Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Monsta

Warning: Typo, OOC, smut/lemon/eksplicit content, age gap, Boys Love, etc.

.

.

.

.

.

Fang keluar dari gerbang. Melirik ke arah kanan, tempat mobil Abangnya sudah sedia terparkir. Pemuda yang lebih tua itu berdiri bersandar pada mobil sambil meminum kopi kaleng. Beberapa siswi memandangnya penasaran sambil berbisik penuh antusias sesamanya.

Fang menghela napas. Abangnya itu terlalu mencolok.

Fang dengan malas dan berat hati berjalan mendekati abangnya. Dia berdiri tepat di depannya dan memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku celana.

"Jangan terlalu mencolok. Aku gak mau Kakak lebih populer dari aku," seru Fang.

Kaizo memutar bola matanya malas, "Pikiranmu populer terus. Sopan dikit ke kakak sendiri."

Fang menjulurkan lidahnya tanda dia tidak mau.

Tangan Kaizo melayang ke puncak kepala adiknya. Memberi sedikit tekanan pada jari-jarinya sehingga Fang mengaduh lalu menyeret adiknya masuk mobil.

Seperti dilempar masuk ke dalam mobil dan pintunya dibanting oleh Kaizo. Sementara pelakunya berpindah ke kursi kemudi.

"Sakit Abang!" Protesnya.

"Kau itu kurang ajar sih," balas Kaizo santai.

Fang menggembungkan pipinya dan menyilangkan tangan.

"Oh ya bang, beli donat yuk."

"Nggak," jawab Kaizo tanpa pertimbangan.

"Cuma donat. Bukan pabrik gula." Protes Fang.

"Pokoknya tidak."

Fang cemberut. Dia menatap jalanan dengan kesal sementara Kaizo menyalakan mobilnya.

"Kita ke rumah makan. Mama dan Papa sudah menunggu kita."

Fang yang mendengar itu terheran. Dia menatap kakaknya bingung sambil bertanya, "Kita jalan-jalan?"

"Tidak jalan-jalan juga. Hanya makan siang bersama teman Papa dan Mama." Jawab Kaizo enteng.

"Tiba di rumah langsung siap-siap dan kita berangkat," sambung Kaizo.

Fang mengangguk mengerti. Setiba di rumah dia langsung mandi. Memakai celana hitam, kemeja ungu lengan pendek agar berkesan tidak terlalu kaku, kemudian waistcoat berwarna navy.

Mereka berangkat dengan mobil orang tua Fang. Saat mobil melambat, Fang mengintip ke arah jendela, melihat sebuah restoran Italia.

Fang sudah sering ikut acara makan-makan dengan keluarganya. Entah itu membahas bisnis atau hanya sekedar bertemu, Fang sering ikut. Selain bisa makan banyak tanpa dikomentari, juga ingin tahu seperti apa pekerjaan keluarganya. Walau Fang sebenarnya tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan.

Secara pribadi, Fang lumayan paham dengan bisnis. Tapi ketika mereka mulai menggunakan istilah-istilah asing yang tidak Fang pahami, dia akan memilih sibuk makan apa saja yang tersedia di atas meja asal tidak mengeluarkan gawai pintarnya.

Terakhir kali Fang mengeluarkan benda itu saat acara makan dengan orang luar, Kaizo langsung menyita handphonenya selama satu minggu. Fang kapok.

"Kita mau ketemu dengan siapa?" Tanya Fang.

"Temen Papa sama Mama," sahut Kaizo keluar dari mobil, Fang langsung mengekor di belakang Abangnya.

Mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan langsung mengantar mereka ke sebuah meja. Sudah ada dua orang dewasa yang duduk di sana.

Orang tuanya menyapa mereka. Ibunya cipika-cipiki dengan wanita yang tidak Fang kenal itu sedangkan ayahnya berjabat tangan dengan pria yang bersama wanita tersebut. Kaizo juga ikut berjabat tangan.

"Kau sudah tumbuh besar ya, Kaizo. Padahal dulu masih sepinggangku." Seru pria dengan kumisnya yang sudah memutih di tengah. Tersenyum pada Kaizo penuh rasa akrab dan basa basi.

Kaizo hanya balas tersenyum tanpa melepas jabatan tangannya, "Paman bisa saja. Bagaimana kabar paman?" Tanya Kaizo balik.

"Aku dan istriku baik dan sehat-sehat saja." Jawabnya lalu melepas jabatan tangan mereka.

"Eh, ini Fang ya?" Seru istri dari pria yang baru saja mengobrol dengan Kaizo.

