CHAPTER 5
Hari ini Sehun kembali mendapatkan shift malam. Saat ia turun dari mobil, ia mendengar suara pantulan bola dari arah lapangan.
Jongin melakukan beberapa pemanasan yang simpel, men-dribble bola dan melompat. Sebelumnya Jongin berlatih dengan lompatannya dengan kantungpasir di kakinya.
Bola sekali lagi berpindah ke tangan Sehun, dengan santai ia men-dribble bola dan menuju three-point-line, dan melakukan shot. Dengan mudah, bola itu masuk ke ring dengan sempurna. Jongin hanya menatapnya kesal.
"Bukankah kau sudah mengucapkan terimakasih kepadaku? Kenapa kau masih disini?" Sehun bertanya langsung.
Jongin menunduk untuk membenarkan talinya yang terlepas. Sehun mengambil bola dan melemparkan bola itu tepat ke arah bokong Jongin. Namun, kali ini Jongin cukup refleks. Ia manruh tangannya di bokongnya dan menepis bola yang datang ke bokongnya. Bola itu memantul menjauh. Jongin berlari mengambil bola itu.
"Memangnya aku berada disini untuk bertemu denganmu?" Jongin menjawab santai sambil mendekat ke arah Sehun, menyelipkan sebuah permen ke saku celana Sehun.
Kemudian Jongin menaruh bola itu di lantai dan mendudukinya.
Sehun merogoh sakunya dan mengeluarkan permen itu. "Kau menaruh permen di saku ku?" Jongin mengalihkan pandangannya.
Sehun berjalan menuju Jongin. Sesampainya di hadapan Jongin, Sehun meraih dagunya sehingga membuat Jongin mendongak. Sehun tiba-tiba menendang bola basket yang di duduki Jongin. Seketika keseimbangan Jongin hilang, ia jatuh terduduk di punggung kaki Sehun dan memeluk erat kaki Sehun.
"Your butt is so big, it buried my feet," bisik Sehun tepat di telinga Jongin. Sontak Jongin mendongak, ia bisa melihat dengan jelas jakun Sehun yang bergerak naik turun menahan nafsu.
Jongin hanya memakai celana basket yang tipis dan Sehun memakai sepatu kanvas. Jemari kaki Sehun bergerak liar di belahan bokong Jongin. Jongin belum pernah menggoda seorang lelaki sebelumnya. Ia segera berdiri dengan mata yang menggelap, menahan marah.
Jongin mengatur napasnya, menahan gejolak amarah. Ia melangkah mengambil tas nya dan pergi menuju mobil Sehun dan membukanya. Dia melihat Tao di tempat duduk belakang. Ia memberi makan Tao dengan tikur besar liar yang ia dapatkan di tempatnya bekerja.
Jongin melamar kerja di tempat peternakan ular untuk memaksimalkan aksinya membalaskan dendam. Namun, selama bekerja, ia dengan giat terus belajar dan merawat ular-ular dengan sungguh-sungguh.
.
.
.
Dalam minggu-minggu berikutnya, Jongin sering berkunjung ke lapangan basket untuk bermain. Terlepas dari Sehun di shift malamnya, baik hujan maupun tidak, Jongin akan selalu datang kesini tepat pada jam sepuluh malam. Kadang-kadang ia akan berlatih sendiri atau mengumpulkan orang untuk melakukan pertandingan.
Jongin berusaha agar ia tidak mengambil langkah duluan, sebisa mungkin Sehun yang harus mengejarnya. Pada saat shift malam Sehun, Jongin akan dengan setia memberikan makanan kecil pada Sehun dengan cara menyembunyikan di saku celana lelaki itu. Sebagian besar, makanan yang di letakan secara diam-diam itu adalah makanan kesukaan Sehun.
Namun, akhir-akhir ini Sehun sadar akan hal itu, ia tidak akan menunggu Jongin untuk menyelipkan hadiah kecil di sakunya, tetapi sebaliknya. Ia akan merogoh tas Jongin dan melihatnya, apa pun yang di temukannya akan menjadi hak miliknya.
