Mine to Take

[Chapter Four]


WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.

.

Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang...

Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang...

Nafsu bisa menjadi cinta.

Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.

-o-

Mine to Take

-o-

Kyungsoo menatap pada bayangannya. Terlalu pucat. Terlalu kurus. Dia tidak terlihat seperti seorang bintang yang menjadi pusat sorotan lampu.

'Itu bukan aku.'

Kadang, Kyungsoo tidak yakin dia pernah benar-benar menjadi wanita itu. Tangannya menggapai pegangan di dinding. Kyungsoo memasangnya sendiri. Baru saja memposisikan cermin-cermin itu beberapa saat lalu. Tepat setelah dia selesai mengecatnya. Menyelesaikannya—sendiri. Ada kebanggaan suram dalam pencapaiannya. Dia bekerja keras dan menghadapi banyak kesulitan untuk tempat ini.

Studio ini telah mengambil uang terakhirnya. Dia menguras depositonya dan membayar sewa selama setengah tahun. Kyungsoo tahu kesempatan itu—enam bulan yang berharga—adalah peluangnya. Untuk melakukan sesuatu. Untuk mengembalikan hidupnya.

Studio adalah Kyungsoo. Dan ia akan membuat studio ini bekerja.

Hanya saja bayangan yang menatapnya balik itu tampak tidak begitu yakin. Kyungsoo bangkit menggunakan jari-jari kakinya, mengabaikan rasa berdenyut di betis kiri. Denyutan itu akan segera beralih menjadi sakit. Tapi Kyungsoo mengabaikan itu, juga. Dia sudah terbiasa mengabaikan rasa sakit selama bertahun-tahun. Itu adalah aturan pertama menari. Jika kau ingin menjadi lebih baik, kau harus bekerja keras meskipun itu menyakitkan. Jika badan mu lemah, kau harus mengabaikan kelemahan itu. Kau menari sampai kakimu berdarah. Kemudian kau pergi ke panggung dan menari lagi untuk bersinar.

Kedua lengannya terentang. Punggungnya melengkung. Kelas dansa pertamanya akan dimulai dalam tiga hari. Itu akan memberinya cukup waktu untuk─

Lampu mati. Semua lampu mati sekaligus. Menjerumuskannya dalam kegelapan yang pekat.

Tumitnya menginjak lantai kayu. Kyungsoo teringat saklar otomatis itu. Sialan, masalah yang sama ini pernah terjadi sebelumnya. Hanya saja saat itu pada siang hari dan sinar matahari bisa menerobos melaui jendela, memberikan penerangan yang cukup baginya untuk melihat.

Tapi sekarang, keadaannya malam hari yang akan semakin gelap gulita.

Kyungsoo meneruskan tangannya pada pegangan dinding saat dia menuju pintu keluar studio. Manajer gedung sudah berjanji padanya untuk memperbaiki masalah ini. Tapi apa? Ini tidak di perbaiki. Ini ─ srettt.. tap.. tap..

Desiran suara samar terdengar di telinganya. Seperti gesekan sepatu dan lantai kayu.

Kyungsoo membeku. "Apakah─ada orang di sana?" Ketika dia meninggalkan apartemennya, anak buah Jongin telah memasang kunci baru dan sistem alarm. Salah satu anak buahnya bahkan mengikutinya ke studio tari. Dia seharusnya aman.

Lantai berderit. Kyungsoo kenal suara deritan itu. Itu adalah satu titik rusak di dekat pintu depan. Tiap kali dia memasuki studio, melangkah di tempat itu lantai berderit di bawahnya.

Kyungsoo tidak sendirian.

Dia berhenti menuju pintu. Sebaliknya, dia mundur, dengan cepat.

"Kyungsoo..." sebuah suara serak menyebut namanya.

Memutar tubuh. Kyungsoo segera berlari dari suara serak itu.

Belum jauh Kyungsoo berlari, dua tangan kasar meraihnya, mengunci erat dan memeluk perutnya. Kyungsoo memutar-mutar tubuhnya dan menyentak-nyentakkan tubuhnya—tangan-tangan itu memeluknya begitu erat, begitu sakit.

