Light On My Darkness
Chapter 8
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
Dan warning lagi..ini 8329 words. Jadi maafkan saya kalo nanti kalian gumoh gumoh
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
.
.
.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Jungkook tajam.
Taehyung hanya meneguk salivanya kasar. Dia gugup. Belum pernah Jungkook berbicara seperti ini padanya. Nada yang digunakan Jungkook mengingatkannya pada Min Yoongi.
Ingatkan Taehyung untuk sering-sering menyenangkan dirinya sendiri. Dia rasa dia mulai stress.
"Jungkook ini…"
Belum sempat Taehyung menyelesaikan ucapannya, Jungkook sudah berdiri. Auranya mencekam sekali. Tatapan Jungkook pun layaknya predator yang bernafsu ingin memangsa mangsanya. Dan jelas ini bukan hal yang baik, demi Tuhan.
"Jung-akh!"
Jungkook langsung berbalik begitu mendengar suara debuman. Matanya membola saat melihat Taehyung meringis kesakitan karena terjatuh. Taehyung sengaja, sungguh. Mungkin jika tidak begitu Jungkook akan keluar.
"Taehyung!" Jungkook membantu Taehyung kembali ke posisinya semula.
"Jangan pedulikan mereka. Abaikan mereka" ucap Taehyung di tengah rasa sakit di kakinya.
"Kau baik-baik saja?"
Dengan kurang ajarnya hati Taehyung menghangat mendengar ucapan Jungkook. Jungkook berubah drastic dalam waktu singkat. Ini yang membuat Taehyung sedikit takut.
Jungkook berjongkok di dekat kaki Taehyung. Matanya memandang Taehyung yang memandangnya takut-takut. Taehyung hanya takut dengan apa yang dilakukan Jungkook pada lukanya.
Cup!
Taehyung melotot saat melihat apa yang dilakukan Jungkook. Namja itu mengecup lukanya sambil memandanginya telak. Dan Taehyung tak bisa tidak merada berdebar.
Jeon Jungkook benar-benar tak terduga.
.
.
Chapter Eight
.
.
Keesokan harinya Taehyung memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia tak mungkin membiarkan kakinya terus menerus berdenyut sakit dan membuatnya tak bisa tidur karena menahan rasa sakit. Dan Taehyung juga tak ingin semakin menyusahkan Jungkook.
Semalaman namja itu tidak tidur. Dia menyiapkan semua keperluan Taehyung. Dengan rela memanaskan makanan sampai tangannya memerah karena mengeluarkan makanan dari microwave tanpa pelapis. Jungkook juga selalu memeluknya saat Taehyung meringis kesakitan jika berpindah posisi.
Jungkook bahkan duduk di lantai. Menolak saat Taehyung memintanya berbaring di atas ranjang dengan alasan tak ingin mengenai luka Taehyung. Intinya Jungkook benar-benar siaga semalaman.
Sekali lagi, ingatkan Taehyung jika Jungkook adalah penginap Skizofrenia yang bisa berubah dalam waktu singkat.
"Jungkook-ah apa kau mau ikut ke rumah sakit?"
"Mau apa?" tanya Jungkook cepat. Raut wajahnya seketika menegang mendengar kata rumah sakit. Mungkin takut dikembalikan ke tempat itu.
"Aku hanya ingin memeriksa kakiku. Atau kau di-"
"Aku ikut. Apapun yang terjadi aku akan ikut"
Taehyung menghela nafas, "Baiklah kalau begitu segera mandi"
Jungkook menurut. Dia mengambil handuk milik Taehyung kemudian melangkah ke kamar mandi.
"Kau sudah mandi?" namja itu tiba-tiba bertanya.
"Aku? Belum. Kau mandi saja duluan"
Jungkook memandangi Taehyung cukup lama. Kemudian dia berjalan menghampiri Taehyung dan menggendong namja manis itu dalam sekali angkut. Taehyung reflek menjerit.
"Uwaa! Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan memandikanmu"
Taehyung melotot, "MWO?! T-tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri Jungkook!" Taehyung meronta.
Tapi apalah kekuatannya jika dibandingkan dengan kekuatan Jungkook. Apalagi kaki Taehyung sedang sakit. Itu membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Akh-sshh" Taehyung merintih saat kakinya berdenyut karena rontaannya.
"Bisakah kau diam?!" Jungkook membentaknya. "Lihat! Kakimu sakit lagi!"
Taehyung terkejut mendengarnya. Dia terkejut melihat Jungkook membentaknya dengan raut wajah yang sangat menampakkan kekhawatiran. Dan untuk ke sekian kalinya hati namja manis itu bergetar karena perlakuan Jungkook.
Setelah melalui perjuangan yang membuatnya pening, Taehyung akhirnya selesai dengan urusan mandi. Wajahnya memerah saat keluar dari kamar mandi. Jungkook benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Namja tampan itu benar-benar memandikannya.
Taehyung masih diam bahkan sampai mereka berganti pakaian. Sebenarnya Taehyung diam karena dia malu, sangat malu. Ini pertama kalinya dia dimandikan oleh orang lain. Dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang.
Jungkook yang melihat Taehyung sedari tadi diam pun akhirnya mendekati namja manis itu. Tangan kekarnya memegang kaki Taehyung yang cidera. Mata bulatnya menatap tajam ke arah luka yang membiru itu. Taehyung diam-diam cemas.
"Apa ini sakit sekali?" tanyanya lembut sambil memandang Taehyung.
Taehyung tanpa sadar mengangguk kecil. Tatapan lembut Jungkook seolah menghipnotisnya. Belum pernah ada orang yang memandangnya seperti Jungkook. Taehyung seolah terseret dalam lubang hitam bola mata Jungkook.
"Maaf aku membentakmu" ucap Jungkook pelan.
Taehyung mengerjap pelan, "Ah. Bukan salahmu Kook-ah"
"Bisa berjalan? Apa perlu kugendong?"
Taehyung nyaris tersedak mendengar ucapan Jungkook. Kemudian namja itu tertawa kecil, "Aniya. Kau cukup memapahku saja" senyumnya.
"Kalau begitu kajja. Semakin cepat kau mendapat perawatan maka semakin cepat kakimu sembuh"
Taehyung tertawa kecil kemudian mengangguk. Jungkook bangkit kemudian membawa tangan Taehyung di pundak kekarnya. Dengan perlahan dia memapah tubuh kurus Taehyung. Sesekali Taehyung akan meringis merasakan sakit. Tapi sebisa mungkin dia tak ingin Jungkook melihat atau mendengar dia kesakitan.
"Kau tunggu disini dan aku akan memanggilkan taksi" ucap Jungkook.
Sebelum Jungkook sempat melangkah, Taehyung sudah menahannya, "Telpon saja. aku memiliki nomor perusahaan taksi" ucapnya.
Jungkook tersenyum kemudian menerima ponsel pintar yang Taehyung sodorkan padanya. Dengan lincah dia memencet tombol-tombol di layar ponsel Taehyung. Taehyung sedikit heran saat Jungkook dengan cepat menyodorkan kembali ponselnya. Disitu tertulis pesanannya berhasil.
"Aku masih sedikit mengingat tata caranya. Dulu sebelum masuk rumah sakit, aku cukup sering menggunakannya" ucap Jungkook seolah menjawab kebingungan Taehyung. Taehyung mengangguk.
Kemudian suasana diantara mereka hening. Sejujurnya Taehyung tak tau apa yang harus dia lakukan. dia belum pernah berdua dengan Jungkook dalam jangka waktu selama ini. Biasanya Taehyung dan Jungkook hanya berinteraksi di rumah sakit dengan Jungkook yang berceloteh tentang mimpinya semalam, orang-orang berjubah hitam dan lain sebagainya. Begitu pun Taehyung yang hanya akan bercerita tentang harinya.
Sekarang? Apa yang mau dia ceritakan? Toh Jungkook juga sudah mengetahui semua kesehariannya di dalam asrama. Taehyung jadi canggung.
Jungkook sendiri tak masalah dengan keheningan ini. Dia lebih leluasa memandangi Taehyung. Matanya juga sesekali memandangi luka Taehyung. Otaknya berpikir siapa yang dengan beraninya melukai Taehyung-nya sampai seperti ini.
Tak sampai lima belas menit kemudian taksi yang mereka pesan datang. Kembali dengan gentle Jungkook membuka pintu belakang taksi tersebut dan menggendong Taehyung dengan sangat hati-hati. Taehyung sampai harus menggigit bibirnya menahan malu karena jujur saja, sang sopir taksi tengah memperhatikan mereka dari kaca spion.
"Rumah sakit Hanyang" ucap Taehyung cepat untuk mengalihkan perhatian sang sopir.
Jungkook sama sekali tak memperdulikan sang sopir taksi sedari tadi. Dirinya hanya fokus bagaimana caranya membuat Taehyung nyaman dengan kondisi kakinya yang seperti itu. Sedikit berlebihan memang tapi Jungkook tak bisa memungkiri jika dia khawatir dengan keadaan namja manis yang menjadi perawatnya ini.
"Apa sakit?"
Taehyung terkejut saat mendengar Jungkook bertanya. Sebenarnya sedari tadi dia sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Eum..tidak. Hanya saja rasanya sedikit kaku"
Tangan Jungkook terulur hendak menyentuh luka Taehyung. Bermaksud melihat seberapa parah memar di kaki Taehyung. Tapi Taehyung langsung memegangi tangannya. Menolak dengan halus.
