Disclaimer: BoBoiBoy milik Monsta

Warning: Yaoi, OOC, typo, age-gap, AU, dll...

.

.

.

Walau Fang bilang akan bicara dengan Boboiboy, namun pemuda berambut ungu itu sama sekali tidak menghubunginya sampai weekend ini. Dia malah menyibukkan diri dengan belajar. Salahkan para guru yang mendadak ngebut materi karena katanya sudah memasuki jadwal ujian. Fang jadi tidak punya pikiran lain selain mengejar materi dan belajar agar kuis yang dikerjakannya bisa mendapat nilai bagus.

Fang mengerang di atas kasur. Dia butuh refreshing. Abangnya sedang keluar kota dengan Lahap. Sementara orang tuanya entah pergi ke mana. Meninggalkan Fang di rumah sendirian. Ada dua pembantu dan satpam yang menjaga. Namun Fang sedang tidak ingin menganggu mereka.

"Mending aku jalan-jalan." Ucapnya lalu bangkit berganti baju. Menggenakan jumper tanpa lengan dengan kain tipis yang ada tudungnya. Berwarna ungu gelap yang dipadukan dengan celana selutut bercorak model tentara. Dia juga memakai sepatu putih bergaris ungu muda yang dibaliknya sudah memakai kaos kaki yang sengaja ditenggelamkan sampai mata kaki.

Fang lalu memakai tas selempang kecilnya. Berisi dompet, handphone, dan powerbank. Fang sempat menatap lama headphonenya. Kemudian dia pakai dan dia kalungkan di leher. Biar tidak bosan nanti saat jalan kaki.

Setelah berpamitan pada satpam, Fang baru memakai headphone yang sudah terhubung ke hpnya dan pergi berjalan ke stasiun terdekat. Dia akan ke pusat kota, di sana lebih banyak hal menarik untuk dilihat.

Fang membeli karcis setibanya di stasiun, memasuki kereta dan duduk di bangku kosong. Sembari menunggu perjalanan berhenti, Fang memainkan ponsel. Menelusuri media sosial, ia mencari apa saja tempat yang enaknya ia datangi dan apa saja hal menarik dan baru yang bisa ia coba walau sendiri.

Fang menyusun rencana di kepalanya, ia akan ke pusat perbelanjaan untuk melihat-lihat toko musik, mencoba beberapa makanan yang tengah hits akhir-akhir ini di pasar kuliner yang baru buka, kemudian menonton film. Puas dengan rencana kecilnya, Fang menutup ponsel. Kini menikmati suasana di dalam kereta dan musik yang didengarnya.

Fang tidak sadar dia menjadi pusat perhatian bagi beberapa orang. Mereka begitu terpukau dengan bagaimana kulit mulus itu hampir terekspos. Sudah hal umum kalau Chinese Malay suka memakai baju yang 'sedikit' terbuka entah itu laki-laki atau perempuan. Kulit mulus mereka membuat iri pribumi.

Namun kali ini berbeda.

Mata mereka bukan melihat Fang penuh rasa iri. Namun seperti tergoda.

Satu-dua gadis mencuri pandang malu-malu, berharap bisa kebetulan bertatapan mata dengannya. Sayangnya, Fang masih tidak menyadari, asyik sendiri mendengarkan lantunan musik dari headphonenya, menyenandungkan lirik di dalam batin.

Satu-dua pemuda meliriknya lebih berani. Tampak mempertimbangkan untuk mendekat. Sampai akhirnya satu orang pemuda dengan rambut diberi highlight biru gelap, melangkah untuk berdiri di depannya.

"Apa aku boleh duduk di sini?" Tanyanya menunjuk bangku kosong di sebelah Fang.

Fang mengangguk. Bingung kenapa orang itu harus bertanya, ini transportasi umum, kita boleh duduk di bangku kosong tersedia manapun kan.

Pemuda itu tersenyum lebar dan segera duduk di samping Fang. Fang meliriknya sekilas, pemuda itu tinggi, memakai kaus polo warna maroon dan celana jeans biru bersih. Sebuah ransel hitam ia sandang, dan menilai penampilannya, ia pastilah mahasiswa.

Fang akhirnya memilih mengabaikan pemuda itu. Masih memegang prinsip yang dikatakan keluarganya sejak kecil, "Jangan bicara dengan orang asing. Kalau diajak juga jangan mau. Dunia luar berbahaya." Dan Fang dengan polosnya menurut.

Karena itu saat dulu pertama kenal dengan Boboiboy dia memilih menjauh. Jaga diri dan juga tidak mau terkena masalah. Namun semenjak tahu kalau dia mengenal kakaknya, atau mungkin juga keluarganya, was was Fang jadi menurun. Dan malah terhasut oleh pesona pria itu.

"Jalan-jalan sendiri?" Tanya pemuda itu tersenyum ramah membuka obrolan.

Fang yang sebenarnya tidak bagus berurusan dengan orang asing hanya mengangguk kikuk. Tapi sikap canggungnya sepertinya sama sekali tidak dipermasalahkan oleh lawan bicaranya.

"Kenapa nggak pergi sama teman, apa nggak kesepian sendiri saja?"

Ya, Fang memang sadar sih kalau jalan-jalan di akhir pekan sendiri terkesan sedikit menyedihkan dimana orang lain bersenang-senang dengan teman-teman, keluarga, atau kekasih tapi Fang jarang punya kesempatan untuk pergi sendiri jadi dia tidak pernah merasa bosan atau kesepian karena itu.

