Light On My Darkness
Chapter 11
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
.
.
.
"Menjauhlah dari Taehyung," Jungkook menegang mendengarnya menyebut nama Taehyung. "Aku masih berbaik hati memperingatkanmu untuk menjauhi kekasihku." ucapnya.
"Ah, kau pasti Min Yoongi," gumam Jungkook tiba-tiba saat memorinya mengingat percakapan Taehyung dengan teman –siapapun itu namanya- yang didengarnya di rumah sakit. "Seseorang yang terobsesi pada Taehyungie-ku. Peringatan terakhirku untukmu juga, jangan berkhayal Taehyung milikmu. Itu menjijikkan." desisnya di kalimat terakhir.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menemani Taehyung berkunjung di pemakaman. Kau atau aku," Yoongi menyeringai tipis kemudian berbalik meninggalkan Jungkook.
To : Taehyungie
'Hyung aku pergi ke rumah ibuku. Mungkin menginap beberapa hari disana. Tidak perlu dicari'
From : Taehyungie
'Eh? Mendadak sekali. Baiklah'
.
.
.
Chapter 11
.
.
Tepat pukul tiga dini hari Jungkook bangun dari pingsannya. Sebenarnya pemuda itu sudah terbangun begitu mereka tiba di suatu tempat namun dengan cepat Yoongi memberinya obat bius yang membuat Jungkook kembali tak sadarkan diri.
Netra hitamnya masih menyesuaikan pandangannya yang mengabur dengan sekelilingnya saat ini. Tubuhnya lemas karena pengaruh obat bius yang digunakan Yoongi. Belum lagi rasa pusing yang dia rasakan akibat pukulan Yoongi tadi.
Perlahan namun pasti Jungkook berhasil menormalkan pandangannya. Disitulah dia sadar jika tangan dan kakinya diikat. Ruangan yang dia tempati cukup besar dan terkesan mewah walau gelap. Jungkook tak tau tempat apa ini.
Satu hal yang pasti, Min Yoongi menculiknya.
"Sialan." umpat Jungkook kesal.
Pikirannya buntu. Tubuhnya sudah mulai berkeringat. Sepersekian menit kemudian telinganya berdenging. Jungkook merasa ada yang berbisik padanya namun tak jelas apa yang didengarnya. Otaknya tanpa sadar membuat bayangan-bayangan kelam yang Jungkook sendiri tak mengerti.
Pemuda asli Busan itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha mengenyahkan suara-suara dan bayangan tadi. Jungkook berusaha mengembalikan kewarasannya yang mulai terkikis. Akan sangat berbahaya jika dia membiarkan dirinya kalah dengan segala halusinasinya.
"Sialan! Sialan! SIALAN!" Jungkook berteriak marah. Nafasnya memburu dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.
Jungkook nyaris kalah saat telinganya secara imajinatif mendengar suara Taehyung.
.
.
.
Taehyung tiba di kamar asramanya saat waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tigapuluh menit. Matanya memicing saat melihat seluruh lampu masih menyala. Bahkan tirai jendela mereka tidak tertutup.
"Jungkook-ah." panggil Taehyung.
Tidak ada sahutan. Taehyung kembali memanggil nama Jungkook. Pada panggilan ketiga barulah Taehyung ingat jika semalam Jungkook pergi ke rumahnya dan Taehyung sudah mengijinkan.
"Astaga, bodohnya aku," gumam Taehyung. "Bagaimana bisa aku lupa jika Jungkook pergi." lirihnya.
Taehyung tak mengerti perasaan apa yang dirasakannya hari ini. Yang jelas Taehyung merasa ada sesuatu yang salah disini. Dia merasa tidak seharusnya dia masih berada di kamar asramanya. Dia merasa tidak seharusnya Jungkook tidak ada bersamanya seperti sekarang.
Pemuda Daegu itu menghela nafas panjang untuk kembali memusatkan pikirannya. Dia mensugestikan diri jika ini hanya karena Taehyung belum terbiasa dengan keberadaan Jungkook yang tidak bersamanya.
"Sebaiknya aku segera mandi dan beristirahat," gumam Taehyung akhirnya.
Berusaha mengenyahkan segala prasangka adalah hal yang terbaik menurutnya. Jungkook juga perlu menghabiskan waktu bersama keluarganya, pikir Taehyung.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Jungkook masih terjaga hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore. Yoongi sama sekali belum menampakkan wajahnya hingga saat ini. Demi menjaga kewarasannya agar suara-suara itu tidak muncul, Jungkook berhitung kelipatan tujuh. Taehyung yang menyarankan.
'Dia akan membunuhmu!'
'Kau harus segera keluar!'
'Turuti saja. Jauhi Taehyung!'
'Bodoh sekali.'
Suara-suara itu kembali menghantui Jungkook. Membuatnya mengepalkan tangan kuat-kuat demi menahan emosi. Nafas Jungkook mulai memburu.
Suara pintu yang terbuka membuat kepalanya langsung menoleh ke asal suara. Tameng kewaspadaan mulai dibangun kuat-kuat. Matanya memicing saat melihat orang yang ditunggunya sedari tadi akhirnya muncul.
