CHAPTER 3

Baekhyun baru saja membersihkan kliniknya. Di lantai yang bersih, sepasang jejak sepatu terlihat begitu mencolok. Baekhyun segera menegakkan tubuhnya dan menatap dingin seseorang di depannya. Chanyeol memperlihatkan senyum mautnya yang mampu membuat Baekhyun jijik.

Hari ini, Chanyeol khusus datang ke klinik untuk melecehkan Baekhyun. Setelah seminggu yang lalu dia berbincang-bincang kecil dengan Baekhyun, dia hampir setiap waktu mampir ke klinik. Jika ada orang yang sakit di pinggir jalan, ia akan sukarela mengantarkannya ke klinik Baekhyun demi melihat dokter itu.

Cacian maki dan sikap Baekhyun yang terus menolaknya tidak pernah membuat Chanyeol bosan. Malah, Chanyeol merasa terangsang dengan sikap Baekhyun.

"Dokter Baekhyun, aku memiliki penyakit yang sangat serius." Baekhyun tidak menanggapi Chanyeol. Dia mengambil pel dan menggosoknya kasar di lantai bekas injakan Chanyeol.

Keadaan Baekhyun yang membungkuk, tidak sengaja memperlihatkan bokongnya yang berisi. Hal itu membuat mata Chanyeol terbeliak. Ingin sekali ia menggendong Baekhyun masuk ke mobilnya dan melakukan seks sepuasnya. Bokong itu bergoyang mengikuti arah Baekhyun mengepel, seakan-akan menggoda Chanyeol.

Chanyeol tidak tahan, segera ia memeluk pinggang Baekhyun, membiarkan tubuhnya menempel pada punggung Baekhyun. "Baekhyun-ssi, apa yang kau gunakan untuk mencuci bajumu? Kenapa begitu harum?" Chanyeol dengan berani menghirup harum Baekhyun tepat pada perpotongan leher lelaki mungil itu.

Baekhyun mulai kesal. Dia segera berbalik dan melayangkan tinju ke arah Chanyeol tepat di sudut bibir Chanyeol. Chanyeol tidak menghindar dan membiarkan Baekhyun memukul sepuasnya. Kemudian, ia menjulurkan lidahnya, menjilat seksual luka di sudut bibirnya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan bergairah.

Baekhyun hendak melayangkan tinjunya lagi, dengan tegas Chanyeol menghalaunya. "Jika kau memeriksaku, aku tidak akan mengganggumu lagi."

Baekhyun menurunkan tangannya dan beralih ke meja kerjanya. "Bagian mana yang tidak nyaman?" Ucap Baekhyun santai.

Chanyeol menunjukkan wajah seriusnya, "Kemarin, aku melepaskan celanaku dan menemukan bola kembarku (testis), yang satu besar dan satunya kecil. Perbedaan itu sangat signifikan. Katakan, apakah aku mengalami sakit yang parah, atau terjadi kesalahan pada mataku? Baekhyun-ssi, aku akan melepaskan celanaku, maukah kau melihatnya? Lihat apakah bolaku sama besar…" Chanyeol menatap langsung pada Baekhyun.

Baekhyun tidak marah, dengan tenang ia mengambil dua pil. "Keduanya tidak sama besar?" Chanyeol menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan mata Anda." Baekhyun segera mendiagnosis.

"Ada sesuatu yang salah dengan organku." Chanyeol pura-pura khawatir, "Kenapa kau tidak membantuku untuk mengobatinya, Baekhyun-ssi? Aku butuh tangan terampilmu…" Ia menuntun tangan Baekhyun ke arah selangkangannya, "…untuk membantuku memanjakannya."

"Tidak perlu melakukan itu." Baekhyun menarik kembali tangannya.

Tiba-tiba pintu klinik terbuka, menampilkan Jongin dengan wajah merengut kesal. Ia melihat Jongin yang rambutnya sedikit berbeda.

"Kenapa kau mencukur rambutmu?" Jongin tidak menjawab dan terus melengos ke arah kamarnya.

Baekhyun hendak menyusul karena penasaran, namun dengan cepat ditahan oleh Chanyeol. "Hei, urusi dulu selangkanganku…" ucap Chanyeol memelas.

Baekhyun menghela napas malas, "Urusilah dirimu sendiri. Cari saja lelaki lain untuk memanjakan penismu." Baekhyun kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Jongin dan meninggalkan Chanyeol.

.

.

.

Malam ini, Sehun memutuskan untuk pergi ke club. Menghilangkan segala kepenatannya. Ia kesal dengan ayahnya yang memindahkannya ke divisi kepolisian di salah satu daerah terpencil. Ayahnya mengira bahwa kejadian ia terguyur bubur adalah karena ia membuat onar. Ayahnya tidak tahu apa-apa dan tidak mau di bantah.

