[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]
[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]
.
.
VKOOK
.
Dentuman suara musik menggema keras di ruangan ini. Para DJ dengan semangat menjalankan pekerjaannya untuk menghibur semua orang yang datang. Aroma alkohol menyerbak luas di ruangan tersebut. Sepasang muda mudi yang tengah di mabuk cinta juga tak luput dari pandangan mata siapapun yang mengarahkan irisnya ke sudut-sudut ruangan.
GreenBurz's Club.
Nama dari salah satu club terkenal di kalangan para konglomerat ini menyediakan berbagai macam hiburan yang mampu membuat pengunjungnya sejenak melupakan masalah yang tengah dihadapi. Tak heran banyak sekali orang yang datang, termasuk juga dengan Taehyung.
Ya Taehyung yang sekarang tengah meminta di tambahkan lagi minuman keras itu tampak tak peduli dengan ocehan Hoseok—sekretarisnya yang menyuruh untuk berhenti. Membicarakan bahwa besok dia akan rapat kembali membuat Taehyung tampak semakin muak.
Dia tengah berada di titik lelahnya sekarang. Dia jenuh dengan semuanya. Dia benar-benar sudah sangat kesal dengan ayahnya, Kim Chanyeol. Segala sumpah serapah sudah dikeluarkan bibir tipis itu sejak tadi kepulangannya dari kantor.
Berbagai kata kasar, menyumpahi mati pun sudah dia ucapkan, tapi rasa amarah masih tetap ada. Taehyung hanya ingin Jungkook. Dia tau untuk seorang yang mendominasi, Taehyung adalah pengecut. Dalam hati berteriak, kenapa tidak diam-diam saja mengunjungi Jungkooknya walaupun dia tau, mata-mata kepunyaan Chanyeol berada di sekitar.
Taehyung tidak tau dimana sekarang kelinci kecilnya itu. Bagaimana kabarnya dan lain-lain. Sewaktu mereka berpapasan di badara, Taehyung tau bahwa Jungkook sengaja melakukan itu, dia sangat tau. Tapi sekali lagi si keparat Chanyeol dengan mata-mata supernya itu seolah memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Karena Taehyung tidak ingin terjadi apa-apa pada Jungkook. Dia ingin melindunginya, dan terlebih Taehyung dengar Bangtan Boys sebentar lagi akan comeback dan merilis album baru. Taehyung tak ingin segala kerja keras Jungkook dan kawannya harus sia-sia hanya karena Chanyeol yang bertindak semaunya.
Makanya setelah Jungkook menabraknya waktu itu, Taehyung hanya melihat wajah Jungkook sebentar dan langsung memasuki pesawat. Dia takut tidak bisa mengontrol kendali tubuhnya lagi apabila terlalu lama menatapnya.
Dan akibat itu, mood Taehyung selama berada di pesawat menjadi bertambah buruk.
Taehyung meminum gelas ke limanya malam ini, gelas ukuran besar yang mampu menampung setengah botol bir mahal yang di pesannnya. "Presdir, anda harus berhenti sekarang juga!" Hoseok berteriak di telinga Taehyung.
Tapi tampaknya dia tak peduli, Taehyung kembali mengisi gelasnya yang kosong dan meminumnya lagi.
"Taehyung! Kau harus berhenti. Dengar apa kataku!" Hoseok sudah kembali memanggil namanya. Tidak di hiraukan oleh Taehyung, dia hanya ingin melepaskan bayang wajah Jungkook dari benaknya saat ini, melepaskan semuanya.
"Hoseok-ah—aku sangat lelah setiap waktu, dan itu menyita pikiranku. Kenapa aku tak bisa fokus, kenapa aku tidak bisa melakukan apapun, mencapai sesuatu, atau hal lainnya. Aku merasa seperti terperangkap, rasanya seperti aku terjebak di dalam kursi roda padahal aku tau bagaimana caranya berjalan. Kenapa aku tidak bisa pergi keluar dan menikmati hariku. Kenapa aku tidak bisa bersikap berani. Kepalaku seperti mau pecah, aku memberitahu diriku untuk menyerah. Aku merasa tidak pernah cukup. Aku bukan siapa-siapa"
.
