[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]
[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]
.
.
VKOOK
.
Hembusan angin pagi yang menyegarkan itu masuk melalui celah-celah jendela. Di dalam mobil terdapat dua pasang manusia yang masih terlelap dengan selimut yang menyelimuti hingga batas leher. Kim Taehyung membuka matanya terlebih dahulu.
Merasakan kulit miliknya yang bersentuhan dengan kulit halus kepunyaan Jungkook. Dia merapikan helaian rambut itu dengan sebelah tangannya. Sejenak teringat tentang kejadian semalam. Dimana mereka berdua mencari kehangatan hingga mendapat surga dunia.
Taehyung memakai kembali kaosnya dan mengambil sebuah jaket—karena merasa udara disini hampir membuatnya beku. Pergerakannya ternyata membuat pemuda yang masih tertidur itu bangun. Erangan halus terdengar membuat Taehyung menghentikan kegiatannya memakai jaket.
"Apa sakit?" tanyanya sambil membantu Jungkook untuk duduk.
"Sangat, seperti di belah dua hyung shhhh"
Kemudian Taehyung memakaikan kembali pakaian Jungkook. Mengabaikan bagaimana tubuh polos itu—yang sekarang terdapat banyak hickey buatannya—terlihat menggoda. Taehyung meneguk paksa salivanya, ini bahkan masih pagi dan dia tengah kesulitan mengontrol hormon 'pria'nya.
"Hei hei, apa-apaan dengan tatapan mesummu itu!" Jungkook mencubit pelan hidung mancung Taehyung. Mencibir dan kemudian mengelus bagian 'bawahnya' yang masih sakit.
Jungkook tidak habis pikir ternyata sex pertamanya adalah dengan Taehyung. Pria yang termasuk orang baru di dalam hidupnya. Jungkook pun sebenarnya tidak terlalu peduli dengan siapa dia berhubungan sex, asal dia good looking dan tidak bau, it's okay.
Tapi, semalam adalah sesuatu yang baru. For God's sake Kim Taehyung terlihat sangat menggoda. Saat dia dengan wangi khasnya itu mulai mengecup setiap inchi bagian tubuhnya, dan Jungkook yang terus menerus mengerang nikmat memanggil nama yang lebih tua dengan suara seraknya. Jungkook tidak mampu melupakannya.
Semuanya terasa sangat memabukkan. Dan dia telah candu dengan kenikmatan yang Taehyung berikan. Jungkook menginginkannya lagi.
"Kamu semalam sangat menggairahkan" ucap Taehyung dengan suara rendah. Badannya ternyata telah merapat dan membuat pipi Jungkook memerah. Apa mereka akan melakukannya lagi?
"U—uh benarkah?"
Taehyung gemas, melihat Jungkook yang gugup adalah kelemahannya. Dia ingin sekali membawa Jungkook kemanapun dia pergi dan tak mengizinkan siapapun untuk melihat bagaimana wajah itu saat dilanda nervous luar biasa.
"Aigo, imutnya" tangan itu kemudian mengacak pelan rambut Jungkook. Sementara Jungkook hanya bisa tersenyum lebar, berharap bahwa pipinya tidak terlalu merona akibat perlakuan manis Taehyung.
"Ish imut apanya! Hyung aku lapar"
"Baik, pindah ke kedepan. Kita akan pergi dari sini"
Mobil itu menyala dan mereka meninggalkan satu kenangan manis di tempat itu. Berharap suatu saat nanti mereka akan kembali dan menikmati indahnya bernonstalgia bersama.
.
Jungkook memutuskan memesan satu buah waffle dengan keju di atasnya, dia makan dengan rakus. Sementara Taehyung hanya memesan satu buah roti isi sayur dan segelas kopi.
Mereka makan dengan nikmat. Walaupun Jungkook masih tidak bisa berjalan dengan benar—dan itu membuat Taehyung menjadi bersalah. Dia akhirnya menghentikan mobil itu di sebuah apotik dua puluh empat jam untuk membeli obat.
Memaksa Jungkook untuk segera memakainya saat pulang ke dorm nanti. Terus terang Taehyung tidak terlalu menikmati acara sarapan bersama ini karena fans Jungkook berada di mana-mana. Dan dia takut jika haters itu akan semakin mencaci maki pria ini.
Terlebih ketika melihat Jungkook yang kesulitan berjalan, mereka pasti dapat menyimpulkan dengan cepat apa yang sudah terjadi. Dengan kemauan sendiri Taehyung menawarkan untuk menggendong Jungkook sampai masuk ke dalam mobil.
