Mine to Take
[Chapter Six]
Preview
"Sudah pasti gegar otak,"
"Ini adalah cara mainnya. Kau ikut denganku atau kau bermalam di sini?"
"Kalau begitu kau ikut denganku."
"Aku detektif Park Chanyeol!" "Kyungsoo, aku perlu bicara denganmu."
"Siapa kau?"
"Kim Securities?" "Apa permainanmu?"
"Kau berprofil tinggi Kim. Kau menangani kasus-kasus besar. Kau tidak terdaftar sebagai pengawal beberapa wanita."
"Ini bukanlah tentang beberapa wanita," "Ini tentang Kyungsoo, dan aku jamin, dimanapun dia berada, aku sangat terlibat."
"Dan sampai si brengsek yang mengejarnya itu tertangkap, Kyungsoo tinggal bersamaku. Jadi, jika kau perlu menghubunginya," ia memberinya senyum terpaksa. "Temui aku."
-o-
Mine to Take
-o-
Kyungsoo sudah mengira sebuah penthouse. Pintu lift terbuka, dan mereka melangkah keluar ke tingkat atas dari bangunan tinggi. Jongin tepat berada di sisinya. "Tidak ada yang bisa ke sini tanpa melewati pengawal-pengawal ku." Ia memberitahu Kyungsoo saat jari-jarinya melingkar di sikunya.
Saat itu, Kyungsoo pasti senang mendengar tentang keamanan itu.
Mereka memasuki penthouse. Tatapan Kyungsoo menyapu seluruh tempat itu. Semuanya tampak mahal. Semuanya berbau mahal. Dan pemandangan itu mengagumkan. Jika saja Kyungsoo tidak sedang mengahadapi ketakutannya, yang secara harfiah mengguncang ketenangannya, dia pasti akan menghargai lebih pemandangan itu lebih dari ini. Dia seperti ingin pergi ke suatu tempat dan hancur.
Pintu tertutup di belakang mereka. Dia mendengar suara alarm yang menyenangkan. Lalu...tangan Jongin menuruni kedua lengannya. Lengannya telanjang karena yang dia kenakan keluar dari rumah sakit itu adalah pakaian olahraganya. "Kau aman, Kyungsoo." Kata-kata Jongin berbisik di telinganya.
Dan ketakutannya semakin memburuk. Karena ingatannya akan sosok laki-laki dalam kegelapan. Mulutnya di telinganya. Bisikannya. 'Aku akan menjadi satu-satunya.'
Dia menjauh dari Jongin, menuju ke area yang lebih luas, lantai ke balkon yang memandang keluar ruangan. Jongin tak mengikutinya.
Suaranya yang melakukannya. Jongin memberitahunya, "aku mempunyai garis-paling-atas-untuk sistem keamanan yang sudah terpasang di studiomu. Dan tukang listrik akan masuk memeriksa lampumu."
Kyungsoo mengusap lengannya. Tidak peduli apa yang ia lakukan, ia tampaknya tidak bisa mengusir rasa dingin dari tubuhnya. Pandangannya menatap kota. Ia sepertinya bisa melihat berjam-jam dari sudut pandang ini.
"Kau tidak harus mengorbankan hidupmu untukku," Kyungsoo membuat dirinya sendiri berbicara ketika ia hanya ingin berdiri dalam keheningan. "Aku yakin dengan adanya diriku di sini...di rumahmu...itu akan mengganggu rutinitasmu." Kyungsoo sudah membaca koran, ia sudah tahu banyak tentang Jongin, banyak eksploitasi.
Jongin pasti bukan orang yang hidup di masa lalu.
Dia terlalu sibuk merayu saat ini.
Itulah sebabnya mengapa ia tidak memberitahu Chanyeol tentangnya. Ketika detektif itu meminta daftar pacar-pacarnya di daerah ini, atau siapa saja yang mungkin terpaku padanya, Jongin telah menjadi orang terakhir yang datang dalam pikirannya. Jongin tidak terpaku pada dirinya, bahkan selama sepuluh tahun mereka tak pernah bertemu.
"Kau tidak mengganggu rutinitasku."
Kyungsoo bisa melihat bayangannya di kaca. Ia tampak tersesat. Dengan hati-hati, ia menahan roman wajahnya sebelum ia berbalik untuk menghadapi Jongin. "Tidakkah ada gadis yang keberatan?" Dia pernah melihat Jongin dengan beberapa wanita berambut pirang minggu lalu di berbagai halaman majal— "Persetan dengan orang yang berpikir seperti itu." Jongin berdiri menatapnya. Dengan latar api berkobar. Kapan ia menyalakan api itu?
