Chanyeol memandang Baekhyun sedatar-datarnya tanpa membuang waktu lebih lama lagi ia mengambil tas perak milik Baekhyun kemudian mengeluarkan dompet pribadi miliknya, kemudian menaruh beberapa lembar won di atas bar. "Ayo pulang." Chanyeol berlalu dari hadapan Baekhyun.

Namun Baekhyun hanya mencibir saat melihatnya, menganggap angin lalu ucapan Chanyeol. Ia kembali masuk ke arena berdansa dan kembali menarik secara acak pria asing untuk kembali dipagutnya. Chanyeol menoleh kebelakang, sedetik kemudian rahangnya mengeras kala onyxnya menemui Baekhyun memagut panas pria asing yang tangannya meraba punggung hingga bokong sintal milik Baekhyun yang tercetak sempurna.

Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya lebar-lebar mempersingkat jarak antara dirinya dengan Baekhyun yang semakin larut dalam suasana. Chanyeol menarik kerah kemeja pria itu lalu menjauhkannya dari Baekhyun, membuat pagutan panas itu terlepas. Baekhyun menatapnya nyalang lalu berbalik semakin memasuki kerumunan orang-orang yang semakin ramai saat malam sedang dipuncaknya. Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun dengan paksa membuat si empunya berteriak tak terima.

"Lepaskan aku!" Baekhyun memaksa tangan Chanyeol untuk melepaskan cengkramannya dengan tangannya yang lain. "Brengsek! Aku tidak akan pulang denganmu!"

"Diam."

"Jangan memerintahku!"

Namun Chanyeol tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju pintu keluar. "Ugh, lepas! Park Chanyeol!"

"Kau benar-benar pembuat onar!" Maki Chanyeol yang kini telah berhenti melangkah dan menatap tajam Baekhyun.

"Itu nama tengahku!"

Chanyeol membuang nafas kasar di udara. Bagaimana bisa ia menikahi wanita gila ini? Bukan, bukan itu pertanyaan yang benar. Mengapa bisa ia setuju saja saat bibi Heechul memberikan kabar ke keluarganya bahwa Baekhyun setuju untuk dijodohkan. Mengapa ia tidak berontak lebih jauh atau kabur dari Korea? Yap, betul, ibunya satu-satunya alasan Chanyeol tidak bisa memberontak lebih jauh. Ia tidak tega menyakiti perasaan ibunya yang sangat berhati malaikat itu. Chanyeol tak sengaja mengalihkan pandangan dari Baekhyun yang masih memelotinya kearah sekumpulan pria mata keranjang yang duduk di sofa berbentuk setengah lingkaran tengah menelanjangi tubuh Baekhyun yang tercetak jelas dibalik gaun merah melalui matanya yang naik turun. Chanyeol menatap mereka tak suka, bukan karena cemburu tetapi karena mata dan fantasi liar yang mereka miliki. Chanyeol dapat menebaknya dengan pasti karena ia juga lelaki tetapi ia akan berfikir ulang untuk memiliki fantasi liar tentang Baekhyun, wanita gila yang menjadi istrinya.

"Ini sudah hampir jam dua malam dan aku benar-benar malas berdebat denganmu."

"Kau bisa pulang dan tinggalkan aku disini! Aku tidak akan pulang sebelum menikmati 'inti' dari malam ini."

Dahi Chanyeol mengerut, "Apa yang kau maksud inti?"

Baekhyun menyeringai lalu menyibakan rambutnya kebelakang, "Kau tidak perlu tahu karena kau belum cukup jantan untuk mengetahuinya, Tuan Park." Ucapnya sensual.

Baik, harusnya Chanyeol tidak perlu basa-basi bertanya atau tidak perlu repot-repot mencari Baekhyun! Kalau bukan salah satu mobil kesayangannya yang hilang dari tempatnya ia tidak akan repot-repot mencari keberadaan Baekhyun.

Chanyeol belum dapat menjawab saat salah seorang pria dari bangku melingkar itu datang kearah Baekhyun kemudian dengan lancangnya meletakan tangannya dipinggul Baekhyun.

"Hai cantik, ku dengar kau mencari pria yang cukup jantan. Aku dapat mendengarnya dari bangkuku karena suaramu cukup nyaring namun merdu ditelingaku."

Baekhyun menoleh lalu kembali menyeringai, "Oh, kau mendengarnya?" Baekhyun mengintip wajah Chanyeol dari sudut matanya. Rasa ingin membuat Chanyeol emosi semakin terpacu ketika ia melihat dengan jelas betapa tegasnya garis rahang milik Chanyeol akibat menahan emosi yang sudah diujung ubun-ubunnya. Baekhyun menoleh pada pria tadi, "Ya, apakah kau cukup jantan?" Tanyanya berpura-pura menjadi wanita nakal.

