Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta
Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Smutt, lemon, Yaoi, dll.
.
.
.
Fang kini menatap kafe yang ada di seberang jalan. Bertanya-tanya kenapa dia malah berakhir melangkah ke sini. Jelas-jelas pria itu sudah melakukan pelecehan padanya, tapi kenapa dia bukannya menghindar malah menuruti permintaan orang itu?
Fang baru saja ingin mempertimbangkan membalikkan badan saat tatapannya malah bertemu dengan iris cokelat yang menatapnya senang.
Boboiboy melambai dari dalam kafe. Fang mengerang dan dengan berat hati melangkah masuk. Menghempaskan diri pada kursi di seberang Boboiboy.
"Jadi kau benar-benar masih ingin tahu rupanya," sahutnya dengan nada jahil.
Fang tidak menjawab. Dia membuang mukanya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Kakinya yang disilangkan menunjukkan kalau dia antara marah dan penasaran. Boboiboy gemas.
"Aku bisa memberitahumu semuanya. Asal kau tidak memberitahu apa yang kita lakukan pada Kaizo." Ucap Boboiboy menempelkan telunjuk kanannya di depan bibirnya, isyarat untuk tutup mulut.
Fang melirik, dia ingin menolak, tapi kontrol tubuhnya memaksanya untuk tetap di sini. Mana yang harus dia pilih.
"Dan kau mau minum apa? Aku belikan."
"Jus wortel." Jawab Fang cepat.
"Oh. Oke." Boboiboy memanggil pelayan dan meminta pesanan satu jus wortel untuk take away.
Fang menyipitkan mata ketika mendengar Boboiboy membungkus minumannya.
"Kenapa take out? Memangnya kita mau kemana?"
"Kan kau sendiri yang bilang penasaran."
Balasan Boboiboy sama sekali tidak menjawab kebingungan Fang.
"Kau tenang saja dan ikuti aku." Lanjut Boboiboy lagi mencubit pipi Fang yang sedikit tembam. Dan tentu saja dengan kasar disingkirkan Fang.
Boboiboy menarik Fang pada mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kafe. Dia masuk ke bagian kemudian mengajak masuk Fang untuk duduk di sebelahnya.
"Kalau kau punya mobil kenapa naik kereta?" Tanya Fang memperhatikan bagian dalam mobil.
"Biar gak macet. Lagipula mobil ini jarang aku pakai. Kalau terburu-buru untuk rapat diluar baru. Kalau tidak, aku nebeng."
"Dih, kaya orang miskin."
"Sederhana yang benar." Jawab Boboiboy menyalakan mobilnya.
Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah rumah bagus dengan desain minimalis.
"Ini rumahmu?" Tanya Fang begitu keluar dan menatap keseluruhan halaman rumahnya yang diberi setapak kecil dengan batu alam.
"Yep, tapi rumah ini cuman buat diriku sendiri sih, buat kerja. Ayo masuk, memang kau tidak panas di luar sini?"
Fang memutar mata dan mengekor Boboiboy ke dalam.
"Welcome to my humble abode~" Serunya saat mereka masuk.
Fang menggeleng oleh sikap kekanakannya. Menjelajahi sekilas interior rumah. Ada ruang tengah dan di seberangnya ada ruangan yang Fang duga merupakan dapur dan ruang makan.
Ada tangga yang menuju lantai dua yang berkemungkinan adalah kamar-kamar.
"Kau benar tinggal di sini sendirian?" Tanya Fang tidak pasti, pasalnya untuk satu orang rumah segini terlalu luas.
"Yup!" Jawab Boboiboy mantap, "setiap pagi ada pembantu dan tukang kebun datang. Sekitar jam tujuh. Mereka pulang antara jam sembilan atau sepuluh. Jadi aku tidak perlu khawatir kalau rumah kotor. Dan aku gak akan khawatir barangku dicuri." Boboiboy menunjuk cctv di salah satu sudut ruangan, "mereka diawasi dan yang tahu cara mematikannya hanya aku di sini."
"Huh, sok." Ledek Fang. Tapi mengikuti Boboiboy menaiki tangga.
Boboiboy tertawa kecil, "Dibanding tempatku, pasti tempatmu lebih besar ya kan?"
Fang diam, dia tidak membantah.
"Ah sudahlah, jadi kita mau apa?"