.
Hoseok tampak bersusah payah membawa bosnya tersebut pulang ke apartemennya. Menyangga tubuh Taehyung yang berat dan membawanya masuk. Jika boleh menyuarakan apa yang ia pikirkan sekarang, Hoseok sangat tidak tega kepada bosnya yang sudah dia dikenal sejak Taehyung masih menjabat sebagai General Manager di perusahaan tempatnya bekerja.
Dia menaruh Taehyung di tempat tidur yang beralaskan selimut biru kelam itu. Membuka sepatu Taehyung dan menyelimutinya. Kemudian dia berjalan keluar kamar tidur, mengambil ponselnya dan mulai mencari nama seseorang.
Hoseok menelfon Jungkook. Bertanya terlebih dahulu dimana tepatnya dia berada, setelah tau bahwa ternyata Jungkook sudah di dorm, Hoseok meminta dengan sangat kepada Jungkook untuk datang ke apartemen Taehyung sekarang.
"Baiklah aku akan menjemputmu di basement"
Segera dia mematikan sambungan telfon itu. Untungnya Jungkook mau dan mengiyakan. Dia pikir Jungkook akan dendam karena saat di bandara dengan sangat tidak berperikemanusiaan Taehyung meninggalkannya begitu saja, tapi ternyata dia mau datang. Syukurlah.
Hoseok masuk ke dalam mobil berwarna putih itu. Beruntungnya kaca mobil semuanya adalah gelap, jadi dia tidak takut dengan privasi mereka. Lalu Hoseok menceritakan semuanya pada Jungkook. Bercerita bahwa sebenarnya Taehyung sedang banyak masalah.
"Dia sekarang mabuk" Hoseok berbicara kepada Jungkook, dan dia meminta tolong sekali lagi untuk mengurusi Taehyung, karena dia tidak bisa berada dua puluh empat jam bersama bosnya tersebut.
Hoseok pun berkata bahwa jadwal Taehyung untuk besok akan dia kosongkan, jadi Jungkook masih mempunyai banyak waktu bersama dengan Taehyung. "kalian bisa membicarakannya besok" kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Hoseok.
Semetara Jungkook hanya terkaget akan kalimat itu, bagaimana dia tau bahwa Jungkook sedang mempunyai sedikit masalah dengan Taehyung? "pasti ada masalahkan?" Hoseok kembali bersuara "aku tak mau ikut campur, jadi enaknya bagaimana itu terserahmu. Tapi aku mohon untuk tidak menambah beban Taehyung lagi"
Jungkook hanya mengangguk, dia lantas keluar dari mobilnya dan langsung memakai masker hitam beserta kacamatanya itu. Hoseok mengantarnya sampai ke lift pribadi yang tersedia untuk penghuni apartemen khusus ini. Lift yang akan membawanya langsung menuju kamar Taehyung.
Membuat Jungkook bernafas lega akan sistem keamanan di apartemen tersebut. Jungkook mengucapkan terima kasih dan kemudian Hoseok menghilang dari pandangannya.
.
.
Jemarinya memasukan beberapa kombinasi angka di samping pintu apartemen. Dengan segera bunyi 'click' terdengar dan kunci otomatis pintu berwarna hitam pekat terbuka. Ternyata apartemen Taehyung sangat mewah-seperti yang sudah Jungkook bayangkan sebelumnya.
Tapi Jungkook hanya ingin segera mencari sosok Taehyung, dengan menebak dia mulai mencari dimana tepatnya letak kamar kekasih palsunya tersebut. Kemudian dia melihat sebuah pintu geser yang tepat berada di ujung lorong, dengan pelan-pelan dia menggesernya.
Lampu di dalam ruangan itu menyala dan di kasur matanya dapat menangkap sesosok manusia yang tengah tertidur dengan masih mengenakan pakaian kantor. Jungkook melihat dari ujung kaki sampai rambut, ternyata Hoseok hanya melepaskan sepatu kepunyaan Taehyung.
Jungkook berdiri mengamati Taehyung yang tengah tertidur. Lalu dia mulai mendekat, merapihkan helaian rambut hitam itu yang terlihat berantakan, menyusuri setiap inchi wajahnya dan mengagumi sosok tersebut.
