[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]

[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]

.

.

VKOOK

Ada hal-hal yang tidak dapat dia mengerti dengan cepat. Ada hal-hal yang sangat sukar untuk dipercayai. Taehyung masih terdiam di dalam apartemennya setelah tadi sempat bervideo call dengan ibunya—Baekhyun.

Ibunya itu secara tiba-tiba menelfon, membuat Taehyung yang tadi sempat ingin untuk membersihkan diri langsung mengurungkan niatnya kembali.

Dia terheran dalam diam ketika melihat request dari ibunya untuk melakukan sambungan video untuknya. Pria itu dengan segera menekan tombol hijau dan seketika wajah yang amat dirindukannya muncul memenuhi layar benda pintar tersebut.

"Taehyung, kau harus menjenguk ayahmu nak."

Ibunya berkata dengan suara serak dan setengah memohon. Kondisinya sekarang sangatlah membuat hati Taehyung agak pilu. Lingkaran mata yang terlihat sangat kentara, bibir yang dulunya selalu terlihat terawat sekarang hanya menyisakan pecah-pecah dan pucat.

Taehyung awalnya ingin langsung mematikan sambungan itu, namun melihat keadaan orang yang dia sayangi begitu menyedihkan dia hanya terdiam bingung antara ingin mengiyakan atau tidak.

Karena Taehyung tidak ada niatan sama sekali untuk menjenguk ayahnya. Tidak sama sekali.

Karena rasa benci terhadap ayahnya mengalahkan semua. Walaupun Chanyeol masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, rasa benci itu tidak akan pernah hilang. Hatinya sudah terlampau sakit jika mengingat semua kata yang pernah diucap oleh ayahnya tersebut.

"Kau seharusnya menyanyangi ayahmu Taehyung, karena tanpanya perusahaan keluarga ini tak bisa seperti sekarang" Ibunya berkata, mengucap kalimat yang Taehyung sendiri tak mengerti apa artinya. Maka selama beberapa detik itu ia hanya diam tak merespon.

Apa dia tak salah dengar? Ayahnya yang haus akan kekuasaan itu mampu membangun perusahaan menjadi seperti sekarang? Lelucon apa lagi ini.

"Sepertinya kau salah bu. Kakek yang membuat perusahaan menjadi seperti ini bukan dia. Dia itu hanya mau uang! Dia egois juga serakah!"

Taehyung berkata marah pada ibunya yang semakin menatap tajam. Seumur hidupnya Taehyung tak pernah dihadiahi tatapan seperti itu, bahkan ketika dia mendapat nilai nol pada mata pelajaran fisika pun, ibunya tidak pernah memberi tatapan yang semenyeramkan ini.

"Jaga bicaramu Taehyung!" Baekhyun berteriak marah dari ujung sambungan itu.

"Kau tak boleh berbicara seperti itu tentang ayahmu!"

Keduanya terdiam cukup lama hingga Baekhyun memutuskan untuk berbicara kembali. "Biar bagaimanapun ayahmu lah yang paling berjasa untuk membuat perusahaan kembali bersinar seperti dulu."

Ibunya itu tampak menahan tangis yang bisa kapanpun turun. Membuang arah pandangannya kesamping mencoba sebisa mungkin untuk tidak menatap ke arah anak satu-satunya tersebut. Dia hanya teringat bagaimana kegelisahan Chanyeol dulu yang selalu memikirkan buah hatinya dalam keadaan apapun.

Kemudian Baekhyun dengan menghela nafas mulai bercerita dari awal tentang bagaimana perusahaan keluarga suaminya itu bisa hampir mendekati collapse. Taehyung tampak menyimak dengan cermat, dia bahkan baru tau bahwa perusahaan sebesar itu pernah ingin bangkrut dan merugi.

"Saat itu aku sedang mengandungmu" Baekhyun menatap Taehyung dari layar ponselnya.

"Ayahmu sangat frustasi akibat masalah tersebut dan lagi dia tak mau kalau kau lahir , hidupmu menjadi menderita karena tak punya uang" Dia memberi jeda sejenak mulai mengingat kenangan pahit yang sudah berhasil dilalui bersama dengan Chanyeol. Teringat akan kegigihan suaminya tersebut untuk membangun kembali perusahaan dengan keringatnya sendiri.