Ada pemahaman yang halus dan menakjubkan diantara mereka.
Sehun tidak akan bertanya kenapa Jongin memberikan hadiah-hadiah kecil kepadanya, dan Jongin tidak akan bertanya mengapa Sehun mengambil barang-barangnya.
Rasanya seperti diam-diam memberikan hadiah yang benar dan tepat, seperti mengambil sesuatu dalam tasmu adalah sesuatu yang diharapkan. Keduanya tidak berbicara banyak, tidak perlu, dan sepertinya tujuan datang ke lapangan basket hanya untuk bermain dan makan.
Baru-baru ini, cuaca di Seoul sangat ekstrim, sangat kering, panas, dan angin bertiup kencang membawa debu.
Sehun meraih tas Jongin dan menemukan sebuah minuman, "Ini buatku?" Sehun bertanya penuh harap.
Jongin pura-pura tidak mendengar dan terus asik bermain basket. Sehun meraih kerikil kecil dan melemparnya tepat mengenai punggung Jongin. "Mulai hari ini, aku akan memanggilmu Kkamjong."
"Kenapa?" Tanya Jongin sedikit merengut kesal.
"Karena kulitmu bertambah hitam dan kusam." Sehun tertawa terbahak-bahak. Jongin hanya merengut kesal.
Jongin berjalan mendekati Sehun sambil menghentakkan kakinya dan mengulurkan tangannya, "Berikan padaku jika kau tidak mau meminumnya. Aku juga tidak berniat memberikannya padamu." Jongin masih berusaha merebut minuman dari tangan Sehun. Tapi gagal.
Jongin melemparkan dirinya disamping Sehun. Tangan besar Sehun meraih kerah Jongin dan dengan brutal mendekatkan Jongin ke arahnya. Sehun menelusuri wajah Jongin dengan matanya, "Aku ingin."
Keadaan hening sesaat.
Jongin mengerahkan segala kekuatannya untuk menarik kembali kerahnya. Dilirik seperti itu oleh Sehun cukup membuatnya gugup. Untuk sesaat, Jongin ingin sekali menendang Sehun, namun, ia mengingat dendamnya yang lama dan yang baru, ia segera mengenyahkan pemikiran itu.
Sehun terus memperhatikan tubuh Jongin, meskipun Jongin lebih pendek, mengenakan pakaian tua dan sepatu kotor, tangan penuh dengan tanah dan wajah penuh keringat, Sehun masih merasa bahwa Jongin terlalu bersih, begitu bersih sehingga Sehun merasa tidak sanggup menyakiti Jongin berlebihan.
Akhirnya, Sehun menaruh tangannya di pinggang celana Jongin dan dengan kasar menariknya ke atas. Mendesak 'telur'nya!
Jongin berteriak kesakitan. Senyum Sehun segelap malam tak berujung.
.
.
.
'Satu hari tidak melihat satu sama lain, seperti dipisahkan selama tiga musim gugur.'
Kalimat itu sangatlah pas untuk menggambarkan keadaan Krystal saat ini. Tidak ada dalam pikirannya, kecuali Sehun. Tidak ada keinginan untuk bekerja, tidak mood untuk berbelanja, tidak ingin bergosip dengan teman-temannya. Segala yang ia inginkan harus menyertakan Sehun.
Sehun memang acuh padanya. Namun, setiap kali Sehun melakukan kelembutan terhadapnya, dia akan terbayang selama beberapa hari. Ketika mereka mulai berkencan, Sehun bisa menghabiskan waktu setelah berkerja dengannya dan sekarang itu semakin sulit untuk dilakukan.
Krystal juga takut untuk menghubungi Sehun duluan. Sehun memiliki tempramen yang tak terduga, dia tak tahu kata apa yang akan membangkitkan emosinya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Krystal menjadi orang yang pasif dalam suatu hubungan.
