Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta

Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Yaoi, Smutt, dll

.

.

BoiFang

.

.

(kalau gak nyaman sama lemon scene silahkan skip)

.

.

.

.

Boboiboy menggerutu kesal. Dia melihat Fang dari kejauhan dengan teman-temannya.

Pemuda itu nampaknya sangat menikmati dikelilingi para gadis yang ingin berfoto dengan dirinya yang tengah bercosplay.

Selain itu pemuda tersebut juga tak hentinya tersenyum charming saat sedang menjalankan tugasnya sebagai pelayan kafe kelasnya.

Kenapa selalu tersenyum seperti itu pada orang lain? Sok akrab lagi? Memang mereka siapanya Fang juga? Boboiboy kesal melihatnya. Jaga jarak bisa nggak? Pakai acara nempel-nempel segala. Sadar tidak kalau yang kalian dekati itu sudah ada yang punya?

Boboiboy berjalan ke arah kelas Fang. Mengabaikan pekikan para gadis yang senang melihatnya. Ia segera mendudukkan diri di satu meja yang kosong.

Boboiboy melambaikan sebelah tangannya, isyarat memanggil pelanggan.

Fang menatapnya terkejut tapi lalu berubah ekspresinya menjadi kesal. Ia menatap mencoba mencari sosok Sai, agar dia tidak perlu yang mengambil pesanan Boboiboy. Tapi temannya itu sedang memenuhi permintaan berfoto sehingga tidak menyadari (atau memang pura-pura tidak sadar).

Sementara ada beberapa siswa yang berdiskusi siapa yang mau mengambil pesanan Boboiboy, karena rumor kalau dia sponsornya sudah tersebar, artinya dia tamu spesial dan krusial.

'Berikan pada Fang.' Itu kode Sai untuk teman-temannya dan dijawab anggukan mantap. Dan tentu ini tanpa diketahui Fang.

"Mau pesan apa?" Ekspresi wajah dan nada suara Fang begitu datar.

Boboiboy mengerucutkan bibirnya samar. Kenapa Fang perlakuannya dingin begini.

"Secangkir cokelat panas," jawab Boboiboy.

"Baiklah, tapi jangan kecewa kalau tidak sebanding dengan milikmu," sahut Fang sinis.

Boboiboy cengo. Menatap bingung pada Fang yang pergi menyampaikan pesanan milik Boboiboy.

'Tidak sebanding?' Batinnya bertanya-tanya.

Anak itu pasti menyindir ia sebagai pemilik Kokotiam. Boboiboy meringis. Dasar bocah judes.

Boboiboy tersenyum. Dia menatap Fang yang berdebat dengan bagian dapur, 'Aku rasa, dia perlu diberi pelajaran.'

Fang kembali dengan pesanannya.

"Hum maaf," dehem Boboiboy ketika tumit Fang telah hendak berputar untuk beranjak pergi.

"Kenapa?" Tanya Fang dengan kening berkerut.

Satu sudut bibir terangkat sedikit. "Bisa minta satu senyum dari pelayan jutek ini?"

Urat nadi Fang berkedut, alisnya berkerut dan maniknya menatap Boboiboy jijik.

"Ayolah, jangan memandangku seperti itu. Pelayan adalah raja lho, mereka punya hak. Dan kalau kau membuat pelanggan tidak nyaman, bisa-bisa bangkrut lho." Seru Boboiboy memberi saran.

"Dasar otak bisnis."

"Ehehe, terima kasih."

"Aku gak muji!"

Boboiboy tertawa melihat raut kesal Fang. "Makanya, senyum itu jangan pilih-pilih."

Fang mengangkat sebelah alis. "Pilih-pilih?" Tanyanya heran.

Boboiboy memanyunkan bibirnya. "Kau hanya tersenyum pada cewek-cewek, padaku malah judes."

"Itu karena kamunya aja yang nyebelin," Fang membalas dengan nada datar.

"Nyebelin? Kok bisa? Seingatku, aku ini baik hati da-"

"Tidak sombong? Salah, kau jahat dan kurang ajar." Potong Fang cepat sebelum Boboiboy menyelesaikan kalimatnya.

Helaan napas keluar. Boboiboy menompang dagunya dengan tangan kanannya, "Kau mengejekku lagi. Ini rasis namanya."

"Rasis katanya. Padahal itu tadi fakta."

Beruntung bagi Fang mereka saat ini berada di tempat umum, kalau tidak Boboiboy sudah membungkam mulut yang hobi berkata pedas itu dengan ciuman.