Min Yoongi mendatanginya dengan seringai tipis yang tersemat di bibir. Namun matanya memancarkan kebencian luar biasa pada Jungkook. Juga setitik kepuasan melihat Jungkook tak lagi berdaya.
Di depan Min Yoongi sekarang ada Jeon Jungkook yang membuat Kim Taehyung dipindahtugaskan tidak lagi merawatnya. Jeon Jungkook yang diinginkan orang itu. Teman sekaligus musuh Yoongi.
Yoongi menjilat bibir bawahnya yang mendadak kering begitu memikirkan reaksi orang itu jika mengetahui Yoongi berhasil mendapatkan Jungkook-nya. Juga ekspresi menggemaskan Taehyung saat tahu pasiennya ada di tangan Yoongi. Darahnya berdesir mengetahui ini akan menjadi hal yang luar biasa menyenangkan.
"Apa yang kau tertawakan, huh?" Jungkook berdesis.
"Sesuatu yang menyenangkan untukku, tentu saja." gumam Yoongi.
Mata Jungkook mengikuti langkah kaki Yoongi kemanapun pemuda itu melangkah. Termasuk saat akhirnya pemuda berkulit pucat berhenti di depannya. Mencengkeram dagunya dan menyentak untuk menatap sang penculik.
Mata keduanya saling beradu. Saling mengirimkan kebencian untuk masing-masing. Yoongi tersenyum remeh. Dalam hati sepenuhnya menertawakan kondisi Jungkook saat ini.
Muka tampan pemuda itu tampak lesu. Bibirnya pucat dengan kantung mata menghitam. Yoongi suka melihat Jungkook semengenaskan ini. Sebuah kebahagiaan khusus.
"Ah, kau pasti haus dan lapar, ya," ucap Yoongi sembari menyentak Jungkook." Aku punya beberapa minuman yang bagus untukmu." Yoongi berjalan menuju lemari es mini yang ada di sudut ruangan.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Jungkook.
"Cha, mari kita lihat apa yang bisa kuberikan padamu," mengabaikan Jungkook, Yoongi sibuk memilih.
"Brengsek." umpat Jungkook pelan. Rahangnya sudah mengetat karena amarah yang memuncak.
Yoongi kembali berjalan ke arah Jungkook sambil membawa sebotol air mineral. "Karena aku baik hati, jadi kuberikan kau air mineral. Taehyung pasti sering menyarankanmu untuk banyak mengonsumsi air mineral, kan."
"Jangan sebut nama Taehyung dengan mulut busukmu." Jungkook berucap datar.
Kembali mengabaikan ucapan Jungkook, Yoongi membuka tutup botolnya dan menyodorkan pada Jungkook. Jungkook hanya menatapnya datar.
"Ah, aku lupa kau tak punya tangan." ucap Yoongi.
Yoongi mencengkeram kedua pipi Jungkook. Membuka paksa mulut Jungkook dan menjejalkan minuman itu. Membuat yang lebih muda gelagapan. Jungkook terbatuk hebat setelahnya. Yoongi tersenyum puas.
"Aku harus mengurusmu dengan baik disini. Taehyung akan sedih kalau kau tidak mendapat makan dan minum dengan baik," ucap Yoongi.
Jungkook tidak bisa membalas ucapan Yoongi karena terbatuk hebat hingga terbungkuk. Kepalanya kembali pusing. Air tadi sempat masuk ke hidungnya. Sembari batuk-batuk, Jungkook memandang Yoongi tajam.
Sedangkan yang dipandangi hanya menyeringai tipis. Merasa bahagia bisa membuat Jungkook begini. Bisa dipastikan orang itu akan marah besar jika tahu apa yang sudah Yoongi lakukan pada Jungkook.
"Kau tidak lapar?" tanya Yoongi dengan suara datar. Tanpa ada emosi maupun intonasi di dalamnya.
Jungkook tidak menjawab. Akalnya masih berusaha mencegahnya agar tidak jatuh dalam perangkap yang dimainkan Yoongi. Jungkook merasa Yoongi sedang menggiringnya menuju sesuatu yang menyesatkan.
Jungkook hanya tidak mau menyesal lagi. Bersama Taehyung, Jungkook banyak belajar untuk mengontrol diri. Tapi Jungkook tidak belajar bagaimana tetap mengontrol diri di situasi terjepit seperti ini.
Dia tidak pernah belajar bagaimana harus mengendalikan diri saat bahaya di depan mata. Sedari dulu Jungkook hanya mengandalkan insting. Insting yang justru membuatnya menyesal dan terkadang dicap sebagai hewan atau monster.
Jika sekali ini Jungkook kembali kehilangan dirinya, maka dipastikan di masa depan tidak akan sama lagi. Akan sulit bagi penyembuhan Jungkook jika hari ini dia 'kalah'.
.
.
Taehyung terbangun dengan keringat yang mengalir deras. Baru saja Taehyung bermimpi Jungkook bertemu dengan Yoongi dan 'Mingyu'. Dalam mimpinya Jungkook seolah kehilangan dirinya. Sinar matanya kosong dan wajahnya luar biasa pucat.