Jadi Fang menjawab dengan anggukan saja. Menurutnya kalau diam saja lawan bicaranya akan canggung dan akhirnya diam saja. Itu menurut Fang.

"Ohh, jalan-jalan sendirian tanda sebagai seorang mandiri. Selain relaksasi juga melatih diri untuk bisa menghadapi dunia dengan berani."

Fang melirik, apa-apaan dengan orang ini mendadak bicara seperti itu? Mengejek kah?

Laki-laki itu tersenyum pada Fang, "Aku juga kadang pergi keluar sendirian. Entah belanja atau kuliah. Teman ada, hanya kadang aku butuh waktu sendirian. Serasa lebih tenang saja."

Kali ini alis Fang mengerut. Kenapa orang ini malah menceritakan tentang dirinya? Aneh.

Pemuda itu tampaknya tahu Fang sengaja diam kali ini. Bukan hanya sekedar canggung.

Ia mengerutkan dahi samar dan terlihat memikirkan sesuatu.

"Uhm, kau mau turun di mana? Aku turun di stasiun Anggrek." Kata orang itu, sengaja menunjukkan di mana dia turun agar Fang mau bicara.

Fang diam lama. Menatap lama wajah pemuda itu. Mata polos delimanya terukir rasa penasaran yang aneh. Dia punya feeling orang ini sama seperti Boboiboy, ingin dekat dengannya. Tapi apakah motifnya sama? Fang ingin tahu.

"Anu..."

"Kau sama seperti seseorang yang aku kenal."

"Eh?"

"Mengajakku bicara terus menerus. Walau aku sudah diam mengabaikan tapi tidak menyerah dan terus mengajakku bicara dengan cara apapun. Apa yang aku lakukan sampai orang seperti kalian ingin sekali bicara denganku?"

Orang itu tampak terkejut dan bingung atas cerocosan mendadak Fang sebelum ia tertawa. Fang menatapnya dengan kening berkerut.

"Kau lucu saat cerewet begitu," sahutnya disela tawa yang masih berlanjut sebentar. Tawanya meredam dan ia nyengir lebar. "Karena mau menarik perhatian, dan laki-laki itu akan semakin bertekad kalau merasa tertantang," kata-kata terakhir ia tambahkan dengan senyum jenaka.

Fang memiringkan kepalanya tak paham.

Menarik perhatian? Merasa tertantang? Apa maksudnya? Apakah hanya diam saja tanda tolakan sebuah tantangan? Harusnya tantangan itu yang memacu adrenalin. Bukan dicuekin saat diajak ngobrol.

"Kalian aneh." Komentar Fang singkat.

Pemuda itu hanya tersenyum simpul. "Tapi menjadi normal dan biasa saja itu bukannya membosankan?"

Fang memikirkan ucapannya sejenak lalu mengangguk setuju. Walaupun Boboiboy menyebalkan dengan tindakannya, ia tidak bisa membayangkan dan berharap pria itu akan menjadi sosok seperti orang kebanyakan.

Fang lalu mendengar pemberhentiannya akan segera tiba. Dia jadi berdiri dan kembali memakai headphonenya.

"Kau turun di sini?" Kaget pemuda itu.

Fang mengangguk, "Kenapa?"

"Kebetulan aku juga turun disini," jawabnya menunjukkan karcisnya. Fang menurunkan headphone dan mendongak menatapnya bingung.

"Kau mau ke pusat kota? Tapi ku kira kau mau pergi kuliah, bawa ransel begitu" sahut Fang menunjuk ransel yang disandang pemuda tersebut. Pemuda itu menggeleng, berdiri dan berjalan di samping Fang menuju pintu keluar.

"Ini isinya berkas-berkas UKM, aku habis pulang dari rapat organisasi," jelasnya.

"Hmm?" Mereka berjalan berdampingan keluar dari gerbong kereta, "Kuliah itu jadwalnya padat?"

"Uhmm, tidak menentu sih. Lebih ke seberapa rajin kau dan jadwal dosennya. Kalau ingin jadi mahasiswa kupu-kupu juga bisa."

"Apa itu?"

"Mahasiswa yang tidak tahu apa kabarnya."

"Ohh..."

"Kau SMA ya? Sudah tau rencananya mau masuk univ dan jurusan apa?" Tanya pria itu memindahkan beban ransel yang disandang di bahu kanan ke bahu kiri.

Fang menggeleng. "Belum sih..."

"Kelas berapa?"

"Kelas satu."

"Ah, masih banyak waktu buat memikirkan soal kuliah.

Aku bisa memberikan konsultasi tentang tiap jurusan. Ya, itu yang ada di tempatku saja sih."

"Memang kau jurusan apa?"

Orang itu menunduk. Sedikit terpaku pada Fang yang mendongak padanya. Baru sadar betapa imut anak satu ini. Senyum ramahnya lalu mengambang, "Psikologi. Ah, kita belum berkenalan ya." Pria itu mengulurkan tangan kanannya pada Fang, "Namaku Retakka."

Fang menatap tangan itu lama sebelum akhirnya menjabatnya, "Fang."

"Kau SMA mana?"

"SMA negeri 1."

"Oooh, anak pintar rupanya," sahut Retakka jahil.

Fang mendengus. Alasannya masuk SMA tersebut tidak murni karena julukannya SMA terfavorit, hanya saja itu merupakan sekolah paling dekat dengan rumahnya.

"Kamu sendiri, mahasiswa univ mana?" Giliran Fang yang bertanya.

"Universitas Rintis, semester 4," jawab Retakka.

"Ohh..."

