Mine to Take
[Chapter One]
WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.
.
Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang...
Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang...
Nafsu bisa menjadi cinta.
Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.
-o-
Mine to Take
-o-
Do Kyungsoo menatap gedung di depannya. Menjulang tinggi ke langit. Jendela besar yang berkilauan dalam penerangan. Di sana terlalu banyak lantai baginya untuk dihitung. Tampak lebih seperti sebuah benteng daripada kantor, tempat yang membicarakan kekuasaan, uang dan lebih dari itu.
"Nona." Penjaga pintu menatap Kyungsoo dengan sedikit keprihatinan di matanya. Mungkin karena dia berdiri di tengah jalan, melongo di tempat. Kyungsoo memberikan gelengan cepat, menarik mantel sedikit lebih rapat ke tubuhnya, dan bergegas masuk ke dalam benteng tersebut.
Pria lain menunggu di belakang meja yang berkilauan ketika ia memasuki lobi. Menoleh ke kiri dan kanan, Kyungsoo gugup mencermati kamera keamanan yang mengikuti setiap gerakannya. Dengan hati-hati, dia mendekati meja. "Aku, um, aku sedang mencari Kim Jongin."
Pria itu, di awal dua puluhan dan dalam setelan biru mengangkat alisnya menatap Kyungsoo. "Apakah anda sudah membuat janji?" Sebenarnya tidak. Kyungsoo nyaris tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk menuju ke tempat ini. Dua kali di pagi itu. Dia bolak-balik dan hampir pulang ke rumah.
Tapi Kyungsoo membutuhkannya. Dia menegakkan bahu ketika menjawab. "Tidak. Aku tidak punya janji." Mata pria itu menyipit. Kyungsoo segera mengatakan. "Namaku Kyungsoo. Do Kyungsoo dan aku─aku adalah.. teman lamanya." Ok jadi bagian itu tidak sama persis dengan yang sebenarnya.
Tapi dia sedang putus asa. Tidak. Lebih daripada itu. Kyungsoo ketakutan.
Ketika Kyungsoo melakukan pencarian untuk detektif swasta di daerah itu. KIM Securities segera muncul di layar komputer. Segera setelah ia melihat namanya, seluruh tubuh Kyungsoo menegang.
Kim Jongin.
Beberapa pria meninggalkan tanda pada seorang wanita. Sebuah tanda yang masuk jauh di bawah kulit. Jongin telah menandainya bertahun-tahun sebelumnya. Perusahaannya adalah jalan keluar dari kisaran harga. Dulu Kyungsoo memiliki semua itu. Lobi itu bahkan beraroma mahal. Namun, setelah kecelakaan tragis itu, hampir segala sesuatu berada di luar jangkauannya.
Tapi dia tidak punya pilihan. Dia harus meminta Jongin untuk membantunya. Selain itu, mereka sudah berteman, sekali. Sebelum mereka menjadi kekasih. Sebelum semuanya pergi ke neraka.
"Saya tidak berpikir anda memahami betapa sibuknya jadwal Mr. Kim, Madam. Kecuali jika anda ingin berbicara dengan salah satu agen junior di sini, kami akan menemukan seseorang yang siap untuk membantu anda."
Detak jantungnya berdebar di pendengarannya. Seorang agen junior. Tepat. Well, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Telepon di atas meja pria itu berdering. "Permisi." Dia bergumam sambil meraih telepon. Kyungsoo mengangguk. Pipinya terbakar. Apakah dia benar-benar berpikir bahwa dia bisa meminta Jongin untuk membantunya? Bahwa dia hanya berjalan masuk ke tempat ini dan Jongin akan berada di sana untuknya? Setelah semua waktu yang telah berlalu, dia akan beruntung jika pria itu masih mengingatnya. Kalau saja dia bisa melupakannya.
"Y-ya, sir. Sekarang juga." Kegugupan yang tajam pada suara pria itu, lalu terburu-buru menutup telepon. "Anda datang tepat waktu, Miss Do." Dia mendorong sebuah clipboard ke arah Kyungsoo.