Kemudian kelopak mata itu terbuka, sontak membuat Jungkook menghentikan acara mengelusnya dan mulai menatap Taehyung yang juga tengah menatapnya. Mata Taehyung memerah, dengan urat-urat halus di dalam bola matanya—khas orang mabuk.
Tapi Taehyung tidak bergerak sama sekali, dia hanya memandang Jungkook dalam diam.
"Aku mabuk. Dan kamu masih satu-satunya hal yang berputar di pikiranku, bahkan ketika pembuluh darahku bercampur dengan alkohol dan kesedihan" Taehyung berucap pelan tapi tetap masih bisa di dengar oleh Jungkook.
Sementara Jungkook hanya bisa mengelus pipi itu lagi dan mulai beranjak menaiki kasur. Menarik selimut tebal tersebut dan memeluk Taehyung dari belakang.
.
.
Waktu seolah berputar dengan cepat, tak sadar pagi sudah menjelang. Kim Taehyung merasa perutnya seperti di aduk dengan spatula raksasa berkecepatan maximum, dia merasa mual. Maka dia segera bangkit dan mulai berlari ke kamar mandi. Memuntahkan seluruh isinya ke dalam wastafel itu.
Jungkook langsung terbangun karena mendengar suara yang berisik. Melihat ke samping ternyata Taehyung sudah bangun, dia lalu mengarahkan pandangannya ke kemar mandi yang pintunya setengah terbuka, dengan penasaran Jungkook mulai berjalan.
Dia melihat Taehyung tengah menunduk, mengeluarkan semua isi perutnya. Jungkook langsung saja memposisikan badannya tepat di samping Taehyung memijat pelan tengkuk pria itu dan dia mendapati tubuh Taehyung tersentak kaget. Taehyung melihat ke arahnya terkejut.
"Jungkook?!"
Jungkook hanya bisa memberikan senyum lebarnya, kemudian Taehyung berkata kembali "bagaimana kamu bisa disini?" lalu Jungkook menjelaskan semuanya, bahwa dia tiba-tiba mendapatkan terlfon dari Hoseok dan menyuruhnya ke apartemen ini.
Taehyung lalu keluar dari kamar mandi, mengecheck ponselnya dan mendapati beberapa pesan dari sang sekretaris yang berkata bahwa hari ini jadwal untuk CEO Kim Ent di kosongkan. Dia pun meminta agar Taehyung beristirahat seharian dan untuk urusan kantor, Taehyung bisa mempercayainya.
Kemudian Taehyung merasa kepalanya pusing kembali. "hyung sebaiknya tidur saja, ne?" Jungkook dengan sigap membawa tubuh itu ke tempat tidur dan membaringkannya. " apa kamu mau berganti baju?" Jungkook berbicara kembali, Taehyung hanya mengiyakan dan memberitahu dimana dia menyimpan semua bajunya.
Tak berapa lama Jungkook mengambil satu buah kaos polos berwarna cokelat gelap dan celana training hitam. "mau aku pakaikan?" sementara Taehyung hanya menggeleng "tidak usah Jungkook-ah. Terima kasih"
Jungkook hanya mengangguk, lalu membawa kakinya keluar kamar. Dia berniat membuatkan Taehyung bubur dan sup kaldu agar hangover pasca mabuk semalam dapat hilang dengan segera. Beruntungnya persediaan bahan makanan serta bumbu di dapur milik Taehyung ini lengkap, jadi Jungkook tidak perlu turun dan membeli di supermarket.
Setelah Taehyung selesai berganti baju dia kembali membawa tubuhnya yang lemas ke tempat tidur. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Berarti yang semalam bukan mimpi?!" teriaknya frustasi. Sial, dia kira semalam bayang-bayang wajah Jungkook yang terasa dekat dengannya itu hanya mimpi, dia kira Jungkook yang tengah mengelus pipinya hanya mimpi tapi ternyata, itu semua asli.