Sampailah mereka berdua di dorm Bangtan. Sekarang sudah pukul sebelas siang. "hyung mau masuk tidak?" kemudian Taehyung hanya mengangguk dan mulai menggendong Jungkook lagi. Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Jimin yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Eh, Jungkook kau oke?"
Jungkook hanya nyegir lebar. Dia lalu meminta Taehyung untuk mengantarkannya ke kamar. Jungkook ingin segera mandi dan isitrahat di tempat tidurnya itu, maka Taehyung hanya menuruti. Jin dan Jimin mengikut hingga masuk ke dalam kamar.
"Jungkook, kenapa denganmu?" kali ini Seokjin yang bertanya. Jungkook menggaruk pelan kepalanya, dia menatap Taehyung dan yang di tatap hanya menggeleng. "itu hyung aku terjatuh saat bermain ice skating tadi malam"
Jungkook menjawab dengan nada meyakinkan. Taehyung hanya mendengus "ah benar seperti itu Tae hyung?" tanya Jimin, Taehyung lalu menjawab "menurutmu bagaimana?" Jimin melengos dan langsung kabur dari kamar itu.
"Ish, terserahmu lah hyung" Jimin berucap.
Percuma bertanya kepada Taehyung. Biarlah dia dikatai sebagai dongsaeng kurang ajar, Jimin tidak peduli. Di kamar itu hanya tinggal Seokjin seorang diri. Dia masih menatap Jungkook yang kini tengah melepas sweaternya.
Matanya tiba-tiba mengangkap sesuatu. Sesuatu yang berwarna merah keunguan itu terdapat di tulang belikat milik Jungkook. Seokjin lalu melihat Taehyung yang sedang memainkan ponselnya di bangku sudut ruangan.
Dia tersenyum mengerti, ternyata Jungkook sudah dewasa. Dalam hati dia sedang merangkai kata yang pas untuk memarahi Jungkook kenapa sudah berani berbohong padanya. "ah, yasudah lain kali hati-hati ya? Hyung mau ke luar sebentar, mari Tae hyung"
Taehyung hanya mengangguk. Dia lalu melihat Jungkook yang tengah melepas celana jeans itu. "mau mencoba menggodaku?" Jungkook menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam Taehyung "dasar otak mesum! Aku ingin mandi tau"
"Kenapa tidak didalam saja?" tanya Taehyung lagi, Jungkook telah selesai melepas itu dan sekarang di badannya hanya melekat kaos dalam berwarna putih dan celana pendek bergambar mickey mouse. "sudah biasa begini, hyung. Aku mandi dulu"
Tak lama suara percikan air terdengar. Jungkook pun tengah bernyanyi di dalam dan Taehyung hanya menyandarkan kepalanya ke bangku berbentuk tangan ini. Besok dia sudah tidak dapat melihat Jungkook. Itu membuatnya kembali tidak semangat.
Taehyung mengeluarkan nafas kasar lalu matanya menangkap sosok barang yang sangat familiar di sudut lemari itu. Koper miliknya—yang belum di kembalikan oleh Jungkook ada disana. Ingin mengambil koper itu tapi dia terlalu malas untuk bangun.
Karena sejujurnya, berkas yang berada di dalam itu tidak terlalu penting. Dia sudah meminta cadangannya kepada Hoseok. Biarlah benda itu berada disini—jadi Taehyung dapat mempunyai alasan untuk mengunjungi Jungkook kembali.
Setelah Jungkook selesai membersihkan diri, Taehyung disuruh untuk mandi. Dia lalu berniat mengambil satu pasang pakaian yang sengaja dia bawa di dalam mobilnya. Saat hendak menutup kembali pintu mobil itu suara jepretan kamera membuat Taehyung menoleh.
Tapi dia tidak melihat siapapun, kemudian Taehyung berjalan masuk ke dalam dorm itu lagi dengan membawa pakaiannya.
.
Suasana dalam dorm Bangtan itu terlihat sepi. Taehyung bertanya kepada Jungkook kemana hyung-hyungnya yang lain dan Jungkook bilang kalau Namjoon harus ke kantor agensinya mengambil passport serta tiket untuk penerbangan lusa.
Sedangkan Seokjin, Yoongi, dan Jimin sedang membeli makanan untuk makan malam.
"Memang kalian akan memulai konser dimana?"
