Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta

Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Smutt, lemon, Yaoi, dll.

.

.

.

Boboiboy mulai lebih rileks ketika rekan kerja mereka pergi. Meninggalkan dirinya hanya dengan sang Ayah semata.

"Jadi kapan Ayah bisa ketemu calon?"

Ucapan itu dikatakan dengan nada acuh tak acuh. Tapi Boboiboy dibuat beku karenanya.

"Maksud Ayah?"

"Kamu gak bisa nyembunyiin sesuatu dari orang tua kamu Boboiboy."

"Eeee," Boboiboy mulai pucat pasi, "kapan-kapan?"

"Besok ya."

"Eeehhh?" Boboiboy mati kutu rasanya.

"Jangan mendadak begitu dong Yah!" Protes Boboiboy.

"Ayah tahu kamu gak pacarannya kemarin kok," balas sang Ayah mengabaikan protes sang anak.

Boboiboy mengerang. "Masalahnya bukan itu, Yah!"

Boboiboy menghela napas, "Dia sibuk, Ayah. Aku juga sedang sibuk. Jadwal berbenturan. Walau dia libur, aku enggak."

"Ya itu resikomu."

Perempatan imajiner terbentuk, Boboiboy ingin mensleding tampang ayah tercintanya.

"Kan Ayah sudah bilang, Ayah bisa mengatasinya."

"Dan siapa yang di menit-menit terakhir malah menyeretku begitu saja."

Amato hanya bersiul sambil asik mengagumi interior rumah makan yang mewah ini.

"Ayaaahhh..."

"Ya udah, kalau gak bisa besok gak apa-apa, tapi harus secepatnya," balas Amato akhirnya.

Boboiboy mengangguk. Tersenyum masam. Dalam pikiran mulai pusing, bagaimana bicara dengan Fang untuk bertemu Ayahnya, lalu, apa reaksi Ayahnya nanti mengetahui identitas pacarnya.

Semoga bukan "FBI! OPEN UP!", mampus Boboiboy nanti.

"Ayah habis ini mau ke mana? Aku langsung pulang istirahat." Tanya Boboiboy meraih tasnya.

"Ibumu mengajakmu makan malam bersama. Pulangnya bareng Ayah."

"Mobilku bagaimana?"

"Tinggal."

Tangan Boboiboy mengepal. Njotos Ayah sendiri durhaka gak?

"Gak mungkinlah Yah, aku bawa mobilku aja deh ke sana," desah Boboiboy mulai lelah menghadapi Ayahnya sendiri.

Amato tertawa kecil. Dia memanggil pelayan untuk membayar makan mereka. Kemudian pergi berdua berdampingan.

..

..

Boboiboy melambaikan tangan lewat jendela samping mobil pada Ibunya. Semalam dia diminta menginap oleh sang Ibu. Boboiboy mengiyakan permintaannya. Jadi pagi ini Boboiboy balik ke kediaman yang ia huni sendiri.

Dia tidak sempat menghubungi Fang. Tapi juga masih lelah. Sekitar jam dua nanti dia harus keluar lagi mengurus sponsor dengan beberapa perusahan. Terutama dengan antar sekolah perihal sponsor animasi untuk anak-anak.

Boboiboy membenamkan wajahnya di bantal. Dia biarkan tubuhnya rileks tanpa niat mengganti bajunya.

Boboiboy membiarkan diri untuk tidur sebentar. Satu jam sebelum urusannya harus dimulai ia bangun kembali dan segera bersiap.

Ia mengendarai mobilnya untuk menemui para sponsor di tempat yang sudah mereka jadwalkan.

Kebetulan tempatnya di cafe Glacier, tempat dirinya dan Fang dulu bertemu. Di sana Boboiboy tiba dan bersalaman dengan rekan-rekan calon kerja sama mereka. Membahas apa saja rencana ke depan.

"Aku pengen kopi. Kamu juga harus pesan kopi." Seru Sai yang baru masuk kafe.

