendak meletakkannya kembali sebelum ponsel itu kembali bergetar. Digesernya ikon hijau di layar.
"Yoboseyo?"
"Hiks Taehyung-ah" mendengar suara tangis, Taehyung langsung mengecek id pemanggil, Jihyun noona.
"Wa-wae noona? Kenapa menangis?"
"Minjae masuk rumah sakit"
"Mwo?! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?" tanya Taehyung beruntun seraya merubah posisi menjadi duduk. Mendadak Taehyung merasa sesak. Kim Minjae.
"Kami menduga dia berkelahi dengan Min Yoongi. Astaga Tae, kau takkan tega membayangkan tulang rusuk Minjae patah, kepalanya mengeluarkan banyak darah, dan-dan-"
"Be-berkelahi dengan Min Yoongi? Noona serius?" Taehyung rasanya lemas. Sekuat mungkin dia menahan air matanya agar tidak meleleh.
"Kami menemukan Minjae tergeletak tak jauh dari Min Yoongi. Mereka sama-sama pingsan tapi kondisi Minjae benar-benar sekarat. Entah apa yang dilakukan Minjae sampai dia berniat membius Yoongi"
"Me-membius Yoongi?"
"Kembalilah Tae, kumohon"
Taehyung tercenung di tempatnya. Dia tak mungkin ke Daegu membawa Jungkook. Terlalu berbahaya. Tapi entah kenapa firasatnya mengatakan jika dia membiarkan Jungkook disini tanpa pengawasan juga bahaya.
"Akhir pekan aku akan menjenguknya noona" ucap Taehyung akhirnya.
"Maksudku kembali bekerja di Daegu, Tae. Bukan hanya mengunjungi setiap akhir pekan" suara Jihyun noona terdengar putus asa. "Min Yoongi hanya mau kau"
"Kau tau aku tidak bisa noona" suara Taehyung tercekat. "Aku sudah berjanji untuk membantu Jungkook sampai sembuh"
"Apa tidak bisa membawa Jungkook ke Daegu saja?"
"Tidak. Noona tau bagaimana Skizofrenia kan? Aku tidak mau mengambil resiko dengan menempatkan Jungkook satu kota dengan Yoongi. Apalagi Yoongi sedang sangat berbahaya"
"Apa kau menunggu sampai salah satu perawat disini menjadi korban keganasan Yoongi lagi?"
"Noona"
"Taehyung dengar, kami disini tak keberatan mengurus Yoongi tapi…"
"Maafkan aku"
Terdengar suara helaan nafas berat di seberang sambungan sana. Taehyung menggigit bibirnya.
"Datanglah saat akhir pekan. Jaga dirimu baik-baik"
"Apa kau mau pergi?"
Taehyung menoleh dan menemukan Jungkook berbaring miring sambil memandangnya. Tatapannya terlihat sendu. Taehyung tersenyum lalu mengangguk.
"Tapi tidak hari ini. Cha, bangunlah lalu mandi"
Jungkook memegang tangan Taehyung kemudian menarik namja manis itu. Taehyung yang tak siap pun jatuh telungkup di samping Jungkook.
"Aku hanya ingin tidur"
Taehyung mengerjap-ngerjapkan matanya, shock, "Kalau begitu tidur saja. Ah tidak! Makan dulu lalu minum obatmu setelah itu tidur" Taehyung hendak bangkit namun Jungkook kembali menahannya.
"Kau juga. Wajahmu terlihat kalut. Aku tak ingin mereka menyakitimu"
Taehyung blank. Apa Jungkook kembali berhalusinasi? Namun namja itu tak bicara apapun selain hanya memandangi Jungkook. Tangan Jungkook terulur mengelus pipi Taehyung dengan lembut. Mata hitamnya juga memancarkan kelembutan saat balas memandang Jungkook.
"Terkadang aku tak bisa memahamimu Jungkookie. Terkadang kau terlihat dewasa, terkadang kau terlihat kekanakan, terkadang kau terlihat menyeramkan, tapi lebih sering kau terlihat sangat manis seperti ini" Taehyung menghela nafas.
"Apa itu buruk? Apa itu membuatmu tidak nyaman?"
Taehyung tersenyum. "Sama sekali tidak. Mungkin orang lain akan berbeda pendapat denganku" Taehyung mengedikkan bahunya tak peduli.
Jungkook tak sempat menahan lagi ketika Taehyung tiba-tiba bangkit kemudian pergi ke kamar mandi. Namja bermarga Jeon itu hanya diam sambil memandang kosong ke arah pintu kamar mandi. Entah kenapa Jungkook jadi gelisah mendadak.
.
.
Taehyung menggerutu kesal saat melihat awan hitam mulai bergelayut. Rencananya mengajak Jungkook jalan-jalan jadi batal. Namja itu tak mau mengambil resiko untuk membuat mereka kehujanan di jalan. Lagipula daya tahan Taehyung itu lemah. Sekali terkena hujan pasti dia akan jatuh sakit.
