Disclaimer: Boboiboy (c) Monsta
Warning: Typo, OOC, BL, AU, age different, age gap, etc...
.
.
.
...
.
Boboiboy bangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Kepalanya yang seperti baru saja dipukul palu bertubi-tubi itu membuatnya mengerang. Cahaya terasa begitu menyilaukan, menambah rasa sakit yang dialami otaknya dan ia harus menahan diri untuk memaki matahari yang sama sekali tak berdosa.
Setelah berbaring diam selama beberapa menit—mungkin juga beberapa jam, Boboiboy tidak fokus menghitung waktu ketika saraf-saraf kepalanya sedang mengalami perang internal didalamnya—ia mengusahakan diri untuk bangkit duduk. Atau setidaknya membuka mata.
Dengan rasa sakit kepala yang belum hilang, dan mata yang sulit fokus, Boboiboy menolehkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Mengerutkan kening samar ketika sadar bahwa ini bukan kamarnya. Bukan ruangan yang ia pernah lihat sebelumnya.
Memori mulai kembali ke otaknya dengan begitu lamban. Samar ia ingat bahwa ia sedang memiliki urusan bisnis di luar kota selama beberapa hari. Samar pula ia ingat bahwa kamar hotel yang ia inapi memiliki interior yang sama sekali berbeda dari ruang yang kini ia tempati.
Memaksakan diri untuk turun dari ranjang dan bangun. Boboiboy keluar dari kamar dan mencoba menebak-nebak kemana ia harus pergi di dalam rumah asing ini.
"Oh, kau sudah bangun," suara itu menyapa Boboiboy. Ia melihat seorang pria yang tengah duduk di meja makan, ada sarapan berupa roti panggang dan seteko kopi di atasnya.
Kini ingatan di kepalanya mulai datang dengan lebih cepat. Ia mempunyai pertemuan dengan Bora Ra kemarin, mereka berjalan sejenak setelahnya dan pada malamnya memutuskan untuk minum.
"Kurasa kau perlu minum obat pereda nyeri ini."
Boboiboy mencoba tersenyum ramah, "Maaf, sepertinya aku merepotkan sekali kemarin malam." Ucapnya. Dia mengambil obat pereda nyeri yang disediakan di atas meja.
"Tak masalah. Aku anggap itu maklum karena kau sudah lama tidak minum. Jadi ingin melampiaskan sepenuhnya." Balas Bora Ra menyodorkan segelas air putih pada Boboiboy.
Meminum dalam sekali tegak kemudian meminum segelas air sampai habis. Boboiboy lalu duduk di kursi makan dan menatap lurus ke interior rumah Bora Ra.
"Masih linglung?"
"Ah, tidak. Sudah sedikit reda. Terima kasih." Balas Boboiboy. Dia lalu meraba sakunya namun tidak menemukan hpnya di sana, "Tunggu sebentar ya." Boboiboy segera kembali ke kamar Bora Ra mencari hpnya yang ternyata ada di atas nakas. Ada dompetnya juga di sana.
Boboiboy duduk sejenak di tepi ranjang sambil sesekali memijat pangkal hidungnya. Dia membaca pesan milik Fang yang belum dibuka dan tersenyum kecut, 'Sepertinya aku membuatnya khawatir.' batinnya.
Boboiboy segera membalas pesan itu, 'Maaf, kemarin aku sibuk. Kau khawatir?'
Tidak lama Fang membalasnya, 'Tidak sama sekali.'
Boboiboy menghela napas lega, 'Kau mau berangkat sekolah apa sudah di sekolah?'
'Di perjalanan.'
'Diantar Kaizo?'
'Naik kereta.'
Entah hanya perasaan Boboiboy atau jawaban Fang memang sama sekali tidak memiliki antusiasme sedikit pun? Yah, memang sih anak itu bisa menjadi sangat jutek seperti pada pertemuan awal mereka maupun jika ia sedang kesal.
Boboiboy melirik jam. Atau mungkin juga ia sedang terburu-buru, melihat ini sudah agak kesiangan untuk berangkat sekolah.
'Hati-hati di jalan.'
Boboiboy kemudian membawa hpnya karena yakin Fang tidak akan membalas setelah ini. Dia berpikir nanti akan membelikan donat lobak merah kesukaannya untuk permintaan maaf. Atau ditambah membawanya berlibur, atau dalam bahasa Boboiboy kencan.
Begitu kembali ke ruang makan, Boboiboy melihat sepiring roti panggang dan segelas air putih yang disediakan, "Ini untukku?" Tanya Boboiboy pada Bora Ra.
"Ya."
"Terima kasih." Boboiboy pun duduk memakan roti panggangnya.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong sehabis ini kau masih ada pertemuan?"
"Ada siang nanti sampai malam."
"Ohh, lalu kembali kapan?"
"Besok naik kereta pagi."
Bora Ra mengangkat sebelah alis. "Kereta?"
Boboiboy mengangguk.
"Tidak naik mobil?" Sekali lagi Bora Ra menyuarakan keheranannya.
