Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta

Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Smutt, lemon, Yaoi, Boys Love, dll

Rated: MA (that's mean if you're not comfortable with sexual content, don't read.)

.

.

.

Sudah tiga bulan semenjak Boboiboy dan Fang berkenalan. Dan sudah tiga bulan semenjak mereka melakukan hubungan persetubuhan terlarang itu. Sejak hari itu setiap pagi di hari kerja dan sekolah, Boboiboy selalu duduk di sebelah Fang saat mengendarai kereta. Mengajaknya mengobrol walau disahut dengan sahutan sinis atau judes. Kadang menggemaskan. Kadang juga membuat kokoro Boboiboy sakit.

Tapi tak apa, asal dihadiahi keimutan Fang, maka Boboiboy daijobu.

Kadang juga mereka berdua masih melakukan kegiatan tabu itu. Paling sering di rumah Boboiboy, saat Sabtu dan Fang akan datang sendiri ke rumah Boboiboy. Atau kadang mereka hanya sekedar jalan-jalan keliling kota tanpa melakukan seks. Nonton, ke game center, karaoke, dan masih banyak lagi.

Seperti sepasang kekasih pada umumnya. Walau sebenarnya tidak jelas, seperti apa hubungan mereka yang sebenarnya.

Fang tidak pernah mau mengakui perasaannya. Sedangkan Boboiboy sendiri tidak mendesak. Memang pria itu lebih lepas untuk mengatakan sayang pada Fang.

Biasanya sih dalam bentuk candaan untuk menggoda Fang. Menjahili pemuda itu sehingga pipinya merona merah.

Nyatanya, Fang sendiri sebenarnya tidak membenci candaan itu. Kadang kalau Boboiboy mendadak tidak jahil, Fang yang khawatir. Apakah orang ini sakit? Stres? Banyak pekerjaan? Dan lagi, Fang belum tahu benar-benar seperti apa dunia milik Boboiboy. Yang Fang tahu hanyalah kalau orang ini rekan kerja kakaknya hanya itu.

Kalau sudah begitu, Fang akan menemani pria tersebut seharian di rumah.

Hanya berdiam sambil menonton TV dan minum teh. Fang tidak pandai dalam berkata-kata jika itu menyangkut harus menghibur seseorang.

Tapi diam-diam dia melakukan apa yang menurutnya dapat membantu.

Fang nenghela napas. Dia khawatir. Boboiboy seminggu ini sibuk tidak bisa dihubungi. Kalau dichat isinya hanya balasan singkat, tanda dia sangat sibuk. Fang ingin menemani, tapi kata Boboiboy dia sibuk ada banyak pertemuan yang harus dijumpai.

"Hah..." Fang melemaskan ototnya dan merosot di bangkunya.

"Tumben lesu begitu? Putus sama pacar?" Tanya Sai, teman sebangku Fang, yang sedang menulis catatan.

"Ish, sejak kapan aku punya pacar. Mana ada."

Sai menaikkan sebelah alis dengan sikap skeptis. Jelas-jelas tidak percaya.

"Berhenti menatap ku begitu!"

"Memangnya apa lagi yang membuat mu sibuk tidak menentu akhir-akhir ini? Kau diam-diam pasti punya pacar."

Fang menyikut temannya tersebut lalu kemudian melipat tangan dan membaringkan diri di meja. Dia sudah menyelesaikan catatannya lebih dulu.

"Bener kok, aku gak punya pacar. Yah setidaknya ku pikir begitu," kalimat terakhir dia ucapkan dengan berbisik.

"Kalau bukan masalah pacar, kenapa kau lesu?" Tanya Sai to the point.

Fang diam. Dia menatap keluar jendela lama tanpa menjawab.

"Huh, malah dikacangi." Keluh Sai, kembali menulis di catatannya, "Oh ya, kau tahu kita ada guru matematika yang baru."

"Tak." Jawab Fang singkat.

"Aku tadi lihat lho, namanya Ying."

"Ohh..."

"Kau ini, tertarik sedikit gitu lho. Guru cewek lho." Seru Sai.

"Cih, gak mesti kan?" Balas Fang malas. "Lagian itu guru kita, gak boleh dipacarin," lanjutnya dan membuat Sai mengerucutkan bibir sebal.

"Harus kamu mematahkan semangat orang kayak gitu?" Gerutunya.

"Aku bicara fakta." Jawab Fang, gak sadar diri mengencani orang yang lebih tua.

"Yahh, padahal yang lebih tua lebih jago di ranjang."

Fang langsung batuk darah.

"Astaga, aku bercanda doang Fang," seru Sai menepuk-nepuk punggung kawannya.

"Apa-apaan sih candaan mu itu Sai!" Sergah Fang menyingkirkan tangan Sai. Tepukannya sama sekali tidak membantu.