Kini Taehyung tengah berada di meja makan, menemani Jungkook mencuci piring. "ke Manila hyung, habis itu besoknya kembali kesini untuk fan meeting lalu terbang lagi ke Tokyo" Jungkook menjawab dengan nada yang sedih.
"Padat sekali"
Kiranya dia pikir menjadi seorang idol tidaklah sesibuk itu. Bahkan jadwal Jungkook hampir sama dengan jadwalnya. Sejenak Taehyung berpikir apakah nanti saat semuanya sibuk, mereka akan menjauh? Sama seperti awal lagi, tidak kenal satu sama lain."
"Yeah sudah biasa sih, cuman tetap saja itu sangat menguras energi"
Lalu Jungkook tiba-tiba saja duduk di atas meja kaca itu, persis menghadap Taehyung yang tengah terduduk. Menatap iris tajam kepunyaan orang di hadapannya ini. "hyung harus nonton ya?" pinta Jungkook dengan sedikit memaksa. Sedangkan Taehyung tengah kesulitan mengontrol sesuatu di dalam dirinya sekarang.
"Jungkook kepada Taehyung, hallo?"
Tangan itu di biarkan mengibas pelan di depan wajah Taehyung. Tetap Kim Taehyung tidak menjawab sama sekali. "hyung?"
Detik berikutnya Taehyung membenturkan bibirnya ke bibir Jungkook. Mata Jungkook membola, dia melihat bagaimana Taehyung mulai menutup mata dan menikmati ciuman itu.
"Eughh hyunghhhh"
Jungkook mendorong pelan dada Taehyung. Sadis sekali CEO di depannya ini. apa jangan-jangan sebenarnya Taehyung sering bermain dengan para pekerjanya yang cantik itu?
Taehyung langsung menjauhkan bibirnya itu dan menatap Jungkook yang tengah berusaha menghirup lebih banyak oksigen. "sialan, terus saja menciumku!" Jungkook menjauh dan berjalan meninggalkan Taehyung yang masih setia duduk di meja makan.
Kemudian Jungkook menyalakan televisi berlayar datar itu dan melihat berita. Matanya membulat kala membaca sederet kalimat yang di capslock.
KIM TAEHYUNG BERADA DI DORM BANGTAN?
"HYUNGGGGGGG"
Jungkook berteriak seperti orang kesetanan, Taehyung yang mendengarnya segera melangkah cepat ke arah Jungkook berada. Disana, dia melihat sebuah foto seorang pria memakai kaos hitam dan celana pendek tanpa masker apapun tengah menengok.
Taehyung tau bahwa itu dirinya. Mukanya di foto itu pun sangat jelas. Sial, berarti tadi sungguh ada seseorang yang memotret dirinya? Tangannya mengepal kuat.
"Kenapa tidak pakai masker sih?!" Jungkook berkata dengan nada tinggi, Taehyung lalu duduk di sampingnya "ya mana aku tau kalau ada yang membuntuti. Lagipula jalanan sepi"
"Hyung, mereka itu ada dimana-mana oke-?" "—aku pun tadi lupa memberitaumu untuk memakai masker aish"
"Aku akan membuat mereka menghapus berita itu" jawab Taehyung lalu mengeluarkan ponsel pintarnya. Menghubungi seseorang di sambungan telfon itu, dan mematikannya.
"Bagaimana?" Jungkook penasaran, apakah bisa menghentikan berita-berita itu yang sudah terlanjur di siarkan?
"Kita lihat saja"
Dering telfon itu kemudian terdengar, Taehyung melihat siapa gerangan yang menelfonnya dan rahangnya tiba-tiba saja mengeras. Terlalu malas untuk mengangkat telfon dari ayahnya maka dia diamkan saja.
Karena Taehyung sudah pasti tau hal apa yang akan di katakan oleh ayahnya. Dering telfon itu kembali berbunyi, Jungkook yang sedang serius menonton akhirnya menoleh "hyung, appamu itu menelfon. Kenapa tidak di angkat?" tanya Jungkook.
Sementara Taehyung masih menatap layar itu dalam diam, menimbang apakah lebih baik di angkat atau tidak. Tapi, ada tangan lain yang dengan cepat menggeser warna hijau itu. Taehyung mendelik tajam dan menatap Jungkook.
Jungkook hanya tertawa pelan dan langsung membuat isyarat untuk segera berbicara dengan ayahnya.
"Ya?" jawab Taehyung singkat.