Boboiboy tertawa pelan. Seolah ia sudah sering mendapat respon kebingungan seperti itu.
"Aku sangat suka berpergian dengan kereta. Kalau mendesak atau memang tempat tujuan ku tidak dapat dijangkau dengan kereta barulah aku memakai mobil ku," sahutnya.
"Ohh..."
"Lagipula dengan naik kereta itu cukup menghemat tenaga. Tidak perlu capek-capek untuk mengemudi. Jadi kalau ada pertemuan yang sangat mepet, tenaga saya masih tersisa banyak." Lanjut Boboiboy menjelaskan.
Bora Ra mengangguk, "Masuk akal."
Mereka menghabiskan sarapan dengan obrolan ringan. Bora Ra menawarkan tumpangan untuk Boboiboy ke stasiun, pemuda itu awalnya menolak karena merasa tidak enak, bagaimana pun dia sudah banyak merepotkan Bora Ra. Jalan-jalan kemarin, traktiran minum, dan juga membawa dan menerima dirinya yang mabuk untuk bermalam. Namun begitu, Bora Ra tetap bersikeras sampai akhirnya Boboiboy dengan enggan menerima tawarannya.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai stasiun juga memperbolehkan ku menginap, aku benar-benar minta maaf sudah banyak merepotkan," sahut Boboiboy dengan serius begitu turun dari mobil.
Bora Ra mengibaskan tangan santai. "Tidak apa-apa. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali, malah aku senang bisa mengenal mu, Boboiboy."
"Aku juga senang mengenalmu," balas Boboiboy tersenyum. "Kalau begitu aku pamit pulang," pemuda itu menjabat tangan Bora Ra dan berjalan memasuki stasiun.
Bora Ra mengamatinya sampai hilang dalam kerumunan. Kemudian ia masuk kembali ke mobil, memerintahkan supirnya pergi. Pria itu memandang keluar jendela dengan senyum penuh arti.
.
...
.
Pagi ini, Sai membayangkan siklus harian yang ia alami. Memasuki kelas, menyapa Fang jika pemuda itu sudah lebih dulu sampai, mengobrol atau membahas pr—atau lebih tepatnya menyalin pr—juga bertengkar kecil dengan temannya itu sampai akhirnya guru datang dan mereka fokus pada pelajaran yang diberikan.
Namun tampaknya hari ini adalah pengecualian.
Sai duduk di bangkunya, Fang belum datang, jadi dia membuka ponsel dan menjelajahi sosial media.
Gerakan di meja sampingnya. Sai menoleh karena tidak mendapat sapaan seperti biasanya.
"Astaga, kau kenapa?" Serunya kaget.
Fang tampak berantakan. Fang yang sangat memperhatikan penampilannya itu seolah tidak melihat ke cermin pagi ini.
Bajunya tidak kusut, tapi tidak ada tambahan aksesoris seperti jaket, gelang, dan lain-lain. Hanya seragam biasa. Rambutnya yang selalu ditata tampak tidak disisir. Wajahnya pucat dan retina matanya merah, ada lingkaran hitam dan bengkak yang mengkhawatirkan di matanya.
Sai menarik kursinya lebih dekat pada Fang. Ditompang kedua sikunya pada lututnya agar bisa menunduk dan menatap wajah temannya ini, "Hei kawan, ada apa? Apa ada hal buruk terjadi? Kau bertengkar dengan kakakmu?"
Fang menggeleng sebagai jawaban.
Sai diam. Fang biasanya kalau ada masalah paling sering dengan Kaizo, namun tidak seberantakan ini. Dengan teman juga tak pernah. Jadi kesimpulan Sai hanya itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan dia?"
Fang diam lama. Pupilnya bergerak miring kemudian mengangguk.
"Kenapa? Kalian bertengkar?"
Fang mengeluarkan hpnya. Dia lalu menunjukkan sebuah foto yang membuat Sai terkejut dalam diam. Dia menatap Fang kemudian. Mulai paham kenapa temannya ini sangat berantakan.
Daripada uring-uringan seperti gadis ABG labil, Sai lebih memilih merangkul pundak temannya dan tersenyum menenangkan, "Jangan sedih. Nanti kita bicara dengannya. Sekalian aku traktir donat lobak merah sama jus wortel kesukaanmu. Kalau kau tak berani nanti aku temani. Aku akan bela kau."
Fang hanya mengangguk setelah menyimpan handphonenya.
Sai mengelus punggung Fang dan tersenyum penuh simpati padanya dengan tatapan lembut walau di dalam hatinya bergejolak rasa marah dan kesal. Ditahannya rasa marah itu. Saat ini bukan waktu yang tepat.
Jika ia marah-marah, teman-teman sekelasnya akan penasaran dengan apa yang terjadi. Dia tidak bisa membiarkan privasi Fang diusik, pun di tidak mau Fang terjebak di kerumunan yang memberondongnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Yang terpenting saat ini adalah berada di samping Fang.
"Sai."
"Hmm?"