"Ouch," sahut Boboiboy dengan wajah pura-pura kesakitan sembari memegang dadanya.

"Nusuknya kata-kata kamu Fang~"

Fang memutar bola mata malas. "Sudah, aku banyak pekerjaan, bye," potongnya.

"Fang!" Rengekan protes itu sekali lagi menggagalkan Fang untuk beranjak menjauh. Fang mengerang dan memijit pelipisnya.

"Apa lagi?!"

"Kau kapan istirahat?" Tanya Boboiboy.

"Kenapa tanya?

"Jawab saja."

"Jam satu."

"Ooh oke deh," sahut Boboiboy santai lalu menghabiskan cokelatnya.

"Dah~" Boboiboy berdiri setelah meletakkan uang di dekat cangkirnya.

"Eh?" Fang yang keheranan hanya menatap Boboiboy yang pergi. Baru ketika pria tersebut melewati ambang pintu dia sadar

"Hei! Kau tidak jawab buat apa?!" Seru Fang melongokkan diri untuk berteriak pada Boboiboy yang sudah menyusuri koridor sekolahnya.

Fang mengepalkan tangannya kesal.

Apa maunya om-om mesum itu? Datang, minum cepat, terus pergi. Dan lagi coklatnya kan panas, orang itu lidahnya tahan saja. Aneh. Monster. Iblis. Lucifer.

Setelah selesai mengumpati Boboiboy dengan lebih banyak nama raja neraka, Fang segera mendekati Sai.

Sai hanya meliriknya sebentar, membiarkan temannya tersebut menyandarkan diri pada dinding di dekatnya.

"Jadi?"

Bibir bawah Fang maju, "Aku sungguh tidak mengerti dia, perlu apa dia mengganggu ke sini?"

"Hanya penasaran?" Tanya Sai.

"Penasaran kok modelnya nyebelin banget. Mending gak usah dateng."

Sai hanya mengangkat bahu tak acuh. "Yah, kau sendiri perlu bicara dengannya kan? Bukannya bagus?"

Fang mendecih. "Sepertinya setiap kami bertemu selalu saja begini," Fang memperhatikan ujung sepatunya yang masih bersih. "Aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa bicara dengan benar kalau dengannya," gumam pemuda berkacamata itu.

Sai melirik. Dia berjongkok di sebelah Fang dan bersandar ke tembok, "Kau sedih?"

"Sedikit." Jawab Fang lirih.

"Kenapa tidak pelan-pelan saja. Semuanya tidak bisa berubah secara instan."

Fang terdiam, meletakkan dagunya ke lutut, entah apa yang anak itu pikirkan.

Sai tidak membahas lebih jauh. Di perhatikannya susana kelas mereka yang sudah di ubah jadi kafe. Ada sekelompok siswi berjumlah empat orang yang masuk.

Sai berdiri lalu menepuk bahu Fang. "Kau bisa memikirkannya nanti, sekarang ayo kerja."

Fang mengangguk dan ikut berdiri. Segera menjalankan tugasnya.

Ketika waktu istirahat tiba, Sai mengajak Fang untuk jalan-jalan. Sekalian mencerahkan suasana hatinya yang sempat mendung tadi. Mereka berkeliling sekolah sambil mencicipi segala macam makanan dan minuman.

Sesekali juga diajak berfoto karena mereka masih memakai baju cosplay mereka.

"Ups," seru Sai pelan.

"Ada apa?" Tanya Fang menoleh pada Sai bingung, dia tadi sedang asyik meneliti ada stan-stan makanan apa saja yang memenuhi lapangan sekolah.

Sai tidak menjawab, hanya menggedikkan kepala dan Fang mengikuti arahnya.

Mereka menemukan Boboiboy berdiri di bawah pohon lindung, yang omong-omong bisa tumben sendiri tanpa ada siswi-siswi yang mengerubungi.

Boboiboy menatap lurus pada mereka, pria itu pasti sudah sedari tadi mengetahui keberadaan mereka.

"Well, sepertinya nanti saja kita makan barengnya," ujar Sai melangkah pergi. Ia masih belum mau berurusan dengan Boboiboy. "Dah, aku mau cari Shielda saja," pamit pemuda itu sambil melambai dan segera mencari keberadaan saudarinya.

"Eh? Tunggu, Sai!" Pekik Fang mau menahan temannya, tapi keburu menghilang duluan.

