Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta

Warning: Typo, OOC, AU, Age Gap, Yaoi, Smutt, dll

Rated: Mature. (I already warned you, you don't like it? don't blame us.)

.

.

BoiFang

.

.

.

Fang hanya bisa meremas pundak Boboiboy ketika pantatnya dipijat lembut. Dengan kondisi kaca tidak tembus pandang dari luar, menguntungkan dua insan di dalam untuk berbuat aneh-aneh.

Dan di sini lah Fang, berniat ingin protes atas kejadian tadi siang, tapi yang didapat malah pijatan nikmat di kedua pantatnya.

Boboiboy bilang tadi ingin memijatnya sebagai permintaan maaf, selain karena bersimpati atas hukuman tadi siang.

Walau awalnya Fang menolak, dia yakin itu hanya alasan pria berambut cokelat tersebut, tapi Boboiboy tetap memaksa. Dia benar-benar orang paling keras kepala yang pernah Fang temui.

Fang mulai menggigit jas hitam Boboiboy kuat. Air matanya menetes sesekali. Ngilu, nikmat, geli, nyaman, sakit, semuanya bercampur menjadi satu, membuat Fang tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia ingin berhenti. Kakinya sudah gemetaran dan pinggulnya sesekali bereaksi kecil. Sanggat imut dan menggemaskan.

"K-kak..." erang Fang menahan suaranya sebisa mungkin. Dan dari nadanya dia juga memohon untuk berhenti sekarang juga.

"Sedikit lebih lama lagi," ucap Boboiboy. "Kau perlu benar-benar diurut."

"Ta-tapi, nggak begini!" Protes Fang, tangannya mulai gemetaran. "Lagian kau bukan tukang urut!"

Boboiboy terkekeh kecil, "Tapi aku gak suka kalau orang lain yang mengurutmu, jadi harus aku yang melakukannya. Dan maaf, ini cara mengurut yang aku mau lakukan," Fang mendelik, pria bermanik cokelat itu sama sekali tidak terdengar merasa bersalah.

"Tahan sedikit lagi ya." Ucap Boboiboy mencium rambut Fang lembut.

Fang menggeleng. Dia mau berhenti pokoknya.

Boboiboy menghela napas, akhirnya mengalah. Pria itu mendudukkan Fang di sebelahnya.

"Baiklah, kita pulang sekarang," ucapnya memasang sabuk pengaman pada Fang lalu pada dirinya sendiri.

"Mau pergi makan dulu?" Tawar Boboiboy mengambil handphonenya dan dia taruh di atas kemudi. Membuka aplikasi maps guna mengetahui tempat mana saja yang macet.

"Makan ke mana memang?" Tanya Fang.

"Ada tempat atau makanan yang lagi kamu kepengen?" Boboiboy mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran.

Fang tampak berpikir sejenak. Kemudian menggeleng pelan. "Nggak kepikiran apa-apa."

"Tapi laper nggak?"

Fang kali ini mengangguk.

"Kalau begitu terserah aku ya? Aku ada langganan tempatnya aman dan nyaman." Dan disahut dengan anggukan oleh Fang.

Dia seratus persen ikut saja.

Fang hanya menatap jalanan yang mereka lalui. Dia tidak tahu di mana tempat langganan Boboiboy tersebut.

Sampai akhirnya mobil Boboiboy berhenti di depan sebuah pondok bakso. Tempatnya tidak terlalu besar apalagi mewah. Fang ingat, pria itu walau tajir tapi seleranya bisa amat sederhana. Dia tidak malu untuk makan di kaki lima. Fang pikir, itu hal baik mengenai dirinya, walau sifat brengseknya masih lebih mendominasi menurut Fang.

Keduanya turun. "Di sini bakso dan mie ayamnya enak banget lho!" Sahut Boboiboy dengan cengiran lebar sembari menarik Fang masuk.

Fang hanya patuh ikut, menahan senyum melihat antusiasme yang tergambar pada wajah Boboiboy.

Mereka segera mengambil tempat duduk.

Boboiboy mengambil selembar mika yang berisi daftar menu. Dia membaca sekilas lalu memberikannya pada Fang, "Kau mau pesan apa?" Tanyanya.

Fang menerima lembar mika itu dan membaca semua menunya.

"Bakso urat," jawab Fang. Boboiboy mengangguk dan melambaikan tangan pada pegawai tempat itu. Ia memesan dua mangkuk bakso urat.

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu pesanan mereka datang. Fang mencicipinya. Dan pemuda itu kini mengerti kenapa tempat ini menjadi favorit Boboiboy.

Baksonya benar-benar enak. Mulai dari kuah kaldunya, mienya, dan juga baksonya.