Boboiboy tertawa. Bisa-bisanya anak itu memberikan pertanyaan polos seperti itu dengan kejadian dan percakapan di kereta sebelum ini.
Boboiboy membuka pintu kamarnya dan mengisyaratkan Fang untuk masuk.
"Kau sendiri yang penasaran dan datang padaku, jadi aku akan menjelaskan dan mengajarkan mu sampai kau mengerti," ujar Boboiboy dengan tangan melingkari pinggang ramping Fang.
Menggiringnya masuk dan menutup pintunya. Dia melepas tas miring Fang dan ditaruh di atas meja.
"Duduklah di atas kasur." Perintah Boboiboy yang melepas jasnya.
Fang mengangkat sebelah alisnya, "Lalu?"
"Sudah lakukan saja."
Terdiam sejenak, Fang lalu duduk di tepian kasur Boboiboy.
"Lalu?" Tanya Fang lagi. Boboiboy berjalan mendekat dan tangan besarnya mengusap pipi temben Fang.
"Kita mulai."
Kancing paling atas Fang dibuka oleh Boboiboy yang dengan panik dihentikan Fang.
"Kau mau apa?!" Ujarnya histeris.
"Hush, tenang, kau akan belajar perlahan dan untuk saat ini tonton saja dulu." Bisik Boboiboy menenangkan, hidungnya menggesek pipi Fang. Fang menelan ludah, dengan lambat melepaskan cengkraman pada pergelangan Boboiboy.
Boboiboy melanjutkan pekerjaannya. Tidak terburu-buru. Ia menikmati waktunya melepas satu per satu kancing kemeja seragam milik Fang. Mengagumi bagaimana kemeja putih tersebut tergelincir dari bahu Fang dengan sensual.
Dan segera ia melakukan hal yang sama pada celana bahan yang dikenakan Fang.
Fang mengalihkan tatapannya pada apapun selain tubuhnya dan mata Boboiboy. Ia merasa malu luar biasa telanjang di hadapan orang lain.
"Kulitmu mulus." Puji Boboiboy mengusap pinggang Fang. Dan yang di bawah bisa merasakan tangan besar dan kasar Boboiboy. Walau hanya sekilas, Boboiboy jelas terasa sangat menikmati.
Dia lalu melepas sepatu dan kaos milik Fang. Dia tata rapi di bawah kasur, begitu juga celana dalam ketat milik Fang. Menampilkan tubuhnya yang telanjang dengan kulit mulus dan bodi yang ramping.
Boboiboy menyeringai tipis, beruntung sekali ternyata Fang adalah sosok yang mudah dihasut. Hanya digoda kecil dan dia terbawa. Padahal awalnya Boboiboy kira Fang tidak akan datang padanya dan akan melaporkan kejadian ini pada Kaizo. Tapi yang dia dapat malah sebaliknya.
Dewi fortuna benar-benar memihak Boboiboy.
Fang didorong pelan agar berbaring di kasur. Kedua tangan Boboiboy menarik bingkai kacamata Fang dan melipatnya, "Kau rabun jauh?" Tanyanya penasaran.
Fang menggeleng.
"Rabun dekat?"
Fang menggeleng lagi.
"Lalu kenapa pakai kacamata?"
"Biar keren."
"Pfft..."
Boboiboy tertawa. Anak ini jauh lebih polos dan clueless lagi, ya tuhan.
Fang mengerucutkan bibir. "Apa yang lucu?" Ketusnya. "Kan kacamata sekarang itu masuknya aksesoris!"
Boboiboy menghentikan tawanya. "Kau itu bisa tidak sih berhenti untuk imut sebentar saja?" Tanya Boboiboy gemas.
Sebelum Fang bisa protes, Boboiboy menciumnya. Berbeda dengan french kiss yang mereka lakukan di kereta pagi tadi, Boboiboy menciumnya dengan lebih lembut. Ingin mengajari pemuda yang lebih muda itu cara berciuman yang benar.
Fang yang awalnya hanya diam dengan ragu merespon. Pemuda itu dengan kikuk mencoba menirukan cara Boboiboy memagut bibirnya.
Ketika dirasa Fang sudah butuh udara untuk bernafas Boboiboy melepaskan tautan bibirnya.
Membiarkan Fang yang terengah-engah menghirup oksigen sementara ia menghabiskan waktu luang dengan memberi kecupan kupu-kupu di dada sampai perut Fang yang benar-benar halus kulitnya.