Nafas perawat Daegu ini tersengal. Tenggorokannya tercekat dan kepalanya pusing. Taehyung tak tau apa arti dari mimpi yang dialaminya barusan. Yang jelas mendadak hatinya tidak tenang. Firasatnya akan sesuatu yang salah semakin kuat.
Taehyung berharap jika mimpinya hanya sebatas bunga tidur yang tidak memiliki arti apapun. Taehyung juga berharap firasatnya yang tidak enak ini tidak menandakan apapun.
.
.
.
Total sudah dua hari Taehyung tidak bersama Jungkook. Sejujurnya Taehyung sedikit cemas dengan jadwal Jungkook minum obat. Dia khawatir ibu Jungkook akan sedikit kesulitan untuk meminumkan obat itu pada Jungkook. Mengingat pihak rumah sakit jiwa tempat Jungkook dirawat saja kesulitan membuat pemuda itu menurut.
Taehyung mengernyit heran saat melihat sosok ibu Jungkook sudah duduk di ruangan perawat. Asyik mengobrol dengan perawat lain entah tentang apa. Senyum wanita itu merekah begitu netranya menangkap sosok Taehyung yang terlihat di ambang pintu.
"Selamat pagi, Taehyungie." sapa ibu Jungkook.
Taehyung balas tersenyum, "Selamat pagi juga, bibi." balasnya halus.
Taehyung meletakkan tasnya di loker perawat sebelum kemudian ikut bergabung dengan para perawat. Menimpali obrolan seperlunya.
"Oiya, Taehyung-ah, kemana Jungkook? Apa dia di ruangannya?" pertanyaan ibu Jungkook membuat Taehyung heran.
"Bukankah Jungkook pulang ke rumah bibi? Dua hari lalu dia mengirim pesan kalau dia pulang ke rumah."
Ibu Jungkook terdiam. Raut wajahnya mendadak berubah. Taehyung berani bertaruh di kepalanya mulai bermunculan pikiran-pikiran buruk tentang Jungkook. Dan Taehyung semakin bingung. Mau tak mau perasaan asing pun muncul.
"Jungkook tidak pernah ke rumah Taehyung-ah. Ponselnya bahkan sulit sekali dihubungi. Makanya aku datang kemari ingin bertemu Jungkook. Dia sama sekali tidak pulang ke rumah." suara wanita itu sedikit bergetar.
Giliran Taehyung yang terdiam. Jantungnya berdebum dengan debar yang menyakitkan. Taehyung benci hal seperti ini. Dia benci ketika harus mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya dia jaga dengan baik. Harusnya Taehyung tidak membiarkan Jungkook begitu saja.
Entah kenapa pikirannya mendadak berkelana ke seseorang yang berbahaya. Min Yoongi. Nama itu mendadak tercetus begitu saja oleh Taehyung. Segera ditepisnya itu sembari berharap Jungkook tidak bertemu dengan Yoongi.
Lalu, kemana Jungkook?
.
.
.
.
.
Taehyung sibuk berjalan sambil melihat kanan dan kiri. Matanya sesekali memicing demi memperjelas pandangannya. Raut wajahnya terlihat panik. Keringat mulai bercucuran di kening dan lehernya.
Dia sedang dalam usaha mencari Jungkook di sekitaran rumah sakit dan asramanya. Sedikit bodoh memang karena Jungkook jelas bukan anak kecil yang hilang karena tersesat. Sedikit munafik juga karena Taehyung selalu menghindari kemungkinan terburuk terjadi pada Jungkook padahal bisa saja itu adalah kenyataan.
Ibu Taehyung mengajarkan jika dia harus selalu berpikir positif karena itu adalah sugesti dalam setiap perjalanan hidup. Jika kita berpikir negative terus menerus maka hal itulah yang akan terjadi. Itu yang dipercaya Taehyung hingga saat ini.
Taehyung terus memerintahkan otaknya untuk berpikir positif, namun hati kecilnya berkata lain. Organ penting itu terus menerus meneriakkan jika Jungkook dalam bahaya bersama Yoongi. Jika ada kemungkinan besar Jungkook bertemu dengan Yoongi.
Langkah Taehyung semakin terseok. Entah sudah berapa lama dan berapa jauh dia berjalan hanya untuk mencari Jungkook. Namun sedikitpun tidak ada tanda-tanda keberadaan pemuda Busan itu. Taehyung juga sudah menelepon ponsel Jungkook berulang kali. Namun tidak ada jawaban.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Taehyung memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di taman yang cukup sepi. Tangannya kembali memencet nomor yang belakangan ini dihafalnya. Mencoba kembali peruntungannya untuk menghubungi Jungkook.
Sekitar tiga menit Taehyung menunggu dengan harap cemas. Di dering keenam teleponnya diangkat.
"Halo, Jungkook! Kau dimana?" tanya Taehyung langsung.
Seberang sana hening. Jungkook tidak memberi jawaban sedikitpun. Jungkook tidak bersuara sama sekali. Itu justru membuat Taehyung luar biasa takut.
"Ju-Jungkook," panggilnya gugup. Taehyung membasahi bibir bawahnya yang mendadak kering. "Jung …."
"Tae," Taehyung menegang. Suara ini tidak asing namun Taehyung tidak mengenalnya. Suaranya berat dan rendah. Yang jelas ini bukan suara Jungkook.
