[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]
[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]
.
.
VKOOK
.
Jungkook melotot tak percaya, dia kira perusahaan sebesar itu tidak akan goyah sedikit pun, tapi nyatanya sekarang malah harga saham perusahaan tak stabil. Maka dari itu setelah membersihkan diri dan memakan sarapan yang dibuat oleh Jin, Jungkook memutuskan untuk berkunjung kerumah Taehyung dimana ia tinggal bersama kedua orang tuanya.
Beruntunglah Jungkook sudah mempunyai surat izin mengemudi, jadi ia tidak perlu lagi merepotkan orang lain untuk mengantarkannya. Berbekal mobil pinjaman dari menejernya, dia berangkat dengan hati yang tidak tenang.
Tiga puluh menit berjalan, mobil putih itu telah sampai didepan gerbang tinggi dengan pengamanan yang super sekali ketatnya—beruntung wajah Jungkook sudah familiar dilihat oleh kebanyakan orang, dan beruntung juga waktu itu Taehyung sempat mengajaknya kesini.
Tapi saat keluar dari mobil, ada seseorang berpakaian hitam-hitam yang menghampirinya. Dengan postur tegak dan tinggi menjulang—pria itu menanyai apa tujuan Jungkook datang kemari.
"Aku ingin bertanya apakah Kim Taehyung ada di dalam?" akhirnya Jungkook buka suara tanpa mampu melihat bagaimana sorot tajam milik penjaga itu seolah menghakiminya.
"Tuan muda Kim tidak berada di Korea saat ini, begitupun Nyonya dan Tuan besar. Rumah ini kosong"
Jungkook bertanya kembali tapi kali ini dia mampu menatap mata itu, "sudah berapa lama Taehyung tidak ada disini?" pria itu membalas tatapannya, "sudah dua minggu, terakhir aku melihatnya pulang membawa beberapa pakaian"
"Apa kau tau kapan tepatnya Taehyung akan pulang?"
"Aku tidak tau"
Dan Jeon Jungkook merasa menjadi manusia paling tidak beruntung sedunia saat ini.
.
.
Sinar mentari tampak menggelitik kelopak mata Jungkook, membuat dia mengerang kala merasakan hangat yang tampak nyata itu. Matanya terbuka, menoleh sebentar ke arah jendela balkon yang tidak tertutup dengan sempurna.
Matahari sudah meninggi, dia lantas bangun dari tempat tidurnya dan melihat jam. Sudah menunjukan pukul sembilan pagi, dan Jungkook mempunyai kelas jam sepuluh nanti. Terlalu lama baginya untuk terus-terusan izin dari kuliah—dan karena itu Jungkook harus menyelesaikan semua kelas yang diikutinya semester ini.
Menghela nafas saat berjalan di koridor kampusnya, Jungkook membuka ponselnya itu. Melihat jadwal kuliahnya di website universitas yang full sampai sore mampu membuatnya pusing seketika. Haruskah dia menundanya lagi? seperti kebanyakan idol yang lain, yang lebih mementingkan karir mereka di banding dengan pendidikan.
"Hah, semangat Jungkook! Demi masa depan yang cerah"
Beruntunglah dia dikelas pagi sampai siang ini Jungkook sekelas dengan Ren. Dia juga merupakan idol sama seperti Jungkook dan mereka menghabiskan makan siang di kantin bersama, yah beruntunglah Jungkook tidak sendirian.
Ren memasukan katsu itu kedalam mulutnya dengan cepat, sementara Jungkook hanya memutar malas mie ramen yang ia pesan tadi. "Jungkook-ah, makan makananmu!" pria cantik itu tampak kesal dengan temannya ini, melihat Jungkook yang seperti itu mampu membuat selera makannya hilang.
"Aku capek hyung, bisa tidak sih langsung wisuda?"
Sumpit yang terbuat dari stainless steel itu sukses mendarat di kening Jungkook, "Aw, yak hyungiee!" Ren menegak habis orange juicenya itu lalu mendelik kepada Jungkook "pemikiranmu ini sungguh dangkal, mana ada yang seperti itu bodoh! Sudah aku harus kembali, kelasku akan mulai sebentar lagi. Bye Kookie"
"Bye Ren hyung!"
