Chanyeol selalu memiliki pembawaan yang tenang, tidak dapat meluapkan seluruh amarahnya secara menggebu-gebu. Ia tidak pandai berekspresi tentang perasaannya. Berbeda dengan Baekhyun yang layaknya seperti buku terbuka yang dapat terbaca dengan mudah.
Ini bukan kali pertama orangtuanya memaksakan kehendaknya pada Chanyeol dengan embel-embel 'demi kebaikanmu'. Persetan dengan kebaikan hidupnya, bisakah mereka sekali saja mengatakannya demi kebahagiaan hidupmu.
Namun ia dapat merasakannya, permintaan orangtuanya kali ini berbeda. Wajah Kris yang tenang namun tatapan dingin yang menusuk seperti itu hanya diberikan saat-saat tertentu saja. Seperti Chanyeol berlaku kurang sopan didepan pemegang saham atau kesalahan besar yang dilakukannya dan juga saat memberikan keyakinan serta tanggung jawab besar untuk dirinya.
Chanyeol sendiri belum sepenuhnya memimpin perusahaan ayahnya. Ia masih mempelajari banyak hal dari ayahnya juga orang-orang kepercayaan ayahnya tentang bagaimana menjalankan perusahaan dengan baik dan bijak. Chanyeol masih jauh dari kata sempurna, masih banyak yang harus ia perbaiki maka dari itulah ia hanya dapat menjabat sebagai deputy direktur utama di perusahaan ayahnya.
Memang benar saat Kris melontarkan pernyataan ia tidak begitu perduli dengan kisah asmaranya tapi bukan berarti dengan pernikahan mendadak seperti ini. Ia hanya perlu waktu beberapa saat sampai akhirnya menemukan wanita yang dapat merubah atensinya dari pekerjaan menjadi sosok itu. Sosok yang akhirnya menjadi tempat nyata baginya untuk menyalurkan kasih sayang.
Dan bukan berarti saat sekolah dulu ia tidak memiliki kekasih, ia pernah memiliki beberapa kekasih namun tidak bertahan lama karena Chanyeol selalu memfokuskan diri pada karirnya.
Chanyeol merebahkan dirinya pada sofa tunggal di sudut kamarnya. Menutup mata dengan lengannya, memikirkan-lagi-kemungkinan apa yang akan terjadi saat Baekhyun, wanita itu menjadi istrinya.
…
The Way
.
.
© BaekheePark
Present
.
The sunlight is dancing
In your eyes, the world overlaps
Hidden behind the trickling tears
I've opened my eyes to a different world
Everything is new
K Will -Melting
.
Chapter 2
Ini sudah hari kedua Baekhyun mengetahui dirinya akan dinikahkan dengan Park Sialan Chanyeol, dan ia masih mogok makan sebagai rasa protesnya kepada sang ibu. Walaupun tak bisa dipungkiri saat tengah malam tiba ia akan mengendap-endap menuju dapur mengambil semangkuk sereal dan satu kotak buah strawberry dan satu botol air mineral.
Baekhyun terkulai malas pada Queen Bed miliknya. Menggulung badannya pada selimut musim panasnya menjadi sebuah kepompong.
"Bagaimanapun caranya aku tidak akan menikah! Tidak!"
"Tapi bagaimana caranya aku membatalkan pernikahan ini? Dua minggu lagi? Sial, berarti minggu depan?"
"Bagaimana bisa aku membatalkan pernikahan ini?"
Bugh
"Aaaww." Baekhyun meringis dibalik gulungan selimutnya. Asyik berguling kesana kemari dibalik selimut membuatnya jatuh dari tempat tidurnya.
"Baekhyun?" Panggil ibunya. Ini pertama kalinya ia mendengar suara ibunya sejak dua hari terakhir.
Baekhyun melepaskan dirinya dari gulungan selimut yang membuat dirinya terlihat seperti kimbab.
"Baekhyun?" Lagi, suara ibunya memanggil kini diiringi ketukan didepan pintunya.
"Apa?" Jawab Baekhyun dibalik pintunya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, jangan mengangguku!"
"Sampai kapan kau akan seperti ini?"
"Sampai eomma membatalkan pernikahan konyol itu!"
"Itu tidak akan pernah terjadi."
"Yasudah, aku akan mati kelaparan disini dari pada menikahi ahjussi itu!"