"Kurasa kau telah menemukannya." Jawabnya dengan senyum yang dipenuhi gairah. Rahang Chanyeol semakin mengeras, gigi-giginya sudah bergemelutuk karena emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Terlebih ketika pria itu mengelus wajah Baekhyun dengan tangan kotornya.

Cukup sudah!

Chanyeol menepis secara kasar tangan pria itu. "Menjauh dari istriku." Chanyeol mengangkat Baekhyun keatas bahunya lalu melampiaskan kekesalannya dengan menampar bokong Baekhyun.

"AKH!YA! PARK CHANYEOL! TURUNKAN AKU!"

"Berhenti berteriak!"

"TURUNKAN AKU PARK SIALAN!"

The Way

.

.

BaekheePark

Present

.

Attention please! Cerita dibawah adalah waktu yang berbeda

dari cerita diatas. Move forward.

p.s aku maunya penthouse disini liftnya beda sama penghuni gedung apartemen lainnya

jadi punya lift sendiri.

Enjoy the story! Typo bersebaran!

.

Even if the rain comes, we are the blue spring day

We gon' make it alright

You don't have a pretend to be 'ok'

Rather than the blue spring day and flowers

We gon' get it

So that no one can say anything to us

So we don't stay down

'Cause we young

EXO SC – We Young

.

Chapter 3

"Aku rasa kau benar-benar mencari perhatianku."

"Apa?! Aku tahu kau gila tapi tidak segila ini." Balas Baekhyun yang mensandarkan kepalanya kebelakang.

"Ini sudah ke sebelas kalinya sejak satu bulan pernikahan kita dan juga ini kedua kalinya aku harus menjemputmu dari tempat itu setelah kejadian tempo lalu. Lagi-lagi kau mencuri kartu simpananku dan audi kesayanganku."

"Ugh. Aku benci kalimat 'Pernikahan kita'." Olok Baekhyun sambil memejamkan mata.

"Hoho! Kau kira aku bahagia?!" Maki Chanyeol yang menengok Baekhyun disela-sela fokusnya menyetir.

"Aku tidak melarangmu untuk bahagia, Park. Lihatlah aku, tidak peduli dengan apapun yang terjadi aku selalu bahagia dengan caraku. Kau harus belajar dariku, belajarlah untuk bersenang-senang sedikit bukannya selalu berkutat dengan tumpukan kertas memuakan dikantormu itu. Kau perlu melonggarkan dirimu sendiri, nerd."

"Apa yang kau definisikan bahagia dan melonggarkan diri? Bermabuk-mabukan dan menghamburkan-hamburkan uang maksudmu? Dan juga, manusia yang kau sebut nerd ini mengurus kertas-kertas memuakan yang harusnya menjadi tanggung jawabmu. Dasar useless." Tak mau kalah pedasnya.

"Itu gunanya kau suamiku." Balas Baekhyun dengan nada penuh sarkastik. Inilah keseharian mereka selama satu bulan menjalin kehidupan rumah tangga yang serasih, harmonis dan bahagia dipenuhi dengan lontaran-lontaran kalimat cinta dan penuh kasih sayang seperti yang tengah terjadi saat ini.

Chanyeol membalasnya dengan membelokan mobilnya tajam dengan bertenaga penuh dan cepat yang membuat kepala Baekhyun terantuk jendela mobil.

"YAAK!"

"Jangan berteriak!"

"Kau idiot! Kepalaku sudah cukup sakit dengan segala efek alkohol! Lalu dengan kebodohan dirimu kepala indahku terantuk!" Makinya memelototi Chanyeol yang mengolok-ngolok ucapannya.

"Siapa yang kau panggil idiot?!" Tanya Chanyeol semakin terpupuk rasa dongkol terhadap istrinya.

"Kau! Park Idiot Rasaksa Chanyeol!"

"Kau kurcaci bertelinga dumbo!"

"A-APAA?!TELINGAMU JUGA BESAR! KAU ITU PARK YODA. PARK YODA!" Kalimat Chanyeol membuat Baekhyun terkejut dan juga tak terima. Rasanya sisa mabuknya sudah hilang karena bertengkar dengan manusia gila kerja ini. "Kau tau apa?! aku benar-benar membencimu Park Chanyeol!" Maki Baekhyun diiringi layangan beberapa tamparan panas disegala tubuh Chanyeol yang dapat ia gapai. Mulai dari lengan berototnya, bahu kokohnya, pinggangnya, paha dan juga jari-jarimya yang berada dikemudi.

