Mine to Take
[Chapter Thirteen]
Preview
Dan jika Jongin tidak ada di sana. Bajingan itu mungkin akan berhasil.
Kobaran dari studio itu semakin membesar ke langit, menyinari malam.
Bau asap tercium di udara dan Kyungsoo menyaksikan mimpinya hangus terbakar.
Kebakaran melahap ganas harapannya.
-o-
Mine to Take
-o-
"Kau tidak melihat siapapun?" Tuntut Chanyeol saat dia melangkah ke ruangan sempit.
Interogasi.
Jongin duduk dengan kaki terbuka sembarangan di depannya. Detektif itu bersikeras membawa Kyungsoo datang ke markas untuk wawancara setelah terjadinya kebakaran. Jongin tidak pernah mengijinkan Kyungsoo melakukan hal ini.
Karena setiap itu terjadi, dia bisa melhat Kyungsoo yang ketakukan.
Jongin masih bisa mencium nyala api, mungkin karena asap sialan yang membekas di bajunya. Api itu terlalu ganas untuk dijinakkan. Ketika langit-langitnya rubuh, dia mencoba, berusaha keras masuk dengan cepat. Beberapa inci lagi, mereka akan terperangkap. Mati? Nafasnya menghembus perlahan. Jongin sudah keluar dari bara api dan menolong Jimin ke tempat aman. Temannya akan baik-baik saja. Tapi jika Jongin datang ke studio sedikit saja terlambat..
"Aku tidak melihat siapapun," Kyungsoo berkata pelan. "Tapi aku mendengarnya, dia menumpahkan bensin di sekitarku."
"Bagaimana kau tahu itu bensin?" Chanyeol berhenti melangkah bolak-balik dan memicingkan matanya pada Kyungsoo.
Detektif itu menyisir rambutnya dengan jari. Corengan hitam melintangi leher kanannya. "Baunya. Sangat khas, bukankah begitu?"
Chanyeol menatap lagi padanya.
Jongin menggangguk-anggukan kepalanya. Semua ini sangat membuang waktunya. "Bisakah kau memastikannya, detektif, mencari bajingan yang melakukan semua ini? Dari perhitunganku, ini pembakaran yang disengaja dan penyerangan, semuanya dalam beberapa hari belakangan." Lebih seperti usaha pembunuhan.
Bibir Chanyeol merapat. "Kau yakin tidak melihatnya?"
"Lampunya mati." Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Aku hanya melihat kilatan korek api, lalu aku mendengar suaranya."
Jongin menegang. Kyungsoo tidak menceritakan bagian ini, belum menceritakan.
"Apa katanya?" Desak Chanyeol.
"Sama seperti sebelumnya." Kyungsoo menjadi sangat pucat. "Aku akan menjadi satu-satunya."
"Kau tidak mengenali suaranya?" Chanyeol menarik kursi ke arah luar berlawan arah dengan meja. Dia memutarnya, lalu duduk, menaruh tangannya diatas sandaran kursi. "Kau tidak familiar dengannya, sama sekali?"
"Dia berbisik, serak." Bahunya berputar. "Jadi, tidak, aku tidak mengenal suaranya. Aku masih tidak tahu siapa dia atau mengapa dia melakukan ini."
Jari Chanyeol mengetuk kursi. "Kau pikir dia orang yang sama yang menyebabkan kecelakaanmu di Seoul?" Kemudian detektif itu mencari kedepan dan membuka sebuah folder di atas meja. Dia mendorong beberapa fakta, foto hitam putih, melewati meja untuk dapat mereka lihat bersama.
Foto dari semua kendaraan. Mobil Kyungsoo.
Dia terperangkap di sana.
Jongin melihat foto-foto itu lalu menengadah, menemukan dektektif menatapnya. "Saat kau melakukan perjalanan kecilmu, aku melakukan penyelidikan." Kata detektif.
Bagus. Aku senang kau melakukan tugasmu.
"Aku berbicara dengan dektektif Lee di Seoul." Chanyeol melihat sekilas pada Kyungsoo. "Dia bilang kau yakin seseorang menyerangmu di jalan." Kyungsoo mengangguk mengiyakan.
Jongin memberikan fotonya lagi ke detektif. "Kami juga berbicara pada detektif Lee. Pria itu tidak percaya cerita Kyungsoo—"
"Karena tidak ada saksi lain saat terjadinya tabrakan. Tidak ada bekas dari mobil lain. Tidak ada tanda dampak tersembunyi."
