Mine to Take

[Chapter Eight]


Preview

"Ceritakan padaku apa yang terjadi di Seoul."

"Aku mengalami sebuah kecelakaan," "Mobilku meluncur keluar dari jalan. Aku….aku terjebak di dalamnya."

"Selama dua belas jam."

"Kau menduga lelaki itu mengikutimu di Seoul…"

"Aku percaya padamu."

"Kau tidak di sana Jongin. Kau tidak ada di Seoul."

"Tapi ketika aku membuka mataku, kau tak pernah ada di sana."

"Aku tidak berpikir kau menginginkanku ada di sana, Kyungsoo."

"Aku tidak memahamimu, Jongin."

.

"Aku butuh daftar nama kekasihmu,"

"Mereka tidak bersalah."

"Katakan padaku nama-nama mereka."

"Xi Luhan. Dia…dia adalah seorang penata tari yang kutemui bertahun-tahun yang lalu."

"Kim Junmyeon, seorang aktor."

"Oh Sehun."

"Kau tidur dengan dokter yang memeriksamu?"

"Dengar, siapapun yang aku kencani seharusnya tidak masalah –"

"Bagiku itu masalah." Gertak Jongin. "Masalah besar."

.

"Kita akan pergi ke mana?"

"Kau ingin bajingan penguntitmu segera ditangkap, kan? Jika itu yang kau inginkan, kita harus menelusuri semuanya dari awal. Jika orang itu mulai menguntitmu di Seoul, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dirinya di sana."

"Baiklah, aku akan ikut denganmu."

-o-

Mine to Take

-o-

Park Chanyeol menyaksikan dari jauh ketika pesawat jet itu menunggu di landasan pacu. Bepergian dengan pesawat pribadi… sepertinya sangat cocok dengan gambaran seorang Kim Jongin.

Dia telah menggali informasi mengenai Jongin hampir seharian ini.

Seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin dan mendaftar menjadi taruna pada usia ke dua puluh. Masa lalunya dapat dengan mudah diketahui sampai di saat ia masuk akademi. Setelah ia bergabung menjadi prajurit pembela tanah air, semua catatan mengenai Kim Jongin menghilang tanpa jejak. Semua catatan selama empat tahun dia menjadi tentara. Nampak seolah tidak ada yang terjadi selama empat tahun tersebut.

Kemudian Kim muncul lagi di Busan. Muncul secara tiba-tiba dan langsung memiliki koneksi yang kuat dengan beberapa pejabat pemerintahan yang bahkan menangani urusan luar negeri. Perusahaan jasa keamanannya telah meroket menjadi yang terbaik di bidangnya. KIM Securities.

Kim telah menjadi seorang jutawan. Bukan jutawan, melainkan milyuner berdasarkan laporan pajaknya.

Jadi, mengapa seseorang seperti dia tertarik secara pribadi dengan sebuah kasus penguntitan? Kasus tersebut bahkan bukan kasus yang biasa ditangani oleh perusahaannya. Kliennya selalu sebuah perusahaan, bukan orang secara individu, apalagi seorang wanita yang tak memiliki cukup uang di rekeningnya.

Chanyeol menarik tangannya keluar dari saku jaketnya. Dia telah menggunakan lencana kepolisiannya untuk masuk ke bagian belakang bandara. Dan dia berencana menggunakannya lagi untuk membantu penyelidikannya. Orang-orang selalu berbicara lebih lancar ketika melihat lencana polisi.

Matanya menyipit melihat seseorang berjalan tergesa dari landasan pacu. "Uh, permisi, sir…" panggil Chanyeol.

Seorang pria yang kira-kira lebih tua darinya dengan rambut yang mulai menipis mengerutkan dahi ke arahnya. Orang itu mengenakan seragam biru muda yang biasa dipakai oleh kru landasan.

"Apakah kau orang yang tadi membantu penerbangan Kim Jongin?" tanya Chanyeol sembari memperlihatkan lencananya.

Orang itu menatap sekilas pada lencana, kemudian menatap Chanyeol.

"Mr. Kim tidak memiliki masalah denganku. Aku hanya melakukan pekerjaanku, aku–"

"Aku tidak bilang kau punya masalah dengannya," Chanyeol berkata menenangkan. "Aku hanya penasaran…"

Dan dia telah penasaran seharian ini. Dia telah sampai di studio milik Kyungsoo tepat pada saat wanita itu masuk ke mobil Kim. Jadi dia mengikuti mereka dan menyaksikan mereka terbang ke luar kota.