Pemuda itu dengan lahap menyantap makanannya. Tidak sadar akan pandangan geli Boboiboy yang ditujukan padanya.

"Makannya pelan-pelan dong. Gak usah terburu-buru, makanannya gak akan lari juga." Goda Boboiboy yang langsung mendapat delikan kesal dengan pipi mengembung sebelah.

"Gak sarkas sehari bisa gak? Ganggu orang makan saja."

Boboiboy hanya tertawa kecil tanpa menyahut. Dia mengambil sendok dan garpunya dan mulai menyantap bakso pesanannya juga.

Sehabis makan malam mereka langsung menuju rumah Boboiboy.

Mereka langsung saja menuju kamar karena tidak ada sepertinya yang ingin menonton tv atau lainnya. Fang membuka lemari pakaian dan mencari pakaiannya yang memang ada beberapa yang ia simpan di rumah Boboiboy. Pemuda itu meletakkan kacamata di nakas dan melangkah menuju kamar mandi.

"Nggak mau mandi bareng?"

Fang melotot pada Boboiboy yang menyeringai jenaka. "Nggak! Dasar mesum!" Serunya sebelum cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Pintu sengaja ditutup dengan kasar.

Boboiboy terkekeh geli.

Lima belas menit kemudian Fang keluar dengan mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu dan celana santai selutut.

"Giliranmu mandi."

Boboiboy mengerang. Mandi malam-malam begini sama sekali menyebalkan menurut pendapatnya. Tapi pria itu tetap saja melangkah ke kamar mandi.

Kurang dari sepuluh menit Boboiboy sudah keluar dari kamar mandi dan melihat Fang yang berbaring dengan sedikit bersandar, menonton sesuatu di ponselnya.

"Kau lihat apa?" Tanya Boboiboy berbaring di sebelah Fang.

"Hanya melihat cover lagu kok," jawab Fang hanya melirik sekilas.

Boboiboy mengintip layar ponsel Fang. Sedang menyusuri video-video dari sebuah chanel.

"Pengcover yang terkenal?" Tanya Boboiboy saat Fang memutar satu video. Menampilkan seorang pemuda sebaya Fang yang memetik gitar berwarna hitam.

Fang menggeleng. "Tidak juga. Hanya saja dia temanku dulu di SMP. Aku baru tahu kalau dia membuat chanel YouTube."

Boboiboy akan mengindahkan kata-kata itu kalau saja tidak ada binar kagum di mata Fang. Fokus pemuda berambut violet tak bergeming dari sosok di dalam video dan Boboiboy kesal karenanya.

Pria itu merebut ponsel Fang tanpa mengindahkan protes Fang dan meletakkan gawai tersebut di nakas yang ada di samping ranjang. Tangan Boboiboy memeluk pinggang Fang dan mereka berbaring dengan posisi yang lebih nyaman.

"Ish, kau ini kenapa?" Tanya Fang sedikit jengkel atas kelakuan Boboiboy barusan.

"Hanya ingin bermanja." jawab Boboiboy tersenyum senang.

"Manja apa jadi nyebelin. Kamu itu gak ada cocok-cocoknya jadi manja tahu tak."

"Cocok kok." Boboiboy menyengir lucu dan berkata, "buktinya aku selalu dipuji ibuku kalau aku jadi anak baik yang menggemaskan."

Fang mengernyitkan alisnya jijik dan sedikit menjauhkan diri dari Boboiboy, "Berapa umurmu? Lima tahun? Ingat diri dong."

"Selamanya tujuh belas tahun."

"Ngaco."

Keheningan sekian detik itu kemudian pecah oleh tawa kedua insan itu. Mengeratkan pelukannya masing-masing dan saling menyandarkan kening keduanya seraya berusaha menahan gelak tawa yang pecah entah karena apa.

"Kak Boboiboy memang narsis." seru Fang berkomentar, tersenyum lucu dan menggemaskan.

"Narsis narsis gini kau juga naksir." Balas Boboiboy seraya mengusap rambut Fang, menyibak poninya sampai menunjukkan jelas keningnya.

"Ih, mana ada aku naksir. Ngawur deh." bohong, Fang dalam hati jatuh hati berat pada Boboiboy. Fang menyalahkan sifat tsunderenya.

"Aku tahu kamu naksir aku," ucap Boboiboy kemudian mengecup kening Fang sekilas, "kamu cuma malu saja."

Fang memerah jelas. Mulutnya terbungkam begitu saja dan dia langsung menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Boboiboy. Jantungnya berdegup kencang dan sama sekali tidak bisa ditenangkan. Perut Fang rasanya seperti diisi berjuta kupu-kupu yang berterbangan acak. Memberikan sensasi senang yang melilit candu.