Hari ini, Sehun menghubungi Krystal untuk bertemu di hotel setelah Sehun selesai bekerja. Setelah makan malam, Krystal jatuh dalam euphoria. Dia duduk di pangkuan Sehun, tangannya bermain dengan kancing-kancing kemejanya, bibir merah yang sedikit cemberut, "Kau masih ingat untuk menghubungiku? Aku pikir kau telah melupakanku."
Sehun tidak menanggapi ucapan Krystal, matanya menatap lurus ke layar TV, "Aku bicara padamu, kau mendengarku?"
Sehun menatap sekilas ke arah Krystal, "Kau hanya mengagumi 'kekuatanku', kan?" Krystal hendak berbicara ketika telepon Sehun berdering.
"Sebentar…" Sehun pergi untuk menerima telepon.
Krystal santai meraba-raba mantel Sehun, tiba-tiba botol minuman jatuh dari mantel. Wajah Jongin yang gemuk seketika melintas di pikiran Krystal. Sehun kembali ke kamar, dia mengambil botol dari tangan Krystal, ringan membelai tangannya.
"Bagaimana kau dan mantan pacarku memiliki selera yang sama?"
"Mantan pacar?" Sehun menatap Krystal bingung.
Krystal memutar matanya, "Ia akan membeli minuman merek ini, selalu membelinya selama menjadi mahasiswa, telah menggunakannya selama empat tahun dan masih tidak menggantinya ketika lulus."
Jari Sehun perlahan mengelus bibir Krystal lembut, "Lusa, pulanglah denganku. Orang tuaku akan senang melihatmu."
Krystal sangat tersanjung, pulang ke rumah orang tua Sehun? Aku akan bertemu pemimpin partai OhManse? Hubungan kami telah sampai sejauh ini? Resepsi pernikahan yang mewah, aula impian, orang-orang dari masyarakat tinggi hadir dalam pernikahannya.
.
.
.
Krystal masih terjaga hingga menjelang pagi, ia tidak bisa tidur. Dia ingin tidur dalam dekapan hangat Sehun di tempat tidur yang luas itu, namun, ular terkutuk itu ada disana, "Sehun, bisakah kau memasukkannya ke dalam kamar mandi?" Krystal memohon.
Sehun mengelus kepala Tao dengan penuh cinta, "Kau tidak menyukainya?"
"Aku menyukainya, tapi tidak harus di tempatkan di bantal! Apakah kita perlu tidur terpisah setelah kita menikah nanti?"
Sehun mempertimbangkan perkataan Krystal, seekor ular hidup selama lebih dari sepuluh tahun paling maksimal. Ia mengikuti permintaan Krystal, membawa Tao ke kamar mandi. Pada akhirnya, itu tidak seperti yang di bayangkan Krystal. Ketika Krystal sedang memeluk mesra tubuh Sehun, Tao keluar dari kamar mandi, merayap kembali ke tempat tidur, menakut-takuti Krystal. Sontak, Krystal menjadi keringat dingin, hampir ketahuan bahwa ia membenci ular.
"Kau, letakkan kembali ke kamar mandi…" Perintah Sehun pada Krystal.
Krystal diam membeku, dia tidak mungkin menolak. Tanpa berkata banyak, ia mulai memindahkan Tao kembali ke kamar mandi, mengunci pintu dan memastikan Tao tidak bisa keluar.
Tao berusaha untuk membuka pintu, menggeliat melalui celah di gagang pintu namun tak berhasil. Setelah semua tidak berhasil, Tao mulai mengetuk-ngetuk pintu menggunakan kepalanya. Tuk! Tuk! Tuk!
Hanya mendengar suara pintu mampu membuat Krystal kesulitan bernapas. Sehun tidur dengan santai di sebelahnya, ia tidak berani menunjukkan ketakutannya. Saat Sehun mencoba mengobrol dengan Krystal, ia akan mencoba menanggapinya dengan santai.