"Tidak. Jangan. Ini sakit" ucap Taehyung lirih.
Tangan Jungkook ganti menggenggam tangan Taehyung. Membawa tangan lentik itu ke depan mulutnya dan menciumnya lembut. Taehyung melongo. Tubuhnya serasa tersengat begitu bibir lembut Jungkook menyentuh tangannya.
Dan kembali Taehyung mempertanyakan kewarasan Jungkook dan kewarasannya sendiri. Apa yang Jungkook pikirkan sampai melakukan hal seperti itu di luaran? Dan apa yang dia pikirkan, kenapa jantungnya berdegup kencang sampai Taehyung takut jantungnya akan keluar dari rongga dadanya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
"Waow, tulangmu sedikit bergeser dari posisinya. Hanya sedikit tapi cukup menyakitkan, kurasa" ucap dokter bername tag Byun Baekhyun itu.
"Apa ini akan baik-baik saja? maksudku.."
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan Taehyung-sshi. Dalam 2-3 hari ke depan kakimu akan membaik. Hanya saja kau jangan terlalu memaksakan diri, arra"
Taehyung menghela nafas kemudian mengangguk. Jungkook yang sedari tadi memperhatikannya pun turut menghela nafas. Dokter muda yang memiliki wajah hampir mirip dengan Taehyung itu tersenyum penuh arti.
"Kekasihmu sepertinya khawatir sekali" ucap sang dokter.
"Mwo?! Kekasih?" tanya Taehyung bingung.
Dokter Byun mengangguk, "Eum. Kekasihmu yang datang bersamamu itu"
Taehyung tertawa canggung, "Tidak. Dia bukan kekasihku. Dia temanku"
"Benarkah? Kukira dia kekasihmu"
Taehyung hanya mampu mengeluarkan cengiran khas-nya. Membuat sang dokter tanpa sadar memekik gemas dan mengacak rambut halus pasien imutnya itu. Dan otomatis membuat Jungkook langsung berdiri dari posisinya dengan waspada.
"W-wow, tenang tuan. Aku tidak akan menyakiti Taehyung"
Jungkook masih memandang Baekhyun dengan tajam. Tak sadar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan diri untuk tidak memukul wajah cantik dokter ini. Taehyung sedikit menghela nafas.
"Kajja Kookie kita pulang" ajak Taehyung. "Dokter kami pamit"
"Hati-hati di jalan"
Jungkook tanpa aba-aba langsung menarik tangan Taehyung dengan lembut namun terkesan memaksa. Membuat Taehyung nyaris saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
Setelah menyelesaikan proses pembayaran, Taehyung dan Jungkook berjalan perlahan menuju kantin rumah sakit. Taehyung lapar. Jungkook juga.
"Aku tak suka dengan dokter itu"
"Eh? Kenapa?"
"Dia melihatmu seperti melihat makanan. Dia juga sempat menyeringai padaku. Dia seperti menantangku"
Taehyung cengo. Dia sangat tahu jika tidak ada gerak-gerik dari Dokter Byun seperti yang dikatakan Jungkook. Dokter itu sangat baik padanya.
"Jungkook, dengar" Taehyung menghadapkan dirinya sepenuhnya pada Jungkook. "Dokter Byun tidak melakukan hal itu. Dia tidak melihatku seperti makanan, dia juga tidak menyeringai padamu" Taehyung menjelaskan dengan hati-hati dan dengan suara yang lembut.
Jungkook memandang Taehyung datar, "Kau tidak melihatnya? Kau tidak melihat orang itu membisikkan sesuatu pada dokter Byun? Kau tidak melihat seringai menakutkan dari Dokter Byun?"
"Jungkook, tidak ada orang lain selain kita bertiga di ruangan Dokter Byun"
"Ada Tae! Ada! Dia disana, mengawasiku" Jungkook menggenggam tangan Taehyung dengan erat. Seakan menunjukkan kesungguhannya.
Taehyung tertegun. Sinar mata hitam itu menunjukkan jika dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun Taehyung melihat sendiri bagaimana Dokter Byun. Perawat itu kembali merutuki kebodohannya yang lalai mengingatkan Jungkook untuk meminum obatnya.
"Kau tunggu disini sebentar, aku pergi ke apotik sebentar"
"Tidak! Aku ikut"
Taehyung menghela nafas sepanjang yang dia bisa. Dia tak mungkin meledak disini. Ini rumah sakit dan entah mengapa Taehyung tidak bisa benar-benar meledak di depan Jungkook. Hell, mungkin untuk saat ini Jungkook hanya mempercayainya. Dan Taehyung membutuhkan kepercayaan Jungkook padanya agar dia bisa memeriksa Jungkook lebih lanjut.
"Jungkook," Taehyung sebenarnya sedikit ragu untuk bertanya namun dia harus memastikan sendiri.
"Ya?"
Taehyung menatap Jungkook serius, "Kapan terakhir kali kau minum obat?"
Jungkook diam. Pikirannya berkecamuk. Hampir saja dia berkata jujur sebelum otaknya memikirkan akibat dari ucapannya nanti. Bisa saja Taehyung malah akan membawanya lagi ke rumah sakit jiwa dan membiarkannya disana dalam waktu lama. Dan Taehyung akan berada di luar tanpanya. Itu bisa saja membuat Taehyung berada dalam bahaya. Setidaknya itu yang ada dipikiran Jungkook sekarang.
"Apa kau akan membawaku ke tempat itu lagi?" tanya Jungkook nyaris seperti bisikan.
Taehyung diam. Dia memikirkan apa keuntungan Jungkook berada di rumah sakit jiwa dalam waktu lama dan apa keuntungan Jungkook berada di luar rumah sakit. Namja manis itu tak ingin mengekang Jungkook tapi juga tak ingin melepaskan pengawasannya pada namja tampan itu.
"Tergantung bagaimana perkembanganmu. Tapi yang pasti," Taehyung menjeda ucapannya. Membiarkan Jungkook berkutat kembali dengan pikirannya, "…untuk saat ini aku tak akan membawamu kesana"
Jungkook menatap Taehyung. Mata hitamnya menatap telak binar cokelat milik Taehyung. Seperti berusaha menyampaikan sesuatu yang bahkan dia tak tau apa. Taehyung balas menatap Jungkook lekat. Jungkook itu terkadang tak terbaca.
"Nah, karena kau tidak berada di rumah sakit, bukan berarti kau berhenti minum obat" ucap Taehyung.
"Itu syaratnya Jungkook. Minum obatmu dan kau bisa jalan semaumu atau kembali ke rumah sakit" lanjutnya saat melihat Jungkook hendak protes.
Tidak. Taehyung tidak bermaksud mengancam, sungguh. Dia hanya…memberi pilihan pada Jungkook. Dia ingin Jungkook yang menentukan bagaimana dia ingin hidup. Karena Taehyung tau selama ini Jungkook sama sekali tidak menikmati hidupnya.
Dua tahun di rumah sakit jiwa itu bukan sesuatu yang bagus untuk perkembangan Jungkook. Apalagi Jungkook di rumah sakit jiwa saat dia dalam masa pencarian jati dirinya. Taehyung sedikit iba padanya.
"Aku..aku tak mau ke rumah sakit itu lagi" Jungkook memandangnya sendu. "Aku tak mau kembali ke tempat suram itu. A-aku..aku akan minum obatku asalkan kau tidak membawaku kembali ke sana"
"Kalau begitu-"
"Aku akan lakukan apapun asal kau tidak membawaku ke rumah sakit" suara Jungkook bergetar.
Taehyung membulatkan matanya saat melihat Jungkook seperti ketakutan. Mata Jungkook kembali tidak fokus. Keringat dingin mulai mengucur di kening namja itu. Tubuhnya bergetar.
"Jung-Jungkook, sshh tenanglah" Taehyung menyentuh pundak Jungkook antisipatif. Sedikit mengguncangnya untuk menyadarkan Jungkook.
"Aku tidak mau Tae. Me-mereka..mereka bekerja menuruti orang berjubah hitam itu. Mereka memegangiku sangat erat..dan..dan"
Grep!
"Sudah, jangan dilanjutkan. Maafkan aku" Taehyung memeluk Jungkook dengan lembut. Sepenuhnya lupa jika mereka masih berada di depan kantin rumah sakit.
Jungkook memeluk Taehyung dengan erat. Menyembunyikan ketakutannya di bahu sang perawat. Meraup udara dengan rakus guna melancarkan pernafasannya yang tercekat. Sementara Taehyung hanya menepuk punggung Jungkook dengan lembut.
"Jangan bawa aku kesana, kumohon" bisik Jungkook.
"Tidak Jungkook. Kau bisa pegang janjiku. Aku tak akan membawamu kembali kesana, aku janji"
Jungkook masih enggan merenggangkan apalagi melepas pelukannya. Entahlah. Yang jelas Jungkook selalu takut jika memikirkan tempat itu. Selama satu bulan pertama Jungkook disitu, dia merasa jauh dari kata aman. Perawat disana memperlakukannya dengan buruk.
Jungkook merasa dia tak seberbahaya itu hingga para perawat terdahulu harus memeganginya sangat erat dan terkadang sedikit melakukan kekerasan padanya. Sampai sekarang pun Jungkook enggan kembali kesana.