"Ka-kau siapa?! Dimana Jungkook?!" Taehyung menyentak walau dengan suara yang bergetar.
Bukannya jawaban yang diterima Taehyung, namun suara kekehan yang cukup menjawab pertanyaan Taehyung. Taehyung sangat mengenal suara yang membuatnya nyaris menyerah bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa.
"Kau mengenal suaraku, sayang?" tanya orang di seberang telepon.
Taehyung diam. Tubuhnya mendadak bergetar dan berkeringat dingin. Matanya tak lagi fokus. Lidah Taehyung kelu bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan Yoongi pun dia tak mampu.
Yeah, di seberang telepon sana ada Min Yoongi. Otak Taehyung mendadak macet begitu menyadari jika Jungkook benar-benar bersama Yoongi. Dan itu bukan sesuatu yang baik. Taehyung kali ini meyakini kata hatinya.
"Hyu-hyung," suara Taehyung tercekat. Nafasnya berat.
Yoongi sepertinya sangat mengetahui bagaimana cara membuat Taehyung frustrasi. Karena tepat setelah Taehyung mengucapkan kata pertamanya, Yoongi sudah memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Taehyung merasa jantungnya berdegup semakin kencang dan menyakitkan. Dia takut Yoongi melakukan sesuatu yang buruk pada Jungkook yang berakibat fatal bagi kejiwaan bahkan nyawa pemuda itu. Taehyung kembali merutuki dirinya yang lalai menjaga Jungkook.
"Semoga Yoongi hyung tidak berbuat yang tidak-tidak pada Jungkook." doanya sungguh-sungguh.
Taehyung terlalu takut dengan pemikirannya hingga tidak menyadari sepasang mata tajam memperhatikannya lekat.
.
.
.
.
.
Jungkook kembali membuka matanya saat Yoongi menyiramkan segelas air mineral ke atas kepalanya. Matanya memicing memandang penuh dengki pada sosok yang secara tak langsung menjadi rivalnya dalam memperebutkan Taehyung.
"Kau tau, Taehyung baru aja menghubungiku." ucap Yoongi
Mendengar kata Taehyung, mata Jungkook semakin menajam. Dari tatapannya Jungkook menjanjikan balasan yang setimpal jika sedikit saja Yoongi menyentuh Taehyung.
Min Yoongi tetaplah Min Yoongi. Dia justru semakin bersemangat membuat Jungkook frustrasi. Semakin Jungkook mengancam maka semakin Yoongi akan melakukannya. Dengan versinya sendiri.
"Kau tau, Taehyung sangat lemah. Aku bisa saja dengan mudah membuat Taehyung bertekuk lutut di depanku. Tunggu dan lihat saat aku menggores kulit mulusnya dengan 'si kecil' tepat di hadapanmu." pancing Yoongi.
Pancingan yang tepat. Karena Jungkook langsung bereaksi. Pemuda itu memberontak kuat. Jungkook berusaha keras melepaskan ikatan tangannya. Membiarkan tangannya memerah bahkan beberapa bagian mulai sedikit berdarah karena gesekan dengan tali.
Yoongi tertawa terbahak. Melihat Jungkook yang seperti ini adalah hal baru baginya. Dan ini luar biasa menyenangkan. Yoongi melangkah mendekati Jungkook.
"Bukankah aku sudah pernah memperingatimu untuk tidak mendekati Taehyung?" ucapnya sambil mencengkeram dagu Jungkook.
"Kau kira aku peduli?"
BUG!
Yoongi langsung melayangkan pukulan pada wajah tampan Jungkook. Kembali memegang dagu Jungkook dan memainkan wajahnya sebelum akhirnya kembali melayangkan pukulan di rahang sebelah kiri. Kembali memainkan wajah lalu memukul pelipis kanan Jungkook.
"Hah~ ternyata seperti ini rasanya memukulmu. Menarik namun kurang menyenangkan." gumam Yoongi kemudian melangkah meninggalkan Jungkook.
"Sialan!" desis Jungkook.
Jungkook kembali diliputi kecemasan tentang kondisi Taehyung. Dia sama sekali tidak memperdulikan tangan dan wajahnya yang terluka. Dia sama sekali tidak merasakan kesakitan yang menderanya.
Otak Jungkook mulai membuat skenario sendiri. Disana Jungkook melihat Taehyung dipukuli. Dia melihat Yoongi melakukan hal yang sama seperti yang Yoongi lakukan padanya. Jungkook mendengar teriakan Taehyung bersahutan dengan suara pukulan dan bantingan barang.
Bisikan-bisikan mulai silih berganti mengusik Jungkook. Mereka kembali. Setelah cukup lama mereka tidak mengusik Jungkook, namun sekarang mereka langsung datang begitu saja. Jungkook sama sekali tidak siap bertemu mereka.
'Kau lemah!'
'Sudah kubilang tinggalkan Taehyung maka kau akan aman.'
'Turuti saja.'
'Atau kau ingin Taehyung mengalami nasib sepertimu?'
Jungkook menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Terdengar gumaman yang meminta mereka untuk segera pergi dan berhenti mengusiknya. Sayangnya semakin Jungkook berusaha mengusir mereka maka semakin kuat mereka berdiam di kepalanya. Jungkook sekarang mendengar tawa mengejek yang luar biasa menyebalkan.
