[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]

[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]

.

.

VKOOK

.

Rabu itu di dalam sebuah ruangan besar terdapat dua orang pria tengah menyantap sarapannya bersama. Pria berdasi cokelat tampak dengan tenang memasukan potongan croissant berisi keju ke dalam mulutnya, sementara pria satunya yang duduk di bangku sebrang tengah meminum kopi hitam itu dengan nikmat.

Pria bernama Kim Taehyung mengambil sebuah remote televisi yang tergeletak begitu saja di meja dan mulai menekan tombol, layar datar tersebut perlahan mulai menampilkan gambar. Mata mereka berdua menatap sebuah acara berita yang sedang di tayangkan.

Selang beberapa menit, pembawa acara itu membacakan headline berita mengenai comeback boyband yang sedang ditunggu-tunggu. Lalu munculah gambar kelima personel BTS tersebut.

Di bawah tertulis bahwa grup Bangtan sudah memecahkan rekor baru dalam perindustrian K-pop karena lagu yang baru saja mereka rilis sudah menembus angka jutaan viewers di Youtube.

Hoseok yang sudah selesai menyantap sarapannya langsung berkata, "kau tak memberikannya sesuatu?"

Taehyung mengangkat sebelah alisnya, masih memotong croissant dalam diam. Dia hampir saja tidak tau mengenai comeback ini jika tidak menonton berita. Benar-benar buruk.

"Menurutmu aku harus memberinya apa?" Taehyung bertanya balik.

"Bunga mugkin?"

.

.

Setelah menyelesaikan sarapan bersama sekretaris pribadinya itu Taehyung memiliki jadwal untuk berkunjung ke anak perusahaannya yang berada di daerah Apgujeong. Hoseok berada di kiri, memegang kemudi dan langsung membawa atasannya itu kesana.

Mereka hanya dua jam berada di perusahaan tersebut, Taehyung melihat laporan keuangan secara langsung dan memantau apa saja yang karyawannya lakukan. Sedikit mengobrol dengan kepala cabang di kantornya lalu memutuskan untuk pulang ketika hari beranjak siang.

"Kau mau membeli bunga itu sekarang? Aku tau tempat yang bagus" Hoseok berbicara sambil matanya tetap fokus pada jalanan didepan. Taehyung yang sedang melihat layar laptopnya hanya bergumam, karena dia percaya pada saran rekan kerja sekaligus teman dekatnya itu.

Taehyung melangkah masuk ke dalam sebuah toko bunga yang mirip seperti rumah kaca tersebut dengan tenang. Dia disambut oleh seorang wanita paruh baya yang mungkin sudah mempunyai anak seumuran dengan Jungkook.

"Selamat datang, ada yang bisa aku bantu?"

"Aku mencari bunga untuk seseorang.." Taehyung menggaruk kepalanya bingung. Dia ingin mengatakan bahwa bunganya itu nanti akan diberi untuk kekasih—settingannya yang seorang idol, tapi setelah dipikirkan kembali itu tidak mungkin'kan?

"Apa untuk seseorang yang spesial?" tebak lawan bicaranya.

Taehyung hanya mengangguk cepat. Dia tersenyum mengingat raut senang Jungkook yang terekam kedalam memorinya. Sementara wanita tersebut hanya tertawa pelan lalu tangan kanannya menunjuk sebuah buket bunga mawar merah yang sudah dihias cantik dalam sebuah kotak bundar berwarna putih.

Karena Taehyung tak tau mana yang bagus dan tidak ingin ambil pusing dia segera memilih bunga tersebut dan meminta selembar kertas untuk menulis sesuatu.

Wanita dengan dress motif kumbang itu membawa Taehyung menuju sebuah meja di dekat kasir dan meninggalkannya, dia pikir Taehyung membutuhkan sedikit ruang karena akan menuliskan surat untuk seseorang yang spesial. Maka dari itu setelah si pemilik pergi, dia lantas mengambil satu lembar kertas dan mengeluarkan pulpen dari jasnya lalu mulai menulis.