"Dih, dasar anak polos, gak bisa dengerin candaan mesum dikit doang," ledek Sai yang kembali pada catatannya.

Fang diam. Ledekan Sai benar-benar salah. Fang sudah tidak sepenuhnya polos. Andai temannya itu tau apa yang sudah pernah ia lakukan, dipastikan Sai pingsan mendengarnya.

Bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi nyaring. Kelas segera dimulai dan pelajaran pertama adalah matematika. Seperti apa kata Sai, guru baru itu datang. Seorang gadis imut dengan kacamata besarnya.

Namanya Ying, guru matematika yang sangat ceria dan kadang bicaranya terlalu laju. Umurnya masih dua puluh tahunan dan dia single. Para siswa langsung bersorak (kecuali beberapa termasuk Fang).

Ying mengabsen satu per satu murid sambil mengingat nama mereka. Dan ketika sampai di nama Fang, Ying diam sejenak. Dia seperti berpikir lama. Lalu memanggil nama Fang.

Tentu yang dipanggil mengacungkan tangannya, tempat duduknya di bangku tengah dekat jendela. Dengan ekspresi polosnya membuat Ying hampir berteriak.

'PACARNYA BOBOIBOY!'

Fang memiringkan kepala heran ketika Ying sempat berhenti lama memperhatikannya sebelum kembali melanjutkan absensi. Tapi dengan segera mengenyahkan kebingungannya.

Kelas dimulai dengan santai. Tidak ada pelajaran karena Ying ingin lebih dekat dengan murid-muridnya. Bahkan mereka mengambil foto selfie.

"Panggil aku Cece aja ya." Seru Ying pada satu kelas dan disahut disetujui oleh semua.

"Ce, nak follow IG." Seru salah satu siswi.

"Boleh." Ying pung menuliskan idnya di papan tulis. Semuanya mulai mengfollow. Termasuk Fang karena dia penasaran dengan keseharian gurunya.

Matanya langsung membulat sempurna melihat wajah familiar yang ada di foto-foto yang diunggah Ying

Selain foto selfie sendiri dan bersama seorang gadis berhijab pink, ada beberapa fotonya juga berempat. Ada dua orang pria tambahan di sana.

Satunya berkulit gelap dan sepertinya keturunan India. Satunya lagi jelas Melayu, dengan wajah tampan dan cengiran lebar ramah.

Ekspresi horor jelas tercetak di mimik Fang. Dia memegang hpnya seakan itu benda paling keramat yang pernah dia pegang. Namun harus dipastikan keyakinannya. Dia terus menggulir foto-fotonya sampai…

"Ce! Ini yang rambutnya ada putihnya siapa? Ganteng!" Seru salah satu sisiwi antusias, dan itu menarik perhatian satu kelas.

"Oh itu salah satu sahabat Cece, namanya Boboiboy," jelas Ying kalem namun matanya sesekali tak kentara memperhatikan gelagat Fang.

"Udah punya pacar belum ce?" Sahut beberapa siswi. Para siswa memutar bola mata, menatap sebal.

Ying menyeringai samar saat melihat wajah Fang yang pucat.

"Hm, gimana ya... Katanya emang lagi deket sama seseorang tuh."

"Ohh, kenalin dong ce. Sekalian ajak ke sini." Usul salah satu siswi. Fang mendengar itu langsung batuk darah lagi.

"Eee, aku gak bisa. Tapi kapan-kapan aku ajak ke tempat dia. Tapi biaya tanggung sendiri ya." Usul Ying.

"SETUJU!"

"Huuu~" para siswa laki-laki langsung berseru mencemooh. Yang tentu saja dibalas sewot oleh para siswi.

"Sudah, jangan ribut," ujar Ying menenangkan. Mereka melanjutkan obrolan, seputar kehidupan Ying yang ditanyakan oleh beberapa teman sekelasnya.

Fang menghela nafas lega.

Fang jadi menekan foto Boboiboy. Ada tag di sana. Dia pun menekannya lagi dan langsung ke akun Boboiboy yang ternyata tidak di private. Dan fotonya kebanyakan foto tempat kerja.

Fang lagi-lagi terbatuk darah lagi sampai parah.

"Fang! Kau kenapa?!" Pekik Sai kalang kabut mengusap punggung Fang.

Fang melambaikan tangannya tanda tidak apa-apa, "Tersedak angin." Jawabnya singkat.

"Ha?"

'Sial, dia pemilik kafe Kokotiam yang terkenal itu?!'

Kafe terkenal yang sudah membuka beberapa cabang.

Fang sendiri merupakan penggemar cokelat panas kafe tersebut.

'Sialan kau Boboiboy, aku palak baru tahu rasa dia.' Batin Fang mengancam. Dia kembali menggulir foto di akun Boboiboy.

Nampak di sana foto Kaizo dan Boboiboy juga. Duduk dengan beberapa hidangan mengobrol.