Tawa-tawa mereka seolah mengejek kondisinya. Jungkook bahkan merasakan tatapan sinis yang entah dari mana asalnya. Suara itu mengganggunya. Jungkook semakin panik. Telinganya berdengung seolah suara-suara mereka berasal dari seluruh penjuru. Silih berganti memutarinya.
Jungkook benci hal ini. Dia benci saat dia mulai merasa tak berdaya. Dan untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan tak wajar. Bayang-bayang masa lalunya kembali mengusik.
Jungkook semakin melihat dengan jelas bayangan dimana dia di-bully, bagaimana dia disiksa, bagaimana dia dilecehkan teman-temannya, dan bagaimana dia melihat ibunya melakukan siksaan berujung kematian kepada kakaknya. Semua itu semakin menguras kewarasan Jungkook.
Jungkook takut. Kondisinya terjepit. Dia terikat dan tak bisa melakukan apapun. Semua pertahanan diri yang berusaha dia bangun runtuh begitu saja.
Pemuda dua puluh tahun itu akhirnya berteriak. Kepalanya menunduk dan bergerak gelisah. Tangannya bergerak liar seakan berusaha melepas ikatan yang membelenggu. Kakinya pun bergerak tak karuan.
Teriakannya semakin nyaring. Gerakannya semakin brutal. Tangan Jungkook sudah berdarah karena gesekan kuat dari tali. Wajahnya pucat. Kepanikan Jungkook meningkat tajam.
Hingga akhirnya Jungkook pingsan.
Yoongi melihat semuanya. Dia sedari tadi mengamati dari ambang pintu. Wajahnya terlihat begitu menikmati penderitaan Jungkook. Seringai tipisnya merekah. Ternyata melihat Jungkook yang kumat seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada melibatkan diri secara langsung untuk memukuli Jungkook.
.
.
~~^Light On My Darkness^~~
.
.
Perawat manis pemilik nama lengkap Kim Taehyung ini sibuk mondar mandir di kamar asramanya. Bibirnya sibuk menggigiti ibu jarinya sebagai pelampiasan kegelisahan yang dia rasakan.
Otak Taehyung sibuk memikirkan segala kemungkinan dan mencari solusi untuk segera menemukan Jungkook serta membawa pemuda itu. Taehyung terlalu kalut. Dia tidak bisa memikirkan apapun selain Jungkook.
Untuk saat ini sang perawat memutuskan untuk tidak memberitahu ibu Jungkook terlebih dahulu. Wanita itu sedang menjalani pengobatan dan Taehyung tidak ingin menggagalkan usahanya. Lagipula dia belum menemukan keberadaan Jungkook.
Dalam hati Taehyung berjanji untuk segera memberitahu ibu Jungkook jika lokasi pemuda itu sudah ditemukan. Untuk saat ini biarlah Taehyung yang memikirkan semuanya. Sedikit banyak ini salahnya karena lalai menjaga dan merawat Jungkook.
Taehyung sempat terpikirkan untuk berkonsultasi dengan kepala rumah sakit dan dokter pribadi Jungkook. Namun pemikiran itu dia urungkan. Terlalu riskan. Taehyung sendiri tak yakin dengan apa yang akan dilakukan Min Yoongi jika tau Taehyung melibatkan banyak orang.
Dia memang belum mengetahui tujuan Yoongi melakukan hal ini namun sejauh yang Taehyung tahu, Yoongi tidak akan segan melakukan hal yang berbahaya jika ada yang ikut campur dalam urusannya. Ingat kejadian Minjae bukan? Temannya itu hampir saja meregang nyawa karena Yoongi.
Sial!
Mengingat kejadian Kim Minjae membuat Taehyung semakin dirundung ketakutan. Dia takut Yoongi akan melakukan hal yang sama pada Jungkook. Taehyung takut terlambat membawa Jungkook jauh dari jangkauan Yoongi.
Tidak mau menunggu lagi, Taehyung mengambil ponselnya dan mencoba peruntungannya untuk menelepon Jungkook. Taehyung menunggu dengan harap-harap cemas. Bahkan dia sampai menahan nafas selama beberapa detik.
Helaan nafas kecewa berhembus kesekian kalinya saat operator yang berbicara. Yoongi tidak lagi mengangkat panggilan masuk di ponsel Jungkook. Taehyung hampir menangis di panggilan ke-lima belas. Yoongi tak kunjung mengangkat teleponnya.
Jangan tanyakan kenapa Taehyung tidak menelepon Yoongi secara langsung. Dia tidak memiliki nomor ponsel Yoongi. Tidak berniat memiliki sebenarnya. Setidaknya dulu sebelum Yoongi melakukan hal gila seperti ini.
"Sialan!" Taehyung mengumpat kesal. Dia menyerah mencoba menghubungi Yoongi.
Sayangnya semakin Taehyung mencoba menyerah dan mengabaikan Yoongi, hatinya semakin memberontak. Memaksa Taehyung untuk tetap berjuang mencari Jungkook. Janji yang dia buat sendiri membuat Taehyung semakin ingin segera membawa Jungkook jauh dari Taehyung.