Fang menghela napas. Dia menggaruk pelipisnya gugup. Pura-pura tidak tahu dan pergi atau menghampirinya? Fang tidak mau memilih. Dia ingin tidak sadar ada Boboiboy.

"Fang."

"HWAAAA!"

Fang kaget ditarik mendadak. Boboiboy membawanya ke balik pohon, terhalang dari keramaian.

Boboiboy memeluknya erat.

"Boboiboy!" Fang mencoba protes dan mendorong pria tersebut tapi kalah tenaga.

Protesnya dihentikan oleh ciuman yang dalam.

Boboiboy dengan mudah menyelipkan lidahnya ke dalam rongga mulut Fang karena pemuda itu masih terkejut.

Fang mendesah teredam.

Boboiboy melepaskan tautan bibir mereka. Fang mengatur napasnya lalu meninju pelan bahu Boboiboy.

"Kau itu! Bagaimana kalau ada orang yang lihat?!" Seru Fang dengan suara ditahan.

"Itu salahmu," sahut Boboiboy dengan wajah cemberut. Pria itu membenamkan wajahnya ke lekuk leher Fang. "Aku merindukanmu tahu! Setelah beberapa hari aku sibuk kemudian kau malah menjauhiku," Boboiboy kembali menatap manik Fang

Pemuda itu terpaku menatap mata Boboiboy. Ada rasa sedih terpantul di sana. Fang menunduk menghindari tatapan Boboiboy saat dirasakannya rasa sesak di dadanya.

"Jangan lakukan itu lagi ya?" Mohon Boboiboy.

Fang menelan ludah kemudian mengangguk pelan.

Boboiboy kembali menciumnya, kali ini Fang dapat merasakan senang dan lega dari pagutannya.

Boboiboy membawa Fang duduk di pangkuannya. Sambil masih memeluk pinggang Fang, dia membenamkan wajahnya di tengkuk Fang.

"Gak malu dilihatin orang?" Tanya Fang.

"Nggak peduli, aku kangen," balas Boboiboy mengecup tengkuk Fang.

Pemuda yang mendengar jawaban itu hanya bisa memerah wajahnya.

Tapi tangannya mulai balas merangkul leher Boboiboy, memeluknya ringan dan memejamkan mata.

'Aku juga rindu.'

Boboiboy menempelkan bibirnya kembali pada bibir Fang. Pemuda itu membalasnya dengan gerakan lambat dan tidak terburu-buru.

Tangan Boboiboy mulai menjalari punggung Fang. Terus turun sampai akhirnya meremas bokong Fang.

Fang reflek mendesah. Boboiboy makin panas menciumnya. Memasukkan lidahnya dan mengobrak-abrik rongga mulut Fang. Tangan Fang yang meremas pundak Boboiboy lalu naik untuk meremas helai cokelat rambut pria itu.

Boboiboy memeluk Fang makin mendekat sehingga dada mereka saling bersentuhan. Pinggang Fang didorong mendekat sehingga kejantanan mereka yang tertutupi kain bergesekan.

Boboiboy segera membungkam desahan Fang agar tidak terdengar.

Fang memejamkan matanya erat. Dia sendiri juga menahan desahannya sendiri sementara tangan besar Boboiboy terus meremas memjiat pantatnya. Menekan belahannya juga dan seperti mau menusuk lubang miliknya dengan dua jarinya.

'Aku harus tahan, aku gak mau ketahuan.' Batin Fang bersusah payah.

Ciuman mereka terlepas, Fang mengatur napasnya yang memberat dan mengebu-ngebu. Sementara Boboiboy menggendong bridal Fang dan membawanya pergi ke tempat yang lebih sepi dan dipastikan tidak akan ada orang.

Rumah kosong dekat sekolah.

Mereka masuk ke dalam dan Boboiboy segera mendorong punggung Fang sehingga pemuda itu bersandar pada tembok dan kakinya refleks mengalungi pinggang Boboiboy. Boboiboy langsung menciumnya dengan amat penuh nafsu.

Dalam keadaan biasa, Fang ogah disuruh memasuki rumah kosong itu. Bukan karena rumor mistis yang menyelimutinya, tapi karena keadaan rumah itu yang begitu berantakan. Fang yang dijuluki clean freak oleh para sahabatnya mana tahan dengan keadaan kotor rumah itu.

Tapi saat ini ia tidak peduli. Semua pikirannya sekarang hanya berpusat pada Boboiboy.

Pada bibir pria itu yang kini mengecup lehernya.

