CHAPTER 2

Selama dua bulan, Jongin tidak pernah bertemu dengan Krystal. Mereka hanya berkomunikasi melalui telepon. Seperti yang Jongin janjikan, ia telah kooperatif menjalankan pengobatan. Dia bertekad untuk menurunkan berat badan, bahkan ia tidak menggunakan ponsel karena takut radiasi akan mempengaruhi proses penyembuhan lukanya. Alhasil, Jongin sudah kehilangan dua puluh kilogram.

Hari ini, mereka berjanji untuk bertemu di sebuah danau di taman, dimana Jongin tidak akan menemukan batu bata untuk melakukan aksi seperti dua bulan lalu.

Jongin datang lebih awal dan berdiri di tepi danau. Dia terlihat jauh lebih baik dibandingkan dengan penampilan cerobohnya yang lalu. Krystal terkejut setelah melihatnya. "Bagaimana kau kehilangan berat badanmu?"

"Kemarin kau bilang bahwa aku gemuk, jadi aku telah mencoba menurunkan berat badanku sejak saat itu. Meskipun belum mencapai standar yang kuinginkan, aku akan terus berusaha keras." Jongin menatap Krystal, namun perempuan itu menunjukkan wajahnya yang datar. "Kau bilang kali ini akan memikirkannya lagi."

"Aku sudah memikirkannya… Kita berakhir."

Meskipun Jongin sudah dua kali mendengar kata-kata itu, hati Jongin masih terasa sakit.

"Kenapa? Kau bilang aku gemuk, jadi aku langsung pergi untuk menurunkan berat badan. Apa lagi yang kau ingin aku lakukan?"

Dengan kasar, Krystal berkata, "Kim Jongin! Aku bilang, ini bukan sesuatu tentang beberapa pon kilogram daging. Kau tidak tahu bagaimana aku ingin melanjutkan hidupku. Aku tidak ingin menjadi istri dan ibu muda yang berbelanja di supermarket dengan kualitas rendahan dan membeli barang-barang yang murahan!"

"Aku bekerja di perusahaan milik negara, tapi mereka sudah memiliki banyak orang di perusahaan. Upahku memang tidak besar, tapi beberapa tahun kedepan upahku akan naik menjadi beberapa juta."

"Wow…juta? Sudahlah, kita berakhir sekarang." Mata Krystal berkedut, "Kau tidak akan melakukan trik bodohmu itu, kan? Lagipula, kau tidak akan menemukan batu bata di taman ini."

Tanpa diduga, Jongin tersenyum aneh. "Kali ini… bukan batu bata." Kemudian, ia berbalik dan berjalan ke belakang mereka. Ia menarik paksa ubin yang terlihat mencuat keluar dari tempatnya.

Kemudian, Jongin memecahkan ubin itu tepat di tempatnya mengambil ubin itu.

"Kim Jongin! Kau bukan manusia!" Teriak Krystal panik.

.

.

.

Baekhyun melihat dua orang yang familiar mendekati kliniknya. Kembali kesini begitu cepat? Batinnya. Kali ini Krystal lebih terlihat marah dari pada khawatir. Dia langsung mendorong Jongin dan berbalik meninggalkan klinik.

"Dude, apakah kau melakukannya lagi?" Tanya Baekhyun tidak percaya.

Jongin menjelaskan, "Dia ingin putus denganku."

Setelah membersihkan luka, Baekhyun memberikan obat peredam rasa nyeri. "Kali ini, apa itu?"

"Aku pelit dan miskin." Baekhyun tertawa. "Katakanlah, apakah aku pelit? Aku hanya bekerja selama dua tahun. Upahku sangat rendah tapi dia terlalu menuntut. Aku memberikan segalanya yang ia inginkan."

"Aku pikir, kau dan pacarmu memang harus putus." Jongin menatap Baekhyun bingung.

"Kenapa?"

"Untuk menyelamatkan dirimu dari seorang wanita seperti dia!"

Jongin dengan cepat langsung menggeleng brutal sampai lukanya mengeluarkan darah lagi. Jongin meringis."Dokter, kali ini berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sembuh?"

