Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta

Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Yaoi, Smutt, dll

.

.

BoiFang

.

.

"SAAAAIIII!" Panggil Fang merengek sambil menarik kerah seragam temannya, "AKU KASAR SAMA DIA KEMARIN! AKU HARUS APA!"

"Hah?"

Sai yang masih mengantuk hanya bisa mengedipkan mata tak mengerti. Pagi-pagi sudah harus menghadapi dengan Fang yang mendrama sama sekali tidak bisa ia lakukan.

"Kasar apa? Kau kenapa lagi?" Tanya Sai menjauhkan temannya.

"Kemarin dia kutampar."

"What? Kamu tampar? Kenapa?"

Fang menunduk, dia mulai menceritakan kejadian kemarin. Secara detail sampai ke akar-akarnya. Dan itu membuat Sai cengo.

"Jadi begitu..."

"Kalian serius kaya orang pacaran."

Fang menunduk dengan pipi bersemu.

Sai memutar bola mata. Mulai jengah atas sikap sahabatnya yang seperti anak gadis yang baru pertama jatuh cinta.

"Oh iya omong-omong kau bilang awas saja saat ultah sekolah, emang nanti kau mau ngapain?"

"Awas kalau dia deket-deket sama cece Ying." geram Fang, seperti ada aura ungu yang menyelimutinya.

"Kau beneran cemburu ya."

"Habis, mereka terlalu dekat."

"Emang belum jadi dibicarain?" Tanya Sai.

Fang menggeleng. "Kelupaan gara-gara ngomongin hal lain."

Sai menepuk kedua pundak temannya, "Cemen."

"Cih."

"Punya masalah itu jangan kebiasaan ditunda-tunda deh Fang," saran Sai.

"Tapi ngemulainya bingung kayak apa," balas Fang. "Aku kan belum pernah pacaran, mana ngerti aku gimana bilang kalau aku cemburu," lanjutnya menghela napas.

"Coba blak-blakan, macam Probe. Kalian kan sama-sama ungu." Ucap Sai mengacungkan jempolnya.

"Levelku sama Probe itu jauh. Aku paling populer. Dia? Heh..." Fang tersenyun sinis.

"Tapi Probe kan setia sama Adu Du, dia walau dibully model apapun, gak pernah tuh ditinggal Adu Du. Kuncinya adalah karena Probe selalu jujur. Kau coba saja dulu. Jujur sama dirimu sendiri, lalu jujur pada orang itu."

"Uuh..." Fang terdiam.

"Oh iya lupa, kau itu tsundere sih," celetuk Sai.

Fang dengan segera menendang bokong kawannya.

Sai mengusap pantatnya. Akhirnya kelas dimulai setelah bel masuk. Untuk pelajaran pertama adalah Tarung, guru IPA mereka. Tapi diganti dengan pembahasan acara untuk ulang tahun sekolah.

Ketua kelas mereka berdiri di depan papan tulis bersama sekretaris kelas mereka.

"Karena udah dekat acaranya, kita harus segera sepakat untuk menentukan apa yang akan kita lakuin nanti," seru ketua kelas mereka. Sang sekretaris sudah bersiap dengan spidol di tangan untuk menulis ide-ide yang akan diajukan

Setelah berdebat selama setengah jam, dibumbui dengan teriakan Tarung yang menggelegar juga, akhirnya kelas memutuskan membuat Cosplay Kafe. Untuk sewa baju mereka ada tempat. Makanan, barang, dan lain ada. Masalahnya cuma, siapa yang mau jadi pelayan.

"Pokoknya jangan taruh Fang di dapur. Yang ada kue manis jadi keasinan." saran Sai dan disetujui satu kelas.

Fang melotot tersinggung.

"Jujur deh Fang, satu-satunya yang bisa kau bikin itu cuman air rebus," balas Sai.

"Kau jadi pelayan saja Fang," sahut ketua kelas mereka. Menghindari adanya pertengkaran lagi. "Kau juga Sai, mending biar cewek yang dominan di dapur."

"Cosplay kafe apa butler kafe ini?" tanya sekertaris mereka.

Setelah perdebatan lagi. Mereka akhirnya sepakat. Untuk bagian pelayanan, alias yang ngecosplay, menentukan ingin memakai kostum apa.

"Aku mau jadi apa ya?" gumam Fang bertanya-tanya.

"Jadi abang kau."

"Mati dia."

"Mau jadi butler?" Tanya Sai.

