Light On My Darkness

Chapter 9

.

.

Author : Clou3elf

Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others

Pairing : KookV slight!YoonV, NamV

Genre : Drama, Hurt & Comfort

Rate : T-M (sesuai kebutuhan)

Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll

A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD

.

.

Hope U Like

.

.

Happy Reading

.

.

~Previous Chapter~~

.

.

.

"Tapi hyung, jauhi Min Yoongi. Jangan lagi menemuinya apapun alasannya" ucap Minjae mulai serius. "Dia memiliki obsesi tak sehat padamu. Dia berbahaya"

Taehyung tersenyum miris, "Andai aku bisa Jae, sudah kulakukan sejak dulu. Tapi dia selalu membuatku..lemah. Dia menggunakan kalian sebagai jaminan agar aku menurutinya"

"Jangan lagi. Aku bersumpah dia psikopat yang berbahaya hyung"

Taehyung baru akan membuka suaranya sebelum sebuah suara menginstrupsinya.

"Siapa Min Yoongi?"

Mendengar nada mengancam itu, Taehyung kembali ditampar kenyataan. Dia lupa jika Jeon Jungkook masih disini.

.

.

Chapter Nine

.

.

Dua hari Taehyung dan Jungkook berada di Daegu. Ibu Taehyung yang memaksa. Toh Jungkook tidak lagi diharuskan berada di rumah sakit jiwa. Ada Taehyung yang bisa menangani Jungkook dengan baik. Lagipula namja Jeon itu sendiri yang menginginkan Taehyung untuk sepenuhnya merawatnya. Jungkook sudah tidak ingin lagi berkutat di dalam tempat menyeramkan itu.

Disadari atau tidak, Jungkook jauh lebih santai saat berada di luar kota seperti ini. Apalagi setelah Taehyung mengajaknya jalan-jalan tempo hari, raut wajah namja tampan itu semakin cerah. Tidak lagi diliputi ketakutan dan kekhawatiran. Walau tetap saja Taehyung harus tetap mengontrol namja itu.

Beruntungnya, atau mungkin sialnya, Jungkook mulai santai berada di antara keluarganya. Tidak lagi selalu berdiam diri di dalam kamarnya untuk waktu yang lama dan turun saat makan atau saat keluarganya tidak berada di rumah. Itu sedikit meringankan Taehyung dan melegakannya sebenarnya. Tapi disisi lain Taehyung takut Jungkook semakin tidak ingin kembali ke rumahnya. Kembali kepada ibunya.

Sejujurnya Taehyung merasa kasihan pada ibu Jungkook. Wanita itu sendirian tanpa suami dan anaknya. Dan lagi Jungkook sudah cukup lama tidak bersama ibunya. Siapa tahu ibunya bisa membantu percepatan penyembuhan Jungkook.

Sudahlah, itu bisa diurus nanti. Yang terpenting sekarang Taehyung harus berkonsultasi dengan dokter yang menangani Jungkook. Taehyung harus tau rekam medis Jungkook selama ini. Kemudian menentukan tindakan selanjutnya bersama dokter yang menangani Jungkook. Hell, entah kenapa dia sangat bersemangat untuk kesembuhan Jungkook.

Walau sepengetahuannya, pasien dengan Skizofrenia itu memiliki kemungkinan kecil untuk sembuh, tapi Taehyung masih terus berharap. Berharap setidaknya gejala-gejala yang dialami Jungkook bisa berkurang hingga akhirnya namja tampan itu bisa menjalani hidupnya jauh lebih baik. Taehyung akan jauh lebih senang jika Jungkook bisa sembuh total nantinya.

"Tae, kajja kita makan" suara Jungkook sedikit mengejutkan Taehyung yang sedang asyik berkirim pesan dengan kepala rumah sakit jiwa di Busan tentang dokter yang menangani Jungkook.

Jungkook langsung masuk ke dalam kamar begitu mendapati Taehyung masih duduk di tepi ranjang sambil memandangnya. Tangannya menyentuh puncak kepala Taehyung dan mengacak rambutnya secara perlahan. Taehyung sedikit menghela nafas dengan kebiasaan Jungkook kali ini. Entah sejak kapan Jungkook punya kebiasaan mengacak rambutnya begini.

"Sedang apa? Sibuk sekali" tanya Jungkook penasaran. Tentu saja penasaran. Banyak hal tentang pekerjaan dan kehidupan Taehyung yang tak dia ketahui.

Taehyung menggeleng kecil kemudian menepuk tempat di sampingnya. Meminta Jungkook untuk duduk disana, sebentar. Jungkook langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Taehyung. Mengabaikan jarak yang seharusnya ada walau sedikit. Netra hitamnya memandang penuh rasa ingin tepat ke mata Taehyung yang juga memandangnya.

Jungkook selalu suka bagaimana Taehyung memandangnya. Begitu penuh kehangatan dan ketenangan yang menular. Mata Taehyung seperti memiliki kekuatan magis. Menghipnotisnya untuk tenang dan mengabaikan apapun juga bayangan yang hinggap di pikirannya.

"Jungkookie, apa kau tidak merindukan ibumu?" Taehyung bertanya setelah diam selama beberapa lama. Jungkook mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Taehyung.

Taehyung masih menunggu jawaban Jungkook. Dia ingin membawa Jungkook kembali pada wanita yang sudah melahirkannya. Namun tetap saja Taehyung juga harus memikirkan Jungkook. Bukankah Taehyung sudah berjanji untuk membuat Jungkook senang?

"Kenapa bertanya begitu?" Jungkook bertanya pelan. Tak dipungkiri jika dia juga merindukan ibunya walau ada sebagian dari hatinya yang tidak ingin kembali ke rumahnya.