"Apa peringatanku kau anggap angin lalu?"
"Tidak" jawab Taehyung lagi seraya bangkit dari sofa itu dan menjauh.
"Lalu kenapa kau masih saja berada di dekatnya?! Kau pikir aku tidak melihat berita? Ku tegaskan sekali lagi Kim, naikan saham itu atau kau tidak dapat lagi bertemu dengan Jungkook! Jika sampai kakekmu tau akan hal ini.."
Taehyung hanya diam. Dia pun sebenarnya tidak ingin kakek tersayangnya tau bahwa harga saham perusahaan yang telah dia bangun susah payah turun separah ini karena ulahnya. Taehyung adalah orang yang sebenarnya tidak tega melihat orang tua itu mengetahui yang sesungguhnya.
"Hm, kau tenang saja Kim Senior. Ku tutup"
Dia memijat pelan pelipisnya, pening langsung menghampiri. Sial. Sial. Sial. Kim Chanyeol sialan—orang yang paling dia benci tapi karena orang itu adalah ayah kandungnya mau tidak mau Taehyung harus menurut.
Jungkook mengerutkan keningnya dalam kala melihat Taehyung yang sepertinya sedang mendapat masalah. Dia berjalan mendekat ke arah Taehyung yang berdiri diam memandang jendela dorm itu. "ada apa, hyung?" tanya Jungkook.
Taehyung menoleh, lalu tersenyum. Menggeleng pelan sebelum meminta izin untuk pulang karena dia mempunyai pekerjaan yang sangat banyak di kantornya.
"Aku pulang ya? Good luck untuk konsermu Jungkook"
Kecupan manis di pipi itu masih terasa bahkan sampai sosok Taehyung menghilang bersamaan dengan mobilnya yang melaju pelan di jalanan sepi. Jungkook masih memegang pipinya. Dia senang sekali.
Terima kasih untuk dua harinya hyung.
.
Jungkook merengut tidak suka. Hair stylist Bangtan menyarankannya—atau menyuruh dengan sangat memaksa—menurut Jungkook untuk mengganti warna rambut hitamnya menjadi blonde. Dia tidak suka, wajahnya akan sangat aneh apabila mempunyai rambut berwarna terang itu.
Di saat semua hyung-hyungnya sudah selesai mewarnai rambut. Dia masih duduk di pojok ruangan sambil membaca webtoon kesukaannya. "ayolah Jungkook! Jangan seperti anak kecil. Hanya untuk di Manila saja bagaimana?"
Jungkook menatap Namjoon dengan tajam
"Tidak mau!" kemudian kembali melihat layar ponsel pintar itu dan lanjut membaca. "tidak ada cara lain" gumam Namjoon lalu memanggil semua member untuk membawa Jungkook dengan paksa.
"YAK! APA-APAAN INI HEI"
Semuanya terlihat kesulitan mengontrol amukan Jungkook. Seokjin lalu membawa seutas tali berwarna hitam dan mulai melingkari tali itu ke badan Jungkook. Sang maknae masih terus bergerak kasar, tenanganya memang lebih kuat di banding yang lain.
Tapi tetap saja, jika satu lawan empat orang mustahil untuk menang. "kalian sialan!" kedua kaki Jungkook yang bebas berhasil menendang 'masa depan' kepunyaan Jimin, "awh, sakit bodoh! Aduh duh"
"Rasakan itu pendek!"
Setelah mengorbankan begitu banyak tenaga untuk dapat mengubah warna rambut Jungkook—yang sekarang berwarna blonde terang seperti Seokjin mereka akhirnya kembali ke dorm untuk beristirahat karena besok semua harus terbang ke Manila.
.
Selama rehearsal Jungkook terus saja menggerutu. Ada beberapa faktor yang membuat member termuda itu terus saja memajukan bibirnya. Yang pertama tentu karena dia tidak suka dengan rambut barunya, yang kedua karena Kim Taehyung masih belum menghubungi Jungkook kembali.
Ya setelah pulang dari dorm dua hari yang lalu, Kim Taehyung pun tidak membalas pesannya yang sengaja di kirimkan tepat semalam sebelum Bangtan Boys berangkat ke Manila. Jungkook mengirim pesan, bertanya apakah nanti Taehyung akan menyaksikan konsernya atau tidak.
Tapi ternyata pesannya itu tak kunjung dibalas. Mungkin Taehyung kembali sibuk, dan mungkin menonton konser kekasih palsunya merupakan hal yang tidak penting.
