Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta
Warning: Typo, OOC, AU, Age-gap, All human, some mature content in few chapter, etc…
.
.
.
.
Fang, Sai, dan Shielda berjalan sambil mengobrol menuju gerbang. Hari sudah sore dan acara untuk hari kedua akhirnya beres, ditambah beres-beres terlebih dahulu.
"Eh Fang," Shielda menyela perdebatan kecil Fang dengan Sai. Fang menoleh padanya dengan pandangan bertanya, Shielda jawab dengan menunjuk ke satu arah.
"Abang mu nungguin tuh," sahutnya. Kaizo sedang berdiri bersandar pada mobil yang diparkir di bahu jalan.
Fang mengerang. "Aku duluan ya," pamitnya setengah hati dan mendekati Abangnya.
Sambil berjalan, Fang berpikir kalau Abangnya pasti marah karena dirinya tidak pulang kemarin. Walau sudah kirim pesan izin menginap di rumah teman. Hanya saja Fang tidak memberitahu menginap di mana saat itu. Dia malah takut kalau Abangnya tahu dirinya menginap di rumah Boboiboy. Mereka mitra kerja soalnya. Jadi Fang memutuskan untuk menyimpan hal ini dari Abangnya.
Bagaimana pun caranya, Abangnya tidak boleh tahu.
"Muncul juga kau," sahut Abangnya dengan sebuah delikan tajam. Fang meringis, ah, sebentar lagi dimulai, sebuah ceramah panjang untuk seharian ini.
"Ayo masuk," suruh Abangnya sembari ia sendiri berjalan menuju pintu mobil tempat pengemudi.
Fang menurut. Duduk di bangku samping pengemudi.
"Kalau kau mau menginap di rumah teman, kau harusnya bilang secara langsung, jelaskan akan menginap di tempat siapa, siapa saja yang ada di sana, tujuan menginapnya apa, ..."
Omelan itu berlanjut. Fang hanya bisa mengangguk pasrah, walau sebenarnya kata-kata Kaizo lewat begitu saja tanpa tecerna.
"Jadi kau nginap di tempat siapa?" Akhirnya Kaizo bertanya.
"Teman." Jawab Fang pendek menyembunyikan gugupnya.
"Sai?"
Fang mengatupkan mulutnya rapat dan mengangguk kaku. Merasa bersalah karena berbohong tapi memang lebih aman kalau Abangnya itu menduga ia bersama Sai. Setidaknya Sai dapat ia percaya untuk membantu sandiwaranya kalau Abangnya mengingterogasi.
"Ngapain?"
"Hanya main," sahut Fang.
Kaizo meliriknya dengan tegas dan Fang mengunci pandangan pada jalanan.
Dia keringat dingin sendiri kalau satu tempat dengan Abangnya. Ingin kabur.
"Lain kali ajak Sai menginap di rumah saja." Ucap Kaizo. Fang langsung menatap Abangnya syok.
'Mampus.'
"Kau akhir akhir ini terlalu sering pergi keluar rumah." Lanjut Kaizo.
"Ta-tapi kan aku masih muda. Jadi, kalau aku pergi ke rumah temen gak apa kan. Lagipula yang lain juga biasa menginap ke rumah temennya," jelas Fang walau sebenarnya tidak yakin.
"Fang..."
"Uh, y-ya?"
"Berani membantah?"
Fang meneguk ludahnya sendiri. Dia menunduk dan menggeleng kecil.
"Untuk seminggu ini kau tidak boleh menginap di rumah teman mu, langsung pulang," sahut Abangnya begitu mereka sudah memasuki halaman rumah.
Fang mengerutkan kening dengan ekspresi tak suka. Oke, mungkin dia salah tidak izin dulu dengan benar, tapi tidak perlu di hukum seperti ini juga.
"Tapi bagaimana nanti kalau aku ada tugas yang makan waktu lama atau hal lain?" Protes Fang.
Kaizo memberikan tatapan serius yang tidak bisa dibantah.
"Tidak ada tapi-tapian, kau Abang jemput tiap pulang, dan kalau ada tugas kelompok juga akan Abang antar jemput."
Fang membelalakkan matanya, kemudian merenggut. Dia sudah anak SMA, bukan SD lagi! Tidak perlu antar jemput sekolah lagi!
Begitu mobil terparkir, Fang langsung keluar dan berjalan ke kamarnya. Pergi ke lantai dua dan mengunci pintunya begitu masuk. Tasnya dilempar begitu saja ke kasur dan tengkurap diri di kasur.
Sungguh Fang marah, dia tidak bisa dikengkang seperti ini. Padahal orang tuanya tidak masalah, kenapa Abangnya malah bertindak lebih overprotektif dari orang tuanya?
Tangan Fang mengepal meremas selimut tebalnya. Dia tidak tahu ke mana mau melampiaskan amarahnya.