"Hanya bertanya" ucap Taehyung pelan. "Jika kau ingin bertemu ibumu, mungkin…mungkin aku bisa mengantar"

Jungkook memandang Taehyung lekat. Dia melihat ada pancaran tekad dan kelembutan dari sorot mata Taehyung. Sekilas mengingatkannya dengan tatapan ibunya. Sekitar lima tahun lalu. Sebelum dia menghancurkan keluarganya dengan tangannya sendiri.

"Apa kau tidak takut ?" Jungkook bertanya lirih. Taehyung kembali melihat gurat tak terbaca disana.

"Takut apa?"

"Aku pernah membunuh ayahku karena mereka menyuruhku. Aku pernah melukai ibuku karena mereka menyuruh" Jungkook mengucapkan itu dengan tenang dan diiringi kebungkaman Taehyung. "Jadi, apa kau tidak takut hal itu akan terulang lagi? Entah aku atau ibuku yang melakukannya"

Taehyung kembali tertegun.

.

.

Hari ini mereka memutuskan untuk kembali ke Busan. Tak ada lagi percakapan selama di kereta yang membawa mereka dari Daegu ke Busan. Hanya tangan yang saling bertaut erat lah yang menunjukkan mereka masih bersama. Yang meyakinkan Jungkook jika Taehyung bersamanya. Dan yang meyakinkan Taehyung jika Jungkook masih baik-baik saja.

"Taehyung" panggil Jungkook lirih. Membuat Taehyung secara refleks menoleh hanya demi melihat wajah Jungkook yang terlihat begitu serius.

"Ada apa?"

Bukannya menjawab, Jungkook malah memandangi Taehyung. Membuat perawat manis itu bingung dengan gelagat Jungkook yang hanya diam. Belum sempat Taehyung kembali bereaksi, Jungkook sudah mengeratkan genggamannya. Menyandarkan dirinya dan memejamkan matanya.

"Nanti" gumam Jungkook.

"Hah?"

"Suatu saat nanti aku akan kembali ke rumah. Untuk saat ini aku hanya belum siap kembali ke rumah bersama ibuku. Bolehkan?" Jungkook memohon. Walau tidak seperti apa yang dibayangkan Taehyung, tapi ucapan Jungkook sudah memunculkan senyuman manis di wajah Taehyung.

"Tentu saja. Tidak masalah jika untuk sekarang kau masih tidak ingin kembali ke rumah" ucapan Taehyung membuat Jungkook lega. Sangat lega.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Enam bulan telah berlalu. Selama enam bulan, Jungkook tinggal di asrama Taehyung. Membantu namja manis itu mengurus kamarnya. Selama enam bulan ini Jungkook juga mengikuti Taehyung ke rumah sakit. Menunggu Taehyung menyelesaikan shift-nya. Kemudian dia akan pulang bersama Taehyung.

Selama satu bulan sekali juga Taehyung membawa dokter yang selama ini menangani Jungkook untuk dilakukan check up. Sang dokter akan memeriksa dengan seksama perkembangan Jungkook. Dan merasa takjub melihat Jungkook yang luar biasa tenang.

Padahal seingatnya dulu, Jeon Jungkook sangat sulit untuk dibuat tenang. Sang dokter perlu setidaknya dua sampai tiga perawat untuk membantunya memeriksa Jungkook. Tapi sekarang namja bergigi kelinci itu bahkan hanya duduk tenang sambil mengikuti instruksi yang diberikan. Dan, well, secara keseluruhan semua baik.

"Kudengar kau bahkan baru sekitar delapan bulan menjadi perawat Jungkook. Bagaimana kau bisa mendapat kepercayaannya?" tanya sang dokter pada Taehyung saat perawat itu menyiapkan makan siang untuk Jungkook.

Taehyung tertawa. Tangannya sibuk menyiapkan makanan sementara bibirnya mulai menjawab pertanyaan dokter pribadi Jungkook. "Aku tak tau bagaimana bisa Jungkook percaya padaku. Dokter bahkan melihat sendiri tujuh bulan yang lalu, saat aku masuk ke kamarnya di hari pertama bekerja"

Dokter itu mengangguk konfirmatif kemudian memandang Taehyung. "Aku juga mendengar kau bisa menaklukkan pria berbahaya di Daegu"

"Itu juga kebetulan. Tidak jauh beda dengan ini"

"Kalau kondisi Jungkook terus mengalami perkembangan yang bagus seperti ini, bisa kupastikan dia bisa mulai diajak pergi ke keramaian. Setidaknya membiasakan diri dengan dunia luar"

"Ah! Benar. Sudah hampir tiga tahun Jungkook jarang pergi ke keramaian" Taehyung mengangguk konfirmatif.

"Ralat. Hampir seumur hidupnya dia jarang sekali bermain dan pergi seperti remaja seusianya"

~at Daegu~

Yoongi berbaring telentang. Menatap langit-langit kamar rawat yang sudah dua tahun ini menemaninya. Dua tahun terkurung di tempat seperti ini membuat Yoongi rindu jalan-jalan. Tadinya Yoongi hanya ingin kabur dari jerat hukum. Alhasil dia berpura-pura memiliki gangguan jiwa.

Strateginya berhasil. Setelah dilakukan pemeriksaan sampai Yoongi harus mengeksekusi sang dokter karena menolak memalsukan rekam medisnya, dia akhirnya lolos. Tangan si dokter diremukkan hingga membuat orang itu dengan terpaksa melepas pekerjaannya.