Akan sangat memalukan jika perawat sepertinya jatuh sakit karena tak mampu menjaga dirinya sendiri.
"Jungkookie kau tidak bosan?"
Jungkook yang sedang duduk di samping Taehyung hanya menggeleng. Taehyung cukup heran melihat Jungkook yang tak terlalu banyak bicara sejak beberapa jam yang lalu.
"Ah! Aku ingin membeli baso ikan di seberang jalan. Kau, tak apa kan tunggu disini sebentar?" tanya Taehyung sedikit ragu.
Jungkook reflek menoleh memandang Taehyung protes. Taehyung hanya meringis dibuatnya. Reaksi yang sudah dia tebak sejak awal. Tapi anehnya Jungkook tidak mengatakan apapun. Hanya memandangnya.
"Jangan terlalu lama" ucap Jungkook akhirnya.
Taehyung tersenyum manis kemudian menyambar jaket hitam miliknya, "Kau tunggu disini. Aku hanya sebentar aku janji"
Jungkook mengangguk patuh. Taehyung memberikan beberapa buku ringan terkait pengetahuan yang tidak memberatkan otak Jungkook. Jungkook bisa menunggunya sambil mendengarkan music.
"Aku pergi dulu"
Jungkook mengangguk lagi. Matanya menatap sendu ke punggung Taehyung yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dibalik pintu. Dia ingin menahan Taehyung. Hatinya mulai gelisah. Pikirannya mulai memunculkan kejadian-kejadian buruk yang menimpa Taehyung.
Tangan kekarnya mencengkeram erat pinggiran tempat tidur. Orang-orang di kanan kiri kamar Taehyung mulai membicarakannya. Mereka mulai menghinanya di depan Taehyung. Mereka menertawakannya. Jungkook ingin pergi ke luar dan melihat rupa orang yang menertawakannya.
Jungkook muak. Kemana pun dia pergi, orang-orang itu tak pernah berhenti menertawakan dan menghinanya. Bahkan pergi dengan Taehyung pun Jungkook masih merasa orang-orang itu berbisik menertawakannya. Taehyung sudah berusaha melindunginya.
Akhirnya Jungkook memilih memasang earphone dan menyalakan musik keras-keras. Berharap semoga suara-suara memuakkan itu bisa menghilang teredam alunan musik yang didengarnya. Jungkook berbaring telentang. Matanya menerawang ke langit-langit kamar Taehyung.
.
.
Sementara Jungkook berkutat dengan kegelisahannya, Taehyung mulai menyeberang menghampiri penjual baso ikan yang dia inginkan. Tanpa tahu seseorang memperhatikannya dengan kilatan penuh dendam dan amarah.
Taehyung terlalu polos untuk menyadari seorang pengendara motor melaju kencang menuju ke arahnya. Orang-orang juga tidak menyadari –atau tidak peduli- dengan pengendara motor yang melajukan motornya dengan kencang dan keluar dari jalur.
DUKH!
Taehyung reflek berteriak saat dia terjatuh karena pengendara itu menendang kakinya dari samping dengan sangat keras. Perawat itu jatuh tersungkur dengan bertumpu pada lutut. Bungkusan baso ikan yang dibelinya terjatuh.
Orang itu langsung melajukan motornya dengan cepat. Menghindari kejaran orang-orang. Sementara orang-orang yang berada di dekatnya seketika menolongnya untuk bangkit. Taehyung mengernyitkan keningnya saat kakinya merasa sangat sakit. Well, Taehyung tidak berharap tulangnya patah karena tendangan yang tidak menusiawi itu.
"Kau baik-baik saja?"
"E-heum. Kurasa kakiku hanya sedikit memar" ucap Taehyung.
Orang-orang itu memapahnya untuk menyeberang. Taehyung menolak bantuan orang-orang itu untuk mengantarnya sampai ke depan apartemen. Bisa gawat jika Jungkook melihatnya dipapah orang asing. Sekilas Taehyung masih bisa mendengar suara orang-orang yang mengumpati pengendara motor tadi.
Taehyung memiliki firasat buruk untuk hal ini. Firasatnya mengatakan jika pengendara itu sengaja menendang kakinya dengan sangat keras. Entah apa maksudnya.
.
.
Jungkook sedang berbaring telungkup saat Taehyung masuk ke dalam kamar. Tangannya mencengkeram apapun yang dijadikannya pegangan untuk melangkah. Sebisa mungkin Taehyung tidak menimbulkan suara yang membuat Jungkook terbangun atau menyadari kehadirannya.
Dan itu artinya Taehyung harus mati-matian menahan diri untuk tidak berteriak, karena dia berani bersumpah demi apapun kakinya berdenyut menyakitkan saat dipaksa untuk melangkah. Rasanya tulangnya sedikit bergeser dari tempatnya.