"Mobilku.." suaranya terlalu jauh untuk Jongin saat Kyungsoo mengatakan, "Berputar 4 kali. Terdobrak begitu kuat. Ada banyak bukti dari dampaknya di sekitar tempat itu."
"Detektif Lee pikir itu adalah kecelakaan tunggal." Lanjut Chanyeol.
Tatapannya terpaku pada wajah Kyungsoo. "Aku bukan Lee. Tapi aku tahu kau ketakutan, dan jelas terlihat kau punya alasan untuk itu."
Seharusnya terlihat seperti itu untuk semua orang.
"Aku tebak Kim membawamu ke Seoul karena dia pikir mungkin ini perbuatan salah satu mantanmu, huh?" Sekarang tatapan Chanyeol dibelokkan lagi pada Jongin. "Bagaimana caramu memecahkannya?"
"Aku telusuri alibi mereka." Dan sejauh ini, pelakunya tidak muncul.
Jadi.. tidak, cara ini tidak bisa memancing pelakunya keluar.
Chanyeol mengerutkan bibirnya dan mengangguk. "Menelusuri alibi mereka.. ide yang bagus." Dia meletakkan foto kecelakaaan kendaran Kyungsoo kembali ke dalam folder. "Tapi bagaimana dengan alibimu sendiri?" Dia mendorong lembaran kertas yang lain ke arah Jongin.
Jongin menunduk menatap fotonya sendiri. Gambar dari koran Seoul.
"Kau cenderung mengundang perhatian ketika kau bepergian," Chanyeol bergumam. "Aku kira itu adalah harga karena menjadi sangat kaya, huh? Ketika kau pergi ke Seoul untuk melihat ballet.. sleeping beauty, kan? Yah, kau terlihat meninggalkan acara lebih awal malam itu." Chanyeol berhenti sebentar. "Tanggal fotomu itu.. sama dengan hari kecelakaan Kyungsoo."
Tangan Kyungsoo mencari potongan koran. Kyungsoo menyentakkan potongan koran itu ke Jongin. "Kau ada di Seoul? Di pertunjukanku?"
Kepala Kyungsoo menoleh ke arah Jongin. Kerut tipis timbul diantara alisnya. "Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Oh, ini bukan pertama kalinya dia terlihat." Sekali lagi, Chanyeol meraih folder itu. "Tampaknya saat kau tampil, Jongin merasa penting datang ke sini untuk melihatmu menari. Paling tidak sekali, kadang dua kali sebulan. Dia selalu ada untuk malam pembukaan, tapi dia pergi lagi, dia melihat pertunjukan yang lain juga."
Sialan. Detektif itu sudah sibuk menyelidikiku.
"Kau.. melihatku menari?"
"Dia melihatmu, cukup sering." Sekarang Chanyeol terlihat merenung.
"Dia suka menginap di hotel yang sama setiap kali melihatmu.. tempat mewah di jalan raya 5. Aku rasa kalian berdua menginap disana baru-baru ini?"
"Siapa yang mengatakan ini padamu?" Tuntut Jongin. Karena ia merasa seseorang sudah terlalu banyak bicara. Pembocoran informasi personal sejenis ini tidak bisa dibiarkan di organisasinya. Seorang asisten, seorang agen– siapapun itu akan mendapati dirinya dipecat.
"Aku besar di Seoul," kata Chanyeol sambil mengangkat bahu. "Aku masih punya beberapa teman di sini, dan mereka membantu penyelidikanku." Bibirnya berkerut. "Kyungsoo, kau bilang padaku bahwa kau tidak tahu dia ada di sana, selama ini? Karena kalian berdua merupakan.. teman.. lama. aku pikir kamu-"
"Aku tidak tahu." Suara Kyungsoo bahkan lebih dingin sekarang.
Matanya menatap Jongin. "Mengapa kau tidak mengatakan ini padaku?"
Sialan. Dia tidak ingin melakukan pembicaraan ini dengan tatapan waspada detektif pada mereka. "Karena kita sudah berakhir."
Kyungsoo mundur.
Sial. Sial. Jongin sudah bertidak bodoh.
Kita berakhir. Hidupmu terus bergerak maju. Aku hanya perlu melihatmu sayang.
"Dia tidak hanya melihat tarianmu, sungguh." Dan sekali lagi, detektif itu mendorong kliping ke samping. Dia menarik foto terakhir dari file itu. Foto yang lain dari tempat kecelakaan. Hanya saja kali ini, reruntuhan di latar belakang. Kyungsoo terikat di brankar dan sedang dinaikkan ke ambulans.