Jika kalian bertanya kenapa sang dokter tidak melawan? Jawabannya adalah karena Yoongi menggunakan istri dan anak-anaknya sebagai ancaman. Yoongi menjanjikan hal yang sangat menyakitkan jika dokter itu berani buka mulut.

Oh, dan itu berakhir dengan dokter yang bunuh diri karena merasa tertekan setelah pencopotan titel dokter dari namanya.

Drrttt…

Ponselnya berbunyi dan secara kilat tangannya membuka ikon amplop.

'Hey kembalilah. Ayo ikut aku ke Busan. It's show time'

'Kau sudah lama berhibernasi'

Yoongi menyeringai. kemudian dia membalas 'Nanti malam, datang ke ruanganku'.

Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Taehyung. Dan Yoongi menjanjikan akan membuat Taehyung berada dalam genggamannya. Tidak akan membiarkan Taehyung lepas dari cengkeramannya walau namja itu menangis darah Ah, Yoongi juga menjanjikan namja bernama Jungkook itu tidak akan bisa lagi menempeli Taehyung. Taehyung mutlak miliknya.

"Kim Taehyung" gumamnya sebelum memilih memejamkan matanya. Bermimpi akan masa depannya dengan Taehyung.

.

.

Yoongi masih berbaring membelakangi pintu saat seseorang masuk ke ruangannya. Sosok perawat yang memakai masker dan membawa brankar yang entah apa isinya. Yoongi mengernyitkan keningnya bingung. Siapa perawat yang begitu lancang memasuki teritorinya.

"Aku tak tau masih ada orang yang berani masuk tanpa seijinku" ucap Yoongi kalem. Sejujurnya di balik suara yang kalem itu, ada sebuah bahaya yang mengincar.

Sosok itu hanya tertawa. Membuat Min Yoongi menyeringai karena penolongnya datang. Dia adalah teman yang selama ini membuat tujuannya tercapai tanpa tersentuh hukum. Tidak aka nada yang percaya dibalik wajah malaikatnya, tersimpan jiwa dewa kematian.

"Kau lama sekali. Aku sudah lama menunggumu bodoh" ucap Yoongi kemudian mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap perawat misterius itu.

"Ck! Radarmu kuat sekali,huh. Bagaimana kau bisa tau aku di Daegu" dengusnya. "Aku hanya mengatakan kau sudah lama berhibernasi dan kau langsung memintaku menjemputmu"

"Taehyung ke Daegu. Dan mustahil parasit itu tak mengekori Taehyung-ku" gumam Yoongi sambil melepas pakaian rumah sakitnya. Mengambil pakaian yang sudah disodorkan padanya. "Dan mustahil pula kau tidak menyusul mereka"

Orang itu hanya tertawa pelan. Tawa penuh dendam didalamnya. "Kau tau, mereka manis sekali. Jalan-jalan berdua dan berciuman" nadanya datar namun penuh racun.

Pergerakan Yoongi berhenti. Matanya menatap nyalang ke wajah perawat itu. Amarahnya mendadak memuncak saat mendengar Taehyung dicium orang lain. Apalagi dengan makhluk gangguan jiwa seperti Jungkook.

"Mereka berciuman? Dan kau hanya membiarkannya?" desis Yoongi.

Orang itu hanya menyeringai, "Untuk kali ini kubiarkan. Tapi selanjutnya, jangan berharap aku akan membiarkan Jungkook-ku disentuh jalang itu. Aku sudah punya rencana lain"

"Kalau begitu ayo taruhan. Siapa yang lebih dulu menangis di depan makam seseorang, kau atau aku" Yoongi memakai pakaiannya dengan cepat dan berjalan meninggalkan perawat di belakangnya.

"Tak akan kubiarkan kau menyentuh Jungkook-ku. Ah~ bermain dengan Taehyung boleh juga" gumamnya dengan senyum misterius.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Pagi harinya Taehyung dibuat terkejut dengan berita yang disampaikan teman-temannya di Daegu. Yoongi kabur dari rumah sakit. Dan sampai saat ini pihak kepolisian Daegu masih mencari namja itu. Dia adalah criminal berbahaya. Psikopat yang harus segera diamankan sebelum menimbulkan kekacauan.

"Kau tenang saja, kepolisian sedang melacak keberadaan Yoongi" ucap Minjae.

"Apa kau bisa menjamin dia tak akan datang ke Busan dan mencelakakan Jungkook ?" tanya Taehyung dengan suara sedikit bergetar.

Yeah, yang dia takutkan saat Yoongi tidak berada dalam pengawasan di rumah sakit adalah jika namja itu datang ke Busan dan mencelakakan Jungkook. Dari apa yang dia tangkap, Yoongi mengetahui jika Taehyung bekerja untuk Jungkook sekarang. Jadi, bukan tidak mungkin Yoongi kabur dan mencari Jungkook.

Taehyung tak bisa memprediksi isi kepala Yoongi. Terkadang jika Taehyung berpikir tentang isi kepala Yoongi, maka yang dilakukan namja itu justru sesuatu yang jauh dari perkiraan Taehyung. Yang jelas, Taehyung sangat berharap Min Yoongi tak pernah menginjakkan kakinya di Busan.

"Kau kenapa?" Jungkook yang baru selesai mandi pun bertanya pada Taehyung saat melihat wajah kusut namja manis itu.

Taehyung hanya menatap Jungkook kemudian menggeleng pelan. "Hanya ada beberapa masalah. Tapi tenang saja, sudah diurus teman-temanku"

Jungkook mendekat dan duduk di samping Taehyung, "Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?"

"Tidak astaga. Tidak ada yang disembunyikan" ucap Taehyung. Jungkook hanya tersenyum simpul kemudian mengulurkan tangan mengacak rambut halus Taehyung.

