Mine to Take

[Chapter Ten]


Pria Cina itu adalah bajingan yang telah menyentuh Kyungsoo dengan terlalu bebas. Jongin masih merasa cemburu kepadanya.

Kau kembali padaku Kyungsoo.

Tentu saja Kyungsoo kembali padanya. Dia tidak berpaling ke Luhan ketika dirinya membutuhkan perlindungan. Dia telah berpaling ke Jongin.

Para penari dan pekerja di belakang panggung tidak memberi informasi yang berguna. Mereka tidak ingat apapun. Atau siapapun. Banyak sekali penggemar yang datang untuk menemui Kyungsoo, namun wajah mereka tidak bisa diingat dengan jelas.

Tidak berguna.

Ketika mereka meninggalkan tempat itu, mereka telah menarik perhatian para penari dan koreografer. Mereka kemudian bergerak menuju daftar pencarian nomor dua.

Jongin sudah pernah beberapa kali mengunjungi tempat itu sebelumnya. Terlalu sering, dan Kyungsoo bahkan tidak menyadarinya.

Aku harus memastikan Kyungsoo baik-baik saja.

"Sudah lama sejak terakhir kalinya," Kyungsoo bergumam di sampingnya ketika mereka melangkah menyusuri lorong rumah sakit itu. "Dan aku tidak bisa katakan kalau aku senang bisa kembali lagi ke sini.

Bau cairan pembunuh kuman memenuhi hidung Jongin. Beberapa perawat berjalan tergesa melewatinya. Sebuah keluarga berjalan ke arah mereka sembari membawa bunga dan balon.

Dokter yang menangani Kyungsoo sedang bertugas hari ini. Jongin sudah mengecek jadwal Dr. Oh Sehun sebelum mereka pergi ke rumah sakit. Dan dia juga sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu apakah Oh Sehun atau Xi Luhan pernah mengambil penerbangan ke Busan baru-baru ini.

Ternyata keduanya tidak pergi ke sana.

Tapi kedua orang itu bisa saja menyetir ke sana. Perjalanan darat selama tiga belas jam masih mungkin untuk dilakukan.

Dia berhenti di tempat perawat jaga. "Aku ingin bertemu dengan Dr. Sehun."

Perawat itu mendongak. Matanya sedikit membelalak ketika menatap Jongin, kemudian ia tersenyum.

Selama bertahun-tahun, sudah banyak sekali wanita yang tersenyum seperti itu kepada Jongin. Senyuman menggoda, berharap. Menunjukkan ketertarikan padanya. Hanya saja ia tidak tertarik. Kyungsoo berada di sisinya.

Ketika Jongin bersama Kyungsoo, Jongin tidak membutuhkan orang lain.

"Dia sedang berkeliling memeriksa pasiennya sekarang, tapi adakah yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu sembari berdiri dan menaruh tangannya di lengan Jongin. "Aku akan dengan senang hati membantumu, jika kau butuh bantuan."

Yang Jongin butuhkan saat ini hanya Sehun.

Salah satu mantan kekasih Kyungsoo.

-o-

Mine to Take

-o-

Sial. Sulit sekali baginya untuk menahan diri tidak meninju wajah tampan milik Luhan. Ketika pria itu terus menerus menyentuh Kyungsoo, terlalu banyak sentuhan yang terlihat akrab.. Aku ingin mematahkan tangan laki-laki itu.

Hanya saja Jongin seharusnya tidak bersikap seperti itu lagi. Dia seharusnya bersikap seperti seorang pebisnis. Sisi cerita hidupnya yang berhasil.

Bukan seorang petarung jalanan yang akan mengamuk pada lelaki manapun yang berada terlalu dekat dengan Kyungsoo.

"Sayang sekali, tetapi sepertinya hanya Dr. Sehun yang bisa membantu kami berdua." Katanya, menarik Kyungsoo lebih dekat ke sisinya. Kyungsoo sudah berubah menjadi sangat gelisah ketika mereka memasuki rumah sakit. Itu bukan salahnya, tidak setelah apa yang telah wanita itu lalui. Jongin mengerti dan hanya ingin segera menanyai sang dokter kemudian secepatnya keluar dari situ bersama Kyungsoo.