Ayahnya juga mengancam akan menelantarkan ular-ular peliharaannya jika ia berani membantah. Sehun adalah orang yang sangat menggemari ular dan melakukan seks bebas dengan wanita cantik juga pria manis. Setelah tahun lalu ia ketahuan sedang melakukan seks dengan seorang lelaki, ayahnya marah besar dan mengancam Sehun habis-habisan.

Jadilah sekarang Sehun harus bekerja di kepolisian, melanjutkan jejak ayahnya yang sudah menjadi petinggi negara.

Sehun menghenyakkan tubuhnya di sebuah sofa favoritenya. Dia memejamkan matanya, menikmati alunan musik di club itu. Merasa ada seseorang yang menduduki sofa tepat di sebelahnya, Sehun membuka mata dan menatap datar seorang perempuan dengan pakaian super minim bewarna merah dengan belahan dada yang sangat rendah.

"Apa yang dilakukan seorang Oh Sehun, playboy nomor satu di Seoul, sendirian di club ini?" Tanya perempuan itu. Sehun hanya menatap datar perempuan itu, tidak berniat menanggapinya. "Namaku Krystal…Katakan, apakah aku cukup cantik untuk menemanimu?"

Sehun tersenyum sinis, "Cukup manis untuk memuaskan penisku malam ini."

Segera, Sehun memeluk Krystal dan membawanya ke luar club untuk melakukan seks. Krystal dapat ia manfaatkan menjadi pacar bohongannya untuk mendapatkan ular-ular kesayangannya kembali.

.

.

.

Di klinik, Jongin menyadari bahwa ada seorang lelaki yang hampir setiap hari datang ke klinik. Lelaki itu sangat tinggi, memiliki telinga yang aneh dan selalu tersenyum mesum, Park Chanyeol. Dia tidak pernah buru-buru untuk mendapatkan perawatan, selalu memilih yang paling akhir, dan selalu mendahulukan pasien lainnya. Duduk di pojokan dengan rokok yang menyala dan selalu mengintai Baekhyun dengan matanya setiap bekerja.

Saat Jongin mencuci tangannya di kamar mandi, dia mendengar Baekhyun berbicara kepada Chanyeol.

"Jika aku menanggapi godaanmu, maka usahamu akan sia-sia. No fun!"

Setelah Chanyeol keluar dari klinik, Jongin menghampiri Baekhyun. "Sebenarnya dia sakit apa? Selalu datang ke klinik…"

"Gangguan otak!"

Jongin diam seketika, lalu ia bertanya, "Baek-hyung, berapa umurmu?"

"29."

"You don't have a girlfriend?"

"Never have one." Jawab Baekhyun santai.

"Tidak mungkin!" Jongin terkejut, "Dengan kondisimu yang seperti ini, kau belum pernah mendapatkan perempuan? Lalu, darimana datangnya nasihat-nasihat percintaanmu itu? Self taught?"

Baekhyun menatap Jongin tenang. "Aku menyukai pria."

Jongin diam kaku, seperti tersambar petir. Ia melihat ke arah Baekhyun dengan tatapan tidak percaya. Jongin syok.

Baekhyun tersenyum lembut pada Jongin. "So? Menyesal berada di dekatku?"

Dengan cepat Jongin menggelengkan kepalanya, "Tidak! Ini begitu membingungkan."

"Apa yang tidak kau mengerti?" Baekhyun bertanya.

Jongin meletakkan dagunya di atas meja kerja Baekhyun. Baekhyun menyadari bahwa Jongin telah berubah. Dulu, muka Jongin penuh dengan lemak dan jerawat, wajahnya begitu kusam. Sekarang, Jongin terlihat lebih bersih, wajahnya saat ini bisa dikatakan tampan. Postur tubuhnya juga menjadi hot, apalagi di tambah dengan kulit tannya yang eksotis.

"Apa yang menarik dari laki-laki? Kau memiliki anggota tubuh yang sama dengannya. Dada yang bidang dan tegap, suara yang berat. Perempuan jauh lebih baik, punya payudara dan bokong, dan terasa pas dimanapun kau menyentuhnya. Selain itu, bagaimana kau menuntaskan kebutuhan fisikmu? Dengan laki-laki kau tidak bisa…you know."

Baekhyun bertanya, "Kenapa tidak bisa?"

"Lelaki tidak mempunyai lubang untuk dimasuki seperti vagina! Dimana kau menusuknya?"

Baekhyun menggunakan tangannya untuk menunjukkan pada Jongin, mengepalkan tinju, membuka sedikit celah di pusat tinju, tersirat bahwa itu adalah bokong. Jari telunjuk kanannya menembus celah itu.