Enam bulan lebih tinggal bersama Jungkook membuat Taehyung jadi terbiasa dengan apapun yang dilakukan Jungkook padanya. Mengacak rambutnya, diam sambil menatapnya, bahkan berbicara yang Taehyung sendiri terkadang tak mengerti apa maksudnya. Semua itu sudah jadi teman baiknya. Bahkan jika mendadak Jungkook jadi manis pun Taehyung sudah terbiasa.

Dan selama itu pula Jungkook belum mengatakan apapun soal kepindahannya ke rumah. Taehyung juga tak ingin memaksa. Hanya dua kali dia menanyakan hal itu dan berakhir Jungkook yang mendiamkannya. Taehyung paham jika Jungkook belum ingin kembali ke rumah. Mungkin ada semacam perasaan enggan kembali kesana mengingat rumah itu justru menyimpan kenangan buruk untuknya.

Tapi Taehyung juga tidak sepenuhnya membiarkan Jungkook jauh dari ibunya. Sesering mungkin Taehyung mengajak Jungkook bertemu dengan ibunya, Entah itu di rumah sakit atau mereka membuat janji makan bersama. Selama ini tak ada masalah dengan itu. Jungkook menurut padanya walau sesekali akan mengeluh.

Perawat asal Daegu itu tak mengerti mengapa hubungan Jungkook dan ibunya sedikit awkward. Entah apa yang terjadi pada mereka. Tapi sekali lagi Taehyung tak akan membiarkan hubungan ibu dan anak itu jadi renggang.

"Taehyung" panggil Jungkook. Ah, Jungkook lebih terbiasa memanggilnya begitu tanpa embel-embel hyung atau tambahan apapun selain –ie. Dan Taehyung tak akan protes.

"Eum?" Taehyung menoleh begitu tidak segera mendengar kelanjutan ucapan Jungkook yang memanggilnya. Dan dilihatnya Jungkook menatapnya gugup.

Jungkook memandang Taehyung selama lima menit kemudian kembali menunduk dalam. Ada sesuatu yang mengganjal yang dia ingin katakan namun sedikit enggan membuka topik ini.

"Hey kenapa?"

"Apa kau akan memanggil ibuku lagi hari ini?" tanya Jungkook.

Taehyung mengerutkan keningnya. Membuat Jungkook tanpa sadar menelan salivanya gugup. "Kenapa? Apa kau tidak nyaman?" pertanyaan Taehyung membuat Jungkook sedikit yakin dengan pilihannya.

"Hari ini, bisakah kita tak usah bertemu ibuku? Sejujurnya aku hanya ingin menunggumu sendirian di rumah sakit nanti"

Taehyung semakin mengerutkan keningnya "Kau yakin? Bagaimana kalau mereka-"

"Tidak akan. Aku hanya akan membaca buku nanti. Bukankah kau sendiri yang berkata jika pikiranku tidak boleh kosong saat sendirian? Jadi aku memilih membaca buku saja sembari menunggumu. Aku juga bisa mendengarkan music dan tidur" Jungkook berucap panjang lebar seolah ingin meyakinkan Taehyung agar tidak bertemu ibunya nanti.

Taehyung menatap namja di depannya sangsi, "Kau yakin?"

Jungkook mengangguk kuat, "Aku yakin"

Perawat manis itu hanya bisa menghela nafas kemudian mengangguk, "Tapi janji padaku jika kau mulai berhalusinasi, kau harus segera menemuiku, otte?"

"Janji" Jungkook tersenyum lega. Setidaknya Taehyung sudah setuju.

.

.

Hal ini berlangsung selama seminggu. Jungkook selalu beralasan jika akan dipertemukan dengan ibunya. Membuat Taehyung gemas hingga nyaris mengomeli namja ini. Namun Taehyung hanya bisa menghela nafas sembari mengangguk mengiyakan.

Beruntung selain itu Jungkook masih mau menurut padanya. Masih mau melakukan pemeriksaan, rutin minum obat bahkan tanpa diingatkan Taehyung, dan beristirahat. Walau terkadang harus sedikit berdebat karena Jungkook menolak melakukan pemeriksaan.

Akhir minggu kali ini, setelah menyerahkan laporan kondisi Jungkook ke rumah sakit, Taehyung mengajak Jungkook jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Hell, tentu saja Jungkook menolak. Dia sama sekali tak ingin berada di keramaian.

"Taehyung, kau yakin jalan-jalan kesini?" suara Jungkook sedikit bergetar. Dan Taehyung tau itu. Segera saja dia menarik Jungkook menuju sudut yang sepi.

Mata cokelat perawat itu menatap teduh ke arah Jungkook. Tersenyum tipis kemudian menepuk pundak pemuda berusia 20 tahun itu. Membuat atensi Jungkook kembali padanya. Masih terlihat raut gelisah dan ketakutan disana.

Cukup lama mereka berpandangan. Taehyung mengernyit bingung karena Jungkook tidak melakukan pergerakan apapun selain memandangnya dengan tatapan kosong.

Tunggu!

Tatapan kosong. Ah, rupanya Jungkook benar-benar tak bisa menyesuaikan diri dengan keramaian. Jungkook dan keramaian adalah sesuatu yang buruk. Kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan namja itu masih sama. Tidak berkurang sedikitpun walau Taehyung sudah menemaninya seperti ini.

Dan tak ada hal yang bisa dilakukan Taehyung selain memasangkan earphone pada telinga Jungkook, memutar music dan membawa namja itu pergi dari tempat ini. Taehyung tak mau mengambil resiko membuat Jungkook semakin merasa cemas.