Keringat dingin menetes tanpa sadar di pelipis Fang.

Bagaimanapun, hubungannya dengan Boboiboy dirahasiakan dari sang Abang. Kalau sampai ketahuan Abangnya pasti mengamuk.

Jelas mampus sih.

Apalagi kalau ketahuan mama papanya. Hancur sudah nyawa Fang.

Pasrah lah pada tuhan yang maha esa bagaimana nasib dirinya ini.

...

"Apakah..." Fang hanya bisa melongo melihat Boboiboy datang ke sekolah menemui Ying. Walau dirinya hanya di koridor sekolah, tapi suara teriakan para siswi sudah memekakkan telinga.

"Wah, ce, ini sahabat Cece itu ya?" Pekik beberapa teman sekelasnya yang perempuan. Segera mengerubungi Ying serta Boboiboy.

Ying terkekeh pelan, menggeleng melihat kelakuan muridnya. "Iya, tapi Cece pamit sebentar, ada urusan ya..."

"Yah, ce..." keluh para siswi.

Ying melambaikan tangannya pada para murid. Sementara Boboiboy melirik sekilas pada Fang yang hanya memasang tampang bodohlucubodohnya itu.

"Jadi kau gurunya?" Tanya Boboiboy basa-basi setelah mereka jauh.

Ying mengangguk. "Saat melihat namanya di absen aku kaget, dan setelah kulihat wajahnya, dia sama persis seperti yang ada di foto yang kau perlihatkan."

Ying menggelenglan kepala pelan. Wajahnya menyiratkan ketidak percayaan. "Kau benar-benar keterlaluan memacari anak sekecil itu."

Boboiboy mengerucutkan bibirnya. "Yah, habisnya dia imut sekali sih! Kau pasti setuju kan."

Ying mendelik padanya. "Dia memang manis, tapi kan aku tidak akan pernah memacari anak sekecil itu."

"Jodohmu gak kelihatan sih."

Bokong Boboiboy langsung ditendang keras oleh Ying.

"Adu, ampun." Keluh sang korban mengusap pantatnya.

"Baru tahu rasa."

"Eh, jangan kasar-kasar dong Ying, ini aset penting tau!" Protes Boboiboy.

Ying mencemooh. "Penting cuman buat nidurin anak orang aja."

Boboiboy meringis mendengar hinaan sahabatnya. "Ah, penting dia mau."

"Hah..." Ying memutar bola matanya kesal, "Oh ya, Kaizo tahu tak kalau kau pacaran sama Fang?" Bisik Ying mendekat.

"Tidak. Dia tahu, mati aku."

Ying tertawa. "Benar juga ya, Kaizo kan kakak yang protektif. Mana boleh sama dia adiknya pacaran. Oh iya, omong-omong kau ada perlu apa sampai menemui ku ke sini segala?"

"Ah, itu..." Boboiboy mulai membicarakan soal bisnis. Termasuk acara sponsor yang melibatkan sekolah ini. Topik yang tidak bisa dipahami anak SMA pada umumnya.

Fang yang menguping pun tak paham mereka membahas apa.

"Bam!"

Fang terlonjak kaget begitu seseorang menepuk punggungnya dari belakang.

"Hayo, ngapain kamu ngendap-ngendap begitu?" Selidik Sai.

"Sai!" Desis Fang berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu.

Sai mengabaikan pelototan Fang, dan mencoba melihat dari balik bahu pemuda berkacamata itu.

"Ngapain kamu ngintipin Cece Ying sama temennya? Bukannya bilangnya kemaren gak penasaran?"

"Eee..." manik ungu Fang bergerak gelisah, "cuma..."

"Cuma apa hayo? Naksir ya sama Cece?" Goda Sai, lengan Fang disikut jahil dan didapati hanya wajah datar Fang.

"Bukan."

"Ehh, lalu kenapa?" Tanya Sai.

Fang diam. Dia mengintip Boboiboy dan Ying yang duduk bersebalahan. Berkutat dengan satu tab dan pundak mereka terlihat bertubrukan. Hati Fang terasa terbakar sesuatu rasanya.

"Hu uh! Pokoknya bukan!" Seru Fang sambil buru-buru pergi. Meninggalkan Sai yang melongo.

"Itu anak kenapa sih?"

Fang menuju kantin. Memilih membeli selusin donat lobak merah untuk menghilangkan rasa kesalnya yang entah datang dari mana. Membuat Sai hanya menghela napas bingung pada sifat temannya yang terlampau aneh ini.

Tanpa diminta, Sai memilih duduk di sebelah Fang dan berujar lembut, "Mau cerita?"

Fang melirik sejenak. Dia lalu menelan kunyahannya dan menatap donatnya lama.

Sai menunggu sabar Fang yang tampak berpikir panjang. Semakin lama ia berpikir malah membuat Sai makin penasaran. Kentara sekali bagi Fang hal ini terlalu pelik untuk diungkapkan.