Tempat itu kembali membuka memori hitamnya. Walaupun ada Taehyung, tetap saja Jungkook masih merasa takut. Taehyung hanya menemaninya sampai pukul 7 malam setelahnya Jungkook harus berjuang sendiri untuk mengatasi ketakutannya.
Dan sekarang? Setelah dia keluar dari tempat itu, Jungkook tak akan pernah mau kembali kesana. Apapun yang terjadi. Sekalipun itu Taehyung yang meminta. Seribu kali Taehyung memintanya kembali ke tempat itu, maka Jungkook memiliki dua ribu cara untuk menolaknya.
"Kajja kita beli obatmu dan segera pulang" ucap Taehyung sebelum merenggangkan pelukan mereka.
"Tapi…"
Taehyung menjauhkan dirinya dari Jungkook, "Kajja. Aku akan memasakkan makanan"
Jungkook hanya mengangguk. Tangannya masih memegang pinggang Taehyung. Seakan mencegah perawatnya itu untuk terlalu jauh darinya.
"Kau…masih sanggup menahan lapar sedikit lagi kan?" tanya Taehyung. "Atau kau mau makan disini? Atau di luar?"
"Aku ingin makan masakan Taehyung"
Taehyung mengangguk menyetujui, kemudian mengamit lengan kekar Jungkook. Bermaksud meminta bantuan Jungkook lagi. Beruntunglah Jungkook termasuk peka. Namja itu langsung melingkarkan tangannya ke bahu Taehyung dan memegangnya erat.
"Sepertinya aku perlu membeli kruk" gumam Taehyung.
"Jangan"
Taehyung reflek menatap Jungkook. Meminta penjelasan dari namja yang lebih muda.
"Aku lebih suka kau meminta bantuanku untuk berjalan seperti ini" Jungkook berucap tanpa memandang Taehyung. "..karena disitu aku merasa sedikit berguna bagi orang lain" lanjutnya sangat lirih.
"Tapi…"
Jungkook memandangnya penuh permohonan, "Kumohon. Selama ini aku merasa jadi manusia tak berguna untukmu Tae"
Taehyung terhenyak. Matanya bergerak-gerak kemanapun asalkan bukan namja di depannya. "Baiklah..sampai aku sembuh, kurasa aku akan sangat merepotkanmu" cicitnya.
Jungkook tersenyum.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Selama lima hari, Jungkook dan Taehyung bergantian saling merawat. Jungkook akan dengan senang hati memapah Taehyung, membantu Taehyung mengoleskan salep penyembuh dan membantu memijat kaki Taehyung. Sementara Taehyung, seperti biasa, dia akan memasakkan makanan untuk Jungkook, memastikan namja itu tidur teratur dan juga meminum obatnya.
Taehyung juga membeli beberapa buku dan tv kecil untuk penghibur di kamarnya. Dia hanya ingin Jungkook merasa santai karena Taehyung merasa semenjak insiden kakinya cedera, Jungkook jarang santai. Namja itu seolah selalu merasa waspada. Maka dari itu sebisa mungkin Taehyung berusaha membuat Jungkook nyaman.
Mereka baru saja selesai makan siang. Jungkook berniat membaca buku yang baru dibeli Taehyung sedangkan sang perawat memilih menonton televisi sambil mengompres kaki kanannya. Sementara Jungkook membaca dengan berbantal pada paha kirinya.
"Kookie" panggil Taehyung ragu.
"Ya? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Jungkook langsung.
Taehyung tertawa kecil kemudian tertawa, "Tidak. Kukumu mulai panjang, mau kupotongkan?" tawarnya.
Jungkook menghembuskan nafasnya lega kemudian mengulurkan tangannya. "Potong saja"
Taehyung segera mengambil pemotong kuku di laci meja nakas di samping televisi. Kemudian kembali memosisikan diri senyaman mungkin. Jungkook pun duduk menghadapkan dirinya ke arah Taehyung. Namun kemudian dia pindah posisi.
Jungkook meminta Taehyung sedikit memajukan posisinya. Taehyung yang tak tau apa-apa pun menurut saja. Setelah dirasa cukup, Jungkook menyusupkan dirinya di belakang Taehyung. Dan kini Taehyung berada di antara kedua kaki Jungkook yang terbuka lebar. Dan dada bidang namja itu menempel pada punggung Taehyung.
"Jungkook—"
"Begini lebih nyaman" ucap Jungkook seraya mengulurkan tangannya.
Taehyung menghela nafas kemudian memulai kegiatannya memotong kuku panjang Jungkook. Sesekali Taehyung juga memperbaiki kompresan kakinya. Jika prediksinya benar, maka lusa kakinya akan baik-baik saja.
Ah, selain memastikan Jungkook hidup teratur dan meminum obatnya, Taehyung juga bertanggung jawab atas kebersihan dan ketampanan namja itu.
Jungkook hanya memperhatikan Taehyung yang sedang khusyuk memotong kukunya. Sesekali matanya juga menatap wajah Taehyung yang terlihat kalem. Harus diakui, wajah Taehyung itu tampan. Saking tampannya bahkan cenderung cantik. Jungkook suka melihatnya.
"Jungkookie, mungkin setelah kakiku sembuh aku akan pergi ke Daegu" ucap Taehyung.
"Kau mau pergi? Kenapa?!" Jungkook langsung bertanya.
Taehyung bergidik. Jungkook bertanya tepat di tengkuknya. Dan rasanya aura hitam Jungkook sedikit menakuti Taehyung.
"Hanya mengunjungi orang tuaku" jawab Taehyung berusaha tenang. "..kau mau ikut?"
Mendengar itu Jungkook tersenyum kemudian menyandarkan dagunya di pundak Taehyung, "Tentu saja aku harus ikut. Siapa yang akan menjagamu nanti?"
Taehyung tertawa. Perkataan Jungkook sungguh lucu menurutnya. Sudahkah Taehyung bilang jika mereka terlihat seperti sepasang pengantin baru daripada perawat dan pasiennya. Taehyung hanya berharap dia tidak menyalahi kode etik tenaga medis.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Bersyukurlah Kim Taehyung. Kakinya sembuh lebih cepat dari perkiraannya. Hanya sedikit menyisakan rasa nyeri yang membuat Taehyung masih harus berhati-hati jika tak ingin proses penyembuhannya menjadi lebih lama.
"Jungkookie" panggil Taehyung saat melihat Jungkook kembali sibuk dengan bukunya.
"Ya?"
"Kau tak mau mengunjungi ibumu di rumah? Barangkali kau…merindukannya mungkin" Taehyung mengedikkan bahunya.
Taehyung baru menyadari jika selama ini Jungkook sudah terlalu lama di kamar asramanya tanpa sekalipun mengunjungi atau menghubungi ibunya. Sedikit merasa bersalah sebenarnya. Taehyung jadi merasa seolah menjauhkan Jungkook dan ibunya, keluarga satu-satunya yang dimiliki namja itu.
"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Jungkook seraya menatap Taehyung.
Taehyung berjalan menghampiri Jungkook kemudian meletakkan camilan yang sengaja dibuatnya untuk mereka. Tangannya meraih buku di tangan Jungkook. Menandai batas terakhir yang dibaca Jungkook. Dan matanya memandang lekat ke arah namja yang sudah menemaninya beberapa hari ini.
"Apa kau tidak merindukan ibumu? Kurasa ibumu sedang merindukanmu" ucap Taehyung.
"…aku tidak ingin" Jungkook mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kembali ke tempat itu" lirih Jungkook.
Taehyung diam. Dia menduga ini berkaitan dengan trauma yang memperparah penyakit Jungkook. Otaknya berpikir bagaimana caranya membuat Jungkook menemui sang ibu.
"Kalau begitu ajak ibumu jalan-jalan, bagaimana?" Taehyung mencoba memberi solusi.
Jungkook kini memandang Taehyung dengan kening berkerut, "Kenapa kau ingin sekali aku bertemu ibuku?"
"Dia ibumu Jungkook. Ibumu hanya memilikimu dan kau pun hanya memiliki ibumu sebagai keluargamu. Aku merasa bersalah jika kau malah menjauh dari ibumu" jelas Taehyung.
"Aku juga memilikimu, Taehyung"
Taehyung menutup rapat bibirnya yang sempat terbuka sedikit. "Apapun itu. Setidaknya kau harus menemui ibumu. Harus" tekannya.
"Aku mau asal denganmu" jawab Jungkook lugas.
"Apa harus?"
"Tentu. Taehyung-ah, kau tau dengan jelas bagaimana hubunganku dan ibuku. Sebelum dan saat aku di rumah sakit, hubungan kami sangat dingin. Bahkan selama dua tahun aku di rumah sakit, ibuku tak pernah menjengukku. Dia baru muncul beberapa bulan ini" jelas Jungkook. "Sejujurnya aku tak yakin kami bisa berbincang hangat jika hanya berdua" tambahnya.
Taehyung kembali memandang Jungkook. Kemudian meluruskan posisinya dan menghadap depan. Jungkook juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama menghadap ke depan. Saling diam.
"Baiklah. Aku akan menemanimu bertemu ibumu" ucap Taehyung kemudian bangkit dan berjalan menuju ranjangnya.
Jungkook hanya mengikuti langkah Taehyung dengan pandangannya. Kemudian tersenyum kecil dan memutuskan untuk berbaring di sofa. Matanya menatap langit-langit kamar sambil menghela nafas. Jungkook merasa matanya berat namun dia enggan tidur.