"Kali ini tidak terlalu parah. Mungkin butuh satu bulan untuk penyembuhan."

Jongin menghela napas panjang. "Aku terlahir dari keluarga sederhana. Aku memiliki dua orang kakak perempuan, mereka sudah menikah dan memiliki anak. Ibu dan Ayah sekarang adalah tanggung jawabku. Ayahku sakit dan diharuskan istirahat di rumah. Ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Aku adalah anak yang cukup hebat. Aku selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah dan mendapatkan beasiswa untuk masuk ke universitas ternama. Aku terus mencari uang untuk membantu ayah dan ibu, tapi beberapa hari kemarin aku dipecat dari perusahaan tempatku bekerja. Jadinya aku bekerja serabutan disana-sini."

Baekhyun ikut menghela napas. "Setelah dia meminta putus denganku, kurasa hidupku telah berakhir. Apa yang bisa aku lakukan?" Lanjut Jongin lirih.

"Cinta bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan. Jika hubungan ini tidak berhasil, orang lain akan datang dan bisa jadi orang itu akan menjadi satu denganmu." Ucap Baekhyun bijaksana.

"Aku tidak percaya akan hal itu." Jongin masih kekeuh.

Baekhyun memukul kepala Jongin kesal, "Kenapa kau begitu bodoh?"

"Aku pikir, manusia itu tidak rumit. Kadang-kadang dua orang putus, tapi mereka mungkin dapat kembali bersama-sama lagi…" ucap Jongin lirih.

Baekhyun kembali menghela napas lirih. "Kali ini, kau akan melakukan apa? Ingin memohonnya kembali ke pelukanmu?"

"Aku tidak tahu…" ucap Jongin melas.

"Mmm… bagaimana jika kau mencoba membuka usaha? Itu cukup untuk membangkitkan kepercayaan dirimu. Mungkin dengan itu, penghasilanmu juga akan bertambah dan pacarmu akan kembali." Tawar Baekhyun antusias.

"Tapi…apa yang akan aku usahakan?"

"Bagaimana jika bubur. Itu mudah untuk dibuat. Jika kau menjualnya di malam hari, aku yakin akan sangat laku." Ujar Baekhyun dengan antusias.

"Tapi…aku tidak memiliki modal yang cukup…" Ujar Jongin lirih.

"Tenang, dude…aku siap sedia membantumu!" Ucap Baekhyun tulus.

.

.

.

Setelah seminggu penuh Jongin bereksperimen dengan buburnya, ia memberanikan diri untuk menjualnya di pinggir jalan pasar malam dengan gerobak buatannya sendiri. Seminggu ini dan setelahnya, Jongin akan bekerja untuk Baekhyun di klinik dan tinggal disana. Malam ini, permulaan yang cukup baik untuk usahanya. Bubur yang dijualnya sudah setengah habis.

"Hei!" ujar seorang lelaki memanggil Jongin.

Jongin mendongak dan melihat ada dua orang yang berpakaian sedikit formal, terlihat seperti polisi jalanan. Yang satu sudah paruh baya, yang satu lagi masih muda, terlihat begitu tampan. Jongin memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kalian ingin membeli buburku? Ahh…tidak. Kalian cukup memakannya, tidak usah membayar." Ucap Jongin yakin.

Kedua lelaki itu tertawa meremehkan Jongin. Lelaki paruh baya yang memanggil Jongin tadi, menumpahkan minuman yang dibawanya pada bubur dagangan Jongin. Sontak hal itu membuat Jongin marah. Jongin menatap nyalang pada lelaki itu.

"Kau berani melihatku seperti itu? Apa yang kau lakukan disini?" Ucap lelaki paruh baya itu. "Kau melakukan perdagangan illegal! Apa kau membayar sewa untuk berdagang disini?" Jongin tidak tahan, ia mengambil panci buburnya dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. "Apa kau−" lelaki yang berbicara itu segera menunduk saat melihat Jongin mengambil ancang-ancang untuk melemparkan isi panci kearahnya.