"Uhh, A-Apakah hal seperti ini perlu? Maksudku cium cium begini?" tanya Fang meremas bahu Boboiboy.
"Stimulasi, pemanasan, Ini perlu untuk meningkatkan daya rangsangmu." jawab Boboiboy tanpa berhenti menciumi tbuh Fang.
Dan Boboiboy sendiri penasaran di mana titik-titik sensitif Fang.
Dengan seksama didengarkannya erangan dan desahan tertahan Fang. Dia berhasil menemukan beberapa titik-titik penting itu. Di lehernya, tempat yang dekat dengan nadinya. Di lekukan pelvis nya. Dan di belakang telinganya.
"Um..."
"Apa?"
"Tidak adil, kenapa hanya aku sendiri yang membuka baju."
Boboiboy mengangkat sudut bibir. Ah, sepertinya anak ini jadi lebih self-concius karena bertelanjang.
Dengan sebelah tangannya, Boboiboy membuka kancing kemejanya sendiri.
Fang menontonnya dengan pandangan terpaku. Pemuda berambut gelap itu menelan ludah. Entah kenapa merona, mendapati cara Boboiboy membuka bajunya sangat seksi.
Rona malunya bercampur dengan rasa iri begitu melihat tegap torso milik Boboiboy.
Bahunya lebar, dadanya bidang, dan otot perutnya tercetak jelas. Kulitnya pun lebih gelap dibandingkan Fang. Seolah matahari dengan senang menciuminya sehingga menghasilkan warna sawo matang yang indah.
Fang meneguk ludahnya sendiri. Orang ini ngapain saja sampai bisa bentuk tubuh seperti ini? Dan makannya apa coba? Rutin protein?
Fang membuang mukanya yang memerah dan menutup wajahnya malu dengan kedua punggung tangannya.
"Fang? Kenapa?" Tanya Boboiboy menatap itu, tapi dia tersenyum karena tahu si manis hanya sedang malu.
"Sialan kau. Sialan." Dan yang keluar hanya umpatan.
Boboiboy tertawa kecil. Dia menurunkan kedua tangan Fang agar si empu mau menatapnya, "Bagaimana pendapatmu?"
"Pendapat apanya?"
"Tubuhku."
Fang melirik. Lalu kembali menatap dinding yang lebih menarik, "Oke saja, kataku."
"Oke saja?" Ujar Boboiboy mengangkat sebelah alisnya. "Aku berusaha keras supaya bisa tampil sebagus ini, masa jawaban mu hanya oke saja."
Fang balas melotot. "Kau jangan mancing pujian deh."
Boboiboy menyeringai iseng. "Eh, salahnya apa? Sekali-kali coba bersikap manis."
Fang mendengus mencemooh.
Cemoohannya berganti dengan pekikan begitu melihat Boboiboy membuka celananya sendiri.
Masih dibalut celana dalam berwarna hitam sih, tapi Fang tahu jelas kalau itu besar. Seukuran orang dewasa. Standar asia tenggara? Atau lebih? Fang pernah membacanya tapi lupa.
Tangan Fang meraba sebelahnya dan menarik bantal putih. Menutupi wajahnya yang memerah berat. Dia malu ukurannya tidak sebanding dengan milik orang dewasa.
"Eh? Fang?"
"Ugh, diam. Ini mulai terasa memalukan."
Boboiboy tertawa, "Sudah sampai seperti ini baru kamu malu? Telat tau," ujar Boboiboy menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Fang.
"Berisik!"
Boboiboy mencium bibir yang dari tadi menggerutu tersebut. "Biarin."
Fang memerah begitu melihat tatapan Boboiboy yang terlihat begitu senang. Senyum riangnya membuatnya jauh lebih tampan lagi.
"Aaahhhh... Udah mulai aja deh apa yang mau kamu lakuin."
Boboiboy tersenyum kecil. Tanggannya bergerak menuju bagian bawah tubuh Fang. Mengelus dan memijat halus sehingga menimbulkan desahan dari pemuda yang lebih muda itu. Ia lakukan gerakan tersebut semakin lama semakin cepat sehingga Fang menggelinjang, tangganya mengepal menggenggam erat sprei kasur.
"A-Apa yang kau lakukan.. ukh... ra-rasanya... aneh..." erang Fang menahan suaranya sebisa mungkin. Wajahnya yang memerah berat dan matanya yang berkaca-kaca benar-benar menggoda iman.
