Mine to Take
[Chapter Seven]
WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.
.
Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang...
Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang...
Nafsu bisa menjadi cinta.
Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.
-o-
Mine to Take
-o-
"Ceritakan padaku apa yang terjadi di Seoul."
Kyungsoo menatap sekilas wajah Jongin, mencoba menebak raut mukanya.
Mereka berada di dapur rumah pria itu, sebuah ruangan besar yang seolah menelan mereka berdua di dalamnya. Kokinya –dia memiliki tukang masak pribadi– telah membuatkan mereka sarapan, dan Kyungsoo belum pernah mencicipi pancake yang terasa sangat lembut seperti ini seumur hidupnya.
Tentu saja, ketika masa jayanya di Seoul, Kyungsoo mampu membeli beberapa barang mewah. Namun dia mulai menyadari bahwa Jongin telah jauh dari jangkauannya.
Anak lelaki yang dia ingat sudah lama hilang. Dia tidak yakin apakah ia masih mengenali lelaki yang berdiri di depannya.
"Kyungsoo…"
Kyungsoo menelan beberapa teguk jus jeruk. Di siang hari yang cerah, dia dapat berpura-pura bahwa kejadian buruk tadi malam tidak pernah terjadi. Nyaris. Namun rasa sakit di kepalanya meyakinkannya bahwa kejadian semalam merupakan kenyataan yang sangat menakutkan.
"Aku mengalami sebuah kecelakaan," ucap Kyungsoo dengan hati-hati. Sang koki sudah berpindah ke ruangan lain dengan tergesa.
"Mobilku meluncur keluar dari jalan. Aku….aku terjebak di dalamnya." Hujan. Ketakutan. Rasa sakit.
"Selama dua belas jam."
Kata-kata itu menyentak pandangannya bertumbuk dengan pandangan Jongin. "Y-ya, aku terjebak di dalam mobil selama dua belas jam." Berita mengenai kecelakaan itu telah tersebar ke semua surat kabar. Sang ballerina terbaik telah kehilangan segalanya dalam sebuah kecelakaan tragis. Hanya saja itu bukanlah sebuah kecelakaan biasa. Dia sangat yakin akan hal tersebut.
Rahang Jongin mengeras. "Ada banyak hal yang tidak kau ceritakan padaku. Hal yang tidak ada di surat kabar." Dia tidak memaksa Kyungsoo bercerita tadi malam. Dia hanya memeluknya, berbicara dengan lembut, dan sangat jelas menjaganya tetap tersadar.
Sekarang Jongin siap untuk menginterogasinya.
"Kau menduga lelaki itu mengikutimu di Seoul…" ujar Jongin sambil mengerutkan dahi.
"Aku─aku yakin iya. Seseorang masuk ke ruang gantiku." Katakan padanya, Kyungsoo. Katakan."Dan kukira…pada malam terjadinya kecelakaan itu, aku sedang diikuti oleh seseorang."
Jongin meletakkan pisau makannya dengan sangat pelan. Mata hitamnya berkilau menatap Kyungsoo. "Kau baru memberitahukan ini padaku…sekarang?"
"Aku menceritakan itu kepada polisi di Seoul. Kepada para dokter yang memeriksaku. Tidak ada seorangpun yang mempercayaiku."
"Aku percaya padamu." Tentu saja.
Kyungsoo mendorong piringnya menjauh. "Aku tak ingat semua hal yang terjadi persisnya pada malam itu. Aku sedang mengemudi ke arah luar kota. Aku-" Mengingat tentang saat itu. Dia berdehem.
"Aku baru saja keluar dari pom bensin. Ada sebuah mobil…sepertinya mengikutiku di setiap belokan…" Rasa takut masih sangat mudah untuk timbul. "Cahaya dari lampu mobil di belakangku terpantul di kaca spion. Menyorot bolak balik, lampu redup, kemudian lampu jauh." Membutakannya.
Kedua tangan Jongin mencengkeram erat tepian meja.
"Sepertinya mobil itu menabrakku." Bagian ini tak dapat diingatnya, setidaknya dengan pasti. "Lampu depannya menyorot seluruh bagian dari mobilku. Aku berteriak –dan kemudian mobilku terhempas ke udara." Setelah itu hanya sedikit yang dapat ia ingat. Potongan gambar berkelebatan. Rasa sakit. Lebih banyak teriakan.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Tapi para polisi berkata tidak ada tanda-tanda bahwa ada kendaraan lain yang terlibat dalam kecelakaan itu. Mereka menduga aku hanya kehilangan kendali mobilku karena jalanan licin."
