Mine to Take
[Chapter Eleven]
WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.
.
Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang...
Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang...
Nafsu bisa menjadi cinta.
Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.
-o-
Mine to Take
-o-
"Perjalanan ini buang-buang waktu." Pesawat mereka mengudara, bahkan suara mesinpun tidak mampu menembus kenyamanan pesawat ini. Jemari Kyungsoo sibuk dengan sabuk pengamannya.
Jongin duduk di seberangnya. Dengan kaki terbuka lebar, sedikit mengenai kaki Kyungsoo, dan segelas wiski di tangan.
"Aku sudah katakan sebelumnya.. tidak satupun dari mereka yang melakukan itu." Mantan-mantannya. Sejak Suho sudah berada di Eropa untuk waktu yang lama, dia tidak termasuk dalam daftar tersangka Jongin. Setidaknya, itu harapan Kyungsoo.
Alibi Sehun dan Luhan sudah diperiksa. Empat orang penari mendukung cerita Luhan. Dan perawat dengan payudara-yang terlalu- besar itu dengan cepat memberitahu Jongin tentang kegiatan terbaru Sehun.
"Aku butuh bertemu mereka," Jongin menyesap wiskinya, "Dan melihat reaksi mereka terhadapmu."
"Kepadaku? Uh, mereka sama sekali tidak bereaksi"
Jongin menghabiskan minumannya dalam satu tegukan. "Luhan melihatmu sebagai sebuah obsesi. Obsesinya. Penari yang dia kontrol."
Ya, memang benar. Dia memandang keluar jendela. Itulah alasan kenapa Kyungsoo memutuskan hubungan dengannya. Bukan berarti banyak yang harus diputuskan. Mereka bersama hanya seminggu saat Kyungsoo menyadari dia membuat kesalahan dengan berhubungan dengannya.
"Sementara untuk dokter itu, dia berbohong." Jongin menaruh gelasnya yang kosong.
"Apa maksudmu?" Kyungsoo tak mengerti.
"Oh Sehun akan menerimamu kembali jika dia bisa. Bahkan aku yakin ia masih masturbasi dengan membayangkanmu."
Mulut Kyungsoo terbuka. Tidak mungkin, dia baru saja mengatakan itu kepada Kyungsoo. "Kau tidak mungkin tahu tentang itu-"
"Tentu aku tahu. Karena aku melakukan hal yang sama sampai aku mendapatkanmu kembali." Jongin membuka sabuk pengamannya. Memandang Kyungsoo dengan mata yang berkilat. "Kemari, Kyungsoo."
Wanita itu tidak ingin beranjak. "Kita tidak mendapatkan hal yang berguna di Seoul." Kenapa suara Kyungsoo menjadi parau?
Tatapan panas Jongin menetap pada Kyungsoo. "Aku mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan polisi. Aku sudah mempelajari laporan tentang kecelakaanmu. Aku sebenarnya mempelajari banyak hal."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini-"
"Kemarilah." Suaranya semakin mendalam. "Aku di sini."
Jantung Kyungsoo berdebar keras dan cepat di dadanya. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Mengenai kaki Jongin. Gerakan itu tidak disengaja, iya kan?
"Itu belum cukup dekat." Jemari Jongin mengetuk masing-masing lengan kursinya. "Aku suka rok yang kau pakai."
Bukan berarti dia memiliki banyak pilihan pakaian. Sejak Jongin-lah yang mengepak pakaiannya untuk perjalanan ini, jadi dia hanya mengenakan apa yang ada. Saat ini, Kyungsoo mengenakan rok hitam panjang dan atasan senada. Sementara pakaian dalamnya? Stoking dengan garter belt.
"Apa yang dimaksud Sehun saat dia berkata, 'setelah malam itu'?"
Nafas Kyungoo memberat. 'Malam itu' ketika dirinya mendesahkan nama Jongin disaat melakukannya dengan orang lain. Haruskah Kyungsoo memberitahunya? Tidak, tidak. Dia tidak ingin mengakuinya. Dia ingin menyimpan sedikit harga dirinya.
"Kyungsoo..."
"Itu tidak penting. Kami sudah berakhir."
"Kau dan Sehun, memang." Jongin tidak bergerak dari duduknya.
"Tapi kau dan aku, baru saja mulai." Pandangannya menyapu Kyungsoo.
"Kenapa kau takut kepadaku?"
Pertanyaan itu mengagetkan Kyungsoo. "Aku tidak!" bantahnya cepat.
