CHAPTER 6
Jongin melihat nomor ponsel pengirim pada tanda terima pengiriman paket, tanpa mengetahui apakah pengirim itu adalah Sehun atau bukan.
"Halo?" Sebuah suara berat menyapanya.
"Jadi benar itu kau?" Jongin tidak menyahut sapaan Sehun.
Di seberang telepon hanya terdengar gumaman, membenarkan pertanyaan Jongin.
"Tolong pinjami aku uang." Ucap Jongin percaya diri.
Sehun bertanya, "Berapa banyak?"
"Tiga puluh juta … Jika kau tidak punya sebanyak itu, berapapun akan kuterima. Aku akan membayarmu sesegera mungkin."
"Nomor rekening?" Sehun bertanya santai. Jongin terkejut. Dia memang berpikir Sehun akan meminjamkan uang padanya, namun ia tidak menyangka Sehun akan meminjamkannya dengan sangat mudah. Jika sudah melibatkan uang, kau harus terjalin kepercayaan yang besar dari kedua belah pihak. "Apa yang kau lakukan dengan uang itu?"
"Aku ingin membeli saham lain dari peternakan ular." Memang Jongin kemarin telah menaruh saham di peternakan ular, namun peternakan itu mengalami kerugian besar karena ular-ularnya tiba-tiba mati karena perubahan cuaca yang ektrim di Seoul.
Sehun menutup telepon tiba-tiba. Tidak lama setelah itu, Jongin menerima pesan. Uang telah ditransfer ke rekeningnya.
"Dia tidak melarangmu?" Tanya Bakehyun penasaran.
Jongin menggeleng. "Dia tidak mengatakan apa-apa."
"Berapa banyak keyakinan yang kau miliki tentang hal ini? Bagaimana kalau dia hanya terlalu malas untuk meladenimu atau hanya bermain-main denganmu? Itu merupakan kemunduran besar."
Jongin juga tidak tahu mengapa ia memiliki begitu banyak keyakinan pada Sehun.
.
.
.
Jongin membaca pesan yang masuk, ia menemukan bahwa seseorang mengiriminya lagi uang tiga puluh juta ke rekeningnya. Meskipun ia tahu benar apa yang terjadi, ia tetap menghubungi Sehun. "Hei, kau membuang-buang uangmu? Kenapa kau men-transfer tiga puluh juta lagi?"
Sehun menjawab dengan santai, "Itu pengembalian uangmu."
"Pengembalian uang?" Jongin pura-pura terkejut, "Aku tidak meminjamkan tigapuluh juta kepadamu, aku yang meminjam tiga puluh juta darimu!"
"Aku menjual sahammu dari ular yang rusak sebesar tiga puluh juta."
"Apa?!" Jongin berteriak keras. "Aku ingin menunggu setengah tahun lagi sebelum menjualnya ke pasar saham. Harga akan tiga kali lipat pada saat itu. Aku tidak percaya kau menjualnya dengan harga rendah!"
Sekali lagi, Sehun menutup telepon tiba-tiba. Melihat telepon yang terputus, wajah Jongin berubah menjadi berseri-seri. "Mission accomplished! Kita mendapat tiga puluh juta."
Baekhyun mengunyah permen karet di mulutnya, berkata riang, "Sekarang kau hanya memainkan taktik bodoh dan bertindak sebagai korban untuk mendapatkan tiga puluh juta. Ini jelas membuktikan bahwa bekerja sungguh-sungguh tidak akan membawamu menjadi pemenang perlombaan, kau harus mengambil jalan pintas untuk menuju garis finish."
Jongin tersenyum, tidak mengatakan apa-apa.
"Apa yang kau lakukan dengan uang tiga puluh juta itu?" Baekhyun kembali bertanya.
"Aku akan membeli ular lagi. Kali ini aku sungguh-sungguh." Ucap Jongin mantap.
.
.
.
Sore hari, Jongin sedang berlatih membuat permen gula tiup. Ia sudah membuat dengan berbagai macam bentuk. Sehun memasuki kamar Jongin tanpa permisi dan duduk nyaman di kasur Jongin.
"Aku hanya ingin melihatnya, apakah muat?" tanya Sehun dengan muka datarnya.
Jongin tahu Sehun berbicara tentang apa. Sialnya, celana dalam dan pakaian-pakaian itu sudah dia jual di online shop. Jongin tertawa canggung dan mengalihkan pembicaraan, "Aku membuat permen gula, kau mau?"
"Kau tahu cara membuat permen gula?" Tanya Sehun penasaran.
"Aku hanya tahu cara membuat hewan kecil yang sederhana." Ucap Jongin merendah namun bangga.
Sehun hanya menatap Jongin yang masih sibuk meniup permen gulanya. "Buatkan aku satu."
"Kau ingin bentuk apa?" Tanya Jongin serius.
"Ular." Jawab Sehun.
"Ular apa?" Jongin menatapnya polos.
"Kobra."
.
.
.
Beberapa saat kemudian, Jongin sudah selesai membuat permen gula permintaan Sehun. Ia berbalik dan memberikannya pada Sehun.
"Ini… Ular kobra…"
Sehun mengambil permen gula itu dan menatapnya takjub. Tidak percaya bahwa Jongin akan berani seperti ini.
Tangan Sehun memegang tangkai kayu tipis, diatasnya terdapat permen gula yang bentuknya…penis. Penis itu sedang dalam keadaan tegang.
Sehun tertawa mengejek, "Kau yakin ini bukan…?" Sehun melirik selangkangan Jongin.
Jongin ikut melirik arah pandangan Sehun. Matanya melotot marah, "YA!" teriaknya kesal.
Sehun hanya tertawa, dia berdiri, dan membalik badannya, "Aku akan pulang."
Jongin ikut berdiri dari kursinya, "Besok pagi kau ada acara tidak? Aku ingin membicarakan sesuatu…"
Sehun hanya melirik melewati bahunya, "Aku hanya bercinta, tidak pernah berkencan."
.
.
.
TBC
.
.
.
Shtpnk memo:
Kabar gembira, shtpnk memutuskan buat lanjutin Counterattack dan Baby Proposal hehe Shtpnk mendapat ilham dari reader yang PM shtpnk haha untuk Romantic Story, shtpnk ga tau kalo udah banyak yang nge-remake. Dan untuk 'guest' yang udah melontarkan komentar jahat, seperti yg shtpnk bilang di awal, shtpnk GABISA disebut AUTHOR karena shtpnk hanya ngeremake novel-novel yang shtpnk suka dengan cast HunKai. Kalau ada readers yang tidak suka, silahkan di close aja. Aku gaberharap kalian bakal suka ff yang aku remake kok. Ingat ya readers, menyakiti hati orang dengan perkataanmu itu termasuk dosa berat menurutku hehe
Untuk yang menunggu Counterattack n Baby Proposal, mohon kesabarannya karena shtpnk ga janji bakal update kilat. Butuh proses pengetikan menggunakan hati hehe