Awalnya dengan tanpa sadar tangan kanan Taehyung menulis sebuah kalimat permintaan maaf karena tidak sempat membalas perkataan Jungkook ketika itu. Dia pun ingin menjelaskan bahwa sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengan pemuda itu yang mana terjadi di depan universitas Jungkook, Taehyung sudah jatuh hati.

Tapi kemudian dia sadar jika nanti suratnya ini dibaca dengan member BTS yang lain, mau ditaruh dimana wajahnya ini? Hilang sudah karakter dinginnya di depan semua teman-teman Jungkook itu. Lagipula untuk apa disurat? Toh dia bisa membicarakannya langsung, Taehyung terkekeh mengejek dirinya sendiri yang sudah mau menginjak angka tiga puluh ini namun masih terlintas untuk bermain surat menyurat seperti remaja.

Jadinya dia membuang surat tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Dia menulis ucapan selamat karena BTS akhirnya comeback dan memecahkan rekor. Dia pun berkata bahwa semua lagu yang berada di album Wings sudah di downloadnya.

Setelah selesai dia melipat surat itu dan kemudian wanita tadi yang entah menghilang kemana tiba-tiba datang menghampiri, "sudah?"

Taehyung mengangguk lantas menyerahkan satu buah kredit cardnya dan mulai bertransaksi.

Dia pun memakai jasa kurir antar barang, karena jadwal kerjanya yang begitu padat. Dalam hati Taehyung hanya berharap semoga Jungkook mengerti dan bisa menunggunya untuk bertemu. Karena dia pun sebenarnya sudah tidak bisa menahan perasaan ini, perasaan rindu yang mendalam terhadap pemuda Jeon tersebut.

.

.

Minggu ini Bangtan Sonyeondan akan melakukan promosi lagu baru mereka di beberapa stasiun televisi. Membuat jadwal mereka semakin padat dan akhirnya kesemua anggota hanya mampu untuk mengistirahatkan diri sekitar tiga sampai empat jam sehari.

Namjoon sebagai seorang leader mempunyai tanggung jawab untuk mengurus ke empat member lain dan membuat mereka untuk tetap sehat bugar selama masa promosi berjalan. Seperti saat ini dimana mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu stasiun yang terletak di Cheongdam-dong, Namjoon menyuruh mereka semua untuk tidur sejenak.

Semuanya mengangguk patuh dan segera menutup mata. Termasuk dengan Jungkook masih memakai masker hitamnya yang tak dilepas sama sekali dia mulai menutup kelopak mata itu karena berat dan membuatnya tidak tahan.

BTS telah sukses melakukan pre-recording untuk satu lagu mereka dan masih tersisa dua lagu lagi untuk ditampilkan di acara musik sore nanti. Kini mereka tengah menikmati makan siang bersama dengan staff yang ikut terlibat. Tiba-tiba saja bunyi ketukan pintu membuat semua orang menoleh dengan spontan.

Ternyata itu salah satu kurir jasa antar barang dengan seragam kuningnya membawa satu buket bunga mawar berwarna merah. Selaku menejer—Sejin langsung bangkit dan menutup kembali pintu tersebut mencoba memberi privasi kepada idol kebanggaan agensinya yang jarang mereka dapatkan.

Tak lama pintu itu kembali dibuka. Kali ini menejer berbadan tinggi itu tampak membawa sebuah buket bunga dan langsung berjalan menuju ke salah satu personil Bangtan tersebut.

"Dari kekasihmu, Jungkook-ah"

Ucapan Sejin membuat Jungkook berhenti mengunyah sushi berisi ikan tuna tersebut, dia lantas melirik buket bunga itu dan langsung bangkit. Tangannya meraih surat yang terselip manis diantara kelopak mawar yang indah tersebut. Dia mulai membaca surat itu perlahan, mengeja satu persatu kalimat yang ditulis tangan oleh Taehyung.