Sehabis itu Jungkook langsung memakan ramennya yang sudah mengembang, matanya tampak mengamati orang-orang sekitar. Tidak ada yang menarik, dan Jungkook tak terlalu peduli dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Maka dari itu saat ramen yang berada di mangkuknya habis, dia langsung bergegas untuk masuk ke kelas berikutnya.
Dalam perjalanan menuju kelas yang terletak di gedung F, Jungkook harus melewati taman yang dijadikan mahasiswa maupun mahasiswi sebagai tempat beristirahat atau mengerjakan tugas. Dia berjalan lurus, tapi kemudian telinganya menangkap suara yang berasal dari seorang perempuan yang tengah menangis di balik pohon itu.
"Hiks dia ternyata selingkuh, sulli-ah hiks" Jungkook mendengar itu, ingin melanjutkan langkahnya kembali tapi entah mengapa saat mendengar kalimat selanjutnya dari perempuan tersebut membuatnya tertarik.
"Dia selalu sulit untuk ditemui, dan lama-lama Jaehyun oppa jarang menghubungiku lagi hiks"
Setelah perempuan itu menyelesaikan kalimatnya jantung Jungkook berdentum keras, dia menggeleng pelan dan langsung memutuskan untuk segera. Tapi, dalam perjalanan itu Jungkook terus saja memikirkan ucapan sang perempuan tadi, tentang kekasihnya yang berselingkuh.
Jungkook berhenti melangkah, dan dia tampak berpikir. Lagipula kalau pun Taehyung berselingkuh memangnya dia siapa? Pacar saja bukan. Dengan perasaan kesal dia langsung menendang kerikil yang berada di bawahnya.
Mood Jungkook menurun dengan sangat drastis, bahkan hingga menjelang malam saat waktunya mengisi tenaga kembali—dengan makan malam. Jungkook sukses membuat hyung-hyungnya sakit kepala dengan sifat yang seperti seorang ibu hamil. Terus saja mengomel tentang apa yang dimasak oleh Seokjin, atau tentang porsi makan Jimin yang menurutnya terlalu banyak.
.
.
Sudah hampir satu bulan Taehyung tidak menghubungi Jungkook. Dan Jungkook pun sekarang terlihat sudah tidak peduli namun itu justru membuat member Bangtan yang lain semakin khawatir, karena mereka tau bahwa Jungkook memang pandai menyembunyikan apa yang tengah dirasakannya sekarang.
Namjoon ingin menanyai itu saat Bangtan tengah menjalani proses pemotretan majalah fashion, tapi Yoongi tiba-tiba mencegahnya, berkata bahwa mungkin Jungkook membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri baru nanti dia akan menceritakan semuanya.
Yoongi pun bilang bahwa dia sebenarnya tidak ingin membuat Jungkook terlalu banyak pikiran karena bagaimana pun usia Jungkook belum bisa dikatakan terlalu dewasa—menurutnya.
.
Besoknya, Bangtan akan terbang ke London untuk ikut berpartisipasi sebagai bintang tamu di acara yang berjudul K-Concert in London. Di dorm saat ini mereka tengah disibukan dengan packing, memasukan barang-barang yang dirasa butuh dan menyiapkan pakaian yang akan di pakai untuk ke bandara.
Jungkook lah member yang paling kelihatan excited, jika ditanyai kenapa dia tersenyum lebar yang hampir membuat Jimin bergedik ngerti—dia membayangkan betapa senyum itu terlihat seperti wajah boneka Annabelle, Jungkook hanya menjawab bahwa ia sangat menyukai inggris, terlebih kotanya London.
Dia pun sudah menyusun rencana sehabis konser selesai ingin melakukan apa di kota tersebut karena pesawat yang akan membawanya pulang berada di hari berikutnya.
Semua member Bangtan sudah melalui proses check in dan dipersilahkan memasuki pesawat tingkat dua tersebut. Jungkook mendapati dirinya duduk sendiri di tepi sebelah kiri, dia yang memilih bangku tersebut karena jika ada orang lain disebelahnya itu sangat menggangu, walaupun orang itu adalah hyung-hyungnya.