Sisa malam, Krystal merasa ingin melarikan diri dari tempat itu. Pagi-pagi ia bangun dengan kantung besar di bawah matanya. Diam-diam ia bersumpah untuk menyingkirkan Tao dalam hidupnya dan Sehun.
.
.
.
Selama seminggu, Jongin berada di klinik seharian penuh. Baekhyun menatap Jongin dan tak tahan untuk menggodanya, "Hei, kenapa kau tidak menemuinya?"
Jongin tahu Baekhyun sedang membicarakan Sehun. Dengan tegas ia berkata, "Aku menyebutnya dengan push and pull tactic. Akan menyerang jika itu waktunya menyerang, membuka jalan dan memberikan kasih sayang dan kemudian mundur ketika itu diperlukan. Seperti yang aku katakana, tujuanku adalah menangkapnya, bukan mengejarnya."
Baekhyun berjalan mendekati Jongin, menatap wajah tampan Jongin dan memberikan tatapan iblisnya, "Bagaimana jika waktu tidak cukup? Kau tidak menangkapnya, usaha giatmu hanya akan lewat dan mungkin usahamu yang kemarin-kemarin akan sia-sia."
Jongin sangat yakin, "Aku yakin, dalam tiga hari, dia akan datang kesini mencariku!"
"Jadi percaya diri?" Baekhyun tertawa.
Jongin menepuk pundak Baekhyun bangga, "Apa kau tidak tahu guruku?" Keduanya tertawa jahat.
.
.
.
Malam ini, Sehun pergi ke club. Ia merasa penat dengan pekerjaannya dan juga Krystal yang menginginkan macam-macam. Terlebih keadaan Tao yang sedikit menurun. Akhir-akhir ini Tao terlihat kelaparan, namun saat di berikan hamster pengumpan Tao menolaknya. Pasti karena Jongin terus memberikan tikus besar liar kepadanya.
Di meja bar terlihat salah satu bartender yang sering melayani nafsu Sehun sedang menghitung minuman. Dia berbinar saat melihat Sehun memasuki club. Segera ia mendekati Sehun dan duduk di pangkuannya.
"Sehun-hyung, kau tidak terlihat akhir-akhir ini."
Sehun melirik dingin padanya, "Hari ini, aku tidak datang untuk menemuimu."
"Mencari Taemin? Dia tidak melakukan hal ini lagi jadi ssajangnim memecatnya." Itu adalah kebetulan.
Sehun menunjukkan ekspresi seolah-olah berita itu adalah berita buruk. "Ini bukan urusanmu dengan siapa yang aku cari. Pertama, turunlah dari pangkuanku."
"Aku tidak mau." Bokong pemuda itu mengusap sensual paha Sehun, "Jika aku turun, aku takut kau akan menemui orang lain. Aku bermimpi tentangmu selama sebulan ini. Ini tidak mudah untuk menemukanmu di club."
Sehun mengeluarkan tumpukan uang dari dompetnya dan memasukkan ke dalam saku pemuda di pangkuannya, "Ambillah. Biarkan aku sendiri mencari kedamaian."
Tanpa disangka, pemuda tampan mengeluarkan uang itu dan mengembalikannya pada Sehun. "Aku tidak ingin uangmu, aku hanya ingin dirimu."
"Sudah berapa lama kau tidak bercinta dengan orang lain?" tanya Sehun penasaran.
"Ada orang-orang yang mencariku setiap harinya, tetapi mereka tidak sebaik dirimu."
Sehun membalas dengan kesabaran terakhirnya, "Jadilah anak yang baik. Sekarang pergilah mencari orang lain untuk bercinta denganmu."
"Tidak mau, aku ingin bercinta denganmu, I want you to fuck me…"
"Hei!" ucapan pemuda itu terhenti ketika dirasanya ada orang yang menepuk bokongnya lalu meremasnya sensual. "Pergilah, aku ingin berbicara dengan Sehun." Ternyata orang itu adalah Chanyeol.