Boboiboy meneguk ludah menahan diri, 'Dia belum pernah mendapatkan pelajaran seks bebas?'
"He-hei... ja-jawab..." pinta Fang memohon.
"Kau benar-benar imuuuuut," rengek Boboiboy dan Fang susah payah berhasil menjitaknya karena sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
"Sulit untuk menjelaskannya. Tapi yang aku lakukan akan membuat kamu ejakulasi. Kau tahu kan apa maksudnya?"
Wajah Fang memerah semua, "Ja-Jangan lakukan itu!" Pekik Fang mendorong Boboiboy sekuat yang dia bisa.
"Kenapa? Udah nanggung sampai sejauh ini." Tanya Boboiboy. Dia berhenti sejenak dan mengurung Fang di antara kedua tangannya, menatap tajam manik ungunya sampai Fang tak bisa menemukan kata-kata.
"Kau gak perlu takut, itu bukan sesuatu yang menakutkan kok."
"Tapi... sakit tidak?" Cicit Fang.
"Pfft, kalau itu yang khawatirkan sih tidak usah. Yang ada kebalikannya malah," bisik Boboiboy dengan nada rendah.
Ia kembali pada kegiatannya semula. Memijit milik Fang.
Ia perhatikan wajah Fang yang semakin dimabuk rasa nikmat. Sampai tak lama milik Fang berkedut di tangannya. Boboiboy yang mengerti langsung mempercepat ramasannya.
"Kyaaaaahhhh!"
Cairan putih kental membasahi telapak tangan dan sela-sela jari Boboiboy.
"Kerja bagus." Puji Boboiboy mencium kening Fang lembut.
Fang mengatur napasnya dan menatap ke bawah, ke tangan Boboiboy yang basah. Entah kenapa dia merasa lelah.
"Hei, jangan tidur dulu," kekeh Boboiboy melihat mata Fang yang mulai berat menahan kantuk.
"Memangnya kita mau apalagi?" Tanya Fang mengusap mata dengan punggung tangan. Ia sepertinya siap untuk jatuh tidur kapan saja.
"Gantian giliranmu yang bantu aku." Jawab Boboiboy duduk bersila. Dia menarik tangan Fang guna duduk di pangkuannya.
"Bantu apa memang?" Tanya Fang menurut saja ditarik.
"Melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan tadi," jawab Boboiboy mengarahkan tangan Fang pada miliknya.
Boboiboy dapat merasakan keraguan Fang yang sepertinya ingin menarik tangan menjauh tapi Boboiboy menahannya.
"Ini mudah, aku yakin kau bisa melakukannya."
Dengan lambat Fang mengangguk dan mencoba memijat milik Boboiboy dengan cara yang ia coba ingat.
Boboiboy menahan desahannya, memilih fokus pada wajah imut Fang yang tengah berkonsentrasi.
Panas, besar, lunak, dan aneh. Itu pendapat Fang ketika menyentuh milik orang lain. Dia tidak tahu cara memijat yang seperti apa dalam kasus ini. Tangannya hanya mengurut sebisanya sambil menahan air mata yang hampir menetes.
Memalukan sekaligus menyiksa batin. Dia ingin berhenti.
"A-Aku harus melakukan ini sampai kapan?" Tanya Fang menatap wajah Boboiboy langsung.
"Uhh, sampai keluar cairan putih seperti milikmu."
Fang mengangguk mengerti. Dia mempercepat dan menguatkan sedikit remasannya.
"Aaah..."
Tak lama Boboiboy akhirnya sampai. Di usapnya pipi Fang lembut lalu diciumnya dengan sayang bibir Fang.
Dia mendorong tengkuk Fang guna memperdalam ciuman mereka. Lidah yang memaksa masuk menyabotase rongga mulut Fang dan menyapu setiap isinya.
Fang sendiri hanya bisa memejamkan mata. Kontrol tubuhnya memintanya menerima ciuman dan tangannya melingkar memeluk leher Boboiboy.
Ciuman mereka dalam dan penuh nafsu.
Boboiboy makin memajukan diri sehingga Fang kembali terbaring.
Tangan Boboiboy bergerak mengelus tengkuk Fang. Turun pada bahunya yang sempit, lalu terus menyusur ke dadanya. Telapak tangannya yang besar menemukan sebuah tonjolan kecil di sana.