Selera makannya menghilang. Bahkan pancake super lembut itu tidak dapat mengembalikannya.
"Kau harusnya langsung menghubungiku."
Kemarahan bergejolak di dalam dirinya saat mendengar kalimat Jongin. "Berita itu ada di seluruh surat kabar, Jongin. Aku mungkin bukanlah bagian dari sebuah perkumpulan orang-orang yang sangat kaya raya…" Dia menunjuk ke sekeliling dapur, "–sepertimu. Tapi aku yang dulu adalah seorang penari yang cukup terkenal." Dia menyandang status sebagai ballerina terbaik pada usia ke dua puluh dua. Menari merupakan hidupnya.
"Mungkin…mungkin seharusnya kau yang menghubungiku." Berapa kali ketika Kyungsoo berbaring di tempat tidurnya, berharap akan mendengar kabar dari Jongin? Dia bangkit dan menjauh dengan perlahan dari meja. Dari Jongin.
"Aku harus kembali ke studio. Kelas akan dibuka dalam dua hari, dan aku harus membereskan tempat itu." Dia tidak mungkin membiarkan murid-murid barunya menginjak pecahan kaca.
"Sudah dikerjakan." Kyungsoo menatapnya balik. Jongin bangkit dari duduknya. "Cermin sudah diganti dengan yang baru," ujarnya, "pecahan kaca sudah dibersihkan, dan kau tak akan mengalami masalah lagi dengan korsleting listrik."
"Kau tak perlu–"
"Aku bukanlah anggota keluargamu, jadi, sialnya, mereka tidak membiarkanku masuk ketika kau di rumah sakit."
Kepala Kyungsoo menggeleng, sebuah penyangkalan yang tiba-tiba karena Jongin tidak mungkin mengatakan kalau–
"Namun aku menemukan cara untuk mendekatimu." Suara Jongin terdengar suram dan keras."Aku harus memastikan bahwa kau akan baik-baik saja."
Jongin bohong. Dia pasti berbohong. "Kau tidak di sana. Kau tidak ada di Seoul."
Pandangannya membekukan Kyungsoo, dan dia tak dapat memalingkan wajahnya ketika Jongin berkata, "Mereka menempatkanmu di UGD. Dokter yang menanganimu bernama Oh Sehun."
Tidaklah sulit bagi seseorang untuk mencari tahu nama dokter yang menanganinya. Dan itu sangatlah mudah bagi Jongin dan sumber-sumbernya yang tidak terbatas.
"Jendela yang terletak di dekat tempat tidurmu mengarah ke halaman rumah sakit. Sinar matahari masuk melalui jendela tersebut, naik dengan cepat dan terik, dan akan menimpa wajahmu setiap pagi. Aku memastikan para perawat menjaga tirai jendela tetap tertutup karena aku tak mau kau terganggu dengan silaunya."
Kerongkongan Kyungsoo mengering. Sebuah tangan tak kasat mata seolah-olah memeras jantungnya. "Tapi ketika aku membuka mataku, kau tak pernah ada di sana."
Mata Jongin yang berbingkai bulu mata tebal berkedip. "Aku tidak berpikir kau menginginkanku ada di sana."
Tangan Kyungsoo mengepal. Kuku-kuku jarinya menekan telapak tangannya. "Aku tidak memahamimu, Jongin."
Jongin menyeringai dingin. "Aku tahu."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Semuanya."
Kyungsoo mundur selangkah. "A–aku harus ke studio." Dia tidak memperhitungkan hal ini. Tindakan Jongin. Semua ini terlalu cepat. Terlalu banyak.
"Aku akan mengantarkanmu."
"Terserah…hanya saja…aku harus pergi, sekarang."
Jongin melangkah mendekatinya. Selalu tampak percaya diri. Sangat percaya diri. "Kau tak perlu takut padaku. Akulah orang yang akan menjagamu." Kyungsoo tidak tahu Jongin yang dulu. "Ketika aku pergi ke kantormu hari itu, kukira kau akan langsung menendangku keluar."
