Mine to Take

[Chapter Fifteen]


WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.

-o-

Pintu lift meluncur tertutup dibelakang Jongin, dan akhirnya dia mampu untuk menarik nafas panjang saat mereka mendapat tanda naik ke penthousenya.

Vanilla. Aroma Kyungsoo membungkus di sekitarnya.

Jongin melihat sekilas ke arah Kyungsoo. Gadis itu mundur ke pojok belakang lift.

Dinding lift memantulkan bayangannya, dan bayangan Jongin yang menatapnya kembali dari mata elangnya.

Tatapannya terlihat sangat berbahaya. Sangat liar.

Sebagian kisah dari hidupnya.

"Kenapa kau ada Seoul waktu itu?" Kyungsoo bertanya padanya.

Lift dengan tenang mulai bergerak naik.

Jongin mendekat, tidak membuat jarak di antara mereka. Namun tidak menyentuhnya. Malah meletakkan tangannya pada dinding, di samping bahu Kyungsoo. "Karena aku harus melihatmu."

"Ka-kau bisa mengatakannya padaku. Menemuiku–"

"Pernahkah kau menginginkan sesuatu sampai sebegitu buruknya?"

Jongin berbisik saat dia menundukkan kepalanya, "Sampai kau tidak bisa memikirkan lainnya? Semua yang kau rasakan adalah kebutuhan. Hasrat yang tak pernah berakhir yang terus membuatmu bergolak."

Kyungsoo memberikan anggukan kecil. "Itu yang aku rasakan.. untukmu."

Dia menunjukkan perasaannya pada Jongin. Jongin tidak bisa lebih terkejut lagi padanya. Dengan sudut bibir sedikit terangkat Jongin menyapukan ujung hidungnya pada rambut halus Kyungsoo.

"Dan itu juga perasaanku untukmu," Jongin memberitahunya. "Tidak ada hal yang lainnya. Hanya dirimu."

Lift tetap bergerak ke atas.

"Saat kau berumur 18, kau memiliki mimpi. Menari." Kyungsoo ingin tampil di pertunjukkannya sendiri, sangat, teramat sangat. "Hanya sekali, satu kali, aku melakukan hal yang benar." Jongin hanya ingin Kyungsoo dapat meraih mimpinya.

Aroma Kyungsoo membuat kepala Jongin terasa berputar.

"Aku membiarkanmu pergi," suaranya parau. "Hal itu merobek hatiku, tapi aku membiarkanmu pergi karena aku ingin kau bahagia."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Jongin–"

"Aku tidak punya apapun yang bisa aku tawarkan untukmu. Aku miskin. Dan kau mengagumkan. Sangat mengagumkan. Aku melihatmu berdansa, sangat sering. Aku tahu kau bersinar di panggung itu." Jongin ingin bibir Kyungsoo ada dibawahnya. "Tapi aku juga tahu.. kau akan meninggalkan semua itu, untukku, dalam sekejap."

Karena, saat umurnya 18, Kyungsoo mencintainya.

Cintanya sangat nyata dan indah dan murni. Tanpa keraguan. Tanpa batas.

Cintanya adalah hal yang paling berharga dalam hidup Jongin.

Kyungsoo sudah menjadi hal yang paling berharga dalam hidupnya. Dan karena Jongin juga mencintainya, lelaki itu mencoba, untuk sekali– tidak menjadi bajingan yang egois.

"Aku tidak ingin kau meninggalkan semuanya untukku. Jadi aku mengatakan padamu hubungan kita sudah selesai. Bahwa aku ingin pergi." Ketika nyatanya dia hanya menginginkan Kyungsoo. "Aku menyakitimu."

Sial, pemahaman itu tetap menghancurkan Jongin. "Dan bahkan saat itu, aku berjanji pada diriku, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."

Lift berhenti.

"Aku ingin kau memiliki mimpimu. Aku melangkah mundur. Dan mendorongmu menjauh, menjauh untuk naik ke atas." Lalu Jongin pergi dan naik ke tingkat paling atas dengan perjuangan keras. Menyelesaikan semua hal penting untuk membuat hidupnya sukses.

Untuk Kyungsoo.

Jika suatu saat Kyungsoo kembali padanya. Jika suatu saat Kyungsoo memberinya kesempatan kedua.