"Siapa yang kau sebut ahjussi? Chanyeol berumur dua puluh tujuh tahun yang artinya seumur denganmu!" Heechul menghela nafas, "Baekhyun..ini jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan perusahaan, kapan kau akan dewasa dan mengerti semuanya?!"
"Kapan eomma akan mengerti diriku?!"
"Aku selalu mengerti dan memanjakanmu maka dari itu kau bersikap seenaknya seperti ini! Dimana sopan santunmu? Orangtuamu berbicara dan kau malah berteriak dibalik pintu!"
"Aku tidak perduli! Aku benar-benar menyesal menjadi anakmu!"
Heechul menghembuskan nafasnya kesal, anak manjanya ini benar-benar keras kepala.
"Baiklah, melihat tingkahmu seperti ini rasanya besok akan menjadi hari pernikahanmu. Hanya perlu memanggil pastur, Chanyeol dan keluarganya. Kalian akan menikah dikamarmu dengan baju tidurmu!"
"EOMMA!"
Heechul pergi dari depan kamar putrinya memijat pangkal hidungnya berkali-kali. Entah harus dengan cara apa membujuk Baekhyun agar menuruti permintaannya sedangkan undangan pernikahan anaknya sudah tersebar pagi ini, tidak ada lagi langkah mundur untuk hal ini.
…
Baekhyun berakhir menangis seharian didalam kamarnya, beberapa kali maid dirumahnya mengingatkannya untuk makan tapi dibalas amukan dari nonanya.
Langit diluar menjadi jingga yang cantik, dengan mata bengkak, rambut berantakan dan pakaian kusut Baekhyun membuka pintu balkon kamarnya membuat semilir angin membelai tubuh mungilnya. Baekhyun mencebikkan bibirnya melihat kawanan burung bertebangan kearah selatan.
"Cih, bahkan burungpun tidak senang selalu berada didalam sangkar. Hidup bebas tanpa ada aturan pasti menyenangkan."
Lalu tangisannya tumpah lagi. Ia berjongkok lalu melipat tangannya diatas lutut menjadikannya tempat menyembunyikan wajah.
"Aigoo~ lihat siapa yang menangis seperti anak berumur empat tahun."
Baekhyun berhenti menangis lalu mengintip dari sela-sela tiang pagar balkonnya.
"Luhan Jie!" Baekhyun berseru senang juga terkejut melihat kehadiran kakak sepupunya.
"Lihat Haowen, bibi Baekhyun sangat jelek." Ujar Luhan menunjuk Baekhyun yang berdiri dengan kacau sedangkan Haowen hanya mengerjabkan matanya didalam gendongan ibunya.
"Kau benar-benar ingin lomba menangis dengan bocah empat tahun seperti Haowen ya?"
"Luhan Jie!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya tak terima.
"Aku rindu jiejie ~" Sambungnya manja.
"Dasar anak manja!" Luhan terkekeh melihat Baekhyun lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.
"Aku akan kesana, buka pintunya."
Baekhyun mengangguk cepat lalu berlari kecil kemudian membuka kunci pintu kamarnya.
Baekhyun dapat mendengar Luhan yang berseru pada Sehun untuk menjaga Haowen dengan benar setelahnya suara langkah kaki yang menaiki anak tangga menggema, tidak lama setelahnya Luhan muncul didepannya. Baekhyun menghambur kedalam pelukan Luhan menyalurkan rindunya yang menumpuk. Ia juga rindu kepada keponakannya yang berwajah datar itu, wajah turunan ayahnya, suami Luhan.
"Kapan jiejie sampai?"
"Tadi siang, saat kau meraung-raung dan jatuh tertidur, bibi Heechul telah menceritakan semuanya padaku. Dan aku kecewa padamu." Luhan menghela nafas, "Baekhyun..kau ini tidak lelah menyiksa diri begini?"
"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menangis? Aku akan menikah secara terpaksa minggu depan!"
Luhan menyeret Baekhyun untuk duduk disofa dalam kamarnya, yang lebih tua mengenggam tangan lentik Baekhyun menumpuknya lagi dengan tangannya yang lain.
"Baekhyun, dengarkan aku. Apa kau ingin melihat ibumu bangkrut dan terlilit banyak hutang? Apa kau tega melihatnya dikejar juga diancam oleh rentenir bank?"
Baekhyun menggeleng.
