[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]

[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]

.

.

VKOOK

.

Matahari musim panas membakar seluruh permukaan kulit pria itu tanpa henti. Mengalirkan dengan paksa bulir-bulir keringat di dahi Jungkook. Jeon Jungkook hanya sedang duduk di sebuah taman dekat dengan agensinya berada.

Duduk sendirian di kursi taman berwarna cokelat ini. Dengan telinga yang di sumbat earphone kesayangannya. Dia tengah memejamkan kedua matanya—menyembunyikan manik cokelat terang kepunyaannya yang indah.

Setelah selesai dengan latihan rutinnya setiap minggu, dia izin untuk beristirahat disini. Mencari ketenangan yang sejujurnya tidak terlalu didapat. Kantor agensinya berada di dekat jalan dan taman ini tepat di sampingnya.

Suara bising berbagai macam kendaraan mampu terdengar oleh telinganya. Sejujurnya dia sangat ingin berlibur saat ini. Tapi, jadwal sialan itu tidak dapat di ubah. Dia tidak punya wewenang untuk sekedar menghentikan semua jadwal konser itu dan memilih untuk berlibur di pulau yang jauh kemudian tidak kembali.

Sejenak dia berpikir kenapa dirinya mau menjadi idol yang sangat tidak punya waktu untuk sekedar berjalan-jalan. Tapi pikiran-pikiran itu terpecah kala ponsel di saku jaketnya bergetar. Jungkook segera mengangkatnya.

"Hallo?" jawabnya.

"Ah baiklah, iya hyung aku segera kesana"

Jungkook berdiri, merapikan kembali bajunya dan mulai berjalan masuk kearah gedung berwarna merah bata itu. Barusan, Namjoon—leader Bangtan Boys itu menelfonnya. Menyuruh Jungkook untuk makan bersama dengan yang lain di lantai enam gedung ini.

.

Latihan yang entah keberapa kalinya untuk hari ini akhirnya selesai. Manejer Bangtan dengan baik hati mengantarkan anak-anak asuhnya untuk pulang ke dorm. Ini bahkan baru jam tujuh malam tapi semuanya terlihat kelelahan.

Selama di perjalanan, Jungkook terus melihat keluar jendela. Melihat bagaimana indahnya pemandangan yang biasa terdapat di wilayah perkotaan. Gedung-gedung pencakar langit, serta lampu-lampu kendaraan yang membuat seisi kota semakin terang.

Sudah dua hari Taehyung belum menghubunginya. Jungkook mengigit bibir, berpikir kembali untuk apa memangnya Taehyung menghubunginya? Pacaran saja tidak. Itu kan hanya di media, aslinya tidak sama sekali.

Mobil van itupun berhenti. Mereka semua mengucapkan terima kasih karena telah di antar dan satu persatu mulai memasuki dorm.

Drrrttttt

Jungkook baru selesai membersihkan diri saat mendengar adanya getaran yang berasal dari ponselnya itu. Dia segera membuka pesan tersebut dan membacanya.

'tiga puluh menit lagi aku sampai dorm-mu, bersiaplah'

Ternyata pesan dari Taehyung. Jantung Jungkook berdebar dan dia tersenyum senang. Entah dari mana taunya Taehyung dengan jadwal harian Jungkook. Tapi, Taehyung mau mengajak kemana? Ini bahkan sudah mau jam sembilan malam.

Jungkook menggeleng tidak peduli. Dia lalu membuka lemari pakaiannya dan mulai memilih baju yang pas. Setelah semuanya beres dia pergi ke ruang tengah dan disana terdapat Seokjin serta Namjoon yang tengah melihat film.

"Mau kemana Jung?" tanya Namjoon saat matanya menangkap Jungkook yang berjalan mendekat.

"Mau jalan sama Tae hyung, boleh?"

Jungkook melihat kedua hyungnya itu dengan pandangan memohon. Seokjin hanya tertawa dan mengibas tangannya pelan.

"Yasudah jalan saja, kabari kalau tidak pulang ya?"

Jungkook hanya mengangguk semangat dan tak lama ponselnya berdering. Taehyung menelfon dan memberitau bahwa dia sudah sampai di depan gerbang.

"Aku pergi ya hyung, selamat malam"

.