"Maksa, aku wortel pokoknya." Balas Fang di belakangnya.

"Kelinci."

"Ulangi?" Kerah Sai sudah ditarik dan satu tangan Fang siap menjotos.

Sai cepat melepaskan diri. Pemuda itu segera berlari menuju meja kosong pertama yang ia lihat.

Fang meneriakinya sebelum menyusul kawannya. Mereka duduk saling berhadapan. Ketika pelayan datang kedua pemuda itu kembali berdebat. Ekspresi pelayan tersebut sudah menahan kesal tapi masih bersabar menunggu keduanya memilih pesanan.

"Kentang goreng dan dua flat white." Seru Sai seenak jidat menyebutkan pesanannya.

"Oi! Aku gak mau kopi!" Pekik Fang ingin membatalkan pesanan.

"Dan selusin donat lobak merah."

Fang gigit bibir, dendam pada Sai yang sangat tahu seleranya.

"Hanya itu?"

"Iya."

"Ditunggu ya." Sang pelayan pun pergi.

Keduanya melanjutkan mengobrol tentang hal-hal random yang bisa mereka pikirkan. Sesekali masih berdebat dan menarik perhatian beberapa pengunjung tanpa sadar.

Termasuk pemilik sepasang manik cokelat gelap.

Siapa anak berambut sibak itu. Teman Fang? Mereka terlalu akrab. Boboiboy sendiri juga baru tahu, kalau Fang ada orang yang bisa hampir dua puluh empat jam bersama.

"Sudah aku bilang, kita coba pizza topping nanas." Seru Sai ngotot.

"Otak sedeng, mana enak!" Protes Fang.

"Karena itu kita harus coba!"

"Kau sama Shielda saja. Aku gak mau."

"Nak wortel."

"Aku tidak akan termakan jebakanmu, sialan."

"Cih."

Sudut mata Boboiboy berkedut. Mereka terlihat akrab juga nyaman walau bertengkar dan berdebat di sana-sini.

Fang bahkan sesekali tertawa lepas saat mereka bercanda. Boboiboy jadi memikirkan, kalau dengannya sih Fang bahkan jarang tersenyum.

"Anak jaman sekarang kayak tidak kenal sekitar ya. Asik dengan dunia mereka sendiri." Ujar salah satu rekan kerja Boboiboy.

"Ya asal mereka bahagia. Tawa anak-anak itu spesial sebenarnya." Sahut yang lain.

Boboiboy setuju sih. Senyum dan tawa Fang spesial. Sementara untuk temannya? Tolong singkirkan jauh jauh.

Boboiboy hanya tersenyum basa-basi lalu mengangguk mengiyakan. Dia berusaha mempertahankan fokusnya walau ada objek yang lebih ingin diperhatikan pikirannya.

Aura kedua anak itu terasa berat mendadak. Fang yang buang muka dengan ekspresi pucat dan Sai yang duduk melipat kedua tangannya di depan dada.

Apa yang mereka bahas?

Ah, sepertinya kedua orang pemuda itu menyadari wajah yang familiar di kumpulan beberapa orang berpakaian dan sibuk oleh diskusi yang tampak serius.

"Ayo pergi." Bisik Fang pelan.

"Tak, pesanan kita belum datang."

"Take out deh, aku bayarin."

"Gak."

"Aku pinjami prku."

"Bujuk ya."

"Sai..."

"Tapi kan kita udah janji sama shielda!"

"Bilang padanya kita ganti tempat pertemuan."

Sai masih akan protes ketika dia sudah benaran menariknya, bahkan Sai sampai hampir jatuh terantuk meja karena Fang menyeretnya tanpa peduli.

"Kalian mau ke mana?" Tanya Shielda yang baru datang. Dia membawa Nut juga.

"Fang ngajak ke kamar mandi. Katanya dia takut ada genderuwo di sana." Balas S ai asal, dan langsung dapat hadiah ciuman dari tas Fang.

"Ngaco."

"Eh? Di sini berhantu?" Tanya Nut.

