Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Monsta

Warning: Typo, OOC, smut/lemon/eksplicit content, age gap, Boys Love, etc.

.

.

.

.

Sudah biasa dalam bisnis menggunakan tempat makan atau restoran untuk menjadi tempat pertemuan. Membincangkan kerja sama dan menjalin hubungan lebih akrab.

Satukan suasana asing dengan makanan. Itu adalah hal yang paling sempurna.

Salah satunya Boboiboy. Sebagai orang yang diundang dia merasa cara ini cukup berhasil. Apalagi diundang ke restoran makanan Malaysia. Jujur Boboiboy memang sedang ingin makan masakan Malaysia seperti laksa atau nasi lemak. Jadi dia merasa orang yang mengundangnya memang mengenal betul bagaimana dirinya.

Begitu masuk, Boboiboy langsung menuju ke meja yang sudah dipesankan. Di sana ada satu orang yang fisiknya lebih berotot dari Boboiboy.

Dengan senyum ramah, orang itu berdiri dan berjabat tangan dengan Boboiboy.

"Akhirnya kita bisa bertemu, Boboiboy." Sapa orang itu tersenyum.

Tentu saja Boboiboy balas tersenyum. Dan senyum itu sempat membuat lawan bicaranya terpesona, "Senang bertemu denganmu, Bora Ra."

Mereka mendudukkan diri di kursi, saling berhadapan.

"Bagaimana kalau kita memesan dulu, aku yakin lebih menyenangkan mengobrol setelahnya," sahut Bora Ra, kembali menunjukkan senyum sopan dan berwibawa. Ia melambaikan tangan dan pelayan segera mendatangi meja mereka.

"Seporsi laksa dan teh tarik," pesannya pada pelayan yang langsung menulis pesanannya. "Dan kau Boboiboy?" Tanyanya melirik Boboiboy.

"Ah, satu piring nasi lemak dan teh tarik juga," jawab Boboiboy.

Bora Ra mengangguk, si pelayan mengucapkan ulang pesanan mereka dan keduanya mengangguk mengkonfirmasi.

"Anda memilih restoran yang bagus sekali," ucap Boboiboy memulai pembicaraan basa-basi.

"Ah, restoran ini langganan saya sebenarnya. Saya cukup kenal dengan pemiliknya." Balas Bora Ra.

Boboiboy mengangguk paham, "Dan lagi tempat ini cukup dekat dengan hotel tempat saya menginap. Saya tidak perlu membawa mobil saya. Terima kasih kepada anda."

"Tidak perlu berterima kasih. Justru saya yang berterima kasih karena anda mau menyetujui undangan saya untuk kerja sama bisnis ini."

Boboiboy tersenyum lagi, "Itu sudah jelas saya akan datang. Saya kagum dengan cara anda membangkitkan bisnis yang hampir mati jadi hidup kembali. Jadi saya sangat tertarik dengan prestasi anda."

"Anda terlalu memuji. Saya sebenarnya tidak sehebat itu."

Bora Ra menegakkan sikap duduk dan menatap Boboiboy dengan pandangan serius dan penasaran. "Justru bukankah prestasi anda yg lebih menarik? Menjadi pengusaha kenamaan di usia yang masih muda seperti ini."

Boboiboy menggeleng. "Tidak, dari awal ini semua bisnis keluarga dan saya hanya meneruskan apa yang ada," ujar Boboiboy merendah hati.

"Tapi di tanganmu bisnisnya berkembang dengan pesat begini, kalau bukan diolah oleh orang yang terampil bisnis besar keluarga manapun akan hancur," tukas Bora Ra.

Mereka menghentikan pembicaraan sebentar begitu pelayan tiba membawa pesanan dan menatanya di atas meja. Setelah mengucapkan terima kasih kepada si pelayan, mereka menyesap teh yang masih hangat.

"Mari kita makan." Ajak Bora Ra. Boboiboy mengangguk menyetujui.

.

..

.

Seperti biasa. Setelah mereka makan, mereka akan membahas bisnis yang akan mereka bangun bersama. Keduanya membuka laptop masing-masing dengan berkas yang orang awam tidak akan paham. Perbincangan mereka di lain level. Namun terlihat keantusiasan di antara mereka berdua sampai menjalin kesepakatan final.