Bahkan saudaranya yang lain hanya diam, tak bisa apa-apa. Sebenarnya jika dipikir secara logika mana mungkin seorang manusia tanpa bantuan yang lain bisa melakukannya. Tapi Chanyeol ternyata bisa. Dalam hati dia terus meyakini dirinya sendiri dan dia hanya ingin satu yaitu perusahaan bisa melewati masa kritisnya dan anaknya yang akan lahir tanpa merasakan kepahitan itu.

Baekhyun juga bercerita bahwa sejak dulu kakeknya itu sangatlah sering ditipu oleh pesaing-pesaing bisnisnya. Hingga suatu hari, saat dia dan Chanyeol baru saja pulang memeriksakan kandungan Baekhyun, kakeknya itu terjatuh akibat shock yang berlebih.

Dia sangat terkejut ketika mendapati surat hutang yang sangat menggunung. Chanyeol berusaha untuk menutupinya dari keluarganya yang lain bahwa perusahaan itu sebentar lagi akan gulung tikar. Bahkan tidak ada sisa sepeserpun dari semua asset karena nantinya itu semua akan dipergunakan untuk melunasi hutang-hutangnya.

Chanyeol selalu berusaha untuk menyembunyikan aib ayahnya sendiri yang menggadaikan perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. "Ayahmu yang paling bejasa Taehyung-ah"

Hati Taehyung mencelos begitu mendengar keseluruhan cerita yang belum pernah dia dengar sama sekali. Dia menyesal, sangat. Maka dari itu sang CEO muda lebih memilih untuk mematikan sambungan telfon dari ibunya secara sepihak dan hanya berdiam diri memikirkan semuanya.

Dia menyesal karena telah bersikap begitu kasar kepada ayahnya. Begitu banyak kata yang memenuhi setiap sudut otaknya hingga tiba-tiba terdapat pesan masuk pada ponsel pintar tersebut.

Dari Baekhyun—ibunya,

"Taehyung. Aku mengerti perasaanmu. Kau bisa memaafkan namun tak apa jika tidak bisa melupakannya. Kau juga boleh untuk tidak memaafkan dan juga melupakannya. Namun kau harus belajar untuk merelakan dan membuang semua amarah yang ada, jangan biarkan segala sikap negatif itu memakanmu dan menghancurkanmu perlahan. Kau hanya harus mencari jalan keluar untuk merelakannya semua dan maafkanlah dia"

Pesan dari ibunya yang semakin membuat perasaan Taehyung campur aduk.

Kemudian bayang-bayang saat tubuh Chanyeol jatuh bergelinding dari tangga masuk begitu saja kedalam penglihatannya. Dan Taehyung merasa bodoh karena saat itu dia hanya berdiam tak membantu. Bagaimana jika nyawa ayahnya terlambat untuk ditolong? Dia mungkin tidak bisa melihat wajah itu lagi, atau mungkin dia akan selamanya menyesal karena belum mengucap maaf sama sekali.

Jika saja tak ada ibunya saat itu, mungkin sekarang Taehyung hanya meratapi nasibnya di depan batu nisan milik Chanyeol.

"A-ayah.."

Taehyung bergumam parau. Dia jatuh terduduk dalam sebuah kursi yang berada di dekat jangkauannya. Kenapa disaat seperti ini dia baru mengetahuinya? Kenapa begitu terlambat?

Matanya kemudian mulai menatap ke arah rak buku yang menjulang tinggi di sudut ruangan apartemennya itu. Di sudut paling atas terdapat sebuah kardus yang dia ingat merupakan kado ulang tahun dari ibunya saat Taehyung menginjak usia tujuh belas tahun.

Perlahan Taehyung mulai bangkit dan dia berjalan mendekat, mengulurkan tangan kanannya untuk meraih kotak putih tersebut.

Dia lalu membawanya ke pangkuan sembari duduk di sofa. Tangannya dengan cepat membuka penutup kotak itu dan terpampanglah lusinan kaset lama yang didepannya terdapat beragam tulisan tangan,

'Saat Taehyung mengendarai sepeda'

'Saat Taehyung bisa berjalan'

Air mata perlahan mulai menetes dari kedua pelupuk sudut matanya. Dia membuka salah satu kepingan kaset itu dan mulai memasukannya kedalam dvd player yang ada didepan.