Ku dengar grupmu sedang melakukan comeback dengan lagu terbaru. Aku sudah melihatnya dan mendownload album kalian di iTunes. Sepertinya aku terserang virus Bangtan.

Goodluck untuk comebackmu Jungkookie dan BTS. Semoga sukses!

-Taehyung

"Apa isi suratnya Kookie?" tanya Seokjin penasaran.

Jungkook yang sudah selesai membaca pun hanya menyerahkan kertas itu pada yang lebih tua dan lebih memilih untuk kembali memakan sushinya yang terabaikan.

Dia pikir isi dari surat itu adalah permintaan maaf dari Taehyung karena sudah mengabaikannya. Tapi nyatanya pria itu tidak meminta maaf sama sekali. Apa disini Jungkook yang terlihat terlalu berharap? Dia menghela nafas sambil meminum air mineral itu kedalam mulutnya.

Kenapa hatinya menjadi melodramatis seperti ini jika itu ada hubungannya dengan pria bermarga Kim tersebut?

"Aigo, manisnya priamu~"

Ucapan Jimin membuat Jungkook langsung menoleh. Ternyata semua member beserta staff yang tadi sedang khidmat menikmati hidangan malah beralih menjadi membaca surat pemberian dari Taehyung seraca beramai-ramai.

"Yak! Kenapa kalian membacanya!"

Lengkingan falsetto dari magnae BTS itu terdengar nyaring membuat semuanya lantas kembali ke tempat masing-masing.

.

.

Langkah kaki yang terdengar tegas terdengar dari arah gerbang rumah mewah berwarna putih tulang itu. Ketika sampai didepan pintu, tangannya terulur dengan cepat dan mendorongnya tanpa perasaan. Taehyung melangkah masuk kedalam rumah orang tuanya dan mulai mencari dimana keberadaan ayahnya tersebut.

Hoseok memberitahu lewat pesan singkat yang berkata bahwa ayahnya—Kim Chanyeol sudah kembali dan berada di Korea Selatan untuk mengurus semua keperluan kakeknya dirumah sakit.

Keputusan sudah bulat. Sebentar lagi alat bantu yang dipasang akan segera di lepaskan bertepatan dengan Chanyeol yang menandatangani surat perjanjian rumah sakit itu.

Taehyung dari awal pun tetap tidak setuju. Maka dari itu setelah selesai meeting dengan para pemegang saham untuk membahas masalah perusahaannya, dia langsung bergegas pulang kerumah kedua orang tuanya tersebut.

Baru saja ingin menemui Chanyeol diruang kerjanya, dia malah mendapati pria dengan sorot tajam itu tengah menatapnya di tangga paling atas.

Gema yang berasal dari langkah kaki Taehyung semakin terdengar, ditambah lagi suasana rumah yang sunyi. Dia sekarang sudah berdiri tegap dihadapan ayahnya dan membalas tatapan tajam itu.

"Well apa yang membawamu pulang Kim junior?"

Intonasi ayahnya datar namun mata itu semakin menatap tak suka ke arah anak semata wayangnya. Taehyung mengatupkan bibirnya rapat, melihat wajah ayahnya tersebut membuat gejolak emosinya naik begitu drastis.

Dia mencoba untuk menahannya, "Kau tidak boleh menandatanganinya!"

Taehyung berujar dengan menaikan nada bicaranya. Masih mengunci tatapan iris kelam kepunyaan ayahnya tersebut.

"Jadi itukah alasanmu berkunjung kesini?"

Chanyeol menarik sudut bibirnya. Menciptakan kesan angkuh yang membuat Taehyung berdecih tak suka. Senyuman itu begitu memuakkan.

"Sepertinya kau lupa siapa yang membuatmu hadir didunia ini keparat! Dia ayahmu!"