"Iya ada, makanya kita pergi aja," balas Fang datar.

"Fang, kalau bohong itu lebih meyakinkan kek," komentar Shielda memutar bola mata. "Emang anak ini kenapa sih Sai?"

Sai yang hendak buka mulut langsung bungkam karena tatapan memperingatkan dari Fang.

"Ah, gak tau. Biasa, Fang kan moody-an," dia memilih pura-pura tidak tahu.

Nut memilih duduk, "Fang gak ada bedanya sama pacarnya Sai pas PMS."

"Jangan bawa-bawa pacar lah." Protes Sai.

Fang menghela napas, "Kalah aku kayanya."

"Nggak, kalian ada di level yang sama," Nut tertawa.

"Dan Nut, ngapain duduk lagi?! Pergi yuk," bujuk Fang setengah memelas.

"Tapi aku mau makan cheesecake! Kalian kan tau sendiri kalau soal cheesecake itu paling enak itu di sini!"

Shielda ikut duduk, "Aku juga ingin pesan Americano."

"Asam lambungmu." Seru Sai mengingatkan.

"Sudah sembuh."

"Oke deh," sahut Sai kurang ikhlas. "Fang, kita di sini aja dulu, nggak apa-apa."

Dengan berat hati Fang duduk kembali. Tapi kali ini di samping Sai.

"Aku rasa dia gak akan ngehampirin kamu kok," bisik Sai pada Fang saat Shielda dan Nut fokus memperhatikan menu.

Fang gak berani melirik. Dan dia pikir apa yang Sai katakan benar, Boboiboy terlihat sibuk membahas apa, mungkin pekerjaan. Dan dia tidak mungkin menghampirinya begitu saja.

Kecuali Boboiboy menganut aliran bar bar dan nekad sih.

Fang meringis akan pemikirannya sendiri. Entah kenapa kalau Boboiboy sih dia bisa membayangkan berbuat begitu. Tapi setidaknya kalau sedang terjebak urusan pekerjaan kemungkinan seperti itu kecil sekali.

Fang memfokuskan diri pada teman-temannya lagi. Nut memesan banana cheesecake dan segelas milkshake strawberry, sedangkan Shielda memesan secangkir Americano dengan sepiring macaroon.

Lagipula dirinya sedang bersama teman-temannya. Jadi Boboiboy juga tidak mungkin menganggu.

"Hah, kelas kalian ulang tahun sekolah ngadain apa?" Tanya Shielda.

"Belum tahu. Idenya tabrakan." Balas Sai.

"Kontes kepopuleran." Usul Fang.

"Ya lah, kau paling populer." Balas Nut lelah.

Fang nyengir tanpa rasa bersalah. Pesanan mereka sampai dan masing-masing segera mencicipi.

"Kalau kelasku sih ngadain drama Romeo and Juliet," sahut Shielda menyesap kopi pesanannya.

Sai mengerutkan hidung. "Ugh, Romeo dan Juliet, ngebosenin banget. Udah terlalu populer," keluhnya.

"Yaah, tapi kan emang banyak yang suka, Sai," timpal Nut.

Sai mencemooh. "Gitu-gitu doang, Romeo sama Julietnya jatuh cinta, gak diijinin ortunya, terus mati." Pungkas Sai pedas.

Fang tertawa. "Kalau dijabarkan kayak begitu emang membosankan sih."

"Yang meranin julietnya Probe. Yang meranin romeonya Adu du."

Fang dan Sai sontak hampir menyemprotkan makanan mereka.

"WHAT?!"

"Tunggu saja hari H nya." Nut mengedipkan sebelah matanya.

Sai dan Fang kompak memasang ekspresi ngeri. Membayangkan akan sehancur apa drama tragedi dengan pemeran utama dua makhluk tidak jelas itu. Apalagi membayangkan Probe yang menjadi Julietnya.

"Kenapa gak kamu aja sih yang jadi Juliet nya Shielda?" Tanya Fang. Seenggaknya dia tahu sahabatnya ini cantik.