Satu kali sangat amat tidak cukup.

Tapi dia harus terlebih dulu menghilangkan ancaman di sekitar Kyungsoo.

"Kapan kira-kira Sehun akan kembali ke sini?" Jongin bertanya kepada perawat berambut pirang itu.

Seketika itu juga, seolah-olah tahu namanya disebut, Sehun berderap muncul dari salah satu sudut ruangan. Jas putih dokternya melambai ditiup angin ketika ia menaruh papan tulisnya di meja jaga. "Irene, pastikan diet rendah karbohidrat Mr. Song tetap dilanjutkan selama minimal dua puluh empat jam ke depan dan…" kalimatnya terhenti tiba-tiba.

Karena mendadak ia mendongak.

Dan mengunci tatapannya pada Kyungsoo.

Bajingan lainnya yang ingin aku tinju.

Tapi setidaknya, berbeda dengan Luhan, Sehun tidak bergegas menyeberangi ruangan dan membungkus Kyungsoo dalam pelukan yang terlalu erat. Sehun praktis tidak bergerak sama sekali, tapi tatapan matanya jelas menyadari kehadiran Kyungsoo.

Ada apa sih dengan wanita ini? Ia menarik para lelaki untuk mendekat. Laki-laki yang satu ini tentu saja sangat mudah untuk ditarik.

Membuatnya kecanduan, sejak pertama kali.

"Dr. Oh." Jongin berusaha keras menjaga suaranya terdengar tetap tenang. "Kami ingin berbicara dengan Anda beberapa menit saja."

Dokter itu memandang Jongin dengan terkejut. Ia sepertinya tidak menyadari kehadiran Jongin di situ, tidak sebelumnya.

Jongin tidak terbiasa diacuhkan.

Ia menyeringai dengan angkuh. "Kami ingin berbicara dengan Anda sekarang."

"A-aku baru saja menyelesaikan pemeriksaanku." Sehun menatap sekilas ke arah jam tangannya. "Aku punya waktu beberapa menit. Ke arah sini." Kemudian ia berbalik tanpa berkata apapun, dan berjalan kembali ke arah lorong tempat ia muncul.

Jongin mengikuti langkah dokter itu dengan sabar, sembari memastikan untuk tidak melepaskan penjagaannya dari Kyungsoo.

Bagaimana perasaan Kyungsoo terhadap dokter itu? Tinggi pria itu hampir menyamai Jongin, dan proporsi tubuhnya menyerupai Jongin.

Oh Sehun bahkan berambut gelap sepertinya.

Oh Sehun terlihat seperti Jongin dalam versi yang lebih aman, lebih dapat diandalkan.

Jongin membenci bajingan itu.

Berkas-berkas bertebaran di ruangan dokter itu. Beberapa foto dalam bingkai berada di atas meja. Sang dokter mengambil berkas-berkas itu dan membereskannya dari atas meja sembari menelungkupkan beberapa foto.

Namun Jongin sempat melihatnya.

Ya, dia membenci bajingan itu.

"Apa yang sedang kau kerjakan di sini, Kyungsoo?" tanya Sehun sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Karena mereka sudah berada jauh dari meja jaga perawat, sikap pura-pura sopan sang dokter ketika di depan orang lain mulai terlihat dibuat-buat.

"Kukira kau telah pindah ke Busan."

Dokter itu tahu kemana ia pindah.

"Aku memang pindah ke sana." Kyungsoo menarik tangannya dari genggaman Jongin. "Apakah kau.. Apakah kau ingat ketika aku mengatakan seseorang telah mendorong mobilku keluar dari jalan?"

Alis mata Sehun yang berwarna gelap menukik dengan cepat.

"Apakah karena itu kau kemari? Polisi mengatakan padamu bahwa tidak ada tanda-tanda–"

"Seseorang baru saja menyerangku di Busan." Suaranya melemah. "Sebelum penyerangan itu, seseorang telah menguntitku selama beberapa hari, beberapa minggu…orang yang sama yang juga menguntitku di sini, di Seoul."