"YAAK! SAKIT! KAU MAU MEMBUNUH KITA?"

"KAU YANG MEMULAINYA!" Balas Baekhyun semakin jadi.

"HENTIKAN! WHAT ARE YOU?! A PSYCHO?!" Teriak Chanyeol menggelegar didalam ruang sempit itu.

Namun Baekhyun tidak menghentikan tamparannya walaupun mobil mereka telah terpakir rapih didalam basementnya dengan selamat. Bahkan didalam lift menuju kedalam penthouse mereka, Baekhyun tidak bisa memberikan ampun kepada Chanyeol. Chanyeol yang mulai geram dan merasakan pedih diatas kulit mulusnya menangkis pergelangan tangan Baekhyun dan menyudutkannya didalam lift.

"Untuk ukuran seseorang yang mabuk berat kau cukup kuat, kau tau itu?"

Baekhyun membuka mulutnya bermaksud membalas kalimat Chanyeol, namun Chanyeol memajukan jarak wajahnya beberapa centi hingga aroma alkohol dari mulut Baekhyun tercium oleh indera penciumannya.

"Kau benar-benar pembuat onar Byun Baekhyun." Bisiknya dengan suara bariton. Apakah Baekhyun terlalu mabuk sampai-sampai bisikan pria menyebalkan ini terdengar sangat seksi?

Baekhyun memundurkan kepalanya yang kemudian lagi-lagi membuatnya terbentur. Baekhyun mengernyitkan kedua alisnya sambil mengintip dibalik bulu matanya, takut-takut apa yang akan terjadi kedepannya. Chanyeol menampilkan senyuman devilnya melihat reaksi si mungil yang terkurung. Tanpa perlu bersusah payah menjauhkan diri, ia ingin melihat reaksi tak berdaya si mungil karenanya ia mempertahankan posisinya. "Apa yang ada difikiranmu Byun?"

*Ting*

Pintu lift terbuka, menampilkan ruangan besar penthouse miliknya. Chanyeol yang lengah adalah kunci untuk Baekhyun melarikan diri. Baekhyun mendorong Chanyeol dengan menghantukan kepalanya ke depan wajah Chanyeol yang strike mengenai tulang hidung mancung milik Chanyeol.

"SHIT/SHIT!"

Keduanya mengutuk kesakitan. Tidak Baekhyun sangka wajah Chanyeol cukup keras. Tamat sudah riwayat kepalanya malam ini. Triple kill.

Selagi Baekhyun kabur dan mengelus keningnya yang sakit, Chanyeol mengumpat betapa bencinya ia menikahi wanita psikopat itu. Chanyeol keluar dari dalam lift menyusul Baekhyun kedalam penthouse sambil mengurut-urut tulang hidungnya yang hampir patah namun ia malah menabrak tubuh wanita yang berhenti mendadak dihadapannya.

"Yak! Mengapa berhenti mendadak ?!" Maki Chanyeol yang masih merasakan denyutan di seluruh hidungnya. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang menatap lurus dengan wajah terkejut, Chanyeol ikut mengalihkan pandangannya kearah pandang Baekhyun kemudian raut wajahnya ikut berubah yang tidak berbeda dari Baekhyun.

"Eo-eomma?/Eo-eommonim?Eomma?"

"A-appa?!/A-abeonim?"

Tiga orang dewasa disana duduk diruang tamu memandang kearah mereka tidak dengan wajah yang bersahabat. Bahkan ibunya, Zitao yang sangat lembut menampilkan wajah tidak ada ampun untuk keduanya.

Dan dua orang yang berdiri untuk dihakimi dapat merasakan bahwa mereka akan mendapatkan masalah besar.

Baekhyun dapat merasakan tatapan laser dari kedua mata ibunya yang duduk disebrangnya membuat seluruh rasa mabuknya benar-benar menguap. Zitao menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas berat. Kris menampilkan wajahnya setelah sebelumnya ia tutup dengan kedua katup tangannya.

"Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan kepada kalian berdua. Terutama, kau Chanyeol. Kau adalah kepala rumah tangga yang sudah seharusnya menjaga istrimu. Bukannya malah membiarkannya pergi keluar hingga tengah malam dan juga bermabuk-mabukan. Apa kau merasa tidak punya tanggung jawab?"

"Aku selalu menjemputnya dan mencarinya." Jawab Chanyeol yang membuat Kris tercekik dengan tawa keringnya, "Mencari dan menjeputnya? Itu yang kau sebut tanggung jawab? Kau bahkan tak melarangnya pergi!"