"Aku gak mau peran yang kayak gitu, sifatku gak cocok sama Juliet."

"Jangan suruh Shielda jadi Juliet. Dia banyak yang naksir aku yang repot." Ancam Sai menunjuk Fang.

"Sisconnya kumat." Ledek Nut.

"Daripada Probe sama Adudu, mending Shielda sama Nut." Balas Fang polos. Yang disebutkan nama langsung terbatuk.

"Jangan!" Teriakan kompak kedua orang itu menyebabkan Sai memandangi mereka tajam.

"Kenapa?" Selidik Sai

"Aku sudah senang bagian properti." Balas Nut gelagapan.

"A-aku juga gak pandai akting. Ya kan, Fang." Shielda berusaha sok manis.

"Kau kemarin tipu cigku Papa dan berhasil."

Semuanya diam sejenak. Membiarkan suara lalu lalang orang lewat begitu saja.

"Sudah jangan dibahas lagi," pupus Shielda. Merasa pembicaraan mereka terlalu berbahaya untuk dilanjutkan dan Fang terlalu tidak peka untuk membantu.

Sai sudah menyipitkan matanya dan menusuk tajam tatapannya terhadap Nut.

'Sehabis ini jelaskan padaku apa yang terjadi.' Begitu kira-kira arti tatapannya.

Nut mengerang dalam hati. Ah, Sai yang mode siscon begini merepotkan. Padahal Nut tidak punya salah apa-apa. Barusan hanya komentar asal Fang.

"Ah yah, daripada ngurusin kelas mereka yang udah jelas, mending mikirin kelas kita yang masih gelap idenya," sahut Fang murung. Dia iri dengan Shielda dan Nut yang sudah kebagian tugas dan bisa mempersiapkan lebih awal. Kelas mereka pasti akan berakhir terburu-buru nantinya

"Alah, tak perlu khawatir. Palingan juga kita ngadain cafe." Seru Sai. Santai.

"Hmm, aku bisa jadi lebih populer nih." Fang sudah berpose layaknya dia yang menang.

"Gila popularitas betul." Geram Nut.

Fang menjulurkan lidah meledek Nut.

"Biarin saja anak itu dalam fantasi populer nya," abai Sai. Dia sudah terbiasa dengan obsesi Fang untuk menjadi yang populer.

"Aku harap, temannya Cece Ying datang menonton drama kami." Ucap Shielda sudah mabuk kepayang.

"Eh?"

Fang meneguk ludahnya. Dia entah kenapa mendapat radar kalau Boboiboy sedang menyeringai.

"Mudah-mudahan nggak!" Potong Sai. Dia lupa soal hubungan Fang, sudah lebih fokus dengan binar kagum saudarinya yang membuat dia sebal.

"Pasti dateng. Kata Cece dateng. Lagian beliau yang ngasih sponsor acara sekolah."

"APA?!" Fang dan Sai yang paling kaget.

"Ei? Kalian tidak tahu?" Heran Nut.

"Gimana caranya kami bisa tau?!"

"Makanya, pergaulan itu ya diluasin dikit," ujar Shielda sedikit meledek. Keduanya memang populer, tapi jarang dekat dengan orang lain. Teman untuk mengobrol santai ya nggak ada.

"Aku gak tahu detailnya sih, tapi dari apa yang kudengar kafe kokotiam jadi salah satu sponsor buat acara sekolah tahun ini," jelas Nut.

Fang gigit kuku jempolnya sambil bergumam tidak jelas. Tapi Sai menangkap setiap kata itu, "Kenapa si brengsek itu gak bilang padaku..." sekiranya seperti itu.

"Ahh, kenapa acara sekolah hanya tiga hari. Kakak itu di sekolah cuma tiga hari dong..." keluh Shielda.

Nut menghela napas, "Makanya gak ada yang mau jadi Juliet. Sepakat mereka kakak itu milik bersama."