Namja itu kembali mendengar langkah kaki kemudian dia mendengar suara pintu yang terbuka. Jungkook mulai berkeringat. Dia mendengar dua orang sedang mengobrol. Kemudian mereka sempat mendengar nama Taehyung disebut.
"Ah aku ingat kejadian itu. Taehyung ditendang saat dia membeli baso ikan seingatku"
"Aku merasa kasian dengan Taehyung. Sepertinya sejak namja aneh itu tinggal bersamanya, Taehyung selalu sial"
"Namja itu sangat bahaya"
"Kau tau darimana dia berbahaya?"
"Kau tak ingat kasus dua tahun lalu? Bukankah dia yang mem—"
Cukup!
Jungkook bangkit dari posisinya kemudian berjalan cepat menghampiri Taehyung. Memegang pergelangan tangan Taehyung dengan erat.
Taehyung melonjak kaget, "Ada apa?" tanyanya saat melihat Jungkook yang mulai panik.
"Me-mereka…mereka"
Taehyung segera beranjak dari posisinya dan menutup kedua telinga Jungkook dengan erat tanpa menyakiti. Jungkook menyandarkan dahinya pada pundak Taehyung. Mata Taehyung sibuk mengedar ke segala sudut kamarnya. Mencari mp3 player dan headset Jungkook.
'Kemana dua benda itu' batinnya kalut.
"Jangan dengarkan mereka. Cukup dengarkan aku ne" ucap Taehyung kemudian membawa Jungkook duduk di tepi ranjang.
'Ayo berpikir Kim Taehyung. Ayo berpikir'
"Tae-"
Taehyung memilih bernyanyi. Dia bernyanyi lagu apapun yang ada di pikirannya saat ini. Setidaknya Jungkook harus mendengar suara lain agar teralih dari suara apapun itu yang didengarnya.
Namja yang sedang di dekap Taehyung itu diam. Suara-suara itu masih ada tapi mulai tersamarkan dengan suara nyanyian Taehyung yang seakan menjadi lullaby untuknya. Jungkook berusaha memfokuskan diri untuk mendengar suara Taehyung. Itu yang diajarkan perawatnya ini.
"Abaikan mereka Jungkook. Abaikan" kata-kata Taehyung terus berputar di otaknya. Perlahan namun pasti suara-suara itu mulai mengecil.
Jungkook tau mereka masih membicarakannya. Tapi dia memilih mengabaikan itu semua dan fokus pada Taehyung. Tanpa sadar dia menyamankan posisinya.
Dua hari kemudian Taehyung memutuskan untuk segera berangkat ke Daegu. Segala barang-barangnya sudah disiapkan sejak semalam. Begitu pun barang-barang Jungkook. Taehyung juga sudah mengabarkan jika dia akan pulang bersama Jungkook.
Ibu Taehyung tentu saja kaget. Taehyung pulang bersama pasiennya yang membuat wanita itu khawatir. Tapi Taehyung berhasil meyakinkan ibunya jika tak akan ada masalah yang berarti selama Jungkook disana. Karena Taehyung tak akan membawa Jungkook ke rumah sakit tempat Yoongi dirawat.
"Sudah siap?" tanya Taehyung.
Jungkook mengangguk, "Kita ke Daegu naik apa?"
"Eum..kereta? itu oke untukmu?" tanya Taehyung.
Jungkook berpikir sejenak sebelum mengangguk kalem. Menyetujui jenis transportasi yang diambil Taehyung. Sang perawat hanya tersenyum lega kemudian mulai menyeret kopernya. Tapi tangan Jungkook sudah mengambil alih koper itu.
Sekedar informasi, Taehyung sengaja hanya membawa satu koper untuk mereka karena baju Taehyung masih banyak disana. Lagipula mereka tak akan terlalu lama berada di Daegu. Taehyung harus bekerja, omong-omong. Walau pasiennya di kamar asramanya, tapi Taehyung tetap harus ke rumah sakit.
Mereka menaiki taksi untuk mencapai stasiun bawah tanah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Mereka hanya saling memandang pemandangan di luar jendela.
Sampai di stasiun pun mereka hanya saling diam. Tapi tangan Jungkook mulai menggenggam tangan Taehyung. Sementara Taehyung sendiri sibuk memberi kabar sang ibu melalui pesan singkat.
"Kookie-ah, aku ke toilet sebentar"
"Aku juga"
Setelah itu kembali hening. Saat di toilet, Jungkook menunggu di depan pintu toilet. Dia enggan menunggu di dalam karena banyak orang. Ada sekitar 3 orang di dalam sana.
Mata tajamnya tak bisa beralih dari salah satu namja yang sedari tadi melihat ke arah Taehyung dengan pandangan tidak sopan –menurutnya-. Jungkook tak suka seseorang memandang Taehyung begitu.
Satu persatu orang-orang itu keluar. Hanya menyisakan namja tadi yang entah melakukan apa lagi. Begitu Taehyung keluar dari salah satu bilik, namja itu berpura-pura –menurut Jungkook- mencuci tangannya. Jungkook bahkan bisa melihat namja itu tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Taehyung.
Taehyung yang merasa diperhatikan pun hanya menyunggingkan senyum tipis kemudian segera keluar setelah mencuci tangannya. Jungkook langsung masuk begitu koper mereka sudah di tangan Taehyung. Perawat itu hanya memaklumi Jungkook yang terburu-buru masuk kamar mandi. Dia memilih menunggu Jungkook di salah satu bangku yang tak jauh dari sana.
Jungkook mengamati namja itu dari atas sampai bawah. Sang namja masih sibuk mencuci tangan dan memperbaiki penampilannya. Dia sebenarnya merasa jika tatapan Jungkook sangat tidak bersahabat. Namun namja itu memilih mendiamkannya saja.
Pikiran Jungkook berkecamuk. Dia merasa namja itu sudah melecehkan Taehyung dengan tatapannya. Bahkan Jungkook bisa merasa jika namja itu mulai berpikir yang tidak-tidak tentang Taehyung-nya.
DUAGH!
Saat namja itu menunduk untuk mencuci muka, Jungkook memukul tengkuknya dengan kekuatan tak main-main. Sontak namja itu pingsan. Dan dengan cueknya Jungkook memasuki bilik toilet dan menuntaskan hasratnya.
Begitu keluar dan mencuci tangannya, Jungkook bersikap seolah tidak melihat namja yang terkapar karena pukulannya tadi. Seolah-olah tak ada kejadian apapun. Setelahnya, Jungkook melenggang keluar.
"Kajja" ajaknya pada Taehyung.
Jungkook kembali mengambil alih koper dari tangan Taehyung. Dia juga kembali menggenggam tangan Taehyung dengan erat. Taehyung merasa jika tangan Jungkook bergetar. Dan Taehyung berusaha memakluminya.
Mungkin karena ini di tempat umum yang ramai, pikirnya.
Taehyung membeli tiket dan Jungkook menunggu tak jauh dari situ. Jungkook gelisah. Tempat ini ramai sekali. Terlalu banyak orang dan Jungkook merasa cemas, sangat cemas. Tangannya mencengkeram erat pegangan koper sampai kuku jarinya memutih.
"Jungkook kau oke?" tanya Taehyung.
Jungkook mengangguk kaku. Taehyung menggandeng tangan Jungkook kemudian mengajak namja itu menaiki kereta. Setelah melakukan scan tiket, Taehyung membawa Jungkook duduk paling pojok dalam gerbong itu.
"Kau mau meminum obatmu?" tanya Taehyung saat merasa Jungkook berkeringat dingin.
Namja itu menggeleng, "Kalau aku minum obat maka aku akan tertidur, Tae"
Jungkook tau apa efek samping dari obat-obatan antipsikotik yang dikonsumsinya. Obat-obatan itu membuat bibirnya terasa kering, pandangannya kabur dan mengantuk. Jungkook harus tetap terjaga untuk bisa terus menjaga Taehyung.
"Kau yakin?" tanya Taehyung lagi.
"Aku yakin" Jungkook berucap lirih. "Boleh aku bersandar di bahumu?" tanya Jungkook.
Taehyung mengangguk lalu menggeser posisinya agar lebih dekat pada Jungkook. Namja bergigi kelinci itu pun langsung menyandarkan kepalanya di pundak Taehyung. Hanya bersandar. Tak ada niatan untuk tidur atau sekedar memejamkan mata.
"Abaikan apapun yang kau dengar disini, arra?" ucap Taehyung.
Kereta baru berjalan sepuluh menit dan Jungkook mulai merasa tatapan mengintimidasi dari penumpang yang lain. Jungkook berusaha acuh. Dia tak ingin semakin merepotkan Taehyung. Jadi sebisa mungkin Jungkook tak perduli.
"Kau lihat mereka? Mereka aneh sekali"
"Lihat namja itu. Datar sekali mukanya"
"Aku bertemu dengan dia di toilet tadi"
Keringat mulai bercucuran di dahi Jungkook. Jungkook belum terbiasa berada di keramaian. Sejak dulu dia amat sangat menghindari keramaian. Jeon Jungkook adalah musuh besar keramaian.
Pikirannya berkecamuk. Perkataan orang-orang itu membuatnya muak. Mereka kembali menyebutnya aneh, dingin, muka datar dan lain sebagainya. Bahkan Taehyung juga tak luput dari komentar mereka. Mereka menyebut Taehyung sama anehnya dengannya.