"Ini bukan tentang siapapun kecuali kau dan aku." Jongin bertindak seolah-olah sepuluh tahun terakhir tidak pernah terjadi. Tapi tidak sekalipun Jongin mencoba menghubunginya. Aku sudah merindukanmu. Kyungsoo tidak akan mengatakan itu pada Jongin, bagaimanapun juga. Ia sudah merusak harga dirinya untuk Jongin berkali-kali.
Pria itu mulai berjalan ke arahnya. Langkahnya pelan, tentunya. Kyungsoo ingin berbalik, tapi disana tidak ada tempat untuk pergi baginya. Menghirup nafas dalam-dalam, Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap ke mata Jongin.
"Jimin menelponku ketika ia bergegas memasuki studio itu. Dia melihat lampunya gelap, dan ia khawatir. Hanya lima menit saja, aku siap datang menemuimu, tapi aku tidak bisa sampai disana cukup cepat."
Ini bukan pertama kalinya dia berada dalam kesulitan. Kembali pada memori buruk di Seoul, Kyungsoo yang menghadapi kematian. Memori hujan yang dingin, nyeri yang konstan, melintas dibenaknya.
Dia tidak datang untukku kalau begitu.
"Sepuluh tahun adalah waktu yang lama," kata Kyungsoo. Dia benci kelembutan dalam suaranya. Kenapa dia tidak bisa bertindak seolah-olah masa lalu tidak penting baginya? "Banyak yang berubah selama bertahun-tahun."
"Dan banyak juga yang masih tetap sama." Jemari Jongin menangkup lembut bawah rahangnya. "Aku menginginkanmu sebanyak yang pernah aku lakukan dulu. Ketika aku melihatmu di kantorku, keinginan yang sama menghantamku. Hasrat yang sama menghancurkanku saat aku di dekatmu."
Tangan Kyungsoo gemetar, dia mengangkatnya dan menempatkan telapak tangannya di dada Jongin. Kyungsoo tidak yakin apakah ia akan menariknya lebih dekat atau mendorongnya pergi.
"Hasrat tidak pernah menjadi masalah bagi kita, kan?" Kyungsoo berbisik.
Mata Jongin tertuju pada mulutnya.
Kenangan masa lalu mereka berkelebat dalam benaknya. Dia hampir bisa merasakannya.
"Aku adalah orang pertamamu."
Pipi Kyungsoo merah merona.
"Aku memikirkanmu selama bertahun-tahun..."
Pengakuan Jongin menyentaknya.
"Aku bertanya-tanya apa yang kau lakukan...dengan siapa kau bersama..."
Tatapannya masih tetap pada mulutnya. Masih tetap seksi.
Kewaspadaan Kyungsoo yang berlebih mendorong rasa sakit dan nyeri dari benaknya. "Kau tidak bisa bertanya-tanya tentang itu." Tidak saat Jongin lah satu-satunya orang yang meminta Kyungsoo untuk melupakannya. Jongin tak punya hak.
"Ada beberapa hal yang tidak dapat kau kendalikan." Kepala Jongin menunduk kearahnya. "Perasaanku padamu adalah salah satu halnya."
Jongin menginginkan mulutnya. Kyungsoo ingin lari dari Jongin. "Jongin..." Bibirnya yang tak bisa di kendalikan menguasainya. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Tapi, dengan lembut. Dengan hormat.
Jongin berbisik di bibirnya. "Tapi kau kembali padaku. Dan kau harus tahu...itu merubah segalanya. Aku membiarkanmu pergi sekali. Kau tidak bisa mengharapkanku untuk melakukan itu lagi."
Membiarkannya pergi? Sekarang Kyungsoo mendorongnya. "Kau menyuruhku untuk keluar dari hidupmu." Kyungsoo tersandung saat ia menjauh darinya.
"Aku tahu apa yang kau impikan, Kyungsoo. Aku tidak akan menghalangi jalanmu. Kau ingin di panggung. Kau ingin menari."
Kata-kata Jongin membekukannya.
Kyungsoo menatapnya.
"Bukankah itu yang selalu aku lakukan? Memberimu setiap hal yang kau inginkan, Kyungsoo."
"Tidak. Kau tidak memberikannya." Karena ada satu hal yang Kyungsoo inginkan mati-matian tapi tidak pernah mendapatkannya. Garis samar di dekat mata Jongin mengencang. Wajahnya adalah topeng berbahaya dalam cahaya api. "Apa yang kau inginkan?"
Kau, Jongin. Ia adalah hal yang paling Kyungsoo inginkan, lebih dari menari, lebih dari Seoul, lebih dari bisa keluar dari hidupnya saat dia sudah remaja.