"Ingat aku pernah cerita soal orang yang sering menggangguku di kereta?"

Sai mencoba mengingat sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, lalu?"

"Orang itu Boboiboy."

"Ohh, kakak rambut putih itu?"

Fang mengangguk.

"Lalu..."

Sekali lagi Fang menunduk dalam. Dia memakan donatnya dulu berpikir kata-kata yang tepat untuk diutarakan. Baru kemudian menatap Sai dengan mata berkaca-kaca, "Rasanya sakit..."

"Eh?" Sai gelagapan melihat Fang mau menangis mendadak. Dia hanya bisa mengusap rambut Fang sambil bergumam harus apa dia sekarang? Fang ceritanya gak jelas.

"Eh, dia gangguin kamunya parah banget?" Sai mencoba mencari tahu titik masalah sampai temannya menangis gini.

Fang menggeleng.

"Lha terus?"

"Aku.. sama dia..." Fang menunduk berbisik sangat pelan. Sai harus mendekatkan telinganya sampai mempertipis jarak antar mereka.

"Kamu kenapa?" tanya Sai mengulang.

Bibir Fang mengatup rapat. Dengan suara serak dia menjawab, "Aku... naksir... sama dia..."

Sai diam. Sepertinya gagal mencerna ucapan sahabatnya.

"Bentar, bentar, naksir? Temennya Cece Ying?!" Sai mengulang pertanyaan. Nada suaranya naik satu tingkat di tiap pertanyaan lain diajukan.

"Bukannya kau bilang kau kesal padanya karena selalu mengganggumu?"

Fang mengangguk lemah. "Iya, tapi sebenernya aku belakangan ini jalan sama dia."

Mulut Sai langsung menganga lebar. Dia membatu atas fakta mengejutkan. Fang, dengan om-om ikemen inceran anak sekolah, temannya cece Ying, jalan, akhir-akhir ini. Banyak sekali informasi yang masuk sampai RAM otak Sai mau pecah rasanya.

"Anu, Sai?" panggil Fang menyadarkan temannya ini.

"Fang kau sehat?" Sai bertanya dengan raut serius.

Fang hanya membalas dengan anggukan bingung. "Sehatlah, buktinya kan aku hari ini sekolah."

"Bukan itu maksudku!" Seru Sai frustasi mengacak rambutnya.

"Kau jalan. Dengan cowok. Yang rentang usianya jauh darimu." Sai menekankan setiap poin ucapannya.

Fang diam menunduk.

"Abang mu tahu?"

Fang mendengus. "Mati aku kalau dia tahu." Sai mengangguk. Dia paham sekali betapa posesif Abangnya Fang itu. Dia pernah jadi korban soalnya.

Kerja kelompok gak nyaman soalnya terus diawasi Kaizo. Padahal juga cuma temen dan itu belajarnya di ruang tengah. Abang posesif nyebelin, untung dirinya tidak semacam itu. Kasihan nasib Fang.

"Dan tadi pas aku lihat bahu Cece Ying sama Boboiboy bersentuhan rasanya..." Fang meremas area dada kirinya, di mana jantung kirinya berada, "sangat sakit."

"Fang..."

"Aku tidak mau mengakui ini sebenarnya. Tapi, aku benar-benar menyukai Boboiboy sejak tiga bulan lalu."

"TIGA BULAN LALU?!"

Fang menginjak kaki Sai keras-keras di bawah meja kantin supaya temannya itu berhenti berteriak. Ia cepat-cepat melirik sekitarnya. Untung penghuni kantin sedang sibuk dengan makanan masing-masing atau terlalu heboh bicara dengan teman-temannya.

"Iya, soalnya..."

Sai mengusap sepatunya, sumpah injakan Fang mematikan sekali. Gak ngaca apa kalau sepatu yang Sai pakai hari ini tipis banget. Fang sialan.

"Soalnya apa?" tanya Sai sewot.

Fang melirik ke arah lain dengan pipi bersemu merah, "Itu, dia..."

"Kami emang gak pacaran, tapi..."

"Tapi?"

"Tapi..."

"Tapi apa sih?! Dari tadi tapi-tapi mulu!" Sai mulai merasa kesal.

"Ah! Ngomongnya susah tau!" Fang balas nyolot.

"Tinggal ngomong doang sih Fang!"

Setelah acara saling sewot, keduanya menenangkan volume suara. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.

"Aku udah beberapa kali tidur sama dia..." Cicit Fang.

Otak Sai korslet. Ia hanya memandangi temannya dengan mata kosong.

"Tidur nginep? Cuma tidur doang?"

"Lebih dari itu."

"Tidur... tidur main game?"

"Kadang sih, tapi bukan."

"Tidur acara kau dititipkan?"

"Kau kira aku masih TK?"

"Jadi, tidur..."