Dalam hati, Jungkook mulai merutuki mereka semua. Dia menjanjikan pembalasan luar biasa jika mereka tak menghentikan ucapan-ucapan tak berguna itu. Jungkook mulai mual. Perasaannya bercampur aduk.
Marah, cemas, takut, dan khawatir. Semuanya bercampur jadi satu dan dia tak suka dengan ini. Taehyung bilang perjalanan mereka hanya dua jam. Sedangkan ini masih 30 menit berlalu.
Jungkook kembali bertarung dengan pikirannya. Mereka tak termaafkan. Jungkook ingin memberi pelajaran tapi sisi lain tubuhnya menolak pikiran itu. Jungkook akan kalah karena mereka pasti akan balas menyerangnya dan juga mereka pasti akan mengincar Taehyung.
Saking seriusnya berperang dengan pikirannya, Jungkook tak sadar menggenggam tangan Taehyung dengan sangat erat. Taehyung meringis kesakitan namun dia menahan diri untuk tidak berteriak atau mengeluh. Sebisa mungkin ditahannya.
Lama kelamaan Taehyung merasa Jungkook seperti akan meremukkan tangannya. Tulangnya seperti mati rasa.
"J-jungkook..sakit" lirih Taehyung. Tangannya yang bebas menyentuh tangan Jungkook. Berusaha menyingkirkan tangan kekar itu dari tangannya.
Jungkook masih belum sadar saat dia akhirnya melepas tangan Taehyung. Kini dia menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. Taehyung akhirnya kembali berusaha membuka genggaman tangan Jungkook. Dia tak ingin Jungkook menyiksa dirinya sendiri.
"Jungkookie, hey" panggil Taehyung.
Jungkook tersentak. Kemudian dia memandang tangannya dan tangan Taehyung bergantian. Tangan mereka sama-sama merah. Tapi Taehyung lebih merah.
"Aku menyakitimu?" lirih Jungkook sambil memandang Taehyung.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa menggenggamku erat sekali?" tanya Taehyung.
"Mereka mulai lagi, Tae. Mereka mengikutiku sampai kesini dan mulai mengacaukan perjalanan kita"
Taehyung mengerutkan keningnya tak mengerti. Sedari tadi keadaan sangat hening. Hanya ada suara kereta yang melaju sangat cepat dan sesekali obrolan orang-orang itu juga terdengar. Namun sama sekali tak ada yang menyinggung mereka.
"Mereka..maksudmu—"
Jungkook mengangguk mantap, "Ya. Mereka. orang-orang berjubah hitam itu. Mereka menghasut orang-orang yang ada disini"
Taehyung terperangah, "Oh Tuhan. Jungkook kau harus meminum obatmu. Kau berhalusinasi lagi"
"Tidak Tae. Aku sama sekali tidak berhalusinasi" Jungkook keukeuh.
"Baiklah. Ingat apa yang kukatakan tentang mengabaikan mereka dan membuat kesibukanmu sendiri?" ucap Taehyung akhirnya.
Jungkook diam. Dia tau Taehyung tak mempercayainya. Dan Jungkook tak bisa menahan rasa kecewanya saat menyadari Taehyung sudah tak percaya padanya. Yang ada dipikirannya sekarang hanya bagaimana Taehyung mempercayainya.
Sret~
"Kau mau kemana?" Taehyung langsung menahan Jungkook yang tiba-tiba berdiri. Kedua tangannya memegang lengan Jungkook kuat-kuat.
"Lepaskan Tae"
"Tidak Jungkook. Duduklah kembali" pinta Taehyung.
Jungkook bergeming. Dia hanya memandang Taehyung datar. Dia menyentak tangan Taehyung namun namja itu memeganginya kuat-kuat. Alhasil Jungkook menyentak lebih keras hingga akhirnya terlepas.
"Aku akan membencimu jika kau tidak duduk Jungkook-ah" ucap Taehyung pelan. "Aku bersumpah akan membencimu"
Jungkook diam. Tubuhnya kaku. Dia ingin memberi pelajaran pada orang-orang itu seperti ucapan suara yang didengarnya tadi. Namun Taehyung bilang dia akan membencinya.
'Abaikan dia. Dia akan berterima kasih padamu nanti' suara itu lagi.
"Aku tak mau Taehyung membenciku" gumam Jungkook.
'Tidak akan. Taehyung tak akan membencimu'
"Duduklah Jungkook, kumohon. Aku benar-benar akan membencimu kalau kau melakukan apapun yang ada dipikiranmu" Taehyung berusaha menekan suaranya sepelan mungkin.
Jungkook semakin diam. Dia ingin melakukan apa yang diperintahkan suara itu tapi dia tak ingin dibenci Taehyung. Hingga akhirnya dengan perlahan Jungkook kembali ke posisinya di samping Taehyung dan memegang lengan namja manis itu.
"Tidak akan. Aku tidak akan melakukan apa yang ada dipikiranku. Aku tak mau kau membenciku"
Taehyung menghadapkan dirinya tepat di depan Jungkook, "Kumohon kau harus bisa melawan mereka Jungkook. Jangan biarkan mereka menguasai pikiranmu"
Jungkook menggeleng pelan sambil memandang sendu ke arah Taehyung, "Seandainya aku mampu, sudah kulakukan sejak dulu, Tae. Sayangnya mereka selalu menghantuiku. Menyuruhku melakukan sesuatu"
"Kau harus sembuh. Berjanjilah padaku untuk sembuh" ucap Taehyung pelan dan terkesan berhati-hati.
"Aku akan berjanji jika kau juga berjanji akan selalu disini untukku"
.
.
Light On My Darkness
.
.
Mereka tiba di rumah Taehyung tepat saat jam makan siang. Ibu Taehyung langsung menyuruh kedua namja itu untuk makan siang bersama. Beruntung hanya ada sang ibu dan kedua adiknya.
Jungkook masih diam. Sejak dia meminta Taehyung berjanji padanya, Jungkook diam. Bahkan raut mukanya juga terkesan sangat datar. Membuat suasana makan siang jadi sedikit aneh. Taehyung sendiri masih lelah untuk memulai pembicaraan.
"Kalian istirahatlah. Aku tau kalian lelah. Taehyungie, untuk hari ini biarkan Jungkook bersamamu, besok eomma akan bersihkan kamar tamu untuk Jungkook" ucap Ny. Kim.
"Andwae. Aku tidur bersama Taehyung saja" ucap Jungkook dalam.
Ibu Taehyung terkejut dengan ucapan Jungkook. Sejujurnya dia melakukan itu karena dia takut terjadi sesuatu pada putra sulungnya. Taehyung memberi senyum meyakinkan pada sang ibu.
"Kajja. Kau pasti lelah" ajak Taehyung.
Jungkook memandang ibu Taehyung sebentar kemudian membungkuk sopan dan mengikuti Taehyung ke kamar namja itu. Ibu Taehyung hanya menghela nafas lelah. Kalau saja Taehyung tidak memberitahunya jika Jungkook adalah pasien Skizofrenia, pasti wanita itu akan mengira Jungkook seperti pemuda biasa pada umumnya.
"Apa ibumu tidak menyukaiku?" tanya Jungkook saat Taehyung membereskan koper mereka.
"Eum? Ibuku menyukaimu. Kau tenang saja"
"Apa kau pernah cerita tentangku pada ibumu?" tanya Jungkook lagi.
"Yah. Aku cerita pada ibuku tentang pekerjaanku di Busan" Taehyung menjawab tanpa menghentikan kegiatannya.
Jungkook bangkit dari acara rebahannya, "Apa ibumu takut padaku?"
"Tidak Jungkook. Ibu—"
"…apa dia takut aku menyakitimu?"
Taehyung diam. Jungkook bisa merasakan jika ibu Taehyung menyimpan kekhawatiran tentangnya.
"Tae-"
"Itu hanya kekhawatiran biasa"
"Bagaimana kalau aku benar-benar menyakitimu?" tanya Jungkook tiba-tiba.
Taehyung kini memandang Jungkook, "Apa kau akan menyakitiku? Benar-benar menyakitiku?"
Giliran Jungkook yang diam. Taehyung masih menunggu jawaban dari namja itu. Dia ingin tau apa yang dipikirkan Jungkook.
"…aku tidak ingin menyakitimu. Tapi aku tidak menampik jika suatu saat—" jeda sebentar. "—bisa saja aku menyakitimu tanpa sadar"
Taehyung menghela nafas kemudian kembali sibuk dengan tas kecilnya. Namja itu bangkit kemudian berjalan keluar kamarnya. Jungkook menghempaskan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit berwarna coklat muda itu. Perlahan pandangannya mulai kosong.
"Taehyung takut padaku" gumamnya.
'Taehyung tak akan takut padamu'
"Taehyung takut padaku kemudian dia akan membenciku" gumamnya lagi.
Cklek!
Jungkook terkejut saat pintu kamar Taehyung terbuka. Dia melihat Taehyung masuk membawa segelas air mineral. Perawat itu menyodorkan obatnya beserta minumnya.
"Kau harus minum obat sekarang kemudian istirahat" ucap Taehyung.
"Kau tidak takut padaku?"
Taehyung hanya menggeleng, "Tidak ada yang perlu kutakutkan darimu. Jadi berhenti mencemaskan hal yang tidak perlu dan minum obatmu"
Jungkook mulai menerima obat dan air yang disodorkan Taehyung. Meminum semua itu dengan cepat. Kemudian meletakkan gelas kosong di meja nakas di dekat ranjang Taehyung.