"Bagaimana kalau kita mengobrol di satu tempat. Sekalian aku ngecek berkas-berkas. Kau bisa baca kalau penasaran."

Mata Fang langsung berbinar mendengar itu, "Boleh?!"

Retakka mengangguk.

"Ikut!"

Sungguh tidak bisa tidak tersenyum melihat keantusiasan Fang secara tiba-tiba. Anak ini seperti baru saja menemukan hal baru yang menarik perhatiannya. Dan itu sangat menggemaskan.

"Uhm, kita mau ngobrol di mana?" Tanya Fang mendongak.

Retakka melihat berkeliling, pandangannya jatuh pada satu deretan stan-stan penjual makanan. Ada meja-meja berkanopi di depannya.

"Di sana saja, sekalian kalau nanti lapar bisa gampang nyari makan," sahutnya.

Fang mengangguk dan mereka mengambil satu tempat duduk di meja kosong. Memesan minuman Boba sebagai pendamping acara mengobrol.

.

...

.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang saat Boboiboy terbangun. Kepalanya pening karena tidur terlalu lama. Dia menatap lama langit-langit kamarnya sambil menunggu sadar penuh. Kebiasaan tidur tanpa batasan mulai kembali ketika dirinya mulai agak depresi.

Alasannya? Fang yang tiba-tiba menjauhinya. Ditambah pekerjaan yang menumpuk.

Boboiboy terpaksa mengurusi semuanya sampai akhirnya dia bisa benar-benar bebas sekarang. Dia hanya perlu mengecek data sebentar mulai Senin dan bisa menghabiskan waktu dengan Fang.

Lebih tepatnya mencoba bicara dengannya empat mata bagaimana pun caranya.

Boboiboy tersenyum masam. Membuka ponsel dan aplikasi chat.

Masih sama. Pesannya masih belum ada balasan.

Tuhan, Boboiboy perlu melihat Fang. Perlu mendengar suaranya. Perlu mengetahui apa yang ada dibenaknya saat ini. Rasa bingung, khawatir, bercampur rindu menghasilkan kombinasi pahit frustasi yang membuatnya tak bisa tenang.

Malah yang muncul chat dari temannya di grup. Mengajaknya untuk jalan-jalan biar rileks sedikit.

Dia lalu membiarkan hpnya tergeletak di kasur. Perutnya lapar. Apa dia pesan makanan pakai ojek online saja ya? Dirinya malas memasak.

Boboiboy lalu mendengar hpnya bergetar lagi. Dia yakin pasti dari grup.

Boboiboy tersenyum datar, benar kan. Dan yang mengirim Gopal.

Dia jadi membukanya dan membacanya. Matanya membelalak tak percaya.

Di sana terlihat Fang sedang duduk bersama orang asing yang terlihat hanya punggung mereka. Seperti sedang asik mengobrol.

'Kayanya kau dibuang deh, Boboiboy.' tulis Gopal.

Ekspresi Boboiboy mengeras, ia segera beringsut turun dari kasur.

'Kau lagi dimana?' ketiknya dengan sebelah tangan, tangan yang lain menyingkap lemari kasar. Boboiboy meraup sembarangan kemeja dan celana jeans yang tergantung lalu melemparkannya ke atas kasur.

'Pusat kota, nggak jauh-jauh amat dari stasiun.'

Boboiboy tak membalas lagi. Ia lempar hp ke kasur dan setengah berlari menuju kamar mandi.

.

...

.

Fang meregangkan ototnya, terlalu lama duduk dan membaca membuatnya kaku. Senyumnya juga tidak bisa hilang sejak tadi.

"Bagaimana? Kau tertarik masuk psikologi?" Tawar Retakka merapikan berkasnya.

"Gak. Tapi aku mau tahu lebih banyak." Jawab Fang spontan.

Retakka tertawa mendengar itu, "Kau suka belajar ya."

"Hehe, aku suka baca sih. Di rumah aku suka ngoleksi buku sejak kecil. Entah itu novel atau buku random." Jawab Fang menggaruk pipinya.

"Ohh, kalau gitu coba ambil sastra bahasa. Di sana aku yakin hobi membacamu akan berarti. Lulusannya kau bisa jadi penulis, penerjemah, juru bicara, atau yang lain."

Fang berpikir lama, "Sastra ka..."

"Tapi aku nggak pernah nulis," sahut Fang ragu-ragu.

Retakka menggeleng. Menggeser gelas minumannya yang sudah habis isinya. "Sastra nggak cuman soal nulis aja, ada banyak hal yang kamu pelajari soal bahasa, seni, dan budaya yang bersangkutan dengan sastra. Lagian, kamu bisa belajar nulis nantinya, atau coba-coba sedikit dari sekarang," jelas Retakka.

Fang mengangguk paham, "Benar juga. Jadi intinya aku bisa membangun minat dari sekarang?"

"Benar."

Fang diam lama melirik jalanan, 'Kalau Boboiboy dulu waktu kuliah ambil jurusan apa ya? Dia gak pernah cerita.'

Fang mengerutkan kening. Kenapa dia harus teringat lagi dengan Boboiboy? Akhir-akhir ini setiap pemikiran yang menyinggungnya akan membuat sengatan sakit yang halus pada Fang.

"Kenapa? Kau tiba-tiba kepikiran hal yang menyebalkan?

Suara Retakka menyentak Fang dari lamunannya. Retakka menatap Fang dengan penasaran, tubuh ia condong ke depan.

Fang jadi mundur menjaga jarak, "Eh, itu, aku..."

Retakka kembali menegakkan tubuhnya.