Ini adalah penerbangan pagi. Pesawat lepas landas sekitar pukul sepuluh waktu Korea. Sehabis membagikan minuman selamat datang berupa segelas champagne, pramugari tersebut mulai membagikan kacang-kacangan gratis, namun Jungkook tidak menyentuh itu sama sekali.
Dia lebih memilih untuk memperhatikan sekitarnya, yang entah kapan kebiasaan ini terjadi—Jungkook sekarang lebih peka terhadap sekitar walaupun masih acuh tak acuh. Penumpang lain memilih untuk mengistirahatkan diri mereka, sebagian ada yang fokus kepada laptopnya mengetikkan sesuatu yang mungkin adalah pekerjaannya.
Sementara hyung-hyungnya, Namjoon sedang mendengarkan lagu dengan headphone di telinga. Yoongi dan Jimin yang duduk berdua di tengah barisan tampak tengah serius menonton film dari layar ukuran dua puluh dua inch di hadapan mereka, yang terakhir Seokjin ternyata tengah memperhatikan dirinya.
"Hehehe, hai hyung" Jungkook yang kedapati tengah memperhatikan Jin hanya mampu tersenyum paksa dan memilih untuk memainkan ponselnya yang sudah dalam mode pesawat.
Memasangkan headset berwarna merah itu pada kedua telinganya dan membuka-buka galeri foto. Lagu dari one direction yang berjudul perfect tampak berputar tepat sesaat dirinya melihat sebuah foto yang di ambilnya sebulan yang lalu, saat Taehyung berkunjung ke dorm Bangtan.
Itu adalah foto Taehyung yang tengah berada di sofa ruang tengah tampak serius menonton televisi. Tangan putihnya mengelus permukaan layar ponsel itu, bertanya-tanya dalam hati apa sekarang Taehyung masih bekerja keras untuk menaikan kembali harga sahamnya? Sebenarnya dia ingin membatu tapi Jungkook kuliah pun belum lulus yang otomatis ilmu tentang dunia ekonomi dan segala macamnya belum sampai tahap seperti Taehyung.
Lagipula Jungkook ingin membantu tapi dia saja tidak tau dimana dia sekarang.
Dan dia kesal dengan dirinya sendiri. Kesal karena sekarang dia tidak tau Taehyung berada dimana, bukannya mereka cukup dekat satu sama lain untuk seksedar saling mengabari? Apa cuman dia saja yang merasa seperti itu?
Lagu one direction itu terus saja berputar, dan entah mengapa memori akan dia dan Taehyung yang berkendara pada malam itu sukses terlintas. Jungkook memejamkan kedua matanya dan tersenyum.
Walaupun Taehyung sekarang seolah menghilang bagai diterpa angin musim gugur, setidaknya dia mempunyai satu kenangan manis saat bersama Taehyung, dan itu bisa dijadikan sebagai moodboster di saat seperti ini.
.
.
Taehyung sudah berada di negeri ratu Elizabeth ini sekitar satu minggu. Dia terus rapat dengan komisaris-komisaris serta pemegang saham yang lainnya untuk mencari solusi atas apa yang tengah menimpa perusahaan yang ia pimpin.
Kemeja putihnya tampak berkerut samar saat dia pergi meninggalkan kantor sekedar untuk merilekskan kembali sendi-sendinya yang kaku. Di saat senggangnya ini Taehyung sangat menikmati keterbatasan waktu yang ia punya dengan memanfaati setiap langkahnya untuk melihat-lihat sekitar.
Gedung bertingkat dan bangunan kuno tampak menyatu di kota ini. Taehyung dan sekretaris pribadinya berjalan menyusuri Oxford street dan langkah jenjangnya terhenti saat matanya tak sengaja menangkap iklan yang berada di layar ukuran besar di atas gedung bertingkat itu.
K-Concert in London
21st June, London Convention Center
Lalu kemudian muncul deretan artis yang masuk kedalam daftar bintang tamu di acara tersebut. Taehyung melihat adanya nama Bangtan disana, kemudian Taehyung menoleh pada Hoseok yang ternyata juga tengah memperhatikan iklan tersebut.
"Apakah itu benar?"
