Mine to Take
[Chapter Fourteen]
Kakinya terasa seperti karet.
"Kau perlu duduk, Kyungsoo," kata Chanyeol, bebicara lembut, suaranya menenangkan saat ia menarik kursinya sekali lagi.
"Aku tidak ingin duduk." Dia ingin Chanyeol berhenti memperlakukan dia seperti seseorang yang lemah. Kyungsoo meraupkan tangan di wajahnya. "Bukan Jongin yang melakukan ini."
"Aku tahu kau tidak akan percaya bahwa—"
"Dia menyelamatkanku!"
Chanyeol mendekatinya. Berhenti kurang dari selangkah jauhnya dari Kyungsoo. "Itu yang dia inginkan, agar kau percaya. Apa kau yakin dia tidak ada di studio sebelum api berkorbar?"
"Dia tidak ada! Aku di sana, Jimin di sana—"
"Jimin adalah agen terlatih, namun sepertinya seseorang dapat menjatuhkannya. Seseorang menyelinap dan mengalahkannya. Aku rasa tidak banyak orang yang bisa melakukan itu, tapi Kim Jongin, bisa."
Jongin bisa melakukan banyak hal. Dia bahkan ada di kecelakaan itu?
"Kau harus berhenti melihatnya dengan prasangka baik. Dia ingin kau kembali, agar dia mendapatkanmu. Dia merancang semuanya agar kau kembali padanya. Tidakkah kau melihatnya? Dia membuat kecelakaan itu, lalu dia menyelamatkanmu."
Ini tidak mungkin terjadi. "Aku perlu berbicara dengannya." Kyungsoo mengambil langkah cepat menuju pintu.
Chanyeol bergerak dan menghadang langkahnya. "Dia ditahan. Kau tidak bisa berbicara dengannya sekarang."
"Kau tidak bisa benar-benar menahannya!"
"Ya, aku bisa." Bibirnya mengatup.
"Dan aku kira dia akan punya beberapa pengacara ajaib sialan yang datang dan mengeluarkannya di pagi hari, tapi apa kau tahu? Ini akan memberikanmu waktu untuk malam ini. Menjadi malam yang aman. Malam untuk berpikir tentang Kim. Setiap kejadian yang kau habiskan dengannya. Menyadari siapa dia sebenarnya dan jadilah pintar. Menjauhlah darinya, Kyungsoo. Dan kau akan bisa tetap hidup." Chanyeol mengangkat jarinya dan dilingkarkan di sekitar bahu gadis itu.
"Aku mencoba membantumu. Kau—sial, kau mengingatkanku pada adikku. Dia sepertimu. Percaya pada orang yang salah. Jadi kumohon Kyungsoo, pastikan dia orang yang benar." Matanya berkilau dengan intensitas liar.
"Chanyeol—"
"Dia berumur 18 saat laki-laki itu mempertaruhkan kematiannya karena dia tidak ingin ada laki-laki lain yang dekat dengannya. Delapan belas. Dia pikir Yoora adalah miliknya dan dia tidak melepaskannya." Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan kasar tapi tangannya turun ke bahu Kyungsoo dengan lembut.
"Aku melihat cara Kim menatapmu. Kau pikir laki-laki itu tidak terobsesi? Dia jelas terobsesi. Dan aku percaya dia akan melakuakan apapun untuk memilikimu."
Jongin akan membunuh siapapun yang menyakiti Kyungsoo. Dalam sekejap, tanpa keraguan.
Bibir Kyungsoo terasa kebas saat dia berkata, "Jongin tidak akan menyakitiku."
"Itu juga yang dikatakan Yoora. Tidak peduli seberapa seringnya aku berkata sebaliknya..."
Pintu ruang introgasi terbuka lagi. "Kapten ingin bertemu denganmu, Park," seorang petugas perempuan berkata saat dia berdiri di ambang pintu. "Dia menginginkanmu sekarang."
Chanyeol menjatuhkan tangannya yang menahan Kyungsoo. "Maukah kau memastikan dia sampai rumah dengan aman, Minseok?"
"Tentu saja."
Chanyeol berjalan mundur dari Kyungsoo. "Ingat apa yang aku katakan, Kyungsoo. Berpikirlah tentang dia."
Lalu Chanyeol pergi.
Petugas perempuan berdiri dengan ragu di pintu masuk. "Um, nona, apa kau siap untuk pulang?"
Kukunya menekan ke dalam tangannya. "Di mana Kim Jongin?"
