Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta
Warning: Yaoi, Smut, Typo, OOC, Age-diference, Age-gap, Alternate Universe, all human, dll...
.
.
.
Begitu mereka tiba di bioskop, Fang dan Boboiboy langsung ke kounter pemesanan.
Wanita yang menjadi kasir mereke menutup mulut terpesona menatap ketampanan Boboiboy. Apalagi dengan senyum ramahnya yang juga sempat menarik perhatian kasir di sebelahnya yang juga sesama wanita. Hati mereka berbunga dan tersipu sejenak mengagumi mahluk tuhan yang indah ini.
Fang diam-diam merengut menyadari itu. Dia jadi segera menyebutkan film yang dia mau tonton dan menunjukkan kursi yang dimau.
"Kau yang bayar." Seru Fang ketus.
"Baik baik." Boboiboy mengeluarkan dompet juga uangnya.
Kasir itu tersenyum manis saat menerima uang Boboiboy dan menyerahkan tiket filmnya. Sengaja berlama-lama dan menyentuh sekilas tangan Boboiboy.
Fang tiba-tiba menjadi gerah, tak peduli bahwa AC di gedung itu berfungsi dengan baik.
"Aku ingin popcorn dan soda," ujar Fang, memeluk lengan Boboiboy, yang mengangkat alis akan sikap manjanya.
"Ayo belikan," sahut Fang menarik Boboiboy, masih memeluk lengannya erat.
"Eee, oke oke." Boboiboy terpaksa membiarkan diri ditarik Fang menuju ke tempat penjualan makanan dan minuman yang memang tidak jauh dari sana.
Fang sengaja memilih yang ukuran L, dia tidak berniat berbagi. Juga memilih minuman es teh tanpa selasih dan natta de coco. Sementara Boboiboy meminta ice coffee saja.
Dan lagi, Boboiboy yang membayar.
Boboiboy hanya menghela napas pasrah. Anggap saja kompensasi dari rasa frustasi yang ia alami untuk beberapa hari belakangan. Tapi Boboiboy tetap menjewel hidungnya gemas dengan kelakuan judesnya itu.
Mereka masuk ke gedung bioskop dan mencari tempat duduk mereka.
Begitu menemukannya mereka pun menempatinya. Fang memilih yang ada di tengah agak ke kebelakang. Dan dia cukup terkejut mendapati penontonnya hanya sedikit.
"Sepertinya film ini tidak populer." Seru Boboiboy duduk santai.
Fang langsung menoleh pada Boboiboy tak terima, "Terkenal kok, cuma gak di sini."
"Atau kau saja yang punya selera yang aneh," ledek Boboiboy. Ia mendapatkan lemparan popcorn ke dahinya sebagai balasan.
Fang mencueki Boboiboy kembali. Menunggu film dimulai sembari melihat-lihat ke sekeliling isi bioskop yang tak terlalu ramai.
Boboiboy menyeringai, tangannya dengan jahil masuk ke jumper milik Fang dan mengusap perutnya.
Fang yang panik berusaha mengeluarkan tangan besar milik Boboiboy sembari menatapnya malu dan panik, "B-Bodoh, apa yang kau lakukan. Keluarkan tanganmu, kalau ketahuan kita bisa malu." ucap Fang dengan suara dikecilkan sebisa mungkin.
"Tak apa, biar mereka sadar kalau kau milikku." Jawab Boboiboy santai.
'Om om mesum satu ini nyebelin!'
"Berhenti, dasar kau tidak tau malu!" bisik Fang. "Kita lagi di bioskop! Ada orang!"
"Kau tau kenapa orang suka pacaran di bioskop?" Bisik Boboiboy mengecup telinga Fang.
Fang menggeliat geli. "Buat nonton lah, buat apa lagi?"
"Bukan. Gelap-gelapan begini bukannya jadi kesempatan bagus untuk melakukan hal lain?"
'Buang-buang duit,' Fang masih sempat-sempatnya membatin dengan perhitungan.