Baju Fang perlahan dilecuti semua. Jatuh sembarangan pada lantai yang kotor oleh debu dan tanaman liar. Sementara tangan Fang memeluk leher Boboiboy agar tidak jatuh, dia membalas ciuman panas itu dengan senang hati.

Boboiboy meletakkan tiga jarinya di ujung bibir Fang. Tentu saja dia tidak mempersiapkan sesuatu yang bisa dijadikan pelumas. Satu-satunya hal yang bisa membantu Fang nantinya mengurangi rasa sakit adalah hal ini.

Fang tanpa protes memasukkan jari-jari Boboiboy ke mulutnya. Menjilati dan melapisinya dengan saliva tanpa melepas pandang dari tatapan Boboiboy.

Boboiboy mengerang dalam melihat raut erotis pemuda itu.

Dengan tak sabar Boboiboy menyingkirkan tangannya dari mulut Fang. Langsung menyelipkan ke belahan pantat Fang. Memasukkan ke dalam lubang Fang.

Fang mendesah dan mendongakkan kepalanya. Matanya terpejam dalam kenikmatan begitu Boboiboy menggerakkan jarinya keluar masuk.

Sudah sering mereka melakukan ini, jadi Boboiboy sudah hapal harus seperti apa memperlakukan tubuh Fang. Di mana saja titik nikmat dan sakitnya. Itu semua membuat Fang jadi lebih nyaman dan menikmati.

"Ka-Kak Boboiboy..." erang Fang memanggil nama 'partner'nya. Dan sekali lagi, Fang hanya berani memanggil Boboiboy kakak hanya jika benar-benar berdua. Sanggat imut dan menggemaskan. Ditambah dengan ekspresi sayu yang sangat menikmati permainan.

Tak dapat senyum, dapat yang lebih baik.

Boboiboy tidak menunggu waktu lama untuk memasukkan miliknya dan kemudian menggerakkan pinggulnya. Prostat Fang dengan telak selalu dikenai. Beberapa menit kemudian mereka mendapatkan orgasme pertama mereka. Fang merosot turun, tapi masih berdiri karena tangan Boboiboy menahan tubuhnya, memegang pinggangnya.

Mereka berdua diam saling menikmati euforia pasca orgasme. Kemudian Fang mendongak menatap Boboiboy dengan ekspresi malu.

"Kak Boboiboy, aku minta satu giliran lagi." Pinta Fang sambil membuka kakinya, terlihat jelas cairan sperma Boboiboy merembas keluar dari lubang milik Fang.

Boboiboy hampir kelepasan menjerit. Ya ampun, dia paling tidak bisa tahan dengan sikap manja anak itu yang bukannya polos, malah menggoda nakal jatuhnya.

"Tentu saja, apapun untuk kamu, Fang," seringai Boboiboy kemudian mencium Fang dengan ganas. Memposisikan pemuda itu sekali lagi dan memasukkan kejantanannya dengan hentakan yang sedikit lebih kasar dari yang tadi.

Boboiboy menggerakkan pinggulnya dengan cepat sembari menelan semua desahan Fang. Tangan anak itu meremas rambut Boboiboy kuat.

Sudah berapa lama mereka di sini? Satu jam? Boboiboy tidak bisa menghitungnya lagi. Dia menikmati setiap waktunya sekarang.

Mereka sampai pada klimaks mereka sekali lagi. Sekali lagi mengeluarkan lenguhan panjang nikmat.

Setelah memenangkan nafas Boboiboy duduk sambil memangku Fang. Tidak mempedulikan pakaiannya sendiri yang dijadikan alas duduk.

Pemuda itu bersandar nyaman pada dada Boboiboy. Ekspresi tenangnya membuat Boboiboy tersenyum lalu menciumi pipi dan pucuk kepalanya.

Rambut Fang sudah berantakan lagi. Dia menunduk memainkan ujung telunjuk kanan Boboiboy malu-malu.

"Panggil aku kakak lagi dong." Pinta Boboiboy.

"Ke-Kenapa?"

"Ingin saja. Sudah lama aku tidak mendengarnya."

Fang cemberut. Dia mendongak pada Boboiboy, "Tadi kan sudah."

"Beda suasana."

"Ukh..."

"Ya?" Boboiboy tersenyum memelas.

Fang menunduk. Dia memakai jas hitam Boboiboy yang tidak kotor untuk menyelimuti dirinya sendiri, "Ka-Kak Boboiboy..."