Layar televisi yang awalnya bergambar hitam perlahan mulai menampilkan warna. Itu adalah dirinya saat masih kecil. Dengan mengenakan sebuah baju kodok lucu dan topi baseball yang kebesaran, Taehyung tampak bahagia bermain kejar-kejaran dengan Chanyeol yang masih terlihat muda.

Pria itu mengusap air mata yang terus meleleh bahkan ketika video tersebut sampai pada dirinya yang terjatuh dan menimbulkan efek bergerak pada gambar yang ditampilkan. Sepertinya orang yang merekam—Baekhyun tampak panik namun dengan sigap Chanyeol menggendongnya dan berkata pada anaknya itu untuk tidak menangis.

"Jagoanku harus kuat! Lihat lihat seperti superman wuhuu jangan menangis Taehyungie"

Isakan kecil tampak lolos begitu saja bahkan hingga video itu berhenti berputar. Lalu dia mulai memasukan kepingan lain ke dalam pemutar itu dan ternyata video tersebut adalah saat dirinya yang baru bisa berjalan.

Disana Chanyeol terlihat sangat menyanyanginya. Ayahnya yang ternyata rela di benci hanya karena begitu menyanyangi putra satu-satunya tersebut.

Tapi kenapa? Kenapa ia harus rela seperti itu?

Bukankah dibenci oleh darah dagingnya sendiri begitu menyakitkan?

Kim muda itu sungguh menyesal. Berkali-kali lipat menyesal. Taehyung rasanya ingin merobek bibirnya karena dulu pernah berkata sebegitu kasar pada orang yang ternyata diam-diam melindunginya.

Akhirnya di detik itu juga dia mau berdoa kepada yang di atas untuk kesembuhan Chanyeol. Dia tak peduli, bahkan sekarang seluruh egonya luntur begitu saja. Walau dulu dirinya tak pernah berdoa sekalipun, sekarang bahkan Taehyung sangat rela menyebut dan memohon padaNya agar bisa menyembuhkan pria tersebut, agar Taehyung bisa meminta maaf.

.

.

Keesokan harinya Kim junior itu menguatkan hati untuk pergi ke rumah sakit. Membuang nafas secara tidak teratur karena gugup. Rasanya seperti kedua kakinya itu berubah menjadi agar kenyal yang sulit untuk digerakkan. Bahkan ketika dia sampai di depan pintu kamar inap Chanyeol, mengerahkan tangannya untuk mengetuk pintu pun sulit.

Dan yang ada malah pria itu jatuh terduduk sambil menutupi sebagian mukanya menahan tangis. Dia tak bisa, Taehyung tidak memiliki wajah yang setebal saudaranya. Dia mempunyai rasa malu begitu harus menghadap ayahnya setelah apa yang telah diperbuat.

Sesaat ingin bangkit dan memutuskan untuk pulang pintu ruangan itu terbuka. Muncullah sosok Baekhyun yang tengah berdiri sambil memandang anaknya dengan mata sembab itu. Dia lantas memandang dengan terkejut.

"A-aku" cicit Taehyung bingung. Kemudian yang terjadi adalah Baekhyun langsung menepuk pundak anaknya pelan dengan perasaan sayang. Benteng pertahanan yang Taehyung bangun semakin goyah. Pada akhirnya pria itu menangis dalam diam di pundak sempit ibunya tersebut.

Setelah dirasa cukup tenang Taehyung akhirnya melepaskan pelukan itu. Dia masih diliputi rasa bersalah ketika ibunya dengan memaksa menyuruhnya agar masuk ke dalam ruangan tersebut. Chanyeol masih belum sadar sampai saat ini, namun ibunya percaya jika Taehyung mau sekedar menyapa mungkin ayahnya itu bisa mendengar dan akan membuatnya cepat bangun.