"Dan juga, apa kau sudah cukup yakin dan dewasa untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya? Bekerja dari pagi sampai malam, membayar pajak, listrik, air, juga sampah. Apa kau mau menyalurkan uangmu untuk kebutuhan hidupmu? Merelakan barang-barang mewahmu, kemudian semuanya hanya menjadi angan-angan karena kau tidak mampu lagi untuk membelinya. Kemewahan ini yang selalu kau dapat haya dengan gesekan kartu akan hilang apabila kau tidak menikah dengan pria itu. Asal kau siap hidup sederhana dan mengganti tugas ibumu menjadi tulang punggung keluarga, kau bisa membatalkan pernikahan ini dengan baik-baik."
Baekhyun menunduk dalam-dalam masih bimbang. Luhan menghela nafas lalu mengusap punggung tangan Baekhyun. "Aku paham kau masih bimbang, kalau begitu bagaimana jika kita menenangkan fikiranmu? Ganti pakaianmu dan ikut aku."
Baekhyun memandang Luhan bingung, "Kemana? Aku tidak ingin pergi bersama eomma."
"Rahasia. Dan juga hanya kita berdua yang akan pergi, jadi bagaimana? Ikut atau tidak?"
Baekhyun tersenyum bulan sabit lalu mengangguk kekanakan.
…
Baekhyun mengerucutkan bibirnya saat mengetahui Luhan membawanya ke salah satu gedung pusat perbelanjaan juga apartemen milik perusahaannya.
"Dari sekian banyak pusat perbelanjaan mengapa jiejie membawaku kemari?!"
"Apa salahnya? Lagipula ini pusat perbelanjaan terbesar di Seoul."
Baekhyun tidak menjawab, memilih mengikuti langkah Luhan dalam diam. Baekhyun tidak memperdulikan sekitarnya dan kemana Luhan akan membawanya.
"Berhenti memasang muka seperti itu, sekarang lihat kesekitarmu."
Baekhyun mengerjab, memandang keramaian dari tempatnya berdiri. Mereka berdua berada di tengah-tengah koridor luar ruangan, taman-taman indah, toko-toko berpintu kaca yang isinya ramai pengunjung, lampu yang mulai dinyalakan karena hari mulai gelap.
"Apa yang ada difikiranmu?" Luhan menatap Baekhyun. "Keramaian?"
"Selain itu. Dari yang tertampil sekarang apa kau bisa menemukan suatu tanggung jawab?"
Baekhyun masih diam memandangi orang-orang yang berlalu lalang. "Ratusan lebih pegawai yang berjuang menafkahi keluarganya bergantung padamu. Tidak hanya pegawai digedung ini, pegawai di gedung perusahaan lainnya yang kau miliki. Tujuh ratus lebih nyawa bergantung pada keputusan yang akan kau ambil."
Baekhyun mengalihkan atensinya pada Luhan dengan wajah terkejut, "Tujuh ratus ribu?"
Luhan mengangguk, "Belum lagi diantara mereka sudah berkeluarga, memiliki banyak anak, kebutuhan hidup yang tinggi, pekerjaan ini adalah hidup mereka."
"Maka jika aku memutuskan untuk tidak menikahi Chanyeol.." Luhan mengangguk mengerti ucapan menggantung Baekhyun, "Benar, mereka semua akan menjadi pengangguran dan tidak bisa lagi menafkahi keluarganya."
Baekhyun menopang tangannya dipagar pembatas menangkup wajahnya. Fikirannya berkecamuk antara hati juga logikanya. Ia tidak akan pernah bisa membayangkan wajah-wajah dengan guratan lelah itu mengecewakan keluarganya karena tidak lagi bekerja untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Bagaimana nasib mereka juga keluarga mereka?
Sebanyak itu nyawa yang bergantung padanya untuk melanjutkan hidup yang keras ini?
Hanya saja menikah? Haruskah pernikahan impiannya dengan sosok yang ia cintai harus tergadaikan dengan pernikahan paksa atas nama bisnis ini?
Haruskah ia menyerahkan dirinya demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang sudah dibangun oleh buyut, kakek dan ayahnya dengan penuh keringat dan darah?
Balenciaga, Gucci, Louis Vuitton, Versace, Porsche, Audi, serta barang-barang bermerk yang ia kerap gunakan hanya tinggal kenangan bila ia membatalkan pernikahan ini dan menjadi tulang punggung dengan gaji seadanya.