Akhirnya ia menghempaskan tubuh ke atas kasur. Wajah terbenam di bantal.
Getaran di saku celana membuat ia mengerang malas. Fang mengambil hp dari saku celana, menelengkan wajah sehingga setengah wajahnya dapat mengintip layar hp.
Sebuah chat. Dari Boboiboy.
Fang mendecakkan lidah lalu membuka pesannya.
'Kau ke mana? Tidak kelihatan sepulang sekolah?'
Fang dengan cepat mengetik balasan.
'Pulang. Tadi Abang nungguin.'
Lalu dengan bibir mengerucut ia menambahkan.
'Dimarahi dan dilarang keluar.'
'Kita gak bisa ketemuan dong? Apa perlu aku menculikmu saja?'
Fang mengerutkan alisnya, 'Kau gila?'
'Aku gila karenamu, Fang.'
Haruskah Boboiboy menggodanya di saat-saat seperti ini? Fang jadi malas membalasnya.
'Fang?'
Agak diam lama. Fang akhirnya mendudukkan diri dan membalas, 'Apa?'
'Mungkin lebih baik kita tidak bertemu sementara.'
Fang membelalakkan matanya, 'Kenapa?'
'Pekerjaan.'
Fang menggigit bibirnya. Ia ingin bertanya masalah pekerjaan apa, tapi tidak mau dianggap terlalu penasaran dan ia sendiri juga tidak yakin akan cukup mengerti kalau dijelaskan juga.
Akhirnya dengan napas panjang ia membalas. 'oke.'
'Tapi aku usahakan akan menghubungimu serutin mungkin. Kalau bisa kita telponan deh. Gimana?'
Tidak bisa untuk tidak tersenyum membaca chat yang dikirim Boboiboy. Dia selalu berusaha membuat Fang tersenyum bagaimana pun caranya.
'Oke.'
Pagi harinya. Fang mengoles rotinya dengan wajah super kesal sembari sesekali memberikan pelototan pada Abangnya yang dengan cueknya tidak mengindahkannya sama sekali. Kedua orang tua mereka hanya bisa menggelengkan kepala maklum. Sudah sering menghadapi pertengkaran kedua putra mereka.
"Ayo cepat, ku tunggu di mobil," sahut Kaizo menghabiskan kopinya dan beranjak dari meja makan.
Fang menggerutu kesal, lalu cepat-cepat menelan sisa rotinya. Mengambil tas dan dengan ogah-ogahan memasuki mobil.
Perjalanan dilewati dengan kebisuan. Fang masih merasa kesal dan Kaizo tentu tidak peduli pada tindakan ngambek semacam ini.
Fang tiba di sekolah bersamaan dengan Sai dan Shielda. Ia segera menyusul teman-temannya yang berdiri di depan gerbang.
"Tumben kau diantar Abang mu," sahut Sai membuka percakapan tanpa sapaan lebih dulu.
Fang mengerang. "Dia memarahiku dan menghukum untuk diantar jemput seminggu ini."
"Wow, seminggu? Kok bisa?"
"Aku pergi menginap." Jawab Fang.
"Fang, kau bisa menginap juga?" Tanya Shielda tidak percaya. Dan langsung dapat delikan tak suka dari Fang, "Oke, oke. Maaf."
"Kau menginap di mana emang?" Tanya Sai lagi.
"Aku bilang aku menginap di tempatmu."
Sai dan Shielda kompak menatapnya keheranan.
"Tapi kau kan tidak nginap di rumah kami," sahut Shielda yang disambung pula dengan Sai.
"Ada sampai perlu bohong begitu?"
"Yah... Bagaimana ya... Aku hanya tidak yakin dia setuju kalau aku jujur," jawab Fang lalu dia melirik Sai dengan tatapan penuh arti.
Sai langsung paham dan mengangguk mengerti.
"Emang kau ngapain?" Desak Shielda yang kini makin penasaran oleh jawaban samar sahabatnya.
"Sudahlah Shielda, itu urusan cowok," sela Sai menyelamatkan Fang dari pertanyaan Shielda.
Shielda mengerutkan kening sebal dan mulai adu mulut dengan saudaranya.
Fang hanya berjalan di belakang si kembar sambil menunduk. Entah kenapa hari ini dia tidak bersemangat. Ingin kabur lagi, tapi itu bukan jawaban. Yang ada hukuman dari Abangnya malah menjadi-jadi nanti. bisa bisa ditambah jadi satu bulan.
Fang tidak mau itu. Dia masih ingin bertemu dengan Boboiboy sesekali. Dan ngomong-ngomong soal dia, pagi ini Boboiboy tidak membalas chatnya. Apa dia sibuk kerja ya?
Fang penasaran.
Fang mengeluarkan hpnya. Membuka aplikasi chat dan mencari kontak Boboiboy. Menimbang-nimbang apa ia perlu mengirimkan pesan lagi.