Taehyung mengusap kasar wajahnya dengan cepat, mengerang menahan malu. Dia malu karena merasa seperti bayi yang keenakan dielus oleh ibunya hingga tertidur. Sibuk memikirkan betapa memalukan dirinya semalam, lama-kelamaan Taehyung tidak dapat menahan kantuknya, dan beberapa menit kemudian dia tertidur.
Entah mengapa dia merasa bahwa tidurnya kali ini sangat nyenyak. Tidak memikirkan urusan kantor, dan lain-lain. Tapi kemudian telinganya mendengar bunyi. Seseorang tampak memasuki kamarnya lagi dan Taehyung tau itu siapa.
Inginnya membuka mata tapi kantuk masih menguasi.
"Tae hyung" Jungkook memanggil namanya dengan lembut, aroma bubur serta sup mulai memasuki indera penciumannya membuat dia lapar seketika. Jemari hangat Jungkook mulai menepuk kedua pipi Taehyung, dan pada akhirnya dia mulai membuka mata.
"Ini makanlah, isi perutmu dulu" Jungkook mengambil nampan itu dan menaruhnya di paha Taehyung. Taehyung hanya mengangguk lalu mulai mengambil sendok dan memakannya dengan lahap. Jungkook hanya melihat, dan tak berapa lama makanan itu habis tanpa sisa. Dengan segera dia mengambil gelas yang berisi air putih dan menyerahkannya pada Taehyung.
Lalu dia membawa nampan itu ke dapur lagi, mulai mencuci satu persatu piring yang di pakai. Di lain tempat, Taehyung mengerang kembali dia benci dengan suasana canggung dan dia baru saja mengalaminya dengan Jungkook.
Dan Taehyung berpikir sekarang mungkin penampilannya sangat berantakan. Harusnya Jungkook tidak melihatnya dalam keadaan yang seperti ini. Dia lalu mulai beranjak memasuki kamar mandi dan mulai mencuci mukanya.
Setelah selesai dia keluar kamar dan mendapati Jungkook yang masih mencuci piring. "Jungkook-ah" panggilnya sambil berdiri di sebelah meja makan. Jungkook menengok dan mengeringkan tangannya dengan asal, lalu berjalan mendekat "ada apa hyung?"
Taehyung hanya memberi isyarat kepada Jungkook untuk mengikutinya ke ruang tengah dimana terdapat sofa dan televisi ukuran sedang berada. Jungkook mengikuti dan mereka berdua duduk bersebelahan di sofa empuk itu tapi Taehyung maupun Jungkook hanya diam, sampai kemudian Taehyung memberanikan diri untuk bersuara.
"Bagaimana konsermu?"
"Semuanya sukses hyung—aku tau kamu menonton dan aku senang gomawo"
Taehyung kemudian tertawa pelan, "darimana kamu tau?"
"Hanya feeling"
Dan kemudian hening lagi, secara bersamaan Jungkook menaruh kepalanya di bahu Taehyung. Bersandar dengan nyaman.
"Hyung, kamu pasti lelah ya mengurusi semua masalah pekerjaan itu" Jungkook bersuara sambil menutup kedua matanya.
"Bebanmu pasti sangat banyak"
Taehyung hanya mengusap kepala Jungkook dengan sebelah tangannya "tidak apa-apa—dan maaf untuk yang di airport waktu itu"
Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin Taehyung sampaikan kepada Jungkook-semuannya. Tentang perusahannya atau tentang ayahnya, tapi dia tidak bisa. Jungkook menurutnya masih terlalu kecil untuk tau masalah serumit ini.
Tiba-tiba saja Taehyung merasa ada yang memegang tulang rahangnya. Ternyata Jungkook tengah melihatnya dengan tatapan yang intens dan membuat Taehyung ikut menunduk melihat mata itu. Kepala Taehyung di dorong oleh tangan Jungkook hingga menyebabkan bibir mereka bertemu. Jungkook menciumnya dengan lembut dan penuh kasih.
Taehyung mulai merasa bagaimana tekstur lembut dari bibir Jungkook mulai menyapa bibirnya. Rasanya manis—dan dia mengira bahwa Jungkook memang sudah memakai pelembab dengan rasa strawberry.