"Ughhh" Taehyung mendesis pelan saat dia memutuskan untuk duduk di kursi makan. Keringatnya bercucuran karena menahan sakit. Dan dengan sangat perlahan pula dia menggeser kursi untuk tempat kakinya berselonjor.
Dilipatnya celana training yang dia pakai. Dan benar saja, kaki tan-nya dihiasi warna biru. Taehyung menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya. Kepalanya terkulai di atas meja makan. Taehyung tidak perduli jika nanti lehernya akan sakit.
Selang beberapa menit kemudian Jungkook bangkit. Dia melihat Taehyung yang mengerang kesakitan di salah satu sudut gang sempit. Keringat namja tampan itu bercucuran. Wajahnya pucat. Dia khawatir. Jungkook langsung bangkit kemudian matanya mengedar ke seluruh tempat.
Dia akan mencari Taehyung. Tapi langkahnya sontak terhenti saat melihat silut orang yang berada di dapur. Dengan langkah yang waspada Jungkook berjalan mendekati bayangan itu. Tubuhnya menegang saat melihat Taehyung tertidur dengan kepala yang terkulai di atas meja dan kaki yang selonjor.
Jungkook melihat orang-orang berjubah hitam mengerumuni Taehyung. Dua diantaranya mengulurkan tangannya ke arah Taehyung. Berniat menggendong namja manis itu kemudian membawanya pergi.
"Andwae. Maldo andwae" lirih Jungkook. Dengan langkah berderap Jungkook melangkah menuju Taehyung.
Menyusup diantara dua kursi yang dipakai Taehyung dan dengan mudah menggendongnya tanpa beban. Jungkook kemudian membawa Taehyung ke ranjang mereka. Meletakkan namja manis itu dengan perlahan. Raut wajahnya tegang.
"Taehyung" panggil Jungkook panik.
Jungkook menepuk pipi Taehyung dengan pelan. Mata dan raut wajahnya memancarkan ketegangan. Demi apapun Jungkook takut Taehyung meninggalkannya. Dia tidak akan pernah mau.
"Ugh..ada apa Jungkookie?" tanya Taehyung serak. Tidurnya sedikit terganggu karena tepukan Jungkook.
"Kau bangun?"
"Hah? Ap-"
GREP!
Taehyung melongo saat Jungkook tiba-tiba memeluknya erat. Namja itu berpindah posisi tanpa melepas pelukannya. Alhasil Jungkook menindihnya dan tak sengaja mengenai luka Taehyung.
"Argh!" Taehyung reflek menjerit.
Jungkook menegang. Dipandanginya Taehyung dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. Jungkook segera bangkit kemudian memandangi Taehyung dari atas sampai bawah. Matanya menatap nyalang saat menemukan lebam biru di kaki Taehyung.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Jungkook tajam.
Taehyung hanya meneguk salivanya kasar. Dia gugup. Belum pernah Jungkook berbicara seperti ini padanya. Nada yang digunakan Jungkook mengingatkannya pada Min Yoongi.
Ingatkan Taehyung untuk sering-sering menyenangkan dirinya sendiri. Dia rasa dia mulai stress.
"Jungkook ini…"
Belum sempat Taehyung menyelesaikan ucapannya, Jungkook sudah berdiri. Auranya mencekam sekali. Tatapan Jungkook pun layaknya predator yang bernafsu ingin memangsa mangsanya. Dan jelas ini bukan hal yang baik, demi Tuhan.
"Jung-akh!"
Jungkook langsung berbalik begitu mendengar suara debuman. Matanya membola saat melihat Taehyung meringis kesakitan karena terjatuh. Taehyung sengaja, sungguh. Mungkin jika tidak begitu Jungkook akan keluar.
"Taehyung!" Jungkook membantu Taehyung kembali ke posisinya semula.
"Jangan pedulikan mereka. Abaikan mereka" ucap Taehyung di tengah rasa sakit di kakinya.
"Kau baik-baik saja?"
Dengan kurang ajarnya hati Taehyung menghangat mendengar ucapan Jungkook. Jungkook berubah drastic dalam waktu singkat. Ini yang membuat Taehyung sedikit takut.
Jungkook berjongkok di dekat kaki Taehyung. Matanya memandang Taehyung yang memandangnya takut-takut. Taehyung hanya takut dengan apa yang dilakukan Jungkook pada lukanya.
Cup!
Taehyung melotot saat melihat apa yang dilakukan Jungkook. Namja itu mengecup lukanya sambil memandanginya telak. Dan Taehyung tak bisa tidak merada berdebar.
Jeon Jungkook benar-benar tak terduga.
.
.
.
TBC
.
.
HALOOOOOOOOO
U-um..sebenernya ngga yakin sama jalan ceritanya wkwkwkwk. Well, karena udah janji sama cucu-cucu terlucknut ku jadi aku post ini tudei.
Ngga ada acara revisi kayak laporan praktikum. Jadi maapkeun kalo ini jadinya acak adut..