Jongin terkejut, "Setelah bercinta, bokong tidak akan mengalami 'kebocoran'?"

Baekhyun tertawa dan memukul meja brutal, "Ahh, everytime you push out your feces, the anus does not close?" Baekhyun mencoba mengendalikan dirinya. "The main point is the shit did not go in and out, tossing it back and forth, right?"

Baekhyun hampir tersedak, "Wait! Stop it! Let's change the topic."

.

.

.

Hari ini Sehun mendapatkan libur, dia menghabiskan waktunya di club malam. Tanpa di duga, ia menabrak seorang laki-laki saat hendak memasuki club. Ternyata dia adalah Kris, teman baiknya saat berada di sekolah dulu. Hubungan mereka mulai renggang setelah kelulusan karena Kris yang harus pindah ke Canada.

Sehun memutuskan untuk melakukan reuni kecil-kecilan dengan Kris.

"Bagaimana ayahmu dapat menempatkanmu di kepolisian?" Tanya Kris penasaran.

Sehun menjawab acuh, "Look like I'm an eyesore."

"Oh…Right! Dimana Chanyeol sekarang? Kudengar, hubunganmu dengannya masih tetap kuat sampai sekarang."

Berbicara tentang Chanyeol, mata Sehun berubah menjadi gelap. Suasana di sekitar Sehun berubah menjadi gelap, Kris tidak menyadari perubahan sikap Sehun dan terus bertanya tentang Chanyeol.

"Aku ingat saat sekolah, kau dan Chanyeol selalu menempel, kalian berdua sudah seperti anak kembar, bergantian pacar satu sama lain, terlepas dari apa yang menjadi milikmu dan miliknya. Kemudian, Luhan datang ke sekolah kita, dia jadi sering bergabung dengan kalian. Luhan sangat tenang dan suka bermain dengan ular. Dia sering menyembunyikan ular di lengan seragamnya. Oh ya, kemana Luhan pergi? Sejak kelulusan, aku belum melihatnya lagi…" ujar Kris panjang lebar.

Mata Sehun sudah berubah menjadi hitam gelap, ia benar-benar ingin menjahit mulut Kris saat ini.

"Bagaimana jika kau menjadi polisi lalu lintas?" Tanya Sehun sambil menggeram.

Kris tercekat. "Tentang itu…"

"Aku akan melatihmu akhir tahun ini." Sehun bangkit berdiri, kemudian mencengkeram sisi leher Kris dengan keras, dan dia melangkah keluar dari club.

Kris pikir, lehernya sudah remuk tak terbentuk. Rasanya begitu sakit. Butuh beberapa saat untuk menegakkan kepalanya lagi.

Saat Sehun sudah keluar dari club, ia mengambil rokok dan menyulutkan api. Ia mulai menghirup rokoknya dan melangkah menuju mobil mewahnya.

Ia menangkap sosok Krystal dengan pakaian yang begitu minim dan transparan berdiri di sisi mobilnya. Terlihat perempuan itu sedang menunggunya.

Krystal telah merindukan Sehun setengah bulan ini, selalu memikirkan lelaki itu saat tiduran dan menatap sendu pintu rumahnya, saat ingin makan, saat ingin tidur, dia terus menginginkan Sehun…Krystal pikir ia sudah tidak normal, ia tidak pernah terikat dengan lelaki seperti ini. Sehun sudah menjadi obsesi baru baginya. Ia mwnginginkan Sehun malam ini.

Sehun berhenti sejenak dan memperhatikan Krystal.

Sudah bertahun-tahun ia hidup, ia dengan mudah dapat mengenali orang, siapa yang ingin menggodanya, siapa yang ingin bercinta dengannya. Sehun dapat menebaknya dengan sekali lirikan.

"Bagaimana keadaanmu?" Sehun bertanya.

Krystal hampir berteriak girang, namun segera ia kendalikan.

"Kau masih mengingatku?"

Sehun menatap Krystal dalam. Krystal memindahkan tangannya dari kalung berliannya menuju tali bra, turun mengikuti alur tali itu.

"Apa kau tidak kedinginan memakai pakaian yang transparan?" tanya Sehun.

Krystal mengalungkan tangannya ke leher Sehun, kemudian berbisik tepat di telinga Sehun, "Tentu saja aku kedinginan, karena aku berdiri di luar."

Sehun terus terang mengatakan pada Krystal, "Di dalam mobil ada ularku."

Krystal terkejut. Tidak mungkin usahanya untuk menemui Sehun selama akhir-akhir ini akan lenyap begitu saja. setelah berpikir keras, ia kemudian menarik tangan Sehun dan berkata, "Aku juga menyukai ular."

Sehun membuka pintu belakang mobilnya dan mendorong Krystal memasuki mobilnya.