Pemuda itu tahu reputasi Chanyeol. Tidak baik untuk menolak perintahnya. Dia meraih lengan Sehun sebelum dia pergi, "Sehun-hyung, jangan lupa untuk mencariku jika kau sudah selesai bicara!"
Chanyeol dan Sehun duduk di sofa bludru, tempat favorit Sehun. Mereka berbicara dengan akrab, seperti tidak ada kecanggungan di antara mereka. "Kau masih belum menemukan ular idamanmu?"
Sehun meraih bahu Chanyeol dan meremasnya kuat, matanya mengkilat penuh amarah. Dia diejek, "Kenapa? Tanganmu gatal? Tidak ada yang mau menjual ular kepadamu?" Tanya Chanyeol usil.
Saat itu, Tao keluar dari antara kedua kaki Sehun, menatap malas Chanyeol. Chanyeol pura-pura terkejut, "Yo? Masih tersisa satu lagi! Ular itu pemberian Luhan, kan? Sama seperti ikat pinggang yang mengikutimu kemanapun kau pergi…"
Raut muka Sehun berubah menjadi gelap, "Jangan pernah menyebut nama itu di depanku."
Chanyeol serius mengganti topik, "Baru-baru ini, aku menyukai pria tampan kecil. Dia memiliki kepribadian yang unik. Ketika aku mendapatkannya, jangan lupa untuk tidur dengan mainan baruku, ya."
Namun, Sehun tahu bahwa Chanyeol tidak serius mengatakan itu. Dia dengan terang-terangan menabur garam di atas lukanya. Tentu saja, Chanyeol tidak akan senang dengan hal itu.
Setelah keluar dari bar, Sehun langsung menghubungi Suho. "Bantu aku mencari seseorang. Cari tahu dimana dia tinggal."
"Siapa?" Suho bertanya tenang.
"Kim Jongin…"
.
.
.
Pagi hari, Jongin mengenakan bokser bunga-bunga, singlet milik ayahnya dan bergoyang-goyang konyol dari kamar tidur. Setiap kali melihat Jongin berpakaian seperti itu, Baekhyun akan tertawa geli, "Hei! Cepatlah ganti bajumu, sebentar lagi akan ada pasien yang berkunjung."
"Jangan khawatir." Jongin menjawab santai, "Aku akan mandi sekarang."
Baekhyun menatap Jongin geli, "Aku menyadari bahwa kau suka memakai pakaian itu saat kau tidur."
Jongin dengan santai mengupil, "Bahan pakaian yang digunakan di masa lalu lebih berkualitas, kapas murni, ini sangat nyaman dipakai untuk tidur."
Baru saja ia selesai berbicara, suara deru mesin mobil terdengar tepat di depan pintu klinik. Jongin secara tidak sengaja melirik keluar, jari di lubang hidungnya membeku seketika. Mobil Sehun! "Fuck fuck fuck!" Jongin panik, "Kenapa dia disini dengan begitu cepat?"
Sehun dengan tenang membuka mobil, mengambil Tao dan turun dari mobil. "Aku akan bersembunyi sementara waktu, katakan padanya aku tidak disini," Jongin berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.
Sehun memasuki klinik. Baekhyun pura-pura tidak mengenal Sehun, menatapnya dengan senyuman ramah, "Ada yang bisa dibantu?"
Sehun tanpa basa-basi, "Dimana Kim Jongin?"
"Oh, dia pergi keluar. Kenapa kau mencarinya?"
Mata tajam Sehun melihat pergerakan dari kamar mandi, kemudian berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Baekhyun menelan ludahnya, sialan, lelaki itu terlalu…tampan.
Pintu tidak terbuka saat ia memutar kenop pintu. Jongin bersandar di belakang pintu kamar mandi. Sehun mendorongnya namun tidak berhasil. Dengan dorongan kedua, kenop pintu pecah dari dalam. Jongin terdorong ke depan saat Sehun mendorong pintu kamar mandi. Sehun muncul dari balik pintu.