Fang diam lama. Dia menatap hpnya yang sengaja dia taruh di loker bangkunya, lupa akan apa yang mau dia katakan. Hanya diam merenung tanpa tahu mau apa. Dan itu membuat Fang jadi menunduk, "Aku lupa mau mengatakan apa."
"Rileks. Bagaimana kalau nanti kita pergi jalan-jalan buat melupakan itu sejenak. Kau mau ke mana?"
"Air terjun," bisik Fang.
Sai mengangguk. Tempat itu cukup jauh, tapi Sai memakluminya saja. Fang sedang sedih jadi dia akan menuruti kemauan anak itu sebisa mungkin.
"Oke, nanti kita pergi."
Fang mengangguk lemah. Sai meringis. Temannya benar-benar kehilangan semangat dan melihatnya saja membuat Sai ingin melakukan sesuatu tapi di saat yang bersamaan juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Sai merapikan rambut Fang sejenak. Setidaknya tidak menarik perhatian gurunya nanti dan menarik perhatian sekelas di akhir.
"Nah, sudah rapi." Gumamnya.
"Terima kasih, Sai."
Sai balas tersenyum, "Apa yang tidak untuk temanku yang satu ini."
Fang tersenyum lemah dan Sai membalasnya dengan senyuman lembut. Guru masuk, Sai menepuk pelan puncak kepala Fang sebelum kembali ke tempat duduknya.
.
...
.
Fang menunduk selama perjalanan ke air terjun. Jalan yang sedikit basah kadang membuatnya hampir oleng. Untung tangannya terus digenggam erat oleh Sai. Menuntunnya menuju air terjun yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki.
Mereka sempat naik kereta menuju ke air terjun yang paling dekat. Mereka sempat makan dulu sejenak agar tidak lapar di perjalanan. Juga membeli minuman dan kudapan kecil jikalau bosan.
Sai menoleh ke belakang sejenak. Menatap lama Fang yang masih diam merenung. Lalu menatap jalanan setapak yang di depannya juga ada wisatawan lain.
"Capek?" Tanya Sai. Fang menggeleng.
Mereka melanjutkan perjalanan ke salah satu deretan air terjun, sedikit mengambil rute yang lebih jauh untuk menuju air terjun yang lebih sepi. Air terjun yang lebih kecil. Air terjun paling besar ada banyak wisatawan yang membawa anak-anaknya liburan dan bermain.
Mereka tiba setelah beberapa saat. Lebih sepi seperti yang diharapkan, teduh dan dikelilingi pepohonan.
Keduanya mengambil tempat duduk di bawah sebuah pohon yang berada di tepi kolam air terjun. Merapikan barang-barang bawaan sebelum menikmati suara arus air yang turun dengan deras.
Sai melirik Fang yang duduk seraya memeluk lututnya, matanya terfokus pada air terjun yang airnya jernih dan dangkal itu. Menunggu juga agar temannya mau bicara.
Namun Sai juga cukup tidak nyaman dengan keheningan ini. Mereka biasa adu mulut, bahkan hampir adu jotos. Jadi Sai memutuskan untuk mencoba memulai percakapan, "Fang..."
"Hmm?"
"Kalau mau menangis, menangis saja. Tidak ada yang lihat selain aku."
Fang mengangkat kepalanya menatap Sai lama.
"Uh, aku tahu kau sudah menangis semalaman. Tapi kalau kesedihan terus dipendam itu tidak baik. Jadi menurutku menangis lagi tak apa. Keluarkan semuanya. Cuma bedanya sekarang ada yang menampungnya. Yaitu aku, temanmu."
Kalimat panjang itu hanya didiamkan oleh Fang. Membuat Sai jadi hampir frustasi.
"Katakan sesuatu dong?!" Serunya mulai agak kesal.
Fang menunduk. Dia beranjak duduk di pangkuan Sai miring. Menyandarkan bahu pada dada Sai dan kepalanya pada pundak kiri Sai. Memejamkan matanya menyamankan diri pada posisi ini, "Kalau begitu biarkan aku tidur seperti ini sejenak."
Sai mengangguk. Ia menyandarkan pipinya pada rambut Fang. Satu tangannya memeluk punggung Fang dan yang sebelahnya mengelus lengan atas Fang.
"Baiklah, tidur saja..."
Tak lama terdengar dengkuran halus dari Fang. Hanya butuh lima menit untuk anak berkaca mata itu untuk tidur.
'Dia benar-benar capek sepertinya,' batin Sai. Wajah Fang yang tertidur mendongak menatap langit. Membiarkan suara air terjun juga perlahan membuatnya tertidur.
.
...
.
Boboiboy mengernyitkan alisnya. Fang sama sekali tidak membalas maupun membaca chat yang dia kirim. Bahkan terakhir aktif saat pagi tadi, ketika Fang berangkat sekolah. Dan sekarang sudah hampir senja, Boboiboy baru sampai di stasiun tujuan akhirnya. Dia khawatir ada apa-apa dengan Fang.
Tapi kemana ia harus menemui Fang? Apa ia langsung mencari ke rumahnya Fang?