Hoseok dengan sigap menjawab, "tentu Presdir! Aku dengar Bangtan menjadi bintang tamu yang ditunggu-tunggu, dan juga tiket untuk menonton konser itu sudah hampir habis"
Kemudian Taehyung hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Hoseok pikir Taehyung akan menyuruhnya untuk kembali membeli tiket, karena terakhir bosnya itu melihat Jungkook saat Bangtan menggelar konser di Tokyo.
"Bisa belikan aku tiket untuk konser itu?" Hoseok tentu menjawab dengan semangat, ya tentu dia bisa kepada bosnya. Karena sejujurnya dia merasa kasihan melihat Taehyung yang seperti ini. Walaupun mimik muka Taehyung terlihat biasa, tapi Hoseok tau bahwa bosnya merindukan pemuda itu, Jeon Jungkook.
.
.
Bangtan tampil di sesi penutup acara tersebut, dengan membawakan dua lagu andalan mereka membuat penonton dengan sabar menunggu hingga akhir.
Teriakan penggemar mereka terus terdengar nyaring saat kelima member itu naik keatas panggung. Lagu fire di pilih sebagai pembuka penampilan mereka. Taehyung datang telat, karena dia harus menemui salah satu pemegang saham lainnya terlebih dahulu—itu terlihat saat dia tidak sempat berganti baju dan masih mengenakan setelan formal layaknya pekerja kantoran.
Taehyung mengarahkan teropong yang sudah Hoseok siapkan ke arah panggung didepannya. Jarak yang jauh membuat matanya kesulitan untuk melihat dengan jelas bagaimana wajah Jungkook. Tapi itu memang kemauannya, untuk tidak membuat Jungkook melihat ke arahnya.
Dan kebetulan saat Taehyung mengarahkan teropong itu, Jungkook tengah menyanyikan bagian dirinya dalam lagu.
'Jalani hidupmu selagi itu milikmu. Jangan mencoba terlalu keras, tidak apa-apa untuk menjadi pecundang'
Pria itu menurunkan teropongnya dan tersenyum. Suara Jungkook mampu membuatnya meremang. Apalagi saat dia melakukan flying kiss dengan menggunakan kedua jarinya, dan cameramen dengan sukses mengclose up wajah Jungkook hingga terlihat sangat jelas. Ada perasaan bangga di benak Taehyung saat lagu itu selesai, bangga karena Jungkook tampil dengan sangat maksimal dan tak ada kesalahan sedikitpun.
Teriakan itu lagi-lagi terdengar nyaring saat Namjoon menyapa mereka semua. Semua member memperkenalkan diri mereka, mata Taehyung pun tak luput memperhatikan Jungkook dari jauh, yang sekarang tengah meminum habis air mineral yang sudah disediakan dengan rakus.
Tiba saat Jungkook menyapa fans-fans mereka, menciptakan gema suara yang besar sesaat kalimat itu selesai memasuki gendang telinga mereka semua. "Hallo London!"
Hoseok berteriak paling semangat, memanggil-manggil nama Jungkook sekaligus melambai dari atas sana—sementara Taehyung yang takut ketahuan mundur sedikit dia hanya tidak ingin Jungkook melihatnya untuk sementara walaupun Taehyung tau bahwa manusia memiliki batas untuk melihat jauh.
Teropong itu di arahkannya kembali ke panggung, disana Taehyung melihat Jungkook yang tengah tertawa dengan Jimin tanpa mempedulikan fans yang terus meneriaki nama mereka. Kemudian intro dari lagu selanjutnya mulai terdengar, Jungkook mendekatkan micnya dan mulai berteriak, "enjoy your show!"
Bangtan membawakan lagu save me, dan Taehyung benar-benar memusatkan semuanya kepada Jungkook melihat bagaimana dia menari dengan lincah walaupun gerakan itu terlihat sangat sulit dimata Taehyung, tapi tiba-tiba getaran dari jam tangan bermerk Samsung itu membuat perhatiannya teralihkan.
Rapat!
Pengingat itu membuat Taehyung menghela nafas. Dia ingin melihat Bangtan sampai lagu berakhir tapi lagi-lagi kewajibannya lah yang nomor satu. Maka dari itu Taehyung menepuk pelan pundak sekretarisnya mengisyaratkan untuk keluar sekarang juga.