Sehun takjub dengan penampilan Jongin, singlet yang sudah menguning lengkap dengan lubang dan yang lebih luar biasa adalah bokser bunga-bunga yang terlihat kebesaran dengan benang yang menjuntai keluar.
Setelah itu Jongin berteriak histeris, "Apa kau tidak punya sopan santun? Ini adalah kamar mandi, bukan ruang tamu yang bisa kau masuki seenaknya! Bagaimana jika orang lain yang ada disini? Bagaimana jika itu seorang wanita?"
Sehun hanya menatapnya datar, tetap melihat Jongin dari ujung rambut hingga ke telapak kaki. Jongin terpaku, sial, dia lupa dengan perannya. Jongin menghela napas, kemudian berkata dengan nada lembut. "Jika kau ingin bicara, tunggulah di luar. Aku akan mandi dulu."
Tanpa banyak bicara, Sehun pergi keluar kamar mandi meninggalkan Jongin yang jengkel.
.
.
.
Jongin sudah kembali dari mandinya. Sehun hanya menatapnya dalam diam, membuat Jongin salah tingkah. Jika dikatakan Jongin malu-malu itu tidak benar. Siapa pun yang ditatap seperti itu akan merasa tidak nyaman dan takut.
Setelah diam beberapa saat, Sehun akhirnya berbicara. "Kenapa kau tidak datang lagi untuk bermain basket beberapa hari terakhir?"
Jongin menjawab acuh, "Tidak ada alasan. Aku hanya tidak merasa ingin bermain basket."
Wajah Sehun berubah. Dia menurunkan Tao dari tangannya dan pindah ke depan Jongin, menatapnya tajam. "Lalu kenapa kau pergi kesana sebelumnya?"
Jongin merasa tatapan mata Sehun seperti menguncinya. Jongin merasa pasokan udara di ruangan ini menipis, membuatnya tidak bisa bernapas. Tiba-tiba, Sehun mendorong tubuh Jongin dan jatuh ke ranjangnya. Sehun masih menatap Jongin tepat di matannya.
"Jawab aku!" Suara Sehun menjadi lebih berat.
Jongin menggertakan gigi, menolak untuk memberikan jawaban. Baekhyun yang sedari tadi mengintip kemudian batuk ringan dan berhasil mencairkan sedikit ketegangan di kamar Jongin. "Jangan terlalu dekat dengannya, dia sedang demam. Jangan biarkan kau tertular."
"Kau demam?" tanya Sehun.
Mata cerah Jongin langsung redup. Dia mengerutkan dahinya dan menatap Sehun, berpura-pura bahwa ia adalah pria lemah yang berusaha terlihat baik-baik saja. "Jangan mendengarkannya. Itu hanya omong kosong. Aku baik dan sehat!" Jongin terbatuk kecil.
"Omong kosong?" Baekhyun terus membesar-besarkan. "Bahkan ketika sedang hujan lebat dan berangin kau tetap ke lapangan basket untuk bermain basket. Pulang ke klinik badanmu basah oleh keringat dan air hujan. Apakah mungkin kau baik-baik saja?"
Jongin mengerti situasi sekarang, ia segera memotong "Baek-hyung! Berhentilah bicara!"
Baekhyun terus berbicara, "Kau selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, padahal dirimu sendiri hanya memakai celana dalam yang sudah usang. Kau takut menularkan orang lain demammu. Karena itu kau tidak berani menemuinya beberapa hari ini." Baekhyun menyeringai puas. Sehun tidak melihat seringai Baekhyun karena dia sibuk menatap tajam Jongin, tepat di matanya.
"Aigoo ~ Tuan Ganas, tidakkah kau berpikir akan kehilangan orang idiot ini jika ia mati karena demam?"
.
.
.