Konser selama dua jam itu berjalan dengan lancar. Mereka semua menyanyikan lagu-lagu yang sukses membuat nama Bangtan semakin melambung tinggi. Bernyanyi bersama penggemar, dan bersenang-senang di atas panggung.
Sejauh mata kelam milik Jungkook memandang, dia tetap tidak menemukan Taehyung. Apa dia tidak mampu membeli tiket dari Korea ke Filipina?
"Jeon jangan melamun! Cepat habiskan makan malammu dan istirahatlah" ucap Yoongi menganggetkan Jungkook. Dia lalu melahap makanan yang sudah di sediakan dengan pelan.
.
Hari-hari berikutnya lebih gila lagi—menurut Jungkook. Sesudah acara fan meeting yang berlangsung selama tiga jam di Daegu ke lima member di antar pulang oleh manejer mereka dan esok paginya mereka langsung berangkat ke Jepang.
Jungkook tidak mempunyai waktu untuk sekedar mengecek notifikasi di ponselnya. Tubuhnya lelah, lingkarang hitam di matanya semakin jelas terlihat. Untuk berjalan pun sepertinya dia sudah tidak sanggup.
"Hyung lelah sekaliii"
Jika maknae kesayangan semua orang ini sudah mengeluh, alarm tanda bahaya menyala memperingati mereka untuk tidak mendekat. Jeon Jungkook yang sudah mengeluh sama saja dengan Jeon Jungkook yang gampang marah.
"HEI KALIAN TIDAK PEDULI PADAKU?!"
Nah kan, Namjoon selaku leader kemudian menghampiri Jungkook yang sedang tiduran di sofa panjang itu. "kami semua peduli, Jungkook-ah. Kami pun sama lelahnya denganmu"
"Tapi hyung, aku hanya tidur selama tiga jam untuk latihan sendiri. Kalian enak bisa tidur terlebih dahulu" Namjoon lalu memijat pelan kaki besar Jungkook "kau memiliki part solo di dalam konser ingat? Hyungmu yang lain hanya sekedar menyanyi saja"
"Harusnya kau senang karena bisa tampil solo, kau tau yang lain sangat iri"
Jungkook hanya diam "tapi lelah hyung" "semua lelahmu nanti akan terbayar, jadi tunggu saja oke?"
Leader itu mengusap pelan rambut blonde Jungkook yang sudah tidak tertata lagi. dia lalu pergi menjauh meninggalkan Jungkook yang termenung sendiri.
.
Derap langkah kaki menggema di lorong yang sepi ini. Seorang pria dengan pakaian formal dan sepatu hitam kulitnya berjalan dengan tenang. Taehyung lalu mendorong pelan pintu berwarna putih itu dan memaksakan dirinya masuk.
Di depan sana sudah ada Hoseok yang tengah berbicara, tetapi kemudian suara itu berhenti. Semua orang yang berada di dalam ruang kaca namun kedap itu berdiri dan membungkuk hormat kepada pria yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ah selamat datang Presdir!"
Hoseok lalu menghampirinya dan dengan sopan dia mengisyaratkan Taehyung untuk berjalan kedepan. "silahkan duduk kembali" suara berat itu terdengar, bagai mendapat perintah mutlak semua orang yang tengah berdiri itu kemudian duduk.
"Seperti yang kalian tau, saham perusahaan ini turun sebanyak 15%. Aku mengumpulkan kalian disini bukan untuk main-main, kalian adalah yang terbaik dari semuanya. Aku minta, dengan sangat cari tau penyebab kenapa saham perusahaan ini bisa turun dengan drastis seperti itu—"
"Kalian akan mendapatkan bonus jika berhasil menaikan kembali saham ini, dan tentu aku akan disini—membantu juga. Kalian boleh memesan apapun, boleh berpakaian tidak formal asal tujuan utama bisa tercapai"
Taehyung lalu duduk di kursi itu, menyalakan laptop dan membaca lampiran berkas-berkas yang bertumpuk. Hoseok pun dengan sukarela membantu—begitupun pegawai yang lain. Yang telah Taehyung pilih untuk membantu memulihkan perusahaan.
Manusia-manusia itu bekerja tanpa mengenal waktu. Taehyung bahkan sudah melonggarkan dasi cokelatnya—menggulung lengan kemeja putihnya. Ini sudah larut malam, pekerjaan mereka baru mencapai 2% dalam skala 100.