Boboiboy menghabiskan teh tariknya. Dia membaca sejenak rancangan mereka berdua, "Saya sudah tidak sabar ingin ke tahap berikutnya."

Bora Ra tertawa kecil, "Anda ternyata tidak sabaran ya."

"Ah, itu, saya hanya merasa hal baru ini sangat menarik minat saya."

"Tak apa, itu yang namanya masa muda. Ngomong-ngomong apa yang akan anda lakukan setelah ini?" Tanya Bora Ra mulai basa basi lagi.

Boboiboy berpikir sejenak. Dia berniat menelpon Fang, tapi kekasihnya itu pasti masih sekolah. Dia hubungi bisa ngamuk nanti. Boboiboy akhirnya memutuskan apa yang akan dia lakukan, "Mungkin jalan-jalan sejenak sambil menikmati kota ini."

"Ohhh, anda tidak ada pertemuan lain hari ini?" Tanya Bora Ra memastikan.

Boboiboy menggeleng, "Hari ini tidak ada. Tapi besok saya penuh."

"Hmm..." Bora Ra mengangguk kecil. "Bagaimana kalau saya menunjukkan tempat-tempat menarik di sini?" Tawar Bora Ra.

Boboiboy memberikannya ekspresi terkejut bercampur heran. "Bagaimana dengan kesibukan anda yang lain?"

Bora Ra melambaikan tangan lugas, mengisyaratkan kalau Boboiboy tidak perlu khawatir. "Kebetulan sekali, saya tidak memiliki hal penting yang harus diselesaikan hari ini, jadi kenapa tidak? Saya hanya membantu teman baru."

Boboiboy berpikir sejenak. Dia tidak keberatan sih. Ayah dan ibunya juga akhir-akhir ini sering menyuruhnya liburan walau hanya sehari. Mungkin ini kesempatan liburan itu.

Walau aslinya Boboiboy ingin liburannya di ranjang dan menjahili Fang sampai anak itu tidak karuan rasa malunya.

Senyum Boboiboy mengembang, "Baiklah."

Senyum Bora Ra ikut mengembang. Dia kemudian memanggil pelayan untuk membayar.

Mereka keluar dari restoran sembari mengobrol ringan. Bora Ra menyebutkan beberapa nama tempat yang menjadi objek wisata di kota itu dan Boboiboy menanggapi mana yang dianggapnya menarik.

Mereka berkendara dengan mobil Bora Ra. Disupiri sopir pribadi Bora Ra.

Awalnya mereka menuju ke taman kota yang menjadi tempat ikonik kota itu. Pemandangan utamanya adalah air mancur dan juga burung dara yang menjadikan taman itu habitat mereka tinggal.

Bora Ra mengambil persediaan makanan burung yang sengaja dijual di sana dan memberikan pada Boboiboy.

"Ingin mencoba memberi makan mereka, Boboiboy?" Tawar Bora Ra.

Boboiboy menerima makanan burung itu dan langsung membukanya, "Boleh." Jawabnya.

Mengambil segenggam dan melemparkannya ke halaman taman. Burung-burung merpati segera beterbangan dan hinggap, mencari dan mematuk makanan burung yang disemai Boboiboy.

Boboiboy mengagumi bagaimana gerakan antusias puluhan burung-burung merpati tersebut begitu mendengar suara gemerisik makanan burung yang terserak.

Boboiboy menyodorkan kembali kantong makanan burung tersebut ke arah Bora Ra. "Anda tidak ingin juga?"

Bora Ra menggeleng, "Tak usah. Dan kalau boleh tak perlu seformal itu. Anggap saja ini hari normal. Kita sudah membicarakan masalah pekerjaan tadi. Tolong bawa santai saja." Pinta Bora Ra.

"Tapi anda lebih tua dari saya."

"Tak apa."

Boboiboy tak yakin. Tapi dia akhirnya mengangguk menurut, "Kalau begitu saya panggil Bora Ra?"

Bora Ra mengangguk dan tersenyum lebar. "Aa, lebih baik begitu saja," ucapnya.

Boboiboy balas tersenyum tipis. Mengambil segenggam makanan burung dan melemparkannya asal.

