Mine to Take
[Chapter Twelve]
WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.
Long time no update. Maafin. Bagi yang sdh lupa dgn jalan cerita. Sangat disarankan untuk membaca ulang chapter sebelumnya.
-o-
Mine to Take
-o-
Studio menari akan dibuka besok.
Kyungsoo berdiri di tengah-tengah ruangan, memandang pantulan dirinya di cermin yang berada di ruangan itu. Tidak ada lagi pecahan kaca. Anak buah Jongin sudah mengurus semuanya. Tidak ada lagi lampu yang berkedip-kedip. Dan setiap kali pintu depan terbuka maupun tertutup, alarm akan mengeluarkan bunyi 'beep'.
"Kau sudah selesai untuk malam ini, Nona Do?"
Kyungsoo memandang ke arah Jimin. Jongin memaksa agar Jimin ikut bersamanya saat dia ingin memastikan persiapan studio. Dan dia tentu saja tidak bisa menyangkal jika ditemani membuatnya merasa aman. Karena dia sudah merasa takut saat pertama kali berada di dalam studio. Tapi Kyungsoo tidak akan membiarkan dirinya merasa takut. Studio ini penting baginya. Ini adalah mimpinya yang baru, kesempatan untuk memulai hidup baru.
"Aku sudah selesai." Lantai sudah bersih. Bar sudah ada di tempatnya. Besok para muridnya akan mendapatkan studio yng sempurna.
Langkah kecil. Itulah rencananya. Untuk memulai beberapa kelas dan mengembangkan studio ini hingga menjadi yang terbaik di Busan. Dia bisa melakukannya. Aku akan melakukannya.
Kyungsoo menghampiri Jimin dengan tersenyum tulus. "Terima kasih atas semua bantuanmu."
Lelaki itu mengangguk. "Bukan masalah."
Kyungsoo tertawa. "Aku ragu kalau kau terbiasa dengan menyediakan jasa pengawalan di studio menari."
"Kau kasus spesial untuk bos. Apa yang penting untuknya.." Jimin mengangkat bahu. "Itu juga penting untukku." Jimin memeriksa jam tangan. "Dia akan menemuimu sebentar lagi."
Hampir dua belas jam sejak terakhir Kyungsoo melihat Jongin. Pria tan itu memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, sementara Kyungsoo harus memeriksa studionya. Dan.. Jongin ingin sedikit jarak. Well, dia meninggalkan Kyungsoo yang gemetar setelah sesi panas mereka di pesawat.
Kyungsoo melangkah keluar dengan Jimin. Berhenti sejenak, Kyungsoo mengaktifkan alarm. Lalu mereka berada di luar. Malam ini tidak sedingin beberapa malam yang lalu. Mengedarkan pandangan ke sekeliling area membuatnya sadar bahwa hanya mobil Jimin yang berada di parkiran. Selebihnya gelap dan sepi dan-
Kyungsoo mengerang. "Tasku tertinggal. Aku akan segera kembali, oke?"
Jimin menahan tangannya. "Tidak, nona. Aku akan ikut denganmu."
"Kau tidak-"
"Perintah bos. Kemana kau pergi, aku ikut."
Benar. Kyungsoo berbalik dan mengarah ke pintu. Dia membuka kunci dan menonaktifkan alarm. Jimin mengikuti di belakangnya. Pintunya berbunyi saat mereka masuk, semua lampu langsung menyala.
"Beri aku waktu beberapa menit." Kyungsoo berbicara lewat bahunya saat dia berjalan ke dalam. "Aku meninggalkan tasku-"
Blam.
Semua lampu mendadak mati.
Tidak, ini tidak seharusnya terjadi. Jongin sudah menyewa tukang listrik untuk memperbaiki sekringnya.
Lalu Kyungsoo berbalik. "Jimin!"
Bukk!
Kyungsoo menegang.
Suara erangan terdengar olehnya. Nafasnya tercekik. "Jimin?"
Tidak ada jawaban.
Kyungsoo tidak bergerak. Tidak selangkahpun.
Lalu dia mendengar sesuatu. Seperti suara- suara air dituang. Air?
"J-Jimin?" dia kembali memanggil. Alarm sama sekali tidak berbunyi. Alarmnya hanya berbunyi sekali saat mereka masuk.