Kerutan samar di dahi Sehun menjadi lebih dalam. "Dengar, saat itu kau sedang dalam keadaan tertekan akibat kecelakaan itu, aku mengerti…tapi polisi mengatakan–"

"Aku benar-benar tidak tertarik dengan apa yang polisi katakan," potong Jongin. Dia sedang tidak dalam suasana hati yang bagus untuk membiarkan pria sombong ini membuat ketakutan Kyungsoo muncul lagi.

"Aku tertarik dengan apa yang Kyungsoo katakan. Seseorang menyerangnya, dan aku di sini untuk menemukan siapa pelakunya."

Mata berwarna kecoklatan Sehun berpindah menatap tajam Jongin.

"Memangnya siapa kau? Pengawalnya?"

"Jelas bukan pengawalnya."

Mata kecoklatan itu mencermati wajah Jongin. "Aku pernah melihatmu sebelumnya." Jari Sehun menjentik tiba-tiba. "Kau ada di rumah sakit ketika Kyungsoo pertama kali dibawa ke sini. Pihak manajemen rumah sakit memaksa kami untuk memperbolehkanmu masuk dan menjenguknya."

Dengan pengaruh yang tepat, Jongin menemukan cara untuk masuk ke kamar Kyungsoo. Kenyataan bahwa ia telah memberikan sumbangan dalam jumlah yang besar pada acara amal rumah sakit ini sangat membantunya dalam hal itu.

Mata Sehun membelalak. "Oh astaga. Kau Kim. Kim Jongin."

Jongin mengangkat bahunya.

"Jongin…..," dokter itu berkata dengan sinis sembari beralih menatap Kyungsoo. "Aku pernah mendengar nama itu, benar kan?"

Kyungsoo tersentak.

Apa sih yang mereka bicarakan? Jongin jadi merasa diasingkan.

"Harusnya aku sudah bisa menduga," lanjut Sehun, "ketika kau bilang padaku kau akan pindah kembali ke Busan, kau akan kembali padanya." Dia mendengus. "Aku tak tahu apa yang kau inginkan dariku, Kyungsoo. Kau pergi dan –menggantungku." Sebuah otot berkedut di rahangnya ketika dokter itu mencoba menyimpulkan keadaan yang terjadi. "Menurutmu aku pelakunya? Menurutmu akulah orang yang menguntitmu?"

"Apakah kau pelakunya?" Tanya Jongin.

Wajah Kyungsoo memucat. Jongin tidak menyukai kenyataan itu. Sama sekali tidak suka.

"Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik sebelum terjadinya kecelakaan itu. Bagaimana mungkin aku bisa menguntitnya sebelumnya?" Sehun menghempaskan tubuhnya ke kursi. Roda kursi itu menggelinding mundur. "Dan tidak, aku tidak mengejarnya ke Busan. Hubungan seks dengannya menyenangkan, tapi percayalah padaku, aku sudah melanjutkan hidupku, meskipun awalnya memang sulit melupakannya."

Dokter itu menganggap hubungan seks mereka menyenangkan. Menyenangkan.

Setiap otot di tubuh Jongin menegang mendengarnya.

"Kyungsoo.. bisakah kau membiarkan aku bicara dengannya berdua saja?"

Jongin berkata dengan lembut. Terlalu lembut.

"Jongin…" Kekhawatiran terdengar dari suara Kyungsoo. Dia cukup mengenal Jongin untuk bisa menebak apa yang akan dilakukan laki-laki itu.

Jongin menatapnya sekilas. "Hanya sebentar saja."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Aku tak mau pergi kemana-mana. Ini menyangkut hidupku."

Jongin seperti bisa mendengar detak jantungnya sendiri berderap kencang dalam amarah. Dia memaksakan pandangannya kembali ke dokter itu. "Apakah kau ingat siapa yang pernah mengunjungi Kyungsoo ketika ia dirawat di sini?"