Boboiboy menjerit gemas dalam hati. Kembali mengecup pipi Fang yang memerah.

"Ugh, kau imut!"

Fang mengerutkan bibir. "Sudah berapa kali kubilang, berhenti memanggilku imut!" Protesnya kesal sembari menarik rambut Boboiboy.

"Duh, Fang sakit!" Rengek Boboiboy. Fang melepaskannya sembari menggerutu.

"Salah sendiri. Aku ini ganteng, bukan imut." Gerutu Fang sebal.

"Tapi lebih macho aku." Balas Boboiboy sombong.

Fang memggigit bibir bawahnya kesal. Tidak bisa menyangkal fakta itu.

Fang yang kesal mengalihkan perhatian dari Boboiboy, memalingkan wajah. Dan tanpa sengaja tatapannya jatuh pada pakaian miliknya yang tergeletak begitu saja pada lantai yang tebal debunya.

Mata berhias permata violet itu membulat.

"Astaga! Ya ampun, bajuku kotor!" Jeritnya panik sembari meraup pakaiannya. "Duh mana waktu istirahat pasti udah lewat juga!"

"Bolos saja. Kau kan disayang, pasti dimaafkan." Kata Boboiboy santai seraya mengusap lembut puncuk rambut Fang.

Geraman terdengar, "Ngomong enak, ketua kelasku itu keras tahu kalau sudah masalah jadwal dan tugas masing-masing."

'Terdengar seperti Yaya saja.' Batin Boboiboy.

Fang bangkit berdiri dan Boboiboy dengan enggan melepas tangannya yang memeluk pinggang Fang.

Fang mengambil celananya dan merogoh sakunya. Untung dia membawa sebungkus tissue hari ini. Dia mengambil beberapa lembar untuk dirinya sendiri dan sebagian lainnya ia berikan kepada Boboiboy.

Dengan cermat dan cepat dibersihkan tubuhnya lalu memasang bajunya. Boboiboy membantu pemuda itu mengancingkan kemeja dan vestnya. Fang menepis debu yang melekat. Lalu ia dan Boboiboy keluar dari rumah itu.

"Hei, sehabis ini mau hang out? Akan kutunggu," sahut Boboiboy berjalan berdampingan dengan Fang.

"Tapi aku pulangnya bakalan telat, soalnya harus beresin kelas juga."

"Nggak masalah," balas Boboiboy ringan.

Tangan Fang mendadak digenggam erat Boboiboy, membuat Fang langsung menatap Boboiboy dan tangannya bergantian dengan pipi memerah berat. Fang cepat-cepat menarik tangannya, namun digenggam lebih erat oleh Boboiboy.

"Hoi, dilihat orang malu aku." Bisik Fang.

"Santai, anggap saja mereka hanya hantu." Balas Boboiboy santai.

"Itu lebih seram lagi..."

"Eh? Kau takut hantu?"

Fang menggeleng kuat-kuat. "Tentu saja tidak!" Serunya tegas.

Boboiboy menatapnya dengan sinar mata jahil. Fang menyikut rusuk Boboiboy. Ia tahu kalau pria itu tidak percaya dan berniat menjahilinya.

"Jangan macam-macam ya. Awas kau." Ancam Fang dengan telunjuknya.

"Awas apa? Awas nanti malam didatengi?" Tanya Boboiboy lalu tertawa nakal.

Fang mengembungkan pipi dan menyentakkan genggaman Boboiboy. Lalu pemuda berkacamata itu pergi dengan langkah cepat dan menghentak.

"Oke, oke, maaf deh," sahut Boboiboy tulus sambil lalu kembali menautkan jemari mereka.

Fang melirik, "Kau tidak akan melakulannya kan?" Tanya Fang serius.

"Tidak kok. Aku vanilla hari ini." Jawab Boboiboy jujur.

"Vanilla?"

Fang mengedipkan mata lucu, bingung dengan perkataan Boboiboy. Boboiboy tersenyum dan menyubit hidungnya gemas.

"Bukannya kamu liat kalau aku hari ini gentleman banget?"

Fang menatapnya sinis pertanda tidak setuju.

"Kau hampir membuatku tidak bisa berjalan." Geram Fang.

"Dan kau minta satu kali lagi."

Fang membatu. Wajahnya mendadak memerah mengingat apa yang dia lakukan tadi. Dia secepatnya membuang muka, menyembunyikan semburat merah di wajahnya yang kentara jelas.