"Aku tetap berpikir kau telah menemukan orang lain. Seorang pria yang baik, yang mencintaimu. Mempunyai keluarga." Tapi Kyungsoo tidak melakukannya.

"Tahun berlalu, dan aku.. aku harus melihatmu. Hanya memastikan kau baik-baik saja. Hanya untuk.. mengisi lubang sialan di dadaku, dimana hatiku seharusnya berada."

Pintu lift terbuka.

"Aku melihatmu berdansa," Jongin berkata, menatap ke dalam matanya, "Dan saat itu juga aku ingat seperti apa dicintai olehmu. Seperti apa menjadi bahagia."

Bibir Kyungsoo terbuka. "Malam itu.."

"Aku tidak menyebabkan kecelakaan itu. Aku sedang– aku menunggumu di apartemenmu. Aku memutuskan berbicara padamu malam itu. Untuk melihat apa kau masih merasakan sesuatu padaku." Tapi jam berlalu, dan Kyungsoo tidak muncul. Lalu Jongin pergi mencarinya.

Dan mendapati kecelakaan itu.

"Kau terbangun saat aku menemukanmu," kata Jongin.

Kau sadar namun..

Takut. Padaku.

Tidak perduli apa yang dia katakan, Kyungsoo berteriak dan bergerak menjauh. Jongin pikir..

Dia tidak menginginkanku lagi.

Dia tidak bisa mengatasi kegelapan dalam diriku lebih lama lagi.

Jongin memastikan Kyungsoo pergi ke rumah sakit. Dia memaksa dirinya untuk tidak melihatnya, lagi, dan lagi.

Lalu dia mencoba untuk memberikan waktu untuk Kyungsoo, untuk pulih.

"Saat kau berjalan ke dalam kantorku beberapa hari yang lalu.."

Jongin melangkah mundur dan meletakkan tangannya agar pintu lift tidak tertutup. "Aku sangat, sangat terkejut. Membutuhkan semua kemampuanku agar tidak berlari dan menangkapmu, untuk tidak memelukmu erat." Dan tidak pernah membiarkanmu pergi, lagi.

Kyungsoo tetap berada di pojok lift.

"Aku tidak membakar studiomu, Kyungsoo. Aku selalu menginginkan kau mendapatkan impianmu. Aku tidak akan menghancurkannya."

Pandangan Kyungsoo menahannya.

Dia mengulurkan tangannya pada Kyungsoo."Jika kau mencintaiku, percayalah padaku."

Karena itu adalah Kyungsoo yang sebenarnya.

Kyungsoo menunduk, melihat dengan cepat tangan Jongin.

Jongin tidak bergerak. Sekarang adalah saat keputusan Kyungsoo.

"Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita," Kyungsoo berkata padanya, suaranya lembut. "Jangan pernah ada lagi."

Jongin berusaha tidak mengubah ekspresinya. "Sayang, kau tidak perlu tahu apa yang sudah aku alami selama kita berpisah." Kadang, dia ingin melupakannya, tapi mimpi buruk tetap menghantuinya.

Kyungsoo melangkah dari pojok. Bergerak ke arahnya. "Kau salah. Aku ingin tahu semua tentangmu." Dia menegakkan bahunya, mata bulatnya menatap lurus mata Jongin. "Dan aku ingin kau tahu semua tentangku." Dia mengambil tangan Jongin. Itu berarti Kyungsoo percaya pada Jongin. Dan itu membuat Jongin lega.

Hell, yes.

Jongin menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. Menciumnya. Dia mengangkat Kyungsoo, menahannya dengan mudah. Dia hampir merusak pintu ke penthouse sebelum mereka masuk ke dalam.

Dia tidak bisa menahannya, melewati lorong.

Terlalu gila, terlalu gelisah. Terlalu putus asa.

Dia membutuhkan Kyungsoo.

Tergesa seperti malaikat kematian, mengambang terlalu dekat.

Dia menelanjangi Kyungsoo di luar sini. Melepaskan bajunya sendiri dalam sekejap. Sangat menyenangkan ketika mereka sadar seberapa basah Kyungsoo dan seberapa keras Jongin. Lelaki itu menempatkan Kyungsoo melawan dinding. Bercinta dengan dalam dan keras dan tenggelam ke dalam surga yang hanya dia dan Kyungsoo tahu.