"Aku melakukannya, appa." Jawab Chanyeol masih bertahan dengan segala kesabaran yang tersisa didalam dirinya. Kepalanya tertunduk dalam tidak berani menantang tatapan tajam milik sang ayah.

Kris kembali membuka mulutnya hendak membalas perkataan Chanyeol. Namun tercegah oleh suara serak Baekhyun yang takut-takut memandang ayah mertuanya.

"A-abeonim.. sebenarnya akulah yang-"

"Yang melanggarnya. Aku tahu Baekhyun." Sambar Kris yang membuat Baekhyun menciut ditempat duduknya. Kini ia hanya bisa diam seribu kata.

"Ibumu sudah menjelaskannya kepadaku betapa keras kepalanya dirimu yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan Chanyeol!"

Zitao menyodorkan tablet pipih berisikan beberapa foto Baekhyun yang diambil tanpa sepengetahuan empunya. Chanyeol dan Baekhyun mengamati layar benda pipih tersebut, menampilkan foto Baekhyun yang berada di klub malam. Chanyeol membuang nafas berat dan menatap tajam Baekhyun disisi kanannya sedangkan yang ditatap melipat bibirnya menjadi satu garis.

"Byun Baekhyun, sehari setelah pernikahannya terlihat di klub terkenal memagut pria lain. Byun Baekhyun kembali terlihat di klub lain dengan pria yang berbeda. Byun Baekhyun wanita terbodoh yang menyia-nyiakan suaminya. Park Chanyeol selalu ditemukan pulang larut malam, tidak bahagia?. Park Chanyeol 1001 pesona yang tidak mampu mempertahankan istri dan kehidupan rumah tangganya." Kris menyebutkan beberapa judul gossip yang beredar tidak ada henti-hentinya selama satu bulan terakhir.

"Awalnya aku diam dan menunggu reaksi kalian berdua akan seluruh berita sampah ini, namun satu bulan berlalu kalian tidak menunjukan usaha untuk meredam berita-berita sampah tersebut. Aku benar-benar kecewa dengan kalian." Kris menatap bolak-balik dua sejoli yang hanya bisa menunduk dalam-dalam. Kris menghela nafas berat,

"Ini membawa buruk citra perusahaan dan keluarga kita. Ibumu sudah merasa cukup dengan segala kesulitan yang ada Baekhyun." Lanjut Kris.

"Tidak ada yang salah dengan membeli beberapa barang yang kau inginkan, namun aku sangat tidak menganjurkannya untuk dihamburkan secara brutal dan sia-sia, gaya hidupmu perlu dirubah Baekhyun. Aku mengatakan seperti ini karena kau adalah putriku juga sekarang. Dan aku dapat melihat Chanyeol belum mampu juga untuk membimbingmu. Aku sangat sedih mengetahui seluruh orang di Korea Selatan meragukan pernikahan kalian, meremehkan putraku yang tidak mampu mempertahakan istri dan rumah tangganya. Juga istrinya dianggap tidak kompeten mengurus kebahagiaan suaminya sendiri. "

Kris mengendurkan urat-urat dari wajahnya lalu menyilangkan kaki jenjangnya. "Maka dari itu, dengan berat hati aku menghentikan seluruh fasilitas yang ada untuk kalian berdua."

Baekhyun dan Chanyeol mengangkat pandangannya kepada Kris dengan wajah terkejut, "Apa maksudmu,appa? Aku bekerja dengan hasil jerih payahku sendiri untuk memfasilitasi kehidupanku sendiri! Aku sudah dewasa yang tidak perlu lagi appa atur masalah kebutuhan atau fasilitas diriku sendiri!" Bantah Chanyeol tak terima sedikitpun atas landasan alasan ayahnya dapat mengemukakan pendapat seperti itu.

"Kau bekerja masih untukku Chanyeol."

"Kalian akan pergi sampai hubungan kalian membaik, sampai kalian saling mengenal satu sama lain, sampai kalian menjadi sepasang suami istri sesungguhnya dan harmonis. Harmonis yang benar-benar harmonis, bukan hanya bualan gossip murahan itu." Kim Heechul akhirnya membuka suaranya. Heechul membaca raut wajah bingung dua anaknya, kemudian ia menampilkan senyum yang dibuat-buat "Kalian akan tinggal di Yanggu, bersama dengan nenek Zhang disana."

"Eomma!"

"Diam Byun Baekhyun! Ini kesepakatan kami bersama."