Boboiboy berpikir dengan gelisah selama perjalanan ke rumahnya. Bahkan setelah ia memutuskan mandi sejenak untuk menenangkan pikiran, ia masih belum bisa menyingkirkan kekhawatirannya.
Menghela napas, Boboiboy mengacak rambutnya kasar. Duduk menghempas di atas sofa.
Kemudian ia tertegun. Ah, ia ingat sekarang. Ia sempat meminta—mengancam untuk diberikan—nomor telepon teman dekat Fang.
Jadi Boboiboy segera menelponnya. Dengan penuh harap dia menunggu teman Fang mengangkat telepon. Terdengar suara sambung cukup lama. Namun yang ada tidak diangkat sama sekali. Dan itu membuat Boboiboy heran, sekaligus curiga.
"Apa mereka sedang bersama dan sengaja?" Gumamnya. Alisnya mengkerut. Kilatan tak suka mulai tersirat di sana.
Dia tidak tahu dimana Fang. Dia tak suka perasaan gelisah tanpa jawaban.
Rasanya tidak beralasan gelisah hanya karena tidak ada kabar dari Fang untuk beberapa menit. Boboiboy tidak suka, lebih tak suka pemikiran-pemikiran bahwa Fang bersama orang lain dan tidak ingin ia hubungi.
Boboiboy terpikir meminta bantuan sepupunya yang anak IT. Tapi Boboiboy ragu apakah dia sudah di tahap yang Boboiboy mau apa belum. Apalagi dia masih kuliah dan hanya sibuk main otak-atik mesin buat turnamen.
Boboiboy menghela napas. Daripada tidak ada cara lain, lebih baik dia minta tolong saja.
Segera Boboiboy mencari kontak bernama Ochobot dan menghubunginya. Tidak lama untuk diangkat, "Halo, Ocho?"
"Kak Boboiboy? Tumben nelpon aku? Kangen ya?"
"Bukan, aku mau minta tolong sesuatu. Dan kalau bisa lakukan dengan cepat."
"Ehh, kenapa ini? Kedengarannya kakak sedang marah. Musuh masa lalu menganggu lagi?"
"Ocho..." Hanya dengan satu kata, tanda kalau Boboiboy tidak sedang main-main dan akan menyeramkan kalau diajak bercanda.
"Oke oke, ada apa?"
"Aku ingin kau mencari lokasi dari sebuah nomor."
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin tahu dimana saja."
Terdengar helaan napas di seberang.
"Mana nomornya?"
"Sebentar, ku kirim lewat chat."
Boboiboy mengirim nomor Fang.
"Kasih aku waktu sebentar."
"Kau bisa kan?"
"Ehm, bisa sih... Nggak ada pengaman khusus di semua akses nomor ini,"
"Ohh..." Boboiboy menyeringai tanpa sadar.
Terdengar suara ketikan keyboard juga suara klik dari mouse. Boboiboy merilekskan diri menunggu hasilnya.
"Ah, ketemu!" Seru Ochobot merasa bangga.
"Di mana?"
"Uhm, Wisata Air Terjun Hussain?"
Boboiboy mengerutkan kening. Untuk apa Fang pergi ke tempat wisata padahal sedang tidak masa liburan seperti ini?
"Uhm, kak..." Panggil ochobot. "Kakak buat apa nyari orang ini? Dia nggak mungkinkan musuh kakak kan? Rasanya tidak mungkin saja."
Boboiboy menaikkan alis. "Darimana kau tahu? Jangan bilang kau mencari tahu soal Fang?"
Ochobot meringis bersalah. "Aku hanya khawatir, aku tidak mau kakak sedang bertengkar dengan orang yang berbahaya."
"Tenang saja. Justru sebaliknya. Dia sama sekali bukan orang yang berbahaya." Balas Boboiboy seraya beranjak mengambil kunci mobilnya.
"Oke kalau begitu. Kakak jangan cari gara-gara lagi, lho. Kasihan usaha yang sudah kakak bangun."
"Tenang, aku tidak akan melakukan itu. Oh ya Ocho, bisa buat agar nomor itu bisa aku lacak terus?"
"Ha? Buat apa? Siapa memang orang ini sampai Kak Boboiboy minta kaya gitu?"
"Sudah lakukan saja. Nanti aku belikan PS 5."
"Cih, suapannya berbahaya."
"Mau tidak?"
"Aaah! Baik, baik! Asal kakak janji saja tidak menggunakannya selain benar-benar perlu dan bukan suatu hal yang nggak benar!"
"Oke," setuju Boboiboy.
"Akan kuhubungkan pelacaknya ke hp kakak," gerutu ochobot.
"Ya sudah, aku tutup ya."
"Ya ya."
Boboiboy memutus sambungan teleponnya. Dia lalu keluar rumah dan mengunci pintunya. Dia senang memiliki keponakan yang sangat bisa diandalkan. Berkat bantuannya dia bisa tahu di mana saja Fang sekarang.
Boboiboy menuju mobilnya. Berniat menyusul Fang yang entah dengan siapa sekarang.