"Sudah jangan dibahas lagi," tukas Fang cepat. "Aku ke kelas, bye," sahut Fang melepas tautan jemari mereka dan segera mempercepat langkah menuju ruang kelas.

"Dah," seru Boboiboy balik melihat pemuda yang sudah setengah berlari menjauh.

Begitu baru sampai, Fang langsung disiksa ketua kelas karena baru datang. Hikumannya tidak main-main. Gosok ke tiang sampai Fang menangis.

Boboiboy meringis melihatnya. Ternyata hukuman laknat terkutuk itu masih berlaku. Apalagi Fang dalam posisi baru saja selesai melakukan 'itu', pasti dia ngilu.

"Hidup?" Tanya Sai.

"Help..."

"Kau sih pakai acara telat selama itu," omel Sai menolong temannya berdiri. "Makanya kalau pacaran itu tau waktu."

Fang memelototi temannya tersebut lalu menyikutnya. Kenapa dia malah diejek begini padahal baru mendapatkan hukuman parah macam tadi?

Sai menyanggul satu lengan Fang dan membawanya ke kursi terdekat. Dengan pipi yang memerah berat sampai telinga dan air mata yang hampir menitik, Fang menjadi pusat perhatian satu kelas. Apalagi kakinya masih mengapit dan dia tidak mau bergerak sama sekali, sepertinya.

'Sial, habis tadi dikasih beginian. Susah jalan rasanya.' Batin Fang menunduk. Begitu dia duduk, Fang membungkuk sangat dalam sambil memegangi selengkangannya.

"Sakit ka? Seingatku gak begitu sakit?" Tanya Sai, Fang hanya mengangguk dan menggigit bibir bawahnya kuat.

Sai meringis, dia tidak terlalu pandai menghibur orang, dan Fang sepertinya sudah mau menangis.

"Kau mau minum?" Tanya Sai melihat Fang yang masih gemetaran badannya. Fang mengangguk dan Sai segera pergi untuk mengambil sebotol air mineral.

Sai memberikannya pada Fang dan pemuda berkacamata itu segera meminumnya. "Thanks."

"Rasanya gak bisa ikut beres-beres." Bisik Fang susah payah.

"Tak apa sih, kau bisa menebusnya buat besok. Kerja porsi dua kali lipat." Balas Sai.

Fang sekali lagi memelototi temannya. Ucapan Sai itu hanya membuat dia makin kesal saja.

"Kau itu temanku bukan sih Sai?!" Tukas Fang sebal.

Sai hanya menggedikkan bahu. "Aku hanya bilang yang sebenarnya," balas Sai kalem.

Ya, benar sih apa yang dikatakan Sai. Lagipula dirinya juga salah karena tidak datang tepat waktu, dan mungkin saja malah merepotkan teman-temannya di saat jam sibuk. Fang yakin mereka pasti butuh bantuan.

Tidak, kalau dipikir ini bukan salah Fang, "Ini salah si bajingan itu." Geramnya sangat sangat kesal.

"Eh? Siapa?" Bengong Sai yang mendengar geraman temannya.

Fang menggeleng, tanda dia sedang tidak selera menjelaskan sesuatu pada sahabatnya itu. Tapi wajahnya kentara sekali kesal.

Sai hanya bisa menggaruk pipinya bingung. Mungkin lebih baik dia biarkan saja temannya ini.

.

.

.

A/N:

Akhirnya ada lemon scene lagi… Gomen ya kami gak bisa sering-sering nyelipin lemon karena kami nulisnya spontan sebagai respon dari apa yang ditulis orang sebelumnya.

Ini aja ada lemon spontan aku lagi pengen. Inget banget itu pagi-pagi baru bangun, masih di tempat tidur, chat sama Valky-san dan aku bilang ke dia kalau aku pengen lemon scene :') padahal adegan awalnya itu udah fluff banget dan Valky-san lagi mood adegan sweet aku malah pengen smutt hehehe.

Rada pendek tapi gak papalah ya karena buat muasin diri sendiri aja.

Makasih udah baca dan bisa berkenan bisa tinggalkan review buat penambah semangat. Ditunggu aja selanjutnya ya ^^ Oh iya, Salam dari Valky-san buat semua.

Ciao~

(ps: yuk gabung sama grup Fanfiction Addict, kalian bisa cek ig dan twitter kami di FFA_ID, atau kalau mau langsung gabung aja bisa pm no wa ke aku atau cek link di profil wattpadku ya.)