Lama kelamaan ciuman itu menjadi bertempo cepat, Jungkook sudah tidak lagi bersandar di pundak Taehyung, dia sekarang tengah duduk di pahanya. Sementara Taehyung memegang punggung Jungkook, dan dia mulai merasakan bahwa Jungkook tengah memeluknya erat.
Tubuh mereka menyatu, tidak ada jarak sama sekali.
Televisi yang berada didepan mereka seolah terabaikan begitu saja. Hanya terdengar beberapa suara si pemeran utama yang tengah berbicara dengan lawan mainnya.
Tauran bibir mereka terlepas beberapa saat kemudian. Nafas keduanya tidak beraturan. Taehyung maupun Jungkook memandang satu sama lain. Mereka menarik sudut bibir itu bersama. Tersenyum seolah telah melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka bahagia.
Taehyung melirik bibir kepunyaan Jungkook yang sekarang terlihat beberapa kali lebih menggoda dari sebelumnya, dia lalu mulai mencium kembali, tapi kali ini kedua tangannya tidak tinggal diam. Taehyung mulai meraba-raba daerah privasi milik Jungkook.
Jungkook hanya bisa mendesah, ini terlalu nikmat apalagi saat Taehyung memelintir putingnya. Isapan pada bibirnya pun semakin kuat. Dia lemas, Taehyung memang sangat ahli sampai Jungkook merasa kewalahan mengimbangi permainan ini.
Semakin lama bibir milik Taehyung mulai turun ke leher putih Jungkook. Mengendusnya dengan erotis dan itu membuat Jungkook terkikik geli.
Taehyung menjilat perpotongan leher Jungkook, dapat Jungkook rasakan bagaimana lidah hangat Taehyung mulai bermain disana. Itu semakin membuat Jungkook tidak tahan. Dia mendesah dengan keras sambil meremas bahu kokoh Taehyung.
"Hyungggh~"
Taehyung semakin kuat menghisap leher itu, menciptakan sebuah tanda kemerahan yang besar dan meninggalkan bercak yang kentara. Awalnya Taehyung berpikir bahwa Jungkook tidak ingin dia membuat tanda kepunyaan tersebut di lehernya—tapi dia tidak mendapati Jungkook yang protes dan bagi Taehyung, Jungkook tidak mempermasalahkannya.
Mungkin mereka berdua sudah mulai ditutupi oleh kabut nafsu dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya mendapatkan nikmat yang lebih dari ini.
Taehyung mulai meremas kedua bongkahan bokong Jungkook yang kenyal itu dengan tangan kirinya. Bibir yang sedari tadi di pakai untuk membuat 'tanda' sekarang sudah berpindah lagi ke bibir Jungkook yang bengkak dan berwarna merah. Taehyung menciumnya lagi.
Mereka berdua melenguh bersama, menikmati bagaimana setiap inchi tubuh mereka bergetar penuh hasrat sampai tiba-tiba sebuah teriakan menyadarkan mereka—
"Holy Shit!"
Taehyung maupun Jungkook menoleh ke arah pintu masuk. Jungkook melihat seorang pria dengan kemeja biru itu yang menurutnya tampan tampak terkaget, bola matanya hampir sama dengan burung hantu seperti mau keluar.
Kemudian Jungkook sadar, dia malu pasti saat ini tampilannya berantakan. Dengan cepat dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Taehyung, "hyung aku malu sekali" Jungkook berkata dengan pelan sambil megeratkan pelukan di tubuh Taehyung.
Taehyung hanya tertawa lalu mengecup pucuk kepala Jungkook cepat. Dia lalu melihat orang itu yang masih terdiam kaku, "ada apa Bogum-ah?"
Orang yang bernama Park Bogum itu tersadar, menggarukan kepalanya dan memasang wajah blank. Dia seketika lupa apa tujuannya kesini. Semuanya buyar saat melihat Taehyung sedang foreplay dengan kekasihnya yang bernama Jungkook.