"Ya, tidur itu."

"Yang begitu begitu?"

"Iya, begitu begitu."

"Yang sampe wik iwik itu?"

"Eeee, iya?"

"Fang."

"Ya."

Fang mendadak dipeluk Sai erat, dan itu pun Sai menangis kencang, "Kasihan fansmu, Fang! Kasihan! Kamu gak mikir bagaimana perasaaan mereka apa?!"

"Eehhh?"

Semakin banyak mata yang memperhatikan mereka dan Fang risih dibuatnya. Bukannya Fang benci jadi pusat perhatian, tapi kalau beginikan malu-maluin juga.

"Ih, apasih Sai," ujarnya mendorong Sai menjauh.

"Ya habis, mereka udah ngejar-ngejar kamu lama, eh taunya kamu malah pacaran sampe sejauh itu sama om-om, iya sih gak tua-tua amat emang," timpal Sai, sudah balik ke karakternya lagi.

"Bukan kehendakku juga sebenarnya." balas Fang, duduk agak menjauh dari Sai, "Ya, nasi sudah jadi bubur. Keluargaku tahu, mungkin aku cuma diusir dari rumah."

"Cuma katanya."

Fang menunduk, "Mati aku rasanya sekarang."

"Menyesalnya baru sekarang lagi."

"Terus aku harus gimana?" Rengek Fang.

"Putus?" Saran Sai. Yang memberi saran sendiri seperti ragu.

"Argh! Kenapa tiba-tiba memikirkannya jadi rumit begini?!" Ketua Fang gusar mengacak rambutnya yang memang sudah dari sananya berantakan.

"Eeeee..."

Detik itu juga suara bel tanda jam istirahat selesai. Terpaksa Fang mengemas donat lobak merahnya dan memakannya sambil jalan. Sementara Sai menghela napas lega terselamatkan dari cenkraman masalah asmara Fang yang aneh bin ajaib.

"Tapi kalau diingat, banyak cowok yang naksir kau sih." ucap Sai tiba-tiba.

"NANI?!"

"Lho, kau gak tau?" Sai mengangkat sebelah alis.

"Yang biasa ngasih kamu bunga diam-diam itu kalau hari ultahmu atau valentine itu banyakan cowok tau," jelas Sai.

"Kok bisa?!" Shock Fang.

"Bisa lah, kata mereka kamu manis, kalau gak lagi judes," sahut Sai, menyempatkan diri untuk meledek temannya.

Fang berhenti. Kebetulan di sebelahnya ada kaca dan dia bercermin di sana meneliti wajahnya, "Ganteng gini dikata manis."

"Jelek gitu dikata ganteng."

Sai langsung dapat delikan tajam dari Fang.

"Oke oke, ganteng."

Akhirnya mereka memasuki kelas dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

Jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Keduanya memperhatikan pelajaran yang diterangkan guru.

Sampai hari berlalu dan bel pulang sudah berdering. Keduanya membereskan peralatan menulis ke dalam tas.

"Fang, pulang bareng?" Tanya Sai menyelempangkan tas ke bahu.

"Oke."

"Mau mampir dulu gak? Cari minum atau jajanan lain."

"Boleh," jawab Fang dan mereka sama-sama melangkah keluar kelas. "Mau jajan apaan?"

"Mau minum coklat panas nggak?"

Mendengar kata cokelat panas mengingatkan Fang pada Boboiboy dan seketika dia merasa kesal tanpa alasan.

"Enggak mau."

"Kalau gitu kita ngehalte gimana?" tanya Sai, yang dimaksud adalah tempat jualan jus yang biasa menjadi tempat nongkrong anak-anak sekolah Fang dan Sai.

"Oke kalau gitu." balas Fang.

Mereka begitu keluar kelas mendapati para siswi bergerumbul di ruang guru, melihat Boboiboy di sana agak kuwalahan untuk keluar. Dia meminta bantuan Ying tapi malah diketawakan.

"Femes ya dia."

"Ayo." Seru Fang berjalan begitu saja tanpa menoleh pada Boboiboy. Pipinya yang membentuk bakpau benar-benar menggemaskan.

Sebenarnya Boboiboy ingin menyusul hanya saja ia masih ditahan para siswi yang mengajaknya mengobrol. Ia layangkan pandangan memohon pada sahabatnya yang pasti mengerti kalau dia ingin mengejar Fang, tapi Ying pura-pura tidak lihat.

Boboiboy menghela napas. Setelah sibuk, dia harus ditawan para siswi, dan Fang sama sekali tidak menatapnya. Cobaan apalagi yang harus dihadapi Boboiboy sekarang?

Telepon Boboiboy terasa berdering. Dia secepatnya mengeluarkannya dan mendapati kalau yang menelpon adalah ayahnya.