"Aku.. akan sangat egois bukan? Sangat egois dengan membiarkan perusahaan keluarga bangkrut dan membuat tujuh ratus ribu lebih nyawa pengangguran masal? Bagaimana dengan keluarga mereka nanti?"
Luhan tersenyum simpul, ia tahu Baekhyun dibalik tingkah menyebalkan dan manjanya ada sisi kedewasaan yang terselip. "Ya, sekarang semua ada ditanganmu Baekhyun."
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, "Ini keputusan yang sulit jie."
"Aku tahu, waktu terus berjalan jangan terlalu lama memikirkannya sayang. Apapun keputusan yang akan kau ambil, aku selalu ada untukmu."
…
"Sabtu, 14 Juni pukul satu siang sedang berlangsung upacara pernikahan antara pewaris tunggal Lunar Corp dengan Park holding. Sepanjang ini acara berlangsung hikmat didalam Ballroom Lotte Hotel Seoul." Ucap reporter wanita diluar pintu ganda hitam yang tinggi menjulang.
"Dapat dilihat sang pengantin wanita yang sangat mempesona dengan gaun diatas lutut dan jubah tipis panjang yang menyapu lantai, berjalan diatas altar diiringi ayah dari pihak lelaki, Park Kris. CEO dari Park Holding yang keturunan Korea juga Kanada. Dipenghujung altar berdiri mempelai pria dengan gagah yang juga tidak kalah mempesona, mempelai pria memakai tuxedo hitam legam karya Gucci, brand yang sama dengan gaun pengantin." Kini yang diucapkan hanya dalam bentuk narasi karena wartawan dilarang menganggu kehikmatan upacara pernikahan, mereka hanya diizinkan untuk merekam prosesi acara berlangsung tanpa ada suara sedikitpun.
"Byun Baekhyun, Aku menjanjikan hati dan jiwaku. Aku , Park Chanyeol, menikahimu untuk menjadi istri sahku , teman hidupku, pelabuhan hatiku, cintaku dimasa kini dan nanti. Di hadapan Tuhan, keluarga dan juga teman kita, Aku bersumpah untuk menjadi pasangan hidupmu dalam sakit dan sehat, dalam sukacita dan kesedihan. Aku berjanji untuk mencintaimu tanpa syarat, mendukungmu dalam segala hal, menghargaimu dan menghormatimu, tertawa dan menangis bersamamu, dan menyayangimu disepanjang hidupku."
"Park Chanyeol, aku, Byun Baekhyun, menjadikanmu sebagai pasangan hidupku. Aku bersumpah diatas segalanya untuk hidup dalam kejujuran denganmu, menghadapi segalanya dalam kehidupan tanpa rasa takut denganmu, aku menyerahkan tangan, hati, jiwa serta ragaku sebagai tempat perlindungan, kehangatan dan kedamaian. Dan aku mengikrarkan cinta, pengabdian, iman dan kehormatanku ketika aku melanjutkan kisah hidup bersamamu."
"Setelah mengucapkan janji dan sumpah pernikahan yang hikmat juga mengaitkan cincin dijari manis satu sama lain, itu berarti kini pihak dari Lunar Corp dengan Park Holding telah resmi terikat kerjasama antar ikatan darah. Semoga pasangan muda ini berbahagia selamanya dan memiliki keturunan yang semakin mempererat kehidupan rumah tangga mereka.
Sekian berita langsung terikini, selamat siang."
Tepuk tangan yang meriah itu melatar belakangi kecupan singkat didahi Baekhyun. Matanya terpejam menguatkan hatinya, ia telah melakukan hal yang benar. Ini pertama kalinya ia merelakan keegoisannya demi orang lain.
"Setelah ini,semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa Byun Baekhyun!"
…
Baekhyun terbangun dari tidurnya dengan pakaian tidur sutra membungkusnya. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk, pernikahan dan pesta berlangsung satu hari penuh sepatu hak tinggi tentu bukan hal yang menyenangkan untuk dipakai selama satu hari pernuh. Matanya menstabilkan cahaya yang menusuk-nusuk retinanya. Tirai putih dikamarnya telah terbuka menampilkan gedung-gedung pencakar langit dan langit biru Seoul.