Ke dalam surga dengan cintanya, dengan Kyungsoo.

Dia tidak pernah cukup menempatkan diri ke dalamnya. Tidak pernah cukup menyentuhnya. Tidak pernah cukup menciumnya. Dengannya, Jongin tahu dia tidak pernah puas dengannya. Selalu ingin lebih. Dia menginginkan semuanya.

"Jongin."

"Aku mencintaimu, Jonginh!"

Kyungsoo mencapai kepuasannya, dengan kuat otot kewanitaannya meremas Jongin. Pelepasan Kyungsoo membawa Jongin pada kepuasannya sendiri, dan tubuhnya menggigil saat kenikmatan menyerbu ke intinya.

Jongin melihat gadisnya merengek dengan mata sayu menatapnya dan bibir terbuka meneriakkan namanya, berulang seperti mantra. Tangan Kyungsoo mencengkram kuat rambut belakang Jongin ketika pria itu mencumbu puncak dadanya. Dia ingin lebih. Dia tidak ingin ini berakhir.

Dan Jongin juga tidak akan membiarkan kenikmatan ini pergi.

Tidak berhenti mendorong.

Dia tidak bisa. Dia kelaparan, gila dengan kebutuhan– akan Kyungsoo.

Dia menginginkan Kyungsoo, dalam 10 tahun yang lama. Kyungsoo kembali.

Tidak ada seorang pun dan apapun untuk membuatnya menjauh darinya lagi.

-o-

Mine to Take

-o-

Telepon berdering sesaat sebelum fajar. Jongin mengulurkan tangan, mengambil teleponnya.

Pikiran pertamanya.. Jimin. Dia telah diberi kabar bahwa temannya sudah stabil. Sudah baik-baik saja, sudah–

"Ada seorang laki-laki di lobi, Sir," dia mengenali ini suara Namjoon, manajer gedungnya. "Dia memaksa untuk bertemu anda."

"Aku tidak menerima pengunjung," katanya, berputar dari tempat tidur. "Terutama tidak sepagi ini." Namjoon seharusnya tahu ini lebih baik. Kyungsoo masih tidur, tak terganggu. "Katakan padanya untuk pergi–"

"Tapi dia sangat keras kepala," suara Namjoon tenang. "Dia bilang untuk memberitahumu.. namanya Oh Sehun, dan dia punya berita yang mendesak."

Sehun?

"Minta dia untuk menunggu di sana," perintah Jongin saat pandangannya mengarah pada Kyungsoo sekali lagi. Orang sialan itu ada di sini? Tepat setelah kebakaran? "Aku sedang perjalanan turun."

Jongin menaikkan selimut di pundak polos Kyungsoo. Gadisnya terlihat tenang, damai.

Seharusnya dari dulu dia tetap seperti itu.

Jongin segera mengambil bajunya. Tiga menit kemudian, dia sudah berpakaian dan ada di lobi.

Namjoon berbalik ke arahnya. Oh Sehun ada di samping Namjoon. Sehun terlihat pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Apa yang dia inginkan?

"Terima kasih, mau menemuiku," Sehun mulai berbicara saat dia melarikan tanganya kesekitar wajahnya. "Aku tidak jujur padamu di Seoul. Ada.. ada sesuatu yang harus kau tahu."

-o-

"Jongin?" Kyungsoo mencarinya saat dia bangun.

Tapi tempat tidur kosong. Selimut di sampingnya terasa dingin.

Dia mencari ke penjuru penthouse.

Jongin tidak ada di sini.

Kegelisahan masuk di dalam dirinya saat dia berpakaian. Lalu dia meluncur dari penthouse dan menuju ke lantai bawah.

-o-

Pandangan Jongin terpotong pada Namjoon. "Kami membutuhkan kantormu." Karena dia tidak ingin laki-laki ini berada dimanapun di dekat Kyungsoo.

Serta merta Namjoon mengangguk. "Tentu saja! Sebelah sini."

Jongin tidak berkata lagi, tidak sampai dia dan Sehun berada dalam kantor Namjoon. Manajer gedung itu dengan cepat keluar ruangan, lalu menutup pintu, memastikan memberi mereka privasi.