Ia usap dan mainkan. Membuat Fang mendesah ke dalam ciuman.
Ketika butuh bantuan oksigen, Boboiboy terpaksa melepas ciuman panas mereka. Tali saliva yang saling menghubungkan mereka terputus begitu saja. Mata sayu dan penuh nafsu mereka saling bertubrukan.
"Fang..." panggil Boboiboy lirih lembut dan penuh hasrat. Menjadikan yang di bawah hanya mengatupkan bibir rapat tanpa bisa menjawab, "Aku lanjut..." bisik Boboiboy lagi.
Dia menahan kedua kaki Fang agar tetap terbuka di atas pundaknya. Satu jarinya yang masih basah oleh cairan Fang (yang memang belum Boboiboy bersihkan) dia gunakan untuk pelumas guna mempermudah jalannya masuk.
"Nguuuh..."
Fang melenguh saat jari Boboiboy memasuki lubang belakangnya. Rasanya aneh sekali. Dan Fang pikir hal-hal yang sebelumnya sudah cukup aneh.
Jari-jari kakinya mengepal sprei kuat sedang tangannya meremas bantal.
"Sakit?"
Fang menggeleng. "Hugh, aneh." Jawabnya jujur.
Boboiboy memajukan diri dan mengecup pipi Fang.
"Katakan saja kalau sakit, lebih bagus sih katakan saja apa yang kau rasakan, oke?"
Fang nengangguk menurut. Sementara Boboiboy kembali memasukkan jari telunjuk mencari titik prostat Fang, berniat membawa Fang pada kenikmatan dunia yang paling nikmat.
"Ahhhh!" Tubuh Fang mendadak menggelinjang, dadanya membusung dan dia mendongak. Boboiboy menyeringai, dia menemukannya.
"Di sini ka." Bisiknya. Dia menekannya beberapa kali, baru mencoba memasukkan jari yang kedua.
Tangan Fang reflek mendorong pundak Boboiboy, "Tung-tunggu, a-apa barusan? Ra-rasanya aneh sekali..."
"Aneh? Kata yang tepat itu nikmat," ujar Boboiboy mengangkat sebelah alis. "Omong-omong ini namanya g-spot, ada beberapa sebutan lainnya sih, tapi pokoknya titik ini peka terhadap rangsangan."
Fang mengangguk mengerti, seolah saat ini mereka berada di kelas tengah belajar dan bukannya di ranjang dengan keadaan telanjang.
"Kau suka rasanya?" Tanya Boboiboy menyeringai samar.
Fang mengalihkan pandangannya dan dengan telinga memerah mengangguk pelan.
Boboiboy tertawa pelan dan menambahkan satu-satu persatu jari sehingga kini berjumlah tiga buah.
Ia keluar masukkan dan melakukan beberapa gerakan menggunting untuk melonggarkan sedikit.
Fang yang berusaha antara menahan dan mengeluarkan suaranya sangatlah menggemaskan di bawah Boboiboy. Walau dia berusaha menggigit bibirnya sendiri, tapi suara itu selalu bisa lolos. Sangat menggoda, Boboiboy ingin mendengarnya lebih.
Tapi Boboiboy terpaksa berhenti saat merasakan kaki Fang bergetar, pertanda kalau dia mau mencapai ejakulasi. Boboiboy keluarkan ketiga jarinya dan menahan kedua paha Fang agar tetap terbuka dengan kedua tangannya.
"Ke-kenapa berhenti?" Tanya Fang malu-malu, menutup sebagian wajah dengan punggung tangannya.
Boboiboy tersenyum, "Simpan tenagamu, kita ke hidangan utama."
"Hidangan utama?"
Fang melotot saat Boboiboy dengan santainya melepas celana dalamnya. Ia cepat-cepat alihkan pandangan sebelum ketahuan memperhatikan.
Sayangnya, menilai dari kekehan tawa Boboiboy, pria tersebut pasti menangkap basah si pemuda yang lebih muda itu.
"Hei," panggil Boboiboy, kini mengukung Fang.
"Ini akan terasa sangat sakit, jadi jangan fokus ke bawah sana," sahutnya menatap dalam manik jernih Fang dengan keseriusan.