"Aku ingat kau pernah mengunjunginya." Tukas Sehun. "Aku tak akan lupa ketika wakil direktur rumah sakit memberitahukan padaku bahwa aku harus mengijinkan seorang pengunjung masuk meskipun itu melanggar aturan rumah sakit."

Dokter itu benar-benar harus berhenti memancing amarah Jongin. "Ada yang lain lagi?"

"Aku punya banyak pasien yang harus aku tangani, tidak mungkin aku bisa mengingat semuanya—"

"Kau tidak meniduri semua pasienmu." Jongin berhenti. "Setidaknya kuharap kau tidak meniduri mereka semua. Dan karena Kyungsoo sudah jelas mendapat perlakuan khusus darimu, aku pikir mungkin kau lebih memperhatikan siapa yang masuk dan keluar kamarnya."

Mata dokter itu memicing. Amarah merayap naik terlihat dari matanya. "Seorang lelaki Cina." Sembur Sehun. "Luhan. Dia dan beberapa perempuan rekan menarinya juga datang menjenguk. Aku tidak melihat pengunjung lainnya karena sibuk dengan tugasku memeriksa pasien lain."

Dokter itu masih memancing amarahnya…

"Aku rasa sekarang aku tahu kenapa kau meninggalkanku, Kyungsoo,"

Kata Sehun sembari mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Sekarang aku tahu apa yang terjadi setelah malam itu."

"Maafkan aku," Kyungsoo berkata pada dokter itu.

Jongin menegang. Oh, sial, tidak, Kyungsoo tidak perlu meminta maaf kepada bajingan ini yang sudah bersikap tidak profesional sebagai seorang dokter.

"Aku juga," gumam Sehun. Tatapannya beralih ke pintu. Sambil menggeram, ia berkata, "Jika urusan kita sudah selesai, aku harus segera kembali bekerja."

Belum, urusannya belum selesai. "Aku harus tahu dimana kau berada dua hari terakhir ini, dok." Kata Jongin meskipun ia menduga bahwa si perawat genit itu bisa memberitahunya.

"Kenapa? Karena menurutmu aku telah terbang ke Busan dan menyerang Kyungsoo?" Sehun bangkit dari duduknya. Ia berjalan menyeberangi ruangan kecil itu dan berhenti tepat di depan Kyungsoo.

"Apakah itu yang kau pikir, Kyungsoo? Bahwa aku akan menyakitimu? Akulah orang yang menyelamatkan nyawamu. Akulah orang yang membantumu."

"Bukan itu maksudnya, Sehun," kata Kyungsoo. Ada sedikit nada penyesalan dalam suaranya. "Aku hanya mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Kau tidak mengerti—orang itu sudah mengamatiku untuk waktu yang cukup lama." Rambutnya jatuh dari balik bahunya ketika Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Aku lelah selalu merasa ketakutan. Aku ingin orang itu berhenti menggangguku. Kupikir… kami pikir mungkin kau pernah melihat seseorang, atau sesuatu yang bisa membantu—"

"Jika aku tahu sesuatu yang bisa membantumu, aku pasti sudah memberitahukannya." Tatapan Sehun menyapu wajahnya. "Maaf, tapi aku tak tahu."

Kyungsoo mengangguk. Dia membalikkan badannya. Jongin berjalan di sisinya sembari memegang lengannya.

Memastikan dia keluar dari ruangan itu.

Namun…sebelum Jongin sampai di luar…

Jongin menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam. Memastikan Kyungsoo tidak bisa masuk kembali ke dalam. Kemudian dia memojokkan dokter itu.

"Aku tidak percaya dengan omong kosongmu." Ujarnya tanpa basa-basi.

Kyungsoo mengetuk pintu. "Jongin?" suaranya melengking tinggi dan terdengar terkejut. "Apa yang kau lakukan?!"

Dia menunjuk ke arah meja. "Jika kau sudah melupakan Kyungsoo, kenapa masih ada fotonya di atas mejamu?"

Dokter itu menelan ludah dengan gugup.