"Iya, ehehe. Salam kenal, bibi...?" Fang menatap mata wanita itu bingung karena tidak tahu namanya.

"Aliya. Dan ini suamiku Amato." Sambung wanita itu memperkenalkan diri.

Fang bersalaman dengan sopan dengan kedua orang itu. Sepertinya mereka dekat dengan keluarganya, bahkan sampai Kaizo pun akrab. Walau Fang sama sekali belum pernah bertemu.

Mereka duduk dan kemudian memulai obrolan ringan sembari menunggu makanan. Menanyakan kabar masing-masing, Fang menjawab sebisa mungkin pertanyaan yang diajukan padanya. Dikarenakan mereka belum pernah bertemu, Aliya dan Amato tampaknya ingin tahu dengan Fang, sama seperti Fang yang juga penasaran tentang keduanya.

Mereka bilang anak mereka tidak bisa ikut karena sedang ada urusan bisnis. Dan itu sangat disayangkan oleh kedua orang tua Kaizo dan Fang, karena mereka cukup merindukan sosok anak Aliya dan Amato.

"Itu gara-gara kau suruh terus berdikari, Amato." Ujar Liu Wei, ayah Kaizo dan Fang.

Amato hanya tertawa renyah, "Dia perlu menyiapkan diri untuk jalan yang dia pilih."

Liu Wei mengangguk, menyetujui. "Yah, Kaizo juga sudah berkerja sendiri, tapi sepertinya masih susah disuruh pisah dengan adiknya." Liu Wei tersenyum, Amato dan istrinya tertawa geli, sedangkan Fang dan Kaizo mengerucutkan bibirnya. Menggerutu.

"Enak ya punya anak dua, jadinya pasti tidak kesepian seperti kami kalau satunya sudah dewasa," sahut Aliya.

"Ah tapi repot juga kalau punya yang kayak mereka, kerjaannya berantem terus," balas Yueyin.

"Kalau ketemu, mereka berdua kerjaannya gak pernah damai. Ada saja yang dipertengkarkan. Entah remot tv, makanan, tempat duduk. Pokoknya ada-ada saja." Sambung Liu Wei.

Fang meringis ngilu mendengar aibnya disebarkan. Sementara Kaizo masih stay cool, jaga imej.

Aliya tertawa kecil membayangkannya, "Kalau putraku, bertengkarnya sama kucing kami. Sampai pernah gak berani masuk rumah karena pintunya dijaga kucing."

Kaizo yang mendengarnya menahan tawa sebisanya dengan menunduk dan menutup mulutnya. Sama juga dengan Fang, dia menahan tawanya. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan anak Amato dan Aliya sampai ngajak berantem kucing. Tapi Fang yakin, anak mereka itu bodoh.

Kedua pasangan suami-istri itu melanjutkan percakapannya. Hanya sebentar terinterupsi saat makanan disajikan.

Fang memakan pastanya dengan tenang karena pembicaraan mulai mengenai pekerjaan masing-masing. Hanya Kaizo yang kadang ikut masuk pembicaraan karena pemuda itu juga sudah bergelut di dunia bisnis

Fang selama makan sesekali memperhatikan Amato. Pria itu besar, dan uban di rambutnya seperti menjadi pusat perhatian yang khas. Dan juga bekas luka sayat di alis kanannya. Dulu orang ini kecelakaan apa sampai melukai alisnya? Auranya juga memberikan kesan kalau dia berkuasa namun masih memberikan kelembutan dan... Fang tidak yakin... Kurang ajar?

Fang tidak tahu kenapa mendeskripsikan Amato seperti ini. Tapi kalimat itu melintas begitu saja di pikirannya. Dan entah kenapa juga melihat Amato membuatnya merasa familiar akan sesuatu yang entah kenapa sangat dekat.

Fang bingung sendiri sambil makan.

Fang yakin sekali kalau Amato itu sedikit familiar. Tapi dia tidak berhasil mengingat apa itu.

Fang cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali ke piring saat Amato meliriknya, sepertinya sadar kalau ada yang memperhatikan. Rasanya seperti tertangkap basah habis mencuri sesuatu. Padahal Fang hanya mencuri-curi pandang saja karena penasaran dan merasa familiar.

"Fang, makan lagi ini." Tawar Aliya memberikan buritto pada Fang.

"Te-Terima kasih, bibi Aliya." Balas Fang menerimanya. Padahal pastanya belum habis.

Aliya tersenyum padanya. "Fang ini anak yang manis sekali."

Fang menyembunyikan ringisan, kenapa orang-orang hobi sekali memujinya manis? Ada kata sifat yang lebih Fang sukai, yaitu tampan.