"Ditahan."
Benar. Hal yang sama dengan dikatakan Chanyeol. Tatapan Kyungsoo meluncur ke meja. Ke foto tabrakannya. Jongin ada di sana. "Uh, ya, aku siap untuk pergi."
-o-
Mine to Take
-o-
Apartemen kecil itu tampak menekan dirinya. Kyungsoo duduk di ranjang, tidak bisa tidur. Jam 2 pagi, dan dia masih terjaga. Detak jam terasa terlalu keras. Tiap detik berlalu dengan perlahan. Setiap. Detik.
Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Dia tidak bisa bernafas disini. Kyungsoo membuka jendela. Alarm berbunyi. Sebuah alarm yang dipasang Jongin untuknya.
Gigi belakang Kyungsoo terkatup. Dia mencari ke tombol alarm, menghentikan bunyi itu.
Lalu, lewat jendela terbuka, ia mendengar suara musik. Tempo yang cepat. Terdengar dari klub di sudut jalan.
Suara musik mengusir suara jam yang terus berdetak.
Sebelum dia memberi waktu dirinya untuk berpikir, Kyungsoo meraih sepatu dan tasnya. Dia hampir berlari dari apartemennya dan menuruni tangga. Betis kirinya berdenyut.
Dalam beberapa menit Kyungsoo sudah berada di luar. Sederet orang merayap di sekitar sisi klub itu, menunggu untuk masuk ke dalam. Dia ingin mendekati musik itu. Dia membutuhkannya.
Bukan, bukan musiknya.
Dia menyelinap dalam barisan.
Dia butuh menari. Menari selalu membantunya melupakan kejadian menyakitkan di hidupnya. Menari membantunya mengatasi masalahnya. Untuk bertahan.
Dia masuk ke dalam klub. Dia berdansa. Dia seperti yang lainnya untuk sesaat.
Aku akan melupakan ini.
Karena jika dia tidak melupakan ini, paling tidak untuk sesaat, Kyungsoo pikir ia akan menjadi gila.
-o-
"Nampaknya Nona Do akan pergi clubbing," kata Minseok saat ia duduk kembali ke mobilnya. Sebuah mobil yang tidak dikenali, kendaraan itu bercampur cukup baik di jalan yang cukup ramai.
Jumat malam di Busan. Tentu saja, ini sudah lebih dari jam 2 pagi, tapi kota justru baru hidup saat seperti ini.
Dia mengencangkan pegangannya ke telepon. "Dia pergi ke dalam klub sendirian." Apa nama tempat itu? Huruf neon berkedip.
Exodus. "Nama tempatnya Exodus."
Minseok berharap dia tidak diperintahkan masuk ke dalam klub itu.
Sungguh bukan tempatnya.
Dentuman musiknya sudah membuatnya sakit kepala. Dia lebih memilih tugas lalu lintas dari pada hal seperti ini lain hari. Tapi jika dia harus mengikuti perintah…
Minseok mendesah. Dia melakukan pekerjaannya.
-o-
Mine to Take
-o-
"Detektifmu membuat kesalahan serius, kapten!" sentak pengacara Jongin saat ia meraih tasnya. "Dia sengaja memprovokasi klien saya dan-"
"Tuduhan telah ditarik, Ravi, apa lagi yang kau inginkan?" ujar sang kapten, yang lebih tua, dengan tunas rambut abu-abu di kepala, mendesah. "Tuan Kim bebas untuk pergi."
Park Chanyeol berdiri di samping kapten. Jongin tidak ragu Chanyeol sudah mendapat kemarahan atau kritik tajam dari kaptennya sendiri. Kau tidak seharusnya menyelidikiku, Park.
Tuduhan mungkin telah ditarik, tapi keadaan antara Chanyeol dan Jongin jauh dari berakhir.
"Di mana Kyungsoo?" Tanya Jongin dengan tenang.
Wajah Chanyeol mengeras. "Dia pulang ke rumah."
"Sendirian?" dia menyumpah. "Sialan, aku bukan ancaman baginya. Tapi orang lain di luar sana, dan kau hanya membiarkan dia pergi-"
"Petugas Minseok tetap mengawasinya." kapten yang berbicara.
"Minseok membawanya pulang, dan kita memerintahkan Minseok untuk tinggal dan berjaga-jaga di tempat nona Do."
Debar jantungnya sedikit tenang. Polisi tidak benar-benar mengacaukan seluruhnya.
Belum mengacaukan seluruhnya.