Aneh. Sebuah serangan di satu hari dan sebuah liburan keesokannya?

"Ke mana tujuan Mr. Kim?" tanya Chanyeol sambil memiringkan kepalanya.

Orang itu menatap sekilas ke balik bahunya. "Aku…kukira ia pergi lagi ke Seoul."

Ke kota tempat Do Kyungsoo pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama. "Apakah ia sering pergi ke Seoul?" Bisa saja itu merupakan perjalanan bisnis, atau untuk-

"Ya, dia sering pergi ke sana. Paling tidak seminggu sekali." Orang itu mencoba berjalan melewatinya.

Chanyeol bergeser dan menghadang langkahnya. "Kru di landasan terkadang mendengar beberapa cerita." Dan banyak gosip. "Apakah kau pernah mendengar cerita tentang alasan Kim pergi ke Seoul? Tentang perjalanannya yang dulu? Atau yang malam ini?"

Orang itu tersenyum, memperlihatkan gigi depannya yang bengkok.

"Aku tak peduli dengan alasan penerbangannya. Aku hanya peduli dengan seberapa sering ia melakukannya. Aku mendapatkan uang dari situ."

Tentu saja. Informasi ini tak berguna baginya.

Orang itu berjalan pergi. Chanyeol menatap langit. Hujan gerimis masih membasahi bumi. Pesawat itu sudah menghilang dari pandangannya.

Mungkin semua perjalanan Kim hanyalah murni untuk bisnis.

Atau mungkin…mungkin dia telah ke sana untuk tujuan lain.

Chanyeol telah mengambil laporan kecelakaan Kyungsoo. Dia telah membaca pernyataan Kyungsoo mengenai seseorang yang membuntutinya di jalan. Membuat mobilnya melaju keluar dari jalan.

Semakin jauh ia menyelidiki, rasa kekhawatirannya makin meningkat.

Do Kyungsoo dalam bahaya. Chanyeol hanya berharap wanita itu tidak mempercayai orang yang salah.

Sebuah kesalahan seperti itu terbukti bisa berakibat fatal bagi Kyungsoo.

-o-

Mine to Take

-o-

Jongin menjaga tangannya tetap di sekeliling Kyungsoo ketika mereka berjalan menuju lobi hotel. Lantai yang terbuat dari pualam memantulkan cahaya ketika petugas hotel memandu mereka menuju lift pribadi.

Kyungsoo hanya diam membisu. Dia bahkan hampir tidak menatap mata Jongin, dan Jongin membenci itu.

Jongin merindukan bagaimana hubungan mereka dahulu.

Aku akan mendapatkannya kembali.

Dia akan mendapatkan semuanya kembali.

Pintu lift tertutup, dan mulai bergerak naik. Liftnya meluncur ke atas, naik makin tinggi.

"Uh, Mr. Kim?" Taehyung –si petugas hotel –berdehem. "Apakah ada yang Anda butuhkan untuk malam ini?"

Jongin bahkan tidak mencoba memalingkan pandangannya dari Kyungsoo.

Kyungsoo sempat tidur ketika di pesawat. Namun Jongin bahkan terlalu gugup untuk merasa ngantuk. "Aku sudah memiliki apa yang aku butuhkan." Suaranya bergemuruh.

Tatapan mata Kyungsoo bertubrukan dengannya.

Pintu lift terbuka.

Taehyung berjalan keluar dengan tergesa. "K-Kamar Anda sudah disiapkan, sir. Tentu saja, sebuah plaza suite yang selalu Anda pesan ketika Anda mengunjungi–"

"Aku tahu kamar yang mana," potong Jongin sebelum Taehyung bisa berbicara lebih banyak lagi. Orang itu sialnya jadi terlalu banyak omong malam ini.

Taehyung bergegas membuka pintu kamar. Kyungsoo melangkah masuk. Kepalanya tersentak ke belakang ketika ia melihat sebuah lampu kristal yang sangat besar di tengah ruangan megah tersebut.