Mata Jongin menyipit mendengar kalimat itu, dan Kyungsoo melihat kilatan amarah di matanya. "Kau merendahkan dirimu sendiri…dan arti dirimu bagiku." Kata Jongin.
"Aku tidak memahamimu," Kyungsoo berbisik sekali lagi. Jongin memiringkan kepalanya. Bibirnya menyapu bibir Kyungsoo dengan kelembutan yang singkat.
"Nanti kau akan mengerti."
-o-
Mine to Take
-o-
Dua penjaga memasuki studio tari bersama Kyungsoo. Jongin bersikeras dengan penjagaan seperti itu. Kyungsoo hanya ingin masuk dan menyiapkan studionya sendirian. Tapi ada para penjaga yang harus selalu mendampinginya setiap saat di sana.
Jongin duduk di kursi belakang di mobilnya, pandangannya menatap ke gedung apartemen. Mungkin dia seharusnya tidak memberitahukan Kyungsoo mengenai perjalanannya ke rumah sakit di Seoul saat kecelakaan itu.
Namun kebenaran akan segera terkuak, secepatnya.
Terutama karena ia merencanakan untuk membawa Kyungsoo ikut bersamanya ke Seoul dalam beberapa jam lagi. "Pesawatnya sudah siap?" Jongin bertanya kepada Jimin. Dia memilih meninggalkan Jaguarnya di rumah dan membiarkan Jimin menyetir hari ini. Dia harus membuat beberapa rencana, dan dia dapat melakukan beberapa hal sekaligus dengan lebih baik ketika Jimin yang berada dibalik kemudi.
"Yes, Sir. Pilotnya sudah menunggu."
"Good." Dia akan menunggu hingga Kyungsoo menyelesaikan urusannya, dan kemudian mereka akan berangkat.
Tidak ada seorangpun yang mungkin akan mempercayai cerita Kyungsoo, tapi Jongin tidak sama dengan orang lain. Jika Kyungsoo berkata bahwa ia telah dipaksa keluar dari jalan….
Jongin ingin mencari tahu apa yang terjadi di Seoul.
Dan dia tak dapat pergi ke sana sendirian. Saat ini Kyungsoo masih belum yakin pada dirinya. Dia ingin Kyungsoo untuk memberikan kepercayaannya, namun Kyungsoo mungkin akan meragukannya.
Tidak, dia harus menjaga Kyungsoo berada tetap di dekatnya.
Tapi Jongin harus sangat berhati-hati. Sangatlah mudah baginya untuk tersandung di Seoul. Dan sangat mudah bagi Kyungsoo untuk menemukan lebih banyak hal tentang kehidupannya.
Tentang apa yang terjadi dengannya selama sepuluh tahun terakhir.
Ada beberapa hal yang lebih baik Kyungsoo tidak mengetahuinya.
-o-
Mine to Take
-o-
"Aku butuh daftar nama kekasihmu," Jongin berkata kepada Kyungsoo ketika ia kembali ke dalam mobilnya sore itu. Jongin berhenti berbicara di saat yang sepertinya sangat tepat, namun Kyungsoo tahu salah satu bawahannya pasti telah mengabari Jongin dan memberitahunya bahwa Kyungsoo memutuskan untuk menyudahi hari.
Rasa lelah menguasainya, tapi suara geraman Jongin terdengar menuntut…
'Aku butuh daftar nama kekasihmu.'
"Ini bukanlah sebuah presentasi," Kyungsoo bergumam saat dia merasakan pipinya merona. "Aku tidak meminta—"
"Detektif itu—Park—dia benar. Lelaki yang mengikutimu mungkin salah satu dari mantanmu. Seseorang yang pernah memilikimu, dan tidak menginginkanmu pergi darinya."
Kyungsoo menatap sekilas keluar jendela. Menatap keramaian kota yang melewatinya dengan samar-samar. "Mungkin orang itu mantanku, atau hanya seorang gila yang pernah melihatku di jalan. Mungkin juga hanya seorang penonton yang pernah melihatku menari. Terkadang mereka keliru dengan menganggap para penari seperti karakter yang kami perankan." Selama bertahun-tahun dia telah memerankan banyak karakter. Sang Putri Tidur, Penyihir Jahat, Si Angsa Cantik, seorang–"
"Daftar nama para kekasihmu bisa menjadi titik awal pencarian untuk kita. Kau akan mengetahui bahwa informanku lebih bagus dari pada informan detektif itu. Aku bisa menemukan orang-orang ini sendirian, menegaskan status mereka –atau–"
"Mereka tidak bersalah." Bela Kyungsoo.