Taehyung berteriak keras dihadapan ayahnya. Chanyeol langsung maju selangkah, membuang jarak diantara mereka yang semakin menipis. Kim junior itu menatapnya semakin tajam. Aura gelap seolah melingkupi seluruh tubuhnya.

"Dia sudah terlalu lama menderita Taehyung-ah. Biarlah dia pergi dengan tenang"

"Aku tidak setuju! Aku akan kerumah sakit sekarang juga"

Taehyung berbalik arah, mencoba untuk menuruni satu persatu anak tangga dirumah besar tersebut. Tangan panjang Chanyeol mencoba untuk menahan pundak anaknya, namun Taehyung yang tidak ingin dihentikan mencoba untuk menepis tangan kanan ayahnya dengan cepat dan keras.

Entah Chanyeol yang tidak seimbang atau Taehyung yang terlalu kelas menepis tangan itu tubuh ayahnya oleng dan terjatuh bergelinding hingga anak tangga paling bawah. Taehyung yang sadar langsung terdiam, detak jantungnya semakin tidak karuan.

Pupilnya mulai membesar ketika melihat darah yang merembes keluar dengan derasnya dari belakang kepala ayahnya tersebut.

Dan setelah itu Taehyung yang masih terkejut hanya menatap dalam diam, tidak melakukan gerakan apapun sampai pintu tinggi di depannya terbuka lebar, menampilkan sosok ibunya-Baekhyun yang habis berolahraga langsung berteriak panik dan berlari ke arah Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan?!"

.

.

Setelah kejadian itu, tepatnya satu minggu yang lalu Taehyung seolah menutup diri dari segala eksistensi yang ada. Dia tidak pernah meninggalkan kamarnya, hanya berdiam diri terduduk di kursi kulit dan menatap jendela.

Dia tidak menjawab satu pun panggilan yang masuk, tidak pergi untuk mengontrol perusahaannya, bahkan untuk sekedar mengisi makan pun tidak. Dia hanya mengkonsumsi suplemen makanan yang selalu tersedia di laci meja kerjanya.

Terus terduduk dalam diam dan memikirkan semua.

Dia tau tindakan ini adalah egois. Memetingkan dirinya sendiri, padahal prioritas utamanya adalah perusahaan yang sudah kakeknya bangun selama bertahun-tahun. Yang dipercayakan kakeknya untuk Taehyung pegang, namun dia malah tidak mengurusinya.

Dia sangat kacau.

Hari ini, pintu apartemennya berbunyi. Taehyung yang sedang diam dikamarnya pun dapat mendengar langkah kaki yang mendekat menuju tempatnya berada, dan tak lama ketukan pelan didepan pintu kamarnya terdengar.

"Taehyung, kau tak perlu seperti ini"

Suara Hoseok langsung terdengar. Sekretarisnya itu memang mengetahui password apartemennya. Sudah berkali-kali dia datang namun selalu berakhir sia-sia. Taehyung tetap tak ingin keluar dari kamarnya.

Hoseok terus berbicara panjang lebar, Taehyung hanya mendengarkan namun tidak berniat untuk membukakan pintu. Dia tau inti dari semua omongan yang Hoseok bicarakan adalah itu semua bukan salahnya.

Bukan salahnya? Taehyung meringis.

Dia yang menyebabkan ayahnya kehilangan keseimbangan. Dia yang membiarkan ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu, ini semua adalah salahnya.

Andai saja waktu itu dia tidak menjauhkan tangan ayahnya. Andai saja waktu dapat di ulang. Mungkin sekarang semua akan baik-baik saja.

.

.

Perusahaan Kim Enterprise yang dipegang oleh Taehyung semakin goyah. Semuanya menurun, bahkan dalam sektor pembelian barang-barang inverstasi yang sedang naik daun belakangan ini. Membuat wakil direktur yang baru saja diangkat, Park Bogum kewalahan.