Boboiboy dengan berani mencubit nipple Fang. Membuat yang pemilik tubuh berjenggit dan hampir mengeluarkan suaranya. Namun dia sudah menggigit bibirnya kuat.
"Fang, apa kau tidak kedinginan? Bajumu tipis."
Fang menggeleng, "Dan hentikan tindakanmu. Aku ingin menikmati film ini."
"Kenapa? Filmnya tidak semenarik itu untuk kau perhatikan, lebih menarik aku ," ujar Boboiboy menciumi rahang Fang.
Fang mendengus. "Dasar pede," ia menjauhkan Boboiboy dari wajahnya namun pria itu malah menargetkan lehernya kemudian.
Boboiboy tersenyum mencium aroma khas Fang, "Aku sangat merindukanmu, Fang. Kau tidak tahu betapa frustasinya aku mendadak kau jauhi."
"Berhenti menggombal dan biarkan aku menikmati filmnya. Lagipula di sini ada cctv. Kau mau viral apa?"
"Biarkan. Malah bagus, biar satu negeri tau kalau orang yang bisa menyentuhmu itu aku," balas Boboiboy. Tangannya turun mengusap perut rata Fang. Menyelinap ke pinggulnya dan dalam celananya.
Meremas pelan bokong Fang sehingga menyebabkan pemuda itu menutup mulutnya menahan erangan.
Satu jari Boboiboy mengusap anal Fang yang masih rapat. Boboiboy tersenyum, sadar selama mereka jauh Fang sama sekali tidak menyentuh dirinya, bahkan disentuh orang lain.
Anak ini memang polos.
"Boboiboy, hentikan. Kalau mau melakukan itu jangan di sini..." Pinta Fang berbisik.
"Tidak bisa, aku ingin menyentuh mu sekarang," jawab Boboiboy. Ia meraup bibir Fang dan menciumnya lembut, pelan, dan penuh rasa di setiap kecupannya. Fang hanyut, membalas dengan ritme yang sama sensualnya.
Ciuman itu dilepas sejenak. Boboiboy lalu berbisik, "Fang, duduklah di pangkuanku."
Fang menutup mulutnya dengan punggung tangannya, "Kenapa? Aku gak mau."
"Agar aku lebih mudah menyentuhmu."
"Kenapa aku harus menuruti permintaan seperti itu?" Gerutu Fang.
Boboiboy melingkarkan tangan di pinggang Fang kemudian mengangkatnya dengan mudah ke pangkuannya. Fang menjerit tertahan.
Boboiboy mendorong Fang mendekat. Sama-sama mendesah pelan saat kejantanan mereka bersentuhan.
Fang meletakkan tangan di pundak Boboiboy. Kakinya melingkar pinggang Boboiboy. Pria itu menariknya untuk berciuman lagi. Jarinya memainkan rambut yang ada di pangkal tengkuknya.
Fang memejamkan matanya erat. Desahannya yang tertahan itu menarik perhatian tersendiri untuk Boboiboy. Tangannya meremas kuat baju itu sekali lagi.
'Kenapa aku harus menuruti kemauan si mesum ini? Kenapa juga aku merasa panas?' batin Fang frustasi.
Apalagi dengan tangan Boboiboy satunya yang bebas menurunkan celana bagian belakang Fang, meremas pantat sintal itu dengan gemas.
Fang menyembunyikan wajahnya ke bahu Boboiboy. Ia mendesah lirih. Boboiboy mencium pipinya gemas.
Pria itu selanjutnya meraih kejantanan Fang, meremasnya lembut. Fang melempar kepala ke belakang, sensasi itu membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Tubuh mungil Fang gemetar. Air matanya menetes kenikmatan, mulutnya terbuka mencari asupan oksigen sebanyak-banyaknya.
Boboiboy jadi semakin gemas. Dia seperti sudah tidak sabar ingin menghantam prostat Fang secepatnya. Namun dia tahan.