Atas dasar itu Taehyung kembali mencoba menghubungi Yoongi. Berkali-kali panggilannya tidak diangkat bahkan dimatikan di dering pertama oleh Yoongi. Namun Taehyung sudah bertekad. Dia harus segera mengetahui keberadaan Jungkook.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Hari kedua sejak Jungkook tidak diketahui keberadaannya. Hari kedua sejak Taehyung mengusahakan segala upaya untuk mencari Jungkook. Hari kedua sejak kecemasan-kecemasan mulai membayangi Taehyung.
Lingkaran hitam di bawah mata Taehyung mulai menunjukkan diri. Dia tidak bisa tidur nyenyak sejak mengetahui kemungkinan Jungkook hilang adalah ulah Yoongi. Tiap matanya terpejam yang terbayang oleh Taehyung adalah bagaimana merananya Jungkook.
Dia khawatir dengan kejiwaan pemuda yang sudah dirawatnya berbulan-bulan itu. Jungkook masih belum bisa dikatakan stabil. Kondisinya terkadang masih naik-turun. Terkadang dia bisa menguasai dirinya namun terkadang dirinya kehilangan kendali.
Pemikiran terakhir membuat Taehyung gemetar. Sudah dua hari Jungkook tidak meminum obatnya. Sudah dua hari pula Jungkook melewatkan jadwal pemeriksaan terapinya. Entah bagaimana kondisi anak itu sekarang. Taehyung tidak berani berharap terlalu tinggi untuk yang satu ini.
"Sekali lagi," gumamnya saat sedang istirahat di ruangan perawat.
Taehyung kembali mencoba menghubungi ponsel Jungkook. Sekali dua kali tidak dijawab. Dan dipanggilan keempat Yoongi mengangkatnya. Jantung Taehyung bergemuruh hanya karena mendengar dehaman Min Yoongi. Luar biasa sekali.
"Hm."
"Hyu-hyung," panggil Taehyung gugup. Sialan, Taehyung tidak bisa menguasai kegugupannya.
Nyawa pasiennya dipertaruhkan disini. Taehyung tak suka perasaan melilit ini.
"Kuakui kau sangat gigih, Tae," Yoongi berucap santai. "Tapi aku tidak suka kau segigih ini demi orang lain." nadanya masih sama namun dengan penekanan yang luar biasa dingin.
"Aku hanya memastikan Jungkook baik-baik saja, hyung," Taehyung berhasil memegang kendali dirinya dan menguasai kegugupannya. "Kumohon lepaskan Jungkook. Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Taehyung berani.
Suara kekehan di telinganya membuat Taehyung tanpa sadar meremat pinggiran meja. Taehyung benci saat Yoongi mulai mengeluarkan tawanya. Terkesan dingin dan membahayakan.
"Kau tau, Tae? Yang kuinginkan sudah kudapatkan. Ah, tidak. Sedikit lagi kudapatkan." setelah mengatakan hal itu Yoongi langsung menutup sambungan teleponnya.
"Sial!" Taehyung mengumpat saat mengetahui ternyata Yoongi mematikan ponselnya.
Kepalanya pusing. Taehyung tidak bisa berpikir apapun lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar sebentar. Segelas kopi dingin mungkin bisa membantu mendinginkan kepalanya dan membuatnya rileks.
Langkah Taehyung terasa begitu berat. Efek gelisah dan kurang tidur membuat kepalanya terasa pening. Entahlah.
Belum selesai urusan Yoongi dan Jungkook, kesabaran Taehyung kembali diuji.
Dua meter di depannya sudah berdiri sesosok manusia yang membuat Jungkook selalu marah saat melihatnya. Seseorang yang seharusnya membantu terapi psikologis bagi Jungkook namun kehadirannya selalu membawa aura buruk hingga Jungkook merasa sangat tidak nyaman. Taehyung juga.
Kim Mingyu sudah berdiri dengan tenang di depannya. Tepat di depan pintu kedai yang akan dimasuki Taehyung. Mau tak mau Taehyung kembali melangkah mendatanginya karena tidak mungkin dia berbalik. Khawatir Mingyu tersinggung.
Anehnya Mingyu malah sedikit melipir, memberi Taehyung jalan untuk bisa masuk ke kedai. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya mengekori Taehyung. Mengikuti seperti seorang stalker jarak dekat.
Taehyung tentu saja heran, sekaligus risih sebenarnya. Dia merasa terganggu namun tak ingin menegur. Dia ingin mengetahui apa yang Mingyu inginkan darinya untuk saat ini.
Mingyu akhirnya mendudukkan dirinya tepat di kursi depan Taehyung. Raut wajahnya datar dengan mata yang menghujam langsung ke wajah Taehyung. Tangannya dilipat di atas meja. Menunggu Taehyung selesai menyesap kopi dinginnya.
"Kemana Jungkook?" tanyanya tanpa basa-basi. Urusannya hanya dengan Jungkook. Dia tak ada urusan sedikitpun dengan perawat Jungkook ini.
"Kenapa kau menanyakannya?" tanya Taehyung balik.
"Jawab saja."
"Jungkook di asrama," jawab Taehyung. Tangannya berkeringat.