Mobil berjalan memelan. Kemudian berbelok ke kanan. Jimin duduk di balik kemudi. Kyungsoo melongokkan badannya. Ini bukan jalan menuju apartemen milik Jongin. Kecuali jika Jimin mengambil jalan pulang yang berbeda.
"Katakan padaku nama-nama mereka."
Dia menatap Jongin. "Ya ampun, mereka bahkan tidak tinggal di kota ini!"
Hanya ada satu mantan kekasihnya di Busan, dan orang itu sekarang duduk terlalu dekat dengannya dan menguasai terlalu banyak ruang di dalam mobil ini, bahkan di dalam hatinya.
Satu alis berwarna gelap terangkat. "Tidak sulit untuk mendapatkan satu tiket pesawat atau kereta ke Busan."
Tidak, memang tidak sulit.
Hujan mulai turun, memercik ke jendela. Bahu Kyungsoo menegang.
Baiklah, jika Jongin meninginginkan daftarnya, Kyungsoo akan memberikan padanya. Dalam keindahan yang manis dan singkat,
"Xi Luhan. Dia…dia adalah seorang penata tari yang kutemui bertahun-tahun yang lalu." Sangat cerdas. Tekun. Sangat perfeksionis.
"Siapa lagi?"
Nada ketidaksabaran dalam suaranya terdengar sangat menjengkelkan. Seolah-olah Kyungsoo memiliki daftar sepanjang empat halaman. Meskipun dia bertaruh Jongin punya. "Kim Junmyeon, seorang aktor." Seorang aktor yang cukup sukses saat ini. "Tapi dia berada di luar Korea sekarang, jadi aku tidak berpikir bahwa dia bisa –"
"Teruskan, Kyungsoo." Jongin memotong kalimatnya. Tidak banyak yang ia bisa ceritakan. "Oh Sehun."
Suasana di dalam mobil menjadi hening, sangat hening.
"Sebutkan nama itu lagi," Jongin menggeram.
"Kenapa? Kau mendengarku menyebutnya." Kyungsoo menatap sekilas keluar jendela sekali lagi. Raut wajahnya berubah murung. Ini jelas bukan merupakan jalan menuju ke apartemen.
"Kau tidur dengan dokter yang memeriksamu?" Jongin menuntut.
Nada suaranya sangat rendah dan dingin.
Terkadang Jongin melakukannya. Ketika dia marah, nada bicaranya akan menurun drastis ke ketenangan yang mematikan.
"Dia bukan dokterku saat itu." Kyungsoo selalu sendirian saat itu, dan Sehun telah menjadi satu-satunya yang ada untuknya. Selalu tersenyum. Mampir ke tempatnya sembari membawakan donat dan bunga.
Satu malam, acara minum-minum telah menjurus ke sesuatu yang….lebih.
"Kenapa kau sekarang tidak bersamanya?"
"Karena aku tak bisa tetap tinggal di Seoul." Sewanya sudah jatuh tempo, dan dia tidak punya uang untuk membayarnya. Tidak setelah tagihan rumah sakit menghabiskan uangnya. Asuransi hanya menunda tenggat waktunya selama mungkin.
"Dokter brengsek itu…"
Kepala Kyungsoo tersentak ke arah Jongin. "Dengar, siapapun yang aku kencani seharusnya tidak masalah –"
"Bagiku itu masalah." Gertak Jongin. "Masalah besar."
Kyungsoo tidak akan pernah bisa memahami laki-laki ini. "Kau tidur dengan semua model atau aktris yang bisa kau temukan, jadi jangan bertingkah seolah-olah beberapa mantan kekasihku memberikan efek padamu. Kita berdua sama-sama tahu aku sudah menjadi bagian dari masa lalumu sejak lama." Kyungsoo ikut terbawa emosi.
Jongin memajukan tubuhnya ke arah Kyungsoo. Dalam kegelapan ruang di dalam mobil, Kyungsoo berharap dia bisa melihat raut wajah Jongin. Tapi Jongin masih tersembunyi di dalam bayangan. "Hal itu ada efeknya padaku," Jongin berkata. "Hal itu membuatku sangat marah."
"Jongin?"