Boboiboy mencium leher Fang kembali. Menjilatinya juga di sekitar nadinya. Sementara tangannya sibuk meremas antara kejantanan Fang dan pantatnya.
"Bo, Boboiboy," Fang memanggil Boboiboy.
"Hum?" Boboiboy hanya menggumam tanpa mengangkat wajah dari leher Fang.
Telapak tangan Fang menyentuh dada bidang Boboiboy. Merasakan otot-ototnya dari balik kain. Boboiboy merasakan sengatan nikmat saat Fang menyelinapkan tangan ke celah kancing bajunya. Kulitnya yang halus membelai abs Boboiboy.
"A-Aku ingin cepet merasakan milikmu..." Bisik Fang lirih dan malu.
Boboiboy diam mendengarkan itu.
"Aku rindu kau memelukku saat membuatku mendesah tak karuan. Aku rindu tangan besarmu yang menyentuh kulitku. Aku rindu pada milikmu yang membuatku gila. Aku mohon untuk cepat..."
"Kau ..." Boboiboy mengeram dalam. Mulutnya membungkam Fang dengan agresif sampai pemuda itu kewalahan mengikuti permainan lidahnya yang kasar.
"Kau benar-benar ingin aku gila Fang," desis Boboiboy. Ia menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang. Dengan tangannya yang lebar ia menangkup kejantanan Fang dan miliknya, menggesekkan secara bersamaan. Fang mengeluarkan rengekan yang nyaris mirip dengan suara kucing yang memelas.
"Aku tidak membawa lubrikan ataupun kondom lho," bisik Boboiboy dengan seringai jahil.
"Tidak peduli! Kau masukkan saja!" desis Fang tak sabar. Boboiboy tertawa.
"Kau memang yang terbaik Fang." Bisik Boboiboy senang.
Dengan cekatan Boboiboy melepas celana dan boxer milik Fang, dia taruh di kursi sebelah tempat Fang duduk seharusnya.
"Kau serius langsung? Ini bakal sakit." Tanya Boboiboy lagi dengan senyum jahil.
Fang mengangkat tubuhnya. Dia sendiri yang mengarahkan ujung penis milik Boboiboy pada bibir analnya, "Uhh, n-nanti juga bakal enak kan?"
Boboiboy tidak tahan untuk tidak menyengir senang, "Dasar anak ini..."
Tangan Boboiboy memegang kedua sisi pinggul Fang, mengarahkannya turun dengan benar-benar pelan. Tepian anal Fang menyambut miliknya, pelan dan kaku karena tidak dilemaskan sebelumnya.
Fang meringis. Rasa perih ketika ia terus dipaksa untuk membuka. Rasa perih dari gesekan antar kulit yang kering.
Fang jadi memeluk leher Boboiboy erat sambil menggigit bajunya kuat menahan suaranya. Air matanya menetes menahan sakit.
"Fang, tahan dirimu." Ucap Boboiboy.
"Sakit," cicit Fang.
Boboiboy mendengus. "Sudah kubilang kalau akan sakit, dasar keras kepala." Pria itu menghentikan pinggul Fang yang masih mencoba turun. Ditahannya dengan tangannya yang kekar.
"Rilekskan tubuhmu Fang. Tarik napas," bisik Boboiboy dan Fang mengikuti ucapannya. Ia lemaskan bahu dan kakinya, terutama bagian yang ada di bawah pusarnya itu. Ia tarik napas dalam-dalam dan lambat, tiga kali sampai ia merasa lebih baik.
"Sudah..." Lirih Fang.
Boboiboy mencium pipinya sebagai hadiah. Dia kembali mendorong pinggul Fang agar miliknya bisa masuk sepenuhnya.
Boboiboy sendiri juga merasakan efeknya. Lubang anal Fang terlalu sempit. Penisnya seperti sejak tadi dijepit dan dihisap terus. Efek terlalu lama tidak bertemu membuat Boboiboy seperti merasakan sensasi pertama kali bercinta dengan Fang dulu.