"Tanda tangan dulu, kemudian saya akan mengantar anda ke lift."
Sekilas Kyungsoo mengalihkan pandangan ke kamera keamanan terdekat. Ketegangan memperkencang bahunya saat ia menuliskan namanya di halaman. Lalu sedikit bergegas menuju lift di sebelah kanan.
Jangan lemas. Jangan. Melangkah dengan pelan-pelan. Bagus, pelan.
"Bukan lift yang itu."
"Sebelah sini. Ini lift khusus untuk menuju ruangan Mr. Kim." Karyawan itu menarik keycard dari sakunya. Menggesek di panel elevator. Pintu terbuka, dan ia membimbing Kyungsoo masuk ke dalam.
"Silahkan naik ke lantai paling atas. Mr Kim sedang menunggu anda."
"Terima kasih."
Kedua tangan Kyungsoo gemetar saat lift naik. Dia berbalik ke sisi lift yang terbuat dari kaca. Menengok keluar menikmati pemandangan kota. Banyak yang bisa berubah bagi seseorang dalam sepuluh tahun. Kamu bisa berubah dari yang tidak ada.. sampai memiliki segalanya. Atau kamu bisa memiliki segalanya.. sampai tidak memiliki apa-apa.
-o-
Mine to Take
-o-
Lift melambat. Kyungsoo berbalik ke arah pintu. Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian pintu itu bergeser terbuka. Sepatu flat itu menginjak karpet mewah saat dia melangkah keluar dari lift.
"Miss Do?" Seorang wanita cantik berambut pirang bergegas ke arahnya.
Si rambut pirang itu tersenyum. "Lewat sini, silahkan."
Jongin telah melihat Kyungsoo di cctv. Ia sudah melihatnya dan sebenarnya ia masih mengingatnya. Well, kau seharusnya selalu mengingat orang pertamamu, bukan? Kyungsoo sudah menjadi orang pertamanya. Sejak dulu, gadis itu sudah menjadi segalanya baginya.
Si rambut pirang membuka pintu mahoni yang berkilauan. "Miss Do di sini, Sir."
Jangan lemas. Kyungsoo melangkah masuk ruangan dan melihatnya.
Orang yang sudah menghantuinya.
Orang yang sudah mengajarinya tentang nikmatnya gairah dan pedihnya kehilangan.
Kim Jongin.
Pemilik Kim Securities sedang duduk di belakang meja yang besar. Bersandar pada kursi kokoh yang nyaman. Kepalanya beralih dari dokumen di atas meja saat matanya—masih tajam seperti yang gadis itu ingat—memandangi seluruh tubuh Kyungsoo. Rambutnya hitam segelap tengah malam, di potong dengan sempurna membingkai wajahnya yang angkuh.
Tampan bukanlah kata-kata yang cukup untuk mendiskripsikan Jongin. Itu tidak akan pernah bisa. Seksi. Bahaya. Ya, mungkin itu lebih tepat.
Pintu menutup di belakang Kyungsoo, mengurungnya di dalam ruangan itu bersama Jongin. Pria tan itu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan ke arah Kyungsoo, dengan langkah pelan dan pasti. Dengan setiap langkah yang ia ambil, Kyungsoo menegang, tubuhnya tak berdaya untuk melakukan sebaliknya.
"H-hello, Jongin." Dia benci gagap dalam suaranya. Jongin membuatnya gugup. Selalu begitu.
"Ini sudah lama sekali," kata Jongin, kata-katanya dalam, bergemuruh dalam kegelapan. Suara sempurna dengan tubuh sekeras batu dan wajah yang seksi—suara yang membuat wanita bisa membayangkannya dalam kegelapan. Kyungsoo menelan ludah karena tenggorokannya tiba-tiba kering. "Y-ya." Sepuluh tahun tiga bulan. Bukan berarti Kyungsoo menghitungnya.