"Aku benar-benar lelah dengan kesepakatan-kesepakatan yang eomma, eommonim dan abeonim buat. Kalau kalian ingin melihat kami benar-benar berumah tangga yang benar dan bahagia biarkan kami memperbaikinya dengan cara kami sendiri karenanya aku tidak mau tinggal bersama nenek Zhang!"

"Kami memberimu kesempatan Baekhyun, seperti yang sudah kubilang diawal tadi. Tetapi apa? Selama kami tunggu perubahan, semakin menjadi kalian. Lihat saja keadaan kalian saat ini, apakah ini yang menunjukan perbaikan? Bukankah saat berita sampah itu keluar kalian harus segera memperbaiki segalanya?" Tubruk Kris yang kemudian ditimpali oleh Heechul. "Kris benar, kemana saja 'perbaiki dengan cara kami sendiri' kalian disaat berita ini muncul dihari kedua pernikahan kalian? Dan juga Byun Baekhyun, dengar baik-baik. Nenek Zhang adalah nenekmu dan dia ibuku!"

Merasa kalah tak bisa membalas ucapan ibu dan ayah mertuanya, Baekhyun hanya bisa merutuk. "Nenek Zhang yang terburuk!"

"Dia sangat menyayangimu, nyonya muda." Baekhyun menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap dada.

"Kemudian posisimu dikantor akan digantikan sementara oleh sepupumu, Shim Changmin." Ucap Kris membuat bola mata Chanyeol siap melompat keluar dari dalam tengkoraknya.

"Apa?! Aku tidak sudi!"

"Dia cukup bagus dalam bekerja Chanyeol."

"Dan menjilat."

"Chanyeol! Dia sepupumu!" Tegur Zitao. Chanyeol menggelengkan kepalanya merasa geli mendengar fakta itu, "Dia selalu mencoba bersaing denganku!"

"Dia tetap sepupumu."

"Aku tetap tidak setuju! Kau tidak boleh melakukan hal ini kepadaku, appa."

"Demi kebaikan kalian berdua, kalian perlu belajar untuk menjalani kehidupan sesungguhnya dan tumbuh dewasa."

"Kalau hanya untuk menjalani kehidupan sesungguhnya dan tumbuh dewasa lebih baik hal itu dilakukan oleh Baekhyun sendiri tanpa perlu menyeretku." Baekhyun mendelik mendengar ucapan Chanyeol yang ingin lepas, bebas sendiri dari masalah.

"Kau suaminya dan dia tanggung jawabmu, Chanyeol. Tidak ada lagi tawar menawar, tiap minggunya kalian akan menghadiri janji temu dengan konsultan pernikahan di Chuncheon yang akan selalu memberikan hasil perkembangan hubungan kalian kepada kami."

"Aku berjanji akan merubah Baekhyun dan gaya hidupnya, menunjukan keharmonisan rumah tangga kami. Asalkan appa membatalkan semua kegilaan ini." Mohon Chanyeol.

Zitao memajukan tubuhnya beberapa centi kemudian menarik tangan putranya, mengelusnya perlahan memberikan ketenangan yang dapat meredakan ledakan-ledakan emosi didalam diri putranya. "Kami tahu apa yang kau takutkan, kami selalu bangga dengan ambisimu dan segala pencapaianmu dalam berkarir. Tetapi Chanyeol, ambisimu saat ini mulai tidak terkendali dan tidak sehat lagi untuk kehidupanmu. Lihat, jika tidak dijodohkan entah kapan kau akan menikah dan memperdulikan dirimu sendiri. Kau perlu melonggarkan diri sedikit, sayangku."

Chanyeol menunduk kemudian tertawa miris, "Ambisi.. kalian yang mencetakku seperti ini." Lirih Chanyeol.

Kris berdiri dari duduknya, "Maafkan aku, nak." Ucapnya penuh sesal dan terpukul oleh satu lirihan kalimat putra semata wayangnya. Kris membenarkannya, Chanyeol seperti ini memang kesalahan didikannya, dan ia benar-benar mencoba membenahinya dengan cara seperti ini. Kris yakin dilubuk terdalam Baekhyun adalah perempuan baik yang mampu mengubah anaknya menjadi lebih manusia bukan hanya sosok yang diperbudak oleh ambisinya.

"Besok sore Jongdae akan menjemput dan mengantarkan kalian berdua. Sebaiknya kalian cepat merapikan barang-barang yang kalian perlukan disana." Tutup Kris kemudian melangkah pergi.

Zitao menangkup pipi tirus putranya. Mata pandanya bertemu tatap dengan dua onyx yang berkelabu. Usapan kecil dari ibu jari ibunya mampu menyalurkan kehangatan pada diri Chanyeol. "Percayalah sayang, semua akan baik-baik saja. Eomma mendapatkan perasaan yang bagus akan hal ini."