Boboiboy berusaha untuk tidak mengemudi dengan terburu-buru. Tapi tetap diusahakannya untuk sampai ke tempat tersebut dengan lebih cepat.
Jaraknya yang tidak terlalu dekat untuk ditempuh dengan kendaraan umum membuat Boboiboy bertanya-tanya. Ini jelas bukan pilihan anak SMA untuk nongkrong sepulang sekolah.
Memikirkannya membuat dahi Boboiboy berkerut. Ia segera keluar dari mobil dan masuk ke area air terjun. Menyusuri jalan setapaknya.
Walau hari mulai menjelang senja, namun tempat wisata itu masih ramai. Kebanyakan oleh anak muda perkuliahan yang memang masih senang berkumpul dengan teman-temannya. Apalagi ada banyak kafe dan spot foto di sana. Membuat tempat ini jadi tidak bisa sepi.
Lampu LED mulai menyala, namun jalan setapak menuju ke air terjun mulai gelap. Boboiboy jadi sangat khawatir. Dia mencoba mencari Fang di sekitar kafe, namun tidak ada. Boboiboy tidak menemukan satu pun anak yang memakai seragam SMA.
Boboiboy memutuskan untuk menelpon Fang. Tapi ia harus mengerang frustasi karena lagi-lagi tidak diangkat.
Tidak punya waktu banyak. Boboiboy membuka pelacak yang dipasang Ochobot.
Fang sudah pulang. Pemindai itu menunjukkan bahwa ia sudah dekat menuju rumahnya.
Boboiboy menghela napas. Antara lega dan juga kecewa.
Boboiboy kembali ke mobilnya. Bersandar pada kursi kemudinya sambil menutup matanya dengan lengannya.
"Hah, kenapa dengan anak itu? Apa dia marah karena kemarin aku sibuk?" Gumam Boboiboy mulai lelah. Dia menurunkan lengannya dan kembali membuka apps pelacak yang khusus untuk nomor milik Fang. Menatap lama titik merah yang sepertinya jalannya sangat pelan.
'Apa terjadi sesuatu di sekolahnya ya?' batin Boboiboy mulai curiga.
'Apa besok kutemui saja ya langsung?' pikir Boboiboy.
Tahu kalau sekarang sudah terlalu malam untuk mendatangi Fang ke rumahnya, Boboiboy memutuskan untuk pulang. Lagipula ia juga perlu istirahat. Kini setelah kekhawatirannya mengenai keberadaan Fang sudah sedikit terhapus ia baru menyadari bahwa tubuhnya lelah, sama sekali tidak merasakan karena kegelisahan tadi.
.
...
.
Fang tertegun ketika mendapati Boboiboy satu kereta dengannya. Dia langsung menunduk membuang muka dari pria yang umurnya sudah melebihi dua puluh itu.
Sementara Boboiboy mulai duduk di sebelah Fang. Dia agak heran melihat Fang hanya diam saja tidak menatapnya kesal atau cemberut.
Seperti... Fang sedang menghindarinya.
Ada kesan dingin dan menjauh dari Fang. Dan sedikit aura ... sedih?
"Fang," panggilnya pelan dan hati-hati.
Fang tidak menyahut, tidak melirik sedikit pun. Ia hanya memfokuskan tatapan ke pangkuannya sendiri.
"Fang..." Panggil Boboiboy lagi lebih lembut.
Tidak ada sahutan lagi.
Boboiboy mencoba bersabar. Lebih ke bertanya-tanya juga, "Fang, ada apa? Kenapa diam? Apakah... Ada sesuatu?"
Fang masih bungkam. Boboiboy meraih tangan Fang, namun pemuda itu berjengit dan cepat-cepat menarik tangannya lepas.
Ekspresi wajahnya membuat Boboiboy tertegun. Seolah-olah ia merasa sakit saat Boboiboy menyentuhnya, walau hanya sedikit.
Shock itu membuat Boboiboy terdiam sepanjang perjalanan kereta. Ketika sudah sampai di stasiun tujuan Fang, pemuda itu bangkit tanpa bersuara dan langsung beranjak ke pintu kereta.a
Boboiboy tinggal di tempat duduknya, menatap kosong pada punggung Fang yang kemudian hilang saat pintu tertutup.
Boboiboy yakin, pasti terjadi sesuatu pada Fang sampai membuatnya tidak mau bicara dan menjauhinya. Tapi apa? Padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Apa yang membuat Fang menjauhinya?
Seberapapun keras Boboiboy mengingat apa yang dia lakukan, dia tidak tahu apa yang salah.
Boboiboy lalu mengeluarkan hpnya. Dia membuka kontak Ying dan mengchatnya.
'Masih pagi, no drama.'
Otot imajiner Boboiboy berkedut, 'Bukan drama. Tapi aku ingin tanya.'
'Apa? Kalau aku jawabnya harus panjang, aku jawab pas jam istirahat.'
'Apa ada sesuatu yang terjadi pada Fang di sekolah?'