Baekhyun duduk dan memandang sekelilingnya, ini bukan kamarnya. Ia memejamkan mata erat mengingat serpihan-serpihan memori sebelum akhirnya ia jatuh tertidur. Pestanya selesai pukul dua belas malam, ia dan Chanyeol pergi menaiki mobil pengantin karena ia terlalu lelah untuk bertanya mereka akan kemana sehingga ia lebih memilih untuk jatuh tertidur.
Baekhyun mengusap wajahnya, mungkin ini tempat tinggal Chanyeol. Ini benar-benar terjadi rupanya, bukan mimpi buruk belaka. Ia melangkah untuk keluar dari kamar saat menyadari bahwa pakaiannya berbeda yang terpantul dari cermin tinggi disisi pintu.
"Ti-tidak mungkin ia menyentuhku dan mengganti pakaianku kan?" Gumamnya seorang diri. Perasaan marah dan malu mendominasi dirinya. Ia keluar dengan langkah terburu-buru mencari pria bermarga Park itu.
"Hei! Park Chanyeol!" Panggilnya-atau bisa disebut berteriak- diruang keluarga.
Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja dan tak menemukannya. Baekhyun berdecak, "PARK CHANYEOL!" Baekhyun berteriak dengan kalap, ia tidak suka saat sesuatu atau seseorang yang ia butuhkan tidak segera datang menyambutnya.
Langkah tergesa-gesa muncul dari belakangnya, Baekhyun menoleh menemui wanita yang umurnya tak jauh dari dirinya, ia memiliki tubuh mungil dengan wajah yang manis. Baekhyun memandangnya bingung sedang yang dipandang tersenyum,"Selamat pagi nyonya Park. Saya Xiumin, salah satu asisten rumah tangga keluarga Park. Saya akan melayani anda mulai dari pukul enam pagi hingga enam sore."
Baekhyun membalas senyumannya, "Halo Xiumin, panggil aku Baekhyun-Ia masih belum bisa menerima panggilan itu."
Xiumin menggeleng tak setuju dengan penuh keraguan dimata bulatnya, "Tidak, tuan Chanyeol akan menegur saya."
"Please, ini permintaanku bukan si Park kurang ajar itu. Ah, dan juga kemana dia?" Wajah Baekhyun berubah menjadi keruh.
"Tuan Chanyeol sudah pergi bekerja dua jam yang lalu nyonya."
Baekhyun melirik jam pada dinding yang menunjukan pukul delapan pagi. Siapa yang bekerja diwaktu bulan madunya? Jangan salah paham, Baekhyun hanya ingin berlibur bukan ingin menghabiskan waktu romantis dengan raksasa itu.
"Tuan Chanyeol berpesan bahwa saat ini nyonya tidak dapat bepergian kemanapun tanpa seizinnya."
"A-apa?! Kenapa? Siapa dia memangnya?! Dan tolong Xiumin, panggil aku Baekhyun! Apa sesusah itu?"
Xiumin melipat bibirnya menjadi sebuah garis lalu tersenyum lembut, "Baiklah, saya akan memangggil anda Baekhyun saat tidak ada keluarga besar nyonya dan tuan."
"Jika memang itu yang terbaik. Aku sudah terkurung disini dan aku sangat bersyukur kau mau berteman denganku tanpa ada embel-embel nyonya."
Xiumin menarik senyum simpatinya, "Bagaimana jika nyo-" Baekhyun memicing pada Xiumin saat kata "nyonya" hendak meluncur dari mulutnya. "Maksudku, bagaimana jika Baekhyun-ssi mandi lalu sarapan? Aku akan menyiapkannya."
"Ide bagus. Terima kasih, Xiumin." Baekhyun berbalik melangkahkan tungkainya kembali memasuki kamarnya. Namun langkahnya terhenti didepan pintu lalu membalikan tubuhnya, "Xiumin."
Yang dipanggil mengangkat alisnya, "Ya?"
"Apa kau yang mengganti pakaianku?"
Xiumin menggeleng, "Tidak, aku baru datang pukul enam pagi untuk menyiapkan sarapan tuan Chanyeol."
Baekhyun membuang mukanya kedepan pintu kemudian membuka daun pintu lalu membantingnya membuat Xiumin terlonjak dari tempat ia berdiri.
"MATI KAU PARK CHANYEOL!"
…
"Aku sudah harus kembali ke kediaman Park, Baekhyun-ssi."
Atensinya berpindah dari drama yang ditayangkan di televisi menjadi Xiumin yang berdiri dibelakangnya sudah berpakaian lengkap untuk pergi. Baekhyun menelan kunyahan strawberrynya, "Begitukah?"