Krystal mengira bahwa ular Sehun berada didalam kotak kaca, ia tidak menyangka bahwa ular itu akan menggeliat tepat di sebelahnya. Ular itu perlahan mendekat kearah Krystal dan mulai naik kepangkuannya. Krystal merinding saat merasakan sisik ular itu menyentuh kulit di pahanya yang terbuka.

Sehun sangat tenang berada di kursi kemudi, dan bersiap untuk menuju apartemennya.

Krystal memberanikan diri membelai ular itu, dengan senyum canggungnya berkata, "Really cute, I love it!"

.

.

.

Sekitar pukul delapan pagi, Jongin sudah mengendarai mobil sewaannya untuk mengambil obat yang di perlukan Baekhyun di kliniknya dari Seoul Hospital. Sial baginya, di depan terlihat beberapa polisi berjaga menertibkan lalu lintas.

Jongin berhenti saat mobil-mobil di depannya juga berhenti menunggu lampu merah. Beberapa polisi di depan membuat Jongin gugup karena ia belum mendapatkan ijin mengendarai. Karena terlalu asik dengan pikirannya sendiri, Jongin terkejut saat mendengar klakson yang brutal dari belakangnya. Menandakan lampu sudah berubah menjadi hijau.

Buru-buru ia menancap gas. Sesampainya di depan, ia di hadang oleh seorang polisi yang familiar.

Fuck! No way! Kenapa mereka terlihat sangat mirip? ujarnya dalam hati.

Jongin menghentikan mobilnya, "Kesalahan apa yang aku perbuat?" Jongin protes.

Polisi lain menunjuk ke belakang Jongin dan berkata, "Kau menerobos lampu merah."

"Tidak mungkin! Aku dan mobil di depanku berjalan bersama-sama!"

Seketika terdengar teriakan, "Dia menerobos lampu merah!"

Dia melihat lurus ke depan dan menatap seorang lelaki dengan mobil yang di hadang beberapa polisi lalu lintas. Ternyata lelaki itu yang ada di depannya tadi.

Sial! Kenapa aku tidak melihatnya? Maki Jongin dalam hati. Jongin mempunyai masalah dalam membedakan warna, dia buta warna.

"Kenapa kau mengendarai tanpa melihat traffic light tapi melihat mobil lainnya?" Ujar sang polisi. "Apakah kau mabuk?" tanyanya lagi. "Keluarlah dan berikan tanda pengemudimu."

Jongin turun dari mobilnya. Seketika Jongin diam membeku. Dia melihat ruang yang cukup lebar di depannya, polisi tadi sudah berjalan menjauh. Segera Jongin manfaatkan untuk kabur. Namun saat berbalik, ia mendapati Sehun berdiri tegak di belakangnya. Sehun segera mencengkeram erat pundak Jongin.

"Sehun! Kau yang mengurusnya!" Teriak polisi yang tadi mengomelinya. Sehun hanya mengangguk pelan.

"Sehun-ssi, tolonglah lepaskan aku sekali ini saja. Tadi aku benar-benar melihat lampu masih kuning. Please…" Jongin memelas pada Sehun yang masih menyeretnya ke kantor polisi.

"Hukuman yang ringan atau berat?" Tanya Sehun santai kepada Jongin.

Aku harus memilih hukuman untuk kesalahanku sendiri? Siapa sebenarnya yang polisi disini? Gerutu Jongin dalam hati.

Jongin tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan Sehun untuk menghukumnya. Apa pun yang diminta lelaki itu pasti tidaklah mudah.

Setelah menjalani hukuman, tiba-tiba Krystal datang ke kantor Sehun.

"Kenapa kau datang?" Sehun bertanya sembarang.

Krystal menjawab, "Aku takut kau terlalu kelelahan dalam bekerja dan lupa untuk makan."

Jongin terkejut, segera ia menoleh dan mendapatkan Krystal sedang memeluk mesra lengan Sehun dan mencuri ciuman tepat di bibir Sehun.

Sekarang ia tahu, kenapa Sehun selalu membuat hidupnya terasa semakin sulit.

I'm not a man if I don't take revenge! Kata Jongin penuh semangat.

.

.

.

TBC

.

.

.

Shtpnk memo:

Mohon maaf karena shtpnk belum bisa memenuhi kemauan readers untuk update asap kayak babpros kemarin. Novel dan web-series nya jauh berbeda, jadi shtpnk harus edit lagi. Juga translate-annya masih cukup sulit untuk dibahasa-Indonesiakan hehe mohon pengertian jika ada salah-salah. Shtpnk janji buat update setiap hari.

Untuk review, Shtpnk ga janji untuk bales satu-satu. tapi tetep shtpnk baca kok hehe kalau readers butuh banget di bales sama shtpnk, kalian bisa pm aja hehe Xie xie ~