Apa kami sudah menutup pintunya? Jimin berada di belakangnya. Dia berjalan di depan. Berfifkir kalau Jimin sudah menutup pintu. Sudahkah?
Sementara air tetap dituang ke sekelilingnya. Kyungsoo mengambil nafas, gemetar dan sadar kalau itu bukan air. Bau yang menyengat menyadarkannya kalau itu bensin.
"Tidak!" Kyungsoo berteriak dan berlari ke depan. "Jimin!" dia terpeleset sesuatu. Sesuatu yang lembut dan hangat, dan Kyungsoo terbentur ke lantai. Sakit menyebar di tubuhnya, saat kaki kirinya terkilir.
Tangannya menggapai. Dan dia menyentuh bahu yang keras.
Rambut. "Jimin?" tangannya menyusuri wajah dan kepalanya, dan dia merasakan darah yang lengket.
Cahaya berkedip di kegelapan. Sebuah korek api. "Akulah satu-satunya."
Suara itu membuat Kyungsoo merinding.
Korek itu dilemparkan.
Dan api mulai menyebar.
-o-
Mine to Take
-o-
Jongin menghentikan Jaguarnya dan melompat keluar. Matanya tertuju pada studio Kyung- pada warna kuning dan emas yang menyinari studio itu.
"Kyungsoo!" teriak Jongin.
Mobil Jimin berada di sebelah kiri jalan. Kosong. Tidak ada tanda-tanda akan dia atau Kyungsoo.
Jangan berada di dalam sana. Kumohon jangan.
Tapi kemudian dia mendengar suara isakan- "Tolong aku!"
Suara Kyungsoo. Datang dari dalam.
Jongin berlari menuju gedung saat jendela pecah dan kaca berterbangan di sekelilingnya.
Pintu utama terbuka, asap keluar dari sana. Dia berlari ke dalam, menuju langsung ke arah asap. Kobaran api menyinari studio. Kyungsoo berada di lantai. Terbatuk, dan berupaya menarik tubuh pingsan Jimin ke arah pintu.
"Tolong aku." Dia berteriak lagi saat melihat Jongin. Air mata membasahi pipinya. "A-aku tidak bisa mengeluarkannya sendiri!"
Jelas karwna berat Jimin dua kali berat Kyungsoo. Api menyebar di dekat kulit Kyungsoo. Jongin segera melingkari perut Kyungsoo dengan kedua lengan kokohnya. Menariknya menjauh dari Jimin. Membawa Kyungsoo ke tempat yang aman.
Kyungsoo berteriak dan meronta dalam pelukan Jongin. "Tidak, kita harus menolong Jimin!" tapi Jongin memperat pelukannya. Apinya terlalu dekat. Mencoba menyambar kulit Kyungsoo. Jongin berlari keluar dengan Kyungsoo. Gadis itu masih terbatuk. Dia sudah di kelilingi api dan asap terlalu lama. Setelah Jongin menurunkan Kyungsoo, secepat itu juga Kyungsoo mencoba kembali masuk ke gedung.
Jongin menangkap dan menariknya kembali. "Jangan bergerak."
Kalimat itu keluar dari mulutnya. Amarah dan ketakutan mengalir di darahnya. Sebuah kombinasi yang mematikan.
Mata Kyungsoo di penuhi air mata. "Dia akan mati! Kita harus mengeluarkannya-"
"Aku akan mengeluarkannya." Janji Jongin. "Tapi kau harus tetap di sini." Jongin harus memastikan kalau Kyungsoo aman.
Kyungsoo mengangguk.
Jongin berlari kembali ke dalam api. Terburu-buru masuk ke dalam gedung. Api sudah semakin membesar, menyebar kemana-mana. Dilihatnya kobaran api sedikit mengenai ujung sepatu Jimin. Dia meraih temannya. Menariknya. Lalu mengangkat Jimin di bahunya. Mereka akan keluar dari sini. Paru-parunya seperti terbakar. Tempat ini terlalu panas. Dia melangkah ke arah pintu.
Dengan tak terduga atap runtuh. Tepat di atasnya.