"Ya elah, Fang, baru juga pagi udah pacaran," ujar Sai.
Fang menoleh padanya, sedikit terkejut. Ia terlalu lama melamun rupanya tanpa sadar kalau sudah di depan kelas, Shielda sudah menghilang, masuk ke kelasnya sendiri.
"Bukan begitu," sangkal Fang. Sai memutar bola mata. "Aku hanya penasaran kenapa dia tidak membalas chatku," sambungnya dengan suara berbisik.
"Masih tidur mungkin. Ini pagi juga, atau dia sibuk mau pergi kerja. Dia bukan anak sekolahan kaya kita." Balas Sai lalu berjalan ke ruang ganti.
Fang menatap layar handphonenya sejenak dan menatap Sai, "Mungkin benar." Lirihnya lalu berjalan ke ruang ganti.
Selama hari ketiga ulang tahun sekolah, semuanya berjalan lancar. Bahkan karena ini hari terakhir malah sekolah semakin ramai. Fang dan Sai sampai kuwalahan antara dimintai berfoto dan mengurus pelanggan. Mereka seperti tidak ada waktu istirahat sama sekali.
Pulangnya, Kaizo sudah menunggu. Fang jadi bertanya-tanya bagaimana dengan kerjaan Abangnya itu yang pastinya harus ditinggal sebentar. Bukannya akan repot lalu sampai ada rapat yg ditunda atau dibatalkan.
Di rumah Fang hanya berbaring di kamar sembarangan mengutak-atik ponsel.
Belum ada balasan dari Boboiboy.
Sebenarnya pekerjaan apa sampai tidak pegang hp hampir seharian? Sebentar, Boboiboy pasti memegang hpnya. Hanya saja chat Fang tidak dibuka saking sibuknya dengan pekerjaannya?
Fang sangat penasaran. Dia ingin menemui Boboiboy dan melihatnya atau menemaninya bekerja. Walau bakal mengganggu pasti. Tapi dia sangat penasaran.
Dilarang keluar rumah oleh Abang overprotektif, pacar yang tidak tahu pasti kabarnya. Fang sangat ingin mengasihani diri sendiri rasanya.
Fang beranjak ke meja belajarnya dan mengambil salah satu novel tebal. Dia berniat menghabiskan waktunya dengan membaca apa saja yang berguna sampai entah kapan.
Mungkin sampai chatnya dibalas oleh Boboiboy.
Dia sudah membaca sekitar 20 halaman saat ponselnya bergetar.
Dengan tergesa-gesa ia membuka aplikasi chatnya.
'Sori, tadi rada sibuk jadi belum bales chat.'
"Akhirnya orang itu nongol juga," gerutu Fang.
'Pekerjaanmu banyak?' balas Fang. Dia menunggu cukup lama agar segera dibaca. Tapi tidak ada tanda-tanda Boboiboy kembali aktif.
Masih sibuk?
Fang mengerang. Akhirnya dia bosan menunggu, ditutupnya novel dan keluar menuju dapur, membuka kulkas untuk mencari camilan.
Makanan adalah obat terbaik untuk mengatasi rasa bete.
"Jangan merampok isi kulkas," tegur Kaizo yang muncul entah darimana.
Fang meleletkan lidah, dengan pandangan menantang mengambil satu bungkus biskuit lagi.
Dengan tangan terisi penuh, Fang membuang mukanya dan kembali ke kamarnya. Dia tutup kulkasnya lebih dulu menggunakan kakinya. Tidak mau mempedulikan keberadaan Kaizo yang hanya mendengus kecil melihat tingkah adiknya.
Tidak lama Fang kembali membuka kulkas.
"Mau ngerampok apa lagi kamu?" Tanya Kaizo.
"Jus wortel. Semuanya punyaku." Jawab Fang mengambil dua kotak jus wortel. Tidak menyisakan satu saja kotak untuk Abangnya atau keluarganya yang lain.
"Hoi!" Seru Kaizo kesal dan mengambil langkah cepat-cepat untuk merebut harta karun yang dijarah adiknya.
Fang tanpa basa-basi langsung melarikan diri, diekori Kaizo tentunya. Tapi dengan beruntung Fang bisa lolos, lebih dulu masuk ke kamar dan menutup pintu kamar dengan aman.
Tidak mengindahkan Abangnya yang menggedor-gedor pintu dan mengomel.
"Dasar adik sialan."
'Dasar Abang sialan,' tentu saja hanya di dalam batinnya. Kau di ucapkan keras-keras sih, Fang yakin pintu akan didobrak Abangnya yang brutal itu.
Fang menaruh dua kotak jus wortel di atas meja belajarnya. Saat dia iseng membuka hpnya kembali, dia mendapati Boboiboy membalas chatnya.
Fang langsung duduk anteng dan membacanya.