"Maaf ya, aku harus pergi." ucap Boboiboy terpaksa menerobos para siswi sampai keluar baru mengangkat telepon dari ayahnya. Pasti ada pertemuan lain di salah satu tempat. Boboiboy harus cepat.

Boboiboy mengangkat teleponnya sambil melirik Fang yang menuju gerbang sekolah. Temannya berusaha untuk menyusulnya karena Fang berjalan dengan cepat sampai temannya kewalahan mengejar.

"Halo, Yah, ada apa?"

"Kau di mana? Tiga puluh menit lagi rekan kerja kita datang." tanya Amato langsung ke inti topiknya.

"Masih di sekolah, aku ditahan tadi." jawab Boboiboy. Dia mengeluarkan kunci mobilnya dari sakunya.

"Ya sudah, cepat."

"Iya, iya." Boboiboy menutup teleponnya secara sepihak. Dia berlari mendekati Fang dan mengacak rambutnya sekilas. Berbalik sejenak melambaikan tangannya pada Fang, lalu berlari kencang menuju mobilnya yang diparkirkan agak jauh.

Sai sempat melihat Boboiboy yang melambai ke arah mereka namun sahabatnya pura-pura tidak tahu.

'Beneran pacaran kayaknya,' batin Sai yang masih berusaha menyeimbangi kecepatan langkah Fang. Pemuda itu baru memperlambat langkahnya saat mereka mendekati tempat yang biasa mereka sebut Halte.

Fang memesan sebuah jus wortel seperti biasanya sedangkan Sai memilih jus jeruk.

"Tadi Boboiboy kayaknya mau bicara sama kamu deh Fang, kok dicuekin?"

"Biarin, dia emang pantes dicuekin." balas Fang. Mereka berdua mengambil duduk di bangku dalam bagian tengah.

"Aku kira kalian dekat banget."

"SIAPA JUGA YANG MAU DEKAT DENGAN SI BRENGSEK ITU?!" Amuk Fang tiba-tiba. Dan itu membuat Sai hanya bisa menghela napas lelah. Tsunderenya kambuh.

'Padahal sendirinya udah jalan 3 bulan,' gumam Sai dalam hati.

"Kau itu kenapa sih moodnya jelek sejak istirahat tadi?" Tanya Sai mengamati kawannya yang memutar sedotan dengan kasar.

"Nggak kenapa," jawab Fang pendek dan datar.

"Kamu cemburu?"

Fang tersedak jus wortelnya. "Uhuk, uhuk," Fang memukul dadanya, Sai membantu dengan menepuk punggungnya.

"Sembarangan, siapa bilang aku cemburu?!" Elak Fang.

Sai mencibir. "Kelihatan tahu, kau kesal ngeliat Cece Ying ngobrol sama Boboiboy, terus juga tadi kau sempat nangis."

Muka Fang memerah malu diingatkan soal yang terakhir.

"Sialan kau, Sai." Umpat Fang singkat.

Sai berkacak pinggang dan menyengir bangga, "Tapi kalau emang naksir, akui saja. Gak usah malu-malu."

"Ukh, itu..." Fang memanyunkan bibirnya imut, minta disosor dia.

"Itu apa?"

"Aku... gak punya nyali..."

"Udah gituan tiga bulan dan kamu bilang gak punya nyali?!" Sai menjitak temannya gemas.

Fang balas dengan berusaha menendang tulang kering Sai, namun pemuda itu lebih cepat berkelit.

"Bilang aja 'Aku suka kamu dan gak mau kamu mesra sama orang lain', gitu aja apa susahnya?" Sambung Sai santai.

Fang mendelik padanya. "Gak segampang omong doang. Kamu aja gak pernah serius pacaran jadi jangan sembarangan."

Sai menggedikkan bahu dan menyeruput kembali jusnya. Fang benar, dia tidak pernah serius suka dengan seseorang. Selama ini ia hanya menerima beberapa gadis yang menyatakan perasaannya kalau ia sendiri lagi kepingin pacaran. Nanti kalau putus dia tidak punya patah hati apa-apa.

"Kaya kau pernah pacaran saja." Balas Sai.

Fang tertusuk tombak rasanya.

"Lagipula hubungan kalian apa? Sugar daddy sama sugar baby?"

"Sugar daddy? Sugar baby?" Tanya Fang memiringkan kepalanya tidak paham

Sai tepok jidat, "Polos banget ini anak."

"Jelasin aja napa sih? Toh, kayaknya emang gak umum didenger deh istilahnya," protes Fang manyun.

Sai menghela napas panjang. Ia berpikir sebentar, mempersiapkan penjelasan yang hendak diutarakan pada temannya yang tetap aja bisa polos begini padahal pacaran sama om-om mesum.

"Sugar Daddy itu kayak pria kaya yang bayarin kebutuhan hidup seseorang yang jadi teman kencannya, yang itu namanya sugar baby," sahut Sai, memperhatikan ekspresi kawannya. Memastikan pnjelasan pendeknya dapat dimengerti.