Jongin menyilangkan tangannya di depan dadanya dan membelalak pada sang dokter. "Waktumu tidak tepat, dok." Terutama tepat setelah kebakaran. Untuk berada dalam kota yang sama..

"Aku harus datang." Sehun mondar-mandir di sekitar pembatas kecil di ruangan. "Aku butuh memberitahumu– ah, sial, kau harus tahu kebenaran tentang Kyungsoo, Kim."

"Aku cukup tahu tentang Kyungsoo." Dia tidak butuh laki-laki ini memberi pentunjuk padanya dalam hal apapun.

"Sungguh?" Sehun memutar punggungnya untuk berhadapan dengannya. "Lalu aku kira kau mengetahui semua hal tentang ibunya? Kau tahu bahwa ibu Kyungsoo gila? Mengidap delusi? Tabrakan mobil yang membunuh orang tuanya.. ibunya yang menyebabkan tabrakan itu. Dia sengaja membunuh dirinya dan suaminya."

Jongin tidak membiarkan ekspresinya berubah. "Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" Jongin sudah tahu, tentu saja sudah lama dia mengetahui kebenaran itu, tapi kenapa laki-laki ini menggali masa lalu Kyungsoo?

"Aku tahu karena aku mengkhawatirkannya." Sehun menghembuskan nafas berat. "Kyungsoo.. dia terlalu lemah. Terlalu rapuh, sangat terlalu rapuh."

"Karena itu kau menidurinya?" tuntut Jongin, meningkat tajam.

"Karena dia rapuh?"

Wajah Sehun memerah. "Aku kira dia membutuhkanku. Kyungsoo melakukan sesuatu pada laki-laki. Dia membuatmu berpikir– dia membuatku ingin melindunginya."

Sialan, alasan konyol. Jongin menahan dirinya.

"Tapi.. ada sesuatu yang salah dengannya."

Jongin membutuhkan semua kekuatannya agar tidak menyerang dokter itu.

"Aku mulai menduga kebenarannya, setelah beberapa minggu. Hal-hal yang dia katakan, yang dia lakukan.." Tangan Sehun bergerak dalam saku di jasnya. "Aku berbicara pada detektif Seoul. Detektif Lee. Tidak seorang pun yang menabrak mobil Kyungsoo di jalanan. Aku pikir dia menabrakannya sendiri."

Omong kosong.

"Kyungsoo mengatakan padaku tentang seseorang yang membobol ke dalam apartemennya sekembalinya di Seoul, dia mengatakan padaku bahwa dia merasa seperti sedang diawasi. Dia mengatakan semua hal–" kata-kata Sehun terputus.

"Tapi kau tidak mempercayainya," Jongin menyelesaikan, merasa muak.

"Karena itu tidak terjadi. Kim, aku ada di jalan dengannya, aku ada di sana saat dia sangat yakin ada seseorang di belakangnya. Tidak ada seorangpun di sana. Tidak ada seorangpun yang pernah masuk ke dalam apartemennya. Tidak ada yang terjadi." Otot Jongin menegang sepanjang rahangnya. "Ibunya berusia awal 20-an tahun saat schizophrenia pertamanya menampakkan diri."

Sial. "Kau melihat catatan medis ibunya."

"Delusi," gumam Sehun. "Paranoid. Itulah bagaimana penyakit ibunya bermula– dan bagaimana itu mengawali lusinan kegilaan yang lainnya. Dan itu juga bagaimana penyakit Kyungsoo bermula."

Tidak, itu bukan penyakit. "Kau keliru. Seseorang mengintai Kyungsoo. Dia diserang di studio. Dia mendapat luka di kepalanya–"

"Apa ada yang melihat serangannya?"

Tidak, agennya tidak menemukan seseorang di tempat kejadian.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kau tahu dia tidak melakukan sendiri hal itu?"

Karena aku tahu Kyungsoo. Kau benar-benar tidak tahu dia. "Kebakaran hampir membunuhnya semalam. Apa kau serius berdiri di sini, mencoba memberitahuku bahwa dia mungkin melakukan hal itu juga? Bahwa dia menyulut api di tempatnya sendiri?"

"Apa seseorang melihat penyerangnya disana?"

Jongin tidak menjawab.