Jungkook belum siap.

Taehyung membawa Jungkook pergi melalui tangga darurat. Sebuah antisipasi karena lift sedang penuh. Jungkook hanya mengikuti sambil menggenggam tangan Taehyung dengan erat. Tak ingin terpisah dan sekedar menguatkan dirinya.

Jungkook hanya merasa tak aman. Dia merasa ada sepasang mata yang memandangnya tajam diantara puluhan pasang mata yang menatapnya. Ada perasaan tak nyaman yang dirasakan Jungkook sejak tadi. Tadinya Jungkook pikir itu hanya halusinasinya biasa, jadi dia mencoba mengabaikannya seperti cara dokter dan Taehyung mengajarinya.

Namun nyatanya perasaan itu masih ada. Semakin lama malah semakin membuatnya resah. Dan kemudian pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi isi kepalanya hingga memutar adegan-adegan yang sebenarnya tidak perlu dan tidak akan terjadi.

Perasaan takut dan gelisah akhirnya menghampirinya. Membuatnya tak bisa fokus mengendalikan diri. Musik yang diberikan Taehyung pun tak berefek apa-apa. Yang dia rasakan hanya ketakutan dan keresahan.

Jungkook memelankan langkahnya sembari menarik tangan Taehyung. Membuat langkah Taehyung juga memelan dan akhirnya berhenti. Perawat manis itu berbalik dengan raut penuh tanda tanya.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Jungkook mengangguk kaku. "Aku baik-baik saja". Dan sejujurnya itu adalah kebohongan.

Bagaimana Jungkook merasa baik-baik saja jika perasaannya tak menentu. Bagaimana dia bisa baik-baik saja saat dia merasa ada bahaya yang mengintainya dan Taehyung. Dan bagaimana Jungkook bisa baik-baik saja saat bahkan perasaan itu masih begitu kuat dia rasakan.

"Kau mau duduk dulu?" tanya Taehyung.

Jungkook kembali mengangguk kemudian mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga. Namja itu memejamkan matanya sembari mengatur nafas. Berharap itu hanya halusinasinya belaka tanpa makna apapun. Karena jujur saja, Jungkook tak pernah merasa seperti ini. Merasakan perasaan saat seseorang memandangnya tajam.

Jika saja Taehyung lebih peka dengan keadaan sekitar, mungkin saja dia juga akan merasakan perasaan saat seseorang memperhatikannya diam-diam. Karena jujur saja, itu bukan hanya halusinasi. Seseorang memang sedang memperhatikan mereka, ah tidak, dua orang.

.

.

Malam harinya Jungkook terlihat lebih diam. Namja itu hanya mengaduk makanannya. Terkadang raut wajahnya berubah. Dari raut yang tenang menjadi raut penuh amarah kemudian terlihat ketakutan. Jujur saja itu membuat Taehyung cemas.

"Kau sudah selesai?" tanya Taehyung.

Jungkook memandangnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk sangat pelan. Taehyung tersenyum kecil kemudian menyodorkan tiga keping obat yang biasa dikonsumsi oleh Jungkook beserta segelas penuh air mineral.

"Minum obatmu ne. Aku akan mencuci semua peralatan makan kita" Taehyung berucap sambil memandang Jungkook lembut dan menepuk pundak kekar itu.

Jungkook hanya memandangi Taehyung dengan sendu. Lama kelamaan tatapan itu berubah menjadi tatapan tajam. Tatapan yang tak pernah sama sekali Jungkook tujukan kepada Taehyung. Tatapan penuh amarah dan keinginan untuk menyakiti.

Namja tampan itu melempar ketiga obatnya ke sembarang arah. Nafasnya memburu. Diteguknya air mineral yang ada di depannya dengan terburu. Kemudian Jungkook menggenggam erat gelas yang dipegangnya.

Tubuhnya bergerak sendiri. Berdiri kemudian menghampiri Taehyung yang sedang mencuci piring.

'Cepat atau lambat, dia pasti akan melukaimu. Cepat atau lambat dia pasti akan membunuhmu. Sama seperti teman-temanmu yang tak berguna itu. Sama seperti ibumu. Sama seperti kakekmu'

Jungkook sudah tak bisa lagi membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Otaknya sudah dipenuhi dengan bayangan-bayangan Taehyung yang akan melukainya. Telinganya sudah dipenuhi bisikan-bisikan untuk melukai Taehyung sebelum perawat itu melukainya.

'Tak akan ada seorangpun yang mau dengan sukarela berteman dengan monster sepertimu. Dia akan punya banyak cara dan kesempatan untuk melukaimu saat kau lengah'

'Taehyung temanku. Dia baik'

'Tak ada teman untukmu. Tak ada cinta dan kasih sayang untukmu'

Dengan tangan bergetar, Jungkook menghantamkan gelas yang dipegangnya ke pundak Taehyung. Membuat namja manis itu secara reflek berteriak dan bergerak menjauh. Mata Taehyung melebar saat melihat Jungkook yang tak dikenalnya.

Tatapan matanya kosong dan penuh kemarahan. Taehyung tak tau apa yang membuat Jungkook marah. Yang jelas ini bukan hal yang baik. Sepenuhnya mengabaikan pundaknya yang ngilu. Mungkin memar.

Prang!

Taehyung melonjak saat Jungkook memukulkan gelas itu hingga pecah. Bagian tajamnya tertodong di depan wajah Taehyung. Jungkook maju dan Taehyung reflek mundur.

"Jung-Jungkookie" panggil Taehyung. Matanya bergerak liar mencari apapun yang bisa melindunginya dari sabetan Jungkook.