"Kau tidak tampak seperti orang yang menyukai kegiatan semacam ini, Bora Ra," komentar Boboiboy.

Bora Ra diam sejenak. Dia menatap burung dara yang antusias memakan biji-bijian itu. Dia lalu tersenyum kecil, "Aku hanya ingin mengenal dekat rekan kerja baruku ini."

Boboiboy cukup terkejut mendengar itu. Dia jadi menatap Bora Ra.

"Menjadi rekan kerja memang baik. Tapi menurutku menjadi teman jauh lebih baik. Tidak ada keformalan yang menghalangiku untuk mengenal dekat rekan kerja baruku ini." Ucap Bora Ra. Dia tersenyum penuh keyakinan pada Boboiboy.

"Bora Ra..."

Boboiboy tertegun sebelum kembali tersenyum simpul. Pria di sampingnya ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan antusiasme yang juga sama besarnya.

"Ku pikir menjadi teman juga jauh lebih bagus dibanding rekan bisnis, teman untuk berbagi pasion," sahut Boboiboy.

Bora Ra kembali memperhatikan Boboiboy yang menebarkan biji-bijian. Sementara Boboiboy menatap lama burung dara.

Pikirannya mendadak melayang pada Fang. Anak itu kalau diajak beginian pasti ngotot gak mau karena mengira masih dianggap anak-anak. Terus malu-malu nyoba dan antusias sendiri dengan mata berbinarnya yang lucu. Kemudian pamer kalau dia jauh lebih jago dalam pendekatan pada hewan.

Membayangkannya saja membuat Boboiboy ingin tertawa. Dia menutup mulutnya menahan senyumnya.

"Apa ada yang lucu? Kenapa mendadak tersenyum?" Heran Bora Ra.

"Ah, tidak. Aku hanya mengingat seseorang saja."

Sebelah alis Bora Ra terangkat. Ia tampak penasaran.

"Teman? Atau kekasih?"

Mendengar kata kekasih Boboiboy mengalihkan wajah kikuk, luput menyadari ekspresi dingin Bora Ra.

Boboiboy tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum canggung. Entah kenapa kembali teringat pembicaraannya dengan Fang mengenai orang tua mereka.

Rasanya egois sekali untuk mengakui Fang sebagai kekasihnya padahal ia masih belum memiliki keberanian yang cukup untuk berterus terang pada orang tuanya maupun keluarga Fang. Pun ia tidak pernah suka untuk menyangkal hubungannya dengan Fang.

Fang adalah miliknya, ia tidak akan menerima anggapan sebaliknya tersirat sekecil apapun.

Tapi kalau dipikir apakah Fang juga menganggap dirinya juga pacarnya? Sejauh ini hanya Boboiboy yang menyatakan bagaimana perasaannya. Fang tidak pernah mau, walau Boboiboy yakin Fang memiliki perasaan yang sama dengannya.

Tapi...

Sejauh ini mereka belum mendeklarasikan hubungan mereka yang sesungguhnya di antara mereka berdua. Dibilang teman juga bukan, Boboiboy sudah meniduri anak SMA itu beberapa kali. Dibilang pacar juga belum, Boboiboy maupun Fang belum mengutarakan niat mereka untuk melangkah lebih dekat.

Mendadak Boboiboy teringat pertanyaan Fang tentang apakah mereka hanya sex buddies. Tidak, Boboiboy menyangkal keras hal itu. Mana mau dia tidur dengan orang lain selain Fang. Sebaliknya juga, dia tidak mau Fang tidur dengan orang lain.

Jadi hubungan mereka ini sebenarnya apa dong?

"Boboiboy?"

"Eh? Ya?" Boboiboy berjenggit kaget dipanggil sekaligus pundaknya ditepuk.

"Kau belum menjawab pertanyaanku barusan."

"Oh," Boboiboy menatap lama langit, "dia bukan temanku. Bukan juga pacarku. Lebih tepatnya, aku masih belum tahu hubungan apa yang kami miliki."

"Ah..." Bora Ra tampak merenung.

Boboiboy kembali menatap burung-burung merpati yang hinggap di tepi kolam air mancur. Tidak mempertanyakan keheningan tiba-tiba rekan kerjanya tersebut.