"Kau mau kemana?" tanya Jungkook saat Taehyung beranjak.
"Aku hanya membereskan barang-barang kita Jungkook. Istirahatlah" Taehyung tersenyum.
Jungkook berbaring menyamping menghadap Taehyung. Dia memperhatikan namja itu berberes. Memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika Taehyung tidak membencinya atau takut padanya. Hingga akhirnya obat itu bekerja. Matanya memberat dan akhirnya kegelapan mulai menyeretnya.
Sepuluh menit kemudian Taehyung selesai dengan segala urusannya. Dia melihat Jungkook sudah tertidur dengan nyaman. Namja itu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh kekar manusia yang berusia dua tahun dibawahnya. Menyalakan penghangat ruangan dan memastikan suhu kamarnya nyaman.
Taehyung duduk di tepi ranjang sambil memandang Jungkook. "Tak ada yang perlu ditakutkan Jungkook. Karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaanku merawat kalian. Kau dan Yoongi hyung"
Taehyung teringat sesuatu saat dia menyebut nama Yoongi. Segera diambilnya ponsel pintar miliknya kemudian menelepon seseorang.
"Noona, bagaimana keadaan Minjae?" Taehyung bangkit kemudian berjalan menuju balkon.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Yoongi melihat kalender meja yang ada di kamarnya. Dia menyeringai tipis kemudian mengambil ponsel yang ada di bawah bantal. Dengan cekatan dia memencet speendial nomer satu. Seringainya sama sekali tak pernah lepas saat menunggu nada sambung dari orang yang dihubunginya.
"Kim Taehyung"
"Kenapa kau menghubungiku?"
"Hanya mengingatkan tugasmu"
Hening sejenak sebelum Taehyung –orang yang dihubungi Yoongi- menghela nafas dan membuka suaranya. "Besok. Aku akan menemuimu besok"
"Kau tau, kau curang sekali"
"A-apa maksudmu?"
Yoongi kembali menyeringai. Dia menikmati suara berat dari orang yang dirindunya ini.
"Tidak. Aku menunggumu besok" ucap Yoongi sebelum menutup sambungan teleponnya.
Yoongi membaringkan tubuhnya kemudian membayangkan ekspresi ketakutan Taehyung. Dia suka saat Taehyung takut padanya. Dia suka saat Taehyung menatapnya dengan ekspresi cemas. Dia menikmati getaran suara Taehyung saat berbicara padanya.
"Apapun. Apapun kulakukan termasuk menyingkirkan Jeon Jungkook jika perlu Tae" gumamnya berbahaya.
Ponselnya bergetar. Dan nama orang yang sangat dikenalnya terpampang di layar ponselnya. Dengan segera dia menggeser ikon hijau disana.
"Ada apa?"
"Jalangmu dan Jungkook ke Daegu"
"Berhenti menyebut Taehyung jalang, sialan. Dan..manusia tak berguna itu ikut?" Yoongi mengerutkan keningnya. "Sialan. Dia selalu menempeli Taehyung-ku"
"Taehyung-mu yang menempeli Jungkook-ku, brat"
"Kau, kata siapa makhluk sialan itu ikut Taehyung ke Daegu?"
"Hanya tebakanku saja. karena aku mendengar Taehyung ijin ke Daegu dan Jungkook tak ada di kamarnya. Padahal aku ingin 'merawat'nya selama Taehyung pergi"
"Bermimpilah. Kau lebih cocok jika menjadi salah satu penghuni disana"
"Sepertimu? Berpura-pura masuk rumah sakit jiwa agar bebas dari hukum. Kau perlu belajar manipulasi padaku hyung"
Yoongi terkekeh pelan, "Mungkin aku perlu belajar padamu bagaimana menyembunyikan kejahatanmu dengan topeng polos itu"
"Datanglah ke Busan dan aku akan mengajarimu"
Taehyung menepati janjinya. Pagi-pagi sekali dia sudah berada di rumah sakit tempatnya dulu bekerja. Tempat dia bertemu seseorang yang dia bersumpah jika waktu bisa diputar lagi dia tak akan pernah mau menerima tawaran merawat orang itu.
Taehyung pergi pagi sekali hanya untuk menghindari Jungkook. Jungkook pasti akan mengikutinya. Dan Taehyung tentu saja tak akan membiarkan Jungkook bertemu Yoongi. Ah, Yoongi. Mendengar namja itu menyebut nama Jungkook saja sudah membuat Taehyung merinding.
Cara Yoongi menyebut nama Jungkook itu sungguh tidak biasa. Seakan dia memiliki rencana khusus untuk Jungkook.
Taehyung menghela nafas sebelum memasuki rumah sakit. Pertama dia akan mengunjungi ruang perawat. Menyapa teman-temannya tak ada salahnya kan. Lagipula ini terlalu pagi untuk bertemu Yoongi.
Entah mengapa pertahanan diri Taehyung selalu terkikis habis saat bersama Yoongi. Dan entah bagaimana Yoongi bisa tau titik kelemahan Taehyung. Sadar atau tidak, Yoongi selalu menekannya. Membuat Taehyung terkadang berpikir dia perlu mengonsumsi obat penenang setelah bertemu atau berkomunikasi dengan Yoongi.
"Tae? Kau disini?"
Taehyung terkejut saat mendengar suara seorang wanita. "Jihyun noona"
"Kau mau menemui Yoongi lagi?"
Taehyung mengangguk, "Dia masih menjadi tanggung jawabku"
"Tidak Tae. Kau tak punya tanggung jawab apapun pada Min Yoongi"
"Dia yang membuatku merasa jika aku tak bisa benar-benar melepaskan tanggung jawabku padanya" Taehyung bangkit dari posisinya. "Aku pergi menemuinya dulu"
Jihyun tak sempat bertanya apa maksud Taehyung namun namja itu sudah keluar. Wanita berusia 28 tahun itu hanya menghela nafas.
.
.
Taehyung benar-benar menemui Yoongi. Dan namja itu sudah menanti kedatangannya. Terbukti namja itu langsung tersenyum tipis saat Taehyung membuka rantai pintu kamar Yoongi.
"Akhirnya kau datang"
Taehyung hanya tersenyum tipis. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Min Yoongi tampak pucat.
"Kau..tampak pucat" ucap Taehyung.
"Benarkah? Kurasa itu wajar saat kau tidak makan selama tiga hari" gumam Yoongi datar.
Taehyung menatap Yoongi dengan kening berkerut, "Hyung..belum makan selama tiga hari?" tanyanya ragu.
"Sejak Minjae ditemukan berada di kamarku, mereka tidak merawatku dengan benar. Perawat-perawat itu tidak memberiku makan"
"Apa yang hyung lakukan pada Minjae sebenarnya?" tanya Taehyung pelan. Dia sengaja memanggil Yoongi dengan sebutan hyung. Taehyung masih tahu sopan santun walau namja di depannya ini sering mengikis kesabarannya.
Yoongi hanya mengangkat bahu, "Dia memukulku duluan dan aku membalasnya. Kurasa itu wajar"
Taehyung membelalakkan matanya, "Menurutmu wajar?"
"Itu wajar, Taehyung. Aku tak tau kenapa dia bisa langsung terkapar padahal aku hanya memukulnya sekali" ucap Yoongi lagi.
Taehyung menghela nafas, "Tunggu disini. Aku akan mengambilkanmu makanan"
"Aku ikut"
"Tidak"
"Kau tega membiarkanku membusuk disini? Selama bertahun-tahun aku hanya berdiam di kamar" Yoongi mulai mendramatisir.
Taehyung tampak berpikir, "Hanya mengikutiku? Tidak ada maksud lain?"
"Hanya mengikutimu" konfirmasi Yoongi sekali lagi.
"Baiklah" Taehyung sebenarnya masih ragu. Namun dia juga merasa kasihan pada namja ini. Taehyung jadi berpikir, apa pantas Min Yoongi dikasihani?
Yoongi menyeringai saat Taehyung tidak menatapnya. Dia tau Taehyung adalah orang yang baik. Dan Yoongi akan memanfaatkan itu dengan baik pula.
Tidak. Yoongi tidak memanfaatkan itu untuk kabur. Dia memang ingin segera pergi dari tempat memuakkan itu. Tapi tidak sekarang. Akan ada saatnya, nanti.
Yoongi hanya ingin memanfaatkan kebaikan Taehyung untuk menahan namja itu bersamanya. Simple bukan?
Namja bermarga Min itu bisa melihat semua penghuni rumah sakit jiwa yang ada disana. Dia berusaha menahan tawanya saat melihat orang-orang yang tak berdaya itu terkurung dengan kondisi mengenaskan. Mereka sangat memprihatinkan tapi Yoongi justru senang melihatnya.
Para perawat tampak terkejut sekaligus ketakutan saat melihat dia berkeliaran. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Min Yoongi. Dia sangat suka melihat ekspresi ketakutan itu. Menarik. Tapi tak semenarik ekspresi Taehyung.
Bagi Yoongi, Taehyung itu naïf. Namja itu takut tapi dia selalu berusaha memberanikan diri. Namja yang polos namun kuat. Namja menyenangkan yang membuat Yoongi suka bermain dengannya. Yoongi dengan mudah menggenggam Taehyung hanya dengan menggunakan orang-orang terdekatnya sebagai ancaman. Padahal Yoongi sangat yakin jika orang-orang itu tak akan melakukan hal yang sama seperti yang Taehyung lakukan.