"Kayaknya nggak deh."

"Terus kalian apaan? Semacam fuck buddies?"

"Apalagi itu?" Tanya Fang lagi.

Sai kalah, dia menyerah. Temannya ini polosnya kebangetan. Sai angkat tangan, "Kau google saja."

"Okee?" Fang mengeluarkan hpnya dan mulai menjelajahi apa itu sex buddies. Awalnya wajahnya datar saja. Tapi makin lama makin memerah dan dia menatap Sai dengan mata berkaca-kaca. Tidak bisa mengekspresikan sekacau apa dia sekarang.

"Huh? Fang? Kau kenapa nangis?" Sai mendadak panik.

"Kalau emang aku sekedar sex buddy, gimana dong?" Ratap Fang melas. Isakan kecil lolos dari bibirnya yang makin membuat Sai kelabakan.

Dia bisa diamuk massa karena disangka membuat nangis anak orang. Kalau sampai Kaizo tahu dan salah paham entah apa nasibnya.

"G-gak bakal kok. Bu-buktinya dia gak selalu mengajakmu kan?" Ucap Sai menenangkan.

"ITU ARTINYA DIA KENCAN DENGAN ORANG LAIN?!" Pekik Fang pesimis sangat.

Sai menginjak ranjau. Apa yang harus dia utarakan.

"Aku yakin kok! Kan Cece tadi bilang dia gak punya pacar," buru-buru Sai menyahut.

"Tapi katanya lagi deket sama seseorang!"

"Mungkin maksudnya kamu kali."

"Mungkin juga orang lain kan!"

Sai memijit pangkal hidungnya, pusing dengan Fang yang sedari tadi mendebat semua ucapannya.

"Kalau kamu khawatir Fang, kamu bisa langsung tanya sama orangnya," saran Sai berusaha menangkan diri. Entah kenapa lama-lama dia kebawa kesal sama tingkah anak itu.

"Tapi gimana kalau ternyata emang gitu?" Gumam Fang membenamkan wajah ke tangan yang dilipat di atas meja.

Sai mengambil hp Fang dan mencari kontak Boboiboy, "Kita hubungi saja ya dia."

"JANGAN!" Pekik Fang berusaha meraih hpnya. Tapi dijauhkan oleh Sai.

"Mana ya. Ah ini dia." Sai langsung menekan tombol dial dan menyerahkan begitu saja ke Fang.

"Oi!" Fang terpaksa menerima hpnya yang sedang menyambung hubungan ke Boboiboy.

"Awas kalau dimatiin!" ancam Sai melihat jari Fang bermain-main di atas ikon untuk memutus sambungan.

Fang meringis. Dengan muka mengancam seseram itu, kalau Sai bilang dia bakal tega matahin jari Fang, Fang percaya.

"Hallo?"

Fang tersentak mendengar suara di seberang.

Fang meneguk ludah. Dia mendekatkan speaker hpnya ke telinga kanannya. Jangan lupakan Sai yang mendekatkan telinga kirinya ke hp Fang juga, "Ha-Halo."

"Fang? Ada apa mendadak nelpon?" Tanya Boboiboy.

"Uhh, k-kau sedang di mana?" Tanya Fang malu-malu.

"Di jalan."

"Ohh, i-itu..."

"Hmm?"

"Ada yang mau kutanyakan," Fang melirik Sai yang mengisyaratkannya untuk terus bicara.

"Tanya saja," sahut Boboiboy ringan.

"Soal kita..." Fang meneguk ludah. Ah, rasanya kata-kata itu memalukan, padahal tadi saat membicarakannya dengan Sai tidak separah itu.

"Apa... Aku ini... Cuman fuck buddy?" Lirih Fang bertanya. Jantungnya berdegup kencang dan ia meremas ujung kemeja seragam yang ia kenakan.

"Darimana kau mendapatkan kesimpulan seperti itu?" Tanya Boboiboy, nada biacaranya terasa berbeda. Dalam dan mengerikan.

"A? A-aku, ba-baca di internet..." balas Fang gelapan. Dia entah kenapa merinding.

"Fang."

"Uh, y-ya?"

"Camkan ini baik-baik."

Fang meneguk ludah. Dia meremas area jantungnya dan memejamkan matanya erat. Siap menerima segala macam jawaban yang Boboiboy utarakan. Entah itu menyakitkan atau membuatnya berbunga.

"Don't ever said that word again." Titah Boboiboy, "and don't ever think about that."

"Huh?" Kini Fang keheranan. Diliriknya Sai yang memasang wajah terperangah.

"Kenapa?" Tanyanya tanpa pikir. Jantungnya berpacu untuk alasan lain kali ini.

Terdengar helaan napas di seberang. "Aku gak mungkin menganggap kamu cuman friends with benefit aja Fang. Kamu lebih dari itu."