"Sepertinya kau terjebak dalam situasi yang sulit," komentar Bora Ra.

Boboiboy melempar senyum simpul. Tidak bisa menyangkal.

"Bagaimana kalau kita ke tempat selanjutnya. Aku yakin itu bisa menyingkirkan rasa gundahmu."

"Aku rasa itu ide yang bagus."

.

..

.

Begitu malam tiba, Boboiboy diajak minum oleh Bora Ra. Sudah umur legal tentu boleh minum alkohol kan? Itu pikir Boboiboy. Namun masalahnya dia sebenarnya jarang minum. Semenjak bertemu Fang dia jadi jarang menikmati cairan panas yang terkadang menyejukkan hatinya saat stress dengan pekerjaan.

Namun di sini Boboiboy sekarang. Duduk berdua di salah satu bar menikmati alkohol bersama rekan kerja barunya setelah makan malam bersama.

Sungguh hal lama yang diam-diam Boboiboy rindukan.

Boboiboy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mengedarkan pandangan ke sepenjuru bar.

Bar itu mempunyai dekorasi rapi dan elegan. Ada meja dan kursi-kursi dengan desain minimalis dan langsing. di beberapa sudut terdapat sofa-sofa empuk dan meja yang rendah, memberikan kesan nyaman dan santai. Konter atau lounge nya panjang, dua orang bartender sedang meracik minuman pesanan pelanggan, dibelakang mereka terdapat rak-rak yang dipenuhi berbagai jenis dan merek botol minuman.

Warnanya yang didominasi oleh hitam dan coklat serta penerangan yang tidak terlalu terang memberikan kesan lebih classy pada bar tersebut.

Boboiboy kembali menyesap sedikit alkohol di gelasnya. Bunyi es berdenting kecil saat ia meletakkan kembali gelas ke meja.

"Ahh, sudah lama aku tidak minum. Rasanya seperti bernostalgia." Boboiboy meletakkan kepalanya pada meja merasa nyaman.

Bora Ra ikut tersenyum mendengar itu, "Apa di rumah kau tidak sempat minum?"

Boboiboy mengibaskan tangannya tanda kalau tidak sempat, "Selain terlalu capek karena pekerjaan, aku juga tidak mau minum di depan dia."

"Dia? Orang yang tadi kau ingat saat di taman?"

"Ya."

"Dia melarangmu minum?" Tanya Bora Ra.

Boboiboy menggeleng, tersenyum tipis. "Aku ragu bahwa minum-minum pernah terpikir olehnya... Yah... Aku hanya tidak ingin membuatnya tidak nyaman saja sih," jawab Boboiboy.

"Kau perhatian sekali," canda Bora Ra.

Boboiboy terkekeh pelan.

"Karena kau bilang jarang-jarang minum, jadi nikmati saja kesempatan kali ini," sahut Bora Ra melambai pada pelayan untuk meminta segelas minuman lagi.

"Aku traktir. Minum saja sepuasmu."

"Sungguh?" Boboiboy langsung menegakkan diri dan tersenyum lebar.

Bora Ra mengangguk.

Merasa senang, Boboiboy mulai memesan minuman yang menjadi favoritnya atau varian cocktail baru yang ditawarkan bartender.

"Kau punya toleran yang tinggi terhadap alkohol ya," sahut Bora Ra kagum. Boboiboy sudah menghabiskan gelas ke empatnya sedangkan Bora Ra baru meminum dua gelas.

Boboiboy tersenyum kikuk. "Tidak juga, aku tahu batasanku seberapa, tidak terlalu tinggi juga karena aku memang tidak hobi minum," balas Boboiboy jujur. Suhu tubuhnya mulai hangat dikarenakan alkohol dan pikirannya menjadi begitu tenang, fokusnya menurun.

"Begitu ya." Bora Ra lalu menyerahkan segelas cocktail yang lain, "Aku dengar untuk varian yang ini adalah yang terbaik dari bar ini. Aku sarankan untuk mencobanya."

Boboiboy mengangkat gelas itu dan mencium aromanya sejenak, "Harum." Lirihnya lalu meminumnya sekaligus. Seperti Boboiboy sudah mulai mabuk.