Bogum tau itu, seorang idol dari boyband Bangtan. Dia kira Taehyung maupun Jungkook sudah jarang bertemu tapi sekarang malah—
"Wtf"
Bogum mengumpat, sementara Taehyung masih berusaha menjauhkan wajah Jungkook dari dadanya tapi Jungkook tetap menggeleng dan terus berujar tidak mau. Dia masih memeluk erat Taehyung. Pada akhirnya Taehyung menyuruh Bogum untuk menunggu sebentar. Dia mulai bangkit, masih dengan Jungkook yang seolah menempel erat padanya.
Dia membawa Jungkook ke kamar pribadinya, menaruh pemuda menggemaskan ini di tempat tidur dan berkata "sekarang hanya ada aku, Jungkook" Jungkook mulai melepaskan pelukannya dan turun dari badan Taehyung.
"Aku malu sekali hyung, baru kali ini di lihat orang" kemudian Jungkook bertanya kepada Taehyung siapa pria yang bertamu itu, Taehyung menjelaskan bahwa itu adalah sepupu jauhnya dan Jungkook hanya mengangguk mengerti.
Jungkook lalu berjalan ke kamar mandi, berniat untuk merapikan dirinya. Taehyung mengetuk pintu kamar mandi itu, memasukan sedikit kepalanya kedalam dan berkata "kalau sudah selesai keluar ya" dan Jungkook menjawab iya.
Taehyung melangkah, dia melihat Bogum yang sekarang tengah menonton film dengan serius, "jadi ada apa?" Bogum langsung menyerahkan map berwarna putih itu kepada Taehyung. Sambil mengerutkan keningnya Taehyung dengan segera membuka map tersebut.
Matanya melihat bagian paling atas di sebuah kop surat tersebut dan disana tertulis nama notaris serta firma hukum yang sudah amat dikenalnya. "wasiat dari kakek sudah dibuka" Bogum kembali bersuara, tapi matanya masih berfokus kepada setiap adegan yang di tampilkan film tersebut.
Taehyung kaget, tapi sebelum dia bertanya Bogum kembali menjelaskan. "Seperti yang kau tau kakek sudah tertidur cukup lama, dan keluarga inti sudah memutuskan untuk membuka wasiat itu—pengacara kakek pun mengizinkan"
"Tapi bukankah itu seperti menganggap kakek sudah tiada?!" Taehyung meremas kertas itu. Dia merasa marah pada keluarga intinya, dan dia tiba-tiba saja langsung berpikir mengenai Chanyeol. Taehyung sungguh tidak dapat memaafkan ayahnya itu jika dia juga terlibat dengan ini.
Taehyung membaca surat itu lagi. Di sana dia mendapatkan informasi bahwa ayahnya Kim Chanyeol akan mendapatkan bagian paling besar karena dia adalah anak pertama kemudian Taehyung hanya mendapat harta sebanyak 12% dari kekayaan kakeknya, tapi dia tidak terlalu peduli.
"Kau seharusnya senang"
"Aku tak butuh ini semua Bogum-ah"
Bogum kemudian memukul keras pundak Taehyung, "kau hanya butuh dia begitu? Mukanya manis apalagi bibirnya yang memerah itu"
Taehyung membalas, memukul sepupunya itu dengan lebih kuat, "dia milikku!"
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat. Jungkook dengan penampilan yang lebih enak di pandang berjalan menghampiri sepasang saudara itu. Bogum langsung bangkit, dia mengulurkan tangan kanannya pada Jungkook.
"Hallo namaku Park Bogum, sepupu jauh Taehyung"
Jungkook membalas uluran tangan itu, dia tersenyum "namaku Jeon Jungkook. Salam kenal Bogum hyung"
Taehyung yang melihatnya hanya mendelik malas, dia lalu terbatuk dengan sengaja lantas membuat Jungkook maupun Bogum melepas tautan tangan mereka.
Dan akhirnya Bogum pamit untuk pulang, Taehyung mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Aku menunggu kabar selanjutnya, hati-hati di jalan BogBog!"
.
.
Tak terasa sekarang ternyata sudah siang, matahari semakin meninggi dan membuat Taehyung merasa lapar kembali.
"Jungkook-ah apa kamu hari ini tidak ada jadwal?" Jungkook menjawab bahwa nanti sore dia akan kembali ke kantor agensinya untuk menyiapkan album baru. Lalu Taehyung menawarkan untuk mengantarkan Jungkook, tapi di tolak dengan halus.