"Seorang wartawan di tempat kejadian malam itu mengambil foto ini, tapi bosnya.. dibujuk untuk tidak menyebarkannya."
Kyungsoo terpaku.
"Pria itu, tepat di samping petugas gawat darurat, Anda bukan, Mr. Kim?"
Napas Kyungsoo berhembus keluar. "Kau berada di sana? Di malam kecelakaanku?"
Sial. Dia harus melangkah dengan sangat, sangat hati-hati sekarang.
"Aku menemukan mobilmu. Aku meminta bantuan."
Kyungsoo menggeleng. "Kenapa kau ada di sana?"
"Aku pikir dia mengikutimu," gumam Chanyeol saat alisnya diturunkan.
"Dia telah menontonmu untuk beberapa waktu. Saya menduga dia meninggalkan balet lebih awal, dan ia menunggumu meninggalkan pertunjukan juga. Lalu ia mengikutimu."
"Bukan itu yang terjadi!" bentak Jongin. Dia seharusnya memberitahu Kyungsoo yang sebenarnya. Shit, jika waktu bisa diputar kembali, Jongin akan mengatakan pada Kyungsoo, ia ada di sana.
Seolah-olah Jongin bisa melupakan saat-saat itu.
Hujan deras. Petir terbang melewati langit malam. Darah.
Kesakitannya, memutar kembali ketakutannya karena dia tidak bisa mengeluarkan Kyungsoo keluar dari malam yang sangat kacau setelah yang terjadi dengan mobilnya.
"Kau menjadi pahlawan yang menyelamatkannya dari kematian."
Kata Chanyeol sambil mengangguk. "Keduanya, di Seoul lalu di sini di Chicago. Kau menyelamatkannya.. kedua kalinya dalam beberapa hari terakhir ini?"
Kyungsoo tidak mengatakan apapun. Matanya membesar dan melebar tidak percaya.
"Seseorang membobol masuk ke studionya, membenturkan kepalanya ke kaca.. lalu kau muncul, tepat pada waktunya untuk menjadi kesatria putih." Suara Chanyeol suram.
"Aku harus mengawalnya, aku harus—"
"Seseorang membakar studionya tadi malam. Sebelum nyala api mengenainya, kau muncul lagi."
Kyungsoo melompat dengan kakinya. Jongin tidak bergerak. Tangannya mengepal. "Jadi kau pikir aku penguntitnya, Park?" Jongin mendesis dengan suara mematikan.
Apa Kyungsoo berpikir seperti itu juga? Apa Kyungsoo akan menuduhnya juga? Jongin menahan sesak di dadanya akan pemikiran itu.
"Aku pikir.." Chanyeol memulainya dengan perlahan saat wajahnya mengencang, bibirnya terkatup rapat, "Kau terobsesi dengan Do Kyungsoo untuk waktu yang lama. Sejak kau masih remaja bukan? Saat kau membuat Kris Wu ke rumah sakit. Sesuai perkataannya, kau melakukannya karena kau memergoki mereka berdua berciuman di dalam kamarnya."
'Jangan! Tolong aku!'
Jongin memaksa kepalan tangannya untuk terbuka. "Kris adalah pembohong besar. Kau seharusnya cukup bijaksana dengan tidak mempercayai perkataannya."
Kyungsoo perlahan menarik diri dari meja. Dari Jongin.
"Dan aku seharusnya percaya padamu?" Pertanyaan Chanyeol mengoloknya. "Aku mencoba mendapat akses ke rekaman servis militermu, tapi negara menguncinya dengan ketat."
"Memang itu yang seharusnya mereka lakukan." Jongin perlu bicara pada Kyungsoo. Berdua. Dia perlu membuat Kyungsoo mengerti apa yang sudah dilakukannya.
"Kau pria yang berbahaya, Kim Jongin. Kau pergi ke operasi rahasia berbulan-bulan untuk penugasan pertempuranmu. Hilang selama penugasanmu paling tidak selama empat tahun, lalu kau tiba-tiba muncul di suatu waktu dengan koneksi ke orang-orang yang paling berkuasa di dunia."
Jongin tidak bicara tentang waktu pengabdiannya. Tidak pernah. Tidak akan.
"Kau kembali, lalu kau terpaku pada satu hal yang paling kau perdulikan." Tatapan Chanyeol terarah pada Kyungsoo. "Kau melihatnya, kau menginginkannya, dan kau tidak tahan jika orang lain memilikinya."