'Fang? Rasanya sih tidak ada. Dia mengikuti pembelajaran seperti biasa dan bergaul dengan teman-temannya seperti biasa. Setidaknya itu yang aku perhatikan dari terakhir kali aku mengajar kelasnya.'
Penjelasan Ying membuat Boboiboy semakin bingung. Tidak ada masalah dengan teman-temannya, dan Boboiboy ragu masalah Fang berhubungan dengan keluarganya.
Anak itu terlalu disayang oleh orang tua dan Abangnya.
'Kapan kau punya jadwal mengajar matematika di kelas Fang lagi?'
'Siang ini ada sih.'
'Bisa kau perhatikan dia, apa terlihat ada yang salah dengannya untukku?'
'Uhm, oke deh.'
Boboiboy menyimpan hpnya. Dia lalu mendongak dan memejamkan mata. Apa nanti malam dia minum lagi ya? Kadar stressnya bertambah. Dia butuh sesuatu untuk rileks.
'Ah, jangan.' Boboiboy menggeleng kemudian. Dia lebih baik pergi ke gym saja nanti. Baginya melepas stress lebik baik mengeluarkan tenaga daripada hanya minum saja. Yang ada malah pening kepalanya.
Boboiboy menghela napas. Ketidaktahuan bukan sesuatu yang menyenangkan, apalagi jika itu berhubungan dengan Fang.
Lamunan galau Boboiboy berhenti begitu pengeras suara mengumumkan nama stasiun tujuannya. Boboiboy kembali menghembuskan napas, berdiri untuk keluar dari kereta.
.
...
.
Tidak ada yang salah dari Fang saat pelajaran. Itu yang Ying perhatikan. Anak itu memperhatikan dengan baik. Bahkan Ying mencoba sekali mengujinya dengan beberapa soal, dan Fang mampu menjawabnya dengan baik.
Jadi Ying penasaran, apa terjadi sesuatu antara Boboiboy dan Fang sampai teman ubanannya itu bertanya soal Fang?
Ying memainkan gelas berisi es jeruknya sambil menompang dagunya di kantin. Boboiboy yang punya masalah tapi dirinya ikut kepikiran.
Konyol sekali.
Ying mendengus, tapi segera mengendalikan lagi ekspresi mencemoohnya menjadi senyum tenang begitu ada beberapa siswa yang lewat di dekatnya dan menyapanya. Ia melempar sejenak pandangan pada siswa-siswi yang mulai memadati kantin.
Ying berniat untuk menyudahi acara makannya dan kembali ke ruang guru saat sebuah kepala yang dihiasi rambut berwarna ungu gelap menangkap atensinya.
Fang sedang bersama Sai, Shielda, dan Nut.
Ying memutuskan untuk menunda niatnya.
Dia mulai menguping apa yang sedang dibicarakan anak-anak itu. Kali saja bisa mendapatkan sedikit clue.
Tapi Ying agak kaget mendengar Shielda menggebrak meja, "Benar sekali tokoh kaya gitu harus dimusnahkan." Serunya membuat Ying terheran-heran.
"Kebanyakan nonton drama Korea ini anak." Sindir Nut.
"Habis aku gak tahan. Tiap kali nonton rasanya ingin aku hancurin nenek lampir itu."
"Itu cuma cerita kan. Gak mungkin terjadi di dunia nyata."
"Ada kok. Kita aja yang terlalu muda jadi gak tahu." Sahut Sai.
"Ha? Serius?" Tanya Nut.
Sai mengangguk.
"Sai..." Shielda menutup mulutnya tak percaya, "Kau main sama tante-tante? Aku laporin ke ayah sama ibu."
"Bukan aku woi!" Protes Sai tak terima.
"Itu—"
Ucapan Sai terputus oleh teriakan sakit. Fang baru saja menginjak kaki temannya itu sekuat tenaga. Pemuda berkacamata itu memelototi temannya tersebut.
Ying susah payah menahan senyum.
"Ada apa?" Tanya Shielda yang menatap keduanya dengan ingin tahu. Nut juga tampak sama penasarannya.
"Nggak, nggak ada apa-apa," cicit Sai sedangkan Fang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Silahkan lanjut lagi ngomelnya," ujar Sai mengalihkan pembicaraan yang dengan segera disambut Shielda.
Dengan wajah penuh penghayatan akan rasa marah ia kembali mencurahkan rasa kesalnya akan tokoh di drama yang ia tonton.
"Apa-apaan sih perempuan itu main ambil kesempatan! Main liciknya licin banget sumpah!"
"Itulah sifat natural cewek. Kalau yang dia suka udah jadi milik orang lain, jiwa pengen jadi pelakornya strong banget." Sahut Sai.
"Aku gak sekurang ajar itu ya." Balas Shielda tak terima.
"Yang bilang itu kau siapa? Bukan aku."
"Tapi katamu cewek. Aku juga cewek. Bentar, cowok juga bisa sih."
"Huh, kau ini. Eh, tapi ada drama yang brengsek malah cowoknya. Dia tega nidurin cewek orang biar cewek itu jadi punya dia." Mendengar itu Fang mengepalkan tangannya.