Mereka akhirnya meninggalkan aula konser itu disela-sela lagu save me yang masih bisa di dengar oleh telinganya.
.
.
Konser itu akhirnya berakhir jam tujuh malam. Bangtan sudah bersiap untuk kembali ke hotel mereka untuk berististirahat—jetlag akibat perbedaan waktu pun masih membuat mereka seperti orang kebingungan.
Berbeda dengan Jungkook, dia terlihat senang konser itu berakhir bukan karena akhirnya bisa beristirahat tapi karena dia akhirnya bisa berjalan-jalan menikmati waktunya yang singkat di kota ini.
Jungkook berganti baju, membawa serta kacamata dan maskernya dengan berbekal google juga aplikasi tripadvisor dia siap membelah kota London seorang diri. "Wow, masih terang sekali" dia berucap sambil melihat bagaimana langit itu berwarna orange indah, seperti senja di Korea. Karena matahari di London tenggelam pukul delapan malam.
Dia mengkalungkan kamera mirrorlessnya dan menikmati waktu sendiri. Hyung-hyungnya yang lain berkata bahwa mereka ingin beristirahat terlebih dahulu, mungkin besok bisa berjalan sebentar sebelum sorenya kembali pulang ke Korea.
Jungkook sebenarnya malas jika harus berdiam diri dihotel. Untuk apa? Bahkan saat ini staminanya masih cukup baik untuk berjalan selama dua sampai tiga jam kedepan. Dan kapan lagi dia mempunyai waktu luang seperti ini?
Maka dari itu, sekarang Jungkook tengah menaiki tangga bus tingkat dua ini yang akan membawanya mengelilingi sudut-sudut kota London. Saat bus melewati istana Buckingham dia langsung mengarahkan kamera itu dan memfotonya, untuk dijadikan kenang-kenangan.
"Bagaimana jika aku tinggal di istana itu? Pasti menyenangkan" ujarnya pada diri sendiri, melihat luasnya istana tersebut membuat dia berkhayal bisa menjadi keluarga bangsawan, dilayani sana-sini pasti hidupnya bahagia.
Mendapati kamar yang luas dengan ukiran rumit disetiap sudutnya, berbanding terbalik dengan dorm tempat dia tinggal saat ini. Geli dengan pemikirannya sendiri, Jungkook kemudian tertawa.
"Astaga khayalanku terlalu tinggi"
Dua jam berkeliling dan sekarang matahari benar-benar tengah tenggelam seutuhnya. Jungkook sangat senang ada di tengah-tengah kota yang tidak pernah tidur seperti ini. Tidak peduli sekarang jam berapa, aktifitas para warga tetap berjalan.
Dia mengeluh lapar, tiba-tiba ingin memakan waffle dengan keju diatasnya dan segelas Americano. Perutnya kembali berbunyi dengan segera ia membuka ponselnya dan mencari café terdekat dengannya saat ini.
Ada banyak sekali café disekitarnya, dan Jungkook memutuskan untuk singgah dan mengisi perutnya di Wild & Wood coffe shop. Jungkook berjalan sambil menghirup udara malam, membuka pintu dan membuat lonceng perak di atasnya berbunyi.
Aroma khas biji kopi langsung masuk kedalam penciumannya, dia langsung memesan apa yang diidamkan sejak tadi.
Bayangan akan waffle dengan keju meleleh membuat Jungkook tidak dapat menunggu terlalu lama lagi.
.
.
Meeting yang berlangsung sejak lima jam lalu akhirnya selesai. Taehyung berjalan sendiri keluar kantor sambil membawa laptopnya, Hoseok yang selalu mengikutinya izin karena sejak tadi pagi dia tidak berhenti untuk ke kamar mandi—dia salah makan.
Taehyung melihat jam di tangannya, sekarang sudah jam sembilan malam dan dia lapar. Kemudian Taehyung berjalan dan memutuskan untuk singgah ke café terdekat untuk sekedar mengisi perut dan mengistirahatkan badannya.
Baru saja tangannya mendorong pintu kayu itu, pupil matanya melebar kala melihat orang yang sangat ia kenal tengah berdiri di cashier. Dengan segera Taehyung berbalik. Jantungnya tidak waras, berdetak tidak karuan. Dia sangat yakin itu Jungkook.