"Pasti populer." Fang tersenyum senang. Kaizo memutar bola mata walau mendapatkan delikan dari ibunya.

"Sudah punya pacar?"

Pertanyaan itu membuat wajah Fang menghangat dan dia tersenyum canggung.

Fang harus jawab apa. Tidak mungkin dia jawab, "Iya, saya sudah punya pacar. Dan pacar saya om-om." Bisa dihajar habis sama keluarganya nanti. Merusak harga diri di depan teman orang tuanya. Tapi kalau dia bohong, rasanya seperti mengkhianati Boboiboy. Dan Fang tidak mau melakukan itu.

Tangan Fang rasanya mulai berkeringat dingin. Dia ingin kabur atau menghilang saja. Atau kalau bisa memutar waktu guna meniadakan pertanyaan sakral barusan.

Jujur atau bohong ya? Kalau jujur, dibunuh keluarga. Kalau bohong, merasa mengkhianati Boboiboy. Fang menunduk dan bingung menjawab yang mana.

"Fang belum punya pacar." Seru Kaizo mendadak, "Temannya cowok semua."

"Nggak juga!" Protes Fang. "Shielda kan temenku juga."

"Shielda nggak masuk hitungan, dia kan adeknya Sai, ya pastilah kamu otomatis temenan sama adek sahabat kamu," balas Kaizo.

Gak salah sih, "Tapi Shielda tetep cewek."

"Kamu naksir dia?" Tanya Kaizo to the point.

"Enggak sih."

"Kan."

Tangan Fang mengepal. Tidak tahu harus senang karena diselamatkan atau kesal harga dirinya hancur begini.

Fang membungkam mulut sendiri dengan pasta. Kaizo melanjutkan makan dengan santai tanpa ada rasa bersalah.

Kedua pasangan itu hanya menonton tingkah mereka dengan geli.

"Sekarang aku percaya dan paham kondisi kalian." Ucap Aliya pada Yuenyi dan Liu Wei.

Fang yang penasaran akan sesuatu menghentikan acara makan pastanya yang mau habis, "Uhm, paman Amato, bibi Aliya, aku boleh tanya sesuatu?"

"Boleh, tanya apa?" Balas Amato.

"Nama anak paman dan bibi siapa? Kok sejak tadi tidak disebutin?" Tanya Fang penasaran. Karena menurutnya membicarakan seseorang yang tidak dia ketahui namanya, tapi tahu dia bodoh karena bertengkar dengan kucing, agak membuatnya tidak nyaman. Bukan karena ingin akrab saja, setidaknya nama harus dia ketahui. Menghormati orang itu mungkin.

"Ooh... Namanya Boboiboy," jawab Amato.

Mata Fang melebar. Itu adalah nama yang unik, Fang tau mungkin hanya ada satu orang yang akan memiliki nama seunik itu.

"Dia anak satu-satunya dan kebanggaan kami," sambung Aliya.

Fang masih membeku, hampir tidak menyimak lagi suara-suara di sekitarnya. Di dalam pikirannya ia tengah mengalami serangan panik.

"Kau pernah bertemu dengannya, saat jamuan makan malam di salah satu kenalanku." Sambung Kaizo yang kembali makan dengan santai.

"Oh, kalian pernah bertemu?" Seru Aliya bersemangat.

Kaizo mengangguk memastikan.

Fang menundukkan kepalanya, jari-jarinya menggenggam sendok dan garpu lebih erat.

'Ugh, ini buruk,' batinnya menggigit bibir bawahnya. Siapa sangka dia akan bertemu orang tua Boboiboy seperti ini. Apalagi hubungan antara mereka dan orang tuanya sangat dekat.

Tapi bagaimana dengan hubungannya dengan Boboiboy yang mereka rahasiakan ini?

Apa Fang perlu menceritakan makan bersama ini ke Boboiboy? Tidak, itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Jelas dia harus menceritakan hal ini. Mau bagaimana pun, kejadian ini menentukan masa depan mereka berdua. Apalagi Fang ragu, orang tua mereka mau menerima hubungan mereka yang tidak seharusnya ini?

Fang pening sendiri. Dia mendadak berdiri dan berkata, "Aku ke kamar mandi sebentar." Ucapnya lalu pergi.

Setibanya di toilet, Fang membasuh mukanya d i wastafel. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tersirat rasa bingung.

Dia mengeluarkan ponsel.

'Aku ketemu ortumu.'

Belum lima detik, Boboiboy langsung menelponnya.