Sewaktu mendengar kabar bahwa sepupunya itu tidak mau keluar kamar, Bogum sudah berdiri di depan kantor agensi Jungkook. Dia ingin meminta bantuan pemuda manis itu untuk sekedar membujuk kekasihnya mengisi perut, karena kesehatan adalah yang utama.

Namun baru ingin melangkah masuk, langkahnya otomatis berhenti kembali. Dia tak mengerti dengan dirinya yang seolah tidak mengizinkan masuk begitu saja ke kantor besar tersebut. Akhirnya setelah sibuk berdebat dengan pikirannya, Bogum memutuskan untuk memutar arah dan kembali, dia harus bekerja ekstra untuk membawa sepupunya keluar kamar.

Namun ditengah perjalanan pria bermarga Park itu tersenyum semakin lebar. Sebuah ide melintas begitu saja di dalam pikirannya.

"Semoga cara ini berhasil" ucapnya senang.

Di tempat lain. Di sebuah kamar berjendela lebar itu terdapat Taehyung yang sedang menidurkan diri dalam ranjangnya yang empuk. Dia lemas karena tidak mengkonsumsi makanan berat selama berhari-hari.

Sedang mencoba untuk tidur namun tiba-tiba bunyi notifikasi dari aplikasi chatting online itu berbunyi. Memunculkan pop up Line yang berasal dari sepupunya. Taehyung membukanya, melihat sebuah video yang dikirim padanya itu dan mulai mendownloadnya.

Setelah selesai mendownload video yang berdurasi kurang dari satu menit itu dia lantas memutarnya. Di dalamnya ternyata ada Jungkook dengan memakai sebuah bando bertanduk iblis warna merah tengah melakukan aegyo dengan malu-malu.

Taehyung otomatis langsung tertawa, dia memutarnya berkali-kali. Setelah puas dia mengetikan sesuatu kepada sepupunya tersebut. Mengucapkan terima kasih lalu berkata bahwa sebentar lagi dia akan segera keluar dari dalam kamarnya.

.

.

Sehabis ibunya—Baekhyun berteriak panik, dia segera meminta Taehyung untuk menghubungi ambulance tapi yang didapat malah anaknya itu masih terdiam kaku tanpa kata. Hingga Baekhyun harus merelakan pita suaranya sakit, karena harus berteriak memanggil penjaga yang berada di halaman rumahnya.

Chanyeol dibawa kerumah sakit. Pendarahannya sudah dapat ditangani dengan baik oleh tim dokter, tapi hasil tes yang sudah dilakukan membuat Taehyung semakin terpuruk.

Namun dokter itu sedikit memberi pencerahan padanya dengan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan setelah operasi pertama selesai, mereka bilang bahwa seharusnya dalam beberapa jam lagi Chanyeol sudah bisa membuka kedua matanya.

Taehyung masih diliputi rasa bersalah, mau seberapa besar dia membenci Chanyeol tapi tetap saja dia merupakan ayah kandungnya. Ikatan batin mereka begitu erat terikat, karena darah Chanyeol juga mengalir ditubuhnya.

Saat ini dokter-dokter dengan cepat memasuki kamar inap dimana Chanyeol tengah terbaring lemas di ranjang putih itu. Taehyung sudah memberanikan diri untuk menjenguk dan dia tampak berdiri disebelah ibunya yang terlihat kurang tidur tersebut.

Dokter yang terlihat lebih senior itu memeriksa pasien dengan teliti dan menggelengkan kepalanya pelan. Taehyung tau pasti ada sesuatu yang salah.

"Kami akan melakukan tes lagi, tapi kemungkinan besar pasien terkena stroke infark"

Isak tangis Baekhyun semakin keras. Taehyung hanya diam sambil memeluk ibunya yang terlihat sangat rapuh tersebut.

"Maafkan aku bu" gumamnya sambil penuh penyesalan.

Setelah berhasil menenangkan ibunya, Taehyung berniat untuk membelikan minuman hangat yang diharapkan mampu menenangkan mereka berdua. Di dalam perjalanan menuju kedai kopi di lantai dasar rumah sakit, Taehyung berjalan sambil melamun.