'Ya, banyak. Begitulah.'
Balasan Boboiboy seperti sekenanya. Terkesan seperti sudah lelah.
Fang menggigit bibir bawahnya. Ah, mungkin Boboiboy benar-benar capek saat ini.
Dengan enggan Fang mengetik, 'istiraha sana', walau dia punya banyak pertanyaan saat ini.
'Ini aku sedang istirahat. Walau bukan di rumahku sih.'
Fang membuka salah satu bungkus chip dan memakam satu biji, 'Memang kau di mana sekarang?'
Boboiboy mengirim foto kakinya yang selonjoran di kasur masih terbalut celana hitam panjang dengan fokus dinding krem dengan cahaya tamaram kekuningan dari lampu yang menempel di dinding. Di sana ada meja rias dan cerminnya dan vas besar yang tidak terisi apapun. Fang jelas tahu itu bukan kamar Boboiboy.
'Aku untuk sementara tidur di rumah orang tuaku.' itu tulisan yang menyertai foto yang dikirim Boboiboy.
Fang mengangkat sebelah alis. Fang tahu kalau Boboiboy sering mengunjungi rumah orangtuanya karena jarak tempat tinggal mereka juga tidak terlalu jauh, tapi kalau untuk menginap sementara di rumah orang tuanya sih jarang sekali. Toh Boboiboy sudah punya rumah sendiri.
'Ada acara keluarga?'
'Bisnis.' balas Boboiboy singkat.
Oke, ini di luar jangkauan Fang sekarang.
'Dan kau tahu, aku dapat tamu lucu.'
'Apa itu?'
Boboiboy mengirim foto lagi. Seekor kucing yang tidur di sebelahnya.
Fang otomatis tersenyum gemas. Kucing yang ada di foto itu kelihatan manis sekali, nyaman tidurnya walau tangan Boboiboy mengelus bulunya.
'Kucingnya imut.'
'Iya, kayak aku.'
Fang memutar bola mata.
'Kau sih amit-amit.'
'Amit-amit gini, kamu naksir juga kan.'
Sungguh seandainya Boboiboy ada di dekat Fang, sudah dia bogem wajahnya dengan senang hati. Untung jauh, 'Kata siapa aku naksir kamu? Mimpi.'
'Tsundere banget sih. Lucu gemesin tahu.'
Fang lelah. Dirinya ini tampan, bukan lucu apalagi gemesin.
'SUDAH KU BILANG AKU INI TAMPAN!' ketik Fang.
'iya deh, iya deh.' entah kenapa Fang curiga kalau Boboiboy tengah tertawa.
'Btw, itu kucing orang tua mu?'
Fang mengalihkan kembali pembicaraan. Kalau diteruskan tidak ada habisnya berdebat dengan Boboiboy.
'Iya, namanya Cattus. Kucing ini aneh, masa kaktus dimakan. Ada wiskas malah makan yang berduri. Langganan masuk klinik.'
Fang mau tertawa membacanya, 'Aneh kaya tuannya.'
'Enak saja, tuannya sih awesome gini, bukan aneh. Tapi dia lucu sih, manja.'
Fang tersenyum saat Boboiboy mengirimkannya video. Cattus mendusel pada tangan Boboiboy yang menggelitik telinga kucing tersebut.
Entah kenapa mendadak cemburu ya sama kucingnya Boboiboy. Ingin dirinya yang dielus Boboiboy terus bisa tidur di sebelahnya manja gitu.
'Ya lah. Sampai kapan kau menginap di sana?'
'Sekitar tiga hari saja.'
Kalau begitu Fang harus sabar lagi selama tiga hari kedepan untuk frekuensi mengobrol yang terbatas.
'Habis itu aku harus keluar kota.'
Fang langsung membelalakkan matanya, 'Ngapain?!'
'Buka cabang.'
Fang menggerutu. Ralat. Dia harus bersabar selama berminggu-minggu untuk kemungkinan terburuk.
'Buka cabang dimana?' tanya Fang. Walau sebenarnya itu hanya basa-basi. Peduli apa dia di kota mana Boboiboy harus pergi saat bete begini.
Yah walaupun Fang sedikit merasa bersalah juga sih. Bukankah seharusnya dia memberikan selamat pada Boboiboy.
'Rahasia. Nanti kalau sudah jadi aku kasih tahu.'
'Pelit.'
'Aku gak pelit kok. Buktinya kau minta donat lobak merah selusin juga aku belikan.'
Ya itu sih dibelikan karena kalau tidak dituruti Fang bakalan ngambek berat. Jadi tidak bisa dihitung kan.
'Itu kewajiban harus menyerahkan selusin donat merah untuk ku, kalau kau kenal denganku.'
'Udah mirip sesajen aja.'
'Kamu mau bilang kalau aku ini setan!?'