Sialnya, bubur itu mengenai rekan kerjanya yang berdiri di belakang lelaki paruh baya yang memarahinya tadi. Sesaat, keadaan hening. Refleks, Jongin langsung berlari kedalam gang, meninggalkan gerobak dagangannya. Lelaki paruh baya tadi segera mengejar. Disusul dengan lelaki muda yang terkena tumpahan bubur tadi. Terlihat dari mukanya yang menahan marah.

Jongin terus mengerahkan tenaganya untuk berlari. Sialnya, ia tersandung batu bata yang bercecer di tanah. Lelaki paruh baya tadi sudah berhenti dihadapannya. Segera Jongin mengambil batu bata dan memecahkannya menggunakan kepalanya.

Hal itu membuat lelaki paruh baya terkejut, diam mematung. Kesempatan itu digunakan Jongin untuk kabur.

Lelaki yang lebih muda baru tiba setelah Jongin tidak terlihat. "Sial! Jika aku bertemu dengannya lagi, kupastikan dia menjerit dibawahku!" ujarnya marah.

"Dia bukan manusia…" Ucap lelaki paruh baya itu lirih.

.

.

.

Di waktu yang sama, terlihat dua orang lelaki sedang mengendarai mobil melintasi pasar malam.

"Eh…, bukankah itu Sehun?" ucap lelaki di sebelah kemudi sambil menunjuk ke seberang jalan yang memperlihatkan dua orang yang tengah adu mulut dengan seorang pedagang. "Hentikan mobilnya!" perintah lelaki itu pada bawahannya.

"Iya, itu benar Sehun!" ucapnya meyakinkan diri. "Wow! Berani sekali pedagang itu. Apakah ia tidak tahu siapa itu Sehun?" lanjut lelaki itu setelah melihat kejadian salah sasaran pelemparan bubur.

"Ikuti pedagang itu!" Perintahnya setelah melihat pedagang tadi berlari memasuki gang yang cukup besar untuk dilintasi mobil.

.

.

.

Jongin berlari tergesa-gesa memasuki klinik. Membuat Baekhyun terlonjak kaget dari kursinya.

"Ada dua orang polisi yang mengejarku! Jika mereka mencariku, tolong bilang aku tidak disini!" Ujar Jongin sambil memasuki klinik lebih dalam.

Baekhyun hanya menatapnya heran dan khawatir.

.

.

.

Sesampainya di klinik, Chanyeol begitu terpesona dengan dokter yang ada dihadapannya. Keinginannya yang semula ingin menggoda pedagang tadi malah teralihkan pada dokter muda dihadapannya sekarang.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum ramah, "Dokter…" Dia melihat Baekhyun dari ujung rambut sampai ke telapak kaki. Dia tidak sabar untuk menanggalkan pakaian dokter itu dan bercinta sepuasnya.

Baekhyun tampak acuh tak acuh pada Chanyeol. "Apa yang salah?" Chanyeol membungkuk hingga ujung hidungnya bertemu dengan ujung hidung Baekhyun.

"Guess…"

Baekhyun dengan hati-hati membuka bibirnya, "Silakan pergi ke rumah sakit ginekologi untuk penyakit ginekologi. Pergi keluar, belok kiri sekitar 30 meter dan ambil jalur kedua untuk pergi langsung kesana."

"Kau tampak benar-benar tampan…" Chanyeol berkata sembarang, tidak menghiraukan perkataan Baekhyun.

"Silakan pergi ke Seoul Hospital untuk oftalmologi (mata)." Lanjut Baekhyun.

"Kau suka pria, kan?"

"Penyakit mental silakan pergi ke Peter's Gangnam Hospital untuk pengobatan."

Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun dan meletakkan telapak tangannya pada dada Chanyeol. Terasa jantung Chanyeol yang berdetak semakin cepat. "Bagaimana jika itu penyakit jantung?"

Baekhyun berkata dingin, "Silakan hubungin 911."