"Tentu saja, kau takut. Kau sudah takut kepadaku sejak malam itu saat kita bertemu."
Kyungsoo tidak ingin mengingat malam itu. "Kau menyelamatkanku malam itu."
"Aku menakutimu karena aku sangat kasar. Karena selama sesaat, kau melihat aku yang sebenarnya- diriku yang sangat sulit untuk kusembunyikan dari orang lain."
Pria yang berjalan di jalan kekerasan. Yang suka berkelahi dengan amarah yang tidak ditahan-tahan.
"Tidak ada seorang wanita pun yang pernah melihatku seperti itu."
Pandangannya memaku Kyungsoo. "Aku berhati-hati dengan mereka, untuk selalu memastikan aku selalu terkendali."
Kyungsoo tidak bisa mengalihkan pandangan dari Jongin. "Aku tidak ingin kau berpura-pura jadi orang lain saat bersamaku, Jongin."
"Tidak. Tidak denganmu, sayang." Tangan kanannya terulur. Terarah pada Kyungsoo. "Dan karena itulah kau takut. Karena kau tahu betapa berbahayanya aku, namun kau tetap menginginkanku."
Damn, that's true.
Kyungsoo mendapati dirinya bangkit. Berjalan beberapa langkah dan meraih tangan Jongin yang terulur. Jongin menarik Kyungsoo ke pangkuannya. Dalam beberapa detik, Jongin memposisikan kakinya sehingga Kyungsoo duduk mengangkangi kaki Jongin.
Membuat kewanitaannya menekan kejantanan Jongin.
Bibirnya di leher Kyungsoo, menciuminya. "Beritahu aku tentang malam itu.. malam saat kau berpisah dengan Sehun."
Matanya tertutup.
Tangannya menyelinap ke bawah rok Kyungsoo. Menyentuh pahanya.
Otot Kyungsoo menegang di bawah sentuhan Jongin.
"Aku tidak ingin membicarakan tentangnya." Kyungsoo tidak akan.
Jemari Jongin mengarah semakin ke atas. Tubuh Kyungsoo tegang. Kalau saja dia mengarahkan tangannya sedikit lebih tinggi...
"Apa yang kau inginkan, Kyungsoo?"
Kyungsoo memaksa matanya terbuka. Untuk bertemu dengan tatapan pria tan didepannya itu. "Aku menginginkamu." Tanpa ragu. Tanpa kebohongan.
Kepala Jongin terangkat. "Pilotnya dekat. Bagaimana kalau dia mendengarmu?"
Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. "A-aku tidak akan bersuara."
"Aku bahkan membuatmu berteriak sebelumnya."
Nafasnya tertahan. Jari Jongin bergerak semakin ke atas. Kyungsoo bisa merasakannya di tepi celana dalamnya. Lalu.. lalu Jongin menyentuhnya melalui celana dalam sutranya. Membelainya ringan dan Kyungsoo justru semakin menekan tangan Jongin.
"Aku tidak akan bersuara." Bisik Kyungsoo.
"Kita lihat saja..." Gumam Jongin. Tangannya menyelinap ke balik dalamannya. "Oh, sayang, kau sudah basah untukku." Tangannya membelai, menggoda, menyiksa Kyungsoo.
Tangan Kyungsoo mengunci di belakang kepala Jongin. Dia meremas kursinya saat jari Jongin mendorong masuk ke dalam tubuhnya.
Itu tidak cukup. Dia butuh lebih. Jempol itu menekan clitnya. Menekan, memutar, dan membuat pinggulnya semakin mendorong ke arah tangan Jongin.
Kukunya menembus kursi saat jari kedua Jongin mendorong masuk.
Pria tan itu menciumi lehernya. Lidahnya menjilati kulit Kyungsoo, lalu dia merasakan gigitan Jongin. "Kau ingin datang, bukan?"
Dia hampir
"Tapi belum," ucapnya, dan dia menarik jarinya keluar. Mengelus, tapi tidak mendorong Kyungsoo ke arah kenikmatan. "Belum waktunya."
Kepala Kyungsoo berputar menahan hasrat. Mata mereka bertemu.
"Beritahu aku tentang malam itu."
What the hell?
Kyungsoo berdiri dari pangkuan Jongin, menjauh darinya. "Tidak." Kenapa dia harus tahu segalanya tentangku? Beberapa hal adalah urusannya.
Kyungsoo berusaha kembali ke kursinya. Lupakan tentang keanggunan.