Tapi Jongin tidak memberinya sebuah pilihan. Dia telah mengambil pilihannya untuk pergi.
"Apa. Yang. Kau. Inginkan?"
Jongin menghampirinya lagi. Kyungsoo menjauh.
"Di mana kamarku?" Tatapannya terbang panik di sekitar penthouse.
"Ak—aku butuh untuk berbaring."
Pria itu terus menghampiri. "Kau tidak bisa tidur. Aku harus membuatmu tetap terjaga. Itu adalah perintah dokter. Ia memberiku daftar seluruh aturan bagimu yang harus diikuti."
"Aku tidak ingin tidur." Kyungsoo butuh ruang. Dia berputar menjauhi Jongin. Kepalanya berdenyut lagi. Dia bergegas menyusuri lorong gelap.
Jongin tepat di belakangnya.
Gadis itu membanting pintu pertama yang ia lihat.
Bukan kamar tamu.
Kamar ini sangat maskulin. Di penuhi dengan barang berat. Mebel kayu Cherry. Sebuah tempat tidur yang besar. Dia bahkan bisa melihat mantel Jongin yang di lemparkan di ujung tempat tidur— Dia berbalik dan menemukan Jongin di jalannya. Kedua lengannya naik ke kanan-kiri menghalangi pintu.
"Kau harus tinggal di mana aku bisa mengawasimu," suara Jongin gemetar.
"K-kau setuju untuk menemukan siapa orang yang—yang—"
"Menguntitmu?" Jongin menyelesaikannya. "Karena itulah apa yang dia lakukan, Kyungsoo. Dia fokus padamu. Dia mulai dengan memperhatikanmu, kemudian dengan menyelinap masuk ke apartemenmu. Malam ini, dia mengambil hal-hal ke tingkat berikutnya. Dia mendatangimu. Menyentuhmu—"
Kyungsoo bernafas cepat.
"Dia berbahaya. Malam ini dia telah menyakitimu, dan aku tidak mau membiarkannya menyakitimu lagi."
"Aku hanya ingin istirahat." Untuk berhenti mengenang masa lalu rasa sakit dan segalanya.
Jongin meraih tangannya dalam genggamannya. Menuntunnya ke kamar mandi. "Lepaskan bajumu. Kau akan menemukan pakaian menunggu di dalam."
Kyungsoo ragu-ragu.
"Tidak ada rayuan malam ini. Aku janji."
Gadis itu pergi ke kamar mandi. Jubah tidur menunggunya, baiklah. Berbahan dari sutra. Indah. Hijau zamrud. Dia kembali pada Jongin beberapa saat kemudian, hampir membenci nuansa sutra terhadap kulitnya.
"Sepertinya baju ini sengaja di tinggalkan oleh-"
"Aku mengaturnya untuk dibawa ke sini untukmu. Sama seperti aku memerintahkan anak buahku membawa pakaian mu kesini. Aku ingin kau merasa aman dan nyaman."
Jongin sudah berganti pakaian saat Kyungsoo berada di kamar mandi. Membuang pakaiannya. Sekarang Jongin hanya mengenakan celana piyama hitam yang menempel rendah di pinggul. Dia suka bertelanjang dada saat di atas ranjang. Tatapan Kyungsoo melesat ke bagian atas. Bahu yang lebar. Dada yang kuat.
Jangan kesana, jangan!
Jongin mengangkat tangannya ke arahnya. "Percayalah, Kyungsoo."
Bodohnya dia mempercayainya.
Kyungsoo menempatkan jari-jarinya dalam genggaman Jongin.
Pria itu membimbingnya ke ranjang. Membaringkannya diatas kasur. Lalu ia membungkus tubuh Kyungsoo dengan tubuhnya, memeluknya. "Aku tidak akan membiarkanmu tidur, tapi aku akan membiarkanmu istirahat. Jangan takut lagi. Tidak ada yang bisa menyakitimu di sini."
Kyungsoo ingin mempercayainya.
Dia ingin, sangat ingin mempercayai Jongin. Tapi ada sesuatu yang Kyungsoo belum ceritakan pada Jongin. Dia sudah mencoba memberitahu pada polisi di Seoul dan para dokter di sana, tapi tak ada satu orang pun yang percaya padanya.
"Aku akan menjagamu sepanjang malam." Jantungnya berhenti pada kata-kata itu. Itu bukan pertama kalinya Jongin mengatakan itu padanya. Malam pertama Kyungsoo bertemu dengannya, Jongin mengatakan padanya hal yang sama.
Setelah Kris—
Diamlah.
Kyungsoo membanting pintu sebelum masa lalu bisa menghantamnya. Tapi ia ingat akan janji-janji Jongin. Pada malam dulu yang sudah lampau, dia begitu ketakutan. Dan dia mengatakan...