Setelah menutup gerbang berwarna hitam itu Jungkook dapat melihat sebuah mobil yang baru pertama kali dilihatnya. Dia berhenti takut jika itu bukan Taehyung. Bagaimana kalau itu ternyata mobil sasaeng fansnya? Atau mobil wartawan?

Tapi kemudian klakson mobil itu berbunyi. Jungkook hanya tersenyum malu dan mulai berjalan untuk mendekat.

"Hehe maaf ya kukira siapa" Jungkook berkata sesaat badannya perlahan memasuki mobil itu.

Disana Taehyung dengan pakaian yang sangat santai—hanya menggunakan kaos hitam polos tengah menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Jungkook hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan tersenyum malu.

"Bodoh" ucap Taehyung lalu mulai menjalankan mobil suv berwarna hitam itu.

Jungkook mendengus, "hyung baru sampai?" tanyanya sambil memecah keheningan.

"Tadi siang" jawab Taehyung singkat.

Jungkook mendelik keras, terheran dengan jawaban pria di sampingnya ini. Dia yang mengajaknya pergi, tapi kenapa malah diam saja? di tambah saat Jungkook berusaha untuk mencairkan suasana orang ini malah menjawab dengan singkat.

"Tidak asik! Kenapa sih eh paman? Sedang pms?"

Taehyung menoleh sekilas. Sejujurnya dia pun tidak mau menjawab sesingkat itu. Tapi entah kenapa ucapan ayahnya terus saja berputar di otaknya. Saat sampai di korea tadi, dia langsung berpikiran untuk bertemu dengan Jungkook tapi setelah meminta jadwal Jungkook kepada Hoseok ternyata pria imut itu tengah latihan.

Makanya dia menundanya, dan memilih untuk membereskan dokumen-dokumen yang nantinya akan di bawa ke London. Taehyung sudah membuat keputusan setelah berpikir dengan kepala dingin di malam itu.

"Masalah kantor, biasa"

Kemudian Taehyung tersenyum sebentar dan mulai fokus menyetir. Jungkook mengangguk imut. Dia lalu bertanya kembali "memangnya kita mau kemana?" karena Jungkook melihat sekarang mereka tengah memasuki jalanan bebas hambatan—alias jalan tol.

"Tidak tau, mungkin ketempat yang belum pernah di kunjungi?" Taehyung menjawab cepat.

Jungkook kemudian berteriak senang, Taehyung yang berada di sebelahnya sampai terkaget dengan teriakan yang spontan itu. "ya tuhan! Ini seperti di film-film. Late night drives bersama kekasih! Hyung tau kan?"

Sementara Taehyung hanya tertawa pelan. Seketika Jungkook terpana mendengarnya. Suaranya sangat khas, lengkungan bibir itu sangat sempurna. Jungkook seratus persen sangat memuja Taehyung. "Yah, katakanlah seperti itu"

Mereka berada di dalam mobil lebih dari tiga jam. Tertawa, bernyanyi dan saling bercerita satu sama lain. Taehyung sengaja membuka kaca jendela mobilnya dan membiarkan angin malam yang sejuk itu masuk.

Jungkook merasa hidupnya sempurna. Ini adalah salah satu 'goals' nya jika sudah mempunyai pasangan. Berkendara tanpa tujuan—tertawa bersama, lalu bernyanyi seperti tidak ada hari esok. Lantunan lagu yang berasal dari radio itu menemani malam mereka.

And if you like midnight driving with the windows down

And if you like going places we can't even pronounce

Jungkook tersenyum saat menyanyikan bait lagu itu yang menurutnya sangat pas dengan apa yang sedang mereka lakukan. Taehyung menoleh dan mengelus pelan pipi putih itu dengan tangan kirinya. Sementara yang dielus hanya mampu terpejam menikmati bagaimana permukaan tangan besar itu bersentuhan dengan kulitnya.

.

Mobil itu berhenti di sebuah lapangan luas yang ditumbuhi oleh rumput hijau sebatas mata kaki. Taehyung membuka jendela yang berada di atas kepalanya. Lalu dia menyuruh Jungkook untuk berpindah tempat ke belakang.