Mingyu berdecak, "Ck! Mencoba membohongiku, eh? Jungkook mustahil sekali mau dipisahkan darimu. Kemanapun kau pergi, Jungkook pasti ikut." penekanan dalam suaranya membuat Taehyung jengah.
"Aku perawatnya bukan ibunya. Jungkook tidak harus dua puluh jam bersamaku. Dia sedang istirahat." jawab Taehyung.
Mingyu menyeringai. Dan Taehyung membeku. Sisi hatinya menjerit jika Mingyu hampir sama dengan Yoongi. Otaknya pun memerintahkan Taehyung untuk segera pergi dari tempat ini. Apapun alasannya asalkan dia jauh dari Mingyu.
"Aku tau kau berbohong Kim Taehyung-sshi," ucap Mingyu sesaat setelah Taehyung berdiri dengan penekanan pada namanya.
Taehyung memandang Mingyu lekat. Berusaha membaca apa yang sedang mampir di pikiran pria di depannya. Termasuk berusaha mencari tahu maksud Mingyu mengatakan hal itu.
"Aku tahu kau berbohong," ucap Mingyu lagi. "Jadi kembali duduk dan katakan yang sebenarnya terdengar mudah, bukan." Taehyung paham jika dari nada bicaranya saja Mingyu sudah berusaha mengintimidasinya.
"Maaf, aku tak mengerti apa yang kau katakan baru saja, Tuan Kim Mingyu. Permisi." ucap Taehyung kemudian berjalan meninggalkan Mingyu.
Suara decakan kembali terdengar dari mulut Mingyu. Disertai dengusan dan aura hitam yang menguar. Semenit kemudian pria itu tertawa. Bertepuk tangan pelan sebelum akhirnya menyeringai.
"Mau bermain denganku juga rupanya, Kim Taehyung?" seringainya semakin lebar.
"Ah~ bagaimana rasanya jika sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali melakukan dua tujuan tercapai." gumamnya senang.
Tak jauh dari Mingyu dan Taehyung berbincang tadi, Yoongi melihat mereka berdua. Dia sengaja mengikuti Taehyung sejak pemuda itu keluar dari rumah sakit. Niatnya ingin mengejutkan Taehyung namun dia harus melihat sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.
"Ehm, menarik. Sepertinya akan menyenangkan jika kau juga ikut dalam permainanku. Bukan begitu, partner?" gumam Yoongi.
.
.
Yoongi kembali mengikuti Taehyung dari belakang. Langkahnya santai. Tidak perduli jika Taehyung akan mengetahuinya. Bahkan Yoongi lebih suka Taehyung tahu jika dia menguntit perawat manisnya itu.
Dia suka melihat ekspresi takut Taehyung. Dia suka melihat mata Taehyung yang membulat saat melihatnya. Dia menikmati semua getaran tubuh Taehyung yang gugup melihatnya. Dia menikmati semuanya.
Dan Yoongi akan lakukan apapun demi melihat itu semua.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Kim Taehyung sedang gelisah.
Baru saja ibu Jungkook meneleponnya. Menanyakan kabar putra bungsunya sekaligus meminta ijin untuk bertemu. Well, mengingat sudah cukup lama sejak ibu dan anak itu tidak bertemu.
Wajar saja jika ibu Jungkook merindukan putranya. Wajar juga jika beliau ingin bertemu. Bahkan Taehyung bisa memastikan jika wanita itu tidak perlu meminta ijin padanya. Ibu Jungkook bisa dengan leluasa menemui putranya dan bertemu serta mengobrol bersama.
Andai saja mereka sedang dalam suasana normal dimana Jungkook bersamanya. Sayangnya untuk saat ini Taehyung saja ragu tentang keadaan Jungkook.
Sudah sangat jelas jika Jungkook sedang tidak bersamanya. Kemungkinan besar Jungkook sedang bersama Min Yoongi. Taehyung tidak mungkin menceritakan hal itu kepada ibu Jungkook. Khawatir jika kabar buruk dari anaknya membuat kondisi wanita itu kembali tidak stabil.
Taehyung tidak bisa ambil resiko itu.
Akhirnya, Taehyung lebih memilih berkonsultasi dengan dokter yang menangani Jungkook. Dia menceritakan semua yang dia tau tentang keberadaan Jungkook serta ketakutannya akan kondisi pria itu pada sang dokter.
Reaksi pertamanya sudah mampu Taehyung perkirakan. Ucapan gusar dari sang dokter tentang betapa lalainya Taehyung hingga membiarkan Jungkook sendirian di asramanya.
"Kau sudah hubungi polisi?" tanya sang dokter.
"Haruskah?"
"Oh God! Kim Taehyung jangan bercanda. Kita harus segera menghubungi polisi. Sudah dua hari Jungkook tidak diketahui keberadaannya. Ditambah lagi kemungkinan besar dia berada di tangan manusia sadis dengan jiwa psikopat di tubuhnya. Apa yang mau kau harapkan, nak?" ucapan dokter itu menohok Taehyung.
"Aku … Aku berpikir jika kita melapor polisi maka Jungkook akan semakin terancam. Itu sebabnya aku belum menghubungi polisi, Dok," Taehyung menjilat bibirnya yang mendadak kering. "Min Yoongi bukan orang yang bisa dianggap remeh. Dia selalu menepati perkataannya. Jika dia bilang dia akan menyakiti Jungkook, maka dia akan lakukan."