"Kau sebaiknya punya saksi yang bisa memastikan bahwa kau tidak meninggalkan kota ini. Karena jika aku tahu bahwa kau yang telah menguntit Kyungsoo…" Jongin menyeringai dan memberi dokter itu tatapan yang membekukan. "Aku akan memastikan bahwa kau tidak akan pernah menjadi ancaman dalam hidupnya lagi."

"A-aku bahkan tidak menyadari bahwa fotonya masih ada di situ. Aku hanya belum sempat membuangnya—"

"Urusanmu sudah selesai dengan Kyungsoo. Dia sudah tidak punya urusan denganmu. Dia sudah jelas melupakanmu, dan kau perlu melakukan hal yang sama." Jongin tetap menatap pria itu untuk beberapa saat, memastikan bahwa si dokter mengerti maksud dari ucapannya.

Kyungsoo mencoba memukul pintu. "Jongin, hentikan!" Rasa takut dan amarah menyatu dalam suaranya.

Karena Kyungsoo ingat seperti apa Jongin yang dulu. Tapi dia seharusnya tidak perlu terlalu khawatir sekarang. Jongin meninggalkan dokter itu dalam keadaan utuh. Untuk saat ini.

'Hubungan seks dengannya menyenangkan.'

"Kau mungkin memiliki hubungan seks yang menyenangkan dengan Kyungsoo," kata Jongin sembari memberi dokter itu tatapan merendahkan. "Tapi hubungan seksnya denganku adalah yang paling menyenangkan baginya."

Kemudian ia pergi meninggalkan dokter yang terkejut itu yang masih menatapnya.

"Apa yang kau lakukan tadi, Kim?" Kyungsoo memukulnya.

Jongin mengangkat bahunya. "Hanya memastikan beberapa hal."

Sekarang waktunya untuk mencari perawat tadi dan memastikan keberadaan Oh Sehun dua hari yang lalu. Pintu terbanting tertutup di belakang Jongin, dan dia sangat yakin dia mendengar suara geraman dan tangan yang meninju meja kayu.

Bagus. Dokter itu sudah mengerti maksudnya.

-o-

Mine to Take

-o-

Kyungsoo harusnya sudah tahu bahwa Jonginlah takdirnya. Tidak ada orang lain yang cocok dengannya. Tidak ada orang lain selain Jongin yang serasi dengannya.

Mereka ditakdirkan bersama.

Aroma manis tubuhnya masih memenuhi pikiran Jongin. Wajah wanita itu menghantui setiap malamnya.

Jongin tidak bisa pergi menjauh darinya.

Dan Jongin akan memastikan Kyungsoo tidak akan melarikan diri darinya.

Kyungsoo tidak punya tempat untuk sembunyi darinya. Dia telah mengawasi Kyungsoo sejak lama. Dia tahu semua rahasia wanita itu. Si cantik Kyungsoo telah menyimpan begitu banyak rahasia.

Kyungsoo bukanlah wanita baik-baik yang selama ini orang kira. Dia bukanlah Sang Putri Tidur yang memerlukan ciuman dari cinta sejatinya.

Kyungsoo memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Sisi itulah yang menarik bagi Jongin.

Sisi gelap Kyungsoo sangat serasi dengan sisi gelapnya sendiri.

Tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

Tidak sekarang.

Atau selamanya.

-o-

to be continued

-o-


Masih banyak teka-teki, masih banyak kemungkinan A B C..

Sekarang giliran sehun..

Sehun kah?

.

Next? Review dear~

See ya!

-Kimchi


Thanks to:

leya; erikaalni; overdyosoo; Ita Daiki; UnA NA; riaazzhh; Ayyu965; sangjoonpark; ekyeol; ChocoSoo; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; dinadokyungsoo1; SooieBabyUke; park taen; sushimakipark; dorim; kim gongju; Ayyu965; Kaisooship; 12154kaisoo; Kaisoo; anon; hunkaisoo; ekyeol; Dks; NataNerd; Kim Reon; kimsoo; KyungXo; Soonini; kadi1288; Ellena; nikyunmin; kyungsoonia; Shinkyu; kaisoohug; Lovesoo; dks; W; dinadokyungsoo1; rly.

also unnamed guest & silent reader..