"Aku kira begitu." Nafas Sehun berhembus keluar. "Kau pikir aku ingin ini terjadi? Padanya? Tentu saja tidak. Aku perduli pada Kyungsoo. Tapi perilakunya meningkat menjadi tak menentu sekembalinya di Seoul. Ketika aku memberitahunya bahwa dia membutuhkan bantuan.. saat itu dia menghilang."

Jongin mempelajari pria itu untuk sesaat dalam kesunyian, lalu menuntut. "Kenapa tidak kau mengatakan sesuatu saat aku bertanya padamu di rumah sakit?"

"Karena aku ingin penilaianku salah! Aku ingin, tapi naluriku memberitahuku, aku tidak bisa seperti itu. Aku datang ke sini, mendengar tentang kebakaran sesaat lalu dari berita– dan tahu bahwa aku harus bertemu denganmu. Aku harus memperingatkanmu." Dia berputar menjauh dan menuju tepat ke arah jendela.

"Mempercayaiku atau tidak, tapi kau harus diperingatkan. Aku kira.. Kyungsoo bisa jadi berbahaya. Seberbahaya ibunya.."

Jongin tetap menjaga matanya pada punggung Sehun. "Kyungsoo tidak akan pergi begitu saja hanya karena kau mencoba memberinya 'bantuan'." Jongin tidak menerima penjalasannya begitu saja. "Saat kami ada di Seoul.." dan ini telah mengganggunya. "Kau menyebutkan sesuatu tentang 'malam itu' –bagaimana itu semua berubah setelahnya."

Dia menunggu sesaat dan berkata, "Apa kau benar-benar berpikir Kyungsoo tidak membertahuku tentang apa yang telah terjadi?" Tidak, Kyungsoo tidak mengatakan apapun soal itu, tapi berbohong mudah bagi Jongin. Terutama saat dia berhadapan dengan seseorang seperti Oh Sehun.

Bahu dokter itu mengeras. "Ya." Dia mendesahkan kata-kata. "Aku kira Kyungsoo punya hal yang tidak diberitahukan padamu." Dia kembali menghadap wajah Jongin sekali lagi. "Tapi tidakkah itu hanya membuktikan kebenaran pendapatku? Kyungsoo binggung diantara kita berdua. Dia memanggilku dengan namamu. Dia pikir aku adalah dirimu. Dalam sekejap, Kyungsoo tidak tahu siapa aku– atau bahkan dimana dia."

"Tidak ada seorangpun yang menguntit Kyungsoo," Sehun melanjutkan, suaranya menguat. "Dia jelas wanita yang bermasalah. Seperti ibunya. Dia butuh evaluasi, pengobatan medis–"

"Aku tidak gila."

Namjoon tidak mengunci pintunya. Sial.

Kyungsoo pasti sudah diam-diam mendengar dari luar. Dia hanya mendorong untuk membuka pintu. Dia berdiri pada pintu masuk sekarang, dadanya naik turun, pipinya merah. "Aku tidak membayangkan apa yang terjadi padaku!"

Seluruh tubuh Sehun tersentak, seperti seekor peliharaan yang di ikat kuat. "A-aku tidak bermaksud kau mendengar ini–"

"Tentu saja, tapi aku telah mendengarnya." Dia menjilat bibirnya dan dagunya terangkat di udara. "Seseorang menguntitku, dan itu bukan gambaran imajinasiku. Apa yang terjadi padaku itu nyata."

Sehun bergerak perlahan ke arahnya. Suaranya rendah dan menenangkan saat dia berkata, "Aku tahu kau pikir ini.."

"Ya, aku pikir ini nyata! Karena ini memang terjadi!" Kyungsoo mendorong rambutnya ke belakang. Menatap tajam Sehun. "Kau ingin bicara tentang 'malam itu'? Baiklah. Mari bicara. Aku memanggilmu dengan nama Jongin karena aku memikirkannya. Aku menginginkan Jongin, oke? Aku selalu memikirkannya. Tidak hanya denganmu. Setiap kekasihku– itu salah dan membinggungkan, dan, mungkin bahkan sedikit gila, tapi aku tahu apa yang aku lakukan. Aku menginginkan dia malam itu, dan aku memanggilnya." Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak melakukannya karena aku gila! Aku melakukannya karena aku menginginkannya."