Tangan Jongin meluncur di atas pipi Kyungsoo. "Aku ingin kau melupakan mereka. Aku ingin membawamu ke tempat tidur, dan aku ingin menghapus semua kenangan yang kau miliki dengan mereka."
Kyungsoo tidak bisa bernafas dengan lega. "Kita sudah putus, Jongin. Kau tahu–"
"Bagaimana bisa kita putus ketika aku masih sangat menginginkanmu?" Tangannya turun menelusuri pipi Kyungsoo, turun ke rahangnya, kemudian turun ke lekukan di lehernya. Jarinya meregang di sekitar lehernya, meraba titik nadi yang berdetak gelisah di balik kulitnya.
"Dan bagaimana bisa kita putus ketika kau masih sangat menginginkanku?" Karena ia akan mencampakkan pria lain demi Jongin. Kenyataan yang memalukan dan menyedihkan. Hubungan seksnya dengan lelaki lain memang cukup baik, namun dengan Jongin…
Aku selalu membandingkannya dengan yang lain. Bagaimana mungkin ini bisa adil? Mungkin itu sebabnya mengapa Junmyeon dan Sehun mengakhiri hubungan dengannya. Mereka berdua akan mengatakan yang sebenarnya mereka rasakan, bahwa Kyungsoo tidak membiarkan para lelaki mendekatinya. Bahwa ia membangun dinding pemisah antara Kyungsoo dengan mereka dan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam hidupnya.
Setelah hubungannya dengan Jongin, ia perlu membangun dinding tersebut. Karena ia tidak pernah ingin tersakiti oleh seseorang lagi.
Ketika Jongin meninggalkannya, ia merasa patah hati, sangat banyak. Butuh waktu yang sangat lama baginya untuk mengumpulkan kepingan hidupnya kembali.
"Jika aku bertindak salah, katakan sekarang." Jemari Jongin serasa membakar kulitnya. "Katakan padaku untuk mundur, dan akan kulakukan. Aku tidak mau memaksa meminta sesuatu yang tidak ingin kau berikan. Aku menginginkan semua hal dari dirimu. Semua atau tidak sama sekali."
Bukankah selalu seperti itu hubungan mereka selama ini? Dia telah memberikan segalanya untuk Jongin.
Dan apa yang Jongin berikan untuknya?
Mobilnya berhenti.
"Semuanya atau tidak sama sekali, Kyungsoo. Kau yang tentukan."
Kemudian Jongin menarik dirinya menjauh dari Kyungsoo dan membuka pintu mobil.
Kyungsoo mencoba bernafas untuk menarik udara sebanyak-banyaknya.
Memandang sekilas ke arah kirinya, dan kemudian ia sadar dengan gelisah bahwa mereka memang tidak menuju ke apartemen. Pintu di sisinya terbuka. Bukan Jimin yang berdiri di sana dan menahan pintunya terbuka, tetapi Jongin.
Kyungsoo berkata dengan gugup. "Apa yang kita lakukan di sini?"
Di bandara.
"Kita akan terbang. Pesawat jetku sudah menunggu."
Jongin punya pesawat jet? Bodoh, tentu saja. Seseorang sekaya dirinya pasti memiliki pesawat jet pribadi.
Kyungsoo masih tetap duduk membeku di dalam mobil. "Kita akan pergi ke mana?" Firasatnya mengatakan bahwa ini akan menjadi percakapan yang sulit. "Studioku sebentar lagi akan dibuka. Aku tidak bisa begitu saja–"
"Kau ingin bajingan penguntitmu segera ditangkap, kan? Jika itu yang kau inginkan, kita harus menelusuri semuanya dari awal. Jika orang itu mulai menguntitmu di Seoul, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dirinya di sana."
Apakah Jongin pikir dia akan begitu saja ikut dengannya ke Seoul? "Aku tidak mau pergi ke–"
"Kau bisa membantuku mendapatkan informasi dari orang-orang yang ada di sana. Para penari, tetangga lamamu. Kehadiranmu akan mempermudah orang untuk berbicara. Mungkin seseorang melihat sesuatu. Mungkin ada seseorang yang pernah melihat bajingan itu."
Tangan Jongin masih memegang pintu mobil. "Aku membutuhkan kau untuk ikut denganku. Aku janji kita akan segera kembali sebelum kelas dimulai."