Fang mengangkat bahu. "Keren sih, tapi ribet banget."

"Tapi kan temanya cosplay, dan sama ketua kelas nanti dicek kostum kita apakah sama apa enggak."

"Hmm..." Sai berpikir, "Ayo marathon anime buat cari referensi."

"Ayo, di mana?"

"Kokotiam."

Fang hampir mengangguk tapi langsung menggeleng kuat-kuat.

"Jangan di sana!"

"Lho kenapa? Lagian aku juga udah lama gak minum cokelat."

"Di sana berbahaya, ada monsternya." seru Fang ngaco bukan main.

Sai menyipitkan matanya, "Fix, ke kokotiam." ucapnya datar.

"GAK! POKOKNYA JANGAN!"

"Fang, kau mencurigakan. Pasti ada yang salah di sana," sahut Sai.

"Kalau tau ada yang salah kenapa malah ke sana?"

"Soalnya aku kepo," balas Sai santai.

"Gak, kita nonton di rumahku saja. Makanannya gratis juga." Balas Fang berjalan melalui Sai. Tapi kerah belakangnya keburu ditarik dan hampir mencekik Fang.

Fang berbalik mau memprotes. Tapi mendapati Sai yang gemetaran, "Ada abangmu. Gak."

"Ya ada, kan dia tinggal denganku," jawab Fang mengerutkan dahi.

"Kalau gitu aku gak mau di rumah mu!" Seru Sai tegas.

"Lha, kenapa?"

"Abang mu seram."

"Kalian terlalu melebih-lebihkan soal Abang ku," ujar Fang.

"Kamu aja yang gak ngerti Fang! Abang mu itu nyeremin!"

Fang gak paham, kenapa semua bilang kalau abangnya seram? Iya sih dia memang kelewat tegas, tapi gak seram kok. Mereka ngelindur apa ya?

"Kalau gitu rumahmu." usul Fang.

"Gak, aku khawatir kau bakal culik bajunya Shielda." tolak Sai. Dia dan Shielda sekamar karena kembar.

"Kamu nuduh sembarangan! Mana mungkin aku nyuri baju cewek!" Sahut Fang tersinggung.

"Kali aja, kau masih cowok kan." Fang langsung mengernyitkan alisnya kesal, "Jadi kita ke kokotiam saja."

Fang ingin menonjok Sai sekarang juga.

Dengan terpaksa Fang menurut pada permintaan Sai.

Mereka berjalan kaki lima menit dari sekolah untuk sampai ke Kokotiam. Kafe itu lumayan ramai tapi masih ada satu atau dua meja yang kosong. Segera mereka menempati satu meja.

Pelayan datang dan mereka kompak memesan secangkir cokelat panas.

Sai mengeluarkan tabnya juga earphonenya. Satu sisinya diberikan pada Fang dan satunya dia pakai.

"Nonton apa?" tanya Sai, membuka situs untuk streaming anime dengan subtitle.

"Uhmm, apa ya?" Fang berpikir.

"Joker game? Kalau ada pelayan pakai gaya yang rada lama gitu bagus nggak?"

Fang menggeleng, "Setelannya jas semua. Aku pinginnya yang cocok langsung sama rambut, jadi gak usah pakai wig."

"Hmm, masuk akal juga."

"Ah, Sai, kamu ini aja," seru Fang menunjuk Aizen Sousuke dari anime Bleach di layar tab.

"Hum... Oke deh, nanti coba cari bajunya," balas Sai lalu kemudian fokus melihat list judul-judul anime lain.

"Giliran mu Fang," perlu waktu lama bagi keduanya untuk menemukan tokoh yang sesuai untuk Fang.

Sai mengerang. Matanya lelah karena cahaya layar tabnya. Fang sendiri juga mulai mengusap layar dengan tenaga yang dilebihkan karena emosi.

"Ini aja nih! Rambutnya paling gak masih rada miriplah sama kamu," sahut Sai menunjuk gambar satu tokoh anime. Ichinose Tokiya, dari anime 1000 percent love.

"Boleh." jawab Fang antusias, "Kalau macam ni, mungkin kepopuleranku bisa merambat keluar sekolah. Dan fansku jadi lebih banyak daripada punya kau."

"Hadeh, masih masalah populer lagi." gerutu Sai geleng-geleng kepala.

"Yosh, sekarang tinggal cari kostumnya di mana." Fang langsung menyabotase tab milik Sai dan mencari informasi di mana tempat untuk menyewa baju cosplay yang terdekat.