Chanyeol tersenyum dan menunduk. Memperhatikan papan nama di meja kerja Baekhyun. "Byun…Baek…Hyun… Aku akan mengingatnya…"

.

.

.

Sehun tiba di rumahnya. Bubur yang ada di pakaiannya telah mengeras, menempel seperti lem. Hal itu membuat Sehun merasa mual. Dia melepas pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia berencana untuk membilas rambutnya dari bubur yang telah mengeras.

Berbagai cara telah ia lakukan. Namun, bubur itu masih menempel di rambutnya. Shit! Bubur itu menggunakan banyak pengental makanan! Makinya dalam hati.

Sehun menyerah. Ia memutuskan untuk pergi ke salon dan memperbaiki rambutnya.

.

.

.

Jongin berjalan dengan santai menuju klinik Baekhyun. Tiba-tiba sebuah mobil BMW berhenti di sampingnya. Kaca mobil terbuka dan muncullah Krystal yang tersenyum mengejek kearahnya.

"Hai, Jongin…Mau kemana? Kenapa jalan kaki?" ujar Krystal. "Apa kau butuh tumpangan?" tawar Krystal dengan senyum mengejek.

"Jika kau mau memamerkan pacar baru dan kekayaan barumu, enyahlah dari hadapanku! Aku tidak butuh tumpangan!" Ucap Jongin emosi.

"Huh, bahkan saat kau miskin saja kau tetap sombong! Let's go, honey…" Akhirnya mobil melaju dari hadapan Jongin dengan kecepatan tinggi.

Sungguh, hal ini membuatnya jengah. Jongin mengayunkan tangannya ke batang pohon disampingnya. Menonjoknya cukup keras hingga membuat tangannya penuh luka sayatan dan lebam.

.

.

.

Jongin duduk bersila di tempat tidur tunggal di klinik, tempatnya tidur. Dia mengambil napas dalam-dalam dan perlahan menghembuskannya sambil bergumam.

Baekhyun memukul kepala Jongin pelan, "Apa yang kau lakukan?"

"Jangan ganggu." Jongin menepis tangan Baekhyun di kepalanya. "Aku bermeditasi. Aku ingin meningkatkan keseimbangan emosiku."

Baekhyun meraih tangan Jongin, melihat memar di tangannya. Baekhyun tahu Jongin tidak mau diganggu, tapi luka ini harus diobati. Dengan perlahan, Baekhyun mengobati tanpa banyak bicara.

"Aku tidak ingin berjualan lagi…" ucap Jongin tiba-tiba.

Baekhyun menatapnya. "Merasa bahwa kau tidak memiliki martabat? Tidak ada status sosial? Hal ini kalah dengan pekerjaan kau yang sebelumnya?"

"Tidak." Jongin mendesah. "Jika begini terus, aku akan merugi. Kemarin aku telah kehilangan gerobak beserta peralatan yang lain."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Ucap Baekhyun penasaran.

"Pertunjukan jalanan." Baekhyun menatap Jongin tidak percaya. "Aku telah memikirkannya. Hal ini tidak membutuhkan modal yang besar. Pertunjukkan jalanan hanya mengandalkan keterampilan. Hal ini tergantung pada upaya mendapatkan uang."

Baekhyun menyeringai, "Apa yang ingin kau 'jual'?"

"Kepala besiku, tentu saja."

.

.

.

Daerah Myeondong menjadi pilihan Jongin untuk memulai atraksi. Tape recorder kuno memutar dengan volume maksimum, menghasilkan suara keras. Dengan topeng Lee Min Ho yang ia beli di jalan, ia memulai atraksi dengan kerubungan orang banyak. Ia mulai memecahkan batu bata pertama dengan kepalanya. Orang-orang antusias dengan atraksinya, uang kembali mengisi topi kecil yang terletak di depan Jongin.

Namun sial baginya, Jongin tertangkap oleh dua polisi ditengah atraksi ilegalnya. Ia dibawa oleh kedua polisi itu.

Sesampainya di kantor polisi. Topeng Lee Min Ho itu dilepas paksa oleh salah satu polisi. Polisi itu terkejut.