Entah bagaimana sosok Jungkook yang tengah tersenyum manis seolah masuk begitu saja kedalam pikirannya. Dia lantas berhenti, mengeluarkan ponselnya yang masih dalam keadaan mati itu, menunggu sebentar dan langsung membuka aplikasi pesan.

Taehyung ingin sekali menghubungi Jungkook. Dia ingin sekali bisa membagikan perasaan ini, dia ingin Jungkook mendengarkan segala kesulitannya dan mendapatkan pelukan hangat dari malaikatnya itu. Tapi Taehyung tidak ingin mengganggunya.

Karena dia tau grup Jungkook sekarang ini tengah disibukkan dengan berbagai macam promosi di berbagai daerah bahkan Negara. Taehyung hanya tersenyum miris. Mengusap wajah Jungkook yang menghiasi wallpaper ponselnya itu dan mulai menaruhnya kembali ke dalam saku.

"I miss you"

.

.

Pria itu kembali sambil menenteng dua gelas kopi hangat untuk dirinya dan sang ibu. Taehyung mengajak Baekhyun untuk duduk di antara bangku-bangku yang tersedia di sepanjang lorong paviliun rawat inap itu.

Keduanya terdiam dengan menggenggam gelas kopi ditangannya masing-masing. Taehyung mulai mengambil tangan kurus ibunya tersebut dan mengusap pelan.

"Maafkan aku" ucapnya lirih sambil menunduk.

Air mata itu kembali meleleh keluar, Baekhyun terisak pelan dia mengigit bibir bawahnya keras berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.

"Bukan salahmu Taehyung-ah. Berhentilah menyalahkan diri sendiri"

Namun Taehyung tetap tidak bisa. Dia lantas bangkit dan pergi meninggalkan sosok rapuh itu sendirian yang tengah menatapnya sendu.

Pria itu berkendara tak tentu arah. Pikirannya seolah berkelana entah kemana. Matanya kosong, dia tau ini berbahaya terlebih dengan keadaannya yang tengah membawa kendaraan roda empat itu. Tapi mau bagaimana lagi, pikirannya terlalu penuh.

Kemudian saat tengah melintasi gedung-gedung penyiaran yang tinggi menjulang. Irisnya melihat sebuah papan iklan elektronik yang menampilkan gambar BTS dengan tulisan bahwa grup yang sedang naik daun itu akan menjadi bintang tamu di acara musik tersebut untuk mempromosikan lagu baru mereka.

Taehyung tanpa sadar memarkirkan mobilnya di basement gedung penyiaran itu dan mulai berjalan masuk.

Mudah sekali baginya untuk mendapatkan izin melihat acara tersebut. Faktor yang paling utama adalah karena sebagian saham dari perusahaan ini merupakan kepunyaanya. Jadi sekarang Taehyung masuk dan melihat Bangtan yang akan bersiap untuk melakukan pre-recording dalam acara musik yang akan disiarkan nanti sore.

Posisinya berada di paling belakang. Tertutupi oleh puluhan fans yang hadir sambil membawa sebuah lightstick bundar bertuliskan grup yang beranggotakan lima orang itu. Ketika seluruh orang yang hadir mulai meneriakan nama idolanya, lampu berganti warna dan musik mulai menyala.

Jungkook masih sama. Dia menari dengan indahnya, Taehyung hanya diam sambil mengikuti setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh yang termuda itu. Tak lebih dari empat menit lagu pertama yang berjudul Blood Sweat and Tears itu selesai.

Taehyung langsung bergegas menuju backstage dimana terdapat artis-artis yang sedang beristirahat menunggu giliran untuk tampil.

Di lorong yang sepi ini dia kemudian dapat melihat seorang pemuda berambut cokelat itu yang tampak berjalan menuju sebuah ruangan dimana didepannya tertulis BTS.