Jungkook sedang apa disitu?
Kenapa dia sendirian?
Kalau nanti Jungkook tersesat dan tak bisa pulang bagaimana?
Haruskah aku menghampirinya?
Taehyung menggeleng, dia akhirnya memutuskan untuk tidak makan di sini dan berniat memasak sendiri di apartemen sementaranya. Dia kemudian menunggu Jungkook selesai dan keluar, Taehyung bersembunyi di sudut luar café yang tidak terlalu terang.
Kemudian pintu itu berbunyi, menandakan adanya orang yang keluar. Taehyung dapat melihat Jungkook kembali memakai maskernya dan menunduk. Memainkan ponsel sambil berjalan ke pinggir. Dia terlihat tengah menunggu taxi, dan tak lama mobil berwarna kuning itu terhenti.
Taehyung tetap menjaga jaraknya agar tidak ketahuan, dan matanya sempat melihat plat mobil yang membawa Jungkook pulang—karena dia takut, bagaimana jika Jungkook diculik?
"Semoga dia baik-baik saja" akhirnya Taehyung berjalan pulang, di setiap langkah yang ia ambil, dia ingin sekali memutar arah dan menemui Jungkook. Berkunjung ke hotelnya lalu berbicara sebentar, tapi Taehyung takut jika dia kelepasan.
Takut jika nantinya dia tidak akan fokus lagi kepada perusahaan dan membuat ayahnya, Kim Chanyeol semakin marah.
Taehyung menggeram marah, harusnya di umurnya yang mau ke tiga puluh ini dia sudah bisa mempunyai pikiran sendiri kan? tidak perlu di atur, dia tau mana yang terbaik. Harusnya dia berhak untuk memberontak, tapi apa nyatanya uang yang ia punya masih kalah banyak dengan ayahnya tersebut.
Koneksinya masih kalah jauh sekali. Dan maka dari itu Taehyung lebih milih untuk menuruti apa yang ayahnya perintahkan daripada terjadi apa-apa dengan Jungkook.
Apartemen lima belas lantai itu sudah terlihat didepan matanya. Taehyung menaiki lift yang akan membawanya ke lantai lima. Menempelkan kartu khusus penghuni apartemen itu dan berjalan masuk. Dia meletakan laptop berwarna silver di sofa dan membuka kasar kancing kemejanya.
Setelah mandi dan mengisi perut dengan satu buah apel hijau Taehyung membuka ponselnya. Dia tidak tau apakah Jungkook masih menghubunginya atau tidak—karena sejak meninggalkan dorm kala itu, Taehyung sengaja mensilent semua pesannya.
Termasuk juga di Whatsapp, makanya Taehyung menscroll kebawah dan matanya menangkap empat puluh pesan tak terbaca yang dikirimkan dari Jungkook.
Hyung
Hyung
Kamu kemana sih?!
Hyung
Halooooo
Apa kamu tidak ada pulsa?
Mau aku belikan?
Hyungggg
Taehyung tersenyum membaca semuanya. Dia membayangkan bagaimana wajah Jungkook yang kesal saat mengetik ini semua.
Kemudian Taehyung membaca semua isi dari pesan tersebut yang kebanyakaan seperti 'spam' baginya. Sampai dia membaca tujuh pesan terakhir yang membuat dadanya menjadi sesak tidak menentu.
Hyung bagaimana kabarmu?
Entah sekarang kamu berada dimana, tapi … ah tidak jadi
Tae hyung, tadi Jin hyung bilang padaku saat di Tokyo dia melihatmu, benarkah hyung datang? Tapi aku kok tidak melihatmu ya kalaupun apa yang dikatakan Jin hyung benar aku sungguh senang! Terima kasih sudah mau datang hyung sampai ketemu lagi!
Hyung, aku sudah tau tentang perusahaanmu tadi. Telat sekali bukan? Hyung-hyungku seperti tidak ingin aku tau awalnya tapi kemudian aku melihatnya di berita pagi itu, sungguh kamu tidak mau memberitahuku?