'Setan mana mau dikasih sesajen, Fangku sayang. Yang ada mereka senang bisa ngerjain kita.'
Pipi Fang bersemu. Barusan Boboiboy ngetik dan manggil dirinya sayang? Iya sih sering, tapi tetap saja memalukan.
'Uuh. Semoga aja mereka dengan senang hati mau ngerjain kamu.' ketik Fang menyembunyikan rasa malunya.
'Aku gak takut sama setan. Aku takutnya ditinggal kamu selamanya.'
Fang menahan diri untuk tidak membanting hpnya. Harus berapa kali Boboiboy untuk menggodanya dan membuat dirinya malu? harus berapa kali?
'Sudah! Berhenti menggombal!' ketik Fang dengan emosi berlebih.
'Siapa yang gombal? Aku berkata apa adanya aja kok.'
Fang mengacak rambutnya frustasi. Yakin sekali saat ini Boboiboy tengah tersenyum lebar karena tahu efek apa yang ia lakukan menjahili Fang seperti ini.
'Pokoknya kamu gombal, titik.' balas Fang mutlak.
Setelah itu Boboiboy tidak membalas sama sekali.
'Apa dia sudah tidur ya?' pikir Fang.
Diliriknya jam yang menunjukkan bahwa memang malam telah cukup larut. Fang menguap. Mendadak menyadari bahwa ia mengantuk.
Di letakkannya hp lalu beranjak menuju kasur. Berbaring lalu mematikan lampu.
.
"Fang, bangun!"
Fang mengusap matanya mendengar suara ibunya. Hanya saja dia masih malas beranjak dari kasur.
"Abanh mu sudah menunggu! Kau bisa telat!"
Kata-kata ibunya akhirnya membuat Fang duduk dan menatap jam dinding.
"Shit!" Umpatnya berlari ke kamar mandi.
Pagi itu ia lakukan semua dengan terburu-buru. Sarapan di-skip, hanya mengambil selembar roti lalu langsung berlari menuju mobil Abangnya.
"Rapikan seragammu. Tidak enak dilihat." Seru Kaizo dari kursi kemudi saat Fang sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
Fang yang memakan rotinya pun menatap seragam yang dikenakan. Secepatnya dia rapikan sampai kelihatan enak dilihat.
"Ngapain saja kau sampai telat bangun?" Tanya Kaizo tidak lama setelah mobil melaju di jalanan.
"Sesukaku ngapain. Bukan urusan Abang." Balas Fang sewot.
"Urusanku juga. Kau hampir telat."
"Tapi ini hari setelah ulang tahun sekolah. Paling juga gak ada pelajaran."
"Walau tidak ada pelajaran, namanya disiplin harus tetap dijaga."
Fang merengut. Masih pagi sudah dapat ceramah dan nasihat dari Abangnya. Menyebalkan bagi Fang.
"Sampai sekolah jangan lupa sarapan lagi. Sakit kau nanti kalau perutmu kosong."
"Uang jajanku tambahin dong kalau gitu."
Kaizo berdecak langsungan, "Mata duitan."
"Hidup perlu duit, Bang," ucap Fang sok bijak.
Kaizo menahan diri untuk menjitak adiknya karena sedang menyetir. Jadi dia hanya memutar bola mata saja.
Sesampainya di depan sekolah, Fang segera turun dan berlari ke arah gerbang.
"Jangan lupa nanti Abang jemput!" Teriak Kaizo dari dalam mobil
"Iya tau, cerewet!" Balas Fang juga berteriak.
.
Di dapur dengan menompang siku kanannya pada konter keramik, tangan Boboiboy membantu menopang mug hitam legam yang berisi kopi panas, dengan perlahan diminum sementara tangan satunya sibuk menggulir layar tab yang diletakkan di atas konter. Sarapannya sudah habis, sambil menunggu niat untuk berangkat bekerja, Boboiboy membaca berita pagi yang isinya hanya seputar itu-itu saja.
"Boboiboy." Panggil Amato yang sedang mengelap piring bekas putranya makan.
"Hmm?"
"Kapan Ayah bisa ketemu pacarmu?"
Boboiboy langsung menyemprotkan kopinya reflek.
"Reaksimu berlebihan," sahut Amato. Dia membalas santai lirikan tajam kesal Boboiboy sembari pemuda itu sibuk membersihkan cipratan kopi yang ia semburkan. Beruntung tidak ada tetesan cairan panas itu yang membasahi tabnya.
"Ayah sih ngagetin, lagian kenapa sih harus buru-buru," gerutu Boboiboy.
"Wajarkan kalau orang tua penasaran sama siapa anaknya pacaran," jawab Amato.
"Ugh," Boboiboy bersungut-sungut. Dia masih belum tahu kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan Fang pada ortunya. Mengingat ia dan Fang masih backstreet.