Boboiboy memejamkan mata erat. cocktail itu lebih kuat dari dugaannya, berkebalikan dari aroma manisnya, panas cairan itu membakar tenggorokannya.

Boboiboy mengerang pelan dan membuka mata yang sedikit mengabur. Dan seolah tidak jera, ia meminum lagi seteguk.

'Peminum berat kalau sudah dihasut.' batin Bora Ra puas.

"Ahh... Aku ingin minum terus..." Racau Boboiboy dengan suara serak, "aku malas kerja. Aku ingin tidur. Aku ingin main game. Kenapa orang-orang terus menghubungiku padahal mereka bisa mengatasinya sendiri. Menyebalkan. Tinggalkan aku sendiri selama sehari saja lah! Sialan!"

Bora Ra cukup terkejut dengan bagaimana seorang Boboiboy yang terkenal lembut dan tenang malah menjadi tukang mengeluh saat mabuk. Imut dan menggemaskan menurutnya.

Tidak kapok, Boboiboy kembali menegak satu gelas penuh alkohol khas sherry itu. Tidak peduli dengan bagaimana dia akan pulang ke hotelnya bagaimana nanti.

Yang penting minum.

Bora Ra tampak sedikit geli. Ia menyesap kembali minumannya yang masih tersisa sedikit di dalam gelas. Tersenyum kecil sembari mengamati Boboiboy yang masih menggumamkan beberapa racauan kekesalan.

Pria itu tidak sesempurna yang orang lain bicarakan. Bukan anak emas yang tanpa cela.

Ada sisi egois dan emosional di balik tingkahnya yang selalu tenang dan ramah.

Senyum Bora Ra mengembang. Menarik.

"Ah... Aku iri pada Ying yang setiap hari bertemu Fang. Aku juga ingin bertemu Fang. Aku merindukannya. Kaizo sialan. Pekerjaan sialan. Gara-gara kalian aku tidak bertemu Fang." Lirih Boboiboy menggerutu. Dan itu tak luput dari pendengaran Bora Ra.

"Fang? Siapa itu?" Tanya Bora Ra penasaran.

Boboiboy tersenyum pada Bora Ra, "Calon pacarku."

Bora Ra tertegun sejenak. "Oh," sahutnya, ada sedikit nada mencemooh yang gagal ditahan.

"Dan mengingat omonganmu sore tadi, hubungan kalian tidak berjalan lancar ya?"

Boboiboy menggeleng. Berusaha menjernihkan sedikit kabut di pandangan mata. "Daripada tidak lancar, aku akan memilih kata membingungkan."

"Membingungkan bagaimana?" Bora Ra mulai tertarik, siapa sosok Fang ini yang bisa membuat Boboiboy kebingungan.

"Aku tidak tahu apakah kami pacaran atau teman. Hubungan kami mengalir begitu saja sampai tanpa sadar sudah sangat dekat. Bahkan sampai orang tuaku minta agar bisa bertemu dengannya. Tapi baik aku maupun dia sama-sama belum siap."

Bora Ra diam sejenak, "Kalau tidak yakin kenapa masih bertahan dengannya?"

"Kenapa?" Boboiboy menatap dalam iris mata Bora Ra seakan itu bisa menusuk dan membunuhnya sekaligus, "karena aku mencintainya."

Boboiboy menaikkan sudut kiri bibirnya. "Alasan yang terlalu simpel bukan untuk menghasilkan kerumitan konyol?" ujarnya bermain-main dengan gelas yang sudah tinggal seperempat isinya.

Bora Ra diam sejenak. Menyesap sisa alkohol miliknya hingga kosong dengan pandangan menerawang. "Dan kau mau saja dikendalikan perasaan konyol itu?"

Boboiboy menegakkan tubuh segera dan mengerutkan dahi. "Aku sama sekali tidak dikendalikannya, kalau aku buta saja pada perasaan konyol ini mungkin malah jadi lebih sederhana ceritanya."

Boboiboy menghela napas panjang. "Perasaan konyol ini seolah sedang menantang ku untuk bisa menang darinya."