"Katakan apapun Taehyung, ayahmu pasti senang mendengarnya"

Dia berdiri kaku disamping ranjang rumah sakit yang sempit itu. Di sana terbaring Chanyeol dengan perban yang melilit tebal di kepalanya. Serta alat bantu pernafasan yang masih terpasang melalui tenggorokan.

Iba sekali rasanya. Taehyung seperti makhluk paling durhaka di alam semesta ini. Dia yang menyebabkan ayahnya seperti ini. Bukankah sepantasnya dia dihukum?

Namun sapuan lembut pada telapak tangannya membuat Taehyung akhirnya berhenti untuk menyalakan dirinya sendiri.

Ibunya tersenyum kemudian membuat gesture sederhana yang menyuruhnya untuk mengucap kata apapun agar Chanyeol tau bahwa anak yang disayanginya berada disini.

"Hai, a-ayah... ini aku" Taehyung berkata canggung sambil jemarinya meremat pelan telunjuk Baekhyun.

"Aku tak tau harus berkata apa. Aku hanya ingin kau cepat bangun dan well ada banyak hal yang ingin aku bicarakan..jadi cepat buka matamu. Aku dan ibu menunggu, kami menya-menyayangimu"

Perkataannya begitu lugas. Dia menengok dan mendapati Baekhyun tersenyum bangga padanya. Rasanya seperti dulu saat dia mendapat juara pertama di kelas dan tentu saja Baekhyun tersenyum seperti itu juga disana ada juga ayahnya—Chanyeol yang mengacungi dua jempol dengan bangga.

Da merasa rindu berkumpul bersama seperti dulu.

"Setelah kau bangun mungkin kita—aku dan ibu atau kakek ya kakek kita dapat berkumpul bersama di rumah musim panas keluarga" Taehyung berkata sambil jermarinya mengusap pelan tangan ayahnya yang masih diam tidak bergerak itu. Helaan nafas panjang tampak mengakhiri acara berkunjungnya hari ini.

Taehyung menatap mata ibunya dalam, dia menarik tubuh itu kedalam pelukan hangatnya dan mengusap punggung Baekhyun secara teratur. "Aku akan mengurus semuanya. Perusahaan yang sudah kakek dan ayah bangun. Ibu hanya perlu disini, mengurus mereka"

Baekhyun mendongak menatap putranya itu dengan tatapan yang sukar sekali diartikan. Dia menggigit bibir bawahnya perlahan. Pikirannya mulai bercabang. Kalimat yang baru saja Taehyung ucapkan itu.

Dia tau sekali bahwa mengurus semua hal yang berkaitan dengan bisnis raksasa keluarga Kim memang susah, apalagi Taehyung yang akan mengorbankan segalanya. Kemudian mucul sosok kekasih putranya yang merupakan seorang idol pada benaknya—tentu Baekhyun tak mau jika kebahagiaan anaknya terenggut begitu saja hanya karena mengurusi semua ini.

"Bu, aku bisa. Semua akan baik-baik saja. Yang harus kau lakukan adalah percaya"

Taehyung perlahan melepas pelukan itu. Mengusap pipi lembut ibunya dan memeluknya sekali lagi. Baekhyun hanya tersenyum, dia pikir mungkin Taehyung sudah dewasa dan bisa memikirkan segala konsekuensi yang ada. Mungkin dia bisa membagi waktunya dengan Jungkook, lalu mengurusi perusahaan.

Baekhyun hanya berharap agar kehidupan priadi Taehyung seimbang dengan pekerjaannya. "Baiklah, kalau ada apa-apa telfon aku"

Lalu langkah Taehyung perlahan menjauh. Dia menutup pintu dimana Baekhyun masih terus memandanginya dan sosok putranya itu menghilang masuk kedalam lift rumah sakit.

.

.

Santa Monica, California

Adalah tempat dimana Taehyung menghabiskan hari-harinya setelah pergi dari Korea Selatan untuk mengurus bisnis keluarganya. Sebuah kota kecil di pinggiran barat Los Angeles yang tepatnya berada di tepi samudera pasifik.

Cuacanya selalu sempurna, menurut Taehyung jika panas tidak terlalu menyengat dan jika dingin tidak terlalu membuatnya beku. Langitnya selalu berwarna biru nyaris tanpa awan. Membuatnya betah berlama-lama memandangi ciptaanNya.