"Tunggu, bagaimana kau tahu kalau aku sedang kesal?" Heran Fang.

"Aku mahasiswa psikologi. Sudah menjadi keseharianku membaca ekspresi orang."

Ah, benar juga. Bodoh kau Fang.

"Jadi kenapa? Kau bisa cerita. Uhm, itu pun kalau kau mau."

Fang diam lama. Dia berpikir sejenak. Retakka mahasiswa psikologi. Mungkin dia akan lebih paham. Fang jadi mengangguk.

"Jadi aku bisa dikatakan punya hubungan dengan seseorang," ujar Fang menundukkan pandangan. Tangannya bertaut gugup. "Kami sangat dekat tapi tidak pernah benar-benar membicarakan tentang hubungan kami ini sebenarnya..."

Fang melirik Retakka, pemuda itu terlihat mendengarkan dengan serius. Ia mengangguk dengan pandangan penuh empati, mengisyaratkan agar Fang melanjutkan ceritanya.

"Beberapa hari yang lalu aku menerima foto dari nomornya, foto dia dengan orang lain. Aku... Merasa dikhianati sekali. Tapi kemarin waktu kupikirkan, aku jadi bingung, kenapa setelahnya dia menchatku seperti biasa seolah dia tidak tahu apa-apa..."

Fang diam. Menghela napas dan menaikkan kembali wajahnya menatap Retakka.

"Menurutmu bagaimana?" tanyanya ragu.

Retakka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan terlipat di depan dada. Ia merenung.

"Dari sepengetahuanku, orang ini mungkin sedang ingin menghancurkan hubunganmu. Karena dia tahu orang yang dia taksir sudah memiliki kekasih, jadi dia mencoba membuat keretakan di antara hubungan kalian."

Fang diam mendengarkan itu. Dia diam sejenak berpikir, "Terus?"

"Kemungkinan besar dia melakukan ini karena dia cemburu. Dia akan melakukan segala cara untuk merebut apa yang dia inginkan. Ini tertanam pada orang yang ambisinya kuat dan memiliki keyakinan tinggi. Mereka bisa jadi orang yang merugikan, juga bisa menjadi orang yang menguntungkan. Tipe orang seperti ini ada banyak sebenarnya, cuma mereka terletak di bidang yang berbeda."

"Bidang yang berbeda?"

"Ya, contohnya dalam bisnis. Sebenarnya kita sedang dimanipulasi oleh sebuah produsen. Mereka memberi kita sampel dan rupa produk yang menarik. Setelah kita coba, kita akan tertarik dan memiliki perasaan, _ini enak, aku ingin kenalan dekatku juga mencobanya_ dan kenalan kita akan menarik orang lain lagi dan lagi sehingga bisnis produsen ini sukses."

"Kedengaran kejam."

"Haha, itulah dunia bisnis. Kalau kau tidak kejam, kau tidak akan sukses."

Alis Fang bertaut. "Ternyata bisnis itu lebih berat dari dugaanku, aku pikir hanya mengenai memproduksi barang dengan melihat selera masyarakat," gumamnya.

Retakka nyengir. "Kau jadi tertarik masuk jurusan bisnis?"

Fang dengan cepat menggeleng. "Yang lain sajalah.. "

Retakka terkekeh tapi air mukanya kembali lebih serius. "Tapi kalau kau mempunyai masalah dalam suatu hubungan sebaiknya kau bicarakan. Comunication is the key, kau mungkin berpikir itu sangat klise dan tidak benar-benar penting, tapi pada dasarnya memang begitu, terlepas ada tidaknya kebohongan."

Fang menunduk mendengar itu.

"Kau takut apa yang terjadi setelah mencoba bicara dengannya ya?" Tebak Retakka.

Fang semakin menunduk. Dia lalu mengangguk, "Dia orang yang hebat. Aku takut kalau mendadak dibuang atau hanya jadi mainannya saja."

"Ya, itu wajar dalam hubungan. Namun kau harus menerima kenyataan. Entah itu yang terbaik untuk keduanya atau bukan. Setidaknya dengan berbicara bisa menghapus penyesalan. Ya, tidak semudah itu sih menghapusnya. Karena dasarnya masih ada jiwa ingin memiliki." Jelas Retakka. Dia yakin Fang masih ragu. Dia jadi merobek sebuah kertas dan menulis nomor teleponnya. Tidak hanya itu, Retakka juga menulis beberapa judul buku dan penulis untuk Fang dan memberikannya.

"Apa ini?" Tanya Fang menerima sobekan kertas itu.

"Nomor teleponku, jika kau ingin konsultasi. Juga beberapa daftar buku motivasi beserta penulisnya. Aku rasa itu akan berguna untukmu mengingat kau suka membaca."

Fang memperhatikan kertas di tangannya sejenak. Kemudian ia mengangkat pandangan kembali menatap Retakka sembari tersenyum, "Terimakasih," ucapnya sembari melipat kertas itu dan menyimpannya di tas kecil yang ia bawa.

Ia akan membuka mulut lagi untuk mengatakan sesuatu saat ada tangan yang memegang bahunya. Terkejut dengan kontak yang tiba-tiba, Fang menoleh dan terperanjat.

"Boboiboy?!"

"Eh?" Fang terlihat kebingungan. Menatap Boboiboy dari atas sampai bawah, tidak percaya akan sosok yang ada di belakangnya ini, "Kenapa kau ada di sini?!"

Boboiboy hanya diam tidak menjawab pertanyaan Fang. Matanya beralih fokus pada Retakka yang juga kebingungan.