Mereka berhasil menemukan beberapa nama tempat penyewaan kostum yang masih bisa mereka temui, lusa mereka berencana akan melihat apakah beberapa tempat itu memiliki kostum yang mereka inginkan. Mereka juga mengantongi dua nama komunitas cosplay. Jika mereka tidak menemukan di tempat penyewaan, mereka bisa menanyai komunitas-komunitas tersebut.

Lega dengan masalah yang sudah tahu jalan keluarnya, keduanya mengobrol ringan sembari menonton anime-anime baru rilis. Cokelat panas tadi sudah lama habis dan keduanya memesan cokelat dingin untuk melanjutkan kegiatan nongkrong.

Sai melirik pintu kafe yang terbuka. Dan di sana nampak Boboiboy datang dengan seorang gadis cantik yang memakai kerudung pink.

"Terima kasih, Boboiboy." Jawab Yaya pada Boboiboy yang membukakan pintu untuknya.

"Sama-sama, ambil saja tempat duduk di mana pun yang kau suka. Aku ke bagian administrasi sebentar." Balas Boboiboy.

"Oke." Yaya pun pergi mencari bangku kosong dan nyaman. Sementara Boboiboy pergi ke balik pintu khusus pegawai.

Ekspresi Sai memucat. Dia merasa untung Fang tidak sadar dan begitu juga Boboiboy. Bisa nangis lagi anak di sebelahnya ini. Apalagi perempuan yang diajak Boboiboy terlihat sangat-sangat cantik dan anggun.

"Udahan yuk Fang," ajak Sai berusaha mempertajam inderanya. Berharap mereka keluar tanpa Fang harus melihat Boboiboy atau wanita berjilbab pink tadi.

"Eh, kenapa? Kukira kamu yang lagi kepengen minum cokelat sepuasnya hari ini?" Heran Fang mempause animenya.

"Aku udah gak kepengen lagi, mau pulang ngecek pr," alasan Sai.

"Tumben rajin. Biasanya aja nyontek aku." Balas Fang, berniat kembali memplay streamingannya.

"Ya sekali-kali dah. Ayo pokoknya. Kau dicariin abang kau nanti." Seru sai merapikan semuanya dan memanggil pelayan.

"Ukh, ya deh." Fang terpaksa juga ikut merapikan barang-barangnya.

"Oh!"

"Ah!"

Sai facepalm dalam batinnya. Dia pikir dia akan berhasil keluar dari Kokotiam tanpa ada drama tapi takdir sedang melucu.

Mereka berpapasan dengan Boboiboy di depan kasir.

Pundak Sai langsung ditepuk Fang dan diremas, "Bayarin, aku tunggu di luar." Ucapnya langsung balik badan dan keluar kafe. Meninggalkan Sai yang hanya bisa menyengir watados.

Boboiboy tersenyum kecil, "Boleh aku minta kontakmu?"

"Eh?"

Sai menggaruk tengkuknya. Senyum Boboiboy boleh orang lain sebut ramah, tapi saat ini bagi Sai sama sekali tidak begitu.

"Buat apa ya?"

"Kalau tiba-tiba Fang susah dihubungi aku jadi bisa tanya temannya," jawab Boboiboy.

Sai masih ragu. Fang sialan, Boboiboy itu kan pacarnya (atau apalah hubungan mereka itu) seharusnya dia yang mengobrol saat ini.

"Aku tidak akan neror kok." Ucap Boboiboy santai.

Sai merasa agak rileks.

"Kecua-"

"KAMI HANYA TEMAN!" Seru Sai mendadak, sirinenya mengatakan kalau apa yang akan diucapkan Boboiboy itu adalah sebuah ancaman membahayakan nyawa.

Senyum Boboiboy terpatri jelas. Dan itu membuat Sai dan mang kasir merinding.

"Ba-baik, saya-saya berikan kontak saya."

Mereka dengan cepat bertukar nomor. Sai buru-buru membayar di kasir, pamit dan segera ngacir ke pintu.

"Brengsek, ngapain kamu tinggalin aku sendirian?!" Sembur Sai pada Fang yang menunggunya dengan ekspresi berkerut.

"Aku kesal lihat wajahnya." Jawab Fang datar.

"Ya masa aku ditinggal? Terus mana ganti ruginya?"

"Ganti rugi apa?"

"Minumanmu."