"Kau pasti berniat jahat padaku. Seperti mereka yang berlaku jahat padaku" desis Jungkook.

Jungkook mendadak melompat. Refleks Taehyung berteriak terkejut. Teriakan Taehyung membuat Jungkook semakin cemas dan dikuasai halusinasinya. Tangannya secara acak mengayunkan gelas pecah itu ke semua arah.

"Jungkook!" Taehyung sebisa mungkin berusaha menghindar.

Demi apapun Taehyung tak tahu kenapa Jungkook bisa begini. Yang jelas ini bukan Jeon Jungkook yang biasanya. Seolah ada orang lain yang mengendalikan tubuh kekar namja ini. Dan Taehyung tak tau bagaimana caranya membuat Jungkook tenang kembali.

Dan Taehyung hanya mampu memikirkan satu solusi. Sedikit membahayakan memang, Namun ini satu-satunya cara yang terpikirkan dengan cepat oleh Taehyung.

Tap!

Saat Jungkook mulai mengangkat tangannya, Taehyung dengan sigap menahan pergelangan namja itu. Walau badannya berukuran jauh lebih kecil daripada Jungkook, namun Taehyung tetaplah seorang namja yang juga memiliki kekuatan.

"Jungkook-ah kumohon, kau harus bisa melawan suara-suara itu. Itu hanya halusinasimu. Kumohon kau harus melawan" Taehyung masih berusaha menahan tangan Jungkook yang masih bernafsu melukainya.

Jungkook hanya memandangnya, membuat Taehyung sedikit cemas.

"Kumohon. Kendalikan dirimu. Dengarkan aku" ucap Taehyung.

Kediaman Jungkook sejujurnya membuat Taehyung was-was. Pasalnya Taehyung tak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Jungkook. Bisa jadi sesuatu yang baik namun bisa juga sesuatu yang buruk. Apalagi Jungkook diam dengan raut datar dan mata yang kosong. Taehyung kesulitan membaca apa yang dipikirkan namja itu.

Taehyung nyaris lengah. Jungkook menyentaknya hingga membuat Taehyung terhuyung. Matanya berkilat sebelum kembali mengayunkan pecahan gelas pada Taehyung. Kali ini sukses menggores lengan Taehyung. Tak parah memang namun cukup untuk membuat Taehyung berdarah.

"Jungkook, dengarkan aku, jangan percaya apapun yang mereka katakan padamu. Jangan percaya" Taehyung masih berusaha membuat Jungkook tenang.

Jungkook memandang Taehyung lagi. Matanya terpaku pada darah Taehyung yang mulai menetes. Taehyung mengangkat tangannya menutupi lukanya. Bibirnya tak henti meminta Jungkook untuk mendengarkannya.

"Kumohon dengarkan aku"

.

.

Dari tempat yang tak jauh dari asrama Taehyung, seorang namja berkulit pucat keluar dari sebuah taman dengan membawa dua buah cincin dan satu kalung yang berlumuran darah. Langkahnya sangat santai seolah tidak ada kejadian apapun padahal dia sudah menghilangkan satu nyawa dengan keji.

"Apa yang barusan kau lakukan dengan wanita itu? Kukira kau sudah tak akan menyentuh wanita lagi semenjak obsesimu terhadap Kim Taehyung" ucap seorang namja dengan nada datar.

"Hanya sedikit bekerja. Aku juga perlu penghasilan agar bisa bertahan hidup bukan?" Yoongi mengedikkan bahunya. "Aku hanya mengambil perhiasannya, bukan memperkosanya, jadi ini tak ada hubungannya dengan Taehyung"

"Baiklah terserah. Kajja kita pulang" namja yang bersama Yoongi tadi memilih membiarkan Yoongi melakukan apapun sesukanya. "Ah, hyung, selama disini jangan membuat masalah. Disini aku dikenal sebagai seorang psikiater, ingat itu baik-baik"

"Waw, psikopat sepertimu jadi seorang psikiater? Haruskah aku membuat perayaan?"

Namja yang bersama Min Yoongi itu hanya tersenyum miring, "Buat saja perayaan saat aku berhasil mendapatkan Jeon Jungkook dan menjadikan Kim Taehyung patung lilin di rumahku"

Yoongi hanya tertawa kemudian berjalan meninggalkan rekannya di belakang. Matanya memicing berbahaya sebelum kemudian kembali normal dengan seringai yang menjanjikan sesuatu yang besar dan menyakitkan.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Jungkook masih saja diam sejak malam dimana dia lepas kendali dan hampir menyelakai Taehyung. Matanya selalu memandang sendu ke arah Taehyung yang tampak sedikit kesulitan menggenggam sesuatu karena telapak tangannya diperban.

Dan itu hasil perbuatan Jungkook.

"Aw! Shh" sesekali Jungkook mendengar rintihan Taehyung saat lukanya tak sengaja tersentuh.

Jungkook tak tahan lagi. Mendengar rintihan kesakitan Taehyung adalah sesuatu yang sangat tidak ingin Jungkook dengar. Terlebih lagi semua itu karena dirinya. Rasanya sungguh menyesal karena Jungkook melupakan apa yang sudah diajarkan Taehyung saat pikirannya mulai diambil alih.

Perawat tangguh itu sedikit terkejut saat tiba-tiba Jungkook datang dan menggenggam tangannya sangat lembut. Taehyung hanya diam memandangi namja di depannya. Sedikit was-was jika Jungkook kembali dikuasai halusinasinya.