"Aku membawa mobil hyung"
"Kalau begitu bisa antarkan aku ke kantor?" pinta Taehyung dan di iyakan oleh Jungkook.
Jungkook tiba-tiba saja ingin makan bulgogi pedas. Tapi mereka berdua terlalu malas untuk berjalan keluar jadinya Taehyung menelfon restaurant yang menjual makanan tersebut, memesannya dan langsung di antarkan ke apartemennya.
Menunggu selama empat puluh menit, akhirnya pesanan mereka datang.
Jungkook membawa makanan mereka ke ruang tengah, inginnya makan siang sambil menonton acara musik. Dia makan sambil bernyanyi lalu matanya menangkap Taehyung yang tampak bingung melihat acara tersebut.
"Hyung jangan bilang kamu tak tau boyband ini?!" dan Taehyung hanya mengagguk. Jungkook pun langsung kehilangan semua kata-katanya.
.
.
Taehyung mandi terlebih dahulu, memakai kembali pakaian kantornya dan bersiap. Sementara Jungkook masih membersihkan diri di dalam. Sebenarnya Taehyung ingin meminjamkan beberapa baju untuk dapat di pakai Jungkook tapi ditolak olehnya, dia menjawab bahwa bajunya masih bersih dan tidak bau jadi Taehyung tak perlu untuk meminjamkannya.
Setelahnya mereka berdua turun dan langsung menuju basement. Sekarang Jungkook harus mengantarkan Taehyung terlebih dahulu.
Sebenarnya ada suatu hal yang ingin Jungkook sampaikan pada Taehyung tapi dia berusaha untuk menahannya. Semakin kesini, fokus Jungkook seoleh terbelah. Pikirannya terus saja memikirkan kata-kata yang pas untuk di ucap, tapi hatinya berkata bahwa dia seharusnya tidak mengatakan itu.
Gedung perusahaan Taehyung sudah terlihat dari jauh karena tingginya yang menjulang dan terlebih seluruh komponen gedung itu adalah kaca. Jungkook memegang stir mobil dengan kuat, dalam hati berteriak ingin membicarakan hal ini kepada Taehyung.
Tapi sampai dia memberi sein belok kiri dan memasukan mobilnya tepat di lobby utama Jungkook tetap mengunci mulutnya.
"Terima kasih Jungkook-ah" Taehyung melepaskan sabuk pengaman itu dan mengelus rambut Jungkook. Sementara dia hanya diam, tapi akhirnya kata-kata itu seolah keluar begitu saja, mengalir tanpa beban walaupun Jungkook tidak bisa menatap langsung ke arah wajah Taehyung karena dia memang tidak sanggup.
"Hyung, kita ini apa? Aku tak mengerti dengan hubungan kita. Kadang kita seperti teman, kadang kita lebih dari itu, dan kadang aku seperti orang asing bagimu. Satu hari kamu sangat memperhatikanku, tapi di hari berikutnya kamu selalu mengabaikanku. Aku hanya berharap kamu dapat menjelaskannya—karena aku bingung. Aku tak tau apa yang kamu mau"
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban Jungkook akhirnya memberanikan diri untuk menoleh. Dia dapat melihat Taehyung yang ternyata tengah menatapnya tapi kemudian dering telfon yang berasal dari ponsel milik Taehyung menghancurkan keheningan itu.
"Hallo?"
Taehyung menjawab, raut wajahnya berubah drastis. Jungkook dapat menebak bahwa mungkin itu adalah masalah yang sangat gawat. Kemudian Taehyung menatap Jungkook masih dengan telfon yang berada di telinga, dia mengusap lagi surai itu dan berkata, "hati-hati di jalan, Jungkook-ah"
Dan setelahnya pintu mobil itu ditutup dengan cepat. Membuat Jungkook makin di landa kebingungan yang hebat.
.
.
TBC
.
.
[BTS NEW SONG 'BLOOD SWEAT & TEARS' IS FLYING UP THE CHARTS!] sumpah gue bangga banget sama mereka.