"Kan kubilang bayarin," sahut Fang memasang wajah polos yang jelas dibuat-buat.

"Enak aja! Mana ikhlas aku ngilangin duit jajan bulananku buat traktir kamu! Mana aku ditinggal tadi," omel Sai.

Fang cemberut tapi tetap menyerahkan uangnya untuk mengganti bagiannya yang dibayarkan Sai.

Telepon Sai mendadak berdering. Dan di sana muncul nomor tidak dikenal.

"Bentar ya," Sai berjalan agak menjauh dari Fang dan mengangkat teleponnya, "Halo."

"Halo juga." Balas Suara di seberang sana. Sai langsung reflek menoleh pada sosok Boboiboy yang juga sedang menelpon dan duduk di sebelah Yaya.

'MAMPUS, BANGSAT.'

"Eh iya?" Sai semakin mengecilkan suara. Berkali-kali melirik Fang yang menatapnya penasaran. Jangan sampai anak itu mendekat.

Lagian, pikir Sai, ngapain juga Boboiboy menelponnya padahal mereka baru saja bertemu beberapa menit lalu, dan Sai masih ada di sekitaran Kokotiam. Dan lagi, apa pria itu sengaja duduk di tempat yang jelas kelihatan begitu?!

Tidak tahukah dia Sai susah payah menjaga moodnya Fang yang terkenal mudah berubah jadi jelek. Dan kalau kumat bisa langsung nangis begitu saja.

"Kalian sehabis ini langsung ke mana?" Tanya Boboiboy.

"Kami langsung pulang." Jawab Sai.

"Searah?"

"Ti-tidak, saya naik bis." Jawab Sai. Membatin berharap Boboiboy cepat-cepat menutup teleponnya.

"Antar dia sampai stasiun." Perintah, tidak, titah Boboiboy.

"Uuh, k-kenapa?"

"Biar dia aman."

"Biasanya juga Fang aman," Bingung Sai. "Memang Fang ada yang ngincer?"

Terdengar decakan lidah dari seberang. "Mungkin saat ini gak ada, tapi siapa tau nanti? Kalau ada orang jahat lihat kesempatan bagaimana?" Sasar Boboiboy.

'Ya udah sih, yang pacarnya situ, anterin sendiri dong!' teriak batin Sai gondok tapi nggak berani mengungkapkan langsung.

Sai ingin menghela napas. Tapi dia tahan dan melirik Fang yang mulai bosan dan berkutat dengan telepon pintarnya. Kira-kira dirinya dapat apa ya kalau nurutin? Cuma jadi pesuruh? Ogah deh.

"Sai, aku balik duluan ya." Seru Fang mendadak dan menyaku hpnya.

"Eh? Kok duluan?" Tanya Sai tanpa berniat menjauhkan speaker dari mulutnya.

"Papaku dekat sini. Aku bareng sama papa. Jadi bye." Fang melambaikan tangannya dan berlari menuju ke daerah parkiran mobil.

Sai menghela napas lega.

"Uh, okay bye," balas Sai. Kemudian kembali fokus kepada sambungan teleponnya.

"Kurasa sekarang udah gak perlu lagi kan?"

"Sepertinya begitu, oke Thanks," dan sambungan diputus oleh Boboiboy.

Benar apa kata Fang, si Boboiboy ini brengsek. Semaunya sendiri. Gampang dendam jadinya. Tapi gak berani bantah, cuma Fang yang bisa.

Sai pun memutuskan untuk pulang.

...

"Huh, posesifnya," komentar Yaya dengan nada menyindir begitu Boboiboy mengantongi ponselnya.

"Nggak juga," elak Boboiboy. "Aku rasa wajar kok khawatir, habis anak itu polosnya keterlaluan."

"Iya, kasihan dia soalnya pacaran sama kamu," tukas Yaya pedas.

"Kok kasihan? Harusnya bersyukur dong punya pacar sepertiku." Balas Boboiboy bersedekap bangga.

"Eleh, sombong sekali."

"Sialnya sifat ini menurun dari ayah." Geram Boboiboy kesal sendiri.

Yaya tertawa. Lalu sikapnya berubah serius kembali. "Tapi nggak apa-apa tuh, kamu rencana mau beneran serius? Dia masih SMA lho, masih harus kuliah dan lainnya."

"Aku serius. Kalau harus kawin lari juga bakal aku lakuin." Jawab Boboiboy serius.