Ah, Min Yoongi jadi ingin melindungi sekaligus menyakiti namja bernama Kim Taehyung itu.
.
.
Sementara itu, di rumah Jungkook hanya bisa diam sambil meremat tangannya kuat-kuat. Taehyung tak ada saat dia membuka matanya. Dia hanya meninggalkan secarik kertas berisi 'Makan dan minum obatmu. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Aku pergi sebentar'
Jungkook mulai memikirkan hal-hal buruk. Dia khawatir jika kejadian beberapa minggu lalu terulang lagi. Taehyung yang terluka karena seseorang dan Jungkook tak tau sama sekali siapa yang melakukannya. Jungkook tak mau Taehyung terluka.
Namja Jeon itu ingin pergi mencari Taehyung namun dia masih merasa asing di rumah ini. Dia merasa ibu Taehyung masih takut padanya. Bahkan semalam dia melihat pandangan menilai yang tak disukainya dari ayah Taehyung dan pandangan antusias dari kedua adik Taehyung.
Memang bukan pandangan mencela namun tetap saja Jeon Jungkook tak suka jika pandangan semua orang terarah padanya. Beruntung Taehyung membuka pembicaraan untuk mengalihkan fokus keluarganya.
Dan sekarang, Kim Taehyung hilang. Taehyung bahkan meninggalkan ponselnya. Mungkin maksudnya agar Jungkook bisa mendengarkan music saat suara-suara itu muncul. Namun justru itu membuat Jeon Jungkook semakin takut.
"Bagaimana ini? Kemana Taehyung?" gumamnya.
.
.
Kembali ke rumah sakit
Setelah sarapan, Taehyung membawa Yoongi ke taman rumah sakit. Tentu karena paksaan Yoongi. Seharusnya Taehyung pulang sekarang. Di rumah ada Jungkook dan Taehyung tau Jungkook belum terbiasa dengan lingkungan rumahnya. Taehyung takut Jungkook kambuh.
"Kenapa kau gelisah sekali?" tanya Yoongi.
"Aku..aku meninggalkan ponselku di rumah. Jadi aku harus pulang sekarang. Mungkin, pihak rumah sakit tempatku bekerja menghubungiku" ucap Taehyung kemudian beranjak.
Tap!
Yoongi memegang pergelangan tangannya kuat-kuat. Tak membiarkan Taehyung melangkah selangkah pun menjauh darinya. Taehyung berusaha melepas pegangan Yoongi namun namja itu terlalu kuat memegangnya.
"S-sakit"
"Tak akan sakit kalau kau berhenti berusaha melepasnya"
"Tapi aku harus pulang"
"Ayolah, ini terlalu awal untuk pulang. Biasanya kau menghabiskan hampir seharian disini"
Taehyung diam. Menghembuskan nafasnya kasar kemudian kembali duduk. Tentu dengan jarak yang dia ciptakan.
"Kau tak mau mengajakku jalan-jalan? Seperti kau mengajak Jungkook jalan-jalan seharian?" Yoongi bertanya kalem.
Taehyung reflek menoleh padanya dengan wajah tercengang. Yoongi balas memandangnya dengan senyum satu sudut bibirnya. Sekuat mungkin Yoongi menahan agar seringainya tak semakin lebar saat melihat namja manis di depannya ini menelan salivanya gugup.
"Kau terkejut? Aku tau kau sering membawa Jungkook keluar rumah sakit" Yoongi merubah posisinya sepenuhnya menghadap Taehyung. "Jadi, kau tak mau memperlakukanku sama seperti kau memperlakukan Jungkook?"
"Kau—" Taehyung gagal menyembunyikan kegugupannya. "—dari mana hyung tau aku membawa Jungkook keluar rumah sakit?"
Yoongi menyeringai pada akhirnya. "Aku selalu tau apa aktifitasmu di Busan Tae"
"Apa hyung memata-mataiku? Apa rencanamu sebenarnya?" suara Taehyung bergetar. Dan Yoongi menikmatinya.
"Aku hanya memastikan kau aman selama disana. Jadi temanku mengawasimu" Yoongi berujar kalem. "Hanya mengawasi Tae. Hanya mengawasi" ucapnya seolah itu tak berpengaruh apapun.
Raut wajah Taehyung begitu frustasi. Sekali lagi Yoongi menyukainya. Taehyung jadi lebih manis sekarang.
"Apa maumu sebenarnya?" Taehyung terdengar sangat putus asa.
"Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu"
"Hyung pikir aku percaya? Aku sudah menurutimu untuk kemari satu bulan sekali dengan syarat hyung tidak menyakiti teman-temanku, tapi lihat…Minjae di rumah sakit karena hyung. Jadi apa hyung pikir aku percaya saat hyung bilang hanya ingin jalan-jalan denganku?" entah Taehyung dapat keberanian darimana hingga dia mampu berkata seperti itu.
Yoongi hanya diam memperhatikan Taehyung. Mata namja itu bergetar begitu pun suaranya. Tapi Yoongi salut Taehyung masih mampu mengatakan hal itu di depannya. Namja berkulit pucat itu terkejut saat tiba-tiba Taehyung berdiri.
"Kembali ke tempatmu Tae"
Taehyung tidak memperdulikannya. Dia hanya ingin segera pergi dari sana. Dia ingin sejauh mungkin dari Yoongi. Kemana pun asalkan jauh dari namja itu.
Sayangnya baru lima langkah Taehyung menjauh dari Yoongi, lengannya ditarik begitu menyakitkan. Membuat Taehyung mau tak mau berhenti. Yoongi menyentaknya hingga Taehyung menghadapnya.
Dan Taehyung dihadapkan dengan Yoongi yang kembali memasang ekspresi datar dengan mata yang menyorot tajam dan aura yang membahayakan. Taehyung berusaha untuk tidak terlihat takut. Dia balas memandang Yoongi tak kalah tajamnya.
"Kau tau Tae. Aku bisa saja membuat Jungkook bernasib sama seperti Minjae" gumam Yoongi.
"Berhenti mengancamku dan berhenti mengganggu hidupku"
Yoongi menarik satu sudut bibirnya. "Tidak jika kau menurut sayang"
"Apa lagi yang harus kuturuti? Tak ada gunanya menurutimu. Kau—"
Chup!
Yoongi mencium bibir Taehyung dengan kasar. Tentu saja Taehyung berontak. Sayangnya Yoongi tak kalah kuatnya dengan Taehyung. Namja itu menggigit bibir bawah Taehyung dengan keras. Membuat Taehyung tanpa sadar mengaduh kesakitan. Dan sebelum Yoongi sempat memasukkan lidahnya ke dalam mulut Taehyung, namja itu mendorongnya kuat-kuat.
"Apa yang kau lakukan?!" sentak Taehyung.
Yoongi menarik tangan Taehyung dan menyeretnya. Taehyung berusaha melepas cekalan Yoongi. Hasilnya malah tangannya yang sakit. Perawat lain melihatnya tapi mereka tidak memiliki keberanian mencegah Yoongi. Taehyung juga sudah memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur. Namja itu hanya tak ingin mereka terkena imbasnya.
Yoongi melempar Taehyung ke atas ranjangnya kemudian memerangkap tubuh kurus itu diantara kedua tangannya. Mata sipitnya memandang penuh dominasi dan arogansi. Yoongi menikmati saat Taehyung terlihat bergetar ketakutan namun tetap berusaha memberanikan dirinya.
"Menarik" Yoongi menyingkir dari atas Taehyung. "Pergilah"
Taehyung segera beranjak dan berniat segera keluar dari sana. Namun….
DUAKH!
Yoongi memukul tengkuknya hingga membuatnya pingsan.
.
.
Jungkook khawatir. Ini sudah pukul 7 malam dan Taehyung belum juga pulang. Bukankah Taehyung bilang jika dia hanya sebentar kan? Tapi sampai sekarang namja itu belum pulang.
Sekedar informasi, Jungkook sama sekali tidak makan dan minum. Apalagi meminum obatnya. Dia hanya sibuk memikirkan Taehyung. Bahkan dia tak sadar tangannya terluka karena mengepal terlalu kuat.
Jungkook juga sudah berusaha untuk keluar dan mencari Taehyung. Namun ibu Taehyung selalu melarangnya. Wanita itu hanya bilang jika Taehyung akan segera kembali.
Dan Jungkook sudah diambang batasnya.
Tanpa memakai alas kaki dan membawa jaket, Jungkook keluar dari kamar Taehyung. Hampir saja Jungkook keluar namun ayah Taehyung ada di ruang tamu. Pria berusia 45 tahun itu memandang Jungkook.
"Kau mau kemana?" tanyanya bingung.
"A-aku" mendadak Jungkook gugup. "…aku akan mencari Taehyung"
Ayah Taehyung tersenyum padanya. "Istirahatlah. Makan sesuatu dan minum obatmu"
"Putramu belum pulang dan kau tidak khawatir?!" tanya Jungkook tajam.
"Taehyung pasti pulang, Jungkook-ah"
"Persetan! Aku akan mencari Taehyung"
"Tetaplah di rumah. Aku yang akan mencari Taehyung. Kau pucat, nak. Taehyung akan khawatir jika melihatmu begini" jelas ayah Taehyung.
Jungkook mendengus kemudian kembali ke kamar Taehyung. Dia akan menunggu lagi. Jika sampai pukul 9 malam nanti Taehyung belum pulang, dia akan mencari Taehyung. Kemanapun. Tak peduli jika ini masih asing baginya.