"NTR?" Tanya Sai.
"Apa itu NTR?" Tanya Shielda balik.
"Sai, bacaanmu..." Ledek Nut geleng-geleng.
"Apa? MILF itu indah. LEBIH EMPUK!" Protes Sai tak terima.
"Sayangnya aku tidak bisa menyangkal." Nut buang muka. Hanya meninggalkan Shielda yang tak paham.
Ying yang mengamati mengangkat sebelah alis. Fang tampak beberapa kali berjengit ketika Shielda mengeluh dan menjabarkan setiap hal menyebalkan yang ia dapati dari karakter drama yang melakukan kecurangan di hubungan asmara.
Fang tiba-tiba terlihat mengeluarkan diri dari pembicaraan. Tidak akan kentara jika seandainya ia tidak dikelilingi oleh Shielda yang masih berapi-api membahas dramanya dan Sai serta Nut yang bercanda dan berdebat mengenai topik yang diam-diam nakal.
Fang pergi ke belakang sekolah. Bersandar pada dinding dan menatap pohon yang paling tinggi. Dia mendongak pada puncaknya. Hanya ada dedaunan dan burung kecil yang sesekali hinggap di sana. Mata kosongnya seperti tidak tahu kenapa memilih pucuk pohon sebagai atensinya. Hanya diam merenung.
"Apa yang aku lakukan sebenarnya..." Gumamnya pada diri sendiri. Dia kemudian mengusap rambutnya sendiri, baru memegangi kepalanya.
Matanya kemudian terpejam sejenak. Mengambil napas dalam dari hidungnya lalu menghembuskannya dari mulut. Menjernihkan pikirannya dan mencoba berpikir bersih.
'Aku tidak bisa terus kabur seperti ini. Aku harus berani bicara. Berani bertanya. Kalau memang itu benar, aku hanya perlu menyudahi hubungan ini. Kalau itu ternyata hanya permainan...' Fang diam. Matanya membelalak menyadari sesuatu.
'Permainan?'
Dia segera mengeluarkan hpnya dan membuka foto yang membuatnya harinya hancur. Dia perhatikan lama foto itu. Ini hp Boboiboy. Chat dari Boboiboy. Tapi yang mengirim foto bukan Boboiboy. Sementara di sana yang mengambil foto bukan Boboiboy. Pemuda itu tertidur pulas.
Lalu kenapa bisa mereka tidur telanjang dan berpelukan? Tidak, ini lebih seperti sedang dipeluk selagi tidur.
Fang jadi berjongkok dan menatap foto itu lama sambil berpikir keras.
Ada sesuatu yang salah.
Fang tidak terlalu yakin tapi sesuatu dalam dirinya berkata kalau dia perlu hati-hati. Tapi terhadap apa?
Ia memijat pelipisnya. Merasakan kepalanya berdenyut.
"Masa aku tanya langsung?" Lirihnya bertanya-tanya sendiri. Fang menggeleng kuat kemudian. Dia jadi berlari ke kantin dan mendadak menarik Sai pergi.
Sai yang panik sempat memegangi meja karena merasakan aura tidak enak.
"Ikut aku, ada yang perlu kita bicarakan!" Seru Fang menarik Sai sekuat tenaga.
"Ha? Apaan? Di sini kan bisa?"
"Gak bisa. Ini cuma bisa antara kita berdua. Aku butuh opinimu. Kau lebih berpengalaman!"
"Apanya? Gak woi! Kau lebih ber-"
"KAU UDAH PACARAN PUTUS NYAMBUNG BOLAK-BALIK! SEKARANG IKUT DAN DENGARKAN AKU!" Teriak Fang tiba-tiba dan berhasil menarik Sai, juga menarik perhatian seisi kantin.
"Tidak! Shielda! Tolong aku!"
Tapi sebelum Shielda maupun Nut bereaksi dari keterkejutan dan kebingungan mereka, Fang sudah terlebih dahulu menyeret paksa Sai. Pemuda berambut cokelat itu terpaksa menurut dan terantuk-antuk mengikuti langkah Fang yang cepat. Nut, Shielda, dan juga Ying hanya bisa keheranan dengan kata-kata Fang.
"Jadi, tadi itu apa?" Tanya Nut melirik Shielda.
Gadis itu menggeleng lambat-lambat. "Hanya Tuhan dan mereka berdua saja yang tahu," jawabnya datar.
Ying berpikir sudah tidak ada lagi yang bisa ia amati jadi wanita itu berdiri dengan tenang menuju kantor guru sembari memikirkan kata-kata Fang.
'Dia menyinggung soal pacaran, berarti ada hubungan dengan Boboiboy kah?' batinnya.
Ying terpikir untuk menghubungi Boboiboy. Namun dia butuh mempersiapkan diri untuk kelas selanjutnya. Tidak mungkin dia tinggal begitu saja. Ah, daripada repot, sepulang sekolah dia ketemu Boboiboy saja.
Sementara Sai di belakang sekolah mendengarkan dengan seksama penjelasan Fang. Dia melipat tangannya dan ikut berpikir.