Boboiboy mendengarnya hampir menyemprotkan kopinya.

Kedengarannya konyol sekali. Dia hanya pernah berkunjung baru sekali, lagipula dia juga bukan staf pengajar di sana, yang artinya dia mungkin saja tidak akan ke sana lagi, tapi para siswi sampai seperti itu. Boboiboy jadi ragu untuk ke sana pada saat acara itu nanti

"Fang? Kenapa kau pucat?" Tanya Nut mendapati Fang seperti budha mati.

"Wake me up, when september end."

"Malah nyanyi si wortel. Bangun!" Teriak Sai tepat di telinga Fang.

"Sakit! Kau ingin aku budeg ya?!" Protes Fang sambil menutup kupingnya.

"Habis kamu ngaco sih," manyun Sai. Shielda dan Nut ikut memandangnya heran

Rekan-rekan kerja Boboiboy berpamitan. Meninggalkan sang pemuda di sana dengan kesuksesan yang jelas didapat. Dia bisa duduk lebih lega.

Kini perhatiannya beralih pada empat remaja yang sudah hampir menghabiskan semua makanan dan minuman yang ada di atas meja mereka.

Tak lama keempatnya berdiri. Sepertinya akan menyudahi kegiatan yang mereka lakukan di sana.

"Psst, Fang," bisik Sai, membiarkan Nut dan Shielda berjalan di depan mereka. "Kayaknya dia nungguin kamu deh."

"Huh?" Fang mengikuti arah lirikan Sai. Boboiboy masih duduk diam di tempatnya. Terang-terangan menatap Fang.

"Samperin sana."

"Ogah!"

Mereka berdebat dengan berbisik, namun dengan cepat diam ketika Shielda dan Nut berbalik. "Kita pergi liat toko-toko di pasar dulu ya, aku mau cek apa ada toko murah buat beli bahan-bahan properti drama," ucap Nut.

"Oke, tapi Fang ditinggal aja, dia ada urusan," ujar Sai, menggamit tangan kedua temannya yang kebingungan.

Fang melongo di tempat. "Eh? Sai!" Panggilnya ingin menyusul tapi Sai sudah pergi begitu saja sambil berseru, "Bye, Fang!"

Fang menatap kepergian temannya dengan hati terkhianati.

Boboiboy tertawa kecil. Dia berdiri dan berjalan mendekati Fang, "Temanmu jahat banget ya."

Fang langsung menatap tajam Boboiboy, "Ngapain deketin, pergi sana!" Usir Fang.

"Jahatnya, padahal aku baru saja lolos dari medan perang."

"Ha?" Tatapan polos Fang benar-benar membuat Boboiboy ingin menculiknya.

"Belum waktumu paham ya?"

"Eh?"

"Nanti deh obrolinnya, keluar dulu yuk," seru Boboiboy ceria. Dengan lugas menarik tangan Fang yang melongo melihat tingkah kekanakannya.

Boboiboy mengajaknya berjalan sebentar sampai mereka sampai di sebuah taman. Ada beberapa wahana bermain untuk anak kecil di sana.

Fang duduk di ayunan sedangkan Boboiboy di bagian ujung perosotan.

"Uhm, pekerjaanmu berat?" Tanya Fang melirik Boboiboy.

"Tergantung setiap orang bagaimana menanggapinya."

"Kalau menurutmu?"

Boboiboy tersenyum, "Tidak. Aku juga dibantu banyak orang."

"Tapi kayaknya susah ya," komentar Fang.

"Susah kalau kamu nggak ikhlas ngerjainnya, tapi kalau aku sih suka, udah usaha keluarga juga sih, jadi sejak kecil aku udah biasa," balas Boboiboy.

"Sejak kecil?" Fang menatap Boboiboy benar-benar kali ini, "Bukannya Kokotiam baru berjalan satu tahun setengah ini?"

"Ahh, usaha yang lain maksudnya."

"Yang lain?"

"D'foodtaria, White Chocolate, dan lain-lain."