"Anda.. em.. Anda yakin tidak menginginkan koki pribadi untuk melayani Anda?" Taehyung berdiri dengan enggan di dekat pintu ketika pelayan membawakan koper tamunya. "Malam sudah larut, tapi tidak untuk Anda, Mr. Kim –"

Jongin tahu bahwa koki pribadi disediakan satu paket dengan kamar ini. Tapi dia tidak ingin diganggu siapa pun saat ini. Dia ingin hanya berdua saja dengan Kyungsoo. "Suruh dia datang besok pagi untuk membuatkan sarapan." kata Jongin. Matanya menatap ke arah pelayan.

"Semua koper ditaruh di ruang tidur utama."

Kyungsoo telah berdiri di dekat jendela yang menampakkan pemandangan dari kamar itu. Bahunya nampak menegang.

Dia telah mendengar perintah Jongin mengenai koper-koper mereka.

Tapi dia tidak membantahnya.

Belum.

Pelayan dan petugas hotel telah pergi beberapa menit yang lalu.

Pintu menutup pelan di belakang mereka.

Kyungsoo tetap menatap ke luar jendela. "Terkadang, aku lupa bagaimana rasanya tinggal di Seoul…"

Salju melayang pelan di luar. Mereka telah terbang menjauh dari hujan di Busan menuju hujan salju di Seoul. Tangannya terangkat dan menyentuh kaca jendela. "Ketika aku masih kecil, Seoul adalah segalanya bagiku. Orang-orang yang tinggal di sini.. mereka tampak bahagia. Dicintai oleh banyak orang."

Ketika ia masih kecil, ia selalu berpindah dari satu panti ke panti berikutnya.

Ia menemukan takdirnya dalam balet berkat seorang pekerja social yang ingin menyalurkan bakatnya. Memberinya tempat kecil untuk manggung di pusat komunitas kota. Kyungsoo pernah bercerita pada lelaki itu bagaimana gugupnya ia di hari pertama mereka pergi tempat itu.

Dia selalu merasa gugup, hingga akhirnya ia menari.

Kyungsoo berpaling dari jendela. "Sebuah suite, Jongin?" Dia berdehem untuk menjernihkan suaranya. "Kita hanya berdua di sini. Menurutmu kita benar-benar membutuhkan kamar yang…berapa luasnya?" dia menatap sekilas ke sekelilingnya dengan bibir terkatup rapat. "Tebakanku….seribu dua ratus meter persegi?"

"Seribu tiga ratus." Jongin melepas jasnya. Melemparkannya ke samping dan berjalan mendekati Kyungsoo.

"Kamar manapun akan sama saja."

Tangannya menangkup dagu Kyungsoo. "Ketika aku masih kecil, aku berangan-angan untuk tidak akan kelaparan." Harusnya Kyungsoo sudah bisa menduga ini. Dia harusnya sudah mengenal Jongin dengan lebih baik daripada orang lain. "Aku berangan-angan tidak memakai pakaian bekas orang lain. Tidak menjadi korban ejekan karena sepatuku bolong." Orangtua Jongin tidak meninggal dalam kecelakaan seperti orangtuanya. Mereka hanya tidak mempedulikan Jongin.

Mereka biasa mengabaikannya hampir setiap waktu.

Membiarkannya berpakaian dan mencari makanan sendiri.

Hari itu ketika pekerja sosial menemukannya…saat itu sudah berapa hari ia tidak makan?

Ayahnya sangat suka memukulinya. Ibunya…seringkali dalam keadaan mabuk. Ibunya selalu melarikan diri dari kenyataan dan tidak mempedulikan ketika anaknya menangis.

"Aku sudah membuang masa laluku," ujarnya kepada Kyungsoo, sembari menjaga genggamannya tetap lembut. Bersama Kyungsoo, dia akan berusaha menjadi lembut. Hanya untuknya. "Saat ini, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan."

"Dan apapun yang kau inginkan…"

Jemari Jongin meluncur turun di leher Kyungsoo. Dia memiliki leher yang sensitif. Dulu, ketika Jongin mencium lehernya, dia akan meleleh hanya karenanya. "Yang kuinginkan hanya dirimu." Berada di dekatnya membuat Jongin hilang akal. Aroma tubuhnya –bau manis vanilla– membungkus di sekeliling Jongin. Merasakan kulit sehalus sutranya di jari Jongin.

Kyungsoo tidak menolaknya. Tidak memintanya menjauh. Kyungsoo justru memberinya tatapan membutuhkan dari balik matanya yang bulat. "Aku kira…kukira kita datang kemari untuk mencari tahu siapa yang mengikutiku." Suaranya berubah menjadi sebuah bisikan.