Pesanku tidak ada satupun yang dibalas, di read saja tidak. Telfon bahkan begitu. Aku tadi kerumah orang tuamu, penjaga bilang ibumu menyusul ketempat ayahmu berada dan kamu tidak ada di Korea saat ini, hhh aku tak tau lagi kamu ada dimana sekarang hyung
Apa aku ada salah? Bagian mananya yang salah hyung? beritahu aku jangan seperti ini. Apa karena saham perusahaanmu itu? Aku sungguh ingin membantu tapi aku tidak tau harus melakukan apa hyung.. jaga kesehatan ya? Aku tau kamu seorang yang workaholic terlebih adanya masalah seperti sekarang. Aku mendoakan yang terbaik untuk semuanya, good night hyung!
Dan pesan terakhir yang lebih singkat hanya satu kalimat yang terdiri dari dua kata ;
Aku merindukanmu.
Dikirim pukul tiga pagi dan setelahnya Jungkook tidak pernah lagi membuka Whatsappnya.
.
.
London Heathrow sore ini tampak ramai, selain banyaknya jumlah penumpang ternyata alasan lainnya adalah Bangtan yang akan pulang ke Korea setelah menghadiri konser di Negara ini. Fans-fans tampak mengerumuni pintu luar, saat sebuah mobil van berwarna putih itu terhenti.
Penjagaan di perketat, satu persatu member Bangtan keluar dari mobil dengan membawa barang masing-masing. Jungkook memakai kemeja berwarna abu-abu yang dimasukan kedalam celana beralan santai masuk kedalam airport besar itu. Setelah check in selesai dia menyipitkan matanya karena melihat seseorang yang sangat familiar.
"Itu..Tae hyung?"
Orang itu berjalan dengan santai sambil membaca beberapa lembar kertas yang tengah dipegangnya. Jungkook juga melihat bagaimana Hoseok tampak berjalan disamping bosnya dengan membawa satu cup kopi yang masih mengepul.
Dia meremas pelan celana denimnya, jadi ternyata Taehyung ada disini?
Dia pun kesal karena saat siang tadi, dimana hyung-hyungnya memutuskan untuk berjalan sebentar menikmati indahnya kota London—meninggalkan Jungkook seorang diri di kamar hotelnya, dan karena dia tidak ada kerjaan, Jungkook membuka kembali Whatsappnya dan betapa terkejutnya dia ternyata pesan yang selama ini di kirim kepada Taehyung ternyata sudah di baca.
Jungkook merasa bodoh, jadi Taehyung telah membaca semua pesannya tanpa ada niatan untuk membalas sedikitpun? Matanya melihat kapan terakhir kali Taehyung terlihat, jam dua belas lewat lima siang. Itu berarti lima menit yang lalu, "huh memangnya pesanku itu dia anggap Koran?!"
Akhirnya saat melihat badan tegap itu berjalan mendekat, Jungkook dengan perasaan marah sampai ke ubun-ubun menabrakan diri ke Taehyung. Membuat kertas yang sangat banyak itu berhamburan dan jatuh ke karpet tebal yang ada di dalam airport.
Jungkook mendongak, ingin tau bagaimana reaksi Taehyung saat bertemu dengannya seperti ini. Tapi ternyata Taehyung hanya menatapnya sekilas dan beralih menatap kertas-kertas itu yang sekarang sudah terjatuh manis ke bawah.
Karena tau ini berlebihan Jungkook akhirnya berjongkok, mengumpulkan kertas-kertas itu dan memberikannya kembali kepada Taehyung, dia berdiri menyerahkan kertas itu namun Taehyung malah berjalan mendahuluinya, tanpa menoleh, dan berkata apapun.
"Ah, terima kasih aku harus pergi sekarang" Hoseok mengambil kertas yang berada di genggaman tangan Jungkook—sementara Jungkook tidak mampu berkata apa-apa lagi sampai tangannya di tarik paksa oleh Yoongi, menyuruhnya untuk segera masuk ke pesawat.
.
.
TBC
Haloo adakah yang menunggu ff ini?
Udah mau sebulan deh kayanya, aku juga lupa hehehe maafkan!:D
Maaf ya kalo ada typo karena di edit cuman sekali, dan selamat membaca!:)