"Itu berita bagus." Dia menyentakkan kepalanya ke Ravi.
"Mari kita pergi. Aku sudah cukup melihat markas ini untuk terakhir kalinya."
Ravi mengangguk. Jongin punya pengacara -yang dibayar berkala. 5 menit setelah Jongin menelponnya, Ravi bergegas ke markas.
Pengacara itu sudah mengancam gugatan hukum bahkan waktu pintu tertutup di belakangnya.
Tapi, saat itu, tuduhan sudah ditarik.
Chanyeol membuang waktuku.
Detektif itu tahu lebih baik daripada dia mencoba sesuatu dengan tidak ada kesempatan untuk berhasil. Tangan Jongin membanting pintu utama dan membuatnya terbuka saat ia bergegas ke luar. Dia harus menemui ke Kyungsoo dan-
"Aku tidak tahu siapa gadis ini," kata Ravi saat ia mencengkram tangan Jongin. "Tapi dengan polisi masuk ke dalamnya, mungkin bijaksana untuk sedikit mundur."
Jongin terhenti. Dia melirik sekilas melalui bahunya, melihat kembali pintu masuk markas. Chanyeol mengikutinya keluar.
Tidak mengejutkan.
"Mundur bukanlah pilihan," katanya dan ia menepis pegangan Ravi. Tatapannya bertemu tatapan Chanyeol. Mereka mengeluarkan api tak kasat mata dari tatapan itu.
"Tidak akan pernah."
-o-
Mine to Take
-o-
Klub itu penuh sesak.
Lampu melambung di atas kerumunan ketika musik dikeluarkan dari panggung. Pada awalnya, Kyungsoo tidak bergerak. Tatapannya menyapu klub.
Beberapa wanita mengenakan gaun pendek dan berpotongan rendah. Mereka menggeliat di lantai dansa. Yang lainnya berpakaian seperti Kyungsoo-jeans nyaman, atasan longgar.
Musik terus menggelegar. Dentumannya keras, mengendalikan.
Pria berambut pirang mendekati Kyungsoo. "Mau berdansa?" dia perlu berteriak agar terdengar diantara ketukan musik.
Dansa. Itu yang dia perlukan. Hanya itu yang dia perlukan.
Jongin berbohong. Dia berbohong.
Kyungsoo menerima tangan si pirang. Lalu mereka pergi menuju lantai dansa. Dia berhenti berpikir. Mulai merasakan irama musiknya.
Dan akhirnya, akhirnya, sakitnya terhenti.
-o-
Bajingan sialan itu meletakkan tangannya di tubuh Kyungsoo.
Jongin berdiri beberapa kaki dari lantai dansa. Matanya menemukan Kyungsoo segera setelah dia melangkah ke dalam klub.
Dia selalu bisa menemukannya.
Seorang bajingan pirang menempatkan tangannya di pinggul Kyungsoo. Kyungsoo meliukkan tubuhnya dan bergerak mengalir sesuai irama musik.
Mengoda secara sensual.
Kyungsoo meninggalkan pria itu. Gadis itu berdansa ke tengah lantai dansa.
Berputar. Meliukkan tubuhnya.
Pasangan dansa yang lain menangkapnya.
Kyungsoo bertemu dengan gerakan pria itu. Berdansa. Dan berdansa.
Bergerak meninggalkannya.
Pergi ke pasangan sialan lainnya.
Tempo musik meningkat. Kyungsoo dengan mudah menyesuaikan iramanya. Tidak ada tersandung. Tidak ada cela.
Hanya keanggunan.
Hasrat.
Tidak ada orang lain yang bisa berdansa seperti Kyungsoo.
Tubuhnya melengkung dan berputar. Naik turun.
Berpindah pada pasangan lain lagi.
Pasangan. Sialan. Lainnya.
Cukup. Jongin mengintai ke depan. Mendorong jalannya, melewati kerumunan. Saat Kyungsoo berputar lagi, Jongin menangkapnya dan menariknya mendekat. Kyungsoo bahkan tidak melihat siapa dia.
Tubuhnya bergoyang sesuai irama. Bergerak, dan bergerak..
"Apa kau mabuk?" Jongin mengeluarkan kata-kata.
Kepala Kyungsoo tersentak pada Jongin. Dia berhenti berdansa dan melihat, akhirnya melihat Jongin.
Ketakutan tiba-tiba muncul di matanya.
Mereka mengeraskan lagunya bahkan lebih lantang.