"Lalu apa yang mau kau lakukan? Tetap berusaha bernegosiasi dengan orang itu? Apa ada jaminan jika Min Yoongi tidak akan menyakiti Jungkook?"
Rentetan pertanyaan dokter itu membuat Taehyung diam. Dia tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya memikirkan kondisi Jungkook yang bisa saja drop.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, dok?" lirih Taehyung. "Sejujurnya aku sangat takut,"
Dokter itu terdiam sambil memandangi Taehyung. "Kita lapor polisi dan kita minta polisi menyelidiki secara rahasia. Kau tetap dengan usahamu mencari Jungkook. Buat Min Yoongi percaya jika tidak ada polisi yang terlibat."
Giliran Taehyung yang terdiam. Dia memiliki firasat yang buruk tentang ini.
.
.
.
Yoongi memasuki kafe yang menjadi tempat pertemuan dia dengan partnernya selama ini. Sedikit banyak Yoongi bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh orang ini. Tapi sepertinya Yoongi memilih berpura-pura tidak mengetahui maksud pertemuan ini.
"Aku bertemu Kim Taehyung tadi. Sepertinya dia sedang kalut," buka orang di depannya.
"Aku tau. Aku mengikutinya dari tadi." ucap Yoongi kalem.
Sosok di depannya menyeringai, "Kalau begitu kau tau apa yang membuat Taehyung kalut, kan?"
"Tidak. Aku mengikutinya tapi tidak tahu apa yang membuatnya kalut begitu." gumam Yoongi.
"Eiy, kita sudah kenal selama beberapa tahun, Min. Kau tidak bisa membohongiku. Aku yakin kau pasti mengetahuinya, bukan. Mustahil Min Yoongi tidak mengetahui sedangkan kau yang melakukannya."
"Apa maksudmu sebenarnya?"
"Kau yang membuat Jungkook menghilang, kan?" tembaknya langsung.
Yoongi diam dengan raut wajah yang datar. Matanya memindai sosok di depannya. Menilai apa sekarang dia dalam posisi mana, kawan atau lawan.
"Memangnya kenapa jika aku yang membuat Jungkook hilang?" tanya Yoongi tenang.
Sosok itu tertawa keras, "Kau sudah melampauiku rupanya," dia bertepuk tangan. "Ingat apa yang pernah kukatakan bukan? Jangan sentuh Jungkook jika kau tidak ingin Taehyung-mu kusentuh." ancamnya.
Yoongi mengedikkan matanya, "Akan kuusahakan. Tapi aku tak bisa berjanji."
Tangan orang di depannya mengepal. Tampak berusaha menahan getaran amarah yang siap membumbung jika Yoongi salah langkah.
"Aku pergi." ucap Yoongi kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan orang itu.
.
.
Yoongi memasuki ruangan dimana Jungkook berada dua hari ini. Pemuda tampan itu tampak mengenaskan dari pertama kali Yoongi membawanya kemari. Sedikit mengherankan bagi Yoongi mengingat tubuh Jungkook itu termasuk kuat.
"Ya!" Yoongi menyentak dagu Jungkook. Membuat Jungkook terbangun dari tidurnya.
Jungkook hanya memandang tajam ke Yoongi. Mengabaikan sosok yang bisa saja membunuhnya kapanpun dia mau itu. Kondisi Jungkook yang lemah membuat Yoongi mendengus.
"Lemah sekali kau ini. Bagaimana kau bisa melindungi Taehyung," cibir Yoongi.
Jungkook menggelap. Tapi sekali lagi tidak ada yang bisa dia lakukan. Tubuhnya lemas. Makanan dan minuman yang Yoongi suapkan secara paksa sama sekali tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jungkook tidak makan atau minum sama sekali.
Wajahnya sudah pucat dengan kantung mata hitam yang mengerikan. Belum lagi luka-luka yang ada di tubuhnya akibat gesekan tali maupun setrum listrik yang kadang Yoongi mainkan di tubuhnya. Jungkook sudah lelah. Namun Yoongi enggan melepasnya. Entah apa maunya.
"Kau tidak mau makan, ya? Apa aku harus membawa Taehyung kemari agar kau mau makan?" tanya Yoongi.
"Jangan … sentuh … sedikitpun."
"Eiy, kau harus makan. Tidak akan seru lagi jika kau mati duluan. Permainan sebenarnya sebentar lagi akan dimulai. Jadi aku harus menyiapkanmu dengan baik. Kau akan bertemu Taehyung dan dia nanti. Tenang saja."
Jungkook mengabaikan omongan penuh omong kosong dari Yoongi. Tidak ingin menanggapi apapun walau dirinya panas saat mendengar nama Taehyung diucapkan oleh mulut Yoongi.
"Sebentar lagi. Tenang saja." itu ucapan Yoongi sebelum pergi meninggalkan Jungkook. Tidak peduli bagaimana Jungkook memproses ucapannya nanti.
"Kau akan membayarnya, Min Yoongi." gumam Jungkook bahaya.
.
.
.
TBC