"Lawanmu Kaizo lho."

Boboiboy seketika mengutuk pencipta Kaizo.

Yaya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Kalau belum siap pikir lagi deh, Kaizo gak bakalan mau kalau adeknya terikat sama seseorang tanpa detail yang harus diceritain ke dia."

"Doakan saja ada keajaiban." Pinta Boboiboy, "dan aku harus ingat mempertemukan Fang dengan ayah."

"Huh? Beliau tahu kau pacaran sama Fang?" Tanya Yaya cukup kaget.

"Tidak tidak. Dia hanya tahu kalau aku pacaran dengan ya... nyeleneh."

"Bukan cuman nyeleneh lagi," Yaya menggelengkan kepala. Walau sudah lama berteman dengan Boboiboy, tidak jarang ia dibuat tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya.

"Daripada Ayahmu, aku lebih mengkhawatirkan Fang. Kupikir anak sekecil itu belum siap untuk dihadapi dengan hubungan serumit ini."

Tidak ada jawaban sama sekali dari Boboiboy. Membuat Yaya khawatir kalau tidak sengaja menyakiti hati sahabatnya. Apalagi Boboiboy hanya menunduk, membiarkan poninya jatuh menutupi sirat matanya.

"Boboiboy?"

"Apa aku benar-benar salah?" Terdengar suara Boboiboy menyahut pelan.

Yaya tidak segera menjawab, penuh ragu takut-takut kalau ucapannya akan memperburuk suasana.

Ini pertanyaan yang sulit. Yaya tidak tahu sebenarnya menjawab apa. Dari mata khalayak umum, tindakan Boboiboy sangat tercela. Tapi dari sudut mata beberapa orang, tindakan Boboiboy sama sekali bukan kejahatan. Apalagi melihat lingkungan Boboiboy yang mau menerimanya apa adanya, termasuk dirinya.

Yaya meremas roknya dan menunduk, "Maaf, aku tidak tahu jawabannya."

Boboiboy kini mengangkat kepalanya. Jari jemari diketukkan pada meja. Membuat ketukan acak yang gelisah.

"Ku akui, aku memang buru-buru awalnya, tapi aku sendiri sudah yakin sekali, Fang satu-satunya orang yang aku inginkan."

Yaya tersenyum, "Aku bisa melihatnya kok dengan jelas."

"Huh?" Boboiboy jadi menatap Yaya heran.

"Walau sebenarnya kau mudah diajak berteman, tapi tidak semua orang membuatmu benar-benar terbuka. Aku ingat, pertama kali kita bertemu kau sangat pemalu dan bahkan menolak pertolonganku. Dan melupakan namaku."

"Ehehe," Boboiboy menggaruk pelipisnya kikuk, "Itu sudah lama lah."

Yaya tersenyum lembut. "Apapun pilihan hidupmu, itu semua hanya kamu yang berhak mengurusi, aku hanya akan mensupport dan juga memberi saran, jadi Boboiboy jangan sungkan bicara."

Boboiboy mengangguk dan balas tersenyum, "Thanks Yaya, pasti akan ku ingat."

Yaya balas tersenyum, "Sama-sama."

.

Tbc

.

A/N:

Mudah-mudahan kalian gak ada yang bosen atau ngerasa kecewa ya dengan fic ini. Buat adegan lemon ada sih… tapi untuk chapter kedepannya. Kami ngebiarin cerita ini ngalir dengan cueknya.

Entah kayak apa nasib dan ending untuk cerita ini karena kami bikinnya emang spontan dan tergantung mood aja (Valky-san lagi ogah berhubungan dengan fandom ini di ffn).

Makasih reviewnya buat yang udah baca. Arlyn .xie (aku juga penasaran kayak apa respon Amato nanti, masih dipikirn. Maaf ya, lemonnya buat chap depan), Bbplanets (nih lanjutannya), Yuyu arxlnn (Fang kalau nggak tsundere bukan Fang namanya. Boboiboy sabar kok ngadepin itu bocah, apa sih yang gak buat uke tercinta :') entah kapan abang Kaizo nongol lagi), LightDP2 (Wow aku kaget waktu liat kamu ngereview cerita ini, makasih banyak atas semangatnya, kamu juga terus berkarya ya!), Luckyy (aku juga penasaran ^^).

See you guys, jangan lupa cek info grup Fanfiction Addict di IG dan Twitter (FFA_ID) atau kalau mau gabung pm aja aku ^^