Fang yang jarang melihat keseriusan di bola mata yang biasa bersinar jenaka tersebut hanya bisa terpaku. Menahan napas dan mengangguk patuh sebelum Boboiboy menciumnya dengan dalam. Sensual dan membuat jantungnya berdebar.
"Khhh..." Lenguhan dan erangan sakit tercekat di tenggorokan saat Fang merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk.
Boboiboy menautkan jari-jemari pada Fang, mengenggamnya erat sambil membenamkan wajahnya di perpotongan leher Fang. Menahan erangannya sendiri pada betapa sempitnya lubang Fang.
Wajar sih, Fang masih virgin dan ini benar-benar pertama kali untuk mereka berdua. Hanya mengandalkan insting dan pengetahuan seadanya melakukan hal tabu ini.
"Sakit... keluarkan..." pekik Fang meringkuk di bawah Boboiboy, menjadikan pemuda di atasnya berhenti sejenak.
Terdengar isakan kecil. Boboiboy menangkupkan wajah Fang. Ia usap lembut pipinya lalu ia hapus air mata yang mengalir turun melewati pelipisnya.
"Hei, tak apa, aku janji setelah ini tidak akan sakit kok."
Tapi Fang menggeleng. "Sakit..." Lirihnya.
"Maaf, kau ingin kita berhenti sepenuhnya?" Boboiboy bertanya lembut. Ia hujani seluruh wajah Fang dengan ciuman kecil.
Fang diam sejenak. Dia menggeleng kecil. Dia masih penasaran.
"Kalau begitu aku tunggu, kalau sudah tidak sakit katakan saja." Kata Boboiboy lembut. Disambung dengan anggukan kecil Fang.
Sambil menenangkan, Boboiboy menghujani bibir ranum Fang dengan ciuman panas. Guna menghilangkan rasa sakit, juga agar si anak sekolah ini masih terbuai nafsu.
Fang membalas pagutan Boboiboy lemah. Setelah beberapa menit mereka berciuman, Fang menjauhkan bibirnya.
"Uhm... Kurasa sekarang aku sudah siap."
Boboiboy mengangguk dan mulai menggerakkan pinggulnya benar-benar perlahan.
Masih terlihat di ekspresi Fang ada sedikit rasa sakit, namun dengan cepat hilang dan digantikan desahan.
"Haaah... Boboiboy..."
Sampai ketika semua sudah benar-benar di dalam, Boboiboy diam membiarkan Fang terbiasa.
"Bagaimana pendapatmu setelah sejauh ini?" Tanya Boboiboy basa-basi.
Fang diam. Dia membuang mukanya dan menjawab, "Tidak buruk..."
"Hanya itu?"
Fang mengangguk lemah.
"Kalau begitu, mari kita ubah pendapat mu yang satu itu," seringai Boboiboy tatkala ia memundurkan panggul lalu dengan cepat memasukkannya lagi lebih dalam.
"Akh!"
Fang tersentak. Boboiboy melakukan gerakan itu berulang-ulang. Pemuda itu menutup rapat mulutnya tapi Boboiboy dengan segera menyingkirkannya.
"Haaah... Anhh... Hah..."
Boboiboy memejamkan matanya. Hilang dalam ekstasi bersama Fang. Tapi terbuka lebar begitu mendengar lenguhan panjang Fang berubah menjadi jeritan.
Fang mendongakkan kepalanya. Punggungnya membusur tajam ketika Boboiboy menyentuh sweet-spotnya.
Senyum Boboiboy tidak bisa tidak disembunyikan. Dia terus bergerak sambil menikmati keindahan anak di bawahnya. Mendengarkan desahan Fang yang terus memanggil namanya di sela-sela. Membuat nafsu Boboiboy seperti tidak ada hentinya.
Gerakan maju mundur pinggangnya makin cepat dan dalam. Karena Fang sudah tidak lagi merasakan sakitnya, hanya rasa nikmat tak berbendung.
Desahan anak itu tak koheren, tapi sesekali tertangkap jelas kalau dia meminta lebih.
"Ugh..." Boboiboy membenamkan wajahnya ke perpotongan leher Fang dan dengan bibir Fang di dekat telinganya yang mendesah dan meneriakkan namanya, Boboiboy klimaks bersamaan anak itu.
Mereka memilih menyudahi detik itu juga. Boboiboy melihat Fang yang sudah memejamkan mata dan mengatur napasnya.
"Capek?" Dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Fang.
"Istirahatlah." Bisiknya.