-o-
Mine to Take
-o-
Jongin belum keluar. Dia berlari ke dalam kobaran api untuk mengeluarkan Jimin.
Dan dia mengharapkanku tetap berada di luar? Sementara dia menghadapi api?
Kyungsoo tidak bisa melakukan itu. Tidak untuk sedetik lagi. Terlalu banyak waktu yang terbuang. Seharusnya mereka sudah kembali. Kyungsoo berlari masuk ketika bunyi sirine terdengar di belakangnya. Dia berada di pintu, berlari ke dalam karena dia ingin menyusul Jongin. Hanya saja-
Jongin sudah berada di depannya. "Sudah kubilang.." Jongin menggeram, "Menjauh dari api."
Pria tinggi itu menggendong Jimin di bahunya. Kyungsoo dan Jongin berlari keluar dari gedung. Api semakin membesar ke arah mereka.
Jongin menurunkan Jimin ke tanah. Bajunya di penuhi jelaga saat ia membungkuk di depan Jimin. "Ayo, kawan, jangan seperti ini.."
Tak lama Jimin mulai terbatuk.
"Hell, ya." Ucap Jongin.
Petugas paramedis turun dari ambulan dan berlari ke arah mereka.
Kyungsoo melirik dari bahunya. Para pemadam kebakaran berupaya memadamkan api, tapi tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan studio.
Api sudah menghanguskan tempat itu.
Petugas paramedis mengikat Jimin ke tandu. Mereka membawanya menuju ambulan. Salah satu petugas berusaha membawa Kyungsoo.
Kyungsoo mendorongnya menjauh. "Aku baik-baik saja." Dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari api. Petugas pemadam kebakaran berusaha mengendalikan api agar tidak menangani bangunan yang lain. Bangunan yang-untungnya-sudah kosong pada saat ini.
Bunyi percikan api terdengar olehnya. Jimin bisa saja tewas dalam kebakaran itu. Api itu benar-benar lapar. Begitu panas. Begitu liar. Jimin bisa saja tewas, karena dirinya. Pintu ambulan tertutup. Sirinenya berbunyi sekali lagi saat mereka melaju membawa Jimin.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" Jongin mulai berjalan mendekatinya,
"Itu juga yang ingin kuketahui." Ucap Park Chanyeol ssat detektif itu melangkah ke hadapan Kyungsoo, menutupi pandangannya dari kobaran api tersebut.
Chanyeol? Kyungsoo tidak melihat dia datang. Tapi Kyungsoo melirik sekitar dan melihat beberapa mobil polisi ada di sana. Mereka terlihat sedang mengatur semacam pembatas.
"Nona Do," lanjut Chanyeol, berdehem, "Bisa beritahu aku apa yang baru saja terjadi?"
Sebuah kebakaran besar baru saja terjadi. Tidak bisakah kau lihat itu? Cukup besar menghancurkan mimpiku.
"Dia ada di sini." Kyungsoo hampir tidak mengenali suaranya sendiri.
"Dia merencanakan kebakaran ini. Me-mencoba membunuhku dan Jimin."
Dan jika Jongin tidak ada di sana. Bajingan itu mungkin akan berhasil. Kobaran semakin membesar ke langit, menyinari malam. Bau asap tercium di udara dan Kyungsoo menyaksikan mimpinya hangus terbakar.
-o-
Mine to Take
-o-
Kebakaran melahap ganas studio itu. Membakar dan menghanguskan dan bahkan pemadam kebakaran tidak mampu melakukan apapun untuk menghentikan.
Kyungsoo menyaksikan semua itu.
Menatap semua itu dengan pandangan nanar.
Dan dia, sebaliknya, menatap Kyungsoo.
Aku harus menghukummu.
Setelah apa yang dia lakukan, Kyungsoo harus diberi pelajaran.
Saat asap membimbing di udara dan petugas pemadam kebakaran mundur, diapun tersenyum.
Dia sangat yakin Kyungsoo tidak akan melupakan malam ini dalam waktu dekat.
Sekarang kau akan selalu memikirkan.. seperti aku yang selalu memikirkanmu.
Di. Setiap. Waktu.
-o-
to be continued
-o-
Masih ada yang inget sama ff misterius ini?/engga/
ok. jgn lupa review yaa:3
-kimchi