"Aku telah mengawasi..." Suaranya masih serak. Sebuah suara serak yang mengerikan. Pria ini lebih besar darinya. Dan tentu lebih kuat. Pria itu memeluknya dengan mudah ketika Kyungsoo menggeliat melawannya. Tapi pria itu tidak membekap mulutnya. Itu adalah kesalahannya.

"Tolong aku!" Kyungsoo menjerit sekeras yang dia bisa.

Agen Jongin berada di luar. Dia pasti mendengarnya. Dia pasti—Brakk!

Penyerang itu membanting Kyungsoo ke cermin. Kacanya pecah dan berserakan di sekitarnya. Jari-jarinya membungkam mulut Kyungsoo. Mengingatkannya tentang mimpi buruk dari masa lalunya yang tidak pernah berhenti.

Kepalanya sakit, berdeyut hebat. Nafas pria itu meniup daun telinganya. "Aku akan menjadi satu-satunya," katanya dalam suara rendah dan kasar. Kyungsoo mengangkat lututnya. Mencoba untuk menendang kepangkal paha pria itu namun tidak mengenainya.

Saat suara langkah-langkah kaki berderap kearahnya.

Ah! Langkah kaki—dan cahaya?

"Ms. Do?"

Kyungsoo berpegangan erat pada pegangan di dinding. Tampaknya menjadi satu-satunya hal yang menahannya saat itu. Pria itu ada di sini. Penyerang itu ada di sini.

Sinar lampu senter mengenai wajahnya. "Ms. Do apa yang telah terjadi? Aku mendengar kau menjerit minta tolong." Itu penjaganya—Park Jimin. Dia mengenali suara dalam dan samar itu dari aksennya. Jika dia bisa bergerak, Kyungsoo pasti akan memeluk pria ini saat itu juga. Sebaliknya, ia berhasil mengatakan. "Dia ada di sini!"

Lampu senternya segera diarahkan pada ruangan itu. Membelah kegelapan. Tapi mereka tidak menemukan seorangpun.

"Dia?" Jimin bertanya padanya saat ia mendekat. Lengannya memeluknya.

"Dia ada di sini," Kyungsoo berkata lagi. Jongin telah memperingatkannya, dia telah memberitahunya...Penyerang itu berbahaya. Dan dia benar. Jika Jimin tidak ada disana, apa yang akan penyerang itu lakukan?

"Kyungsoo?"

Suara dalam yang familiar itu, dia tegang dalam pelukan lengan Jimin. Jongin.

Lampu telah menyala kembali, menyinari dengan keterangan yang hampir menyakiti matanya. Jongin bergegas mendekatinya. Dia menarik Kyungsoo dari Jimin. "Apa yang baru saja terjadi?"

"Dia bilang ada seseorang di sini." Jimin tampaknya hanya memperhatikan pecahan kaca.

"Cepat. selidiki!" Jongin memerintahkan sambil menarik Kyungsoo lebih dekat padanya. "Aku akan mengurusnya."

Pecahan cermin yang hancur telah berserakan di lantai. Mereka bergerak di bawah sepatu Jongin yang mahal. Jimin bergegas menjauh dari mereka. Ketika Jimin berlari, Kyungsoo melihat pistol di tangannya.

Nafasnya tercekat. Kenapa ini terjadi?

Jari-jari Jongin menelusuri rambutnya. Dia menggeram. "Sialan, kau bisa mengalami gegar otak." Apakah ada benjolan di kepalanya? Yang membuatnya pusing dan mual. Tunggu, apakah itu gegar otak?

"Aku akan membawamu keluar dari sini."

Sebelum Kyungsoo bisa mengatakan apa-apa lagi, Jongin sudah mengangkatnya ke dalam dua lengannya yang kuat. Dia memeluknya dengan mudah. Seolah-olah berat badannya tidak ada sama sekali. Jongin bergegas menuju ke pintu. Kemudian mereka berada di luar. Udara segar menerpa Kyungsoo, mendorong kembali sebagian dari rasa mual, tapi tidak melakukan apapun untuk mengurangi ketakutannya. Ketakutan yang jauh terlalu kuat dari cengkeraman pada dirinya.

Jongin membawanya menuju jaguar gelap. Membuka pintu dan mendudukkan Kyungsoo di kursi penumpang. "Ceritakan padaku apa yang telah terjadi."