Boboiboy merindukannya. Rasa sempit yang menyelubungi miliknya, mengirimkan sensasi kenikmatan yang tak bisa dijelaskan, bercampur dengan kehangatan yang membuat darah Boboiboy mendidih.
Oleh gairah. Oleh nafsu. Oleh Fang.
Milik Boboiboy berhasil masuk sepenuhnya. Dia menghembuskan napasnya sejenak dan mencium rambut Fang, "Kau tak apa-apa, Fang?"
Fang mengangguk tanpa menoleh.
Boboiboy memeluknya erat seakan tidak akan pernah mau melepasnya. Dia tidak peduli dengan film yang masih berputar. Yang dia inginkan hanya Fang.
Boboiboy menangkup pipi Fang. Menciumnya lembut namun tidak mengurangi gairah yang ia salurkan. Fang menautkan jari jemari pada rambut coklat Boboiboy.
Tangan kanan Boboiboy menekan pada belakang pinggang Fang. Pemuda itu memaju mundurkan tubuhnya. Membuat milik Boboiboy menggesek dinding dalam analnya.
Ciuman itu terlepas. Fang segera menutup mulutnya agar desahannya tidak keluar dan terdengar yang lain. Dalam hati dia senang akhirnya kembali bersatu dengan Boboiboy. Namun di sisi lain dia merasa sangat malu kalau mereka ketahuan.
'Harus cepat selesai.' batin Fang.
Fang mempercepat gerakannya dengan bantuan Boboiboy. Sesekali memiringkan gerakan pinggulnya. Mencoba mencari dan mencapai prostatnya.
"Ahhhh..." Desahnya pelan ketika ujung kejantanan Boboiboy mengenai area di dekat g-spotnya.
Boboiboy tersenyum. Dia berbisik, "Fang, mereka bisa mendengarmu lho."
Fang membeliak tersadar, dia secepatnya menutup mulutnya dan memeluk Boboiboy erat.
"Sebegitu inginnya kau dilihat yang lain?"
Fang memberikan tatapan kesal pada Boboiboy. Tapi pipinya semakin memerah. Jantung Fang berdegup kencang. Kini diingatkan kembali bahwa siapa saja bisa melihat mereka. Siapa saja bisa memergoki tindakan gila mereka. Membuat darah Fang memanas, berdesir kencang akan adrenalin.
Rasa khawatir dipergoki dikesampingkan oleh excitement melakukan kegilaan sembunyi-sembunyi.
Prostatnya yang terus dihantam bertubit-tubit membuat isi kepala Fang kacau. Dia kembali tidak bisa berpikir jernih. Adrenalin yang memuncak membuat kesensitifannya meningkat.
'Tidak, aku tidak mau dianggap pelacur oleh orang-orang. Aku tidak sehina itu.' batin Fang panik.
Namun apa yang Boboiboy lakukan tidak bisa mengusir pikiran itu, apalagi tadi Boboiboy mengatakannya langsung. Fang mengerang tak nyaman, ini bukan dirinya. Dia bukan penikmat hal yang seperti ini, namun kenapa dia merasa senang? Rasa malu yang bercampur aduk menghancurkan harga dirinya dan biang keladinya adalah Boboiboy, kenapa membuat hatinya senang dan memberikan rasa nikmat yang lebih?
Ini aneh, Fang tidak paham.
"Aku senang Fang, hah... Kau semakin menyempit dan itu juga membuatku gila." Bisik Boboiboy, napasya sama beratnya, "Kau memang pantas menjadi pelacurku, Fang. Hanya milikku seorang."
Fang menelan rengekan. Kata-kata itu menyetrumkan sensasi merinding di sekujur punggungnya. Ia mempercepat gerakannya.
"Ah, erotis sekali... Goyangan pinggulmu itu, kau belajar jadi penari erotis di mana sayangku?" Sahut Boboiboy mengagumi bagaimana sensualnya Fang saat ini. Punggungnya melekuk anggun, pantatnya menjadi atraksi utama, ekspresi wajahnya begitu sendu, cantik sekali.