Meskipun harus jatuh dia tidak peduli. Terserah. Apapun yang di butuhkan untuk kabur.
Tetapi Jongin tidak melepaskannya. Dia menarik Kyungsoo kembali, dan kejantanannya yang panjang dan tebal menekan kewanitaannya yang basah. "Tidak ada tempat untuk lari."
Tidak ketika mereka berada hampir 30.000 kaki di udara.
"Dan kau tidak ingin lari, tidak dariku. Aku lah tempatmu berlari."
Mulutnya kembali menekan leher Kyungsoo. Di area pertemuan bahu dan lehernya. Di daerah yang selalu melemahkannya.
Dia benci merasa lemah di hadapan Jongin. Begitu rentan. Tidak seharusnya Jongin memiliki kuasa atas tubuhnya. Atas dirinya. Tidak seharusnya dia
Jongin bukan satu-satunya yang memiliki kuasa.
Tekad memenuhi Kyungsoo. Dia tidak akan mengikuti permainan Jongin. Dia akan membuktikan kepada Jongin, kalau hasrat Jongin terhadapnya juga sama.
Tangan Kyungsoo bergerak diantara mereka. Meraih kejantanannya.
Membelainya melalui celana yang dikenakan Jongin. Kejantanannya mengeras di bawah sentuhan Kyungsoo.
"Kyungsoo... Pesawat akan segera mendarat. Aku sudah selesai bicara."
Dia melepaskan kancing celana Jongin. Menurunkan restletingnya. Tanpa celana dalam. Kebiasaan Jongin. Tangan Kyungsoo melingkarinya, dan memompanya naik-turun.
Sekali. Dua kali.
Tapi menyentuhnya membuat Kyungsoo terangsang. Itulah kelemahannya.
Itu juga kelemahan Jongin.
Nafasnya berdesis. Jemari Jongin menyentuh kewanitaan Kyungsoo lagi, dan mendorong masuk ke dalamnya seirama dengan sentuhan Kyungsoo di kejantanannya. Ini sungguh nikmat, sangat nikmat, tangan saling mengelus, membelai. Kyungsoo masih mengenakan roknya. Branya, celana dalamnya... Jongin hanya menggeser dalamannya ke samping.
Kejantanan yang panjang dan gemuk itu begitu panas-keras di tangan Kyungsoo. Kelembapan terasa di ujungnya, dan Kyungsoo tahu hanya sedikit lagi
"Tidak seperti ini," geram Jongin, kata-katanya gelap dan keras. "Di dalammu."
Dalamannya terkoyak. Jongin mengangkat pinggul Kyungsoo. Roknya bertumpuk diantara mereka. Dia mengangkat Kyungsoo dan mendorong masuk ke dalamnya.
Jongin memenuhinya dalam sekali dorongan. Begitu dalam hingga untuk sesaat Kyungsoo tidak bisa bernapas. Lututnya berada di kedua sisi pinggul Jongin. Salah satu lututnya terjepit di lengan kursi tapi Kyungsoo tidak peduli.
Jongin mulai bergerak lagi. Tidak, dia menggerakkan Kyungsoo. Mengangkatnya naik, dan membawanya turun kembali.
"Bisakah kau.. tetap diam..?" Ucapnya dengan pupil mata yang melebar. "Atau apakah kau akan berteriak..untukku?"
Jantungnya berpacu lebih cepat, seperti akan melompat dari dadanya. Tangannya masih mengelus kewanitaannya, dan dia menempatkan Kyungsoo sebegitu rupa hingga di setiap dorongan membuat kejantanannya mengenai kewanitaannya yang sensitif.
Celananya yang terbuka menyapu kaki Kyungsoo. Masih berpakaian.
"Aku suka saat kau berteriak."
Pelepasannya semakin dekat. Mengencangkan tubuhnya. Berputar dan berkobar di dalam tubuh Kyungsoo.
Jongin mendorong keras. Makin keras. Pegangannya semakin kencang, membuat Kyungsoo bertanya-tanya apakah itu membuatnya memar.
Jongin mendorong semakin dalam.
Kyungsoo meledak dengan pelepasan yang sangat keras hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar. Tangisan kecil keluar dari mulutnya. Frustasi akan rasa nikmat.
"Ya, hell, ya," Jongin menemukan pelepasannya. Gelombang panas memenuhi Kyungsoo saat dia datang.