"Kalau aku mengikuti kemauannya, maka aku kalah. Kami tidak akan bertemu lagi. Namun kalau aku menantang kemauannya, malah semakin besar kerumitan yang aku hadapi. Namun di sisi lain, apapun kondisinya justru aku sebenernya tidak pernah rugi."

"Tidak pernah rugi?" Bora Ra mengerutkan alisnya mendengar itu.

Boboiboy memilih diam tidak menjawab. Menatap lama cairan di gelasnya. Entah sudah gelas keberapa ini, namun Boboiboy merasa lebih enteng. Matanya terpejam sejenak, mengingat sosok Fang yang jauh di sana. Kemudian dia tersenyum, senyum mengerikan yang tidak pernah Boboiboy tunjukkan pada siapa pun, dan itu baru pertama kali Bora Ra lihat, "Ya, aku sama sekali tidak rugi sejak awal."

Bora Ra terpaku, seringai gelap dengan mata menerawang itu membuatnya merasakan bulu romanya berdiri.

Beberapa detik kemudian ekspresi itu hilang, digantikan ketidakacuhan. Boboiboy kembali menghabiskan alkoholnya. Sepertinya kadar toleransi alkoholnya sudah terlewati jauh.

Boboiboy mengerang, memejamkan mata erat dan membukanya hanya untuk melihat pandangan yang buyar. Tubuhnya panas dan tak bertenaga. Sendinya mulai goyah dan Boboiboy tidak menahan diri lagi untuk tetap menegakkan tubuh. Melipat tangan dan menidurkan kepala.

"Boboiboy? Kau masih sadar?" Bora Ra menggoyangkan pundak Boboiboy mencoba membuatnya bangun. Namun yang didengar hanya sebuah erangan protes kalau tidak mau dibangunkan.

Menghela napas, Bora Ra membayar dan membopong Boboiboy menuju ke mobilnya. Saat itu Bora Ra sadar kalau bau alkohol dari Boboiboy cukup kuat.

Bora Ra lupa bertanya tadi di hotel mana Boboiboy menetap sekarang. Yang dia tahu hanya di dekat restoran tempat mereka meeting tadi. Namun di sana ada banyak hotel.

Bora Ra tersenyum kecil, "Sepertinya memang harus menginap di tempatku ya kan, Boboiboy?"

Pria itu mengeluarkan dompet, memanggil pelayan dan menarik beberapa lembar uang sesuai dengan nominal harga bill yang disebutkan ditambah sedikit tip.

Bora Ra menarik sebelah tangan Boboiboy, menautkannya ke pundaknya kemudian sebelah tangannya melingkar di punggung Boboiboy dan menompang beban tubuhnya.

Bora Ra berdiri sembari menopang Boboiboy. Ia memapah Boboiboy keluar, sopirnya membantu memapah Boboiboy dan membuka pintu mobil agar ia bisa membaringkan Boboiboy di bangku.

Setelah ia sendiri duduk, Bora Ra segera memerintahkan sopirnya pulang ke kediamannya.

Dalam perjalanan pulang, ia tampak merenungkan sesuatu. Ia melirik Boboiboy yang tampak benar-benar mabuk.

Sebuah senyum terkembang dengan pelan di bibirnya.

Begitu sampai di rumah, Bora Ra di bantu sang sopir membawa Boboiboy ke kamar Bora Ra dan membaringkannya di kasur. Sang sopir langsung pergi dan menutup pintu setelah dirasa tidak dibutuhkan.

Bora Ra menatap Boboiboy lama yang terbaring di kasurnya. Bajunya berantakan. Wajah polosnya sangat imut. Deru napasnya yang teratur juga.

Pemandangan eksotis yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Namun Bora Ra tidak menyentuh Boboiboy. Dia meraba saku Boboiboy mencari hp dan dompetnya. Begitu dapat, dia keluarkan keduanya. Untuk dompet dia taruh di atas nakas. Untuk hp, Bora Ra mengeceknya.

"Tidak ada kunci." Ucap Bora Ra merasa beruntung. Saat itu Bora Ra melihat atau satu chat dari kontak bernama Fang.

Bora Ra membuka dan membaca isinya.

'Tumben gak ngechat aku? Sibuk apa sudah tidur?'