Setelahnya Zitao mengambil tablet diatas meja kemudian menyusul suaminya. Heechul berdiri hendak menyusul kedua sahabatnya saat jari-jari ramping putrinya menahan langkahnya. Heechul menoleh kepada Baekhyun yang memandangnya dengan kedua mata puppynya. "Eomma, kumohon.." Heechul menyingkirkan tangan Baekhyun secara perlahan, "Kau harus belajar bertanggung jawab, Baekhyun. Buatlah eomma bangga sekali saja."

Mereka menghabiskan waktu satu jam diruang keluarga dalam keheningan. Hingga akhirnya keheningan itu rusak oleh suara slop sendal Chanyeol yang melangkah lebih dulu kedalam kamar. Baekhyun memandang kerlap kelip lampu kota diwaktu subuh, rasa sakit kepala yang hebat kembali menyerangnya. Namun ia terlalu takut menghadapi Chanyeol yang diam tanpa sepatah kata. Lebih baik ia dicaci maki oleh Chanyeol dari pada mendapatkan sikap dingin darinya, Baekhyun benci perang dingin!

Baekhyun memutuskan untuk pergi kedalam ruang kerja milik Chanyeol dan mengambil selimut dari dalam lemari, Chanyeol kerap tertidur di sofa ruang kerjanya. Baekhyun mengatur alarm dari ponselnya, sekarang pukul empat pagi kalau begitu ia akan tidur selama satu jam kemudian menyiapkan sarapan Chanyeol untuk menebus rasa bersalahnya.

Chanyeol merupakan pria yang memiliki disiplin tinggi, ia sudah terbiasa bangun pukul enam pagi dan bersiap-siap ke kantor, sarapan, lalu berangkat ke kantor pada pukul tujuh lewat lima belas menit. Matanya masih berat, kepalanya masih pusing karena kurangnya waktu istirahat untuk tubuhnya. Ia mematikan jam weker disisi kanannya dengan mata yang masih tertutup. Ia tidak lupa bahwa mulai hari ini ia tidak akan pergi ke kantornya lagi. Namun sekali lagi, Chanyeol pria disiplin tinggi yang sudah teratur segalanya. Ia tidak akan kembali tidur, bergumul dengan ranjang empuknya hanya karena hari ini dia resmi menjadi pengangguran.

Chanyeol memutar tubuhnya kemudian membuka matanya perlahan, ia menemukan sisi ranjang lainnya tidak berpenghuni bahkan bantalnya tidak ada jejak-jejak bekas digunakan.

"Kemana lagi si pembuat onar itu?" Gumamnya dalam hati. Tetapi Chanyeol terlalu muak untuk memikirkan lebih lanjut perihal Baekhyun, wanita gila yang menjadi istrinya yang lagi-lagi memberikan dampak besar dalam ketenangan hidupnya.

Chanyeol bangun dari ranjang kesayangannya dan melangkahkan diri untuk sekedar mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit membersihkan diri didalam kamar mandi, Chanyeol yang memilih topless dibalik bathrobenya membawa langkah kaki jenjangnya keluar dari kamar dengan malas. Rasanya aneh untuk melakukan kegiatan pagi pertama sebagai pengangguran, ia terbiasa sigap dan cepat melakukan apapun dipagi hari sebelum datang ke kantor, melakukan aktifitas yang padat kemudian pulang dengan tubuh yang ekstra penat.

Chanyeol mengangkat salah satu alisnya ketika melihat kejadian sangat amat langka yang terpampang nyata dihadapannya. Baekhyun yang tengah memakai apron kuning pastel, rambut yang dikuncir buntut kuda tidak rapih, raut mengantuk tidak hilang dari wajah mungilnya. Baekhyun tengah menyajikan satu mangkuk sarapan diatas meja makan secara perlahan. Uap panas mengepul keluar dari dalam mangkuk yang disajikannya. Baekhyun mengerucutkan bibirnya, kedua alisnya menukik, mencoba mengingat sesuatu. Ia membalikan tubuhnya berjalan sambil mengingat-ingat percakapannya dengan Xiumin melalui telfon beberapa menit yang lalu.

"Chanyeol..ssh..apa ya?"

Mendengar namanya disebut membuat rasa penasaran Chanyeol semakin menjadi-jadi. Ia otomatis menjadi patung demi menguping apa yang akan dilakukan hingga harus bersangkutan dengan namanya lagi.