Fang menganga. Dia tidak tau kalau usaha keluarga Boboiboy ada sebanyak itu.

"Keren amat," pujinya tanpa sadar.

"Ahaha, terima kasih." Balas Boboiboy malu-malu.

Pipi Fang tersipu.

Ada hening menyela sebentar sebelum Fang beredehem kecil.

"Jadi kita mau ngapain disini?"

"Hanya mengobrol." Jawab Boboiboy tersenyum.

"Hanya itu?"

"Apa lagi?"

Fang menggerutu.

Boboiboy menyeringai jahil.

"Kenapa? Kau ingin melakukan hal lain?" Godanya.

Pipi Fang memerah melihat kilat nakal Boboiboy dan ia dengan segera mengerti apa maksudnya.

"Bu-bukan! M-maksudku kau tidak harus buang-buang waktu cuman buat ngobrol," elak Fang cepat-cepat.

'Polosnya...'

"Mengobrol itu penting." Ucap Boboiboy, "Itu mempererat hubungan. Dan biar kau tidak berpikir negatif melulu."

"Aku? Berpikir negatif?" Fang mengingat.

"Ahh, kau tidak ingat ya. kau waktu itu pernah bertanya, apa kita cuma sekedar fuck buddies," sahut Boboiboy mencondongkan badannya. Matanya bersinar serius.

Fang diam. Kini ia ingat pembicaraan mereka di telepon waktu itu.

"Aku ingin membahasnya sekarang karena waktu itu aku ada kerjaan dan tidak nyaman jika kita hanya membicarakannya di telepon," jelas Boboiboy.

Fang meneguk ludahnya sendiri. Dia melirik ke arah lain, asal bukan menatap Boboiboy. Hatinya belum siap membahas permasalahan ini.

"Pertama, kau tahu dari mana istilah itu?" Tanya Boboiboy, tanganya bersidekap dan menatap Fang serius.

Fang diam. Dia merasa kalau dia jawab, entah kenapa dirinya yang rugi. Dan Sai mungkin dibenci. Fang tidak mau itu. Sai bukan orang jahat soalnya, dia teman baik Fang.

"Aku tidak akan marah. Jawab saja." Ucap Boboiboy.

Fang melirik, apa barusan orang ini membaca isi pikirannya?

"Dari teman..." Cicit Fang. Jari-jarinya saling ditautkan karena gugup. "Aku cerita ke dia soal kita, jadi dia tanya kita itu apa, pas dia tanya sugar daddy aku bilang bukan, pas dia tanya fuck buddies, dan aku gak tau itu apa jadi dia suruh cari sendiri di internet," jelas Fang.

"Temanmu yang rambutnya disibak itu?" Tanya Boboiboy.

Keringat dingin mulai bercucuran, tapi Fang mengangguk kecil.

Boboiboy menggerutu dalam hati. Tangannya mengepal.

"Kalau ngomongin istilah-istilah aneh yang miring begitu sebaiknya jangan," sahut Boboiboy, nadanya datar tapi sarat akan perintah.

"Memang kenapa?"

"Pokoknya jangan." Jawab Boboiboy, dan dari nadanya tidak mau dibantah.

Fang menunduk. Dia ingin membahas soal hubungan Boboiboy dan Ying. Tapi dia tidak ada keberanian sama sekali. Padahal kalau curhat sama Sai bisa lepas banget. Kok bisa rasanya beda begini ya?

Tangan Fang mendadak digenggam Boboiboy. Sangat erat dan penuh protektif.

Jantung Fang berdebar. Tangan Boboiboy hangat sekali.

Ia mendongak pada Boboiboy, yang tanpa peringatan mencium keningnya lembut dan lama. Ah, jantung Fang benar-benar bertalu makin kencang. Pria itu sungguh bahaya untuk kesehatan jantungnya.

"Hal-hal seperti itu tidak baik kau ketahui dulu," sahut Boboiboy lembut.