Sekali lagi Jongin memberi tatapan menilai pada tubuh Kyungsoo. Ada kesadaran dalam tatapannya bahwa dia tidak diharapkan, itu yang Kyungsoo kira. Sensasi itu yang membuatnya mengingat terlalu banyak hal. Ia cukup dekat untuk disentuh. Cukup dekat baginya untuk mencium aroma maskulin yang menempel pada pria itu.
"Kau terlihat baik, Kyungsoo." Sekali lagi, sensasi yang berada dalam tatapan Jongin. Sensasi yang mengatakan bahwa ia tahu keintiman dirinya. Kyungsoo berharap detak jantungnya bisa melambat.
"Tapi sekarang kau di sini tidak untuk mengobrol, bukan?" Dan pria itu berjalan menjauh darinya, melambai kearah Kyungsoo mempersilakan untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
"Kita tidak pernah benar-benar mengobrol sebelumnya." katanya lembut. Kyungsoo tidak melepas mantel itu, hanya menarik lebih dekat pada tubuhnya.
Sebuah kerutan samar muncul di antara alis Jongin. "Tidak. Kita tidak, bukan? Lebih dari seks yang membara." Bibir Kyungsoo terbuka.
"A-aku di sini juga bukan untuk itu." Yang benar saja. Dia sudah hancur setelah perpisahan terakhirnya dengan Jongin.
Pria itu bersandar di kursinya. Kulit kursi berbunyi di bawahnya. "Tentu. Tidak untuk sekarang.."
Oh tidak, mereka tidak akan. Kyungsoo belum siap untuk merasa terbakar lagi. Lelaki tan itu menepuk-nepuk dagunya. "Kau di sini bukan untuk basa-basi, juga bukan untuk itu, lalu kenapa kau datang mencariku?" Ini adalah di mana Kyungsoo harus memohon. Karena tidak ada cara lain yang dia punya, uang di rekeningnya pun tidak cukup untuk menutupi jasanya. Tidak dengan pria pemilik gedung pencakar langit ini. Ugh, betapa banyak hal yang telah berubah.
"Seseorang sedang mengawasiku." Jongin diam. Sensasi terbendung di matanya saat seluruh ekspresinya langsung terjaga.
"Dan apa yang membuatmu begitu yakin akan hal itu?"
"Karena aku bisa merasakannya." Tunggu, itu terdengar gila, bukan? Ketika Kyungsoo pergi ke polisi, mereka yakin melihatnya seolah-olah Kyungsoo gila. 'Kamu tidak bisa merasakan seorang penguntit'. Demikian mereka bilang.
Tapi Jongin tetap diam. Menyimak.
Jadi kyungsoo yang berbicara, berbicara dengan cepat. "Aku tahu ada seseorang yang sedang mengawasiku, ok? Ketika aku datang ke studio, ketika aku keluar malam, ketika.." ketegangan menyelimutinya.
"Kau berpikir seseorang sedang mengawasimu?"
Kyungsoo mengira Jongin tidak mempercayainya lebih dari polisi-polisi itu. "Aku pikir," gadis itu sedikit ragu menjawabnya, kedua tangannya mengepal. "Orang itu berada di rumahku, Jongin. Barang-barang yang disusun ulang. Bukan di mana aku meletakkannya. Pintuku terkunci tapi ada seseorang yang bisa memasukinya."
Sekarang Jongin mencondongkan badannya ke depan. "Apa yang telah disusun ulang?"
"Pa─pakaian."
"Bra." Lanjutnya berbisik. "Beberapa celana dalam yang hilang. Dan beberapa yang tertinggal di tempat tidurku."
"Sial." Jongin menegakkan punggungnya.
Ya, itu persis bagaimana perasaan Kyungsoo. "Polisi tidak percaya dengan apa yang kurasakan. Mereka tidak melihat tanda-tanda kerusakan di apartemenku. Dan mereka pikir aku hanya kehilangan laundryku saat menjemur."