Selama beberapa saat, Kyungsoo tidak bisa melihat apapun. Dia hanya bisa merasakan kenikmatan yang mengguncang tubuhnya dalam gelombang yang keras. Nafasnya masih tersengal. Jantungnya masih belum melambat.
"Benar-benar cantik..." Jongin membelai rambutnya, menciuminya.
Apa ini pertama kalinya Jongin menciumnya di pesawat?
Matanya mengerjap, dan sedikit kegelapan mulai memudar.
"Kami akan mulai mengurangi ketinggian..." suara pilot menyentuh telinganya. "Mohon pastikan anda memasang sabuk pengaman."
Pipi Kyungsoo merona.
Jongin hanya tertawa.
Ya, dia berteriak. Pada akhirnya Kyungsoo berteriak untuk Jongin, secara tak sadar.
Dengan gemetar, Kyungsoo menjauh dari Jongin. Celana dalamnya tergeletak di lantai. Kyungsoo mencoba meraihnya.
Tapi Jongin mengambilnya duluan. Mengepalkannya dalam genggamannya. "Ini sudah rusak. Jangan khawatir, aku akan membelikanmu yang baru."
Kyungsoo terduduk di kursinya. Pahanya gemetar, dia masih bisa merasakan Jongin di dalam dirinya.
Kewanitaannya terus mengejang.
Dengan tangan gemetar, di memasang sabuk pengaman. Kyungsoo mencoba mengurangi getarannya dengan menekan kedua kakinya.
Dengan sangat pelan, Jongin memperbaiki pakaiannya. Dalaman Kyungsoo tersimpan di sakunya. Jongin tidak melepaskan pandangannya dari Kyungsoo. "Itu dia." Gumam Jongin.
"A-apa itu?"Kenapa dia harus gugup di dekat Jongin?
"Kau memang takut padaku, tapi kau tetap menginginkanku."
Bibirnya tersenyum tanpa sedikitpun rasa lucu. "Terkadang aku bertanya, apakah kau menginginkanku karena takut kepadaku?"
Pesawat mulai menurun, Kyungsoo bisa merasakan perubahannya.
Pertanyaan macam apa itu?
"Aku pikir kau menyukai sisi gelapku, Kyungsoo. Karena itu sangat berbeda darimu."
Dia bukanlah cahaya bagi kegelapan Jongin. Kyungsoo tidak pernah melihat Jongin seperti itu. Sebenarnya dia melihat beberapa hal dari sudut pandang yang berbeda.
Karena seharusnya Jongin melihat sisi gelapnya.
"Kau tahu apa yang bisa kulakukan." Pandangannya seperti menembus Kyungsoo. "Aku hampir saja membunuh, saat aku baru mengenalmu. Dan sekarang...sekarang kau tahu kalau aku akan membunuh untukmu. Dalam sekejap mata, tanpa keraguan."
Kyungsoo tidak ingin memikirkan tentang apa yang akan dilakukan Jongin, "Aku tidak.. aku tidak datang kepadamu karena aku ingin kau membunuh seseorang Jongin." Itu bukanlah dirinya.
"Kau yakin tentang itu?" tanya Jongin dengan sedikit keraguan mewarnai suaranya. "Apa kau sangat, sangat yakin? Pikirkan tentang itu, Kyungsoo. Pikirkan tentang apa yang kau ingin aku lakukan terhadap pria yang mengejarmu?"
Pesawatnya sedikit bergetar. Tangan Kyungsoo meremas lengan kursinya.
"Aku ingin dia berhenti. Aku tidak ingin dia mati."
"Jika benar dia yang menyebabkan kecelakaanmu, jika dia orang yang mencoba membunuhmu.. apa kau benar-benar percaya bahwa aku hanya akan menyerahkannya pada polisi?" matanya menyapu wajah Kyungsoo. "Kau mengenalku lebih baik dari itu."
Kyungsoo tidak bisa bicara, karena Jongin benar. Dia memang mengenal Jongin jauh lebih baik. Dia mungkin seorang pengusaha sukses, tapi selalu ada sisi liar dalam dirinya. Berada di bawah permukaan, menunggu untuk terlepas.
Jongin mengangguk. "Sekarang kau mengerti aku, dan aku mengertimu."
.
-o-
to be continued
-o-
Hot ga? ini dulu ya, kasian mereka mikirin penguntit melulu, kedepannya masalah bakal lebih ribet :')
Udah pada bosen belum sama ff ini? semoga ini sedikit menghibur
.
-kimchi