Fang mengembungkan pipi, kulitnya yang putih dan semu merah natural miliknya membuat pipinya yang menggembung jadi lebih menggemaskan.

"Kau memang suka memperlakukan aku seperti anak kecil," rajuknya.

Boboiboy tertawa. "Kau manis sih, sayang kalau cepat besar dan sifat polosnya hilang."

"Aku gak manis, aku ini tampan." protes Fang.

"Semua juga tahu kalau kau manis."

Fang benar-benar kesal. Dia ingin meninju wajah menyebalkan Boboiboy.

"Lagipula aku nanti juga masih mudah, bisa lebih tinggi darimu nanti. Tunggu saja, aku akan melampauimu." Seru Fang berbangga diri.

"Semoga tidak akan terjadi."

Fang kesal dan menyubit Boboiboy.

"Aw, aw, ampun Fang," ringis Boboiboy.

Fang buang muka, "Gak aku ampuni pokoknya." gerutu Fang. Dia ngambek.

"Ampun beneran, aku bisa mati diabetes sama keimutanmu ini..."

Fang melirik tajam, aura gelapnya muncul dan dia marah lagi karena dipanggil imut.

"Duuh, Fang kok kamu anti banget dibilang imut sih?"

"Memang kamu gak marah kalau dibilang manis?!" Balas Fang.

Boboiboy mengangkat bahu. "Aku kadang dibilang begitu kok, cuman aku anggap pujian aja."

Fang diam berpikir sambil menatap Boboiboy lama, "Pinggir mana kau imut?"

"Kamu tanya aku, aku tanya siapa?"

Fang mengerucutkan bibir sebal karena elakan Boboiboy.

"Kalau menurut kamu aku di mananya imut?" Tantang Boboiboy

"Gak imut sama sekali. Brengsek yang ada." jawab Fang spontan.

Boboiboy nangis darah langsungan, "Padahal aku ini anak baik lo."

"Anak baik mananya. Dasar om om mesum."

"Aku belum jadi om-om tahu."

"Kamu ngaku aja deh, kamu itu jauh tuanya dari aku," sewot Fang

"Umurku baru juga dua puluhan," gumam Boboiboy

"Pokoknya kau itu om om mesum perusak generasi muda."

"Dan kau generasi muda yang mau dirusak."

Fang diam. Boboiboy hanya nyengir. Tamparan langsung melayang ke pipi kiri Boboiboy.

Boboiboy berteriak kesakitan sedangkan Fang langsung berdiri dan pergi meninggalkan Boboiboy.

Sadar dirinya ditinggal, Boboiboy segera menyusul. "Eh Fang, jangan pergi gitu aja dong!" Protes Boboiboy mensejajarkan diri dengan Fang.

"Nggak! Dasar nyebelin," tukas Fang tanpa melirik Boboiboy.

Boboiboy meringis mendengar nada ngambek Fang. "Maaf deh," sahut Boboiboy sembari bertanya-tanya kenapa dia yang minta maaf padahal dia yang kena gampar barusan.

Fang berhenti berjalan, dia mendongak pada Boboiboy dan menunjuk dengan telunjuknya, "Awas kau di ulang tahun sekolah." ucapnya lalu pergi meninggalkan Boboiboy yang hanya bisa berdiri kebingungan.

A/N:

Maafkan kengaretan update ini :') karena kedua author sibuk (beneran!). semoga kalian masih setia buat baca dan ngedukung ini cerita.

Makasih reviewnya arlyn .xie, Bbplanets, KuroAya69, Rinadesu1. Makasih juga buat semua yang baca…

Bagi yang minat untuk bergabung grup Fanfiction Addict kalian bisa PM aku langsung atau liat linknya di profil Wattpad Ai_and_August_19. Sekarang grup ini juga punya Twitter dan IG, untuk info mengenai frup dan event-event yang di selenggarakan kalian bisa cek FFA_ID (twit) dan ffa_id (ig).

Dah aku gak tau mau ngomong apalagi(" ^^)

See you in the next chapter