"Memang itu tujuannya." Tapi sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Seoul mungkin memiliki julukan sebagai kota yang tidak pernah tidur, tapi tetap tidak mungkin bagi mereka untuk pergi dan mengetuk pintu orang satu persatu saat ini. Lebih baik menunggu hingga pagi untuk keluar dan mulai mencari tahu.

Menunggu dan menghabiskan malam ini hanya berdua. Jemari Jongin menyelinap di balik rambut tebalnya yang seperti tirai. Suara nafasnya yang sedikit parau terdengar sangat menggairahkan. Suara paling menggairahkan yang Jongin pernah dengar selama bertahun-tahun.

"Katakan bahwa kau tidak pernah memikirkan tentang kita."

Meskipun Kyungsoo pernah bersama lelaki lain. Bajingan lain. Ketika dia menyebutkan nama mereka satu persatu, Jongin sudah mencoret mereka semua dari daftar. Laki-laki lain yang pernah menyentuh tubuhnya. Jongin ingin menghapus kenangan mereka dari tubuh Kyungsoo.

Jongin ingin Kyungsoo hanya memikirkan dirinya.

Sebelum malam ini berakhir, Kyungsoo akan memikirkan hanya tentangnya.

"Aku akan berkata jujur." Salju turun perlahan di belakang Kyungsoo.

"Aku telah memikirkan tentangmu lebih dari yang bisa kuhitung."

Bagus. Karena setiap malam ketika mata Jongin terpejam, hanya Kyungsoo yang hadir dalam setiap mimpinya.

Tangan Kyungsoo terangkat. Melingkar di pergelangan tangan Jongin.

"Dan aku.. memikirkan tentang apa yang kau katakan padaku….bahwa kau menginginkanku pergi menjauh dari hidupmu."

Damn, Jongin menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang.

"Kau berhenti menginginkan diriku, Jongin, bukan sebaliknya." Kyungsoo menyentak tangannya menjauh. Berjalan memutari Jongin. "Karena kau menyuruh pelayan menaruh koperku di ruang tidur utama, aku akan tidur di sana." Kyungsoo tidak berpaling untuk melihatnya. "Dengan kamar seluas seribu tiga ratus meter persegi, aku yakin kau bisa menemukan sudut lain untuk tidur."

Setiap otot di tubuh Jongin menegang. "Aku tak pernah berhenti menginginkanmu." Kekuatan untuk mengendalikan dirinya ibarat setipis kaleng saat ini, dan itu sangat berbahaya. Dia baru saja mencoba menggoda Kyungsoo.

Rasa lapar yang liar yang telah lama ditahannya tidak seharusnya ia bebaskan.

Belum saatnya.

Kyungsoo tertawa pahit. Tidak seperti tawa yang biasanya. "Tentu saja. Karena itu kau mendatangiku, huh? Apakah itu sebabnya aku selalu melihat fotomu bersama dengan lusinan wanita berbeda selama bertahun-tahun? Karena kau…" Kyungsoo menatap dari balik bahunya, "sangat menginginkanku."

Mungkin bukan hanya Jongin yang terbakar rasa cemburu. Mungkin memang masih ada harapan bagi hubungan mereka.

"Kau ingin bukti betapa aku sangat menginginkanmu?" Tidak ada satupun hal yang bisa membuatnya pergi menjauh dari Kyungsoo saat ini.

Jongin sudah berbicara kepada dokter yang menanganinya. Kyungsoo sudah aman. Dia hanya kena gegar otak ringan dan diperbolehkan tidur.

Dia diperbolehkan bercinta.

Jongin hampir saja mengajaknya bercinta.

Kyungsoo berbalik memutarinya. "Bukan seperti itu—"

Jongin menciumnya. Dan dia tidak menahan diri. Jongin sudah menunggu hingga mereka akhirnya sendirian. Menunggu hingga hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar.

Menanti….penantian panjang selama sepuluh tahun.

Dia tidak lagi ingin menunggu.

Kecuali Kyungsoo mengatakan tidak, atau tidak menginginkannya, dia akan memiliki Kyungsoo.

-o-

to be continued

-o-


Ini scene akhirnya nanggung bgt ya? double update! go check next chap~

-Kimchi