Namun sayang dia tak mempunyai banyak waktu. Berjalan kesana-kemari dan membaca laporan yang menumpuk seperti potongan pancake. Hoseok selalu berada disampingnya, membacakan jadwal, atau mengingatkan dirinya untuk makan.

Badannya pun juga terlihat kurus dan kuyu. Dia menyadari itu namun mau dikata apa, prioritas pertamanya adalah perusahaan ini, lagipula jika Taehyung makan lebih dari porsi biasanya itu mungkin akan memperlambat kinerjanya.

Bahkan saat ini sudah terhitung satu bulan sejak dia memutuskan untuk berhijrah menuju Negara uncle sam ini. Dia tidak mengabari Jungkook walaupun sebenarnya Jungkook masih sering mengiriminya pesan.

Seperti sekarang ada satu buah video yang Jungkook kirim untuknya. Baru saja diterima oleh smartphone kepunyaan Taehyung dan dengan segera pria itu langsung membukanya, memutar video berdurasi kurang dari lima menit tersebut dengan volume sedang.

Awalnya video itu gelap, hanya terlihat cahaya remang yang menyejukkan mata. Taehyung mulai bertanya-tanya dimanakah sekarang kelinci manisnya itu? Mungkinkah dia tengah pergi ke bar? Apakah dia seorang diri? Taehyung lantas menggeleng, dan detik berikutnya kamera seolah berpindah dengan cepat mendapati wajah seseorang yang amat dirindukan.

Seseorang yang didalam video itu tengah membalut seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Rambut halusnya pun tertutupi oleh hoodie berwarna merah muda yang sungguh cocok dipakainya. Dan oh bahkan Taehyung dapat melihat adanya sebuah plester penurun panas yang menempel erat pada kening kecintaannya tersebut.

Jungkook sakit?

Apakah dia terlalu memporsir tubuhnya hingga tumbang seperti itu?

'Uh hallo Tae hyung? Uhuk! Uhuk!'

Taehyung dapat melihat Jungkook menutup hidungnya dengan sebelah tangan. Bahkan dalam kondisi yang remang ini dia dapat melihat bagaimana memerahnya hidung bangir itu.

"Sialan aku khawatir" umpat Taehyung kasar.

Kemudian setelah menunggu beberapa detik akhirnya batuk itu berhenti. Jungkook memaksakan senyuman yang malah membuat pedih hati Taehyung. Dia malah mencoba untuk terlihat baik-baik saja.

'Sepertinya batukku mengganggu, hai bagaimana kabarmu? Maaf aku jarang sekali mengirimkan video seperti biasanya. Kamu tau hyung jadwalku semakin menggila'

Taehyung menyandarkan kepalanya pada kursi kantor diruangannya pada siang itu. Tangannya masih setia menggenggam benda persegi tersebut yang masih memutar tayangan video,

'Hyung, apa kamu tau kemarin aku dipilih untuk menjadi pembawa acara disalah satu acara musik terbesar se-Korea. Wah aku sangat terkejut kamu tau?! Hehe andai saja kamu melihat dan menontonku.'

"Aku menontonmu Jungkook-ah" kekeh Taehyung pelan.

'Hm lalu minggu depan aku akan mengcover sebuah lagu, dan juga ah iya! Aku dan BTS akan menghadiri acara musik terbesar di Asia. Kamu tau MAMA'kan? Doakan grupku ya hyung! semoga menang'

"Tentu, baby"

Lalu kemudian video itu terdengar sunyi. Jungkook hanya memandang kamera depan handphonenya sendiri dalam diam. Dia seperti tengah kehilangan bahan obrolan hingga membuat Taehyung merasa bersalah tidak menanggapinya seperti ini.

Baru saja suara Jungkook kembali terdengar, ketukan pada pintu ruangannya membuat Taehyung menghembuskan nafas kasar.

"Permisi sajangnim, rapat sepuluh menit lagi"

Tanpa bicara Taehyung hanya mengangguk dan menyuruh Hoseok untuk pergi karena dia masih ingin menonton video itu sampai habis.