Lagipula Boboiboy tidak tahu, apakah Ayahnya akan marah atau syok kalau tahu putra semata wayangnya berpacaran dengan laki-laki. Skenario terburuk mungkin tidak dianggap anak dan diusir dari rumah.
Tidak siap menghadapi skenario itu.
"Jadi, kapan? Setelah kau keluar kota?" Tanya Amato mengingatkan.
"Uhm, aku tidak tahu. Tunggu dia siap." Dan aku juga, batin Boboiboy mengimbuhi.
Amato menatap putranya lamat-lamat, kemudian pria itu menghela napas.
"Terserah kamu lah," pria paruh baya tersebut meletakkan tangan ke pundak putranya.
"Kami seperti ini hanya ingin memastikan dengan siapa kamu punya hubungan, orang itu memang yang terbaik untuk kebahagian kamu. Nggak ada alasan buat kamu takut buat menghadapi kami dengan pasangan pilihan kamu," ujarnya dengan suara kalem lalu berlalu keluar dapur.
Boboiboy termangu. Terdiam memikirkan ucapan Ayahnya sembari memandangi kopi yang ada di dalam cangkir.
Kemudian Boboiboy tersenyum. Dia memejamkan mata merasa bersyukur dan senang memiliki Ayah seperti ini. Boboiboy letakkan kopinya dan mendongak pada Ayahnya, "Terima kasih, Ayah."
Melihat itu Amato balas tersenyum.
"Aku akan bicara dengan dia nanti."
'Eh bentar... Dia lagi dihukum Kaizo seminggu ini,' batin Boboiboy tepuk jidat.
"Tapi kayaknya masih belum bisa dalam waktu dekat," sahut Boboiboy pada ayahnya sweatdrop.
"Tak apa. Asal secepatnya." Balas Amato santai lalu berjalan lalu.
Boboiboy menoleh pada Ayahnya yang pergi, lalu kembali fokus pada tabnya. Membaca kalimat berita yang sempat tertunda tadi seraya pikirannya melayang bagaimana reaksi Fang kalau bertemu keluarganya
Gugup kah? Senang kah?
Semoga saja keluarganya benar-benar bisa menerima Fang dan Fang bisa akrab dengan kedua orang tuanya. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang kekasihmu mendapat restu penuh dari orang tua mu.
Dan pertanyaannya, bagaimana cara Boboiboy dapat restu dari orang tua dan kakaknya Fang? Boboiboy sangat kenal Kaizo. Pria itu seorang yang sangat keras dan teguh pada pendiriannya. Sedikit menyeramkan juga, apalagi melihat sifat overprotektif dan broconnya. Boboiboy harus menyusun kalimat guna memenangkan hati Kaizo agar mendapatkan Fang.
Tantangan sebenarnya dari hubungan ini sepertinya bukan orang tua. Tapi sosok bernama Kaizo yang menjabat menjadi kakak kandung Fang.
Musuh yang berat.
Boboiboy menghela napas. Mudah-mudahan saja saking sayangnya pada Fang, Kaizo mau memberikan restu demi kebahagiaan adiknya.
Boboiboy menatap tabnya lalu bergerak membuka aplikasi chat.
'Kalau kau minta hal yang menurutmu mustahil pada Abang mu, apa bakalan dikabulkan?'
Tidak lama chat itu dibalas, 'Aku tinggal ngaduin ke mama sama papa.'
Boboiboy tersenyum, yang punya saudara selalu saja ada jalan keluarnya.
'Dikabulkan?'
'Iya. Aku kan anak kesayangan.'
Boboiboy percaya kalau itu memang benar. Fang memang anak manja, yang pasti dipengaruhi oleh kedua orang tuanya.
'Iya deh... Dasar anak manja.'
Boboiboy nyengir, membayangkan wajah kesal—tapi imut—pemuda itu saat membaca pesannya.
'Ngejek terus. Aku mau sekolah dulu.' balas Fang cepat.
Boboiboy tidak membalasnya. Karena dia tidak mau mengganggu sesi belajar Fang.
.
"Jadi gimana?"
Fang menoleh pada Sai. "Apanya?" Sahutnya bingung.
"Hukuman mu," jawab Sai nyengir melihat sahabatnya yang malah memasang wajah memberengut.
"Menyebalkan," ketus Fang. "Bahkan untuk ke supermarket aja aku gak dibolehin."
"Ututu kasihannya. Kau Rapunzel atau Cinderella?" Ledek Sai lalu tertawa kekal. Bahunya langsung ditinju Fang.
Sai terpaksa berhenti tertawa dan mengusap bahunya, "Kau sih, ada acara menginap ke rumah dia. Kan kena batunya."
"Ya sesukaku lah mau menginap di mana. Memang aku anak TK apa, yang harus tidur terus di rumah."
"Iya."
Fang langsung mencubit kedua pipi Sai dan menariknya sampai melar.