"Aku juga ingin tanya kau sedang apa disini," sahutnya melirik Fang.

Fang menatapnya kesal, menyingkirkan tangan Boboiboy yang masih menempel di bahunya. "Sedang jalan-jalan," jawabnya pendek.

"Oh, lalu, kau siapa?" Mata itu seakan ingin menusuk jiwa Retakka. Namun Retakka tidak gentar. Dia masih duduk santai tersenyum.

"Teman barunya Fang, Retakka." Jawabnya. Mereka tidak saling berjabat tangan. Hanya saling menatap lama seakan mau mengibarkan bendera perang.

Gopal yang duduk tak jauh dari sana merinding. Sudah sekian lama dia tidak melihat Boboiboy marah, begitu melihatnya lagi dan langsung itu menyeramkan. Apakah keputusannya salah ya mengirim foto ke chat grup dan menandai Boboiboy?

Maksud awalnya sih hanya menggoda Boboiboy. Gopal lupa, Boboiboy bisa posesif sekali.

Boboiboy menatap Retakka. "Oh," sahutnya mendengus. Fang memandangnya bingung, tidak biasa dengan sikap tak bersahabat Boboiboy.

"Tapi kau tidak terlihat seperti anak SMA," komentarnya, nada tajamnya tidak dilihatkan secara jelas. Namun Retakka tetap bisa merasakan keagresifannya.

"Kau juga," balas Retakka tenang

Fang menatap keduanya bergantian. Lehernya sampai sakit antara mendongak ke arah Boboiboy lalu berganti menatap lurus pada Retakka, 'Sebenarnya apa yang terjadi? Feelingku rasanya tidak enak.' batin Fang mulai kacau.

Fang menggeleng cepat, "Uhm, aku pamit dulu deh. Makasih atas ilmunya ya." Ujar Fang melambaikan tangannya pada Retakka.

"Ya, sama-sama." Retakka balas tersenyum pada Fang.

Fang lalu turun dari kursi dan menunjuk pada Boboiboy, "Kau jangan ikuti aku." Ancamnya lalu berjalan santai keluar kafe.

Boboiboy mengeram pelan, mengepalkan tangan erat. Ah, masa bodoh, batinnya dan mengikuti Fang.

"Tidak, aku ingin bicara denganmu," sahut Boboiboy berjalan di samping Fang.

"Dan aku tidak ingin," balas Fang menoleh sebentar pada Boboiboy untuk melempar tatapan tajam sebelum kembali membuang muka.

Retakka mulai paham siapa orang yang dimaksud Fang. Orang yang berbahaya, menurutnya, Fang memang hebat bisa menarik perhatian orang semenyeramkan ini.

Tapi Retakka tidak takut sih. Dia merapikan isi mejanya dan beranjak. Berjalan mendekati Fang dan menepuk pundaknya dan menunduk berbisik pada Fang sejenak, "Beranikan dirimu. Jangan kabur. Kalau terus seperti ini kalian nanti akan hancur sesuai keinginan orang yang ingin menghancurkan hubungan kalian. Kau akan kalah." Katanya.

Fang melirik, mata mereka bertemu dalam sepersekian detik.

Retakka lalu kembali menegakkan diri. Dia menepuk pundak Fang dua kali lalu pergi tanpa pamit. Dia sempat melirik sejenak pada Boboiboy. Antara mengejek dan merendahkan. Seakan mata itu berkata, 'Kalau kau lengah, dia mungkin sekarang ada di tanganku.'

Boboiboy dengan amat jelas mengerti. Bibirnya mengatup rapat menahan emosi, rasa panas saat wajah pemuda asing itu terlalu dekat dengan Fang dan menyentuhnya dengan begitu kasual.

Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan rasa kesalnya walau hanya sedikit. Boboiboy melirik pada Fang yang tampak berpikir, kemungkinan apapun yang dibisikkan Retakka padanya.

Sial. Boboiboy merasakan amarahnya naik kembali.

Fang pun menunduk. Dia menarik ujung baju Boboiboy, "Aku mau lihat hpmu."

Mendengar itu Boboiboy heran, "Kenapa?"

"Pokoknya aku mau lihat hpmu! Kasih!" Teriak Fang jelas menarik perhatian satu kafe.

"Baik, baik," Boboiboy dengan segera menyerah. Ia menarik lengan Fang untuk menjauh dari kafe, menulikan telinga dari protes Fang bahwa ia tidak mau diseret-seret begitu.

"Ini," Boboiboy merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Fang dengan segera merengut benda itu dari tangannya dan membuka ponsel, lalu mengklik aplikasi chat dan membuka chat mereka.

Fang menscroll tautan pesan itu ke atas. Ia mengerutkan dahi saat tiba di satu pesan.

'Gak ada...' batinnya tak percaya. Dia juga membuka aplikasi galeri. Dan bagaimana pun mencari, dia tidak menemukan foto Boboiboy yang sedang tidur dengan orang itu. Namun Fang menemukan foto Boboiboy berdiri bersandingan dengan orang itu.

Fang kembali membuka aplikasi chat. Dia menscroll daftar chat yang ada. Sampai dia menemukan sebuah chat dengan nama Bora Ra.

'Dia...'

Fang menyodorkan hp kepada Boboiboy. "Dia siapa?" Tanyanya dingin.

Boboiboy mengangkat alis bingung. Baru pertama ini ia mendengar nada benci dari Fang, pemuda itu judes tapi tidak pernah terlihat benar-benar benci sesuatu.

"Rekan bisnis baruku."

"Kau yakin hanya itu?" Desis Fang sinis.