'Hyung apa kamu tau kenapa aku menyelimuti tubuhku seperti ini?' Ada jeda sebentar sebelum Jungkook melanjutkan kalimatnya kembali.

'Karena aku berharap bahwa selimut itu adalah tanganmu, karena mungkin jika kamu berada disini hal-hal tidak akan seberat ini.'

'Aku mengistirahatkan kepalaku pada bantal ini berharap bahwa itu adalah bahumu. Karena mungkin jika kamu disini sakit dihatiku tidak separah sekarang.'

Lalu Taehyung dapat melihat Jungkook yang mulai menutup kedua bola matanya.

'Aku menutup mata ini dan menarik nafas yang panjang juga kasar, kamu tau kenapa? Karena aku berharap jarak antara kita adalah tidak nyata. Karena itu sangat menggangu. Aku hanya ingin bertemu denganmu hyung. Cepatlah pulang.'

Dan saetelahnya video itu berhenti bergerak dan semuanya gelap.

.

.

Hari ini saat matahari sudah setinggi atas kepala, Taehyung bersyukur karena memiliki waktu yang sedikit lebih senggang dibanding kemarin. Dia sangat berterimakasih kepada sekretarisnya Jung Hoseok karena mau mengatur jadwal hingga bisa hampir kosong seperti sekarang. Dia pun sebenarnya juga tau bahwa diam-diam Hoseok masih sering menghubungi Jungkook yang selalu bertanya mengenai bagaimana kabar dirinya sekarang ini.

Pernah suatu waktu Taehyung bertanya pada orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu sendiri mengapa bersikap seperti itu, lantas Hoseok dengan entengnya menjawab,

"Aku hanya ingin kau menikmati hidup, jangan terlalu dibawa serius Taehyung-ah"

Perkataan yang sampai sekarang selalu dia ingat dan menjadi batasnya ketika Taehyung merasa terlalu lelah untuk bekerja.

Mereka baru saja sampai di Hongkong kemarin malam. Ada salah satu investor asing yang ingin bertemu dengan Taehyung dan dengan cepat Hoseok selaku sekretaris mengatur pertemuan diantara kedua pemimpin tersebut.

Hingga terjadilah dihari ini. Kedua orang itu bahkan saat ini sudah bersepakat tentang keinginan masing-masing dan melakukan perjanjian kontrak yang menguntungkan kedua belah pihak. Taehyung tentunya sangat senang, mungkin ini adalah salah satu doa dari ibunya.

Saat ini mereka—Taehyung dan Hoseok tengah menyantap makan siang bersama sesekali melihat televisi yang menempel erat pada dinding di restaurant chinese tersebut. Menampilkan berita dengan bahasa mandarin yang cukup bisa mereka mengerti.

Pembawa acara tersebut—seorang wanita berambut cokelat madu yang cantik mulai mengganti headline berita. Dia pun berbicara dengan semangat bahwa nanti malam akan diselenggarakan ajang bergengsi untuk dunia musik.

Kemudian muncullah gambar yang Taehyung sudah sangat hapal siapa nama personilnya satu persatu. Itu adalah gambar BTS yang tengah berada di bandara.

"BTS ikut, berarti sekarang mereka sudah berada di Hongkong?" Hoseok bertanya namun matanya masih setia memandang layar. Tepatnya mereka berdua masih memandang layar televisi itu yang saat ini sedang menampilkan beberapa cuplikan video tentang moment BTS di MAMA tahun kemarin.

"Kau tak berencana untuk menemuinya?" Hoseok bertanya kembali.

"Apakah jadwalku kosong?" tanya Taehyung dengan penuh harap.

"Hah, sayangnya tidak. Maafkan aku Taehyung-ah"

.

.

Grup yang sedang naik daun belakangan ini—BTS baru saja mendaratkan kaki mereka di Negara Hongkong ini. Inginnya beristirahat sejenak di hotel yang sudah disediakan namun apa daya menejer mereka memerintahkan untuk langsung menuju tempat diselenggarakannya acara tersebut.

Sebenarnya Jungkook pun sama lelahnya dengan yang lain. Dia bahkan saat berada di pesawat tidak sempat sama sekali untuk sekedar tidur, itu karena hyung-hyungnya lebih memilih untuk mengajaknya berbicara atau bercanda.