"Sakit woi!" Seru Sai langsung melepaskan cubitan Fang. Pipinya memiliki bekas cubitan yang memerah. Sambil menggerutu, Sai mengusap kedua pipinya.
"Iya deh maaf."
"Omong-omong, bentar lagi hukuman selesai kan?"
Fang mengangguk. "Habis masa hukuman ini, aku mau pergi beli donat lobak merah depan kantor pos," manyun Fang. Gara-gara tidak diperbolehkan keluar rumah dia jadi tidak bisa beli donat kesukaannya yang kedainya hanya buka sebentar di sore hari itu.
"Ohh, terus bisa ketemu yayangmu dong."
Fang bukannya semangat malah menyandarkan kepalanya di meja dan membelakangi Sai dengan aura keputus asaan.
"Eh? Kok lesu?"
"Dia keluar kota. Aku gak tahu kapan pulangnya."
"Ohh... Pantas." Sai manggut-manggut paham, "Emang kalian tidak telponan?"
Fang menggeleng, "Kami seringnya chating pas malam. Kalau siang dia sibuk."
"Perhatian banget sih."
Fang melempar penghapus ke muka meledek Sai.
"Kalau cuman iri, sana pergi," balas Fang sarkas.
"Huu, siapa juga yang iri sama hubungan penuh drama kayak punya kamu, aku mah mau yang santai-santai aja," ujar Sai.
"Santai kok gonta-ganti pacar. Situ playboy atau bajingan?" Sindir Fang mencibir.
"Oi oi, aku single happy ya sekarang. Mau fokus belajar saja demi masa depan yang cerah."
Fang ingin muntah mendengarnya.
"Huh, kalau ada cewek cakep yang nembak pasti diterima juga," gumam Fang.
"Ah udah deh, dari pada ngomongin hal yang berat gini mending ganti topik deh," keluh Fang.
"Berat apanya, topik begini biasa kok," ketus Sai memutar bola mata. "Lagian emang kita mau bahas apa lagi yang lebih seru dibanding itu."
"Kembaranmu jalan sama Probe."
Sai membelalakkan matanya, "Apa?!" Pekiknya langsung berdiri penuh amarah.
"Ke ruang guru nganterin tugas teman sekelasnya." Lanjut Fang.
Sai menendang kaki Fang. "Kirain jalan yang kayak apa." Kesalnya.
"Dasar Abang protektif," ledek Fang.
"Enak aja, mana ada aku protektif, jangan samain aku sama Abang mu," ketus Sai.
"Tapi bentar, mau liatin Shielda."
Fang sweatdrop melihat temannya yang sudah ngeloyor keluar kelas.
"Nggak protektif katanya."
Fang lalu mengeluarkan hpnya. Dia membuka Instagram dan cukup kaget mendapati Boboiboy update story. Dengan penasaran dan secepat kilat, Fang membuka dan melihat langsung apa yang ada di sana.
Foto Boboiboy yang berfoto dengan pria berjas rapi dan wanita bergaun indah. Caption-nya hanya 'Terima kasih untuk pertemuan hari ini...' dan menandai setiap orang yang ada di foto itu.
Fang cemberut. Karena Boboiboy berdiri diapit dua wanita yang sepertinya sengaja merangkul lengan Boboiboy.
Baru saja Fang hendak menyimpan hp kembali dia mendapat notifikasi pesan.
'Sudah pulang?'
Fang diam lama. Dia lalu membukanya dan membalasnya, 'Belum.'
Lagipula sudah jelas belum pulang kan? Ini masih jam satu siang.
'Lagi istirahat?'
Fang ingin menjawab, 'nggak lagi bete', tapi karena akan sangat merepotkan juga kalau Boboiboy tanya-tanya. Dan jujur, memalukan juga mengakui alasannya.
'Tidak, lagi jam kosong. Gurunya sakit.'
'Oh, gak belajar atau dikasih tugas?'
'Dikasih tugas. Tapi aku sudah selesai.' Fang membalasnya dengan bangga.
'Ooh... Bagus deh, kamu rajin.'
Fang tersenyum tipis. Sebuah pujian yang tidak diselubungi menjahili, jarang-jarang pria itu begitu.
'Tumben baik. Habis ada hal bagus terjadi?'
'Ya begitulah. Aku ceritakan kalau sudah pulang.'
Ya harus diceritakan lah. kalau tidak, akan Fang paksa.
'Kalau begitu kapan kau pulang?'
'Oh... Ada yang kangen? ;)'
Fang mendecakkan lidah.
'Emot mu bikin jijik.'
'Emot imut begini masa jijik?!'
'Jijik.'
';)'
'Stop.'
';)'
Fang memilih tidak membalasnya. Dia kesal. Selalu saja Boboiboy menggodanya begini. Tidak capek apa?
'Fang?'
'Faaaaaaang?'