"Boboiboy, hentikan..." mohonnya.
"Kau yakin? Aku tahu kau diam-diam menyukai kata-kata kotor yang ku ucapkan... Kau anak nakal Fang,"
"Tidak, aku tidak seperti itu..." Cicit Fang tak mau menerima.
Boboiboy gemas. Ingin dia ubah posisi mereka jadi dirinya yang benar-benar dominan. Namun pemandangan seperti ini, juga kesempatan langka ini tidak bisa dia lewatkan.
"Nghh!" Fang memeluk semakin erat seraya pinggulnya bergerak naik turun semakin cepat dan dalam. Dinding analnya semakin menyempit dan kakinya gemetaran.
"Aku... Aku mau... Uhhh-" Fang tidak tahan, dia ingin klimaks.
"Keluar kan saja Fang... Keluarkan sambil mendesahkan namaku... Biar orang lain bisa melihat kalau kau begitu haus dengan penisku," bisik Boboiboy dan Fang menahan dorongan kuat untuk meneriakkan nama Boboiboy seperti yang pria itu inginkan.
Alih-alih ia menenggelamkan wajah pada pundak Boboiboy dan menggigit bahunya untuk membisukan desahan nikmatnya. Punggungnya melenting dan seluruh tubuhnya menegang pada saat cairan putih miliknya keluar bersamaan dengan rasa nikmat yang mendera kepalanya.
Fang lemas kemudian. Dia mengistirahatkan dirinya dengan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Boboiboy. Fang sembari mengatur napasnya memejamkan mata.
Namun belum semenit istirhat, posisi mereka berganti. Boboiboy menggendong Fang sejenak dan dia dudukkan di kursinya. Duduknya agak merusut karena milik Boboiboy masih menancap.
Fang mendongak pada Boboiboy yang masih mengurungnya. Ekspresinya memucat mendapati senyuman manis itu, "Sekarang giliranku."
"Tu-tunggu! A-aku-" apapun protes yang akan diutarakan oleh Fang langsung terputus saat Boboiboy menggerakkan pinggulnya dengan satu hantaman yang dalam.
Fang mengerang pelan, melempar kepalanya pada sandaran kursi saat prostatnya langsung dikenai. Boboiboy menggerakkan miliknya dengan cepat dan kasar. Fang harus menutup mulutnya dengan tangan erat-erat.
Ini akan gila. Boboiboy tidak akan mengampuninya sedikit pun. Setiap hentakan akan jadi semakin liar dan liar. Kalau sudah begini bicara pun percuma, Boboiboy hanya mendengar nafsunya sendiri tanpa peduli sekitar.
Deru napas Boboiboy yang berat menyapu tengkuknya, membuat Fang merinding. Kecupan basah diberikan di sepanjang pangkal lehernya.
Napas Fang tersengal-sengal, Boboiboy sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menarik napas. Bahkan untuk mendesah dan merengek sekalipun ia kesulitan. Sekujur tubuhnya dipaksa untuk fokus pada satu hal, titik prostatnya yang dihantam tanpa diberi jeda
Namun tidak lama Boboiboy akhirnya mencapai puncaknya. Menancapkan dalam miliknya sambil menyemburkan spermanya memenuhi perut Fang. Dia benamkan wajahnya pada ceruk leher Fang selama itu.
Boboiboy menegakkan dirinya begitu mencapai kepuasaannya. Dia tersenyum mendapati Fang juga klimaks bersamanya.
Mereka berdua menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan deru napas yang terengah-engah.
"Ups, berantakan banget," bisik Boboiboy terkekeh menatap perut Fang yang terkena spermanya sendiri serta pantat dan paha Fang yang dialiri sperma Boboiboy. Beberapa tercecer dan mengenangi sedikit bagian dari kursi bioskop.
Fang mendengus. "Dan ulah siapa coba?"
Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Sepertinya tidak ada orang yang menyadari kegiatan panas mereka. Fang menghela napas lega. Kemudian ia menggapai tas kecil miliknya dan mengeluarkan sebuah pak tisu. Ia lemparkan pada Boboiboy.
"Bersihkan. Aku tidak mau orang-orang sadar." Ucap Fang memerintah.
Boboiboy terkekeh kecil, "Iya sayangku."
.
...
.
Fang duduk kesal di salah satu kursi luar bioskop. Dia menghabiskan sisa popcorn dan ice teanya. Pinggulnya terasa sakit, sementara si bodoh yang menjadi biang keroknya pergi entah ke mana meninggalkannya di sini sendirian. Kayanya mau mengurus sesuatu sejenak dan itu hanya lima menit.
Tapi bagi Fang sekarang lima menit itu lama.
"Aku tidak akan pergi ke bioskop lagi dengannya." Geram Fang penuh dendam.
"Kalau ke hotel masih mau kan?" Suara Boboiboy tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
Fang tersedak ice teanya. Melempar Boboiboy pelototan tajam sekaligus bungkus popcorn yang sudah kosong ke wajah Boboiboy.
"Kau lama," judes Fang.
"Baru juga pergi lima menit, Fang. Kau ini cepat sekali kangen denganku," sahut Boboiboy menyeringai jahil.
"Mimpi sana, dasar om om mesum!"
"Eh, padahal aku sudah susah-susah nyariin hadiah buatmu," ujar Boboiboy menampilkan ekspresi sedih yang pura-pura. Di tangannya digendong boneka macam berwarna hitam dengan mata merah delima.
Fang mengedipkan mata beberapa kali. Baru tersadar kalau Boboiboy membawa sesuatu. Ia perhatikan boneka itu. Terlihat manis untuk ukuran macan.
"Maniskan? Pas lihatnya tadi aku langsung kepikiran kamu yang kayak macan, galak," sahut Boboiboy tersenyum lebar.
Sekarang giliran gelas ice tea yang dilempar Fang.
"Galak tapi gemesin juga."
"Kau ini beneran tukang gombal ya." Geram Fang.
Boboiboy terkekeh kecil, "Aku tidak tahan kalau ada di dekatmu."
Fang mengernyit tak suka. Walau dalam hati dia senang. Dia alihkan perhatiannya pada macan itu, dia tahap lama lalu meraihnya dari tangan Boboiboy.
'Aku lebih suka pebble pinguin sih.'
"Masih ada waktu," ucap Boboiboy memandang jam tangannya, "Mau melakukan apa?"
Fang berpikir sejenak. Karena bertemu Retakka dan Boboiboy acaranya untuk melihat toko-toko dan belanja jadi batal. Fang mempertimbangkan apakah ia masih ingin pergi melihat satu-dua toko tapi akhirnya memutuskan untuk tidak pergi belanja. Lagipula sebentar lagi sore juga, ia tidak bisa lama-lama melihat-lihat dan harus pulang.
"Tidak tau, tapi aku belum mau pulang, tunggu sebentar lagi."
Boboiboy mengangguk, "Kalau makan? Biar makan malamnya nanti tidak terlalu terlambat waktu kau pulang," saran Boboiboy.
Mendengar kata makan, Fang baru ingat dia lupa makan siang. Hanya membeli minuman bersama Retakka dan makan popcorn.
Jadi lebih baik dirinya pergi makan malam bersama Boboiboy lalu pulang.
"Oke, kita makan aja dulu."
.
...
.
Bora Ra menatap lama foto Fang yang memakai seragam sekolahnya itu. Sementara di sebelahnya ada data diri beserta riwayat hidupnya.
Ada satu hal yang menarik untuk perhatiannya semenjak membaca data itu. Bukan Fang yang tidak memiliki minat pada dunia bisnis, bukan juga fakta kalau dia dari keluarga yang memiliki bisnis besar di Malaysia ini.