"Dengan kata lain, hpnya dijarah tanpa izin. Menurutmu bagaiaman?" Tanya Fang, seperti dia kembali seperti semula.
Sai memikirkan kata-kata Fang dengan kening berkerut. "Bisa saja sih, tapi pertanyaanku kenapa mereka barengan? Di kasur lagi..." Sahut Sai takut-takut, ia menggumamkan kata terakhir dengan pelan.
Fang tampak frustasi memikirkan perkataan Sai tersebut. "Itu dia yang tidak aku mengerti! Kenapa hpnya bisa di tangan orang lain?!" Seru Fang frustasi.
"Mungkin dia cemburu tahu dia sudah jadi milikmu. Jadi melakukan hal tidak dewasa seperti ini." Balas Sai.
"Akkhhh! Aku jadi ingin mengecek hp si brengsek itu!" geram Fang mulai ngamuk-ngamuk sendiri.
"Cek saja. Kau kan pacarnya. Dibolehin mungkin."
Fang mendengus, menendang kerikil dengan kesal. "Entahlah, walau aku berkata ada orang yang menipunya, tapi aku belum bisa menatap wajahnya langsung," gumam Fang. Ia menutup mata sejenak. "Rasanya foto itu terus menghantuiku dan membisikkan kata-kata mengejek padaku."
"Tapi kalau tidak begitu. Kau tidak bisa menemukan jawabannya. Kau akan terus dirugikan dan orang yang mengirim foto itu akan menang."
Fang diam sejenak mendengar itu. Tangan dan kakinya terasa dingin mendadak.
"Kau benar," ucap Fang lamat-lamat. Ia melirik kawannya dengan ekspresi lelah.
Sai melembutkan air mukanya. Dirangkulnya bahu Fang. Setengah memeluk pemuda berkacamata itu. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku sebagai teman mu bersedia menjadi pendengar kalau kau perlu bicara."
Fang tersenyum kecil, "Ya, terima kasih. Tapi aku merasa untuk beberapa hari ini aku tidak bisa bertemu dengannya. Lebih tepatnya aku belum siap."
Sai mengangkat bahu. "Take your time, nggak perlu buru-buru," sahut Sai tersenyum tipis. Kemudian ia mengubah ekspresinya menjadi lebih ceria.
"Ayo sekarang kita kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk."
"Um," Fang mengangguk dan mengikuti temannya tersebut ke kelas.
.
.
TBC
.
.
A/N:
Chapter ini nonjolin keduanya yang lagi galau wkwk dan Sai yang merupakan sahabat sejati :))
Tapi jangan sedih, kita nggak galau mulu, chapter selanjutnya bakalan seru, secara pribadi aku suka banget chap itu.
Ahaha, kasihan banget kan Fang dikhianati. Saya suka dia datang ke sekolah berantakan banget.
Dah ku bilang nggak ada yang bakalan percaya Valky-san ngebucin Fang kalau kalimatnya aja kek gini :')
Heh ngawur. Saya bucin ya. Dia napas aja saya sagne. Apalagi dia nyata.
*slap emoji
Untung gak nyata...
Hilih, anda juga sebelas dua belas sama saya.
Yah namanya juga partner nulis, kalau level nistanya gak sama, gak nyambung nanti ficnya.
Makanya anda bejad kaya saya. Kita kan satu pemikiran gak bebernya.
*flip table emoji
Bales review yuk, capek orang-orang liatin kita berantem mulu.
Kita bales yang dari ao3 sama ffn soalnya yang di wattpad udah kubalesin :')
Oke, jadi dari siapa dulu nih?
Ini dulu, dari akaori
Ohh, oke, ANDA BELUM LIHAT KONFLIK YANG LEBIH GILA DARI INI. MUAHAHAHAHHAAHHAAHHAHA
Bagi kalian para penyayang Fang dilarang lihat isi chat kami berdua hahaha...
Ngawur, kita sayang kok sama Fang. Cuma caranya beda.
Iya, bikin Fang menderita terus.
Tapi tetep sayang kok. Oke, review selanjutnya.
Dari Loriavx
Makasih semangatnya. Tenang, BoiFang akan selalu jaya. Bahkan kami bagi-bagi fanart. Kalau Nemu akun rahasia palki, kalian bisa Nemu fanart BoiFang.
Dan aku mungkin pasang di wattpad kalau ga mager. :)
Sekali lagi makasih sudah baca ^^
Jangan dipasang di WP tanpa seizin saya :')
Pasti.
Selanjutnya dari Ryu
Kok alim di fanfic bejad sih :')
Lmao, pemikiran ku sama. Ini kalimat terlalu religius untuk fic penuh smut begini, but thanks anyway :D
Dah habis reviewnya
Ada yang mau dibahas lagi, Ai-san?
Nggak juga, mungkin chap selanjutnya bakalan bisa banyak lagi yang dibahas...
Ahh, chap selanjutnya. Saya akan sangat suka.
Sama :) itu fav ku juga.
Yosh, tunggu chap selanjutnya ya.
Salam
Valky & Ai