'Aku akan menjagamu sepanjang malam.'
Kyungsoo tidak bisa memejamkan matanya, tapi ia bisa bernafas dengan mudah karena Jongin memeluknya dalam pelukannya yang hangat. Ilusi keamanan itu bohong, jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu. Secara fisik, ia bisa percaya pada Jongin—dia tidak akan menyakitinya. Tapi ada hal-hal buruk di dunia ini lebih dari sekedar sakit fisik saja. Jauh lebih buruk. Perasaan.
-o-
Mine to Take
-o-
Park Chanyeol melemparkan jaketnya di atas kursi dan menyalakan komputer.
Kim Jongin. Dengan adanya pria lain dalam kasusnya telah merubah segalanya.
Kim Jongin memiliki banyak uang, banyak kekuasaan dan banyak rahasia.
Pria itu melejit di bagian keamanan beberapa tahun yang lalu, tampaknya datang dari antah berantah, tak jelas. Penglihatannya tidak salah. Setiap kali Jongin melihat Kyungsoo, mata orang itu telah berubah, disana ada kebutuhan dalam tatapannya, nafsu, kemarahan...
Posesif.
Orang itu menatap Do Kyungsoo seolah-olah wanita itu adalah miliknya. Ketika Kyungsoo dengan yakin menceritakan cerita yang berbeda saat ia bertanya mengenai hubungan yang mungkin ada di kota.
"Aku mendengar tentang penyerangan terhadap Ms. Do," rekannya berkata saat mendekatinya. Kim Jongdae telah menjadi seorang polisi selama dua puluh tahun. Dia sudah banyak melihat kekerasan selama bertahun-tahun. Wajahnya yang berubah mencerminkan kekhawatirannya. "Sial, aku sangat mengharapkan hal ini tidak akan menjadi buruk."
Meskipun mereka tak berdaya. Perasaan—insting—Kyungsoo belum cukup bagi mereka untuk melanjutkan kasus itu. Dan siapapun yang telah mengakses apartemennya dan menyelinap keluar masuk tanpa meninggalkan jejak apapun di belakang.
Kecuali tanda-tanda kecil yang sengaja ditinggalkan dengan maksud untuk menyiksa Kyungsoo. Chanyeol menatap Jongdae. "Dia punya keamanan sekarang. KIM Securities."
Jongdae bersiul. "Berapa banyak yang dia siapkan untuk membayarnya?"
Rekening bank wanita itu kosong, dia tidak akan sanggup membayar apapun. Jadi sebelumnya aku sudah memeriksa sedikit lebih dalam kehidupan Kyungsoo daripada rekanku menyadari.
Tapi...
Ketika Do Kyungsoo berbicara dengan pria tan itu, dia takut. Chanyeol benci melihat ketakutan di mata seorang wanita. Terlebih itu Kyungsoo.
"Aku tidak berpikir dia akan membayarnya," Chanyeol bergumam sambil membungkuk dan kembali mengetik di keyboardnya. "Sepertinya dia dan Kim Jongin adalah teman lama." Omong kosong. Mereka adalah mantan kekasih. Dia tahu persis apa yang telah terjadi dengan mereka.
"Aku tidak percaya padanya," Kata Chanyeol datar. Kyungsoo tampak begitu kacau di rumah sakit. Sementara Jongin terlalu bersemangat untuk mengajaknya keluar dari sana. Dan jauh dariku.
"Hati-hati dengannya," Jongdae memperingatkannya. "Dia bukan orang yang kau inginkan untuk menjadi seorang musuh. Bahkan, jika dia ingin, Kim bisa memiliki lencanamu—dan memilikinya—dengan satu panggilan telepon."
Chanyeol tidak takut Kim Jongin.
Tapi dia bertekad untuk mengungkap rahasianya.
-o-
to be continued
-o-
Ada yang bingung kenapa tiba-tiba ada Chanyeol muncul? Yup dia salah satu polisi setempat yang sebelumnya diceritakan Kyungsoo kalau mereka tidak percaya akan cerita/keluhan Kyungsoo. Tp sekarang sudah percaya walaupun sedikit terlambat..
Thanks a lot for you guys who still supporting this kaisoo fic, hope y'all enjoy it!:3
-Kimchi
Soal rumor gambar Kyungsoo.. plis deh itu dia ga bermaksud apapun itu cuman becanda-_- Kalian kaisoo shipper ataupun jongin stan juga pasti tau kl kyungsoo sayang bgt sama Jongin wkwk. Ada aja cobaan buat kaisoo astaga.. Kyungiiiie ill always loving and supporting you!:3