Fang berpikir. Benefit? Keuntungan? "Memang kau untung apa?"

Terdengar helaan napas kasar dari Boboiboy, "Kita bahas lain waktu saja. Aku ada rapat dulu. Bye. Love you, honey." Boboiboy memutus sambungannya.

"Honey..." Sai merinding disko.

Fang melongo menatap hpnya. Wajahnya terasa panas. Ucapan terakhir Boboiboy entah harus membuatnya senang atau malu.

"Betewe, udah jelaskan kalau kecemasan kamu gak perlu," balas Sai santai. Entah bagaimana caranya bisa cepat pulih, seolah tidak mendengar penutup ucapan oleh Boboiboy.

Fang mengangguk kecil.

Mungkin hanya keparnoan Fang yang tidak berarti. Boboiboy tulus menyukainya, bahkan pakai cara nekad. Fang tidak perlu khawatir lagi.

A/N:

Buat yang nunggu lemon lagi, lemonnya ada kok kami tulis, cuman ya kami juga suka buat ngembangin cerita dan karakter. Cerita ini rasanya loncat-loncat dari smutt ke romcom ke drama ke sweet dan gitu terus (; ^^)

Makasih udah baca dan review, V, arlyn. xie, guest (kasih nama dong biar aku bisa nyapanya lebih akrab ^^), Bbplanets (kamu bikin BoiFang di wp judulnya Sorry kan? Lanjut dong... Deskripsi ficnya bikin tertarik dan idenya menurutku bagus ^^).

Omong-omong makasih juga dukungannya, Kuroaya69, XieLeixue, Virgo Takao 14, Vann Cafl, choco19, Valky-san.

Aku mau ngutarain pendapatku karena kemarin aku diem aja, entah dia baca atau nggak.

Maaf ya, hidupku udah buruk dan ketimpa masalah sejak aku kecil, jauh sebelum aku kenal fanfic dan yaoi. Tapi sekalipun aku gak pernah nge-share aku depresi, karena aku selalu nemuin alasan buat hidup dan berbagi kebahagian. Aku bener-bener nggak perlu kamu ngedoain yang buruk-buruk lagi karena apa yang kualami udah cukup berat.

Jangan sekalipun bilang fic yang seperti ini sampah, jorok dan otak kami otak hewan. Banyak author yang belajar keras gimana cara nulis yang baik, memperbaiki EYD dan juga belajar cara pengembangan cerita yang benar, ngebilang fic mereka sampah cuman bilang usaha keras mereka juga sampah. Pernah baca ficnya Verdennia atau Kira Desuke? Mereka bisa bikin anak jurusan sastra iri dengan fic mereka, dan mereka beberapa kali bikin fic yaoi rated m.

Maaf ya, keluarga dan teman-temanku tahu hobiku ini. Dan mereka menerima aku apa adanya. Kamu nggak bisa bilang kalau aku bakalan bikin malu ortu ku. Kamu pernah harus mandiin mereka? Masangin baju mereka? Nyuapin mereka? Aku udah lakuin itu bertahun-tahun. Kamu pernah harus relain mimpi dan kesempatan diterima di salah satu universitas terbaik untuk tetap tinggal dan ngurus keluarga? Aku yakin apa hobiku ini gak bakalan ngerubah sayang ortuku.

Aku dari kecil diajari cara ngomong yang sopan jadi aku nggak bisa nerima perbuatan kamu yang ngeklik cerita yaoi rate m buat dihina. Kami tau kamu juga ngelakuin hal yang sama ke author lain. Kami nggak nyesatin orang, filter ffn itu udah default ratingnya K-T, kami ngasih warning di setiap chapter, jadi kalau bukan mereka sendiri yang nyari dan pengen, mereka gak bakal baca.

Dan tolong panggil Valky-san dan Kuroaya69 dengan bener. Jangan menghina. Kamu gak kenal mereka. Valky-san orang yang udah bimbing aku gimana buat ngebenerin tulisannku dan ngembangin cerita dengan lebih terproses dan realistis. Valky-san orang yang baik dan juga menyenangkan. Dan aku tahu seberapa care-nya Kuroaya69 dengan teman-temannya. Seperti apa yang kak choco19 bilang, yang lain marah dan ngebela bukan karena tersindir atau piktor, tapi karena kami berteman baik dan kenal seperti apa kepribadian sebenarnya yang lain.

… lha, kan, jadi ceramah kepanjangan. Maaf kalau reader lain merasa terganggu atas note terlalu panjang ini :)

Bagi yang mau liat-liat fanart Boboiboy boleh tuh liat twitter Valky-san, Valkyrie Ai, dan bagi yang berminat untuk bergabung dengan grup WA Fanfiction Addict bisa PM aku nomor kalian atau lihat linknya di profil Wattpad ku, Ai_and_August_19.

Ciao..