"Halo?" Ucap Fang begitu mengangkat teleponnya dan menempelkan speaker kecilnya ke telinga kanannya.

"Halo Fang... Kau benar-benar ketemu orang tua ku?"

Bahkan Boboiboy terdengar gugup. Fang memejamkan mata.

"Iya, aku makan malam dengan mereka dan orang tua ku," jelas Fang.

Hening sebentar. Kemudian dia mendengar Boboiboy menghela napas.

"Bukan begini aku ingin kau bertemu orang tua ku."

"Memang kau inginnya seperti apa?"

"Aku memang sudah punya rencana untuk mengenalkan mu dengan orang tua ku tapi aku masih ragu kapan tepatnya."

Fang terdiam. Boboiboy punya rencana seperti itu? Pemuda berkaca mata itu bersandar pada wastafel. Memberi tahu hubungan mereka pada orang tua adalah sebuah rintangan yang besar. Jangankan untuk hubungan seperti mereka, hubungan yang umum dan normal pun, kalau sudah mengenalkan pasangan pada orang tua artinya serius bukan?

"Aku hampir kena serangan jantung saat tahu," gumam Fang.

"Kau tidak perlu panik Fang," ujar Boboiboy dengan suara menenangkan. "Saat aku pulang nanti kita bicarakan lagi, dan lebih baik memberi tahu mereka satu-persatu dan secara perlahan."

"Kau yakin akan baik-baik saja?" Tanya Fang memastikan.

"Iya aku yakin, ayahku orangnya baik dan pengertian. Ibuku juga."

"Aku tidak tahu kalau mama dan papaku sih. Tapi, Kak Kaizo bagaimana?" Tanya Fang.

Selama sekian detik tidak ada yang angkat suara. Mereka sama-sama berkeringat dingin karena tahu kalau masalah terbesar ada di satu orang ini.

"Yah kalau datang waktunya buat memberi tahu abangmu... Aku harus buat surat wasiat dulu."

Fang mendengus. Sedikit gemas bagaimana laki-laki itu masih bisa-bisanya bercanda walaupun nada suaranya juga takut.

Fang menggaruk pipinya canggung, "Kau akan datang ke sini?" Tanya Fang ragu-ragu.

"Tidak. Aku baru kembali ke sana tiga hari lagi." Jawab Boboiboy cukup terdengar sedih.

"Ohh..." Tangan Fang tanpa sadar meremas celananya sendiri.

"Sabar sedikit tiga hari lagi Fang, sehabis itu kita bicarakan lagi oke?"

Fang menghela napas pasrah. "Oke, kalau begitu aku harus kembali dulu, aku sudah cukup lama rasanya izinnya."

"See ya Fang."

Fang menutup teleponnya. Pemuda itu lalu menarik napas panjang tiga kali untuk menenangkan diri dan bersiap untuk kembali ke tempat orang tua nya.

Di sana beberapa makanan sudah habis. Entah yang mana dilahap siapa, tapi jelas kentara menyisakan beberapa untuk Fang.

Dia kembali duduk dan mulai memakan pastanya. Sedikit tidak mempedulikan mereka yang kembali membicarakan bisnis

Setengah jam kemudian, makan malam selesai. Kedua keluarga itu saling pamit dan berpisah di area parkiran.

Fang diam di sepanjang perjalanan pulang. Terlalu larut dalam pikirannya tanpa menyadari abangnya yang meliriknya sedari tadi. Sesekali Fang wajar akan hening, tapi tidak sampai berpikir sedalam ini.

Kaizo memilih diam tidak bertanya. Selain karena mungkin adiknya tidak akan menjawab, juga ada kedua orang tua mereka. Kalau Fang merasa pertanyaannya berat, dia tidak akan menjawab sama sekali. Apalagi dikeremuni keluarganya. Kaizo paham, adiknya pasti akan menceritakan apa masalahnya tapi secara perlahan pada satu persatu orang.

Tapi untuk sekarang Kaizo diamkan sampai nanti tiba di rumah

Setiba di rumah Fang langsung menuju kamarnya. Bahkan mengunci pintunya. Kaizo mengerutkan kening, batal untuk bertanya pada adiknya.

.

.

.

Ke esokan paginya, di mobil sembari mengantar adiknya ke sekolah Kaizo ingin kembali bertanya, tapi tidak terlalu yakin bagaimana tepatnya, apalagi melihat adiknya yang sepertinya sudah biasa-biasa lagi.

Ini masih pagi. Kalau dia tanya hal kemarin, bisa-bisa Fang sedih dan tidak bisa menikmati harinya dan tidak fokus belajar.