Bora Ra menscroll tanpa tujuan untaian chat tersebut. membaca sambil lalu kata-kata dari pesan-pesan sebelumnya.

Fang.

Nama itu terasa mengusik hatinya. Ia ingin tahu orang seperti apa yang bisa membuat Boboiboy mengeluarkan senyum gelap seperti tadi.

Senyum gelap yang diikuti aura posesif yang kuat. Seolah ia memiliki batu sihir yang dapat menguasai dunia di dalamnya.

Memangnya seistimewa apa orang yang membuat Boboiboy, enigma kompleks dan kuat, begitu terobsesi.

Ah, pertanyaan itu menimbulkan rasa pahit tak menyenangkan di lidah Bora Ra.

Bora Ra menyeringai tipis. Memutar tubuhnya kembali menatap Boboiboy.

Bora Ra meletakkan hp Boboiboy sejenak. Dia lalu naik ke atas tubuh Boboiboy. Menatap lama wajah tampan yang masih muda itu dengan senyuman miring yang kentara jahatnya.

Tangannya membuka satu persatu kancing kemeja putih itu setelah menarik dasinya. Bora Ra juga menunduk, mencium aroma Citrus bercampur alkohol. Bau khas Boboiboy.

Tangan itu terus melepas semua kancing sampai Boboiboy bertelanjang dada. Bora Ra menjilat bibirnya sendiri. Tangan kanannya mengusap dada bidang Boboiboy lembut. Turun menuju otot perutnya yang tercetak jelas. Naik turun mengikuti ritme napas empunya.

Bora Ra tertawa kecil. Mata penuh nafsu itu hanya terkunci pada Boboiboy, "Ahh, kenapa kau begitu menggugah selera Boboiboy..."

Ingin ia mengeksplorasi lebih jauh kualitas maskulin yang dimiliki oleh Boboiboy, namun ada suatu hal yang perlu ia lakukan terlebih dahulu.

Dengan hati-hati Bora Ra melepaskan kemeja yang dipakai Boboiboy. Selanjutnya ia melepas juga atasan yang ia kenakan.

Menarik selimut putih tipis kasurnya, Bora Ra berbaring di samping Boboiboy. Mengatur posisi pemuda itu untuk menghadapnya dan menyelimuti kaki mereka yang masih memakai celana bahan panjang. Tubuh bagian atas yang telanjang sengaja dipamerkan.

Bora Ra mendekatkan diri ke Boboiboy. Pundak bersentuhan, dada berdekatan, satu tangan menyilang perut Boboiboy.

Tangan kanannya diangkat, aplikasi kamera diaktifkan, layar menampilkan mereka yang begitu dekat, berbaring dengan posisi yang nyaris terlihat begitu intim.

Bora Ra langsung mengfoto mereka sekitar tiga kali. Setelah itu baru Bora Ra membuka kontak chat Fang dan mengirim foto yang paling pas.

Tersenyum sangat puas. Merasa kalau dengan ini akan ada keretakkan dalam hubungan mereka yang masih abu-abu itu.

Namun tidak disangka centang dua biru itu muncul. Bora Ra menyeringai, "Dia belum tidur rupanya." Gumamnya, membuatnya penasaran seperti apa ekspresi yang sedang tercipta di sana.

Tanpa pikir panjang Bora Ra mengirim foto itu ke hpnya sendiri. Baru dia menghapus foto itu di galeri Boboiboy juga riwayat chatnya dengan Fang. Tidak lupa menandai chat dengan Fang sebagai chat yang belum dibaca.

Tersenyum kecil, Bora Ra bangkit, dipakaikan kembali kemeja Boboiboy, menyelimuti pemuda itu dan memungut pakaiannya. Meletakkan pakaian tersebut di kamar mandi dan memakai pakaian tidurnya.

Kembali berbaring di samping Boboiboy dengan perasaan puas. Senyum antusiasnya masih membayang sampai ia menutup mata dan tidur dengan rasa senang.

.

..

.

Fang membelalakkan matanya dengan mata kosong. Tangannya terkulai lemas memegang gawai pintar dengan foto dua insan yang tertidur. Foto dengan satu orang yang sangat kenal. Orang yang dia anggap sebagai kekasih. Orang yang dengan kurang ajar telah merebut hati dan tubuhnya.