Diambilnya tissue dari atas nakas. Dengan cepat dibersihkannya cairan sperma yang ada di perutnya dan yang mengalir di paha Fang.
Setelah itu ia tarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka. Ia pastikan Fang nyaman dan hangat.
Pemuda itu langsung bergulung seperti kucing.
Boboiboy tersenyum geli dan ikut menyamankan diri. Tangannya melingkar di pinggang Fang dan membawa kepala pemuda itu mendekat. Memeluknya dalam dekapan.
...
Boboiboy baru mengantar Fang pulang ketika jam menginjak pukul setengah lima sore. Dia juga membiarkan Fang tidur dalam perjalanan ke Lilies Residence. Tapi Boboiboy berhenti di gerbang masuk perumahan dan membangunkan Fang.
"Lima menit lagi, ma." Erang Fang sangat imut. Pengen Boboiboy bawa pulang lagi.
"Hei, bangun. Kita sudah sampai." Seru Boboiboy menggoyangkan bahu Fang pelan. Memaksa sang anak membuka matanya dan melihat sekitar, "Pulang dan istirahat. Kau besok masih sekolah kan."
"Ugh, ini di depan rumah ku ya?" Tanya Fang sembari mengusap kedua mata.
"Berhenti bertingkah imut, atau kau kuculik," ujar Boboiboy main-main.
Fang mendengus dan membuka pintu mobil. Ketika ingin melangkah keluar ia tersentak.
Boboiboy menariknya masuk kembali dan menciumnya.
Pria itu tersenyum puas saat tautan mereka dihentikan.
"Sampai jumpa besok pagi."
Wajah Fang memerah berat. Dia tanpa pamit langsung keluar mobil dan berlari menuju rumahnya.
Pemuda itu terus berlari bahkan ketika ia menaiki tangga menuju kamar. Mengabaikan Abangnya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Fang, kau kenapa baru pulang?" Teriaknya keheranan akan sikap adiknya yang sudah menghilang ke lantai atas.
"Ugh, ada urusan tadi!" Balas adiknya sebelum terdengar bunyi pintu ditutup dan sesuatu seperti beban berat yang dihempaskan ke kasur.
Kaizo menggendikkan bahunya. Dia kembali membaca tabnya dan sibuk sendiri.
Sementara Fang di kamar berteriak tertahan di bantalnya. Jantungnya berdegup kencang dan rona merah di wajahnya tidak menghilang sama sekali.
"Aaah! Sialan! Jangan bilang aku menyukai si om mesum itu!"
Sehabis mengomel begitu ia membenamkan wajah ke bantal.
Ah, dia harus benar-benar bersiap besoknya ketika bertemu Boboiboy di kereta.
Fang memejamkan matanya. Membayangkan kembali bagaimana ciuman, pelukan, dan perlakuan lembut Boboiboy. Bagaimana tangan besar itu menangkup pipi Fang dan menariknya pada pesona manik coklat ebonynya.
Rasanya seperti Fang melayang di atas langit, mengitari awan-awan yang empuk dan manis.
"Aaaaaaahhhhhh! Stop!" Serunya pada dirinya sendiri.
Sepertinya Fang sungguhan jatuh cinta.
Dia tidak bisa mengelak lagi. Dia sudah kalah dari Boboiboy. Om-om mesum yang mencuri ciuman pertamanya.
…
.
A/N:
Setelah aku ngepublish bagian yang pertama, akhirnya Valky-san lanjut, LoL. Dan habis itu kita malah memperpanjang ceritanya. Bisa jadi banyak banget chapnya.
Bikin cerita ini itu ngebut suasana berubah-rubah mulai dari doki-doki sampai ngerasa bersalah hahaha.
Btw, Valky-san nitip, katanya kasih tau reader kita berdua noob dalam bikin lemon begini (; ^^) jujur aja, ngebuat adegan utamanya serasa diundur-undur mulu. Mungkin karena aneh bikin adegan intim begini bareng orang lain, yah walau aku enjoy banget sih.
Trims reviewnya dari V, Bbplanets, Lean Aviliansa, Rinadesu1, Yuyu arxlnn, dan reader guest, juga Valky-san (iya, dia ngereview karya dia juga wkwkw).
Untuk bagian selanjutnya silahkan ditunggu kalau reader sabar ya ^^
Ciao
Ai & Valky