Xiumin mengangguk membuat Baekhyun melirik jam diruang keluarga. "Baiklah hati-hati, apa perlu aku mengantarmu?"
"Tidak perlu, suamiku menjemputku." Jawabnya dengan senyuman malu-malu.
Baekhyun mengangkat sudut bibirnya, "Kau sudah menikah?!"
"Ya." Jawabnya bangga.
"Berapa usiamu Xiumin?"
"Ah, aku sebenarnya dua tahun lebih tua darimu.." Nada berbicaranya semakin lirih di penghujung kalimat.
"Waw! Kau terlihat lebih muda dari usiamu!"
Xiumin tertawa mendengarnya bukan hal baru baginya.
"Well, aku akan memanggilmu eonnie kalau begitu! Rasanya senang sekali, seperti memiliki kakak perempuan!"
Senyuman bulan sabitnya memberikan pengaruh pada dua sudut bibir Xiumin yang ikut melengkungkan senyuman, "Kalau begitu aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Tuan Chanyeol akan segera pulang, selamat malam Baekhyun-ssi."
Baekhyun mengangguk, "Selamat malam eonnie, titipkan salamku pada suamimu. Oh dan juga orangtua Chanyeol."
"Akan aku sampaikan."
Setelah pintu apartemen tertutup rapat dan terkunci otomatis, Baekhyun meletakan mangkuk strawberrynya kemudian berlari-lari kecil kedalam kamarnya atau kamar Chanyeol. Apartemen ini hanya memiliki satu kamar, mungkin saja dua, sebelum akhirnya Chanyeol mengubahnya menjadi ruang musik.
Baekhyun masuk kedalam walk in closet, ia melompat-lompat kegirangan melihat pakaian lamanya bercampur dengan pakaian baru yang tersusun rapih sesuai warna dan kepentingan. Baekhyun tidak suka diatur, dikekang apa lagi dikurung seperti ini! Jika Chanyeol berfikir ia perempuan seperti itu jelas sekali ia salah besar karena semakin dilarang Baekhyun semakin menjadi-jadi.
Seringainya melebar kala menarik keluar bodycon dress bewarna merah dengan tali spageti.
"Sempurna"
…
Baekhyun rasa lima jam berbelanja waktu yang cukup untuknya membuat panas kartu kredit suaminya yang ia dapatkan didalam laci meja kerjanya. Baekhyun memasukan semua kantung kertas belanjaannya kedalam mobil suaminya yang ia curi juga dari salah satu koleksinya di basement pribadinya.
Baekhyun mematut dirinya dikaca mobil, merasa dirinya sudah tampil sangat sempurna ia melangkahkan kaki jenjangnya yang berbalut loubouttin stiletto hitam.
Sipitnya berbinar-binar menyapu keramaian klub yang sudah cukup lama tak ia datangi semenjak dirinya hampir bangkrut beberapa waktu yang lalu. Tubuh gemulainya bergerak angkuh menuju bar panjang dengan tiga bartender dibaliknya. Satu pria bartender disana menanyakan pesanannya yang dijawab margarita oleh Baekhyun.
Tidak perlu menunggu waktu lama bartender itu meletakan segelas margarita didepan Baekhyun yang langsung disesapnya.
"Tak ku sangka kau secepat ini untuk datang kembali, Baek."
Bibir merah pekat Baekhyun mendecak setelah menelan minuman kesukaannya. "Aku tahu kau merindukanku."
Changmin tertawa, "Aku tidak mau mati lebih cepat karena merindukan istri si pewaris tahta."
"Sialan."
Changmin tertawa lalu meninggalkan Baekhyun dengan minumannya. Baekhyun menghabiskan minumannya kala indera pendengarannya menangkap lagu kesukaannya. Ia ikut bergabung dengan kumpulan orang yang meliuk-liukan dirinya dengan berbagai macam tarian. Dirinya semakin ikut terbawa suasana, tangannya ia naikan keatas melambai tak tentu arah bersamaan dengan pinggulnya yang kekanan dan kekiri. Baekhyun mengibaskan rambutnya yang tergerai dengan satu hentakan kepala kebelakang.