Sungguh berat, apakah dulu kakeknya berjuang seperti ini?
"Kupikir untuk saat ini cukup, kalian bisa beristirahat" ucap Taehyung lalu beranjak pergi. Semuanya mengangguk dan membungkuk hormat. "anda akan pulang tuan?" tanya Hoseok yang berjalan di belakang Taehyung.
"Sepertinya tidak, aku akan tidur di ruanganku. Oh iya, bisakah aku minta tolong Hoseok?"
Langkah itu terhenti, "tentu tuan, apapun yang anda butuhkan"
Taehyung lalu melihat jadwal di ponsel hitamnya, dia melihat tanggal yang telah di lingkari merah itu, di sana tertulis 'Jungkook concert, Tokyo'. "tolong pesankan tiket pesawat ke Tokyo, lalu belikan tiket konser Bangtan—jangan yang vip. Dan untuk kita berdua"
Hoseok pun hanya tersenyum, ternyata bosnya ingin menonton konser kekasihnya. "baik, selamat malam Presdir!"
Usai membersihkan diri dan memakai baju hangat Taehyung kembali memainkan ponselnya. Dia melihat pesan itu—pesan yang dikirim Jungkook beberapa hari yang lalu. Menanyakan apakah dirinya akan menonton konser mereka di Manila atau tidak.
Taehyung tidak sempat membalasnya, karena tidak ingin Jungkook marah dia akhirnya menelfon. Sampai lima kali mencoba telfon itu sama sekali tidak di angkat.
"Apakah dia sibuk?" ujarnya.
.
Di sela-sela jadwalnya yang padat Taehyung berusaha untuk menyisihkan sebagian waktunya untuk melihat konser Jungkook. Sejujurnya dia sangat merindukan pemuda itu. Hoseok sudah membelikannya tiket—sesuai pesanannya mereka nanti akan menonton dari atas. Tiket tribune.
Taehyung memakai topi putih yang simple dipadukan dengan kemeja panjang kotak-kotak serta jeans hitam yang sangat menempel di kaki jenjangnya. Di tangan kanannya dia membawa sebuah kamera DSLR berwarna putih lengkap dengan lensa telephoto ukuran 100mm.
"Anda seperti fanboy saja, Presdir" ucapan Hoseok membuat Taehyung terkekeh. Hoseok memberikan satu buah minuman dingin kepada bosnya yang sudah berbaik hati mengajak untuk menonton konser secara gratis.
"Benarkah?" jawab Taehyung sambil meminum habis isotonic itu. Sekarang mereka tengah mengantri untuk memasuki area konser. Ini memang sangat panas—menurut Taehyung terlebih saat ini mereka terjebak di antara ratusan remaja yang terlihat begitu excited.
Setelah menghadapi penyiksaan yang amat sangat berat akhirnya Taehyung serta Hoseok memasuki aula konser. Mereka berdiri—berdesak-desakan dan saling senggol untuk memperebutkan tempat paling depan.
Panggung megah itu berada di bawah sana. Dengan lampu-lampu yang bersinar terang dan layar besar di kedua sisinya. Taehyung mendapat tempat di paling ujung, setelah tadi Hoseok sempat adu kekuatan dengan seorang wanita berbadan tambun.
"Huh, menyusahkan"
Hoseok terus saja mengeluh, tidak sadar jika sedari tadi Taehyung terus melihat ke arahnya "eh, hehe maaf Presdir!" dia kemudian salah tingkah, tapi tak lama lampu itu padam. Jeritan histeris membuat telinga Taehyung sakit.
Dia lalu memfokuskan penglihatannya ke depan. Ke arah panggung disana. Alunan intro mulai terdengar, para fans meneriaki nama-nama yang sudah Taehyung hapal di luar kepala.
"Itu mereka Presdir! Uwaa tampan-tampan"
Hoseok mungkin sudah bertranspormasi dari sekretaris pribadi CEO Kim Ent menjadi fanboy Bangtan. Kemudian Taehyung melihat orang itu. Dia tersenyum pelan, melihat bagaimana rambut pirang menyala itu tampak memukau.
Taehyung langsung mengarahkan kamera itu ke objek yang sukses membuat dia terpesona. Jeon Jungkook yang tengah menari dengan penuh energi di atas panggung sana.
"Memang seperti malaikat jatuh, bahkan hanya dirimu yang bersinar di panggung itu, Jungkook-ah"
.
.
TBC
Nah gimana? Apa masih kurang panjang?
RnR?