Fang tersenyum tipis di balik sana. Menyembunyikan rasa senangnya yang tidak mungkin dia tunjukkan pada Boboiboy. Terlalu memalukan.

Salah satu tangan Boboiboy memeluk pinggang Fang dan yang lain lagi membelai rambut keunguan milik pemuda itu. Gerakannya membuat Fang merasa amat nyaman sampai tak butuh waktu lama bagi Fang untuk terlelap.

Boboiboy tersenyum tipis. Ia kecup pucuk kepala Fang. "Mimpi indah, Fang," sahutnya sebelum menutup mata untuk ikut tidur.

.

.

Pagi berikutnya Fang terbangun. Boboiboy masih tidur nyenyak, bahkan saat Fang melepaskan diri dari pelukannya, pria itu tak bergeming.

Fang bangkit dan segera ke kamar mandi untuk mandi pagi. Ia kenakan kembali pakaian cosplay yang kemarin karena hari inipun masih merayakan hari ulang tahun sekolah. Boboiboy sudah tak terlihat lagi di kamar.

Fang segera mengemasi barangnya dan menuju dapur. Boboiboy sudah ada di sana dengan setumpuk roti panggang.

"Pagi," sapa Boboiboy menuangkan kopi ke dalam cangkir miliknya dan meletakkan segelas susu coklat panas ke hadapan Fang.

"Pagi juga," balas Fang menarik kursi untuk duduk sambil mengambil sepotong roti dan selai strawberry untuk dioles.

"Hari ini kau datang ke sekolah lagi?" Tanya Fang. Fang memperhatikan Boboiboy yang sudah rapi mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan warna hitam.

Boboiboy mengangguk. "Sebenarnya aku tidak wajib ada sampai hari terakhir, hanya saja akan lebih baik bagi sponsor-sponsor lain kalau melihat aku mengikuti semua kegiatan kalian."

Fang mengangguk paham dan keduanya menyelesaikan sarapan. Mereka pergi mengendarai mobil Boboiboy namun Fang minta turun beberapa meter sebelum gerbang sekolahnya.

"Kenapa tidak bareng saja sih sampai sekolah?" Gerutu Boboiboy.

Fang memutar bola mata. "Orang-orang akan mempertanyakannya kalau aku datang bersama mu."

"Kau bisa membuat alasan semisalnya aku melihat mu ditengah jalan dan memberi tumpangan."

Fang menggeleng. "Aku malas menjawab kalau mereka kepo." Dan Fang keluar dari mobil. Membiarkan Boboiboy masih menggerutu tak senang.

"Ugh, baiklah," sahut Boboiboy pasrah tapi tampangnya masih sangat kesal.

Fang yang melihatnya kembali memutar mata. "Oh, jangan merajuk," sahut Fang lalu menunduk untuk mengecup pipi Boboiboy.

Boboiboy mengedipkan mata kaget lalu tersenyum lebar.

"Oke, bye," lambai Fang pamit.

Dia berlari sampai tak terlihati di belokan dan berkumpul dengan kerumunan anak sekolahnya yang jalan kaki. Semburat merahnya baru kentara jelas setelah benar-benar jauh dari sosok Boboiboy.

'APA YANG AKU LAKUKAN?!' Batin Fang hampir menjambak rambutnya dan menghancurkan tatanannya. Bisa-bisanya dirinya dengan pede mencium pipi Boboiboy. Kalau begini yang di sana kelewat senang nanti. Sementara dirinya gak akan bisa fokus. Apalagi hari ini dirinya harus kerja esktra guna membayar dirinya yang 'bolos' kemarin.

Fang menyesal tapi juga senang.

Sementara Boboiboy tiba di area sekolah lebih dulu dengan wajah cerah dan senyum menawan.

"Kenapa pagi pagi wajahmu begitu? Menjijikkan, ganti." Komentar Ying pedas.

"Jones mana paham."

Dan Boboiboy langsung mendapat tendangan dari Ying di bokong.

.

.

A/N:

Hola… pendek ya? _(˚u˚; )

Yang bikinnya pada males sih :'D jadi kalau nungguin fic ini harus pada bersabar…

Bab ini rada-rada fluff, walau openingnya malah begitu wkwkwk, maunya aku bikin sex in the car cuman dilarang Valky-san, katanya kasihan Fang :') tapi aku tetep planning buat bikin untuk nanti-nanti hohoho /dijewerValky-san

Thank you buat udah baca, dan thank you yang review.

(jangan lupa, yuk gabung sama grup Fanfiction Addict, kalian bisa cek ig ffa_id dan twitter FFA_ID, atau kalau mau langsung gabung aja bisa pm no wa ke aku atau cek link di profil wattpadku ya.)

See you in the next chap~

Ai19&Valky