Di baris kedua, ternyata Taehyung melipat semua kursi itu. Dia lalu melapisi lantai kabin mobil dengan selimut tebal yang sudah di persiapkan. Bantal-bantal berisikan bulu angsa yang lembut itu di taruh di atasnya.

Kemudian Jungkook masuk dan terkagum. Demi tuhan ini sangat romantis! Dia tidak menyangka Taehyung akan melakukan ini padanya.

"Ya ampun hyung, kamu tau sekali apa yang aku suka"

Akhirnya mereka berdua merebahkan diri. Taehyung berada di samping Jungkook yang tengah melihat ke langit. Dia pun mengikuti. Hening dan hanya terdengar suara jangkrik di kejauhan. "hyung, kenapa kamu melakukan ini?"

Taehyung menoleh "kenapa tidak suka?" jawabnya. Jungkook menggeleng pelan dan membalikan badan. Menjadi menghadap Taehyung dan menatap wajah itu, Taehyung ternyata mempunyai rahang yang tegas pikir Jungkook.

"Aku suka , hanya saja bukankah kita tidak memiliki hubungan?"

Selama beberapa detik pertanyaan itu tidak di balas. Jungkook berteriak dalam hati kenapa paman idiot ini tidak mau membalas pertanyaannya. Apa nanti dia marah?

Dengan gerakan cepat Taehyung membalikan badannya dan mata mereka akhirnya bertemu. Iris milik Jungkook melebar kala melihat jarak wajah Taehyung yang terlalu dekat dengannya. Perlahan Jungkook dapat merasakan jemari dingin itu mulai mengelus pipinya.

"Bisakah kita melupakannya sesaat?"

Detik selanjutnya Taehyung menarik Jungkook kedalam pelukannya. Jungkook merasa ini adalah perasaan paling nyaman yang pernah dia rasakan. Jungkook pun merasa aman berada di dalam rengkuhan Taehyung.

"Hyung?" panggil Jungkook pelan. Taehyung hanya mengumam tapi semakin mengeratkan pelukannya.

"Tidak hehe,hanya saja ini sangat nyaman"

Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari tapi kedua manusia ini belum lah tertidur. Jungkook sekarang malah menggunakan lengan Taehyung sebagai bantalnya. Mereka hanya mendengarkan lagu dengan volume kecil dari radio itu.

Menikmati kesunyian ini dengan perasaan nyaman.

"Minggu depan tur grup kami akan mulai kembali"

Jungkook kembali memecah keheningan.

"Pasti sangat melelahkan. Tapi hyung, kalau punya waktu bisakah menonton konser kami?" pinta Jungkook.

Taehyung tidak menjawab, dia hanya mengelus pelan surai cokelat Jungkook.

"Ayolaaah"

"Kalau tidak sibuk ya"

Jungkook cemberut. Sepertinya dia semakin anti dengan kata sibuk. "jangan memajukan bibir seperti itu" Taehyung tertawa lalu menarik pelan bibir merah itu dengan tangannya. "yak! Sakit hyung"

Tawa Taehyung kembali terdengar. Kemudian kejadian setelahnya sangatlah cepat. Bibir itu di kecup oleh pria yang sering ia panggil paman.

Taehyung mengecup beberapa kali hingga akhirnya kepala itu di tahan oleh tangan Jungkook. Kemudian yang terdengar adalah suara Taehyung yang mengerang pelan karena bibir bawahnya di gigit oleh Jungkook.

Jungkook tersenyum puas dalam ciuman itu—sukses membuat Taehyung kesakitan karena gigitannya. Tapi, dia merasa bahwa lumatan itu semakin lama semakin liar. Sesuatu dalam dirinya pun mulai meminta lebih.

Kedua tangan pria bermarga Kim itu sudah tidak tinggal diam. Dirinya sudah di kuasai oleh birahi yang terus memuncak. Jeon Jungkook adalah sebuah kenikmataan yang seumur hidup baru dia dapatkan. Setiap inchi tubuhnya adalah kesempurnaan.

Di malam itu keduanya sejenak melupakan semuanya. Melepas satu persatu penghalang dan mulai mencari kenikmatan di depan mata.

.

.

TBC

MAAF LAMAA UPDATE

Trs update malah pendek yah?

Secepatnya bkl ku lanjut

Tkhs dah review babes.