Dia menjilat bibirnya yang terlalu kering. "Ini.. ini bukan yang pertama kalinya terjadi." Kedua tangannya diluruskan di atas mejanya.
"Ketika aku berada di Seoul.." itu terasa seperti seumur hidup.
"Hal yang sama terjadi sebelum kecelakaanku. Ada seseorang yang masuk ke dalam apartemenku. Dia mulai dengan meninggalkan bunga di kamar gantiku." Saat itu Kyungsoo pergi ke kamar gantinya setelah pertunjukan dan menemukannya di sana. Tidak ada catatan, hanya bunga.
Jongin menunggunya untuk melanjutkan.
Dadanya terasa sakit saat dia mengatakan, "Di waktu berikutnya aku menemukan bunga-bunga itu berada di apartemenku. Di apartemenku yang terkunci."
Otot menegang di sepanjang rahang Jongin. "Dan kau yakin bunga-bunga itu bukan hadiah dari seorang kekasih?"
"Aku tidak punya kekasih." Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Tidak setelah itu. Tidak sekarang juga."
Apakah kyungsoo memiliki seseorang yang berniat menakuti dirinya. Sebuah bayangan yang mengikutinya kemanapun dia pergi. "Aku datang ke sini karena aku berharap bahwa salah satu agenmu─ mungkin bisa membantuku, untuk menindaklanjuti dan melihat apa yang sedang terjadi."
Kyungsoo selalu merasa seperti Jongin melihat lekat-lekat ketika ia menatapnya. Tapi gadis cantik itu tidak bisa berpaling. "Polisi tidak mau membantuku. Aku berharap kau bisa." Kyungsoo mengucapkan selamat tinggal pada harga dirinya. Saat ini banyak ketakutan yang terlibat. Tidak ada ruang untuk dibanggakan. Dia punya rahasia yang dia tidak ceritakan padanya, belum. "Kumohon Jongin. Aku membutuhkanmu."
"Kau punya aku." Jawabnya langsung.
Napas Kyungsoo berhembus lega. "Terima kasih," ia teringat perihal uang. "Mungkin kita bisa.. mencari solusi semacam rencana pembayaran—"
"Persetan dengan uang." Jongin bangkit dari mejanya lagi. Berjalan kearahnya. Ia meraih tangan Kyungsoo. Menariknya berdiri. Dengan sentuhannya, hanya satu sentuhan itu, membuat Kyungsoo mengingatnya. Rona merah terlihat jelas di pipi gadis itu. Kenangan-kenangan menegangkan tubuhnya.
Itulah cara yang selalu ada di antara mereka. Satu sentuhan dan..
"Dia masih ada di sana." Jongin menggertak saat pegangannya mencengkeram tangan Kyungsoo. "Dan kita akan mendapatkannya, segera." Kata-kata gelap yang merupakan sebuah janji.
"Tapi sekarang, aku ingin mengetahui apa yang terjadi dalam hidupmu."
Demikian juga dirinya.
-o-
to be continued
-o-
Karena lebih banyak yang milih GS jadi gua bikin ff ini GS yaa. Yang ingin baca yaoi tunggu ff selanjutnya ok?
Ini masih pemanasan. Gimana bagian pertamanya? pasti masih bingung wkw, tapi setelah chap 5 kalian bakal lebih paham sama alurnya dan.. jadi makin penasaran haha.
.
Next? Review dear~
See ya!
-kimchi
Thanks to:
ChocoSoo; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; dinadokyungsoo1; SooieBabyUke; park taen; sushimakipark; dorim; kim gongju; Ayyu965; Kaisooship; 12154kaisoo; Kaisoo; anon; hunkaisoo; ekyeol; Dks; NataNerd; Kim Reon; kimsoo; KyungXo; Soonini; kadi1288; Ellena; nikyunmin; kyungsoonia; Shinkyu; kaisoohug; Lovesoo; dks; W; dinadokyungsoo1; rly.
also unnamed guest & silent reader..