"Iya. Memang kenapa dengan dia? Kau kenal?"

"Gak." Jawab Fang singkat, "Tapi kau kenal dengan dia."

Boboiboy makin bingung. Kenapa dengan Bora Ra? Mereka cuma rekan bisnis. Bahkan Boboiboy yakin aslinya Fang sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis. Buktinya dia tidak kenal dengan relasi bisnis keluarganya.

Kalau bukan itu lalu apa? Cemburu buta?

"Tentu saja harus kenal dengan partner bisnis," sahut Boboiboy, menyipitkan mata.

"Partner bisnis sekaligus partner di ranjang?" Ujar Fang dengan gigi bergemeletuk dengan wajah merah akan marah.

Kata-katanya membuat Boboiboy kaget, tapi keterkejutannya dengan cepat berubah menjadi kemarahan.

"Fang, kau melewati batas."

Boboiboy langsung mengurung Fang. Membuat Fang terpojok. Namun mata Fang masih menunjukkan tanda perlawanan, dia masih mendongak, tidak peduli akan mata buas yang siap mengamuk itu.

"Aku? Melewati batas? Bukannya itu kau? Seenaknya sendiri tidur dengan orang lain padahal sudah ada aku menunggumu di sini." Desis Fang tak kenal takut.

"Apa-apaan dengan tuduhanmu itu," geram Boboiboy, mensejajarkan matanya dengan mata Fang.

"Apa? Kau kesal karena kebusukan mu dibongkar?"

Mata Boboiboy nyalang. "Ya, aku memang busuk, tapi aku tidak pernah tidur dengan orang lain selama aku mengenalmu."

"Jadi sebelum mengenalku kau pernah tidur dengan yang lain?" Fang tersenyum remeh, "kau memang bajingan."

Rahang Fang langsung dicengkram, apalagi Boboiboy tidak memperkirakan kekuatannya sama sekali. Fang jelas langsung mencoba mendorong tangan itu.

'Sialan, makan apa orang ini kok kuat banget?!'

"Fang." Suara itu dalam. Mata mereka kembali bertemu. Saat itu Fang baru merasakan ketakutan yang luar biasa, rasa takut yang entah kenapa terasa familiar. Membuatnya menahan napasnya dan menguras tenaganya secara serentak. Fang merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ia bisa melihat keadaan sekitarnya, Boboiboy yang ada di depannya, tapi di saat yang bersamaan ia seolah melihat kegelapan. Ruangan tertutup dan pengap. Fang merasa tidak bisa bernapas, tidak tau apakah karena rasa panik yang menghantamnya atau ilusi ruangan pengap dan gelap itu.

Fang menahan air matanya mati-matian. Dia tidak mau menangis di depan siapa pun. Bahkan di depan orang tuanya sekali pun. Jadi Fang menggigit bibir bawahnya sangat kuat dan menatap nyalang pada Boboiboy sembari mengumpulkan keberanian.

Boboiboy sendiri menyeringai, "Jadi begitu. Kau mengira aku tidur dengan yang lain. Lalu berniat balas dendam dengan memakai baju seperti ini?"

Kata-kata Boboiboy sedikit lambat dicerna oleh pikiran Fang yang diselimuti panik. Tapi begitu ia benar-benar mendengarkan, dengan segera ia tersentak dari rasa paniknya. Ia mendongak pada Boboiboy dengan mata menyipit.

"Memang apa yang aneh dengan pakaian ku?!" serunya tersinggung. Ini pakaian yang biasa ia gunakan, sama sekali tidak ada sobekan atau gambar yang menggelikan. Tidak ada yang salah dengan bajunya.

Kedua tangan Fang ditarik ke atas dan dikunci dengan satu tangan Boboiboy. Sementara tangan lainnya menarik kerah baju Fang.

"Baju yang kau kenakan terlalu tipis. Bahkan hanya begini saja aku bisa melihat nipplemu." Bisik Boboiboy tepat di telinga Fang, "Bukankah ini sama saja mengundang orang lain, seperti kau meminta untuk disentuh."

"Tidak!" Bantah Fang. Mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Boboiboy. Namun yang ada Boboiboy mengeratkan genggamannya.

Boboiboy mendengus, mencemooh. "Lihatlah seberapa pendek bajumu ini? Kau pasti memikirkan sebanyak apa orang yang akan memperhatikanmu saat memilih baju ini."

Fang menggeleng kuat, "Aku tidak memikirkan itu..."

Tangan Boboiboy turun mengusap pantat Fang, "Dan di sini. Kau memamerkannya dengan baik. Bukankan ini sama saja kau ingin menjadi murahan?"

Fang menggigit bibir bawahnya. Menahan erangan.

Wajah Boboiboy turun ke ceruk leher Fang. Mencium sekilas kulit lehernya yang putih.

"Kau menyukainya? Kau suka orang-orang dengan seenaknya menyentuhmu?" Bisik Boboiboy tepat di telinga Fang.

Fang menggeleng kuat. Rengekan kecil lolos dari bibirnya.

Tawa kecil terdengar. Boboiboy kembali menatap mata delima yang sudah berkaca-kaca, "Fang, kau itu pelacur."

Mata itu membeliak. Tidak menyangka kata-kata itu akan keluar semudah itu dari mulut Boboiboy.

"Kaizo dan orang tuamu pasti kecewa kalau tahu kau tidur dengan pria lain. Bagaimana jadinya kalau aku memberitahu mereka? Atau bahkan pada teman-temanmu?"

"Ngaca, brengsek!" Desis Fang kesal.