"Selalu sarapan dipagi hari dan.. ck, ssh.. apa yang eonnie sebutkan tadi ya? Sesuatu yang tidak bisa dilewatkan oleh Chanyeol adalah..."

Chanyeol melipat kedua tangannya sambil mengembangkan smirknya, "Ini akan sangat menarik." Gumamnya dalam hati, ia menunggu -dengan tak sabar- jawaban yang akan keluar dari si mungil pembuat onar.

"Ah! Aku ingat!"

Chanyeol yang menyandarkan tubuhnya pada pilar disisinya mengangkat sebelah alisnya penasaran apakah hal yang diingatnya tentang 'sesuatu yang tidak bisa dilewatkan oleh Chanyeol' benar atau tidak.

Dua menit berlalu, Baekhyun kembali dari dapur menuju ruang makan dengan secangkir kopi hitam panas didalamnya. Chanyeol menahan tawanya, si mungil pembuat onar itu benar ternyata. Chanyeol semakin terheran-heran, apa maksud dari semua ini?

Chanyeol memutuskan keluar dari bayang-bayang kemudian menampakan dirinya dihadapan Baekhyun yang tengah menaruh cangkir panas itu disisi mangkuk.

"Apa ini?" Suara baritonnya memukul gendang telinga Baekhyun, membuat si empunya terlompat dari tempatnya berdiri, sontak ia menoleh kebelakang, melihat tampilan sosok tinggi menjulang suaminya.

"Ekhm, Kau sudah bangun?" Tanyanya menghilangkan fikiran aneh-anehnya. Mungkin ia belum benar-benar sadar dari mabuknya.

"Hm."

Baekhyun melangkah kaku memutari meja makan untuk duduk dihadapan Chanyeol. Baekhyun dapat memaklumi jika Chanyeol tidak terlalu bersahabat dengannya saat ini. Chanyeol menempatkan dirinya disebrang Baekhyun dan memandangi semangkuk ramyeon dihadapannya, mangkuk yang berisikan sama juga tersaji dihadapan Baekhyun ditemani dengan satu gelas susu strawberry untuk Baekhyun sedangkan untuk dirinya satu cangkir kopi hitam panas.

"Ini.." Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya, setelah menscan makanan yang tersaji didepannya ia melirik Baekhyun yang duduk dihadapannya sambil mengerjabkan kelopak matanya.

"Sarapan!" Serunya melengking bangga. Matanya membentuk sepasang sabit diiringi oleh cengiran deretan gigi putihnya.

"Ramyeon?"

Baekhyun mengendurkan wajahnya kala mendengarkan nada aneh dari Chanyeol. Ia menganggukan kepalanya polos dengan wajah bingungnya. "Apa ada yang salah?"

"Ramyeon makanan yang tidak sehat sebagai menu sarapan. Aku tidak akan memakannya." Chanyeol menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi makan.

Baekhyun seketika merasakan kejengkelan mulai merasuki tubuhnya tetapi ia mau bagaimana lagi ia masih merasa bersalah terhadap Chanyeol, alhasil ia hanya bisa menahan sumpah serapah yang siap untuk menjadi nyanyian merdu dipagi hari untuk gendang telinga Chanyeol. "Melewati sarapan sehat sekali bukan berarti kau akan mati siang nanti Park."

Chanyeol diam tanpa kata memandang Baekhyun datar. Baekhyun menyelipkan beberapa helai rambutnya yang tidak ikut terkuncir ke belakang telinganya. "Ayolah Park, hanya ini yang aku bisa sajikan secara handal."

Chanyeol berdiam diri sejenak, kemudian ia mengambil cangkir kopinya. "Aku tidak percaya segala hal yang dibuat oleh dirimu, aku akan meminum kopi ini saja."

"Kopi itu masih buatanku."

"Mesin kopiku yang membuatnya."

Baekhyun memutar bola matanya jengah. "Jadi kau tidak akan memakan ramyeonmu?"

Chanyeol menggeleng sambil menyeruput kopi panasnya.

"Untuk apa aku merasa bersalah pada raksasa tidak tahu terima kasih ini! Menggelikan. Yak, hatiku, kau benar-benar membuang tenaga karena merasa bersalah pada manusia seperti ini, kau pasti sangat lelah. Malangnya hatiku." Gerutunya didalam hati.

Air wajah Baekhyun yang manis dan ceria berubah seketika menjadi wanita garang yang kerap ditemukan Chanyeol ditiap harinya. Tidak ada lagi sosok lugu dan baik hati seperti dibeberapa menit yang lalu. Baekhyun mengambil mangkuk ramyeon milik Chanyeol kemudian menaruhnya disisi mangkuknya.