Namun di sana orang itu terlihat jelas tidur dengan orang lain.

Isi pikiran Fang kosong. Hatinya sakit seakan teriris pisau yang sangat tajam lalu ditusuk beribu tombak yang mengkilat pedih. Tubuhnya lemas, hanya duduk bersandar pada kursi belajarnya, membiarkan cemilan dan jus wortelnya tergeletak. Bahkan Fang lupa menandai dari mana halaman novel yang dia baca.

Logikanya masih menolak realita yang baru saja dia dapatkan.

'Apakah itu artinya selama ini kami hanya sex buddies?' hanya satu kalimat yang terpatri di benak Fang.

Fang menggigit bibir. Hp yang terletak digenggaman tangannya yang lemah ia lempar tanpa tenaga, hanya menggeser sedikit lebih jauh dari tubuhnya.

Kedua tangan menutup wajah. Setetes air mata lewat, mengalir di sela-sela jari diiringi tetesan lain yang berpacu keluar dari matanya.

Satu isakan bergetar, kemudian disahuti raungan lirih.

Fang merasa dadanya begitu sakit. Sakit saat menelan isakan tangisnya. Sakit seolah ia tidak bisa bernapas.

"Pengkhianat... Pengkhianat..." Lirihnya berulang kali. Baru malam itu Fang menangis tanpa henti. Baru malam itu dia menangis karena orang lain. Baru malam itu dia merasakan sakit yang tidak terkira.

Dan malam itu Fang tanpa sadar tertidur di meja belajarnya. Terlalu lelah menangisi orang yang jauh di sana yang menurutnya telah berkhianat. Hanya ingin larut dalam kesedihan yang dalam.

.

..

.

A/N:

Oke, untuk author note kali ini kalian cuman ketemu sama aku karena Valky-san katanya lagi males buat ikutan bikin note… www

LMAO

Aku yakin yang baca bakalan ngamuk tapi mengutip kata-kata Valky-san, "seenggaknya ini fanfic ada konflik". Lol, aneh juga kan fanfic multychap tapi konfliknya kurang seru. Dan aku emang bukan tipe penulis yang pinter mikirin konflik, tapi Valky-san punya banyak ide dan aku ngerasa nggak kepengen ngelewatin kesempatan untuk mencoba ngembangin suatu konflik yang agak ruwet, gimanapun karena dikerjaiin berdua jadi aku bisa ada temen diskusi buat ngembangin konfliknya, nggak ngerasa terlalu berat jadinya.

Lagian ini tuh membuka keran ide kami, kayak ada hujan ide tiba-tiba dan ngembanginnya bener-bener asyik.

Oh ya, kalau ada yang merasa ingin tanya atau protes kenapa Boboiboy minum, kami nggak mau ngambil sudut pandang agama atau budaya, tapi dari segi umur legal.

Uhm, untuk balesan review, kayaknya review yang dari ffn dan ao3 aku bales di A/N ya, kalau dari wattpad mungkin langsung aja aku bales karena kebiasaan.

Yuhu bales review ah~

From akaori

Plis spam aja komennya! Nggak masalah kok! kita malah seneng. Syukur kalau scene itu bagus dan terasa mendetail dan hot, kuharap malah nggak aneh. Yep, age-gap nya sebenarnya lucu juga, dan ngehasilin perbedaan fisik yang nggak kalah imut hehehe jarang emang yang suka karena berpikir jarak umur sejauh itu aneh banget, tapi sebenarnya yep emang asik.

Semoga chapter yang telah dittunggu ini tidak mengecewakan.

Terimakasih ucapan doa kesehatannya ^^ semoga kamu juga selalu kejaga kesehatannya…

From guest

Makasih udah baca dan makasih dukungannya :)

Uhm.. maaf kalau ada yang ternyata belum aku bales soalnya aku lupa siapa aja yang belum ku bales reviewnya :') untuk selanjutnya aku akan lebih hati-hati dan perhatian lagi, pokoknya aku berterima kasih sekali buat yang sudah baca dan review.

Semoga suka :)

Salam

Ai dan juga Valky