Kaizo berpikir lama selama mengemudikan mobilnya. Dan akhirnya dia memutuskan akan menanyakannya sepulang Fang sekolah nanti.

.

.

"Kau kenapa kayak banyak pikiran begitu?"

Sai langsung bertanya saat sahabatnya itu menjatuhkan diri ke kursi kemudian menyembunyikan wajah dalam lipatan lengan.

"Kok takdir itu punya selera humor yang aneh sih?" Ujar Fang yang kata-katanya teredam tapi masih dapat di dengar Sai.

"Huh? Pagi-pagi begini kau mau berfilosofi? Otakku belum siap."

Fang menghela napas. Dia membenamkan wajahnya sepenuhnya pada tangannya. Membiarkan matanya terpejam dan gelap menyelimutinya sesaat.

"Oke, kau aneh hari ini." Komentar Sai melihat Fang.

"Aku gak bisa berhenti berpikir sejak kemarin."

"Kenapa? Kau khawatir karena apa?"

Fang menjauhkan tangan dari wajahnya. Melipat tangan di atas meja dan meletakkan dagunya di sana. Ia melirik Sai enggan.

"Kemaren aku pergi makan malam sama ortuku buat ketemu sama teman mereka..."

"Hm?" Sai mengangguk, memperlihatkan kalau dia mendengarkan dan agar Fang melanjutkan ucapannya.

"Ternyata mereka itu orang tua Boboiboy," erang Fang. "Makanya aku jadi cemas tak menentu begini."

Sai diam. Matanya mengerjap beberapa kali. Tangannya mengusap tengkuknya sendiri seraya menoleh ke seisi kelas yang setengah terisi. Entah kenapa Sai terlihat kebingungan. Tapi kemudian dia menatap Fang dengan tersenyum kosong dan bertanya, "Apa?"

Fang mengerutkan alisnya kesal, "Apanya apa?"

"Kau makan bareng siapa?" Tanya Sai mengulang apa yang dimaksud.

"Aku makan bersama orang tuanya Boboiboy ternyata."

Sai diam lagi. Dia lalu menepuk kedua pundak Fang dan tersenyum pasrah, "Semoga dipermudahkan."

Fang memelototi sai lalu menyikut temannya itu. "Kau tidak bisa mengatakan hal lain yang lebih membantu?"

Sai meringis akibat sikutan Fang. Mengusap bagian tubuhnya yang sakit lalu balas mendelik pada pemuda berwajah oriental tersebut.

"Apa lagi memang yang harus ku bilang? Situasi mu itu sukar banget."

Fang diam. Boboiboy yang lebih tua saja berusaha dan memintanya untuk diam menunggu dengan tenang. Apalagi Sai yang orang luar dan hanya tahu dari cerita. Jelas tidak ada yang bisa dilakukan.

Fang menghela napas lagi. Dia kembali duduk di kursinya dan bersandar menatap papan tulis, "Kau benar."

Cukup mengejutkan bagi Sai melihat Fang setuju begitu saja.

"Wah, tumben gak didebat," ujar Sai.

"Lagi malas," decak Fang.

Sai mengangkat bahu. Tidak menggangu lebih jauh. Dia tahu Fang pasti sangat kebingungan kemarin dan pikirannya pasti lelah.

Begitu kelas dimulai, mereka berdua pun fokus. Memilih tidak memikirkan masalah Fang.

.

TBC

.

A/N:

Valkyrie Ai desu, panggil aja Valky. Gimana kabar para reader. Pertama kali saya muncul di fanfic ini. Selalu saja Ai-san yang mendadak update tanpa sepengetahuan saya.

Ai-san, anda kok kurang ajar?

Kurang ajar gimana wey! Aku anak paling manis dan sopan, tanya aja temen-temen sekuliah (ya elunya kan jaim)

Kok nyiksa Fang dengan afdolnya? Ngadi-ngadi anda.

Kan anda juga ikutan! Ngomporin malah...

Saya tidak merasa

*flip table emoji

Jadi gini, kami akan menjawab pertanyaan reader. Baik itu dari FFn, AO3, atau WP. Jadi A/N berikutnya akan sangat panjang.

Alasannya. Rahasia. Tapi yang pasti chapter selanjutnya itu kami antusias banget nulisnya

Terlalu antusias malahan. Aslinya plotnya udah jauh banget

Karena pas waktu itu ide kayaknya bermunculan aja datangnya. Ada banyak banget hal baru yang ditambah dan kami coba.

Pokoknya tunggu aja update-an dari kami

Salam

Valky dan Ai