"Jongin?" Kyungsoo baru menghembuskan namanya. "Katakan padaku.. katakan kau tidak berada di tabrakan itu."
Jongin tidak ingin membohonginya lagi.
"Hubungan kalian berakhir. Kyungsoo tidak mencintaimu lagi. Dia mepunyai kekasih lain, jadi kau merencanakan semuanya. Kau perlu membuatnya rentan, rapuh. Dia adalah seorang selebritis di Seoul, penari berbakat, dikelilingi terlalu banyak orang. Jadi kau menghilangkan status selebritisnya— kau menjauhkannya dari menari. Kau yang menyebabkan kecelakaan itu."
"Damn stop it!" Jongin melompat dengan kakinya. Kursinya terbanting ke lantai di belakangnya. "Kau tak tahu apapun soal aku maupun hubunganku dengan Kyungsoo."
"Kyungsoo sangat kesakitan di tabrakan itu sampai dia menyerah, tidak berdansa lagi dan tepat seperti itulah yang kau inginkan." Lanjut Chanyeol.
Jongin mengintai di sekitar meja, tepat ke arah si brengsek itu.
Chanyeol mendorong kursinya dan berdiri, mengepalkan tinju.
"Kau membuatnya tidak bisa berdansa karena dansa yang awalnya membuatnya jauh darimu, kan? Itu yang dikatakan Kris. Kyungsoo pergi untuk mengejar mimpinya di Seoul. Dia meninggalkanmu."
"Tidak." Sangkal Kyungsoo. Suara itu menghentikan Jongin sebelum dia bisa melayangkan tinjunya ke wajah polisi itu. "Bukan seperti itu. Jongin bergabung dengan militer. Dia.. dia yang meninggalkanku. Dia menyuruhku pergi." Rambutnya menggosok di bahu saat Kyungsoo menggelengkan kepala. "Dia menolakku, bukan sebaliknya."
"Mungkin kemudian Jongin berubah pikiran." Chanyeol tidak melirik ke arah Kyungsoo. "Mungkin dia terlalu banyak melihat darah dan kematian selama pertempuran yang membuatnya ingin hidup lagi. Membuatnya menginginkanmu. Tapi dia harus mendapatkan cara untuk mendapatkanmu lagi dan dia mendapatkannya. Dia membuatmu ketakutan. Sangat ketakutan sampai satu-satunmya orang yang bisa kau mintai bantuan—"
Jongin meraih Chanyeol dan mendorongnya ke dinding. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan."
"Dan kau baru saja menyerang seorang petugas." Chanyeol tersenyum padanya saat pintu ruang interogasi mengayun terbuka. Dua polisi berseragam bergegas masuk dan meraih lengan Jongin. "Aku tidak perduli seberapa kayanya dirimu, Kim, Anda ditahan."
Dia bisa saja memberontak melepaskan diri dari polisi. Bisa pergi tepat ke arah detektif itu lagi. Mesikpun begitu, Jongin menyerahkan diri, tersenyum suram. "Kau membuat kesalahan, dektektif. Kesalahan yang sangat, sangat serius."
Chanyeol merapikan bajunya. "Aku rasa tidak, apa yang aku lakukan adalah membuatnya— " dia menunjukkan ibu jarinya ke arah Kyungsoo.
"Aman. Aku ingin menunjukan padanya siapa kau sebenarnya."
Polisi berseragam mendorong Jongin menuju ke pintu. Dia melirik Kyungsoo. "Dia sudah tahu siapa aku sebenarnya, sepertinya." Kyungsoo adalah satu-satunya yang tahu seperti apa Jongin sebernarnya, jauh di dalam dirinya.
Dia benci kesakitan yang terlihat di wajah gadis itu.
Ini salah detektif yang gegabah itu. Tatapannya kembali ke Chanyeol. "Segera, kau juga akan melihatnya."
"Apa ini ancaman?" tuntut Chanyeol.
"Lebih seperti janji..," Jongin menjawab sebelum polisi mendorongnya keluar dari ruangan.
Seharusnya kau tahu detektif, aku selalu menepati janjiku.
-o-
to be continued
-o-
Nah loh Jongin?
Oh ya terima kasiih utk review di chap sebelumnya, masih byk juga yg penasaran sama kelanjutan ff ini, aku terhibur baca review kalian soal teori/alibi para tersangka(?) wkwk, kita liat aja kelanjutannya ya:3
-kimchi