Wajah Sehun berubah menjadi keras. "Tidak seorangpun yang bisa menemukan bukti apapun dari penguntitmu. Polisi di Seoul tidak bisa menemukannya. Apa ada yang bisa menemukan bukti di sini? Aku bertaruh mereka tidak bisa menemukannya juga. Meskipun Kim Securities memeriksa, mereka tidak menemukan apapun karena dia tidak nyata. Hanya seperti ibumu, kau –"

"Jangan bicara tentang ibuku.." Suara Kyungsoo bergetar dalam kesakitan.

Sudah habis kesabaran Jongin. Dia melompat ke depan. Menangkap tangan Sehun dan menyentakkan pria itu ke arah pintu.

"Tunggu!" Sehun memekik. "Apa yang kau lakukan? Berhenti-"

"Taruh pantat sialmu di atas pesawat, dan keluar dari sini. Jika kau tidak pergi sore ini, aku akan tahu. Lalu aku akan mendatangimu." Jongin menatap ke dalam mata dokter itu. "Kau tidak ingin itu terjadi kan, mengerti?"

Sehun menelan ludah. "Aku– aku hanya ingin dia mendapat pengobatan." Dia melemparkan pandangan cemas ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo mundur dari pintu. "Aku peduli padamu. Aku ingin membantumu, Kyungsoo."

"Bagaimana? Dengan merawatku di rumah sakit?" pipinya masih merah dan matanya berkilat dalam kemarahan. "Penguntit itu ada. Dia itu nyata."

"Tidak." Sehun terdengar sedih dan yakin. "Dia tidak nyata."

Dengan segera Jongin mengusir dokter itu keluar dari gedung.

"Uh, Sir.." Namjoon mulai saat dia melihat Sehun dengan marah meninggalkan gedung turun ke jalan.

"Jangan biarkan dia melewati pintu untuk masuk," perintah Jongin. "Jangan pernah lagi, mengerti?"

Dengan cepat Namjoon mengangguk. "Tentu. Aku.. mengerti."

"Bagus." Dia melangkah kembali ke kantor– dan menemukan Kyungsoo belum bergerak. Tatapannya ke arah jendela. "Kyungsoo.."

Pandangan Kyungsoo kembali padanya. "Pergi bicaralah pada Jimin. Dia bisa mengatakan padamu ada orang lain di dalam studio. Aku tidak gila, Jongin."

"Aku tidak pernah bilang begitu."

Senyumnya tertahan di ambang kesedihan. "Tapi kau berpikir seperti itu.."

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo ke dalam tangannya. "Tidak, aku tidak berpikir seperti itu."

Kyungsoo menyentak. "Aku kira kau lebih baik dalam berbohong." Lalu Kyungsoo mundur darinya. "Aku kira kau jauh lebih baik.."

-o-

Mine to Take

-o-

"Aku hanya melihat Kyungsoo.." Jimin bergeser gelisah di kasur rumah sakit, sebuah ikatan terbalut di sekitar sisi kiri kepalanya. "Aku merasa seperti seseorang memukulku keras dengan tongkat bisbol, tapi aku tidak melihat orang lain kecuali dia."

Sial. Jongin sudah mengharapkan sesuatu yang lebih. "Kau tidak mendengar siapapun?"

"Jika aku mendengarnya, si brengsek itu tidak akan menjatuhkanku." Jimin menghembuskan nafas perlahan. "Kyungsoo pergi ke studio awalnya. Aku pikir dia melupakan tasnya. Aku bisa ingat dia masuk ke dalam.." jarinya tergenggam di sekitar selimut putih. "Lalu tidak ada apapun sampai aku bangun di tempat ini."

Jongin meletakkan tangannya di bahu Jimin. "Tak apa. Kau istirahat saja."

"Kau mengeluarkan aku, bukankah begitu? Aku mendengar para dokter berbicara.."

Jongin mengangguk. "Aku tidak akan meninggalkanmu di kebakaran itu."

Jimin memberinya senyum lelah. "Bukahkah itu ketiga kalinya.. atau mungkin keempat.. kau menyelamatkan hidupku?"

"Tidak masalah. Aku sudah lama berhenti menghitungnya." Dia meremas bahu Jimin dan menjauhi kasur. "Beristirahatlah."

"Tunggu.."

Jongin menatap kembali padanya.