Di masa lalu, Kyungsoo sangat menyukai Seoul. Tapi sekarang ia telah melarikan diri dari sana, sangat ingin untuk menjauh dari sana.
Hanya saja kemudian ia menjadi ragu. Benarkah ia melarikan diri dari kota itu? Atau sebenarnya ia melarikan diri dari orang yang menguntitnya? Dari bayangan gelap yang seolah selalu mengikutinya, dalam setiap langkahnya?
Sebelum kecelakaan itu, ia selalu merasa gugup. Berusaha melompat tanpa suara. Dia masih belum bisa menghilangkan perasaan bahwa tindakannya diawasi oleh seseorang. Setiap hal yang ia lakukan.
Selalu diawasi.
Dan bajingan itu sudah pernah masuk ke dalam tempat tinggalnya.
Kyungsoo tahu bahwa dia sudah pernah membobol masuk meskipun tidak pernah ada bukti pembobolan.
"Mari akhiri perdebatan ini," ujar Jongin dengan tidak sabaran. "Ikut denganku ke Seoul. Biarkan aku melakukan pekerjaanku. Akan kutemukan bajingan itu dan menghentikannya mengganggumu."
Kyungsoo menatap sekilas ke arah bandara. Sebuah pesawat baru saja lepas landas, dan deru suara mesinnya menjalar di udara. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Jimin membanting menutup bagasi. Kyungsoo melongokkan kepalanya ke arah Jimin, dan dia melihat laki-laki itu membawa dua buah koper. Satu koper milik Jongin, namun yang satu lagi...miliknya.
"Kupikir kau mungkin bisa mencoba melihat dari sudut pandangku,"
Kyungsoo menggerutu.
Laki-laki ini sangat sombong dan sangat percaya diri.
Dia memegang tangan Kyungsoo. "Kau sudah tidak takut terbang, kan?"
Tentu saja Kyungsoo masih takut. Sangat ketakutan. Tapi dia tidak mau mengakui kenyataan itu di depan Jongin. Jongin sudah bisa menebak bahwa banyak hal yang ditakutinya di dunia ini.
Tapi itu benar.
Pertama kalinya ia merasa takut ketika umurnya delapan tahun.
Ketika orangtuanya tidak kembali ke rumah setelah makan malam di luar. Ketika pengasuhnya menyebutkan tentang kecelakaan. Ketika akhirnya ia berdiri di pemakaman dan menyaksikan karangan bunga ditaruh di atas dua nisan.
Dia merasa takut ketika pertama kalinya dibawa ke panti asuhan.
Ketika dipindahkan ke panti berikutnya. Dan berikutnya.
Dia merasa takut ketika tangan-tangan kasar menariknya di malam hari. Ketika ia disakiti. Rasa sakit yang terus menerus datang kembali. Satu-satunya pelariannya hanyalah menari.
Seorang pekerja sosial telah mengenalkan dunia tari pada Kyungsoo.
Wanita itu sering membawanya ke pusat komunitas kota dan Kyungsoo akan tenggelam di dalam musik dan tariannya.
Dia akan terus menari. Hari demi hari.
Namun ia tetap merasa takut…
Hingga satu hari ketika ia mendongak dan menatap sepasang mata berwarna hitam kelam yang tampak marah.
Rasa takut itu berhenti sesaat.
Namun semua rasa takut itu telah kembali dengan sangat cepat.
Rasa takut itu pada akhirnya akan kembali.
-o-
to be continued
-o-
Nah loh banyak juga mantan Kyungsoo.. ckck
Apakah pelakunya salah satu mantan Kyungsoo?
Kita lihat nanti..
.
Next? Review dear~
See ya!
-Kimchi
Thanks to:
UnA NA; SooieBabyUke; ekyeol; riaazzhh; rly; kim gongju; slablill; dinadokyungsoo1; DJ 100; sushimakipark; 17Bang Kyung Hoon; sider; daebaktaeluv; kai; Diyah887; ChocoSoo; kaisoov; NataNerd; Lovesoo; kimsoo; Shinkyu; Kim Reon; dyonatkai; sangjoonpark; nikyunmin; 12154kaisoo; anon; dorim; dks; Kaisooship; KyungXo; park taen; Ayyu965; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; Kaisoo; hunkaisoo; ekyeol; Dks; Soonini; kadi1288; Ellena; kyungsoonia; kaisoohug; W.
also unnamed guest & silent reader...