"Jeon Jungkook"

Taehyung memanggilnya, namun Jungkook lebih memilih untuk meneruskan langkahnya.

Dia sebenarnya tau dari awal bahwa Taehyung datang untuk melihat penampilannya. Pria itu berbeda dari kebanyakan orang yang berada di studio dengan daya tampung seratus orang tersebut. Dimana yang lain tampak semangat menggoyangkan lightstick kepunyaannya, pria itu hanya diam sambil terus memandanginya.

Dan sekarang, saat di belakang panggung Taehyung memanggilnya dengan keras. Jungkook yang sebenarnya masih kesal akibat diabaikan waktu itu lebih memilih untuk berpura-pura tidak mendengar dan memutuskan untuk meninggalkannya.

Tapi tangannya menghangat ketika Taehyung memegannya erat. Membuat Jungkook dengan terpaksa berbalik dan langsung menatap Taehyung.

Hal yang pertama kali dilihat adalah wajah pucat pria mapan itu yang terlihat kurang sehat. Seperti ada yang salah, Jungkook juga berpikir bahwa kali ini raut wajahnya menyiratkan sesuatu kepedihan yang mendalam, apakah ada masalah?

Namun sebuah pelukan tiba-tiba yang dilakukan oleh Taehyung membuat Jungkook terdiam. Taehyung menaruh kepalanya pada bahu Jungkook. Tangannya pun memeluk erat pinggang itu seperti tidak ingin dipisahkan sama sekali.

Dan Jungkook yang langsung mengerti membalas pelukan itu. Dia menepuk pelan punggung lebar tersebut lalu mencoba untuk menenangkannya.

"Biarkan aku bersamamu sebentar saja" pinta Taehyung dengan suara lirihnya.

Jungkook tidak menjawab. Dia hanya masih terus mengelus punggung itu hingga mereka berdua merasa nyaman.

"Jungkoo-ah maaf"

Bunyi pintu yang dibuka spontan serta suara Seokjin yang keras membuat kedua insan manusia itu melepas pelukannya.

Seokjin berdiri canggung diantara mereka.

"Ada apa hyung?" Jungkook bertanya dengan masih menggengam erat tangan Taehyung.

Lantas Seokjin menjawab bahwa sebentar lagi Bangtan harus melakukan rekaman untuk satu lagu terakhir. Dan dia diminta oleh Namjoon untuk memanggil dirinya agar bisa bersiap secepat mungkin.

Mendengar itu Jungkook hanya mengangguk. Lalu pemuda berambut merah muda itu memilih untuk meninggalkan mereka berdua setelah sebelumnya dia memesan kepada yang paling muda agar tidak memakan waktu terlalu lama.

Taehyung mengelus telapak tangan Jungkook yang lembut tersebut. Dia lantas menatap mata jernih itu dengan sayang, "pergilah lakukan dengan sebaik mungkin" dia tersenyum simpul sambil melepas genggangam tangan itu.

"Aku sudah merasa lebih tenang setelah bertemu denganmu"

Walaupun sebentar tapi bertemu dengan Jungkook dapat membuat hati Taehyung kembali tentram. Walaupun dia belum sempat menceritakan semua masalah yang ada, setidaknya dia sudah dapat merasakan lagi bagaimana nyamannya berada di pelukan seseorang pemuda bermarga Jeon ini.

Sebelum Jungkook membalas ucapannya, Taehyung melangkahkan kakinya menjauh. Menghilang dibalik tikungan yang langsung mengarah ke pintu keluar backstage. Meninggalkan Jungkook yang kembali bertanya-tanya tentang apa arti dirinya untuk pria tersebut yang selalu berlaku seenaknya.

.

.

TBC

Ps : bentar lagi end.

Atau kalian mau nambah konflik lagi?

Aku sih ikut mau kalian aja, jadi gimana?

Btw maaf lama update hahaha :(

Review? Thanks!