'Faaaaaang?'
':0'
'Faaaaaaaaang! Aku jangan dicuekin!'
Fang hanya menatap layar hpnya dan tersenyum bangga. Dia merasa berhasil balas dendam pada Boboiboy.
'Ya udah deh :v nanti aku pulang langsung nyulik kamu aja.'
Wajah Fang memerah. 'Dasar sial,' batinnya menyembunyikan wajah dengan lengan di atas meja.
Harus ya Boboiboy mengirim chat seperti itu? Dia tidak punya takut apa pada Kaizo? Entah nekat atau bodoh orang ini.
Tapi Fang tetap senang. Dalam hati dia bisa merasakan sesuatu yang menari dan menggelitik. Ini sungguh seperti kebahagiaan tiada tara.
Fang lalu membalas chatnya dengan satu kata saja.
'Bodoh.'
Boboiboy membalas dengan sederet panjang emoticon. Fang menggeleng tapi dengan senyum simpul.
"Jangan senyum-senyum sendiri, nanti dikira orang gila kamu."
Fang memolototi Sai yang entah sejak kapan sudah kembali ke kelas.
"Gimana mata-matain Shielda nya?"
Sai mengangkat bahu. "Habis mereka dari kantor guru aku udah pastiin mereka ke kelas lagi."
"Brocon." Ledek Fang singkat.
"Kau saja yang tidak tahu rasanya punya adik."
"Memang, soalnya aku kan adik." Balas Fang bangga, dan itu membuat Sai sedikit kesal.
"Kok bisa-bisanya Kaizo tetep sayang sama adek nyebelin macam kamu?"
Fang meleletkan lidahnya lalu kembali pada hpnya sedangkan Sai duduk lagi di bangkunya.
"Chatting sama siapa kau? Sama si dia lagi?" Tanya Sai.
"Pengen tahu apa pengen tahu?" Tanya Fang balik dengan menggoda dan niatan jahil.
Perempatan imajiner tercipta di kening Sai, dia menahan diri untuk tidak meninju teman sebangkunya ini, "Untung kau anak orang. Kalau tidak sudah kubuang kau ke laut."
"Uh uh, percaya, kau kan memang pernah hampir membuang anak orang ke laut gara-gara cuman nembak Shielda," komentar Fang.
Sai menopang dagunya dan menerawang ke langit biru di atas sana yang tidak tertutupi satu gumpalan awan, "Ahh, itu masa-masa yang indah."
Fang hanya memutar bola matanya jengah.
Dia tidak mengerti apa yang menyenangkannya dari hal sadis macam itu. Sai beruntung masalahnya tidak berbuntut panjang, hanya saja Shielda ngambek bicara padanya. Dan itulah satu-satunya yang bisa membuat Sai jera.
Fang sendiri kadang merasa di posisi yang sama seperti Shielda. Cuma yang membedakan yang Fang hadapi adalah Kaizo yang jelas setegas apa dan sekejam apa kalau sudah memberikan hukuman. Tidak ada ampun. Harus dituruti.
Apalagi Kaizo yang sudah bekerja dan memiliki mobil sendiri, terkadang Fang terjebak dalam posisi harus menuruti ke mana Abangnya satu itu pergi. Fang tidak keberatan kalau itu hal yang simpel, seperti minta diantar ke sekolah kalau memang ingin. Cuma kalau dipaksa, apalagi sebenarnya Fang bisa berangkat sendiri, itu menyebalkan. Apalagi kalau sudah ada sebuah rencana, tapi karena Abangnya menuntut sesuatu secara paksa, Fang terpaksa membatalkannya.
"Kau harus sedikit menurunkan sifat overprotektif mu itu... Kasihan Shielda tahu," gumam Fang.
"Sebagai saudara itu wajar kalau ingin adiknya aman," balas Sai.
Iya, tapi yang jadi adeknya kan kesel, batin Fang
Tapi Fang lebih memilih menyerah. Membahas hal ini dengan Sai pasti tidak akan ada habisnya.
Fang kembali berkutat dengan hpnya. Boboiboy sudah tidak membalas chatnya lagi.
Akhirnya Fang menyimpan ponselnya dan memilih ikut dengan Sai yang mengobrol dengan teman-teman sekelas mereka.
.
.
Tbc…
.
.
A/N:
Yak, maafkan ketelodaran kami dalam mengupdate fic ini… udah lama banget ya nggak update, itu karena baik aku sama Valky-san punya halangan untuk lanjutin fic ini... baru nih kemarin-kemarin ini kami lanjutin lagi dan jadinya ku updatelah fanfic ini.
Belum banyak yang terjadi dichapter ini tapi untuk chapter-chapter selanjutnya sama sekali nggak akan ngebosenin ;)
Tapi kalian harus tahan sama kami yang macam ini ya (/; ^o^)
ciao
Ai dan Valky