Dirinya belum merasa lelah dan belum cukup mabuk untuk melalui malam yang masih muda, terlalu sayang untuk dilalui begitu saja apalagi berdiam diri di apartemen Chanyeol. Mengingat Chanyeol membuat dirinya muak dan marah. Baekhyun membalikan tubuhnya, menarik asal pria yang berdansa dibelakangnya dan memagutnya tanpa aba-aba.
Baekhyun menekan tengkuk si pria, menuntut untuk memperdalam ciumannya. Baekhyun melampiaskan seluruh amarah dan kekesalannya dalam pagutan panas juga menuntut yang ia lakukan dengan orang asing.
"Enyahlah kau, Park!" Batinnya menggerutu kala kembali mengingat fakta Chanyeol melihat tubuhnya kemarin malam.
Baekhyun mendorong pria asing yang sudah terbakar gairah itu lalu mengambil satu sloki vodka diatas nampan yang dibawa berkeliling oleh bartender. Kemudian mengambil tiga sloki lagi, membakar tenggorokannya tanpa ampun.
Baekhyun bukan peminum yang ahli dan ia sangat sadar bahwa ia sudah melebihi batasnya. Ia bahagia dirinya mabuk karena beban hidupnya meluap seketika. Ia mendekati panggung dan berjalan menaiki anakan tangga kemudian ikut menari ditiang dengan penari lainnya. Dentuman suara S and M milik Rihanna membakar gairah Baekhyun.
Orang-orang bertepuk tangan dan menyerukan Baekhyun untuk terus melanjutkan aksinya karena mereka semua menikmatinya. Baekhyun menyeringai, ia suka saat menjadi pusat perhatian. Panas dalam tubuhnya membakar dirinya. Ia menurunkan sedikit tali spageti dressnya membuat orang-orang terutama pria semakin berseru.
Changmin menoleh kearah panggung dan menyadari Baekhyun mulai diluar batasnya yang kini menurunkan sisi lain tali pakaiannya. Changmin melempar serbetnya kemudian berlari membelah lautan manusia yang terus memprovokasi Baekhyun untuk membuka pakaiannya.
"Ya Tuhan Baekhyun! Sadarlah!" Serunya menahan pergerakan Baekhyun menurunkan resleting pakaiannya.
Baekhyun dengan pandangan yang berbayang memfokuskan lensanya, "Oh, hai pria tampan." Baekhyun menyeringan lalu mengalungkan tangannya pada leher Changmin.
"Ya, aku tahu itu. Sekarang ayo kita pergi."
Baekhyun terkekeh. "Kemana? Apa sekarang kita akan bercinta?"
"Baekhyun! Jaga ucapanmu!"
"Aku tidak suka diatur! Kau sama saja dengan si keparat Chanyeol!"
Changmin tidak ingin membalas ucapan wanita mabuk didepannya ini. Ia mengangkat Baekhyun diatas bahunya lalu turun dari atas panggung kemudian mendudukannya dikursi tinggi berhadapan dengan bar. Changmin memutari bar, menunduk lalu mengeluarkan tas kecil milik Baekhyun yang ditinggal si pemilik.
"Telfon suamimu atau siapapun itu untuk menjemputmu." Ucapnya, menyerahkan tas perak pada Baekhyun yang menidurkan kepalanya diatas meja.
"Apa kita tidak jadi bercinta?"
Changmin memutar kedua bola matanya malas. "Tidak ada yang akan bercinta malam ini, sekarang pulanglah! Minta suamimu menjemputmu, Ya Tuhan!"
"Persetan denganmu dan Chanyeol! Aku masih lajang brengsek!" Baekhyun mengambil gelas berakohol milik orang disampingnya lalu bangkit dari kursinya hendak menlanjutkan kesenangannya yang tertunda.
Bugh
"Aaww.." Rintihnya saat menabrak sosok menjulang didepannya. Kepalanya berdenyut-denyut karena tambahan alkohol yang ia minum sebelumnya. Saat kepalanya mendongak, lensanya bekerja untuk fokus pada objek yang ia tabrak.
Baekhyun menyeringai, "Ingin bergabung untuk bersenang-senang? Tuan Chanyeol?"
.
.
.
Tbc
Chemistry4,Cheonsa528,danactebh makasih udah mau ninggalin jejak dan berpendapat! Makasih juga untuk yang follow dan favorite, semoga pada makin suka ya sama ceritanya!Maaf buat typo yang kelewat dari editing. Sampai ketemu lagi(kalau ada yang review lagi) bye bye~