Fakta kalau saat kecil dia pernah diculik, disandra, oleh kelompok mafia ternama di dunia gelap. Hanya itu yang tertulis dari data ini. Entah apa yang mereka minta sebagai ganti nyawa seorang anak TK agar tetap hidup, namun tulisan itu mengatakan kalau transaksi itu dimenangkan oleh pihak mafia. Membuat keluarga ini memiliki rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Data medis juga mengatakan kalau Fang mengalami amnesia. Karena itu keluarganya melindunginya, namun di saat bersamaan dibiarkan bebas dengan syarat yang tidak diketahui. Entah apa tujuannya sampai sekarang, sejauh informasi yang didapat kelompok ini tidak menghubungi keluarga Fang lagi.
Bora Ra tersenyum. Dia mungkin bisa memanfaatkan kelemahan ini. Namun juga harus mencari tahu lebih banyak tentang kesepakatan apa yang mereka buat. Dengan itu dia bisa mengancam pemuda ini dan mendapatkan Boboiboy.
Dia mengetukkan jari beberapa kali pada meja dengan tatapan merenung. Tak lama kemudian ia mengambil gagang telepon.
"Tolong ke ruangan ku segera."
Setelahnya ia segera menutup sambungan. mengembalikan gagang telepon ke tempat semula.
Kurang dari lima menit kemudian, sebuah ketukan di pintunya terdengar.
"Masuk."
Seseorang membuka pintu dan masuk. Ia berdiri di depan Bora Ra dan membungkuk kecil.
"Aku ingin kau menyelinap ke EnerBot corporation, selidiki apa yang terjadi antara mereka dengan kelompok Vergoba," perintah Bora Ra.
Orang itu mengangguk mengerti, "Baik."
"Ah, dan juga," Bora Ra menunjukkan foto Fang, "cari tahu, apakah anak ini masih diawasi kelompok Vargoba."
Bawahan Bora Ra mendekat untuk melihat lebih jelas foto yang ditunjuk. Dia lalu mengangguk mengerti.
"Kau boleh pergi kalau begitu."
Setelah berpamitan, Bora Ra membuka handphonenya. Dia membuka galeri dan memperbesar foto dirinya dan Boboiboy yang tertidur.
"Tidak lama lagi, kau akan jadi milikku, Boboiboy."
.
…
.
A/N:
Sebelum mulai... Aku ingin bilang... "Maafkan atas keterlambatan yang lelet buat ngeupdate chapter ini..."
Saya gak merasa bersalah karena kondisi saya memang gak memungkinkan.
Yah, kita sama-sama nggak bisa untuk sementara waktu. Tapi paling nggak akhirnya fic ini dah update :D
Ya semoga kalian puas. Tapi jangan kaget kalau mendadak lama banget updatenya.
Karena kita bukannya lanjut bikin ini malah bikin yang baru :')
Bener, vibe sama tapi beda.
Yah kita cuman mau melakukan apa yang kita mau :DD
Egois banget ya kita?
Paling gak kita sadar XD
Yosh mari balas review, yang ada.
Dari Akaori…
Pembaca setia kita.
Makasih udah selalu review… Beranten boifang di chapter kemarin emang intens banget. Tapi disana serunya. (PS: Maaf aku masih belum ada lanjut baca fic mu… soalnya itu masuk bagian konflik sih… dan aku nggak kuat baca drama :') jadi perlu nguatin hati yang lama baru berani lanjut baca… tapi bakalan segera au baca lagi kok –Ai19)
Eh? Chap kemarin berantem?
Saking lamanya dah lupa...
Kita keasikan bikin yang baru. KARENA KONFLIKNYA NYAMBUNG.
Emang dah sampai 60k dan ide barunya ngalir aja terus.
Konfliknya juga logis. Pokoknya buat kami seru.
Jadi... Train lanjut nya bakalan lelet :')
SANGAT.
Review selanjutnya ada?
Nggak.
Ya sudah sampai situ saja.
Oke. See you next chapter i guess…
Bye bye minna
Ai19 & Valky