Jadi magnae kesayagan Bangtan Boys itu hanya menampilkan wajah lelahnya yang tidak ditutupi masker saat mendarat tadi. Mau dipikirkan bagaimanapun memang inilah pekerjaannya—dia mampu membelikan ibunya sebuah baju atau membelikan sebuah mobil baru untuk ayahnya karena uang yang didapat dari hasil kerja kerasnya di bidang ini. Maka memikirkan itu membuatnya kembali sedikit bersemangat.

Ketika sampai di sebuah ruangan yang sangat besar, mereka semua langsung di arahkan menuju panggung. Rehearsal pertama untuk pembukaan. Dan saat hendak melakukan pemanasan salah seorang crew dari acara tersebut bersama menejernya—Sejin datang menghampiri Jungkook.

"Jungkook-ssi apa kau bisa bergelantungan diatas sana?"

Wanita yang merupakan salah satu crew itu bertanya sopan kepada Jungkook. Lalu Sejin mengarahkan tangannya untuk menunjuk atap yang disanggah dengan beberapa tiang kokoh itu. Member lainnya yang sedang melakukan pemasan tidak jauh dari tempat Jungkook berada perlahan mulai mendekat, dan mengerumuni Jungkook.

"Aku? Memang kenapa?"

Kemudian crew itu menjelaskan semuanya. Untuk perform BTS yang akan membawakan lagu blood, sweat, and tears itu nantinya dia akan di buat melayang selama beberapa detik di atas sana.

Namjoon awalnya merasa tidak setuju, dan mulai mengajukan diri untuk menggantikan adik kecilnya itu. Namun Sejin berkata bahwa hanya Jungkook yang cocok untuk melakukan bagian itu. Dikarenakan permohonan dari Sejin dan tidak ingin mengecewakan semuanya akhirnya Jungkook mengiyakan tawaran tersebut.

"Aku tak apa kok hyung. Lagipula tubuhku sudah terbiasa seperti itu. Kau lupa jika aku ini rutin gym?" Jungkook hanya tersenyum lebar lalu mulai melakukan pemanasan kembali.

.

.

Acara itu pun akhirnya dimulai. Jungkook sudah memakai alat pengaman ganda yang diikat erat pada bagian pinggangnya. Dia mempertaruhkan nyawanya pada seutas tali kuat yang menggantung dari atas sana.

Perlahan tubuhnya mulai diangkat kemudian Jungkook mulai melakukan aksinya yang sudah dia pelajari semenjak tadi siang. Bergelantungan seperti yang dia lakukan menang sangatlah lelah. Itupun juga karena dia hanya bertumpu pada tali tersebut. Maka tidak heran jika punggungnya terasa sangat pegal dan sakit.

Keringat dingin terus saja menetes dari pori-pori tubuhnya. Posisi Jungkook kini masih berada di atas. Dia hanya ingin ini semua berakhir dan kakinya kembali menyentuh tanah karena sungguh punggungnya terasa sakit sekali.

"Uhh"

Jungkook melenguh, lalu sepertinya harapan dia agar cepat diturunkan terkabul. Perlahan tubuh itu mulai turun dan akhirnya menyentuh tanah. Tapi saat hendak menegakkan tubuhnya Jungkook malah berteriak. Membuat semua orang panik—termasuk member BTS yang lainnya.

"Akh! Punggungku sakit"

Pemuda itu sekarang lebih memilih untuk berjongkok sambil kepalanya menunduk dalam. Bibir semerah cherry itu dia gigit dalam karena tidak kuasa menahan sakit. Kemudian nyeri dikaki kanannya perlahan mulai terasa.

Suara orang-orang disekitar lama kelamaan semakin kecil. Pandangannya mulai mengabur seiring Jungkook yang sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya. Dia perlahan oleng dan jatuh ketanah seiring teriakan rekanannya yang menjadi.

"Jungkook!"

.

.

TBC

a/n : i know its super late, tapi pada akhirnya update juga

maaf ya? hahaha, buat yang lupa chapter kemarin, mungkin bisa baca lagi?

aku juga lupa soalnya:(

itu aja deh yang mau diomongin, see u di chapter depan!:)