Senyum Boboiboy luntur untuk sesaat. Ia meraih dagu Fang dan membuatnya mendongak menatap Boboiboy.

"Sejak kapan mulutmu kotor begini?"

"Semenjak kau tidur dengan Bora Ra itu!"

Alis Fang mengerut. Matanya menggelap, hanya ada kilat merah penuh amarah yang mengalir dalam diam di sana, "Kau tidak kenal Bora Ra, tapi terus menuduhku tidur dengannya. Fang, kau sehat?"

"Kau yang sakit! Pengkhianat! Bajingan! Brengsek!" Umpat Fang.

"Kau..." Geram Boboiboy. "Jaga kata-kata mu. Berhenti menuduhku yang tidak-tidak! Memangnya siapa yang langsung jalan dan semudahnya disentuh oleh orang yang baru ia temui? Apa kau juga bertukar nomor ponsel dengannya?"

"Dia memberiku nomornya." Fang menunduk, air matanya mendadak mengalir, "dia memberitahuku untuk bicara denganmu. Tapi aku takut kalau itu memang benar. Aku takut kau membuangku dan beralih ke Bora Ra itu. Aku tidak mau." Isak Fang dengan suara gemetar.

"Sialan kau, Boboiboy. Kenapa aku harus tergila-gila denganmu? Kenapa aku harus khawatir dan takut kau tidur dengan orang lain selain aku? Kenapa aku harus merasakan semua ini? Kenapa?"

Fang mengeluarkan isakan sekali lagi sebelum dibungkam sepenuhnya oleh Boboiboy. Ia meraup bibir Fang. Mengecup bibir tipis itu dengan penuh hasrat.

Fang mencoba menghentikan ciumannya, ia belum puas mengeluarkan uneg-unegnya tapi setiap kali bibirnya berhenti terhubung, Boboiboy akan mengejar.

Lidah itu menguasainya. Mengabsen setiap deret giginya yang atas juga yang bawah. Juga mengajak lidah milik Fang bertaut penuh nafsu. Hanya bisa mendengar erangan dari mulut mungil itu sementara air mata itu terus mengalir. Membuat Fang terpaksa mendongak menerima ciuman panas penuh emosi Boboiboy itu.

Dan ketika Boboiboy memutuskan untuk melepas ciuman itu, yang pertama dia lihat adalah manik delima yang tergenang air mata. Tangan Bobobliboy jadi tergerak menghapus air mata itu.

"Kau tidak adil," bisik Boboiboy, matanya menatap dalam pada iris Fang. "Kata-kata itu, bagaimana lagi aku akan marah kalau kau seperti ini?"

"Seharusnya aku yang marah," sahut Fang terengah-engah. Suaranya kecil tapi ia masih terdengar sengit.

Boboiboy hanya tersenyum kecut.

"Kenapa hari itu kau mengirim foto itu? Kenapa kau membiarkan dirimu dipeluk orang lain? Kenapa?"

Boboiboy langsung bingung, "Foto?"

Fang mengangguk. Ekspresinya seperti baru saja menelan pil pahit. Bayang-bayang foto itu masih menyakitkan.

Dengan gemetar ia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia mengutak-atik sebentar lalu menunjukkannya pada Boboiboy.

"Foto ini..." ucapnya dengan nada pahit.

Mata Boboiboy membulat sempurna. Tepat di layar menampilkan dirinya, tertidur lelap dengan dada telanjang dan seseorang berbaring di sampingnya, memeluk dirinya.

Boboiboy tidak tahu harus berkata apa. Foto itu sudah cukup membuatnya bungkam. Namun dia yakin Fang lebih syok dari dirinya, harus menerima foto itu dan mengira kalau dirinya selingkuh.

Tangan itu memeluk Fang erat. Membawanya pada rengkuhan hangat dan berbisik, "Aku bersumpah, aku tidak tidur dengan Bora Ra, Fang."

Fang mendongak, "Lalu kenapa kau sampai bisa satu ranjang dengannya."

"Saat itu aku mabuk. Sudah lama aku tidak minum jadi aku lampiaskan semuanya. Namun aku tidak sadar kalau Bora Ra akan melakukan ini. Maafkan aku, Fang. Aku teledor." Ucapnya lalu mengecup kening kekasihnya.

Pipi Fang bersemu, dia melirik ke arah lain, "Jadi kau benar tidak tidur dengannya?"

"Ya. Mungkin hanya satu ranjang. Tapi aku yakin kami tidak bersetubuh. Bajuku lengkap waktu aku bangun."

"Bisa saja dia memperkosamu saat tidur."

"Pinggulku tidak sakit kok, cuma kepalaku karena kebanyakan minum. Lagipula aku tidak akan membiarkanku ditiduri orang lain."

Fang diam, "Jadi ini salahmu. Gara-gara kau mabuk."

"Iya, maafkan aku."

Tangan Fang meremas baju Boboiboy erat. Pipinya memerah sempurna dan manik delima itu tidak mau menatap Boboiboy, "T-Tapi ka-kalau mau mabuk... D-di depanku... Tak apa... A-asal jangan di-di depan orang lain..."

Senyum Boboiboy mengembang pelan. Ia menunduk. Menampilkan seringai jahil.

"Kau berhentilah bersikap seperti itu, kau benar-benar ingin diserang ya?"

Pipi Fang memerah lebih hebat. "Bu-bukan bodoh! Aku, aku berkata begitu supaya kau tidak berakhir dimanfaatkan orang lain lagi!"

"Iya iya, aku akan lebih hati-hati lagi, sayangku tercinta."