Begitu tiba di kamar, Jungkook duduk di tepi ranjang. Matanya menyorot tajam ke lantai. Jika pandangan bisa merusak, bisa dipastikan lantai kamar Taehyung akan bolong karena tatapan tajam Jungkook.
Jungkook merasa kepalanya pusing. Dia perlu tetap mempertahankan kesadarannya. Akhirnya dia bangkit dan menuju kamar mandi di kamar Taehyung. Jungkook mencuci mukanya dan berdiam diri disana selama sepuluh menit.
Begitu keluar, namja itu kembali menyibukkan diri dengan mondar-mandir tak jelas. Jungkook sudah berusaha mengalihkan diri dengan mendengarkan music, namun bayangan Taehyung dalam bahaya selalu menghantuinya.
Dan Jungkook tak bisa menunggu lagi. Dia harus memastikan sendiri Taehyung baik-baik saja. Atau Jungkook tak akan bisa tenang.
Betapa terkejutnya dia saat pintu kamar Taehyung terkunci dari luar. Kunci pintunya pun tidak ada. Jungkook panik. Dia tau siapa yang mengunci pintu ini. Pasti ayah Taehyung
DUK! DUK! DUK!
Jungkook menggedor pintu itu keras-keras. Begitu terus hingga beberapa menit hingga akhirnya dia menyerah dan merosot ke lantai. Bersandar ke daun pintu dan menengadahkan kepalanya.
"Tolong buka. Aku harus menyelamatkan Taehyung. Kumohon" lirihnya.
Kepalanya pusing karena seharian tidak makan dan minum. Ditambah perasaannya sedang tak menentu. Jungkook ingin tetap mempertahankan kesadarannya, namun di satu sisi dia merasa diambang batas kesadarannya.
.
.
Taehyung terduduk di atas ranjang Yoongi. Memeluk lututnya antisipatif. Sepenuhnya mengabaikan eksistensi Min Yoongi disana. Ini sudah malam dan dia tak bisa pulang. Yoongi mengikatnya seperti perawat-perawat mengikat namja pucat itu.
"Sampai kapan kau mau menahanku hyung?" Taehyung bertanya lemah.
"Sampai besok. Atau mungkin sampai minggu depan"
"Tak bisakah kau melepasku dan membiarkanku pulang?"
"Itu tidak menarik, Tae. Akan menarik jika aku menahanmu semalam. Sekarang ayo tidur" Yoongi menarik kaki Taehyung hingga kakinya menjuntai ke bawah.
"Aku lelah hyung. Keluargaku pasti khawatir dengan keadaanku"
"Kau pikir aku peduli?" Yoongi merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Taehyung sebagai bantal. "Kalau kau tidak mau tidur biar aku yang tidur"
Taehyung menghela nafas kasar. Ingatkan Taehyung untuk tidak lagi berurusan dengan namja ini atau umurnya akan berkurang drastic.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Tepat pukul 7 pagi, barulah Taehyung bisa pulang. Itu pun setelah seorang perawat membantunya membuka ikatan tangannya. Taehyung tak perduli Yoongi memang masih tertidur atau pura-pura tidur. Yang penting dia harus keluar dan kembali ke rumah. Firasatnya buruk.
Dan benar saja. Di rumah, ayahnya hampir lapor polisi karena dia tak pulang semalaman. Apalagi saat sang ibu berkata jika Jungkook sama sekali tidak makan atau minum apapun. Namja itu sangat mencemaskannya.
Ayahnya memberikan kunci kamar padanya. Ayahnya juga berkata jika dia sengaja mengunci Jungkook di dalam kamar agar namja itu tak nekat mencari Taehyung. Taehyung tercengang. Rasanya dia bisa menebak jika Jungkook pasti tidak tidur.
Pintu kamarnya tak bisa terbuka. Taehyung mengetuknya pelan.
"Jungkook-ah..kau masih tidur?"
Jungkook yang mendengar suara itu sontak bangkit dan membuka pintu. Ditariknya Taehyung dalam pelukannya seerat mungkin. Nafas namja itu memburu karena diliputi kelegaan yang luar biasa.
Taehyung sedikit terkejut saat melihat penampilan Jungkook. Namja yang biasanya tampan itu kini terlihat dekil dan mengenaskan. Wajahnya pucat dengan kantung mata hitam dan mata yang tak fokus.
"Kajja mandi lalu sarapan dan minum obatmu kemudian tidur" ucap Taehyung.
"Tidak jika kau pergi lagi"
"Tidak Jungkook. Aku juga akan tidur. Aku sangat perlu tidur" Taehyung tidak berbohong saat dia bilang dia ingin tidur. Semalaman dia tak bisa tidur.
Jungkook menurut. Dia membiarkan Taehyung mandi terlebih dahulu sembari dia membawakan sarapan untuk mereka berdua. Setelah Taehyung selesai, barulah Jungkook juga mandi. Tentunya setelah dia mengunci kamar Taehyung dan membawa kuncinya.
Taehyung heran tapi dia membiarkan Jungkook melakukan apapun yang dia mau. Dia hanya ingin tidur sebelum nanti sore dia pergi menjenguk Minjae. Taehyung jadi merasa bersalah pada namja itu. Secara tidak langsung Taehyung ikut andil karena dia yang menitipkan Yoongi pada Minjae.
"Sudah? Kajja makan" ucap Taehyung.
Mereka makan dalam hening. Jungkook ingin bertanya banyak hal namun ditahannya. Dia tak melihat luka apapun di tubuh Taehyung. Taehyung baik-baik saja walaupun dia terlihat sangat mengantuk.
Taehyung memastikan Jungkook menghabiskan makanannya dan meminum obatnya. Taehyung tak protes saat Jungkook meninggalkannya dalam kamar terkunci selagi namja itu mengembalikan piring kotor ke dapur. Dia juga tak protes saat Jungkook menariknya untuk berbaring.
"Tidurlah. Nanti sore kita akan menjenguk temanku" ucap Taehyung.
"Aku ikut?"
"Tentu saja. Atau kau mau tinggal di rumah?"
Jungkook mendekap Taehyung erat saat merasa matanya memberat, "Tidak. Aku akan ikut"
Itu percakapan mereka sebelum masing-masing kalah dengan rasa kantuk yang mulai menyerang.
.
.
Sore harinya Taehyung dan Jungkook tiba di rumah sakit. Disana Taehyung bertemu dengan rekan-rekannya yang lain. Mereka memandang heran ke arah Jungkook.
"Dia Jeon Jungkook" ucap Taehyung.
Taehyung berjalan mendekati Minjae yang memandangnya sedari tadi. Taehyung tersenyum lega melihat kondisi namja itu yang terlihat jauh lebih baik.
"Kapan kau tiba disini?" tanya Minjae.
"Dua hari lalu" Taehyung merasa tenggorokannya tercekat. "Kau, bagaimana kondisimu?"
"Jauh lebih baik. Hanya tinggal pemulihan tulang rusukku"
"Maaf membuatmu seperti ini"
"Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu"
"Tentu saja ini salahku. Kalau aku tidak menitipkan dia padaku kau pasti masih baik-baik saja"
Minjae tertawa pelan, "Bukan salahmu hyung, astaga"
"Tetap saja aku merasa bersalah" gumam Taehyung.
"Tapi hyung, jauhi Min Yoongi. Jangan lagi menemuinya apapun alasannya" ucap Minjae mulai serius. "Dia memiliki obsesi tak sehat padamu. Dia berbahaya"
Taehyung tersenyum miris, "Andai aku bisa Jae, sudah kulakukan sejak dulu. Tapi dia selalu membuatku..lemah. Dia menggunakan kalian sebagai jaminan agar aku menurutinya"
"Jangan lagi. Aku bersumpah dia psikopat yang berbahaya hyung"
Taehyung baru akan membuka suaranya sebelum sebuah suara menginstrupsinya.
"Siapa Min Yoongi?"
Mendengar nada mengancam itu, Taehyung kembali ditampar kenyataan. Dia lupa jika Jeon Jungkook masih disini.
.
.
.
END /ditabok/
.
.
.
TBC kok TBC
Eum, ada yang rindu ini? I'm so sorry. Entahlah rasanya sedikit bingung mau lanjutin ini. Tapi sekalinya lanjut malah bablas gini. Semoga kalian ngga mual muntah bacanya karena demi dewa ini sampe 8k+.
Anggep aja itu bonus karena kalian udah mau nunggu sekaligus nagihin terus-terusan sampe rela pm aku wkkakakakak. Maafkan penulis gagal ini wohoo. Sekali lagi maafkan kalo ini aneh atau apapun. Ngga dicek lagi soalnya wkwkwk.
Tagihan kalian itu bikin aku semangat sekaligus gemeter wkwkwk
Terutama tagihan anak-anak grup yang kuat pake banget. Sampe disogok demi lanjutin ini wohooo
Oh aku mau nanya, kenapa kalian suka sama ff ini? Apa poin yang bikin kalian suka sama ff ini? Dan apa harapan kalian buat ff ini, selain fast update tentunya wkwkkwkwk
Oh satu lagi /rempong/ aku mau minta saran kalian tentang tempat yang bagus di Daegu buat jalan-jalan. Kali aja kalian ada referensi buat tempat jalan-jalan yang bagus.
Terakhir, aku sayang kaliaaaaaaannnnnnnn muah
.
.
Big love, clou3elf