"Lagi-lagi kau!" Pekik Sehun marah.

Sehun kemudian mengambil formulir. "Nama?"

"Apakah penting?" Sehun memicingkan matanya dan menatap nyalang ke arah Jongin. Anak ini benar-benar berani. Batinnya.

"Seks (gender)?" Tanya Sehun samar-samar.

"Apakah penting?" Sehun tertawa, kali ini benar-benar tertawa.

"Seks tidak penting?" Tiba-tiba, Sehun berdiri, mengambil gunting di sebelahnya. Ia bermain dan mengayunkan gunting itu dengan jemarinya. "Karena kau tidak peduli, bagaimana jika kubantu untuk memotongnya?" Sehun melirik selangkangan Jongin. Segera, Jongin menutup selangkangannya dengan kedua tangan. "Jadi, jika kutanya tentang identitasmu, kau bisa menjawabnya dengan lebih diplomatis!"

Jongin dengan cekatan mengeluarkan ID dan menyerahkannya pada Sehun. "Kim Jongin?"

Jongin duduk diam di kursi dan tetap acuh pada Sehun. Jongin menjadi lebih arogan dihadapan Sehun. Sehun pikir Jongin adalah orang yang sangat menarik, jadi ia membuka berkas Jongin dan menemukan bahwa Jongin lulus di universitas bergengsi. Kemudian ia mendongak dan menatap Jongin. Memang, Jongin memiliki aura (I) 'either burst in silence, or die in silence'.

"Kenapa kau melemparkan bubur kepadaku?" Tanya Sehun.

Jongin terkejut, "Itu…kau?" Polisi ini terlihat berbeda dari ingatannya.

Ekspresi Sehun berubah-ubah. Dia menyadari bahwa Jongin memiliki hati yang dingin dan ia terus mengingatkannya pada dirinya sendiri. Sehun harus menasihati Jongin dengan cara ekstrim, sampai tingkat tidak takut mati.

"Tidak ada alasan… just want to splash you."

Sehun berdiri dan berjalan lebih dekat ke arah Jongin, tangannya masih memainkan gunting. Jongin mengepalkan tinjunya, matanya menatap Sehun. Sehun meraih rambut Jongin, membuatnya mendongak ke arahnya. Membuat emosi Jongin meledak. "Apa yang kau lakukan?"

Sehun terus mengangkat gunting hingga di atas kepala Jongin dan memotong rambut Jongin.

"Eh?" Jongin terkejut, "Apa yang kau lakukan? Kenapa memotong rambutku?"

Memotong? Kau berlebihan, bodoh! Aku hanya membantu merapihkan rambutmu! Ucap Sehun dalam hati.

.

.

.

"Pulanglah." Ucap Sehun.

Jongin menatap Sehun bingung, "Kau benar-benar menginginkan aku pergi?"

"Lenyaplah dari hadapanku dalam semenit."

Jongin bergegas keluar kantor polisi itu. Sesaat setelah Jongin pergi, lelaki paruh baya menghampiri Sehun.

"Kau membiarkannya pergi begitu saja?"

Sehun bertanya balik, "So?"

Lelaki paruh baya itu tertawa canggung, "Aku dengar bahwa kau memiliki cara unik untuk membuat kapok seseorang, aku tidak sabar melihatnya."

Sehun mengeluarkan rokok, memetikkan api dan mulai menghisapnya, ia bahkan tidak memedulikan lelaki paruh baya itu.

"I usually don't mess with honest people."

"He is honest?" lelaki paruh baya itu kesal, "he dared to throw porridge at you."

Sehun malas meladeni lelaki paruh baya itu. Ia berdiri kemudian melangkahkan kaki keluar kantornya.

.

.

.

TBC

Shtpnk memo:

(I) 'either burst in silence, or die in silence' ini adalah idiom – artinya adalah orang ini memiliki kepribadian yang luar bisa (dia akan patuh akan apapun yang kau perintahkan) tapi jika dia marah atau kecewa dia akan menjadi sangat kuat.