Taehyung sudah lelah. Semalam dia tak bisa tidur karena sibuk mengobati lukanya dan menenangkan Jungkook. Jungkook semalam panik setelah telapak tangan kanan Taehyung tertusuk pecahan gelas yang dibawa Jungkook. Taehyung masih sangat ingat jika tubuh Jungkook bergetar hebat dengan mulut yang merapalkan kata maaf.

"Maaf" lirih Jungkook lagi.

Taehyung memandangi Jungkook sebelum kemudian menggunakan tangan kirinya yang bebas menangkup pipi Jungkook, "Jangan terlalu dipikirkan. Istirahatlah"

"Karena aku, kau harus menderita luka seperti ini" Jungkook mengelus jari-jari lentik Taehyung sambil matanya tak pernah lepas dari perawatnya.

"Hanya cukup rutin minum obatmu, kumohon. Aku tidak ingin hal seperti semalam terjadi lagi" Taehyung menatap Jungkook penuh permohonan.

Jungkook mengangguk. Dalam hatinya sudah terpatri kuat bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya Taehyung terluka karena perbuatannya. Jungkook tak mau melihat Taehyung terluka. Namja itu sudah sangat baik dengan bersedia merawatnya, menjadi temannya, dan menemaninya.

"Tanganmu, apa baik-baik saja? Apa sakit?" tanya Jungkook cemas.

Taehyung tersenyum tipis, "Tak apa, hanya luka kecil"

Jungkook menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Taehyung. Dari sentuhan itu Taehyung tau jika Jungkook luar biasa menyesal. Bukan tidak mungkin dia juga tertekan setelah di mall kemarin. Sedikit banyak Taehyung menduga jika lepas kendalinya Jungkook semalam berkaitan dengan kejadian di mall saat Jungkook merasa seseorang memperhatikannya dengan tatapan membunuh yang luar biasa.

"Kau mau jalan-jalan lagi?" tanya Taehyung.

"Aku ingin jalan-jalan di sekitar sini saja. Tidak mau ke tempat ramai" pinta Jungkook.

Taehyung mengangguk menyanggupi. Dia hanya ingin membuat Jungkook lebih rileks jadi rasanya tak masalah jika dia menuruti permintaan Jungkook. Apalagi nanti Taehyung mendapat shift malam. jadi masih ada waktu jika siang ini dia jalan-jalan bersama Jungkook.

"Kajja kita siap-siap"

.

.

Jungkook sengaja mencari tempat yang sepi dan Taehyung sengaja membiarkannya. Hari ini Jungkook terlihat kalem. Tidak ketakutan lagi. Jadi Taehyung juga sedikit banyak merasa tenang.

Jungkook hanya duduk di bangku pinggir jalan menuju taman. Dengan earphone yang menempel di kedua telinganya. Dan Taehyung memilih duduk di sampingnya. Mengamati jalanan.

Dan disana, Yoongi bersama temannya sedang mengamati kedua orang itu. Sebuah tatapan datar Yoongi layangkan kepada Jungkook dan luka di tangan Taehyung. Sedikit berpikir bagaimana jika dia yang menorehkan luka itu pada Taehyung.

Teman Yoongi sedang sibuk memandangi Jungkook yang terlihat matang di usia legalnya. Menjilat bibirnya kemudian menyeringai. Sedikit tak sabar untuk melakukan sesuatu agar Jungkook segera menjadi miliknya.

"Kau mau kemana?" tanya Yoongi begitu melihat temannya beranjak.

"Menemui Jungkook"

Yoongi menahan tangan kekar temannya, "Tidak! Kau disini"

"Cih! Persetan denganmu hyung" ucap namja itu sebelum kemudian melangkah menghampiri Jungkook-nya.

Yoongi mendengus dan memilih mengamati.

.

.

"Annyeong Jungkook-ah…Taehyung-sshi" sapa seseorang.

"Oh? Dr. Kim Mingyu, annyeong. Lama tidak bertemu" sapa Taehyung ramah.

Kim Mingyu hanya tersenyum kemudian berjongkok di depan Jungkook. Sontak Jungkook memandangnya dengan tatapan datar tak bersahabat tanpa berminat melepas earphone di telinganya. Disana Taehyung bisa melihat binar memuja dari psikiater muda itu.

"Apa dokter Kim sedang libur?" tanya Taehyung saat melihat penampilan santai namja itu.

"Libur" jawab Mingyu singkat. "Dan Taehyung-sshi sendiri? Kenapa berkeliaran disini bersama Jungkook?"

"Hanya menemani Jungkook jalan-jalan. Aku shift malam hari ini"

"Shift malam ya" ucapan Mingyu sedikit mengandung makna tersembunyi.

Sret!

Jungkook bangkit kemudian menggenggam pergelangan tangan Taehyung dan sedikit menyeret perawat itu. Ada sesuatu yang membuat Jungkook tak nyaman dengan keberadaan psikiater ini di dekatnya. Dan Jungkook sedang berusaha melawan ucapan-ucapan yang mulai terdengar.

"Jungkook"

Jungkook membawa Taehyung kembali ke asrama. Namun sekitar lima meter sebelum tiba di asrama, Jungkook tiba-tiba berbalik dan memandang Taehyung. Melepas earphone-nya asal kemudian menangkupkan kedua pipi Taehyung.

"Katakan sesuatu, kumohon katakan sesuatu. Mereka mulai berbicara buruk tentangku dan tentangmu. Kumohon katakan sesuatu sebelum mereka menguasaiku, Tae"

"Jungkook lihat aku! Lihat aku" Taehyung menggenggam tangan Jungkook di pipinya. "Semua yang mereka katakan tidak benar. Apapun yang kau dengar dari mereka, itu tidak benar. Mereka dan semua yang mereka ucapkan itu tidak pernah ada. Mereka tidak nyata" Taehyung terus mengulang kata-kata itu.