Kyungsoo tidak melihatnya dalam sepuluh tahun. Jadi mengapa dia begitu senang saat Jongin ada disana dengannya? "Aku sedang berlatih...kemudian lampunya padam. Aku─ aku pikir itu karena korsleting listrik. Korsleting listrik ini pernah terjadi sebelumnya dan─ "

Jongin menangkup lembut dagu Kyungsoo di tangannya. "Kapan orang itu datang?"

Kyungsoo menelan ludah. "Ketika itu sudah gelap. Aku mendengar lantai yang berderit, dan aku tahu dia ada disana." Dia menjilat bibirnya— yang terlalu kering. "Aku mencoba untuk lari, tapi ia menangkapku."

"Apakah dia..." kata-kata Jongin yang menggertak. "Apa yang sudah dia lakukan padamu?"

Kelopak matanya berkedip-kedip saat Kyungsoo mengingat-ingat. "Dia membanting kepalaku ke cermin. Jimin datang...sebelum dia melakukan hal lain."

'Aku akan menjadi satu-satunya.' Kedua tangannya gemetar. Dia mengepalkannya menjadi tinju di pangkuannya.

"Aku antar kau ke rumah sakit."

"Tidak, aku—"

"Aku antar kau ke rumah sakit," kata Jongin, kata-katanya menggertak marah. "Kau telah mengalami gegar otak. Kau harus di periksa."

"Bos!" Jimin bergegas kearah mereka. "Aku sudah menyelidiki gedungnya. Tapi tidak ada seorangpun disana." Tatapan Kyungsoo melongok ke jalan. Di sana ada bangunan-bangunan lain. Beberapa toko di dekatnya. Tapi semuanya sudah tutup di malam hari.

"Tetap di sini. Minta bantuan tambahan di tempat kejadian," perintah Jongin pada Jimin. "Aku mau bajingan itu. Dan kita akan mendapatkannya."

Kemudian Jongin membanting pintu mobil itu tertutup. Kyungsoo mengawasi Jongin melalui jendela. Jongin mencondongkan tubuhnya pada Jimin. Membisikkan sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Kyungsoo merasa begitu dingin. Begitu sangat kedinginan.

Jongin berbalik dari Jimin dan berjalan kembali kearahnya. Pintu pengemudi di buka. Jongin meluncur masuk ke dalam kendaraan, dan menghidupkan mesinnya.

'Aku akan menjadi satu-satunya.'

Kata-kata itu tidak bisa berhenti berbisik di pikirannya.

Mesin mobil meraung hidup. Dan jaguar itu membelah malam hari. Kyungsoo menoleh kebelakang. Jimin berdiri disana. Menatap mereka. Sedang studionya terang benderang, setiap lampunya berpijar.

Dan monster yang berada dalam gelap itu—ia telah pergi.

Tapi dia akan terus kembali.

Udara dingin mencekam. Menembus sampai ke tulang-tulangnya.

-o-

to be continued

-o-


A/N

Ini double update yaa karena chap sebelumnya emg dikit bgt, cuman kilasan masa lalu kaisoo.

Dan ff ini memang bahasanya seberat beban kaisoo. Mungkin di Chap 5 kalian mulai paham dan bisa menikmati plotnya.

Nah gua kasian sama yang sampe baca ulang ff ini drpd pelajaran sekolah. Hey! real life jauh lebih penting ya sayangs, ff ini hanya hiburan, jgn kebalik :3 #padahal gua jg ogah nyentuh tugas malah garap ff nista XD

.

Next? Review dear~

See ya!

-kimchi


Thanks to:

Diyah887; ChocoSoo; Lovesoo; Shinkyu; Kim Reon; dyonatkai; sangjoonpark; daebaktaeluv; kaisoov; UnA NA; rly; 12154kaisoo; dorim; dks; Kaisooship; KyungXo; NataNerd; park taen; riaazzhh; kim gongju; Ayyu965; ekyeol; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; dinadokyungsoo1; SooieBabyUke; sushimakipark; Kaisoo; anon; hunkaisoo; ekyeol; Dks; kimsoo; Soonini; kadi1288; Ellena; nikyunmin; kyungsoonia; kaisoohug; W.

also unnamed guest & silent reader..