Kyungsoo menjauh darinya. Menemukan pasangan yang lain.
Jongin mengikutinya. "Minggir," lelaki itu berkata pada si pirang.
Dengan bijaksana si pirang melangkah mundur.
"Tidak," Kyungsoo melepas Jongin, lagi. "Aku tidak mau. Tinggalkan aku sendirian, Jongin. Keluar dari sini."
Dia tidak terdengar mabuk. Dia terdengar marah dan takut, tapi kata-katanya tidak bergumam. Jongin memberengut pada Kyungsoo. "Apa yang kau lakukan?"
Kyungsoo tertawa. "Berdansa. Itu yang aku lakukan, kan? Satu-satunya hal yang dapat kulakukan." Kyungsoo mencoba melepaskan diri lagi.
"Seseorang mengincarmu!" Jongin menariknya mendekat. Kyungsoo tetap berdansa. Pinggulnya bergerak-gerak. "Kau seharusnya berada di rumah!"
Bulu mata gadis itu turun, matanya terpejam. "Kau."
"Kyungsoo.."
"Apa kau, orang yang mengincarku? Kau satu-satunya yang aku percaya. Jangan lakukan ini padaku, Jongin." Bulu matanya terangkat. Ada air mata sialan di sana.
"Jangan menjadi orang yang menyakitiku. Kumohon."
Di sana, di lantai dansa itu, dengan musik yang terlalu keras dan hawa panas yang menekan tubuh, Kyungsoo membuat Jongin sesak, sedih, merasa bersalah.
Tangan Jongin mengusap rambut Kyungsoo. Dia menyentuh belakang kepala Kyungsoo dengan lembut. "Aku tidak akan menyakitimu, sayang. Tidak akan."
Jongin menciumnya. Lembut pada awalnya. Namun ketika gadisnya membalas, itu berubah menjadi keras, mendalam, dan putus asa. Kyungsoo membuat Jongin menjadi waras selama bertahun-tahun, dan bahkan Kyungsoo tidak tahu itu. Kyungsoo telah membuat hidup Jongin layak untuk dijalani.
Kyungsoo pikir Jongin akan menyakitinya? Menerornya?
Tidak. Sial, tidak akan.
"Percaya padaku," Jongin menghembuskan kata-kata pada bibir Kyungsoo.
Jongin harus mengeluarkan Kyungsoo dari sini. Pergi ke tempat yang tenang sehingga mereka bisa bicara dengan nyaman. Lalu kemudian dia bisa menjelaskan semuanya.
Dengan mata berair, Kyungsoo menatap Jongin. "Aku mencintaimu."
Kata-kata itu seperti menusuk tepat di dada Jongin.
"Dan tidak pernah berhenti," kata Kyungsoo, bibirnya bergetar. "Tidak bisa."
Bagi Kyungsoo cinta juga berarti kepercayaan. Jongin tahu itu. Karena Jongin mengertinya.
Jongin tak mengatakan apapun. Ia hanya menarik gadisnya mendekat dan mengangkatnya, menaruh kedua lengannya di bawah lutut dan punggung Kyungsoo. Mendekapnya dengan erat. Jongin merasakan basah pada kemeja bagian depan ketika mereka keluar dari klub itu.
-o-
Mine to Take
-o-
"Dia pergi, Park," kata Minseok di telepon saat dia melihat seorang pria menggendong seorang wanita yang ia yakini adalah Kyungsoo, baru saja keluar dari klub. "Dan dia tidak sendiri." Minseok berdiri di kursinya.
"Wow, tunggu– bukankah seharusnya dia di penjara?" karena pria itu terlihat seperti Kim Jongin baginya.
Laki-laki itu, tidak salah lagi, Kim Jongin.
Minseok kira pasangan itu akan kembali ke apartemen Kyungsoo. Tapi mereka tidak ke sana. Kim membawa Kyungsoo ke dalam jaguar hitam dan menjalankannya sesaat kemudian.
Pria itu tidak pernah menyadari kehadiran Minseok. Dia hanya fokus pada Kyungsoo.
Minseok mendengarkan apa yang diperintahkan kepadanya saat dia menggenggam erat teleponnya. Dia melemparkan telponnya ke samping dan memutar kendaraannya.
Dia harus menjalankan tugasnya dengan benar.
-o-
to be continued
-o-
Banyak yg nanyain ff New Moon, belum bisa update dalam waktu dekat, maaf yaa:( Dan terima kasiih untuk review nyaa:3
-chi