"Mereka tidak nyata. Semua yang mereka ucapkan tidak benar" gumam Jungkook.

"Ya. Ya. Benar begitu. Mereka tidak nyata dan semua yang mereka ucapkan tidak benar"

Jungkook terus bergumam sambil menempelkan keningnya dengan Taehyung. Bergumam begitu kacau kemudian memeluk Taehyung erat. Semakin erat saat Taehyung mengelus punggungnya perlahan.

"Tenanglah"

.

.

Seperti biasa, Jungkook akan ikut Taehyung ke rumah sakit untuk bekerja. Namja itu akan duduk semalaman di kamar rawatnya sampai Taehyung selesai. Hanya saja hari ini dokternya datang. Taehyung yang menghubunginya.

"Semalam kau tidak meminum obatmu?" tanya dokter itu.

Jungkook menggeleng. Taehyung menghela nafas. Dugaannya tepat.

Sang dokter mulai melakukan pemeriksaan terhadap Jungkook. Dan tentu saja Taehyung menghampiri. Jungkook tidak akan mau diperiksa jika tidak bersama Taehyung.

"Kau harus lebih memperhatikan Jungkook, Taehyung-ah. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi" ucap sang dokter.

"Ne" Taehyung mengangguk.

"Jungkook-ah, istirahatlah sementara Taehyung bekerja"

Dan Jungkook hanya mengangguk karena memang tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain beristirahat sembari menunggu Taehyung menyelesaikan semua pekerjaannya. Sejujurnya Jungkook berharap pekerjaan Taehyung tidak terlalu banyak jadi perawat itu bisa menemaninya di dalam.

"Baiklah aku pergi" sang dokter memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja.

Taehyung berinisiatif mengantar sang dokter ke depan. Ada sesuatu yang juga ingin Taehyung tanyakan perihal penyakit Jungkook.

"Ahjussi"

"Eh? Tumben kau memanggilku begitu. Ada apa?"

Taehyung sedikit gugup. Dia ragu antara bertanya sekarang atau tidak. Menghela nafas panjang guna memantapkan tekadnya.

"Ahjusshi sudah lama menangani Jungkook kan? Apa…apa ahjussi tau penyebab Jungkook mengidap Skizofrenia?" Taehyung akhirnya berhasil mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama tertahan.

Sang dokter mengangguk, "Sebenarnya, ayah Jungkook adalah seniorku saat sekolah dulu. Dari yang aku tau, sejak kecil Jungkook sudah sering sekali melihat kekerasan bahkan mengalami tindak kekerasan. Di umurnya yang ke lima tahun ia sudah menyaksikan peristiwa pembunuhan. Di usia sepuluh tahun dia pertama kali melihat pertengkaran ayah dan ibunya. Dan di usia tiga belas tahun, dia mengalami tindak kekerasan hingga membuatnya trauma. Sejak saat itu peristiwa-peristiwa itu terus menghantuinya. Membuatnya sangat ketakutan hingga tanpa sadar memunculkan halusinasi-halusinasi menyeramkan"

Taehyung tak sanggup berkata apa-apa lagi selain melongo. Tidak mengherankan jika Jungkook begitu bereaksi jika menyangkut kekerasan.

"Dan kau pasti ingat, selain lingkungan, faktor penyebab Skizofrenia adalah gen. Dari sana saja sudah jelas bagaimana bisa Jungkook mengidap Skizofrenia"

"Waw, ahjussi pasti sangat mendalami kasus Jungkook hingga mengetahui hingga sedetail itu"

Dokter itu tertawa, "Aku jadi dokter yang menangani Jungkook bukan tanpa alasan, Tae. Ayah Jungkook sendiri yang memintaku agar aku bisa fokus dengan penanganan kedua anggota keluarganya"

"Kau menangani orang lain selain Jungkook? Siapa?"

"Aku dulu dokter pribadi ibu Jungkook"

"Mw-mwo?!"

Dokter itu mengangguk, "Ibu Jungkook juga pengidap penyakit Skizofrenia. Jadi ibunya lah pembawa gen itu bagi Jungkook"

Taehyung shock. Dia sungguh tak menyangka jika Ibu Jungkook juga pengidap.

"Dan satu lagi, pembunuhan yang Jungkook lihat di usianya yang ke lima tahun adalah pembunuhan sang kakak"

Entah untuk yang ke berapa kali Taehyung terkejut, "Jungkook memiliki kakak?"

Sang dokter mengangguk. Menghentikan langkahnya hanya untuk memandang Taehyung. "Jungkook memiliki kakak yang selisih usianya 3 tahun. Seingatku mereka sangat akur. Bahkan Junghyun sering mengajak Jungkook bermain"

"La-lalu?"

"Seperti yang kubilang tadi, Jungkook melihat pembunuhan sang kakak saat dia pulang bermain"

Taehyung seketika bergidik. Membayangkan anak yang masih berusia lima tahun harus melihat hal seperti itu.

"Apa Jungkook juga melihat pembunuhnya?"

"Tentu saja. Jungkook sangat mengenal pembunuh kakaknya"

"Siapa?"

"Ibunya sendiri"

.

.

TBC

.

.

Nahhhhhhhhh

Horray akhirnya update. Maafkan kalo ngga sesuai ekspektasi. Maafkan kalo makin ngga jelas.

Sebenernya pengen update kemaren pas ultah Taehyung, tapi disini hujan dan seketika wifi ngajak ribut. Jadi yaaa, baru bisa post sekarang.