Baekhyun menyeruput satu sendok kuah panas yang menyegarkan tubuhnya dari pengar. "Aahh~ segarnya."

Chanyeol mengambil satu buah pisang dari mangkuk buah-buahan yang ditaruh diatas meja makan. Baekhyun mengambil kimchi lobak kemudian kembali menikmati ramyeonnya. Entah ramyeon buatan Baekhyun memang selezat itu sampai-sampai Baekhyun seperti sedang melakukan iklan komersial produk ramyeon tersebut sehingga membuat Chanyeol yang memperhatikannya tanpa kedip menjadi tergugah. Atau sebenarnya Baekhyun hanya membuat-buatnya terlihat sangat lezat untuk mengolok betapa bodohnya Chanyeol melewatkan ramyeon sebagai menu sarapan.

"Bisakah kau hentikan itu?" Tanya Chanyeol kesal berusaha menutupi kegusarannya ingin memakan satu mangkuk yang tadi menjadi miliknya.

Baekhyun mendongak menatap Chanyeol, "Apa maksudmu?" Tanyanya dengan mulut penuh.

"Kau bisa memakannya dengan normal bukan? Tidak perlu dilebih-lebihkan, suara makanmu mengangguku."

Baekhyun mengunyah ramyeonnya dengan smirk yang paling dibenci oleh Chanyeol. "Aku hanya menikmatinya. Kau tergugah ya?" Tanyanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.

Chanyeol hampir tercekat oksigen mendengar pertanyaan yang menusuk kebenaran batinnya. "Hah? Tergugah? Yang benar saja!"

"Your lost, Park. Astaga lezat sekali~ Mmm~"

Baekhyun kembali memakan ramyeonnya dengan cara yang lebih provokatif kali ini. Chanyeol menenggak habis kopi paginya kemudian menaruh cangkirnya kedalam bak cuci piring yang setelahnya ia bersihkan.

Chanyeol kembali ke ruang makan dan menemukan Baekhyun sudah selesai dengan mangkuknya sendiri dan akan memakan ramyeon jatah Chanyeol sebelumnya.

Baekhyun menarik mie dari kawanannya dengan sumpit kemudian meniupnya pelan-pelan. Sumpit yang menjepit helai-helai mie itu mengambang diudara yang akan mengarah masuk kedalam mulut Baekhyun, namun diseperkian detik kumpulan helai mie itu mendarat dalam mulut Baekhyun , Chanyeol datang dengan kekuatan teleportasi dadakannya kemudian menyeruput mie itu dari Baekhyun.

Chanyeol sukses mencuri mie dari Baekhyun dan juga sukses membuat Baekhyun terkejut. "Yaak! Apa-apaan? Kau bilang tidak tapi apa yang kita lihat sekarang?"

Chanyeol duduk disamping Baekhyun sambil menggeser mangkuk yang berisikan penuh mie itu kehadapannya. Ia menyendok kuah merah itu yang memanjakan tenggorokannya dengan kehangatannya. "Aaakhh~ enaknya~" Lenguhnya puas tanpa sadar membuat Baekhyun yang bertopang dagu melihatnya mengembangkan senyumnya.

Chanyeol menyeruput gumpalan helai mie kedalam mulutnya terburu-buru yang membuatnya tersedak. Baekhyun menepuk-nepuk punggungnya membantu Chanyeol dari tersedaknya. "Aigoo~ pelan-pelan makannya, Chanyeol. Aku tidak akan merebutnya lagi, tenang saja." Ejek Baekhyun. Chanyeol membersihkan tenggorokannya yang sudah lebih baik dan berhenti tersedak. Ia hanya menghadiahi delikan singkat untuk Baekhyun kemudian menikamti ramyeonnya lagi.

"Dasar bayi yoda raksasa." Batin Baekhyun. Ia tersenyum sendiri karena ucapan didalam hatinya.

.

.

.

Tbc

Dipotong sini dulu deh udah kepanjangan

Anyway, readerku tersayang.. jangan lupa tinggalin reviewnya ya! Bagaimana perasaan kalian pas baca chap ini? Aku tunggu saran, kesan dari kalian semua~ luv u~

Thankyou : fechanlee,Cheonsa528,XianLieBaek,danactebh,chaandanee,realbee, ,BaekHill,kyutz003

Maafin kalau ada salah penyebutan nama. Terima kasih sudah membaca dan meriview, memfavoritekan dan mengikuti cerita ini. terima kasih atas dukungan kalian semua! Sampai ketemu chap selanjutnya kalau pada mau~hehe, annyeong~