"Aku berpikir.. aku mengingat satu hal lagi." Matanya menyipit saat dia tampaknya berjuang mengingatnya. "Gadismu, mengatakan, dia meminta maaf.. lagi dan lagi. Aku bersumpah. Aku bisa mendengarnya mengatakan hal itu." Dia menekan matanya tertutup.

"Tapi itu tidak berguna untuk apapun. Mungkin cuma pengaruh obat yang mereka berikan padaku."

"Mungkin," Jongin bergumam. "Aku akan kembali mengunjungimu segera."

Jongin menutup pintu di belakangnya.

Kyungsoo menangkap pandangan Jongin, dan dia bergegas ke arahnya.

"Apa Jimin sudah siuman? Apa kau sudah bicara padanya?"

Jongin pergi masuk sendiri karena ingin menduga reaksi Jimin untuk dirinya. Dia menduga Jimin mungkin bisa bicara sedikit lebih bebas jika hanya ada mereka.

Aku ingat satu hal lagi. Gadismu, mengatakan dia meminta maaf.. lagi dan lagi..

"Apa dia mengingat ada orang lain di sana?"

Jongin menggelengkan kepalanya.

Wajah Kyungsoo menunduk.

Jongin harus menanyakan padanya. "Sayang, saat kebakaran, apa kau mengatakan permintaan maaf pada Jimin?"

Jari Kyungsoo berputar pada tali tasnya. "Ya."

Sial. "Kenapa?"

Pandangan Kyungsoo sekilas melihat ke atas, bertemu pandangan Jongin.

Kemarahan terpancar di mata bulat Kyungsoo. "Karena aku tidak cukup kuat untuk mengeluarkan dia dari kebakaran! Karena aku- meskipun sudah menggunakan seluruh kekuatanku dan aku tetap tidak bisa menggeluarkan dia dari sana!" suaranya meningkat, menangkap perhatian dua perawat terdekat.

"Karena tidak perduli apapun yang aku lakukan, aku tidak bisa mengeluarkannya dari pintu, dan aku sudah yakin kami berdua akan mati di kebakaran itu."

Jongin melangkah mendekatinya.

Kyungsoo menyentak kembali. "Tapi bukan itu yang kau duga, kan?" semua kemarahan menghilangkan suaranya. "Aku tidak gila dan kau–" kesedihan melekat wajahnya. "Kau tidak mempercayaiku."

"Tidak, aku sungguh percaya padamu."

Tapi Kyungsoo bergegas ke arah lift. Jongin menyumpah, berlari mengikuti Kyungsoo. Jongin menjulurkan tangannya, menahan pintu sebelum menutup. "Aku mempercayaimu sayang," dia mengatakannya lagi.

"Kali ini, aku yang tidak mempercayaimu." Pandangan Kyungsoo menahannya. "Bagaimana rasanya tidak dipercaya?"

Seperti sampah.

"Aku akan pergi ke studio. Aku harus— aku harus berbicara dengan penyidik kebakaran."

"Aku akan ikut denganmu." Jongin mulai melangkah ke lift.

"Tidak." Potong Kyungsoo menghentikannya.

"Kyungsoo.."

Seseorang menyenggolnya. Mendesak ke dalam lift.

"Aku butuh ruang," kata Kyungsoo, suaranya serak, seperti jika dia mencoba melawan tangis. "Tolong mengertiku, aku butuh ruang."

Darimu.

Jongin menghela napas berat. "Aku akan menyiapkan seorang agen untuk menemanimu." Pria itu memaksa dirinya untuk melangkah mundur.

Dia memandang Kyungsoo sampai lift tertutup.

Lalu Jongin menarik keluar telponnya. Dalam kurang dari 5 detik, dia punya seorang agen siap untuk pergi. "Jadi bayangannya," perintahnya. "Jangan biarkan ia pergi tanpa pengawasanmu."

Kyungsoo mungkin ingin ruang darinya, tapi Jongin tidak ingin membahayakan hidup Kyungsoo. Jongin mengangkat tangannya menyapu rambutnya ke belakang, ia membuang napas kasar sambil berlalu.

-o-

to be continued

-o-


Hmm bentar lagi bakal terungkap nih:))

Ada yang sempat menebak kalau itu hanya ulah Kyungsoo sendiri?

Kalian percaya sehun atau kyungsoo?

-chi