"B-Berhenti memanggilku seperti itu, bodoh!" Fang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.

"Kalau gitu, honey?"

"Berhenti!"

"Darling?"

"Stop!"

"Baby?"

"Berhenti atau ku pukul mulutmu itu!"

"Pukulnya pakai bibir ya."

"Akhh! Berhenti menggombal, sialan!" Pekik Fang sudah hampir mati malu.

Boboiboy tertawa kecil dan mengusapkan pipinya pada pipi Fang, "Kau imut sekali Fang. Aku gemas. Rasanya benar-benar ingin aku bawa pulang."

"Menjauh dariku," gerutu Fang sembari mendorong muka Boboiboy.

"Kau mau kubawa pulang kan?"

"Kau pikir aku ini anak kucing yang dibuang, mau kau bawa pulang begitu saja?"

"Iya. kau sama imutnya dengan anak kucing sih."

"Aku manusia, bodoh. Jangan samakan aku dengan anak kucing." Seru Fang terus mendorong wajah Boboiboy.

"Kalau kau bilang nya aku lepas deh."

"Bener nih?"

"Pake gaya kucing."

"Banyak maunya om om mesum satu ini."

"Ayolah, Fang..."

"Ukh, baiklah." Fang diam sejenak. Kedua tangannya mengepal membentuk seperti kaki kucing dan diangkat sepipi. Sambil menatap Boboiboy dan sedikit memiringkan kepalanya Fang pun tersenyum, "Nya~~"

Boboiboy menutup wajah dengan kedua tangan.

'TERLALU IMUT!' jerit Boboiboy di dalam batin.

"Oi, kau kenapa malah diam?" Seru Fang menarik-narik ujung baju Boboiboy.

"Sebentar Fang, ini terlalu powerful," ujar Boboiboy dengan suara teredam telapak tangan.

Fang mengerutkan alisnya tak paham, "Apa maksudmu terlalu powerful?"

Boboiboy kali ini tidak menjawab. Hasrat ingin menculik Fang dan mengurungnya terlalu kuat. Dia bisa kalap.

Fang mendengus kesal, "Sudahlah, aku mau pergi."

Boboiboy langsung menurunkan tangannya, "Ke mana?"

"Jalan-jalan lah. Aku butuh refreshing, sebentar lagi ujian."

"Aku ikut," sahut Boboiboy.

Fang mendelik. "Ngapain? Sana pulang," balas Fang dengan gestur tangan mengusir.

Boboiboy pura-pura tidak melihat kelakuan Fang. "Aku juga butuh refreshing tahu, sumpek seminggu rapat bisnis."

"Salahmu. Bukan salahku," balas Fang berbalik pergi. Berniat pergi ke bioskop dan mencari tontonan yang mengenakkan.

"Fang, tunggu!" Seru Boboiboy mengejar.

"Ayolah, sekalian kita ngedate, kau mau nonton kan? Enakan nontonnya bareng orang lain daripada sendiri," bujuk Boboiboy.

Fang memberikannya pelototan. Orang ini bisa baca pikiran atau bagaimana?

"Baiklah, tapi aku yang pilih filmnya."

Boboiboy mengangguk.

"Kau yang bayar semuanya." Imbuh Fang.

Sekali lagi Boboiboy mengangguk. Dia berjalan di samping Fang. Tanpa malu merangkul pinggang ramping itu tanpa peduli dilihat banyak orang.

Biarkan saja, Boboiboy tidak peduli dengan pandangan bertanya-tanya orang lain dan ia menikmati tatapan iri dari beberapa orang yang beberapa kali ia dapati mencuri lirik pada Fang.

Lagipula Fang tidak protes. Dia sudah terbiasa dengan tangan Boboiboy yang seenaknya merangkul pundaknya atau melingkar pinggangnya.

Kemudian keduanya berjalan ke arah gedung bioskop.

.

.

A/N:

Hai hai, Valky dan Ai kembali membawakan update train

Sebenarnya ini sampai ke date mereka di bioskop tapi dipisah chapnya karena jadinya panjang banget. :"

Hehe, gimana pendapat kalian soal chapter ini? Puas?

Kalau aku pribadi, suka banget. Paling suka bagian BoiFang debat. Otp debat kek gitu entah kenapa hot. Dan juga Retakka, dia lumayan fun banget ditulis.

Tapi kita bikin retakka soft. Aslinya dia jahat kan.

Itulah kenapa ada tag ooc di warning.

Iya juga, ngomong-ngomong ini kapan Ai-san lanjut, keburu kekejar chapternya

Salah siapa coba yang malah nambah ide baru untuk buat fic lainnya.

*Unimpressed face

Maaf

Yah... Kita juga ga bisa milih mana yang musti lanjut duluan sih :"

Saya mana aja boleh, saya selalu menunggu ai-san

:" beban aing berat ya...

Anyway, bales review?

Boleh

From akaori

Hehe, menderita ehh...

Iya, itu kesukaannya valky-san... Aku mah author fluff ?

Halah kibul

Nggak bohong. Aku fluff... Tapi di fandom lain :))

Makanya kibul

Ada yang lain review-nya?

Nggak

Jadi itu aja? Tunggu chap selanjutnya ya.

Iya itu aja... Kita ketemu lagi di chap selanjutnya. Jangan lupa tungguin ya, follow/fav buat kalian yang di ffn, subscribe buat kalian yang di ao3, tambahin ke library atau reading listnya buat kalian yang di wattpad biar gak ketinggalan...

See you next time :)

Salam

Valky dan Ai19