Sore harinya, seorang jasa kurir datang mengetuk pintu klinik. "Apakah ini tempat tinggal Kim Jongin-ssi?" Jongin segera menuju pintu klinik. "Ini ada paket untuk anda, mohon tanda tangani."
Jongin mengambil paket dan memandangnya curiga. Benar saja, namanya tertulis di paket itu, bahkan tertera alamatnya. Lalu ia menunduk dan melihat ada lima kotak besar yang bahkan ia bisa masuk kesana.
Aneh, dia tidak memesan online dan tidak ada yang memberinya pemberitahuan sebelumnya tentang paket.
Baekhyun datang dengan tergopoh-gopoh dan menatap penasaran. Dia membuka paket dengan tergesa-gesa. Kotak pertama dibuka dan Jongin terkejut melihat isinya. Kotak itu penuh dengan celana dalam dengan berbagai desain dan warna. Seolah-olah itu dikirm dari pasar grosiran. Setidaknya ada ratusan celana dalam di dalam kotak itu.
Baekhyun merogoh-rogoh kotak dan melihat celana dalam itu satu persatu, semuanya bermerek, dan harganya sangat mahal. Kotak kedua berisi pakaian dan sepatu, pakaian untuk sepanjang tahun, dan kotak ketiga terdiri dari tempat tidur, selimut, seprai, dan bantal. Ada berbagai makanan ringan di kotak keempat, semuanya makanan impor yang Jongin bahkan belum pernah mencobanya.
Selesai membuka seluruh kotak, Jongin bahkan tidak perlu berpikir karena ia sudah mengetahui siapa pengirim paket ini. Baekhyun mengangkat alis dan menatap Jongin menggoda, "Katakanlah, mantan pacarmu tidak sebaik ini, kan?"
Jongin benar-benar malu. Selama pacaran, Krystal tidak pernah membelikan hadiah untuknya. Ini adalah hadiahnya pertama dari orang lain bukan keluarga, dan itu hadiah dari rivalnya.
Baekhyun terus menggoda Jongin, "Kenapa kau tidak berpacaran saja dengan Tuan Ganas? Coba pikirkan, dia benar-benar baik terhadapmu. Mantan pacarmu begitu jahat, kenapa kalian tidak bersatu dan membalaskan dendam padanya? Jangan sakiti seseorang yang tulus berbuat baik untukmu."
Jongin goyah, namun segera menepis perasaan itu, "Jangan menggodaku! Jadi kalau dia mengirimiku beberapa kotak hadiah, itu sudah mewakili ketulusannya? Kau tahu benar status ayahnya. Berapa banyak orang yang ingin mengirimkan hadiah untuknya? Mungkin ini barang-barang yang tidak ia gunakan di rumahnya."
Baekhyun tersenyum usil, "Siapa yang memberimu ini ketika melihatmu mengenakan pakaian berlubang itu? Dan juga ukurannya sangat pas untukmu."
Jongin salah tingkah, "Siapa bilang? Ukuranku bukan ini!"
Baekhyun mengambil beberapa celana dalam dan memberikannya pada Jongin. "Kau coba! Pergilah mencobanya." Baekhyun mendorong Jongin masuk ke kamarnya kembali.
Saat Jongin ganti baju, Baekhyun mencoba mengintip lewat celah pintu. Sialnya, pandangannya terhalang oleh lemari pakaian Jongin. Dia merengut kesal.
.
.
.
TBC
.
.
.
Shtpnk memo:
Hai readers tercinta, Shtpnk mengucapkan selamat menjalani bulan puasa, semoga semuanya menjalaninya dengan lancar yaa. Shtpnk bakal tetap update dengan ff yang rate M untuk ke depannya, jadi mohon untuk membacanya dengan tanggung jawab masing-masing ya. Bukannya shtpnk mau menjerumuskan kalian kedalam dosa, tapi karena shtpnk tidak menjalani puasa dan shtpnk cukup nganggur dalam waktu yang lama jadinya shtpnk tetap update ff rate M hehe mohon pengertiannya
